Yesus, seorang Nabi, atau Tuhan ?

Logis ya logis. Masuk akal.

Fakta yang bersifat objektif

So, Siapa ?

Bagi yang berakal dan mau menggunakannya. Hikmat dan Iman, tanpa akal, hanya cocok bagi berhalaisme.

Kalau formalin, banyak ahli kimia, dan bersifat objektif.
Kalau tuhan, siapa yang ahli tentang tuhan, apakah pendapatnya tentang tuhan dapat bersifat objektif, seobjektif formalin.

Permasalahannya, bagaimana anda membuktikan, bahwa perkataan tersebut adalah perkataan nabi.

Kalau melihat kalimat tersebut, ada pernyataan “…bagi mereka….” , dan kalau dimaksudkan adalah Nabi Muhammad S.A.W, berarti hanya berlaku bagi orang orang arab.

Ayat ayat yang anda postingkan terlalu panjang, supaya tidak makan tempat, maka saya potong.

Kalau Yesus, berarti hanya untuk orang Israel.

Saya percaya, Yesus, adalah seorang Nabi. Bukan TUHAN

Hanya orang yang suka melamun dan menghayal saja, yang mengatakan , 2 + 2 = 7.

Masih pakai “maksudnya” ?

Lihat lagi jawaban saya di atas.

Sabar…….

Tuh lihat jawaban saya.

Ya, jelas bedalah.

@Peninjau:
Tidak juga. Para murid Yesus adalah Yahudi. Sementara sebagian Yahudi yang lain menolak Yesus karena menyalahartikan Mesias sebagai pembebas secara politik.
Kalau belum tahu, sebaiknya lihat penjelasan yang ada dulu, daripada Anda malu sendiri

Nah segini dulu.
Anda percaya Yesus sebagai Nabi (ini awal yang baik).
Permasalahan yang berlum sinkron adalah:

Apakah Yesus (yang telah Anda setuju sebagai Nabi) adalah nabi yang dijanjikan/ dinubuatkan dalam konteks kitab Ulangan tadi?

Setelah Anda baca bahas sebelumnya bagaimana pendapat Anda?

Kalau bukan Yesus, maka menurut Anda “Siapakah” nabi yang dinubuatkan dalam konteks kitab Ulangan tersebut?

Gitu aja dulu kita beresin. Kalau ini selesai sisanya mudah untuk dilanjutkan.

Bila memang harus dari orang Yahudi (Ibrani/ Israel) memang kenapa?
Anda nggak alergi tanpa alasan toh?

Tuhan yang masuk akal, itu maksud anda?

Fakta tentang Tuhan yang menjadi objek?

Jadi bukan apa lagi?

Tetapi siapa itu Tuhan?

Jadi sekarang berkembang menjadi bagi yang berakal dan mau menggunakannya?

Bagaimana yang berakal dan mau mengunakannya dapat dipastikan tidak cocok bagi berhalaisme?

Apa yang anda maksud dengan berhalaisme?

Apa itu Hikmat tanpa akal?

Apa itu iman tanpa akal?

Akal seperti apa yang anda maksudkan?

Intelegensikah? Rasiokah? Atau apa?

Mengapa anda menghadirkan Formalin sebagai renungan bagi yang berakal?

kan jadi sia-sia saja perumpamaan anda tentang formalin ini

Perumpamaan tersebut menunjukan kebijaksanaan?

Sebelum jauh bicara tentang tuhan

Apa menurut anda warna merah itu objektif?

GBU

Kl dibilang Ibrahim beda dengan Abraham,
Terus apakah Musa di Alkitab juga beda dengan yang di Alquran?

Kamu malah dah klaim TUHAN beda sama Allah kamu.

Ngapai post lagi, kalau memang beda. Aneh juga…

Tuhan mereka menebus dosa dengan amal baik, sedangkan Tuhan yang Alkitabiah menebus dosa dengan korban sembelihan.
Kesimpulannya, Yahudi-Kristen itu kontinuitas. Tapi Yahudi-Islam dan Kristen-Islam itu paralel(bisa dibilang tidak bakal nyambung).

Jangan-jangan kaumnya (kaumnya Musa) yang Peninjau maksud bukan bangsa Israel, tapi jemaah muslim.

Kl dah gini mah benar-benar tidak nyambung dah.

@hans188: mungkin yang dimaksud adalah Musa yang orang Arab. Jadi biarkan saja, toh tidak ada hubungannya dengan Musa di kitab Ulangan.

Berapa yang ngakui tuhan, berapa yang tidak ?
Apakah para murid yesus tersebut pakai kalung salib ?

Silahkan dijelaskan.

OK

Kalau memang untuk orang yahudi, ngapain ikut ikutan.
Orang nggak diajak, kok ikut, apa nggak malu.

Lihat lagi kalimat anda.
Yang anda sebutkan “tuhan kita” , dan “Allah mereka”
Kalimat anda sendiri anda potong.

Ya, iyalah.

Objektif, bukan objek.

So…, siapa ?

Sebagai penegasan.

Orang berakal tidak akan menuhankan yang ada, baik materi maupun ilusi

Penyembah berhala.

Menduga duga.

Sama dengan tahkyul.

Yang bisa membedakan antara ilusi/mimpi dengan kenyataan

Intelegensi, Rasio, nalar, dll.

Untuk Analogi tentang ke-objektif-an.

Tidak.

Ya.

Warna merah, itu sebuah objektifitas. Anda bawa sesuatu yang berwarna merah, kemudian anda tanyakan ke orang di sekitar anda. Kalau ada yang menjawab itu bukan merah, berarti orang tersebut sangat dianjurkan, ke dokter mata, atau dokter jiwa.