untuk apakah kita hidup?

:char12:
pengkhotbah berkata segala sesuatu adalah sia-sia. kalau dipikir2 memang benar segalanya adalah sia-sia. manusia yang sebelum kita, tidak tahu keberadaan kita, manusia sesudah kitapun tidak tahu keberadaan kita. seandainya anda berkeluarga,dan memiliki keturunan (anak,cucu,cicit). mungkin keturunan anda yang kelima tidak akan saling mengenal padahal mereka berasal dari nenek moyang yang satu yaitu anda. mungkin mereka tidak pernah tahu kalau mereka adalah saudara. mungkin anda dengan musuh anda pun berasal dari orang yang sama 8 generasi yang lalu kita tidak tahu.
bukankah segala sesuatunya sia-sia? apa yg ada dibawah matahari adalah sia-sia.
jadi bagaimana anda menilai hidup ini?

note:saya sengaja tidak memberikan option jawaban abstrak sperti:
-untuk kemuliaan Tuhan
-mendatangkan kerajaanNya
-menjadi wakil Tuhan

menikmati hidup… sbb hidup ini indah :afro:

dibawah matahari sia sia…adalah orang yang tidak bepengharapan :smiley:
he…he… itu puisi salomo …saat putus asa… krn salomo memperoleh hikmat Tuhan …ttp dia merasa
ada sesuatu yang kosong dlm hidupnya…

Sesuatu yg kosong itu karena Ia tdk menemukan kebahagiaan dan ketenangan hidup setelah dia mengawini ratusan istri tul gak @Lis…?

Hidup adalah berisi…berisi adalah kosong…kosong adalah berisi…bingung kan? samaa…

[email protected]

Wahh…pertanyaan yang dalam sekali nih…inspirasinya…it’s good…!!

kalau ditanya…: "untuk apa kita hidup…?? ya jawabnya untuk mengisi
hidup itu sendiri…!!

Kalau ditanya …: " untuk apa kita mati…?? ya jawabnya untuk menyudahi
hidup itu sendiri…!!

sekarang kalau di kombinasi : " untuk apa kita hidup kalau untuk nantinya
kita mati juga…???

Salam GBU

hidup untuk hidup dan menghidupi …
dihidupkan untuk memberi hidup …

Bukankah kita datang ke dunia ini sebagai orang kristen? nah tau kah orang kristen bertugas sebagai apa? orang kristen harus melayani, mempersiapkan kedatangan Tuhan untuk yang kedua kali…karena itu, mari kita siapkan kedatangan Tuhan yang kedua kali dengan membuat bangsa2 dan semua orang tunduk pada Tuhan kita, Yesus Kristus, Allah Israel, Yahwe… dan jika tugas kita dinilai sudah selesai, waktunya lah kita pulang ke Rumah Bapa Di Surga… :slight_smile:

tul… krn itu hatinya menyimpang … salomo sangka hikmat nya itu hasilnya usahanya… sehingga kelelahan sendiri :cheesy:

ec 1: 16 Aku berkata dalam hati: “Lihatlah, aku telah memperbesar dan menambah hikmat lebih dari pada semua orang yang memerintah atas Yerusalem sebelum aku, dan hatiku telah memperoleh banyak hikmat dan pengetahuan.”

kesimpulannya berarti segala sesuatu sia-sia bukan??
jadi bagaimana kita menghidupi hidup kita kalau segala sesuatunya adalah sia-sia?

Wah aku bingung jawabnya hehe…

Untuk menikmati hidup…

sudah pasti itu!

koq ga da yang posting poolnya y?

Untuk apa hidup?
Pertanyaan yang seharusnya bisa dijawab orang yang benar2 hidup☺

ga ada yg pilih mungkin karena pilihannya kurang pas…
:smiley:

menikmati hidup itu juga luas sekali loh artinya… dan itu juga tercakup dalam bekerja, beranak cucu…

bukannya lebih baik ditanyakan kepada pribadi yang menciptakan hidup y? untuk apa hidup itu diciptakan? hehe

Tuhan menciptakan dan memberi kita hidup, tentunya tidak sekedar untuk mati. Pasti ada misi bagi kita.
Ada dua misi, yaitu misi individual dan misi universal. Misi universal yang berlaku bagi semua orang percaya adalah menjadi garam dan terang dunia.
Garam dapat mencegah pembusukan daging dan memberi cita rasa pada makanan. Orang romawi dulu bahkan menganggap garam sebagai benda paling bersih dan jernih, karena berasal dari dua benda yang juga paling bersih dan jernih, yaitu matahari dan laut. Karena itu, garam selalu dihubungkan dengan kemurnian.
Adapun Terang memampukan kita untuk membedakan jalan yang benar dan salah. Terang juga dapat menjadi alat penyelamatan. Dan banyak lagi manfaat terang. Bahkan sesungguhnya, tapa terang dunia, tidak akan pernah ada kehidupan.
Itulah misi kita yang sesungguhnya, menjadi garam dan terang. Apakah orang-orang di sekitar kita betul-betul bersyukur dengan kehadiran kita? Pertanyaan ini baik menjadi bahan intropeksi kita, untuk menilai sejauh mana kita sudah mengemban misi kita.
Ada seorang yang sejak muda sangat gigih untuk mengejar keberhasilan. Dan betul, ia berhasil. Ia tidak saja menjadi orang sangat kaya, tapi juga pandai dan punya jabatan tinggi. Semua orang terkagum-kagum dengan kesuksesannya. Tetapi, ketika ia sudah tua dan pensiun, ia menengok kehidupan yang sudah ia jalani, dan merasa sangat hampa. “Semua itu seperti usaha menjaring angin,” katanya, “sia-sia di atas segala kesia-siaan.”
Kita semua pada dasarnya sedang menunggu giliran untuk bertemu dengan kematian. Hari ini si Polan, kemarin si Pulin, besok entah siapa lagi. Suatu saat akan tiba giliran kita. Entah kapan, tetapi pasti. Pertanyaannya, apa yang akan dikenang orang ketika kita tiada? Akankah kita hilang dan dilupakan?
Ada cerita tentang seorang pria yang mempunyai 4 istri. Suatu saat pria itu sakit parah, dan sudah hampir mati. Ia ingin istrinya menemani sampai pada kematiannya. Maka, dipanggillah istri ke empat, wanita yang cantik jelita dan seksi.
“Istriku, aku akan mati. Temani aku, sampai aku mati,” pintanya.
“Menemanimu sampai mati? Tidak, aku tidak mau,” jawab si istri sambil pergi tanpa menoleh lagi kepadanya.

Istri ketiga dipanggil, wanita dengan berpenampilan modis dan trendy. Permintaan yang sama dia ajukan.
“Apa? Menemanimu sampai mati?” sahutnya. “Tidak mau. Lebih baik aku menikah lagi.”

Istri kedua dipanggil, wanita berpenampilan biasa. Kepadanyalah sang suami sering meminta pendapat tentang berbagai hal.
“Istriku, tak lama lagi aku akan mati, aku ingin sekali kamu ikut denganku,” pinta si suami.
“Aku tidak bisa sekalipun aku mau,” jawab si istri. “Aku hanya bisa menemanimu sampai lubang kubur.”

Terakhir, Istri pertama, wanita sederhana. Permintaan yang sama diajukan padanya,

“Suamiku,” jawab sang istri. “Tidak usah khawatir. Tanpa kamu minta, aku akan menyertaimu selamanya, bahkan sampai pada kematianmu.”

Pada dasarnya, kita memiliki empat “istri”. Yang pertama, tubuh jasmani kita. Betapa pun baiknya kita menjaga dan merawatnya, tubuh jasmani akan meninggalkan kita, hilang tanpa bekas.
Yang kedua adalah kekayaan dan jabatan. Ketika meninggal, kita tidak akan membawanya serta, dan justru akan beralih ke orang lain.
Ketiga adalah teman-teman, kerabat dekat, dan keluarga kita; seberapa pun besarnya kasih sayang mereka kepada kita, mereka hanya bisa mengantar kita sampai ke lubang kubur, tidak lebih.
Yang keempat adalah iman dan karya kita selama hidup didunia, yang akan menyertai kita sampai mati.

Maka, benarlah kata pepatah, gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang, sedang manusia mati meninggalkan karya; Karya untuk Tuhan dan sesama. Dengan menjadi garam dan terang dunia; kita dapat membuat dunia ini lebih baik.

Salam,

apakah hidup itu ‘diciptakan’
:wink:

Hidup untuk memuliakan Tuhan
matipun rela untuk Tuihan. heh.

memang benar kita menjadi garam dan terang tetapi mari kita introspeksi diri kita masing2. sudah berapa besar dampak kita sebagai garam dan terang dunia bagi lingkungan? apa bukti nyatanya?