Tok...tok...tok

Bagian I (Pertama)

Pada thn 1965 Jean Raborg menikmati suatu gaya kehidupan masyarakat amerika, yaitu American Dream. Ia telah menjalankan segala sesuatu dgn benar, ia dibesarkan di sebuah keluarga Kristen. Ibunya pernah melayani sebagai pemain organ di Morningside Presbyterian Church di phoenix, Arizona. Ia tlah menikah dgn kekasihnya sekampus, John. Kini mereka tinggal di san diego dan mereka dikarunia 2 orang anak yang sehat dan cerdas
Jean seorang guru pelajaran ekonomi rumah tangga popular di Keamy Mesa High School. Ia senang menjadi seorang guru dan ia mengasihi para muridnya… para murid dpt merasakan kasih dan sambutan Jean dan sering datang kepadanya dgn permasalahan mereka. Sudah menjadi kebiasaan bagi Jean berdoa bagi para muridnya dan bahkan berdoa bersama mereka. Pada thn 1965 seorang guru umum tetap dapat berdoa dgn para murid tanpa merasa takut kehilangan pekerjaan (sekarang ???)
Suami Jean punya karier menjanjikan dgn memasarkan asuransi dan memenangkan beberapa penghargaan dan mereka mulai berhasil secara financial. Dgn gabungan pendapatan mereka, mereka mampu membeli sebuah rumah bagus di kawasan elite di kota San Diego. Mereka membeli perabot baru dan dgn kemampuan Jean dlm mendekorasi, rumah mereka seperti sebuah rumah yang muncul di majalah Home and Garden.
Apalagi yang diinginkan oleh pasangan muda ini - sebuah rumah yang bagus, pekerjaan menjanjikan, pernikahan yg bahagia, anak-anak yg manis dan semua itu didukung oleh kecukupan financial.
Di samping semua ini adalah suatu dimensi Vital, Spiritual bagi kehidupan Jean. Ia LEBIH dari sekedar seorang Kristen Umumnya. Ia telah mengasihi Yesus dgn segenap hatinya sejak ia berusia 14 thn, ketika ia umur 19 thn, ia mengalami PERJUMPAAN dgn Allah yang membuat dia percaya pada karunia-karunia Roh Kudus. Ia percaya pada satu Allah yang sanggup melakukan mukjizat-mukjizat. Ia dan John tlah lama bergabung dgn gereja yg percaya pada pelayanan supernatural. Meski jadwal mereka padat, mereka banyak terlibat dlm pelayanan gereja. Jean benar-benar memiliki semua itu. Ia menikah dgn orang yg dicintainya, Allah tlah memberikannya sebuah keluarga bahagia. Ia belum pernah mengenal depresi atau kesusahan. Ia berkelimpahan dan memiliki keakraban dgn Alllah, Ia memiliki suatu kehidupan sempurna.
Hanya ada 1 masalah kecil dlm kehidupannya yang sempurna, Jean seorang perfeksionois. Ia tidak tahu betapa buruk sikap perfeksionisnya itu dan seblm thn 1965 , sikap itu belum terlihat membuat dia banyak kesulitan. Tetapi kini ia menemukan dirinya dgn lbh banyak tanggung-jawab daripada waktu-waktu sebelumnya. Ia mengajar 150 org murid tiap hari, semakin ia mengasihi murid2nya semakin ia menghadapi masalah2 mereka dan tekanan2 mereka. Ia berikan segala yang ia kuasai ke dlm pengajarannya. Juga rmh baru tidak berubah menjadi berkat seperti yang diharapkannya. Rmh lbh besar menuntut lbh bnyak usaha untuk memeriharanya tetap bersih daripada rmh lbh kecil yg mereka miliki sebelumnya. Ada kekhawatiran tersendiri ttg perabot baru-suatu kekhawatiran yg tidak dapat dirasakan oleh seorang anak perempuan berusia 9 thn dan seorang anak laki-laki berusia 6 thn.
Jean mulai pulang sore dan secara fisik dan emosi ia letih, tampak bahwa anak2nya mulai menuntut lbh bnyak darinya daripada yang ia dapat berikan. Supaya dapat memenuhi kenutuhan anak2nya, ia sering kali membiarkan pekerjaan2 rmh yg lain. Dan ini menyusahkan dia. Tampaknya ia hanya sanggup mempersiapkan makanan bagi John dan anak2nya dan usai mereka makan ia kembali merapikan meja makan. John sendiri terbeban dgn pekerjaan yang ia bawa pulang pada mlm hari. Untuk pertama kali dalam hidupnya Jean mulai menghadapi suatu masalah tidur, Ini sama sekali tidak berarti baginya sebab ia begitu lelah ketika ia akhirnya beranjak tidur pada malam hari. Tetapi kini ia perlu waktu lebih lama untuk dapat tidur dan tidurnya tidak teratur. Ketika ia bangun pagi hari, ia merasa sama lelahnya dengan ketika ia beranjak tidur.
Jean mulai merindukan hari libur, bukan karena ia dapat istirahat, tetapi karena kesempatan ini memberikannya waktu untuk mengatur rumahnya. Dan kemudian ada tugas2 lain dari gereja mereka, Jean & John setia pada gereja mereka, sulit baginya untuk berkata tidak kepada keperluan2 di gereja. Jadi ia memilih tidak bersantai di hari minggu, tetapi ia biasanya mulai hari senin ia merasa lebih lelah dibanding di hari jumat.
Pada suatu saat Jean merasa kehabisan daya, ia mulai menyadari ia tidak sanggup memikul semua tanggung jawabnya – 150 murid sehari, sebuah rumah baru, dua orang anak, dan tugas pelayanan di gereja sangat membebaninya. Itu yang ia rasakan sehingga ia mulai tengelam dlm penderitaan secara pelan2. Ia merasakan ia tak dapat meninggalkan pekerjaan dari jadwalnya, ia dan John memerlukan pendapatannya sehingga mereka tetap dapat tinggal di rmh baru mereka. Dan mustahil baginya untuk sekedar pergi bekerja dan tidak terlibat dlm kehidupan emosi para muridnya, ia bukan orang semacam itu. Dan tentu tak seorang ibu dapat melalaikan anak2nya, itu di luar pertanyaan, Dan bagaimana ia dapat melalaikan pekerjaan Allah di gereja? Tidak, demikian pikirnya.
Jean mulai berbicara dgn John ttg tekanan yg ia rasakan, tetapi kemudian ia berpikir, bagaimana mungkin ia menggangu John apabila ia sudah begitu terlalu padat pekerjaanya? Ia berpikir ttg bercerita kepada seseorang di gereja, tetapi SUATU suara terus masuk ke dalam pikirannya, mengatakan kepadanya bahwa tak seorang akan tahu bahwa ia benar2 tak sanggup menyelesaikan banyak tugas-bahwa ia sebaiknya tetap seperti biasanya dan semuanya akan beres. Ia tidak tahu di mana kesan terakhir itu datang, tetapi ia memutuskan untuk menurutinya. Ia tidak bercerita kepada siapapun ttg kelelahannya dan stres berat yang sangat membebani dia. Ia memutuskan untuk tetap bertahan.
Akan tetapi, Jean telah meninggalkan sesuatu, Ia dulu selalu menyukai Firman Allah, dan kebiasaan sehari-harinya adalah merenungkannya. Tetapi ia tidak punya lagi tenaga atau kemampuan untuk memusatkan pikiran. Untuk pertama kali dalam kehidupan kristennya, Ia meninggalkan kebiasaanya yg ia sebut “sendiri bersama Yesus”.

Feb 1965, Jean merasa putus asa. Ia datang ke dokter keluarganya dan seorang perawat mengantar dia menuju ke sebuah kamar periksa, Beberapa menit kemudian Dr. Browers datang. “Hai, Jean, apa kabar? Dokter ramah itu bertanya.
“Dr. Browers, saya begitu letih saya hampir tak sanggup melangkahkan kaki untuk berjalan. Tampaknya seperti setiap hari senin pagi saya naik komedi puter dan pergi sekolah dan menghadapi para murid dan mengerjakan semua ini dan pulang bertemu 2 anak kecil saya dan mengurus mereka. Dan tiap hari jumat malam saya turun komedi putar. Tetapi apabila saya dalam keadaan demikian, saya mencoba melakukan apa saja pada akhir pekan yang selama seminggu saya tinggalkan. Jadi hal itu seperti dalam komedi putar yang lain. Dan kemudian minggu pagi tiba dan saya kembali naik komedi puter. Saya tak sanggup melakukan ini lagi” Jean terisak.
“ Jean,anda lelah dan anda letih, anda perlu melakukan beberapa perubahan dalam jadwal anda, segera usai sekolah, anda perlu istirahat, anda tidak menggunakan hikmat yang Allah berikan kepada anda, anda perlu belajar mengatur prioritas2 anda dan membiarkan sebagian hal yang lain” Demikian Dr. Browers memberikan nasehat serta sejumlah obat yg mungkin dapat membantu dia melindungi system kekebalan dan memberikan dia sedikit tambahan energi. Ia mulai merasa lebih sehat, tetapi ia mengabaikan nasehat dokter ttg mengatur ulang prioritas2nya sebab ia sebenarnya tidak mengerti apa yang dokter maksudkan.
Musim panas tiba, dan Jean meniadakan pelajaran Home Economics. John mendapatkan bonus gratis ke San Fransisco dari perusahaan asuransinya, Kesempatan ini menjadi suatu hiburan indah dan melegakan bagi mereka berdua. Pada malam ketika Jean berkemas-kemas untuk persiapan liburan, ia merasakan sesuatu rasa sakit menusuk di bawah lengannya, Ia menaruh tangannya di bawah lengan kirinya, ia merasakan ada sebuat benjolan keras besar. Ia duduk lunglai di sebuah kursi, kecewa dan muram tampak di wajahnya, Ia memikirkan teman terdekatnya, Ann, yang telah meninggal akibat kanker ketika ia berusia 28 thn dan meninggalkan 2 orang anak kecil yang lucu. Semua itu mulai ketika Ann menemukan suatu benjolan sangat mirip dengan benjolan ini.
Dari kegelapan yg menyelimuti Jeans, suatu suara berbisik, “Engkau telah kehilangan berat badan, engkau lelah, engkau punya sebuah benjolan di bawah lenganmu dan engkau mengidap gejala-gejala yg Ann pernah alami dan itu hanya masalah waktu sebelum engkau menyusul dia.” Jean belum pernah tahu jenis ketakutan yg sedang ia rasakan serang. Ketakutan itu membuat tak berdaya. Ia merasakan kedua kakinya menjadi mati rasa. Ia tidak mampu berjalan. Tangan dingin yang menakutkan itu mencengkeram hatinya dan menekannya sehingga harapan dari Roh Kudus lenyap dari batinya dan tergeletak sebuah kolam kecil di lantai di sampingnya dan ia tak berdaya untuk mengangkatnya.
Suara itu berbicara kepada Jean bahwa ia tidak akan sanggup bercerita kepada orang lain, Bagaimana ia dapat bercerita kepada John dan merusak apa yg berapa bulan telah mereka tinggalkan bersama? Apa untungnya kalau berbicara dengan Allah tentang hal ini? Boleh jadi inilah suatu penghakiman bagi dia sebab ia gagal secara menyedihkan dlm tanggung jawabnya sebagai seorang istri, seorang ibu, seorang guru, dan sebagai seorang Kristen. Tidak, itu sudah berakhir, tak ada sesuatu yang tertinggal kecuali merana seperti yang Ann telah lakukan.
Liburan menjadi suatu bencana. Apa yg dapat Jean pikirkan ialah aku akan mati. Aku meninggalkan 2 orang anak dan suami saya, saya tinggalkan rumah yg bagus dan tidak akan mengajar lagi. Ia terus meraba benjolan di bagian lengannya itu, yg tampak tumbuh setiap hari. Sementara Benjolan itu bertumbuh, Jean menjadi semakin kurus. Ketika ia kembali dari San Fransisco, ia tidak lagi berfungsi.
Suatu ketika pada musim panas itu Jean mulai menangis dan sulit untuk berhenti, John tidak dpt mengerti itu. Dan ia tdk dpt bercerita kepada John, Jean sedang mengalami gangguan mental, tetapi karena ia blm pernah tau seseorang yg mengalami suatu gangguan mental, ia tidak menyadari apa yg sudah terjadi. Bagaimanapun ia telah memutuskannya, di akhir musim panas atasannya menyampaikan kepadanya bhw ia telah diangkat menjadi ketua jurusan Home Economics, bukannya membuat ia merayakannya, berita itu mendorong dia ke ambang histeria.
Jean mulai mengajar lagi tetapi ia mudah menunjukkan sikap emosionalnya. Setiap kali para murid meninggalkan ruangan, ia menangis. Stlh 2 mggu mencoba mengajar, ia kembali menemui Dr. Browers. Ketika ia masuk ke kmr periksa, ia mencoba mengatakan kepadanya apa yg tidak beres, tetapi ia hanya dapat menangis. Akhirnya ia mengangkat lengannya dan menunjukkan pada benjolan di bawah lengannya itu. “Apa ini?” tanya dia.
Usai memeriksa dia, Dr. Browers berkata, “Jean, mengapa anda tidak datang ke sini sejak anda mengetahuinya pertama kali?”
“Saya sangat takut”
“Baiklah, tetapi anda sebaiknya sdh dtg ke sini sbb saya dpt mengurangi ketakutan anda. Ini bkn apa yg anda khawatirkan. Saya ingin melakukan pemeriksaan jasmani secara lengkap, tetapi saya yakin benjolan ini tidak ganas.”
Kemudian usai suatu pemeriksaan fisik scra lengkap Dr.Browers memanggil Jean & John ke kantornya untuk memberikan hasil diagnosanya kepada mereka, ia katakan kepada mereka bhw Jean tidak mengidap kanker. Apa yang dipikirkan adalah suatu tumor ganas, atau sesuatu yang tak lebih dari sekedar benjolan kelenjar karna penggunaan obat yang keliru. Sebagian berat badan yang hilang krn mslh dgn organ kewanitaannya, tetapi ia sakit dan sangat lelah, Dr.Browers mengatakan ini dapat dipulihkan dgn bedah/operasi kecil.
Berita ini mungkin memberikan kelegaan besar bagi Jean, Tetapi ketika ia mendengar ttg operasi kecil, ia menduga bhw dokter & suaminya menyembunyikan fakta2 sesungguhnya dari dia. Suara itu berkata bhw dokter dan suaminya telah bersekongkol utk tdk segera menyampaikan kepadanya tentang kankernya sebab ia begitu tertekan dan sangat sering menangis, Meskipun ada jaminan2 dari dokter, ia lbh yakin dibanding sebelumnya bhw ia mengidap kanker dan bhw dokter berdusta padanya guna menenagkan dia sampai pembedahan.
Jean selama ini merasa percaya diri & cakap bhw ia blm prnh meminta pertolongan. Ia sedang mengalami keretakan jiwa, tetapi ia tdk sanggup meminta pertolongan dari Allah dan suaminya. Mlm itu ia mulai memukul dinding kmr tidur & berteriak histeris. Suaminya tdk prnh melihat dia seperti itu sebelumnya dan apabila ia tak sanggup menghentikan dia, ia membanting pintu depan sambil marah dan pergi ke kantornya. Pukulan2 pada dinding menjadi teriak2an tak jelas Jean untuk pertolongan, John mengajaknya tuk kembali ke dokter yang menganjurkan dia supaya libur selama 2 mggu dari tugas mengajar di sekolah. Baik John maupun dokter tidak mengerti maksud tersembunyi yang telah merasuk dlm jiwa Jean dan keputusasaan yang menyertainya. Ia libur 2 mggu untuk beristirahat, tetapi berat badannya tetap menurun.
Ketika ia kembali mengajar, seorang murid bertanya kepadanya suatu nama unsur zat tertentu, ia menatap murid itu sebentar dan kemudian suatu pandangan kosong terlihat di wajahnya. Dengan tenang kata2, “saya tidak tahu, saya tidak tahu,” keluar dari mulutnya. Tampak se-olah2 sesuatu telah lenyap di dlm dirinya. Segala sesuatu yg ia telah ketahui sebagai seorang dewasa tampak lepas darinya dan ia menjadi seperti seorang anak kecil. Ia mendengar diri sendiri berkata, “Saya tinggalkan ruangan ini, dan saya tidak berfikir tuk kembali” tanpa ada tanda2, ia mulai menjerit secara histeris dan lari ke pintu. Seorang di antara para guru di seberang aula melihat dia melompat dari ruangan kelas dan lari menangkap dia, Tangannya memeluk Jean, yang sedang terisak, “semua usai sudah, semua usai sudah.” Kolega itu, Jean, menenangkan dia dan mengajak dia masuk ke mobil. Ia mengantarnya ke Dr.Browers, yg seketika itu memanggil John pergi ke kantor psikiater dan membuat janji temu. Tetapi ketika John Pergi ke kantor psikiater 2 jam kemudian, Jean tetap tidak mampu berbicara, Ia hanya mampu duduk di kantor psikiater dan berteriak histeris. Psikiater itu menemukan hanya dengan obat yg dapat menenangkan Jean. Ia mulai memberikan obat penenang.
Jean tidak percaya bahwa ia seorang Kristen lahir baru, hrs menggunakan obat penenang, ia tergelincir masuk ke suatu lembah yg hampa harapan. Ia tidak pernah kembali ke ruang kelas, hidupnya bergantung kepada obat penenang dan kunjungan2 teratur ke kantor psikiater. Ia tidak sanggup mencuci, memasak, Ia tidak berfungsi, rmhnya tak berarti baginya, Ia meluangkan hari2nya dgn melamun, bahkan menyisir rambutnya pun ia tak sanggup. John membangunkan setiap pagi, mengenakan pakaian padanya, dan kemudian menyisir rambutnya. Ia lalu mengantar anak2 untuk sekolah.
Jean berpikir lbh baik dia mati dan pikiran2 bunuh diri ini meningkat dan ia mulai mencoba mengakhiri hidupnya. Pernah 1 x ia mencoba meloncat keluar dari mobil John di sebuah jalan tol San Diego. Dokter memberikan obat penenang dlm dosis yang lebih tinggi dan John mengajak dia bekerja di pagi hari guna menjaga dia supaya tidak menyiksa diri. Tetapi Jean tidak dapat merasakan kasih John dan juga obat kini tidak dapat mengurangi penderiaannya lagi. Ia merasa diselimuti oleh suatu kegelapan, menyesakkan, ia merasa secara mental, emosional dan fisik mati. Pikiran2 bunuh diri secara konstan menyiksa dia.
The American dream telah memburuk begitu cepat bagi John dan Jean, John harus mempekerjakan seorang pembantu rmg tangga mengurus anak2 dan istrinya. Tagihan dokter dan biaya konsulltasi psikiater untuk Jean menghabiskan tabungan mereka. Ia menghabiskan ribuan dollar untuk tagihan telepon hanya untuk memanggil kedua orang tuanya tanpa sepengetahuan John. Mereka tidak memiliki penghasilan dari Jean mengajar guna menutup uang belanja mereka. Mereka menuju kebangkrutan.
Bln Feb 1966 Jean tidak dapat berfungsi sebagai orang dewasa, John mengerjakan semuannya bagi dia, Anak perempuannya Jeanelle, kini berusia 11 thn sdh mampu menjadi ibu rumah tangga. Pada ulang tahun yang ke-36 Jean mendapatkan dirinya berdiri di depan Rumah Sakit Mental Mesa Vista Psychiatric Hospital.
Jean sangat kesepian, semua teman2 tlah meninggalkannya, pendetanya pun tidak pernah datang menegok lagi, Setiap orang sudah berdoa untuknya tapi tiada hasil, ia memanggil John tetapi ia tidak di sana, ia berseru-seru kepada Allah tetapi tampaknya IA juga tak ada, Jean menghabiskan waktu dengan melamun, ia ingin mulai tidur tiap waktu, merebahkan tubuhnya setengah melingkar setiap hari. John tetap berharap bahwa Jean akan pulih kembali tetapi setiap orang lain tahu bahwa jean tidak akan pulang. Anak2nya sudah tidak punya harapan, orangtua Jean sudah putus harapan, dan Jean sendiri sudah lama tak berpengharapan.
Suara itu datang kembali dlm kegelapan dan mengajukan pertanyaan sederhana, “bagaimana mungkin seorang Kristen yang mengasihi Allah dan percaya pada kuasa Supranatura-Nya akhirnya begitu jauh dari DIA di sebuah rmh sakit jiwa?” dan kemudian suara jahat itu memberitahukan kepada Jean bahwa “engkau telah melakukan dosa tak terampuni, engkau telah menghujat Roh Kudus. Dan Jean mempercayainya.
Ayo teman2 di fk, berikan masukan yang terbaik setelah menbaca cerita bagian I ini,

  1. Bagaimana rasanya?
  2. Sbagai orang percaya, mesti bagaimana?
  3. Tanggapan dari yang tidak percaya ada karunia lagi?
  4. Tanggapan yang masih percaya Allah tetap membuat Mujizat?
  5. Tanggapan dari yang sola skriptura?

Maaf, pertanyaan ini diajukan tidak dengan maksud yang aneh2, tetap pada pikiran positif aja dan bagi yang tahu kelanjutan dari cerita ini boleh Bantu pandu dan kasih tuntunan.

GBU All

Semalam aku bermimpi sedang berjalan menyisir pantai bersama Tuhan.
Di cakarawala terbentang adegan kehidupanku.
Pada setiap adegan aku melihat dua pasang jejak kaki di pasir.
Sepasang jejak kaki dan yang sepasang lagi jejak kaki Tuhan.
Setelah adegan terakhir dari kehidupanku, terhampar di hadapanku aku menoleh ke belakang dan melihat jejak kaki di pasir.
Aku memperhatikan bahwa berkali-kali sepanjang hidupku terutama pada saat-saat paling gawat dan mencekam hanya terdapat sepasang jejak kaki saja.
Hal ini membuat aku benar-benar sangat kecewa maka kubertanya pada Tuhan, “ Tuhan dimanakah Engkau?
Engkau mengatakan bila aku memutuskan untuk mengikuti Engkau, Engkau akan berjalan bersama aku sepanjang jalan hidupku.
Namun aku memperhatikan bahwa pada saat-saat paling gawat dan beban berat menimpa hidupku hanya ada sepasang kaki saja.
Dan aku tidak mengerti pada waktu aku sangat membutuhkan Engkau, Engkau justru meninggalkan aku.”

Tuhan menjawab, “Anakku, engkau sangat berharga di mataKu.
Aku sangat mengasihi engkau dan Aku tidak akan meninggalkan engkau.
Pada waktu engkau dalam bahaya dan dalam penderitaaan engkau hanya melihat sepasang jejak kaki saja karena pada waktu itu Aku mengendong engkau.

Anonim