Teror BOM dan eskalator (KESAKSIANKU part 2)

Aku masih mengingat jelas kejadian sekitar 2 tahun yg lalu. Waktu itu aku masih bekerja di salah satu mall ternama dikotaku, tepatnya disalah satu toko baju di mall itu. Saat itu meskipun aku sudah bekerja kurang lebih dua setengah bulan, tapi jujur saja aku belum pernah yg namanya melewati tangga eskalator.
Sejak hari pertama aku masuk kerja, aku hanya menggunakan yg namanya lift, secara tempat aku bekerja itu terletak di lantai 4 mall itu. Aku memilih untuk lebih memakai lift dari pada eskalator bukan karena ingin lebih cepat sampai di tempatku bekerja, tapi karena aku memang sama sekali tidak bisa menaiki tangga eskalator tanpa ada yg mendampingiku.

Sejak aku sembuh dan bisa berjalan lagi, itu tidak menjamin aku bisa melakukan banyak hal seorang diri, yg salah satunya seperti menaiki tangga eskalator sendiri. Aku sering merasa takut kalau-kalau langkah kakiku tidak bisa mengimbangi lajunya putaran tangga eskalator itu. Dan untuk mencegah terjadi hal-hal yg tidak diinginkan aku memutuskan untuk menggunakan lift saat ingin naik ke tempatku bekerja.
Jujur saja waktu itu aku tidak yakin pada diriku sendiri kalau aku bisa, dan terlebih lagi aku justru melupakan kalau YESUS pernah menolongku sebelumnya dengan menyembuhkanku. Ketakutanku untuk sakit lagi, membuatku lupa pada kuasa-NYA yg begitu besar yg sanggup menolongku mengatasi ketakutanku ini.

Kemudian semuanya berubah sejak kejadian malam itu.seperti biasanya, hari itu aku pergi kerja dan melakukan pekerjaanku seperti hari2 biasanya. Menjelang soreh, bagian informasi dari pihak mall mengumumkan pada pengeras suara bahwa ada sebuah paket yg tertinggal disamping lift di lantai 3, satu lantai tepat dibawah tempatku bekerja. Saat itu kami yg bekerja di lantai itu sama sekali tidak terlalu memperdulikan pengumuman itu karena kami tahu itu hanyalah pengumuman biasa dan berharap pemilik dari paket itu bisa segera mendengar dan mengambilnya. Satu jam berlalu, dan pihak mall kembali mengumumkan pengumuman yg sama. Saat itu salah satu cleaning service yg bertugas di lantai kami malah bercanda dan bilang " eh… Jangan2 itu bom?" Aku dan teman2ku yg mendengarnya pun hanya bisa tertawa tanpa menyadari kalau itu akan menjadi sesuatu yg serius.

Pukul 19:30 aku, bosku, dan ibu bosku sedang duduk2 di toko untuk menunggu jam menunjukan pukul 20:00 dan kemudian menutup toko. Saat kami sedang asyik2nya ngobrol, tiba2 salah seorang CS datang sambil berlari seperti orang gila dan berteriak " dilantai 3 ada bom, paket yg tadi itu benar2 bom!!".
Terang saja kata2nya membuat semua ‘penghuni’ lantai 4 itu pada ketakutan setengah mati termasuk juga aku. Masih teringat jelas gambaran kejadian malam itu dipikiranku, bagaimana gaya ibu bosku yg ketakutan kesana-kemari ngga tau jelas mau apa? Dengan mulut yg komat-kamit ngga tau juga ngomong apa? Belum lagi seorang ibu penjual sepatu dan sandal yg memiliki dua toko di lantai itu, terlihat jelas betapa bingungnya dia antara mau menyelamatkan toko atau dirinya sendiri.

Saat itu aku ingin segera menghubungi orang tuaku, tapi sialnya pulsaku berada pada tingkat paling rendah, aku hanya bisa bilang, " yaa ampun, kenapa harus sekarang aku sadar kalau mengisi pulsa sebelum perlu itu sangatlah penting?"

Malam itu aku seperti berada pada salah satu adegan sebuah fil action, dimana gambar disekitarku berlahan terlihat bergerak lambat, dan orang2 disekitarku berteriak, berlari, dan kebingungan. Aku hanya terdiam dan tidak tahu harus berbuat apa? Semuanya terasa menakutkan tapi aku tak bisa berlari untuk menghindar. Aku hanya berdiri terpaku diam sambil melihat orang2 disekitarku yg berlari kesana-kemari untuk mendapatkan keselamatannya masing2. Aku dikejutkan oleh panggilan bosku, " yann, malam ini kita pulangnya bareng, kamu jangan pulang sendiri, kita turun kebawah sama2 aja." Aku benar2 bersyukur karena mendapatkan seorang bos yg benar2 sangat peduli dan mengerti akan keadaanku.

Aku yg biasanya selalu pulang sendiri tapi malam itu harus bareng sama bosku dan ibunya. Saat itu aku berjalan sambil berpegangan tangan sama ibu bosku untuk menuju lift. Tapi keadaan berubah menjadi lebih menakutkan bagiku karena ternyata liftnya di blog sama polisi dan kami disuruh turun lewat tangga eskalator.
What…!!. Saat itu, kalau aku ngga inget udah gede, aku pasti udah menangis sejadi2nya karena ketakutan. Dalam hati aku mulai berdoa meminta pertolongan-NYA, tanpa lupa untuk protes sama DIA, " yaa ampun TUHAN, kenapa kejadian ini harus aku hadapi?, tak ada yg tahu melebihi ENGKAU seberapa takut dan tidak bisanya aku menggunakan eskalator? Apa ini cara-MU untuk membuatku berani? Kalau memang benar, KAU tega TUHAN, kenapa harus tiba2 seperti ini?" Saat mengucapkan doa ini dalam hati aku benar2 ingin nangis sangking takut dan kecewa pada-NYA karena membuatku menghadapi situasi ini.
Malam itu aku bukan hanya akan menghadapi satu tangga eskalator, tapi karena tempatku bekerja berada di lantai 4, itu artinya akan ada 3 eskalator yg harus aku ‘taklukan’.

Saat berada di depan eskalator pertama, aku kembali berdoa dalam hati, dan kali ini aku benar2 pasrah. " TUHAN… Aku tahu ini terlihat gila dimataku, tapi aku yakin ENGKAU tidak akan membawaku sejauh ini hanya untuk melihatku mati terguling di tangga eskalator kan?, aku memang lemah, tapi ENGKAU kuat dan berkuasa. Jadi aku percaya KAU akan menolongku keluar dari gedung ini tanpa kurang satu apapun…amiin…" Bersama ibu dari bosku, aku meletakan kakiku di atas anak tangga eskalator, dengan mata yg tak beranjak dari kakiku, Aku terus konsentrasi agar bisa melangkah disaat yg tepat, dan berhasil…!!!
Eskalator yg pertama berhasil ku ‘taklukan’. Dengan langkah kaki yg semakin dipercepat aku terus berjalan menuju eskalator yg kedua. Nafasku semakin terdengar ngos-ngosan karena kelelahan ( jujur saja, aku belum pernah jalan sekenceng itu ditambah sambil ketakutan, komplit deh debaran jantung yg berkumandang semakin cepat dan keras sampai terdengar jelas oleh telingaku.)

Di eskalator yg ke dua aku mulai merasa sedikit tenang karena sudah memiliki sedikit pengalaman dari eskalator yg pertama. Tapi tantangan baru kembali muncul, ( sueerr deh, aku kaya lagi main game sama TUHAN, dimana setelah menyelesaikan level pertamA, maka level berikutnya pasti akan ada tantangan baru yg akan mempersulit.)
Di eskalator yg kedua keadaan makin menegangkan, yg menaiki eskalator itu pun sudah semakin banyak, baik itu para tenan atau para pengunjung yg berhamburan untuk secepat mungkin berada di luar gedung, mereka semua mulai menumpuk di eskalator kedua dimana aku berada, dan tiba2 saja eskalator itu melaju dengan kencang. Seperti sebuah mobil yg putus rem, eskalator itu pun benar2 tak bisa dihentikan lajunya. Orang2 yg sebelumnya berada di belakangku, entah bagaimana caranya tiba2 sudah mendahului aku. Saat itu yg aku tahu, aku terhimpit, aku didorong,aku disambar dari belakang. Ibarat sebuah bola di kaki seorang pemain profesional, seperti itulah keadaanku malam itu, di ‘gelinding’ dengan sempurna. Yg tertinggal di eskalator itu tinggal aku dan ibunya bosku juga beberapa orang dibelakangku. Sedangkan bosku sendiri sudah lebih dahulu sampai di bawah. Aku begitu takut ketika eskalator itu semakin dekat dengan lantai, dalam hati aku bisa berteriak pada TUHAN, " aku harus apa s’karang TUHAN.?" Mataku mulai berkaca-kaca menahan takut, rasanya benar2 seperti mau mati saja.
Tiba2 seperti ada sesuatu yg berbisik padaku. “Lompatlah”, what…!!!, yg benar saja pikirku, sejauh yg aku ingat, terakhir kali aku lompat hasilnya benar2 ngga enak ( kalau ada yg sudah pernah baca KESAKSIANKU sebelumnya, pasti tahu apa yg terjadi ketika aku melompatM hahaha.), aku ngga mungkin melompat, aku ngga bisa melompat, aku takut melompat, dan lebih tepatnya lagi aku trauma untuk melompat. Tapi sekali lagi aku mendengar bisikan itu, " ayo, melompatlah." Eskalator itu semakin mendekat dengan lantai, aku bisa melihat dan mendengar bosku berteriak padaku dan ibunya, " yann, ayo lompat." Kemudian aku kembali mendengar bisikan itu dan kali ini benar2 terdengar jelas ditelingaku." Lompatlah. " Tangan kiriku kemudian memegang erat pegangan eskalator itu, dalam hati aku berkata. " TUHAN YESUS, aku percaya pada-MU." Kemudian aku lompat.

Ketika aku menyadari bahwa aku sudah berada di lantai 2 bersama dengan bosku, aku benar2 hanya bisa terpaku diam dalam kekaguman akan janji dan penyertaan-NYA yg luar biasa padaku saat itu. dan Puji TUHAN aku tidak menemukan kendala saat melewati eskalator ke 3.

Ketika aku berhasil keluar dari gedung itu, aku, bosku, dan ibunya berjalan menjauhi gedung itu. Saat sedang berjalan menuju ke jalan raya tiba2 saja sebuah motor dengan cepat melaju ke arahku, saat itu aku hanya bisa mendengar orang yg berada disekitarku berteriak, " awas, ada motor dibelakangmu.", dan saat aku berbalik, aku hanya bisa melihat sekilas cahaya dari lampu motor itu, kemudian aku memejamkan mata dan berkata dalam hati, “MATI AKU”. Tapi ketika aku membuka mataku, aku hanya melihat motor itu tepat berada dibelakangku dan sudah berhenti. Saat itu dalam keadaan shock aku hanya bisa melongo kaya orang bego’ disamping ibunya bosku yg sedang mengomeli pengendara sepeda motor itu.

Aku kemudian berdiri sejauh mungkin dari gedung itu, aku melihat ada begitu banyak orang yg berlari kesana-kemari, belum lagi sebuah mobil tim GEGANA yg sudah terparkir manis didepan gedung itu. Membuat suasana malam itu semakin menegangkan. Sambil menunggu jemputanku tiba. Aku kemudian memikirkan kembali kejadian yg baru saja aku alami. Aku selamat?, tak ada satupun luka pada tubuhku? Meskipun aku sudah di ‘gelinding’ seperti bola di atas eskalator tadi, melompat dari eskalator, bahkan hampir ‘FIRST KISS’ sama motor pun tapi tidak ada sedikitpun goresan pada tubuhku.? TUHAN YESUS menepati janji-NYA dengan menjawab doaku, dan membuatku bisa keluar dari gedung itu dengan keadaan selamat.

Kejadian malam itu membuatku semakin menyadari bahwa kuasa-NYA yg begitu besar akan selalu menyertaiku. Suara yg berbisik, keberanian, dan kekuatan luar biasa yg tak kasat mata, sudah membawaku satu tingkat untuk lebih bisa mengandalan-NYA dalam setiap kesulitanku. YESUS tahu bahwa kekuatanku tidak cukup besar untuk melewati kejadian malam itu, tapi kekuatan-NYA selalu besar untuk bisa kupercayai.
Tidak ada masalah yg besar atau kecil bagi-NYA, ketika kita dengan berani datang kehadapan-NYA untuk meminta pertolongan-NYA, maka DIA akan selalu siap untuk menolong kita.

Sebab itu marilah kita dengan penuh keberanian menghampiri takhta kasih karunia, supaya kita menerima rahmat dan menemukan kasih karunia untuk mendapat pertolongan kita pada waktunya. Ibrani 4:16

Be bless…^^ JB us.

Saat kita dalam bahaya ingatlah TUHAN, berdoa berseru dan panggillah namaNYA, percayalah tak satu helai rambutpun yang akan lepas dari kepala kita. Thanks for share yanne, TUHAN memberkati :slight_smile:

Mmm…benar, cuman kadang2 kita lebih sering ragu dari pada percaya, kaya aku…hehe…berkali2 ditolong tapi tetap ragu aja kalau keadaan mulai tegang…tapi untungnya TUHAN YESUS setia, jadi pasti sllu menolong kita tepat disaat kita benar2 butuh pertolongan. aku sudah pernah mengalaminya berkali-kali…hehe…JBU:)

GBU

jelas kan? Kekuatiran ga ada gunanya. :slight_smile:

se7…tapi itulah manusia…kalo ngga ada masalah yakinnya minta ampun, giliran masalah nongol…main “tuding-tuding” TUHAN…hahhahahaaa…salah satunya dirikyuuuu…wewewehhh