Skandal 'Vatileaks' Guncang Vatikan

Skandal ‘Vatileaks’ Guncang Vatikan

http://img10.imageshack.us/img10/6258/skandalvatikan.jpg

TEMPO.CO , Vatikan - Penangkapan pembantu utama Paus Benedictus XVI mengguncang Vatikan. Skandal yang mencoreng muka Tahta Suci ini, kata situs berita Associated Press, mengungkapkan perebutan kekuasaan internal, intrik, dan korupsi di tingkat tertinggi pemerintahan Gereja Katolik itu.

Paolo Gabriele, salah satu dari beberapa anggota rumah tangga kepausan, dicokok akhir pekan ini. Ia dituding turut andil membocorkan sejumlah dokumen kepausan. Associated Press menyebut pekan ini sebagai pekan paling tegang dalam sejarah Vatikan dan melemparkan Tahta Suci ke dalam kekacauan, setelah desakan untuk menunjukkan kepada dunia bahwa mereka serius mematuhi norma-norma internasional tentang transparansi keuangan.

Skandal yang kerap disebut Vatileaks ini mengental awal pekan ini setelah sebuah buku yang berdasar pada dokumen Vatikan yang bocor, termasuk korespondensi, catatan, dan memo kepada Paus dan sekretaris pribadinya. Kemudian, diikuti dengan pelengseran petinggi bank yang berafiliasi pada Tahta Suci pada Kamis. Sabtu, kepala pelayan sendiri Paus Benediktus XVI dicokok karena diduga turut andil membocorkan dokumen kepada wartawan Italia.

“Jika Anda menulis ini dalam fiksi, Anda tidak akan percaya,” kata Carl Anderson, anggota dewan bank Vatikan yang memberi kontribusi dengan mosi tak percaya pada presiden bank, Ettore Gotti Tedeschi. “Editor tidak akan membiarkan Anda memasukkannya ke dalam sebuah novel.”

Bank, yang dikenal sebagai Institute for Religious Works, mengeluarkan kecaman pedas pada Gotti Tedeschi dalam memorandum yang diperoleh The Associated Press. Bank yang dikenal dengan IOR - singkatan dalam bahasa Italia - itu menjelaskan alasan untuk mengusir Gotti Tedeschi: ia secara rutin mangkir dari rapat dewan, gagal melakukan tugasnya, gagal membela bank, mengalami problem polarisasi, dan menampilkan “perilaku pribadi yang semakin tak menentu.”

Pemecatan ini dikeluarkan di saat Moneyval, sebuah badan Komisi Eropa yang bertugas menangkal pencucian uang, bersiap memeriksa Bank Vatikan terkait standarisasi transaksi keuangan internasional pada awal Juli mendatang.

Sebelumnya, Ettore Gotti Tedeschi dan seorang pejabat senior lain memang menjadi sasaran investigasi setelah dua transaksi mencurigakan dilaporkan kepada polisi setempat. Tim jaksa Italia menyelidiki praktik pencucian uang yang kemungkinan telah dilakukannya.

Sejumlah catatan yang bocor awal tahun ini mengungkapkan adanya perbedaan di antara pejabat Vatikan terkait seberapa jauh bisa menjamin transparansi keuangan. IOR dibuat saat Perang Dunia II guna mengelola rekening berbagai ordo Katolik Roma.

Gotti Tedeschi belum berkomentar secara terbuka tentang pelengserannya atau alasan di balik itu. Ia hanya menyatakan memiliki kekaguman terlalu banyak bagi Paus.

Juru bicara Vatikan, Rev Federico Lombardi, mengatakan Gabriele telah bertemu dengan pengacaranya. Lombardi mengatakan penahanan Gabriele menandai perkembangan yang menyedihkan bagi semua staf Vatikan. “Semua orang tahu dia di Vatikan, dan pasti akan kekagetan dan rasa sakit, dan kasih sayang untuk keluarga tercinta,” kata juru bicara itu.

Gabriele, kepala pelayan pribadi Paus sejak 2006, telah sering terlihat di sisi Paus Benediktus di depan umum. Ia juga ikut naik di kursi depan jip terbuka Paus atau melindungi Paus dari hujan. Secara pribadi, ia adalah anggota rumah tangga kepausan, termasuk sekretaris pribadi Paus dan empat biarawati yang merawat apartemen kepausan.

Skandal Vatileaks tercium mulai Januari ketika wartawan Italia, Gianluigi Nuzzi, mempublikasi surat dari administrator No. 2 Vatikan pada Paus yang meminta agar dirinya tak dipindahkan. Dia sebelumnya diduga terkait dugaan korupsi jutaan euro dengan cara memanipulasi kontrak.

Nuzzi, yang sebelumnya menulis Vatican SpA, akhir pekan lalu menerbitkan Hiss Holiness, yang ia tulis berdasar dokumen vatikan yang bocor. Orang nomor dua kepausan, Kardinal Tarcisio Bertone, dilukiskan dalam cahaya yang negatif dalam buku ini.

Nuzzi mengatakan mendapatkan dokumen Vatikan dari banyak sumber. Ia juga mengaku tak membayar sepeserpun untuk mendapatkannya.
http://www.tempo.co/read/news/2012/05/27/117406494/Skandal-Vatileaks-Guncang-Vatikan

Vatikan Sangkal Ada Kardinal Bocorkan Rahasia

http://img502.imageshack.us/img502/7680/skandalvatikan2.jpg

TEMPO.CO , Vatican City - Vatikan pada hari Senin membantah laporan pers Italia bahwa ada kardinal yang sedang diselidiki dalam skandal bocornya dokumen rahasia, atau lebih dikenal sebagai skandal Vatileaks. Skandal ini telah mengguncang pucuk kepemimpinan Gereja Katolik Roma.

Juru bicara Vatikan, Federico Lombardi, mengatakan pada konferensi pers bahwa Tahta Suci tidak akan terpengaruh pada tekanan media. Ia juga membantah pemberitaan media menyebabkan Gereja buru-buru melakukan investigasi yang berujung penangkapan kepala pelayan Paus Benediktus XVI.

Lombardi mengatakan Paus mengikuti kasus ini dengan seksama tetapi tetap tenang. Ia menyebut perebutan kekuasaan internal di balik kasus tersebut telah dibesar-besarkan.

Seorang pengacara untuk kepala pelayan Paolo Gabriele (46) mengatakan kliennya akan bekerja sama dengan investigator yang berusaha untuk melacak orang lain yang dicurigai membocorkan dokumen sensitif sebagai bagian dari perebutan kekuasaan di Vatikan.

Ia menyatakan, skandal ini sangat melukai kepercayaan umat pada Gereja. “Ini adalah sesuatu yang dapat menyakiti Gereja, dan menaruh kepercayaan di dalamnya dan kini Tahta Suci sedang diuji,” kata Lombardi.
http://www.tempo.co/read/news/2012/05/28/117406750/Vatikan-Sangkal-Ada-Kardinal-Bocorkan-Rahasia

Pembantu Paus Dihukum 18 Bulan

http://img402.imageshack.us/img402/7695/skandalvatikan3.jpg

TEMPO.CO, Vatikan - Pengadilan Vatikan menyatakan Paolo Gabriele, pembantu Paus Benedictus XVI terbukti bersalah membocorkan dokumen rahasia kepada media. Ia wajib menjalani tahanan rumah selama 18 bulan.

Juru bicara Vatikan, Federico Lombardi, mengatakan “sangat mungkin” Paus akan mengampuni Gabriele, yang telah melayani kebutuhan pribadi Paus selama enam tahun.

Gabriele, 46 tahun, terlihat tanpa ekspresi saat hakim ketua, Giuseppe Dalla Torre, mengucapkan kalimat “dalam nama Yang Mulia, Paus Benediktus XVI” sebelum vonis dijatuhkan, di ruang berdinding kayu di pengadilan kota Vatikan.

Vonis ini merupakan episode paling memalukan dalam sejarah Vatikan. Sebelumnya, sebuah buku yang menguliti hierarki gereja Katolik beredar, yang sebagian isi buku itu berdasar dokumen yang dibocorkan oleh Gabriele. Buku ini mengungkapkan tuduhan kejahatan keuangan, pertikaian, dan ketegangan yang meluas di dalam Vatikan.

Semula, pengadilan menghukum Gabriele tiga tahun penjara dan mengharuskan dia untuk membayar biaya pengadilan. Tapi kemudian dikurangi menjadi 18 bulan setelah pengadilan mengakui keadaan khusus, termasuk pengakuan publik kepala pelayan itu bahwa ia telah mengkhianati kepercayaan Paus. Pengadilan juga mempertimbangkan bahwa niatnya, meskipun keliru adalah ditujukan untuk kebaikan gereja.

Sebelum vonis, Gabriele mengatakan pada tiga hakim yang ada di ruang sidang, “Saya bukan pencuri.” Berbicara dengan sedikit emosi, Gabriele mengatakan apa yang dilakukannya karena sangat mencintai gereja dan Paus.

Selama beberapa bulan, dimulai pada bulan November, ia memberikan sejumlah dokumen kepada seorang wartawan, Gianluigi Nuzzi, yang kemudian menerbitkannya menjadi sebuah buku, His Holiness: the Secret Papers of Pope Benedict XVI. Di dalamnya, sebagian besar berisi kelakuan buruk dalam pemerintahan Vatikan dan lembaga keuangannya.

Dua minggu setelah buku itu diterbitkan pada bulan Mei, Gabriele ditangkap ketika ratusan dokumen yang difotokopi ditemukan di apartemennya di dalam kota Vatikan, di mana dia tinggal bersama istri dan tiga anak mereka. Gabriele menghabiskan hampir dua bulan di ruang tahanan di Vatikan sebelum dipindahkan ke tahanan rumah.
http://www.tempo.co/read/news/2012/10/06/117434158/Pembantu--Paus-Dihukum-18-Bulan

Paus Ampuni Pembantunya yang ‘Berkhianat’

http://img203.imageshack.us/img203/323/skandalvatikan4.jpg

TEMPO.CO, Vatikan - Paus Benediktus XVI memberikan pengampunan atas pembantunya yang disebut-sebut banyak pihak melakukan pengkhianatan padanya. Ia memaafkan Paolo Gabriele secara pribadi selama pertemuan langsung keduanya, atas tindak pencurian dan pembocoran rahasia kepausan yang dilakukannya. Apa yang dilakukan Gabriele merupakan salah satu pelanggaran keamanan paling parah dalam sejarah kepausan.

Setelah pertemuan 15 menit, Paolo Gabriele dibebaskan dan kembali ke apartemennya di mana dia tinggal bersama istri dan tiga anaknya. Vatikan mengatakan dia tidak bisa terus hidup atau bekerja di Vatikan, dan mengatakan akan menemukan rumah dan pekerjaan di tempat lain segera.

“Ini adalah sikap terhadap seseorang yang selama bertahun-tahun berbagi kehidupan sehari-hari dengan Paus,” menurut pernyataan juru bicara Vatikan.

Pengampunan menutup bab menyakitkan dan memalukan bagi Vatikan. Dalam dokumen yang dibocorkan terungkap skandal kekuasaan, intrik, korupsi, hingga hubungan homoseksual di tingkat tertinggi Gereja Katolik.

Gabriele, 46 tahun, ditangkap pada 23 Mei setelah polisi menemukan apa yang mereka disebut “tumpukan dokumen kepausan dalam jumlah besar” di apartemennya di Vatikan City. Dia dihukum karena pencurian berat oleh pengadilan Vatikan pada 6 Oktober dan telah menjalani 18 bulan masa hukumannya.

Dia mengakui memberikan dokumen kepada wartawan Italia, Gianluigi Nuzzi, karena dia berpikir Paus tidak tahu tentang “kejahatan dan korupsi” di Vatikan. Dia berpendapat bahwa dengan mengekspos secara terbuka akan menempatkan gereja kembali jalur yang benar.
http://www.tempo.co/read/news/2012/12/23/117449927/Paus-Ampuni-Pembantunya-yang-Berkhianat

kalau menurut saya memang terjadi persaingan di tubuh vatican, buktinya pada saling menjatuhkan seperti sex party di beberkan oleh ketua bagian pengusiran setan vatican sendiri.

The leak of of Pope Benedict XVI’s personal correspondence by his butler Paolo Gabriele revealed the Byzantine machinations that took over internal affairs of the the Vatican during the papacy of Benedict XVI.
But the focus given to the question of the source of the leak diverted attention from the content of the documents which tell stories of dark rivalries, scandals and allegations of official corruption that characterized the inner working of the Holy See in the eight years of the papacy of Benedict XVI.
According to Jon Horowitz writing in The Washington Post, VatiLeaks as the scandal came to be known, exposed an entrenched opposition in the church hierarchy to Benedict’s efforts at reforming the system in the wake of corruption and sex scandals. The pope had installed Archbishop Carlo Maria Vigano to implement a series of reforms within the Vatican. But some of Rome’s top cardinals moved to block the efforts and force Vigano’s “exile” to the United States.
The archbishop was appointed the Vatican ambassador to the US and sent packing to Washington.
The Washington Post reports that the circumstances leading to his resignation show that Benedict XVI was a weak leader who was no match for the entrenched interests that dominated the internal politics of the Holy See with its system lacking in transparency, being dominated by institutional secrecy.
Benedict hinted at the problems in his final homily on Ash Wednesday: “We can reveal the face of the church and how this face is, at times, disfigured. I am thinking in particular of the sins against the unity of the church, of the divisions in the body of the church."
A senior Vatican official, however, said that a radical transformation of the culture of the church is unlikely. He said: “We’re talking about people who have given their life to this institution, but at the same time the institution has become their life. Unlike parish priests, who have the personal rewards that come with everyday contact, their lot is not as human. It’s bureaucratic, but it becomes all-consuming."
The leak of the pope’s private correspondence came through his butler Paolo Gabriele. He leaked personal documents, including letters from Vigano, expressing his grievances about his “exile” to the US .

Read more: http://www.digitaljournal.com/article/343733#ixzz2LJb1Hy9d
: http://www.digitaljournal.com/article/343733#ixzz2LJasWcDx

bersambung.

In the course of his normal official duties, Gabriele came across letters that gave details of the circumstances that led to Vigano acquiring powerful enemies in the Vatican. Articles attacking Vigano began appearing in the media after he took over the Pope’s job of reform. When Vigano appealed to the Vatican Secretary of State Tarcisio Bertone, he got no sympathy, instead he was removed from his position
The events led to the series of letters from Vigano to the pope that passed through Gabriele’s office. Vigano sent copies of his letters to the pope.
In one of the letters Vigano wrote to Bertone, he accused him of obstructing the pope’s reforms and of breaking his promise to make him cardinal.
In another letter, Vigano wrote: “My transfer right now, would provoke much disorientation and discouragement in those who have believed it was possible to clean up so many situations of corruption and abuse of power that have been rooted in the management of so many departments.”
In other letters he spoke of pervasive corruption citing examples.
But in the end, he was removed from his office and sent into “exile” in Washington.
Horowitz reports that in a letter to the pope dated July 7, 2011, Vigano complained about his appointment as Vatican ambassador to the US: “In other circumstances such an appointment would be a reason for joy and a sign of great esteem and trust in my regard, but in the present context, it will be perceived by all as a verdict of condemnation of my work, and therefore as a punishment."
Vigano won the butler’s sympathy. He decided to bring the issues and Vigano’s discontent to the pope’s attention through unofficial channels. Through intermediaries, he contacted Gianluigi Nuzzi, an Italian investigative reporter. The two had a number of secret meetings and an arrangement in which Gabriel passed documents to him. On one occasion, according to Horowitz, Gabriele arrived at a scheduled meeting with 13 pages of documents taped to his back under his jacket.
Horowitz reports Nuzzi used the documents to write his highly controversial blockbuster, “His Holiness: The Secret Papers of Pope Benedict XVI."
The publication led to a hunt for the “mole” who leaked the documents. Investigations soon led to 82 boxes of documents in the butler’s apartment. Vatican authorities arrested him. He was tried, convicted and jailed for several months before the pope personally pardoned him.
Gabriele reportedly told Vatican investigators: “Seeing evil and corruption everywhere in the church, I finally reached a point of degeneration, a point of no return, and could no longer control myself.” He explained to investigators that he acted in the hope of sending a shock, “perhaps through the media,” that would “bring the church back on the right track.”
According to The Washington Post, if the purpose was to force the the ouster of Tarcisio Bertone, it failed because he remained as powerful as ever following the leak scandal.
Benedict had appointed Bertone to the second most powerful position in the Vatican, that of the Secretary of State who oversees the day-to-day running of the Vatican.
Bertone proceeded immediately after his appointment to consolidate his power by appointing loyalists to key positions in the hierarchy as part of his effort to neutralize opponents within the system who felt he was an outsider unqualified for the position on the grounds of his experience.
Having amassed power, especially in his oversight functions with regard to the Vatican bank, he began using his authority to block the pope’s reform efforts for greater financial transparency.
Horowitz alleges that the Vatican avoided addressing the issues raised by the leak scandal following Gabriele’s trial. Instead it sought through Fox News and Twitter to burnish its outer image. The Vatican hired Gregory Burke, a Fox News reporter, to bring in a “common-sense journalistic view of how things are going to play out” to the church. Burke was hired to “help craft the message."
In December, the pope opened a Twitter account @pontifex. His Twitter followers went to 2,000 in 30 minutes and soon reached 1.5 million followers. The Twitter account was to be used by the pope to drop “pearls of wisdom."

Read more: http://www.digitaljournal.com/article/343733#ixzz2LJbQveKK

Saya rasa ini seperti cerita novel saja.

Pope melihat korupsi skandal sex dll yang merajalela di vatican,

Lalu dia menyuruh vigano membersihkan keadaan, namun di blok oleh bertone yang adalah orang yang ditunjuk oleh pope sendiri jadi sekeratis negara.

Paulo Gabriele yang adalah pembantu Pope sympathy pada vigano, dia menghubungi wartawan untuk membocorkan masalah ini dalam rangka membantu vigano.

Lalu dia dihukum delapan belas bulan tapi akhirnya diampuni Pope. Karena pada dasarnya Gabriele ini membantu Pope.