Setara Institute : Intoleransi dan Radikalisme, Satu Langkah Menuju Terorisme

Pembubaran paksa yang dilakukan ormas Gerakan Anti Pemurtadan dan Aliran Sesat (GAPAS) terhadap jemaat Kristen yang akan melakukan perayaan dan pengucapan syukur Paskah di Cirebon, Jawa Barat pada Selasa lalu mengundang reaksi dari Setara Institute yang mengecam tindakan tersebut dan langkah Polisi yang dinilai lunak.

Ketua Setara Institute Hendardi menilai ketundukkan polisi pada kelompok vigilante untuk kesekiankalinya telah merendahkan martabat aparat penegak hukum dan melembagakan impunitas pelanggaran kebebasan beragama/ berkeyakinan. Setara Institute mengingatkan, jika kondisi ini terus menerus dibiarkan, aksi-aksi intoleransi akan terus meluas dan negara akan semakin kehilangan kewibawaannya. “Dalam situasi yang demikian, apa pun yang dilakukan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sebagai kepala negara dan kepala pemerintahan, tidak akan dianggap sebagai prestasi,” ujarnya, Selasa (17/5).

Setara Institute mengingatkan bahwa intoleransi, radikalisme, hanya membutuhkan satu langkah menuju terorisme. Dengan kata lain, membiarkan aksi-aksi intoleransi dan radikalisme hanya akan melahirkan dua kemungkinan; radikal nonjihadis dan radikal jihadis yang dengan penuh keyakinan melakukan terorisme. Kedua bentuk radikalisme ini telah nyata ada di sekitar kita dan negara tidak bertindak. Membiarkan intoleransi semakin menguat sama saja membiarkan bibit-bibit baru kelompok jihadis tumbuh dan berkembang.

Gerakan Anti Pemurtadan dan Aliran Sesat (GAPAS) sendiri adalah ormas bentukan H Salim Badjri dan dipimpin oleh Andi Mulya yang telah berulang kali melakukan aksi-aksi intoleransi baik terhadap Ahmadiyah di Kuningan, Cirebon, terhadap jemaat Kristiani, maupun kelompok agama lain atau paham keagamaan lain di Cirebon dan sekitarnya. Terakhir, nama Gapas sempat dihubungkan dengan peristiwa bom bunuh diri di Mapolres Kota Cirebon M Syarif, adalah salah satu aktivis pengajian dan aktor aksi-aksi yang kerap digelar oleh Andi Mulya.

Pada Senin Malam lalu (16/5) Gapas membubarkan perayaan Paskah di Gedung Gratia Kota Cirebon yang berlanjut keesokan harinya di Hotel Apita Cirebon, Selasa (17/5). Ironisnya polisi memilih membubarkan acara Paskah yang diikuti sekitar 5000-an orang dan umumnya adalah pelajar. Seperti biasa polisi berdalih untuk menjaga keamanan dan ketertiban. Padahal, tidak ada sedikit pun pelanggaran yang dilakukan Panitia Perayaan Paskah, baik terkait izin dan lainnya.

Source : mediaIndonesia/DPT