SEPERSEPULUH (Persembahan 10%)

Nemu dari Websitenya Cornelius Wing

PERPULUHAN, ALKITABIAH TETAPI BUKAN Kekristenan

Sebab kami tidak sama dengan banyak orang lain yang mencari keuntungan dari firman Allah. Sebaliknya dalam Kristus kami berbicara sebagaimana mestinya dengan maksud-maksud murni atas perintah Allah dan di hadapan-Nya.
2 Korintus 2:17

Bolehkah manusia menipu Allah? Namun kamu menipu Aku. Tetapi kamu berkata: “Dengan cara bagaimanakah kami menipu Engkau?” mengenai persembahan persepuluhan dan persembahan khusus! Kamu telah kena kutuk, tetapi kamu masih menipu Aku, ya kamu seluruh bangsa! Bawalah seluruh persembahan persepuluhan itu ke dalam rumah perbendaharaan, supaya ada persediaan makanan di rumah-Ku dan ujilah Aku, Firman Tuhan semesta alam, apakah Aku tidak membukakan bagimu tingkap-tingkap langit dan mencurahkan berkat kepadamu sampai berkelimpahan.
Maleakhi 3:8-10

Bagian dari kitab Maleakhi tersebut menjadi teks favorit bagi banyak pendeta, khususnya ketika persembahan dan pemberian di gereja berkurang. Jika kita punya waktu untuk memperhatikan gereja modern maka kita akan mendengar bagian dari kitab Maleakhi tadi sering “bergemuruh” dari mimbar. Pertimbangkan retorika yang sering kita dengar ini: "Allah memerintahkanmu membayar perpuluhan dengan setia. Jika kamu tidak memberi perpuluhan maka kamu sedang merampok Allah dan menempatkanmu di bawah kutuk. Akankah kita ulangi bersama mengucapkan “doktrin perpuluhan?” Perpuluhan milik Tuhan.

Di dalam kebenaran kita pelajari, di dalam iman kita percaya, dan di dalam sukacita kita memberikannya. Perpuluhan! Dan persembahanmu diperlukan jika pekerjaan Tuhan ingin jalan terus (“pekerjaan Tuhan di sini tentu artinya adalah gaji staf kependetaan dan pembayaran listrik bulanan gedung gereja”).

Apa akibat dari tekanan ini? Umat Tuhan merasa bersalah jika tidak memberikannya. Ketika mereka melakukannya mereka merasa membuat Tuhan senang lalu mereka dapat mengharapkan Dia untuk memberkati secara finansial. Ketika mereka gagal akan merasa jadi tidak taat dan kutuk finansial membayangi mereka.

Tetapi marilah kita mundur ke belakang dan bertanya: “Apakah Alkitab mengajarkan kita tentang perpuluhan? Dan …. Apakah kita diwajibkan secara rohani untuk mendanai pendeta dan stafnya?” jawaban dari dua pertanyaan itu mengejutkan (jika Anda seorang pendeta, ini menarik perhatian, maka Anda mungkin akan mencabut hatimu dan mengobatinya sekarang).

… Topik-topik selanjutnya di artikel ini:

Apakah perpuluhan alkitabiah?
Asal-usul perpuluhan dan gaji pendeta
Akar dari segala kejahatan

Lanjutannya baca di Websitenya Cornelius Wing aja yah, soalnya tadi aku copy paste semua kelebihan, ga bisa di posting hehehe…

Matius 23
23:23 Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab persepuluhan dari selasih, adas manis dan jintan kamu bayar, tetapi yang terpenting dalam hukum Taurat kamu abaikan, yaitu: keadilan dan belas kasihan dan kesetiaan. Yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan.

Perintah Tuhan, jelas mengatakan tidak mengabaikan apa yang telah menjadi perintah Tuhan. Terlebih lagi, paradigma kita harus berubah, apakah perpuluhan termasuk ukuran kesetiaan kita pada Tuhan? GBU

perpuluhan ada di ajarkan
kl sudah masuk ke dalam pembendaharaan gereja itu lah perpuluhan…
pendeta tidak mendapat gaji… sejak kapan pendeta dapat gaji ??
pelayan2 gereja tidak di gaji…
anda pikir kantor apa :tongue:
bila ada yg di gaji, saya tidak tahu… karena di gereja saya tidak ada yg di gaji… :slight_smile:

bro… perpuluhan itu tidak selalu berupa “uang”
kalo anda peternak ayam, boleh saja anda membawa perpuluhan berupa ayam ke gereja :ashamed0004:

tapi lebih simple kan bila perpuluhan itu dalam bentuk materi… mudah di hitung, di tambah atau di kurang…

jadi silakan anda bawa 10 ekor ayam besok ke gereja, bila anda mau :slight_smile:

Sudahlah… istilahnya aja udah salah… masa mau di bahas…

secara logika…
perpuluhan tidak menunjukkan angka sama sekali ( X/10) itu perpuluhan…

tp alkitab berbicara tentang sepersepuluhan (1/10)

kalo yang pertama saya bisa bilang angkanya antara 0-10 itu yang real…
sementara yang kedua sudah pasti 1.

Jadi kalo mau dipermasalahkan coba perbaiki dulu term-nya…

“PERPULUHAN, ALKITABIAH TETAPI BUKAN Kekristenan” :mad0261:

Emang ajaran Kristen ngga mengacu pada Alkitab yag??

Yah, hamba Tuhan juga manusia yang harus memenuhi kebutuhan hidupnya.

Ketika Tuhan memerintahkan suku Lewi agar khusus menjadi pelayan Kemah Suci-Nya pada jaman Musa. Tuhan memberikan semua persembahan perpuluhan bangsa Israel kepada suku Lewi dan menjadi milik Tuhan adalah 1/10 dari persembahan suku Lewi.

Bilangan 18
18:21 Mengenai bani Lewi, sesungguhnya Aku berikan kepada mereka segala persembahan persepuluhan di antara orang Israel sebagai milik pusakanya, untuk membalas pekerjaan yang dilakukan mereka, pekerjaan pada Kemah Pertemuan.

Bilangan 18
18:26 "Lagi haruslah engkau berbicara kepada orang Lewi dan berkata kepada mereka: Apabila kamu menerima dari pihak orang Israel persembahan persepuluhan yang Kuberikan kepadamu dari pihak mereka sebagai milik pusakamu, maka haruslah kamu mempersembahkan sebagian dari padanya sebagai persembahan khusus kepada TUHAN, yakni persembahan persepuluhanmu dari persembahan persepuluhan itu.

Memang ada hamba Tuhan yang digaji menurut sistem gereja tertentu, namun total gaji yang dikeluarkan untuk hamba Tuhan lebih sedikit daripada total persembahan perpuluhan jemaat. Kebanyakan perpuluhan dipakai biaya operasional gereja dan inventaris properti gereja. Memakai sistem gaji sepertinya lebih tepat pada masa sekarang, jangan sampai hamba Tuhan melihat “jiwa” seperti melihat “uang”, karena penghasilannya didasarkan persembahan perpuluhan dari tiap2 orang.

Boleh gak persepuluhan diberikan selain ke gereja ? Karena di dalam Ulangan 26 : 12-13 dikatakan “Persembahan persepuluhan dapat diberikan kepada orang Lewi / imam, orang asing, anak yatim piatu, dan janda”

Lihat gerejanya seperti apa, ada gereja yang teguh memegang prinsip mengenai persepuluhan ini, ya seyogianya persepuluhan diberikan kepada gereja setempat, supaya melaluinya nanti disalurkan juga ketempat-tempat semestinya (kepada janda, anak yatim, jemaat yang berkekurangan atau masyarakat banyak yang membutuhkan dst).

Yang paling penting adalah sikap hati kita, apakah kita menbayar persepuluhan karena wajib, ataukah kita memberikan persepuluhan tersebut karena mengasihi. Jika wajib, tentu harus diikuti dengan kewajiban-kewajiban lainnya, seperti wajib sunat, wajib Sabat dll sehingga kita kembali mengikatkan diri pada pola hidup lama, tetapi jika kita setia memberikan persepuluhan atas dasar kasih, tentu Tuhan yang Maha Mengetahui, melihat hati kita yang paling dalam. GBU

Tidak anda baca secara cermat. Untuk bagian Lewi itu sudah menjadi keharusan. Dari 1/10 pendapatan tetap harus ada yang diberikan kepada Gereja.

Salam.

@more2. thx buat linknya.

sekedar share tentang apa yg gw percayai.
pelanggaran ada karena ada peraturan.
dosa ada karena ada hukum.

Hukum Taurat itu baik sekali. Tetapi terlalu tinggi bagi manusia. Adakah manusia di dunia ini yg sanggup melakukan seluruh hukum tsb?
Yesus datang ke dunia untuk menggenapi hukum tersebut. Ia mengajarkan supaya kita kembali ke yang hakiki, yaitu hukum kasih.

Gw kutip dari link cornelius wing :
Bersama kematian Yesus, semua upacara dan simbol-simbol agama yang dimiliki orang Yahudi telah dipakukan pada salib-Nya dan dikuburkan … tidak pernah muncul lagi untuk menghukum kita. Dengan alasan ini kita tidak pernah melihat orang-orang Kristen memberikan perpuluhan di dalam Perjanjian Baru

So, di dalam Yesus kita harus meninggalkan adat atau budaya atau upacara yg biasa digunakan leluhur dan kembali pada yg hakiki, yaitu kasih.

Perpuluhan yg didasarkan pada kasih, itulah yg dikehendakiNya.
Tapi jgn mendasarkan perpuluhan pada kewajiban.

Menurut gw, gereja yg baik adalah yg menjelaskan konsep2 dan latar belakang dari perpuluhan. Tidak hanya sekedar mewajibkan jemaatnya memberikan perpuluhan.

gw kutip lagi:
Pemberian di dalam Perjanjian Baru adalah sesuai kemampuan seseorang.

Gw masih ingat perkataan Yesus saat ada perempuan yg memberikan persembahan dan Ia berkata bahwa perempuan itu sesungguhnya memberikan lebih banyak daripada orang yg kaya. karena ia memberi dari kekurangannya.

Jadi ukuran yg hakiki bukanlah ukuran standar perpuluhannya, tetapi berdasarkan kesungguhan hati memberikan dari apa yg dipunya. itulah yang dijelaskan dalam PB.

Demikian sharenya, ini adalah forum diskusi, jadi berbeda pendapat yah wajar2 saja bukan?

Salam damai.

Persembahan si janda miskin, jelas melebihi dari 1/10 penghasilannya. Apakah orang2 yang tidak ingin memberikan perpuluhan kepada Gereja didasarkan argumentasi pemberian yang dilandaskan kasih dan ketulusan hati sudah menghitung benar2, apakah yang diberikannya sudah lebih dari 1/10 penghasilannya, atau malah justru membenarkan diri untuk menyimpan dari yang seharusnya diberikan kepada Tuhan. Saya banyak melihat orang2 yang beralasan bahwa perpuluhan sudah bukan kekristenan lagi, justru tidak pernah memberi banyak seperti halnya si janda miskin. Sedangkan jemaat mula2 di dalam Perjanjian Baru sudah tidak lagi memberikan perpuluhan karena mereka menjual seluruh harta miliknya untuk dibagi-bagikan kepada sesamanya. Apakah ada saudara sekalian yang melakukan demikian, seperti jemaat mula2? Apapun alasannya perintah Tuhan tetap ada untuk memberikan 1/10 bagian milik kita kepada Tuhan. Ketika Yesus mengajarkan tentang pajak, Ia mengatakan berikan apa yang menjadi kewajiban kita kepada pemerintah. Dengan kata lain, Ia juga mengajarkan kepada kita untuk menjalankan kewajiban kita kepada Tuhan. Yang dicela Yesus dalam kisah persembahan si janda miskin, justru mengenai “jumlahnya”, bukan arti nominal uang tapi seberapa besar dari bagian kita yang kita beri sebagai persembahan. Kalau orang lain memberi 10% dari penghasilannya, maka si janda miskin memberi 100% dari penghasilannya. Sudahkah kita memberi 100% dari penghasilan kita?

Salam.

Kalo gw sih lebih memilih untuk tidak menjudge orang, apakah ada orang yg menggunakan alasan2 tertentu sehingga tidak memberikan perpuluhan pada gereja.

Bukankah banyak sekali konsep sekarang ini yg sudah berkembang?
Perpuluhan sudah tidak hanya dikaitkan dengan uang saja. Tetapi bisa berkaitan dengan waktu. Berapa waktu yg kita sisihkan untuk Tuhan?
Link dari more2 jg udah cukup menjelaskan perpuluhan dari segi kontekstual, dari segi kondisi bangsa Israel saat itu. Gw liat ada jg kok buku di gramedia yg membahas hal ini.

Ingatlah bahwa Tuhan melihat hati. Tuhan ingin yg terbaik dari kita. Apakah yg terbaik dari kita hanya 10%? Masih ingatkah tentang cerita orang yg masuk surga dan neraka? Ketika Tuhan menjelaskan mengapa salah satunya masuk surga, Ia mengatakan karena ketika ada orang yg haus, orang itu memberi minum, ketika ada orang yg butuh tumpangan, orang itu memberikannya, dst. Jadi intinya ketika ada org yg butuh sesuatu, ya berikanlah. Tidak terbatas pada golongan, personal, komunitas tertentu. Berapa ukurannya? Apakah 10% saja?

Sebenarnya sih untuk masalah hati, kelihatannya semua juga setuju kalo dalam memberi, yah berilah sepenuh hati, jgn 10% saja. Tapi menurut gw yg ingin menjadi topik utama seputar perpuluhan ini adalah ‘sikap gereja terhadap perpuluhan’.

Seperti yg uda gw sebut di atas, menurut gw gereja yg baik adalah yg menjelaskan konsep2 dan latar belakang dari perpuluhan. Tidak hanya sekedar mewajibkan jemaatnya memberikan perpuluhan. Kewajiban erat kaitannya dengan aturan, hukum. Bila dilanggar, maka ada sanksi. Yesus sudah menyalib hukum, adat, dan budaya. Dan mengajar kita untuk kembali pada yg hakiki,yaitu kasih. Percuma saja klo kita memberikan perpuluhan tetapi pada saat yg sama, kita masih bertengkar dgn saudara kita. Hukum kasih ini berkaitan dengan banyak hal, klo diulas lagi, malah OOT.

Yah intinya berilah dengan hati yg tulus. Jgn bersungut2. Juga jgn menjudge orang apakah orang tsb hanya menggunakan alasan utk tidak memberi perpuluhan. Karena hati orang siapa yg tahu? Selain daripada Tuhan sendiri.

Salam damai.

Saudaraku, saya tidak menjudge orang. Saya setuju apa yang saudara kemukakan. Namun pahamilah bahwa mengenai persembahan 1/10 maupun persembahan si janda miskin, tidak boleh diselewengkan maksudnya. Konteksnya jelas bahwa persembahan yang dimaksud adalah persembahan penghasilan/materi. Jangan diubah menjadi waktu, sikap hati, atau apapun juga. Awalnya saya memberikan komentar: ada perintah Tuhan seperti ini, apakah kita mau melakukannya sebagai ukuran kita atas kesetiaan kita kepada-Nya?
Jangan bicara tentang kasih jika kita tidak setia.

Salam.

Yup. kasih dan setia saling berkaitan. Setuju sekali bro.
Tapi jgn sampai kita setia, tapi kasih tidak nampak. Rasanya bakal hambar.

Salam damai.

Matius 23
23:23 Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab persepuluhan dari selasih, adas manis dan jintan kamu bayar, tetapi yang terpenting dalam hukum Taurat kamu abaikan, yaitu: keadilan dan belas kasihan dan kesetiaan. Yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan.

Yap, itulah mengapa Yesus mengecam orang Farisi dan ahli Taurat, yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan.

Salam.

yakz setuju sama bung r0mi. haha

syalom…

saya mau tanya soal persembahan perpuluhan

boleh ga perpuluhan di gereja lain.
saya punya gereja…biasa saya perpuluhan di gereja saya.trus saya kadang suka ke gereja lain ,boleh ga perpuluhan di gereja lain?karena saya ada pergi sama seseorang di gereja lain ini.

bagaimana menurut pendapat fk?

jawab chrisma: boleh
tergantung pada dimana dan bagaimana ardilin merasa bisa terberkati dengan FT yang ditaburkan dan bisa makin bertumbuh dan berbuah
chrisma sendiri karena sering mobile jadi kalau memberi sepersepuluh ya pindah pindah
bulan ini di gereja kota A, bulan depan di gereja kota B, dst.

yah,ok klo begitu,thx jawabannya.
saya melakukan perpuluhan untuk pekerjaan Tuhan.dimanapun saya beribadah di Rumah Tuhan disitulah saya memberikan persembahan saya untukNya.juga memberikan yang bisa diberikan untuk sesama yang membutuhkan.

untuk semua pembaca FK
Di dunia ini,kita terbiasa menganggap orang yang menang adalah orang yang sukses mengalahkan orang lain.
menjadi nomor satu,itulah definisi pemenang.bagi seorang pengusaha,menjadi yang terkaya di dunia.bagi seorang politikus menjadi orang nomor satu di negaranya.bagi seorang pelajar menjadi juara di sekolahannya,dst…

Namun apakah itu juga definisi kemenangan di mata Allah?kalau kita melihat kisah tentang janda miskin dan persembahannya.kita menemukan suatu definisi yang berbeda.

janda miskin ini hanya memberikan dua peser uang.jumlah yang menurut kamus Alkitab,sangatlah kecil nilainya.Kalah telak dibandingkan persembahan orang-orang kaya.namun bagi YESUS persembahan ini justru lebih berharga daripada persembahan orang-orang kaya!menurut standar Allah,si janda miskin ini tampil sebagai pemenang.Bagi Dia kemenangan seseorang diukur dari seberapa maksimal ia berusaha memberikan apa yang ia mampu.bukan seberapa hebat ia dibandingkan orang lain.

Tuhan tidak meminta kita untuk menjadi yuang nomor satu,tetapi menjadi yang terbaik yang kita bisa.pola pikir ini memberi ketenangan sekaligus memacu kita.ketenangan,karena kita tidak perlu menjalani hidup dengan membanding-bandingkan diri dengan orang lain.tidak perlu takut di cap kalah bersaing.terpacu,karena Tuhan meminta kita memberikan yang terbaik yang kita bisa.untuk berusaha semaksimal mungkin memenuhi segala potensi kita.untuk tidak mudah berpuas hati.melainkan terus mendorong diri untuk maju,memakai semua bakat dan karunia yang Allah percayakan.

SEORANG PEMENANG YANG SEJATI ADALAH SESEORANG YANG BERHASIL MEMENUHI SEGALA POTENSI YANG ALLAH PERCAYAKAN KEPADANYA

Lalu Ia Berkata:“Sesungguhnya Aku berkata kepadamu,janda miskin ini memberi lebih banyak dari pada semua orang itu”.

…ya terbaik dari segala apa yang kita miliki (hati, akal budi, dan kekuatan)
tidak hanya pada kuantitas/besar jumlah uang yang dipersembahkan