Sengsara TUHAN YESUS menurut Beata. Anna Katharina Emmerick

YESUS di Hadapan Hanas

http://terang.webs.com/photos/salib/Kayafas.jpg

Menjelang tengah malam ketika YESUS tiba di istana Hanas. Para pengawal segera menggiring-Nya ke suatu aula yang sangat luas, di mana Hanas, dengan dikelilingi oleh duapuluh delapan penasehat, duduk di suatu podium yang sedikit lebih tinggi dari permukaan lantai dan menghadap pintu masuk. Para prajurit yang tadi menangkap YESUS sekarang menyeret-Nya dengan kasar ke kaki balai pengadilan. Ruangan itu tampak penuh dengan para prajurit, para hamba Hanas, sejumlah kelompok yang diperkenankan masuk, dan juga saksi-saksi palsu yang kemudian dipindahkan ke ruangan Kayafas.

Hanas merasa senang dengan pemikiran bahwa KRISTUS akan segera dibawa ke hadapannya. Ia menunggu-nunggu kedatangan-Nya dengan amat tidak sabar. Ekspresi wajahnya sungguh menyebalkan. Gurat-gurat wajahnya memperlihatkan bukan hanya kegembiraan neraka yang meliputinya, melainkan juga segala kelicikan dan kebusukan hatinya. Ia adalah pemimpin suatu pengadilan yang ditetapkan guna memeriksa orang-orang yang dituduh mengajarkan ajaran-ajaran palsu. Jika pengadilan membuktikan bahwa tuduhan tersebut benar, tertuduh selanjutnya akan diajukan ke hadapan imam besar.

YESUS berdiri di hadapan Hanas. Ia tampak kehabisan tenaga dan kusut. Jubah-Nya berlumur lumpur, kedua tangan-Nya dibelenggu, kepala-Nya terkulai, dan Ia tidak berbicara sepatah kata pun. Hanas adalah seorang tua yang kurus bertampang jahat dengan jenggot tipis. Ia luar biasa sombong dan angkuh. Sementara duduk, ia tersenyum sinis, berpura-pura tak tahu apa-apa dan sungguh terkejut mengetahui bahwa tahanan yang dibawa ke hadapannya tak lain adalah YESUS dari Nazaret. “Mungkinkah ini,” katanya, “mungkinkah Engkau YESUS dari Nazaret? Di manakah gerangan para murid-Mu, pengikut-Mu yang banyak itu? Di manakah kerajaan-Mu? Aku khawatir persoalan tidak menjadi seperti yang Engkau harapkan. Para penguasa, aku pikir, merasa bahwa sudah saatnyalah menghentikan segala sepak terjang-Mu, tidak hormat pada Allah dan para imam-Nya, dan melanggar kekudusan hari Sabat. Murid-murid macam apa yang ada pada-Mu. Ke mana mereka semuanya? Kau diam saja! Berbicaralah, penipu! Berbicaralah Kau, pemicu pemberontakan! Bukankah Engkau makan anak domba Paskah dengan cara yang tidak sah, di luar waktu yang ditetapkan, dan di tempat yang tidak layak? Bukankah Engkau hendak menyebarkan ajaran-ajaran baru? Siapa yang memberi-Mu hak untuk berkhotbah? Di mana Kau belajar? Katakan, apa ajaran agama-Mu?”

YESUS kemudian mengangkat kepala-Nya yang lunglai, menatap Hanas dan mengatakan, “Aku berbicara terus terang kepada dunia: Aku selalu mengajar di rumah-rumah ibadat dan di Bait Allah, tempat semua orang Yahudi berkumpul; Aku tidak pernah berbicara sembunyi-sembunyi. Mengapakah engkau menanyai Aku? Tanyailah mereka, yang telah mendengar apa yang Kukatakan kepada mereka; sungguh, mereka tahu apa yang telah Kukatakan.”

Mendengar jawaban YESUS ini, wajah Hanas memerah karena berang dan murka. Seorang hamba dari tingkat yang paling rendah, yang berdiri dekat situ, melihat hal ini, serta-merta ia menampar wajah KRISTUS dengan sarung tangan besinya, sembari berseru, “Begitukah jawab-Mu kepada Imam Besar?” YESUS hampir-hampir roboh karena kerasnya tamparan itu. Ketika para pengawal lainnya ikut-ikutan memaki serta memukuli-Nya, Ia jatuh terkapar, darah menetes dari wajah-Nya membasahi lantai. Tawa riuh-rendah, hinaan, dan kata-kata cercaan menggema di seluruh ruangan. Para prajurit pembantu menyeret dan membangkitkan-Nya kembali dengan kasar. Dengan tenang YESUS menjawab, “Jikalau kata-Ku itu salah, tunjukkanlah salahnya, tetapi jikalau kata-Ku itu benar, mengapakah engkau menampar Aku?”

Murka Hanas semakin menjadi-jadi melihat sikap YESUS yang demikian tenang. Ia berpaling kepada saksi-saksi dan menghendaki mereka mengajukan dakwaan-dakwaan terhadap-Nya. Mereka semuanya serentak berbicara: “Ia menyebut DiriNya sebagai raja; Ia mengatakan bahwa Allah adalah BapaNya; bahwa kaum Farisi adalah orang-orang munafik. Ia memicu pemberontakan di antara rakyat; Ia menyembuhkan orang sakit dengan kuasa setan pada hari Sabat. Penduduk Ophel mengerumuni-Nya beberapa waktu yang lalu dan menyebut-Nya dengan gelar Juruselamat dan Nabi. Ia membiarkan DiriNya disebut sebagai Putra Allah; Ia mengatakan bahwa Ia diutus oleh Allah; Ia menubuatkan kehancuran Yerusalem. Ia tidak berpuasa; Ia makan bersama orang-orang berdosa, bersama orang-orang kafir, dan bersama para pemungut cukai, serta bergaul dengan para perempuan berdosa. Beberapa waktu berselang, kepada seseorang yang memberi-Nya minum di pintu gerbang Ophel, Ia mengatakan bahwa Ia akan memberinya air hidup yang kekal, setelah meminumnya, ia tidak akan haus lagi. Ia menyesatkan orang banyak dengan kata-kata bermakna ganda,” dst. dst.

Segala tuduhan ini diteriakkan serempak. Sebagian dari saksi-saksi berdiri di hadapan YESUS, mereka menghina-Nya sementara berbicara dengan gerakkan tubuh yang mengejek. Para prajurit pembantu bertindak lebih jauh, bahkan dengan menyerang-Nya seraya berkata, “Berbicaralah, mengapa Engkau tidak menjawab?” Hanas dan para pengikutnya menambahkan olok-olok untuk mengejek-Nya. Setiap kali terdapat jeda dalam tuduhan-tuduhan itu mereka berteriak, “Jadi, ini ajaran-Mu, bukan begitu? Apa jawab-Mu tentang hal ini? Keluarkan titah-Mu, Raja agung, utusan Allah, buktikan perutusan-Mu.” “Siapakah Engkau?” lanjut Hanas dengan nada mencemooh, “siapakah yang telah mengutus-Mu? Adakah Engkau putera seorang tukang kayu dusun, atau adakah Engkau Elia, yang diangkat ke surga dalam kereta berapi? Katanya ia masih hidup, dan aku dengar Engkau dapat membuat DiriMu Sendiri kasat mata apabila Engkau menghendakinya. Mungkinkah Engkau Nabi Maleakhi, yang perkataannya kerap Engkau kutip? Beberapa orang mengatakan bahwa bapanya adalah seorang malaikat dan bahwa ia juga masih hidup. Seorang penipu ulung seperti Engkau pastilah tak memiliki kesempatan yang lebih baik dalam mengelabui orang selain dari menyamar sebagai nabi ini. Katakan tanpa berbelit-belit lagi, dari kerajaan manakah Engkau berasal? Engkau lebih besar dari Salomo - setidak-tidaknya Engkau berpura-pura demikian, dan Engkau bahkan ingin orang percaya akan hal itu. Tenanglah, aku tak akan lagi menolak gelar dan lambang kekuasaan-Mu itu, yang memang amat tepat untuk-Mu.”

Hanas kemudian meminta selembar perkamen, kira-kira satu yard panjangnya (± 91 cm) dan enam inci lebarnya (± 15 cm). Di atasnya ia menulis serangkaian kata-kata dalam huruf-huruf yang besar. Setiap kata mewakili tuduhan-tuduhan berbeda yang diajukan terhadap KRISTUS. Lalu, ia menggulungnya, memasukkannya ke dalam sebuah tabung kecil yang kosong, menutupnya dengan cermat, menyerahkan tabung itu kepada YESUS seraya menyeringai lebar, “Lihatlah tongkat lambang kerajaan-Mu. Di dalamnya terdapat gelar-gelar-Mu, catatan kehormatan yang berhak Engkau peroleh, dan juga hak-Mu atas tahta. Bawalah ini kepada imam besar, agar ia dapat mengenali martabat kebangsawanan-Mu dan memperlakukan Engkau sesuai martabat-Mu. Ikatlah tangan raja ini, dan bawalah Dia ke hadapan imam besar.”

Kedua tangan YESUS, yang tadi telah dilepaskan dari ikatan, sekarang diikat menyilang di dada-Nya begitu rupa agar Ia dapat membawa tongkat kekuasaan olok-olok yang berisi tuduhan-tuduhan Hanas. YESUS digiring ke Pengadilan Kayafas, di tengah segala makian, teriak, dan pukulan bertubi-tubi yang dilancarkan ke tubuh-Nya oleh khalayak ramai yang brutal.

Kediaman Hanas tak lebih dari tiga ratus langkah dari kediaman Kayafas. Terdapat tembok-tembok tinggi dan rumah-rumah biasa di setiap sisi jalan, yang diterangi suluh dan lentera-lentera yang digantungkan pada tiang-tiang. Banyak sekali orang Yahudi berkerumun di jalanan berbicara dengan amarah yang meluap-luap. Para prajurit hampir-hampir tak dapat menerobos kerumunan orang banyak . Mereka yang bertindak begitu tercela terhadap YESUS di Pengadilan Hanas meneruskan cercaan dan penganiayaan terhadap-Nya sepanjang perjalanan ke kediaman Kayafas. Aku melihat uang dibagi-bagikan kepada mereka yang bersikap sangat jahat terhadap YESUS oleh orang-orang bersenjata dari pengadilan. Aku melihat para prajurit mengusir mereka semua yang menaruh belas kasihan kepada-Nya. Sementara mereka yang bersikap kejam terhadap-Nya diijinkan masuk ke Pengadilan Kayafas.

YESUS di Hadapan Kayafas

http://terang.webs.com/photos/salib/Hanas.jpg

YESUS digiring masuk ke balai pengadilan. Khalayak ramai menyambut-Nya dengan sorak cemooh. Ketika YESUS berjalan melewati Petrus dan Yohanes, Ia melihat mereka dengan ekor mata-Nya, tanpa memalingkan wajah-Nya, agar jangan terungkap identitas mereka. Begitu Ia tiba di ruang sidang, Kayafas berseru dengan suara lantang, “Engkau datang juga akhirnya, Kau musuh Allah, Kau si penghujat, yang mengganggu ketenangan malam yang kudus ini!” Tabung yang berisikan tuduhan-tuduhan Hanas, lambang kekuasaan olok-olok yang ada di tangan YESUS, segera dibuka dan dibaca.

Kayafas berbicara menggunakan kata-kata yang paling menghina. Lagi, para prajurit pembantu menyiksa serta menganiaya Tuhan kita seraya berteriak, “Jawab segera! Berbicaralah! Apakah Kau bisu?” Kayafas, yang perangainya luar biasa congkak dan sombong, menjadi lebih murka daripada Hanas. Ia mencecar-Nya dengan seribu satu pertanyaan. Tetapi, YESUS berdiri di hadapannya diam membisu dengan mata-Nya memandang ke lantai. Para prajurit pembantu berusaha memaksa-Nya berbicara dengan pukulan yang bertubi-tubi. Seorang anak yang jahat, menekankan ibu jarinya ke atas bibir YESUS, sembari mengejek menantang-Nya untuk menggigit. Lalu, para saksi-saksi dipanggil. Pertama adalah saksi-saksi dari kalangan terendah, yang tuduhan-tuduhannya sama kacaunya dan sama berubah-ubahnya seperti yang mereka ajukan di hadapan pengadilan Hanas. Tak satu pun dari tuduhan tersebut dapat dipergunakan oleh sidang. Sebab itu, Kayafas berpaling kepada saksi-saksi utama, yakni kaum Farisi dan kaum Saduki, yang telah berkumpul dari segala penjuru negeri. Para saksi ini berusaha berbicara dengan tenang, tetapi ekspresi wajah dan sikap mereka mengungkapkan rasa iri dan dengki yang memenuhi hati mereka. Terus-menerus mereka mengulang dan mengulang lagi tuduhan-tuduhan yang sama, yang telah dijawab-Nya berulang kali: “Bahwa Ia menyembuhkan orang sakit dan mengusir setan dengan bantuan setan - bahwa Ia mencemarkan hari Sabat - menghasut rakyat untuk memberontak - menyebut kaum Farisi sebagai keturunan ular beludak dan orang-orang munafik - menubuatkan kehancuran Yerusalem - bergaul dengan para pemungut cukai dan orang-orang berdosa - mengumpulkan rakyat dan menyatakan diri sebagai raja, nabi dan Putra Allah.” Mereka mengajukan kesaksian “bahwa Ia senantiasa berbicara tentang kerajaan-Nya - bahwa Ia melarang perceraian - menyebut DiriNya sebagai Roti Hidup, dan mengatakan bahwa barangsiapa tidak makan daging-Nya dan minum darah-Nya tidak akan memiliki hidup yang kekal.”

Begitulah mereka memutarbalikkan serta menyalahartikan sabda-sabda yang diucapkan-Nya, pengajaran-pengajaran yang diajarkan-Nya, dan perumpamaan-perumpamaan dengan mana Ia menerangkan pengajaran-Nya, menyampaikan kepada mereka persamaannya dengan kejahatan mereka. Namun demikian, para saksi ini saling bertentangan dalam pernyataan mereka. Satu orang mengatakan, “Ia menyebut DiriNya raja,” dan segera orang kedua menyanggahnya dengan mengatakan, “Tidak, Ia membiarkan orang menyebut-Nya demikian, tetapi, begitu mereka berusaha menjadikan-Nya raja, Ia melarikan diri.” Yang lain mengatakan, “Ia memaklumkan DiriNya sebagai Putra Allah,” tetapi, orang keempat menyelanya dengan mengatakan, “Tidak, Ia hanya menyebut diri sebagai Putra Allah sebab Ia melakukan kehendak Bapa SurgawiNya.” Beberapa dari para saksi mengatakan bahwa Ia telah menyembuhkan mereka, tetapi penyakit mereka itu kambuh kembali dan bahwa penyembuhan-Nya yang bohong-bohongan itu dilakukan melalui sihir. Begitu pula yang mereka katakan mengenai penyembuhan seorang yang lumpuh di kolam Betsaida, tetapi dengan memutarbalikkan fakta guna mengajukan tuduhan serupa. Namun, bahkan dalam tuduhan-tuduhan ini pun, mereka saling tak setuju, saling bertentangan satu sama lain. Kaum Farisi dari Seforis, dengan siapa Ia pernah berdebat perihal perceraian, menuduh-Nya mengajarkan ajaran-ajaran sesat. Seorang pemuda Nazaret, yang pernah ditolak-Nya sebagai murid, juga cukup keji untuk mengajukan kesaksian melawan Dia.

Sesungguhnya, sama sekali mustahil membuktikan kebenaran satu tuduhan pun. Tampaknya, para saksi maju ke hadapan sidang semata-mata untuk menghina YESUS, lebih daripada membuktikan kebenaran tuduhan-tuduhan mereka. Sementara mereka saling berselisih satu sama lain, Kayafas dan beberapa anggota sidang lainnya menyibukkan diri dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada YESUS dan membelokkan jawaban yang disampaikan-Nya menjadi bahan olok-olok. “Keturunan raja manakah Engkau? Buktikan kuasa-Mu! Panggillah pasukan malaikat yang Kau sebut-sebut di Taman Zaitun itu! Apakah yang telah Kau-lakukan dengan uang yang diserahkan kepada-Mu oleh para janda dan orang-orang to*** lainnya yang Engkau tipu dengan ajaran-ajaran palsu-Mu? Jawab segera; berbicaralah, - apakah Kau bisu? Adalah jauh lebih bijaksana jika Engkau tutup mulut sementara berada di antara khalayak ramai yang dungu: di sana, malahan Engkau berbicara terlalu banyak.”

Segala pertanyaan ini disertai pukulan bertubi oleh para hamba rendahan dari para anggota pengadilan. Andai Tuhan kita tak ditopang dari atas, pastilah Ia tak akan bertahan hidup karena perlakuan yang demikian. Beberapa saksi yang tak bermoral berusaha membuktikan bahwa Ia adalah anak haram; tetapi yang lain memaklumkan bahwa BundaNya adalah seorang Perawan yang saleh, perawan Bait Allah, dan bahwa sesudahnya mereka menyaksikannya bertunangan dengan seorang yang takut akan Allah. Para saksi mencela YESUS dan para murid-Nya karena tidak mempersembahkan kurban di Bait Allah. Memang benar bahwa aku tidak pernah melihat, baik YESUS maupun para murid-Nya, mempersembahkan kurban di Bait Allah, selain dari anak domba Paskah. Tetapi, St. Yosef dan St. Anna, semasa hidup mereka, seringkali mempersembahkan kurban atas nama Kanak-kanak YESUS. Tetapi, bahkan tuduhan ini pun tampak konyol, sebab kaum Esseni tidak pernah mempersembahkan kurban, dan tak seorang pun beranggapan mereka bukan orang-orang baik karena tidak melakukannya. Para musuh YESUS masih terus menuduh-Nya sebagai seorang tukang sihir, dan Kayafas pun beberapa kali menegaskan bahwa keruwetan dalam pernyataan-pernyataan para saksi ini semata-mata disebabkan oleh ilmu sihir.

Beberapa orang menuduh-Nya makan anak domba Paskah sehari sebelum yang ditetapkan, karenanya bertentangan dengan hukum, dan bahwa tahun sebelumnya Ia mengadakan perubahan-perubahan dalam tata-cara upacara Paskah. Tetapi para saksi saling berselisih pendapat satu sama lain sampai ke tahap yang begitu rupa, hingga Kayafas dan para pengikutnya mendapati, dengan sangat mendongkol dan geram, bahwa tak satu tuduhan pun dapat sungguh dibuktikan. Nikodemus dan Yusuf dari Arimatea dipanggil dan diperintahkan untuk menjelaskan bagaimana mungkin mereka membiarkan-Nya makan anak domba Paskah pada hari yang tidak sesuai dengan yang ditetapkan, di salah satu ruangan milik mereka. Nikodemus dan Yusuf dari Arimatea berhasil membuktikan dari tulisan-tulisan kuno bahwa sejak masa silam, orang-orang Galilea diperkenankan makan Paskah sehari sebelumnya dari bangsa Yahudi lainnya. Mereka juga menambahkan bahwa setiap bagian upacara telah dilakukan sesuai ketentuan hukum, dan bahwa orang-orang dari Bait Allah hadir pada perjamuan itu. Hal ini cukup membingungkan para saksi. Nikodemus semakin menambah geram para musuh YESUS dengan menerangkan secara gamblang bagian dari dokumen-dokumen tersebut yang membuktikan hak orang-orang Galilea, dan menjelaskan mengapa hak istimewa ini diberikan. Maksudnya begini: segala kurban tidak akan mungkin terselesaikan hingga hari Sabat jika sedemikan banyak orang yang berkumpul bersama untuk merayakan Paskah, seluruhnya diwajibkan untuk menyelenggarakan upacara pada hari yang sama; dan meskipun orang-orang Galilea tidak senantiasa mempergunakan hak istimewa ini, namun adanya ketentuan tersebut dapat dibuktikan secara meyakinkan oleh Nikodemus. Murka kaum Farisi semakin meluap-luap oleh pernyataannya bahwa para anggota sidang telah dilecehkan begitu rupa oleh pertentangan-pertentangan yang menyolok dalam pernyataan para saksi, dan bahwa cara mereka menangani keseluruhan perkara ini, yang dilakukan dengan darurat serta tergesa-gesa, menunjukkan bahwa maksud jahat dan iri hati merupakan satu-satunya motivasi yang merasuki hati para pendakwa; mendorong mereka untuk mengajukan perkara tepat pada saat semua orang sedang sibuk mempersiapkan perayaan yang paling agung sepanjang tahun. Mereka memandang Nikodemus dengan amat gusar, tetapi tak mampu menjawab, melainkan melanjutkan menanyai para saksi dengan sikap terlebih lagi tergesa dan sembrono.

Akhirnya, tampil dua saksi yang mengatakan, “Orang ini mengatakan, `Aku akan merobohkan Bait Allah ini yang dibuat oleh tangan manusia, dan dalam tiga hari Aku akan mendirikan yang lain, yang bukan buatan tangan manusia.’” Tetapi, bahkan kesaksian ini pun menimbulkan pertentangan pendapat di antara para saksi, sebab seorang mengatakan bahwa si Tertuduh hendak mendirikan suatu Bait Allah yang baru, dan bahwa Ia makan perjamuan Paskah di suatu tempat yang tak lazim, sebab Ia menghendaki robohnya Bait Allah yang lama. Tetapi, yang lain lagi mengatakan, “Bukan begitu, rumah di mana Ia makan perjamuan Paskah dibangun oleh tangan-tangan manusia, karenanya pastilah bukan itu yang Ia maksudkan.”

Geram dan murka Kayafas tak terlukiskan, sebab perlakuan keji yang diderita YESUS, kesabaran ilahi-Nya yang sungguh mengagumkan, dan saling pertentangan di antara para saksi, sudah mulai membangkitkan kesan mendalam pada banyak orang yang hadir. Beberapa sorak cemooh terhadap sidang terdengar, dan hati sebagian orang telah begitu tersentuh hingga mereka tak mampu lagi mengabaikan suara hati nurani mereka. Sepuluh orang prajurit meninggalkan pengadilan dengan dalih sakit, namun sesungguhnya mereka dikuasai oleh perasaan mereka. Ketika berjalan melewati tempat di mana Petrus dan Yohanes berdiri, mereka berkata,“Ketenangan YESUS dari Nazaret, di tengah perlakuan yang begitu keji, sungguh di luar batas manusiawi; mampu mencairkan hati baja sekali pun. Yang mengherankan adalah bumi tidak terbuka dan menelan orang-orang lalim seperti para pendakwa-Nya itu. Katakanlah, kemanakah kami harus pergi?”Kedua rasul tidak mempercayai kata-kata para prajurit itu dan beranggapan bahwa mereka sekedar mencari cara untuk menyingkapkan identitas mereka. Mungkin juga mereka khawatir kalau-kalau dikenali oleh mereka yang ada di sekitar sana dan dilaporkan sebagai murid YESUS. Jadi, mereka hanya menjawab dengan nada sedih, “Jika kebenaran memanggilmu, ikutilah, maka segala sesuatu akan datang dengan sendirinya.” Segera para prajurit itu keluar pengadilan dan meninggalkan Yerusalem tak lama sesudahnya. Mereka bertemu dengan orang-orang di pinggiran kota, yang mengarahkan mereka ke gua-gua yang terhampar di selatan Yerusalem, di seberang Bukit Sion, di mana banyak dari para rasul menyembunyikan diri. Para rasul pada mulanya sangat terkejut melihat orang-orang asing memasuki tempat persembunyian mereka. Tetapi, para prajurit itu segera melenyapkan segala ketakutan mereka dan menceritakan kepada para rasul mengenai sengsara YESUS.

Murka Kayafas, yang telah membuatnya frustrasi, mulai meledak oleh pernyataan-pernyataan kedua saksi terakhir yang saling bertentangan itu. Ia bangkit dari kursinya, menghampiri YESUS dan berkata, “Tidakkah Engkau memberi jawab atas tuduhan-tuduhan saksi-saksi ini terhadap Engkau?”

YESUS tidak mengangkat muka-Nya ataupun memandang pada imam besar. Hal ini membuat Kayafas naik pitam hingga puncaknya. Para prajurit pembantu menangkap isyarat ini. Mereka menjambak rambut Tuhan kita, menarik kepala-Nya ke belakang, lalu mendaratkan pukulan-pukulan di bawah dagu-Nya. Tetapi, tetap saja YESUS menatap ke lantai. Kayafas mengedangkan kedua tangannya dan berseru penuh amarah, “Demi Allah yang hidup, katakanlah kepada kami, apakah Engkau Mesias, Anak Allah, atau tidak.”

Terjadilah suatu jeda yang hening dan tegang beberapa saat lamanya. Lalu, YESUS dalam suara yang agung dan ilahi menjawab, “Engkau telah mengatakannya. Akan tetapi, Aku berkata kepadamu, mulai sekarang kamu akan melihat Anak Manusia duduk di sebelah kanan Yang Mahakuasa dan datang di atas awan-awan di langit.” Sementara YESUS mengucapkan kata-kata ini, aku melihat suatu sinar terang menyelubungi-Nya. Surga terbuka di atas kepala-Nya. Aku melihat Bapa yang Kekal, tetapi tak ada kata-kata manusia yang dapat menggambarkan pemandangan gerak batin yang kala itu menguasaiku dalam penyerahan diri total kepada-Nya. Aku juga melihat malaikat-malaikat dan doa orang-orang benar membubung naik ke hadapan tahta Allah.

Pada saat yang sama, aku merasa jurang neraka menganga lebar bagaikan sebuah meteor yang bernyala-nyala di kaki Kayafas. Jurang itu penuh dengan setan-setan mengerikan, hanya suatu kabut tipis saja yang tampak memisahkan Kayafas dari kegelapan neraka. Aku dapat melihat angkara murka iblis yang menguasai hatinya, dan seluruh kediamannya tampak bagiku bagaikan neraka. Pada saat Tuhan kita mengucapkan kata-kata khidmad, “Akulah KRISTUS, Putra Allah yang hidup,” tampak neraka bergoncang hebat dari satu sisi ke sisi lainnya, lalu, seolah meledak dan membanjiri setiap orang dalam rumah Kayafas dengan perasaan benci yang berlipat terhadap KRISTUS. Hal-hal seperti ini senantiasa diperlihatkan kepadaku dalam rupa obyek jasmaniah, yang menjadikannya lebih mudah dimengerti dan menanamkannya secara lebih jelas dan kuat dalam benak. Sebab, kita sendiri pun adalah makhluk-makhluk jasmaniah, fakta-fakta lebih mudah dijelaskan kepada kita jika dinyatakan melalui sarana ini. Keputusasaan dan angkara murka yang diakibatkan oleh kata-kata ini terhadap neraka, digambarkan kepadaku dalam rupa ribuan sosok menyeramkan di berbagai penjuru. Aku ingat melihat, di antara hal-hal mengerikan lainnya, sejumlah sosok hitam kecil, bagaikan anjing dengan cakar-cakarnya, yang berjalan dengan kaki-kaki belakang mereka. Aku tahu pada waktu itu kejahatan apa yang dinyatakan oleh penglihatan ini, tetapi aku tak dapat mengingatnya lagi sekarang. Aku melihat sosok-sosok menjijikkan ini memasuki tubuh sebagian besar mereka yang hadir di sana, atau bertengger di atas kepala atau pundak mereka. Juga, pada waktu itu aku melihat iblis-iblis mengerikan muncul dari makam-makam di seberang Sion. Aku percaya mereka adalah roh-roh jahat. Aku melihat di sekitar Bait Allah banyak penglihatan-penglihatan lain, yang menyerupai para tahanan yang dibelenggu dengan rantai-rantai. Aku tidak tahu apakah mereka adalah iblis, atau jiwa-jiwa yang dikutuk untuk tinggal di bagian bumi tertentu, dan lalu pergi ke limbo, yang oleh hukuman mati yang dijatuhkan atas Tuhan kita, telah terbuka bagi mereka.

Sungguh sulit menjelaskan fakta-fakta ini, khawatir kalau-kalau menggoncang iman mereka yang tidak memiliki pengertian akan hal-hal demikian. Tetapi, orang-orang yang melihat merasakannya dan hal-hal ini seringkali mengakibatkan bulu kuduk merinding. Aku pikir Yohanes melihat sebagian dari penglihatan-penglihatan ini, sebab aku mendengarnya berbicara tentang hal ini sesudahnya. Semua orang, yang hatinya tidak rusak sama sekali, merasakan kengerian dahsyat atas peristiwa-peristiwa ini. Tetapi, mereka yang keras hati, tak merasakan apa-apa, selain dari meningkatnya kebencian dan murka terhadap Tuhan kita.

Kayafas kemudian bangkit berdiri dan, didorong oleh setan, menjumput ujung mantolnya, lalu mengoyakkannya dengan pisau, serta merobekkannya dari ujung ke ujung, seraya berseru dengan suara nyaring, “Ia menghujat Allah. Untuk apa kita perlu saksi lagi? Sekarang telah kamu dengar hujat-Nya. Bagaimana pendapat kamu?” Semua yang hadir di sana bangkit berdiri dan berseru dengan kejahatan yang mencengangkan, “Ia harus dihukum mati!”

Sepanjang peristiwa ngeri ini, para iblis berada dalam puncak kegembiraan. Tampaknya mereka sepenuhnya memegang kendali atas, bukan hanya para musuh YESUS, tetapi juga para pengikut dan pendukungnya yang pengecut. Tampak padaku, kuasa kegelapan memaklumkan kemenangannya atas terang. Sedikit di antara yang hadir, yang dalam hatinya masih tersisa seberkas cahaya samar, dihinggapi ketakutan luar biasa hingga mereka segera beranjak pergi dengan menyelubungi kepala mereka. Saksi-saksi dari kalangan yang lebih tinggi tak sekeras yang lain, hati nurani mereka terkoyak oleh sesal mendalam. Mengikuti jejak orang-orang terdahulu, mereka meninggalkan pengadilan sesegera mungkin. Sisanya berkerumun sekeliling perapian di serambi, makan dan minum setelah menerima upah penuh atas apa yang telah mereka lakukan. Imam besar kemudian berkata kepada para prajurit pembantu, “Aku serahkan raja ini ke dalam kuasa kalian. Berikan kepada si penghujat ini ganjaran yang setimpal bagi-Nya.” Setelah mengucapkan kata-kata tersebut, ia mengundurkan diri bersama para anggota sidang ke dalam ruangan bundar di belakang ruangan pengadilan, yang tak terlihat dari serambi.

Di tengah dukacita pahit yang meliputi hati Yohanes, pikirannya melayang kepada Bunda YESUS. Ia khawatir kalau-kalau berita ngeri hukuman mati atas diri Putranya disampaikan kepadanya dengan tiba-tiba, atau bahkan mungkin para musuh menyampaikannya dengan cara yang keji tanpa perasaan. Sebab itu, ia menatap YESUS dan berkata dengan suara lirih, “Tuhan, Engkau tahu mengapa aku meninggalkan-Mu.” Pergilah ia bergegas mencari Santa Perawan, sebab ia diutus oleh YESUS Sendiri.

Petrus dikuasai oleh perasaan cemas dan duka, yang menyatu dalam tubuhnya yang penat letih, membuatnya menggigil. Sebab itu, sementara dinginnya fajar mulai merayap, ia pergi ke perapian di mana banyak orang berdiang menghangatkan diri. Sedapat mungkin ia menyembunyikan kesedihan hatinya dari hadapan mereka, sebab ia tak dapat memutuskan untuk pulang dan meninggalkan Guru-nya terkasih seorang diri.

Penghinaan yang Diderita Yesus
dalam Pengadilan Kayafas

Segera setelah Kayafas dan para anggota sidang lainnya meninggalkan ruang pengadilan, segerombolan orang jahat - yang paling keji dari antara manusia - mengerubungi Yesus bagaikan sekawanan tawon yang marah. Mereka mulai melancarkan kepada-Nya segala bentuk penghinaan yang ada dalam benak mereka. Bahkan selama jalannya sidang, sementara saksi-saksi berbicara, para prajurit pembantu dan beberapa yang lain tak dapat menahan diri untuk melampiaskan kebrutalan mereka. Mereka menjambaki rambut-Nya, mencabuti jenggot-Nya, meludahi wajah-Nya, menghujani-Nya dengan tinju dan pukulan mereka, melukai tubuh-Nya dengan tongkat-tongkat berujung runcing, dan bahkan menusukkan jarum-jarum ke tubuh-Nya. Tetapi, ketika Kayafas meninggalkan aula, kebiadaban mereka tak terbatas lagi. Pertama-tama mereka mengenakan sebuah mahkota dari jerami dan kulit kayu di atas kepala-Nya. Lalu mereka melepaskannya, sekaligus menyalami-Nya dengan ejek penghinaan, seperti, “Lihatlah, Putra Daud mengenakan mahkota ayahandanya.” “Seorang yang lebih besar dari Salomo ada di sini; inilah raja yang mempersiapkan perjamuan nikah bagi puteranya.” Begitulah mereka menjadikan bahan ejekan segala kebenaran abadi yang telah Ia ajarkan dalam bentuk perumpamaan kepada mereka, padahal Ia datang dari surga demi keselamatan mereka. Sembari mengulang kata-kata cemooh ini, mereka terus melancarkan tinju dan pukulan tongkat mereka serta meludahi wajah-Nya. Lalu, mereka mengenakan sebuah mahkota buluh di atas kepala-Nya, menanggalkan jubah-Nya, lalu mengenakan di atas pundak-Nya sehelai mantol usang yang telah koyak, yang panjangnya tak sampai ke lutut-Nya. Di sekeliling leher-Nya, mereka mengalungkan sebuah rantai besi yang panjang, dengan sebuah cincin besi di masing-masing ujungnya; permukaan cincin dipasangi ujung-ujung runcing, yang merobek serta mengoyak kedua lutut-Nya sementara Ia berjalan. Lagi, mereka membelenggu kedua tangan-Nya, menyisipkan sebatang buluh dalam genggaman-Nya dan membasahi wajah Ilahi-Nya dengan ludah. Mereka telah melemparkan segala jenis kotoran ke atas rambut-Nya, juga ke dada-Nya, pula ke atas mantol usang-Nya. Mereka menyelubungi kedua mata-Nya dengan selembar lap kotor, memukuli-Nya, seraya berseru dengan suara lantang, “Cobalah katakan kepada kami, hai Mesias, siapakah yang memukul Engkau?” Ia tak menjawab sepatah kata pun, hanya mendesah, dan berdoa dalam hati-Nya bagi mereka.

Setelah begitu banyak olok-olok dan penghinaan, mereka merenggut rantai yang tergantung pada leher-Nya, lalu menyeret-Nya ke ruang di mana para anggota sidang mengundurkan diri. Dengan tongkat-tongkat, mereka memaksa-Nya masuk sambil berteriak riuh-rendah, “Majulah, hai Engkau Raja Jerami! Tampilkan DiriMu di hadapan sidang dengan lambang kerajaan-Mu, kami takluk pada-Mu.” Sebagian besar anggota sidang, dengan Kayafas sebagai pemimpin, masih berada dalam ruangan. Mereka menyaksikan adegan memalukan yang dilakonkan ini dengan gembira dan sukaria, melihat dengan senang upacara-upacara yang paling kudus dijadikan bahan ejekan. Para pengawal yang tak berperikemanusiaan itu menaburi-Nya dengan lumpur dan meludahi-Nya, dengan lagak serius mereka berkata, “Terimalah urapan nabi - urapan kerajaan.” Lalu, dengan kurangajar mereka menirukan upacara pembaptisan dan juga meniru-nirukan tindakan saleh Magdalena ketika menuangkan minyak wangi ke atas kepala-Nya. “Bagaimana Engkau berpikir,” kata mereka, “dapat menghadap sidang dalam keadaan seperti ini? Engkau membersihkan orang lain, tapi DiriMu Sendiri tidak Engkau bersihkan. Baiklah, kami akan segera membersihkan-Mu.” Mereka mengambil sebuah baskom berisi air kotor yang mereka siramkan ke wajah dan bahu-Nya, sementara mereka berlutut di hadapan-Nya seraya berseru, “Lihatlah, urapan-Mu yang kudus. Lihatlah minyak wangi seharga tigaratus dinar. Engkau telah dibaptis di kolam Betsaida.” Dengan bertingkah demikian, mereka bermaksud mengejek sikap hormat dan sembah sujud yang dilakukan oleh Magdalena, saat ia menuangkan minyak narwastu yang mahal ke atas kepala-Nya, di rumah orang Farisi.

Melalui kata-kata cemooh mereka mengenai pembaptisan-Nya di kolam Betsaida, mereka menunjukkan, walau secara tak sengaja, persamaan antara Yesus dan anak domba Paskah. Sebab anak-anak domba Paskah dibersihkan terlebih dahulu di suatu kolam dekat gerbang Probatica, lalu dibawa ke kolam Betsaida, di mana mereka menjalani suatu upacara pemurnian lagi, sebelum akhirnya dibawa ke Bait Allah untuk dikurbankan. Para musuh Yesus juga menyinggung orang yang lumpuh selama tigapuluh delapan tahun, yang disembuhkan Yesus di kolam Betsaida. Sebab, aku melihat orang ini mungkin dibasuh atau dibaptis di sana. Aku katakan mungkin dibasuh atau dibaptis, sebab aku tidak ingat persis peristiwa itu.

Mereka kemudian menyeret Yesus keliling ruangan di hadapan segenap para anggota sidang yang terus berkata-kata kepada-Nya dengan kata-kata yang mencela serta menghina. Setiap wajah tampak diliputi kekejian dan murka iblis, semua tampak gelap, ruwet serta mengerikan. Sebaliknya, Tuhan kita, sejak dari saat Ia memaklumkan Diri sebagai Putra Allah, senantiasa diselubungi oleh sinar halo. Banyak dari para anggota sidang yang tampaknya bingung atas kenyataan ini. Mereka diliputi kengerian hebat mendapati bahwa baik kekejian maupun penghinaan tak dapat mengubah ekspresi agung yang terpancar dari wajah-Nya.

Sinar halo yang bercahaya di sekeliling Yesus sejak saat Ia memaklumkan Diri sebagai Kristus, Putra Allah yang Hidup, semakin mengobarkan amarah para musuh-Nya. Sinar itu begitu cemerlang, hingga mereka tak sanggup melihatnya. Aku percaya bahwa tujuan mereka menyelubungi kepala-Nya dengan lap kotor adalah untuk memadamkan cahaya-Nya.

Penyangkalan Petrus

Pada saat Yesus mengucapkan kata-kata, “Engkau telah mengatakannya,” dan imam besar mengoyakkan jubahnya, seluruh ruangan bergema dengan teriakan hiruk-pikuk. Petrus dan Yohanes, yang berduka begitu hebat sepanjang segala peristiwa itu berlangsung, dan yang harus menyaksikan semuanya tanpa mampu berbuat apa-apa, tak sanggup lagi melihatnya. Sebab itu, Petrus bangkit berdiri meninggalkan ruangan. Yohanes menyusul sesudahnya. Yohanes pergi kepada Santa Perawan, yang tinggal di rumah Marta bersama para perempuan kudus. Tetapi kasih Petrus terhadap Yesus begitu besar, ia tak dapat memutuskan untuk meninggalkan-Nya. Hatinya meledak dalam duka, dan ia pun menangis dengan pedih, walau ia telah berusaha keras menahan serta menyembunyikan airmatanya. Mustahil baginya untuk tetap tinggal di balai pengadilan, sebab emosinya yang meluap melihat sengsara Guru-nya terkasih pastilah akan mengungkapkan jati dirinya. Sebab itu ia pergi ke serambi dan mendekati perapian, di mana sekelilingnya para prajurit dan orang banyak duduk berdiang sambil membicarakan dengan cara yang paling menyebalkan dan tanpa perasaan mengenai sengsara Yesus, menceritakan apa yang telah mereka sendiri perbuat terhadap-Nya. Petrus diam saja. Tetapi kebisuannya dan raut wajahnya yang sedih membuat orang-orang yang ada di sana menaruh curiga. Tengah mereka berbicara, seorang hamba perempuan datang ke perapian. Ia menatap Petrus dengan tajam dan berkata, “Engkau juga selalu bersama-sama dengan Yesus, orang Galilea itu.” Kata-kata ini mengagetkan Petrus dan membuatnya gelisah. Ia gemetar membayangkan apa yang akan terjadi jika ia mengatakan kebenaran di hadapan kawan-kawannya yang brutal itu. Karenanya, ia segera menjawab, “Bukan, aku tidak kenal Dia!” Petrus bangkit berdiri dan beranjak meninggalkan serambi. Saat itu ayam berkokok di suatu tempat di pinggiran kota. Aku tidak ingat aku mendengarnya, tetapi aku merasakan bahwa ayam berkokok. Sementara Petrus berjalan keluar, seorang hamba perempuan lain menatapnya dan berkata kepada mereka yang bersamanya, “Engkau juga seorang dari mereka!” Orang-orang yang bersama perempuan itu segera menanyai Petrus apakah benar perkataan hamba perempuan itu, “Bukankah engkau salah seorang dari murid Orang itu?” Petrus bahkan lebih terkejut lagi dari sebelumnya, dan ia mempertegas penyangkalannya dengan mengatakan, “Bukan, aku tidak kenal Dia!”

Petrus meninggalkan pengadilan bagian dalam dan pergi ke bagian luar. Ia menangis. Begitu hebat rasa cemas dan dukanya, hingga sedikit pun ia tidak memikirkan kata-kata yang baru saja ia ucapkan. Pengadilan bagian luar dipadati banyak orang, beberapa orang bahkan memanjat dinding atas agar dapat mendengarkan apa yang terjadi dalam ruang pengadilan, di mana mereka tidak diperkenankan masuk. Beberapa dari antara para murid juga ada di sana, sebab rasa cemas mereka terhadap Yesus begitu besar hingga mereka tak dapat tinggal menyembunyikan diri di gua-gua Hinnom. Mereka bergegas datang kepada Petrus dan dengan airmata bercucuran menghujaninya dengan pertanyaan seputar Guru mereka terkasih. Tetapi Petrus begitu gelisah dan khawatir identitasnya akan terungkap. Sebab itu, dengan singkat ia menyuruh mereka pergi, sebab berbahaya keadaannya apabila mereka tinggal. Lalu ia cepat-cepat pergi. Petrus melampiaskan dukacitanya yang hebat, sementara mereka bergegas meninggalkan kota. Aku mengenali di antara para murid itu, yang berjumlah sekitar enambelas orang: Bartolomeus, Nataniel, Saturninus, Yudas Barsabeas, Simon, yang kelak menjadi Uskup Yerusalem, Zakheus, dan Manahem, yang buta sejak lahir dan dicelikkan oleh Tuhan kita.

Petrus tak dapat merasa tenang di mana pun. Kasihnya yang begitu besar kepada Yesus mendesaknya untuk kembali ke pengadilan bagian dalam. Ia diperkenankan masuk ke bagian dalam, sebab sebelumnya Yusuf dari Arimatea dan Nikodemus telah membawanya masuk. Ia tidak masuk kembali ke serambi, melainkan berbelok ke kanan, menuju ruangan bundar yang ada di belakang ruang pengadilan, di mana Yesus sedang menderita segala penghinaan dan aniaya dari para musuh-Nya yang kejam. Petrus berjalan takut-takut menuju pintu. Ia sepenuhnya sadar bahwa mereka semua yang ada di sana mencurigainya sebagai pengikut Yesus, namun demikian ia tak dapat tinggal di luar.

http://www.hollywoodjesus.com/movie/passion2/59.jpeg

Kasihnya kepada Guru-nya mendorongnya untuk melangkah maju. Ia memasuki ruangan, melangkahkan kaki, dan segera berdiri di tengah gerombolan orang-orang brutal yang memuaskan mata mereka yang keji dengan sengsara Yesus. Saat itu mereka sedang menyeret-Nya dengan bengis ke depan dan ke belakang dengan mahkota jerami di atas kepala-Nya. Yesus menatap sekilas kepada Petrus dengan tatapan duka yang tajam, yang menyayat hatinya yang terdalam. Sementara ia begitu cemas dan was-was, saat itulah ia mendengar beberapa orang di sana berteriak, “Siapa gerangan orang itu?” Petrus berbalik kembali dan mendapati orang-orang di serambi sedang mengamatinya. Petrus berjalan menuju perapian dan berdiang di sana beberapa waktu lamanya. Beberapa orang, yang mengamat-amati wajahnya yang gelisah, mulai berbicara mengenai Yesus dengan kata-kata mengejek. Salah seorang dari antara mereka berkata kepadanya, “Pasti engkau juga salah seorang dari murid-Nya; apalagi engkau seorang Galilea! itu nyata dari bahasamu.” Petrus bangkit berdiri, hendak meninggalkan tempat itu, ketika saudara lelaki Malkhus menghampirinya dan berkata, “Bukankah aku melihatmu di taman itu bersama-Nya? Bukankah engkau yang menetak telinga saudaraku hingga putus?”

Petrus nyaris pingsan ketakutan. Ia mulai mengutuk dan menyumpah, “Aku tidak kenal orang itu!” Lalu, ia lari keluar dari serambi menuju pengadilan bagian luar. Ayam berkokok lagi, dan Yesus, yang pada saat itu digiring melintasi halaman, menatap pada rasul-Nya dengan tatapan antara belas kasihan bercampur dukacita. Tatapan Yesus ini menembusi hati Petrus hingga ke bagian yang terdalam - mengingatkan dalam benaknya, dengan cara yang paling tegas dan ngeri, akan kata-kata yang disampaikan Yesus sore sebelumnya: “Sebelum ayam berkokok dua kali, engkau telah menyangkal Aku tiga kali.” Ia telah lupa akan segala janji dan protes kerasnya kepada Tuhan kita, bahwa ia lebih suka mati daripada menyangkal-Nya. Ia telah lupa sama sekali akan peringatan yang disampaikan Tuhan kepadanya. Tetapi, saat Yesus menatapnya, ia merasakan betapa ngeri kesalahannya, dan hatinya hancur remuk karena kesedihan yang hebat. Ia telah menyangkal Tuhan-nya, ketika Guru-nya terkasih itu dianiaya, dihina, dan diserahkan ke dalam tangan para hakim yang tidak adil; - ketika Ia menanggung segala sengsara-Nya itu dengan penuh kesabaran dan tanpa membuka mulut. Rasa sesalnya yang mendalam sungguh tak terlukiskan. Ia kembali ke pengadilan, menyelubungi wajahnya dan menangis sejadi-jadinya. Tak ada lagi rasa takut akan dikenali orang, ia siap memaklumkan kepada seluruh dunia, baik kesalahannya maupun tobatnya.

Adakah orang yang berani memastikan bahwa ia akan memperlihatkan keberanian yang lebih daripada Petrus jika, dengan perangainya yang emosional dan berkobar-kobar, dihadapkan pada bahaya, perkara ataupun kesedihan yang sedemikian rupa, juga pada saat ketika segalanya berbaur antara ngeri, duka, dan letih oleh penderitaan sepanjang malam yang menyedihkan ini? Tuhan kita meninggalkan Petrus pada kekuatannya sendiri. Dan ia lemah, sama seperti kita semua yang melupakan kata-kata ini, “Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan.”

Bunda Maria di Kediaman Kayafas

Santa Perawan senantiasa dipersatukan dengan Putra Ilahinya melalui hubungan batin rohani. Sebab itu, Bunda Maria senantiasa sepenuhnya sadar akan segala yang terjadi pada YESUS. Ia menderita bersama-Nya, serta mempersatukan diri dalam doa Putranya yang tak kunjung henti bagi para pembunuh-Nya. Namun demikian, naluri keibuan mendorongnya untuk memohon dengan sangat kepada Allah Yang Mahakuasa agar penderitaan ngeri itu dijauhkan daripada-Nya, dan agar Putranya diselamatkan dari sengsara yang demikian keji. Betapa ia rindu berada di sisi-Nya. Ketika Yohanes, yang meninggalkan balai pengadilan saat seruan mengerikan itu dimaklumkan, “Ia harus dihukum mati!”, datang ke rumah Lazarus guna menemuinya serta menceritakan secara terinci peristiwa ngeri yang baru saja ia saksikan, Bunda Maria, dan juga Magdalena serta beberapa perempuan kudus lainnya, meminta dengan sangat agar diantarkan ke tempat di mana YESUS menderita sengsara. Yohanes, yang meninggalkan sang Juruselamat hanya demi menghibur dia yang paling dikasihinya sesudah Guru Ilahi-nya, segera memenuhi permintaan mereka. Ia membimbing mereka menyusuri jalan-jalan yang hanya diterangi oleh cahaya rembulan yang temaram, dan yang dipadati oleh orang-orang yang bergegas pulang ke rumah masing-masing. Para perempuan kudus itu berkerudung rapat, tetapi isak-tangis yang tak kuasa mereka bendung membuat orang-orang yang berpapasan dengan mereka mengamati mereka dengan heran. Hati para perempuan kudus itu tersayat pilu oleh kata-kata ejekan dan cemooh yang mereka dengar tentang YESUS, yang dilontarkan oleh orang-orang yang ramai membicarakan penangkapan-Nya. Santa Perawan, yang senantiasa melihat dalam roh segala perlakuan biadab yang diderita Putranya terkasih, terus “menyimpan semua perkara itu di dalam hatinya.” Seperti Putranya, ia menderita tanpa membuka mulut. Tetapi, lebih dari satu kali ia sama sekali tak sadarkan diri. Beberapa murid YESUS, yang sedang dalam perjalanan kembali dari rumah Kayafas, melihatnya jatuh pingsan dalam pelukan para perempuan kudus. Tergerak oleh belas kasihan, mereka berhenti untuk memandangnya dengan penuh kasih sayang, serta menyalaminya dengan kata-kata ini, “Salam! Bunda yang berduka - salam, Bunda dari Yang Mahakudus dari Israel, yang paling berduka di antara semua ibunda!” Bunda Maria mengangkat kepalanya, menyampaikan terima kasih setulus hati, dan melanjutkan perjalanan dukanya.

Ketika tiba dekat kediaman Kayafas, duka mereka disegarkan kembali oleh pemandangan akan sekelompok orang yang sedang sibuk bekerja di bawah tenda mempersiapkan salib untuk penyaliban Tuhan kita. Para musuh YESUS telah memberikan perintah bahwa salib harus segera dipersiapkan begitu Ia ditangkap, agar mereka, tanpa ditunda-tunda lagi, dapat melaksanakan hukuman mati. Mereka berharap dapat membujuk Pilatus agar menjatuhkan hukuman mati atas-Nya. Para prajurit Romawi telah mempersiapkan salib bagi kedua penyamun. Para pekerja yang sekarang sedang mempersiapkan salib bagi YESUS sungguh mendongkol dipaksa mengerjakannya sepanjang malam. Mereka tidak berusaha menyembunyikan kedongkolan hati mereka, melainkan meluapkannya dengan kutuk dan sumpah serapah yang paling keji, yang menembusi hati Bunda YESUS yang amat lemah lembut dengan luka yang semakin dalam. Tetapi Bunda Maria berdoa bagi makhluk-makhluk ciptaan yang buta ini, yang tanpa mereka sadari, dengan berbuat demikian mereka telah menghujat Juruselamat yang akan segera wafat demi keselamatan mereka.

Bunda Maria, Yohanes, dan para perempuan kudus melintasi pengadilan bagian luar yang berdampingan dengan tempat tinggal Kayafas. Mereka berhenti di bawah terop pintu gerbang yang menuju ke pengadilan bagian dalam. Hati Bunda Maria bersama Putra Ilahinya dan betapa sangat ingin ia melihat pintu itu terbuka, agar ia beroleh kesempatan untuk memandang-Nya lagi, sebab ia tahu bahwa hanya pintu itu saja yang memisahkannya dari penjara di mana Ia dikurung. Pintu itu akhirnya terbuka juga. Petrus menghambur keluar, wajahnya diselubungi mantolnya, ia meremas-remas tangannya, dan menangis dengan teramat sedihnya. Dengan bantuan sinar suluh, ia segera mengenali Yohanes dan Santa Perawan. Tetapi, melihat mereka hanya semakin memperdalam perasaan sesalnya yang hebat yang telah dibangkitkan oleh tatapan YESUS dalam hatinya. Bunda Maria segera menghampirinya dan berkata, “Simon, katakanlah, aku mohon padamu, bagaimanakah keadaan YESUS, Putraku!” Kata-kata ini serasa mengiris-iris hati Petrus yang paling dalam. Ia bahkan tak sanggup menatap padanya, melainkan memalingkan muka, dan lagi, meremas-remas tangannya. Bunda Maria menghampirinya lebih dekat seraya berkata dengan suara gemetar menahan emosi, “Simon, anak Yohanes, mengapakah engkau tak menjawab aku?” - “Bunda!” jerit Petrus dengan nada duka, “Ya, Bunda, janganlah bertanya padaku - Putramu menderita sengsara lebih dari yang dapat diungkapkan kata-kata: janganlah bertanya padaku! Mereka telah menjatuhi-Nya hukuman mati, dan aku telah menyangkal-Nya tiga kali.” Yohanes datang untuk menanyakan beberapa pertanyaan lagi, tetapi Petrus sekonyong-konyong melarikan diri seolah telah kehilangan akal, ia tidak berhenti sejenak pun hingga tiba di gua di Bukit Zaitun - gua batu di mana jejak-jejak tangan Juruselamat kita secara ajaib tertera di atasnya. Aku percaya inilah gua di mana Adam melarikan diri dan menangis setelah ia jatuh dalam dosa.

Santa Perawan hancur-luluh dalam kesedihan yang hebat mendengar dukacita yang menimpa hati Putra Ilahinya yang penuh belas kasih, mendengar dukacita DiriNya disangkal oleh murid yang pertama-tama mengenali-Nya sebagai Putra Allah yang Hidup. Ia tak kuasa menopang tubuhnya dan jatuh di atas lantai batu, di mana jejak-jejak tangan dan kakinya tertera hingga hari ini. Aku melihat batu-batu itu, yang disimpan di suatu tempat, tetapi saat ini aku tidak dapat mengingatnya di mana. Pintu gerbang tidak lagi tertutup, orang banyak itu membubarkan diri. Ketika Santa Perawan telah siuman kembali, ia mohon agar dibawa ke tempat di mana ia dapat berada sedekat mungkin dengan Putra Ilahinya. Sebab itu, Yohanes membimbingnya, dan juga para perempuan kudus lainnya, ke depan penjara di mana YESUS dikurung. Bunda Maria ada bersama YESUS dalam roh, dan YESUS bersama BundaNya. Tetapi, bunda yang penuh kasih sayang ini begitu ingin mendengar dengan telinganya sendiri, suara Putra Ilahinya. Ia mendengarkan dengan seksama, tetapi yang terdengar bukan hanya erangan-Nya, melainkan juga kata-kata cercaan yang dilontarkan oleh mereka yang di sekelilingnya. Mustahil bagi para perempuan kudus itu untuk tinggal lebih lama lagi di pengadilan tanpa menarik perhatian. Dukacita Magdalena begitu hebat, hingga ia tak sanggup lagi menyembunyikannya. Dan meskipun Santa Perawan, dengan bantuan rahmat istimewa dari Allah yang Mahakuasa, dapat tinggal tenang dan berwibawa di tengah sengsaranya, toh ia pun dikenali orang dan harus mendengar kata-kata cemooh yang keji seperti, “Bukankah ia ini ibunda dari Orang Galilea itu? Putranya pastilah dihukum mati, tetapi tidak sebelum perayaan, kecuali, jika Ia sungguh seorang penjahat besar.”

Bunda Maria meninggalkan pengadilan dan pergi ke perapian di serambi, di mana sejumlah orang masih berdiri di sana. Ketika tiba di tempat di mana YESUS memaklumkan bahwa Ia adalah Putra Allah, dan orang-orang Yahudi yang jahat itu berteriak, “Ia harus dihukum mati!”, lagi, Bunda Maria lemas tak sadarkan diri. Yohanes dan para perempuan kudus menggendongnya pergi dalam keadaan lebih serupa mayat daripada seorang yang hidup. Orang-orang yang berada di sana tak mengatakan sepatah kata pun. Tampaknya mereka terkesima dan takjub, seperti yang akan terjadi di neraka apabila suatu makhluk surgawi lewat.

Para perempuan kudus sekali lagi melewati tempat di mana salib sedang dipersiapkan. Para pekerja tampaknya harus menghadapi banyak kesulitan dalam menyelesaikannya, seperti yang dihadapi para hakim dalam menjatuhkan hukuman mati atas-Nya. Setiap saat mereka harus mengambil kayu-kayu baru, sebab yang ini tidak cocok, dan yang lain pecah. Hal ini berlangsung terus hingga potongan-potongan kayu yang berbeda dipasangkan pada salib, sesuai kehendak Penyelenggaraan Ilahi. Aku melihat malaikat-malaikat yang membantu para pekerja ini untuk meneruskan pekerjaan mereka, dan tidak membiarkan mereka beristirahat hingga seluruhnya diselesaikan dengan cara yang layak dan pantas. Tetapi, ingatanku akan penglihatan ini tidak terlalu jelas.

YESUS Dikurung Dalam Penjara Bawah Tanah

Orang-orang Yahudi, setelah kehabisan tenaga melampiaskan kebiadaban mereka, mengurung YESUS dalam suatu bilik penjara yang kecil sepanjang sisa hari itu. Hanya dua prajurit pembantu saja yang masih tetap bersama-Nya; mereka pun segera digantikan oleh dua orang lainnya. YESUS masih terbalut dalam mantol usang yang kotor dan tubuh-Nya penuh ludah serta kotoran-kotoran lain yang mereka lemparkan kepada-Nya. Mereka tidak memperkenankan YESUS mengenakan jubah-Nya sendiri, melainkan membelenggu kedua tangan-Nya dalam satu ikatan yang erat.

Ketika Tuhan kita memasuki sel-Nya, Ia berdoa dengan sungguh-sungguh agar Bapa SurgawiNya sudi menerima segala sengsara yang telah diderita-Nya, pun segala sengsara yang akan diderita-Nya, sebagai suatu kurban silih, bukan hanya bagi para algojo-Nya, melainkan juga bagi mereka semua, yang di masa mendatang mungkin harus mengalami sengsara seperti yang akan segera ditanggung-Nya, dan dicobai dalam ketidaksabaran dan amarah.

Para musuh YESUS tidak membiarkan-Nya beristirahat barang sejenak, bahkan dalam penjara yang pengap ini. Mereka membelenggu-Nya ke sebuah pilar yang berdiri di tengah penjara dan bahkan tidak membiarkan-Nya menyandarkan diri padanya, walau tenaga-Nya sudah terkuras habis oleh perlakuan keji mereka. Beratnya rantai besi dan akibat jatuh berulang kali, menyebabkan YESUS hampir-hampir tak dapat menopang tubuh-Nya sendiri di atas kedua kaki-Nya yang bengkak dan terkoyak-koyak. Tak sekejap pun mereka berhenti menganiaya-Nya, dan jika mereka telah letih menyiksa-Nya, yang lain akan menggantikan mereka.

YESUS terus berdoa bagi para musuh-Nya. Para prajurit itu akhirnya kelelahan juga dan meninggalkan-Nya seorang diri sejenak. Ia menyandarkan diri pada pilar untuk beristirahat. Suatu cahaya terang cemerlang bersinar di sekeliling-Nya. Hari di ambang fajar - hari Sengsara-Nya, hari Penebusan kita. Suatu sinar samar masuk melalui celah udara yang sempit di bilik penjara, jatuh di atas Anak Domba yang kudus dan tanpa cela, yang telah menanggungkan atas DiriNya Sendiri dosa-dosa dunia. YESUS memandangi berkas sinar matahari itu, mengangkat kedua tangan-Nya yang terbelenggu, dan, dengan cara yang sungguh menyentuh hati, mengucap syukur kepada Bapa SurgawiNya atas tibanya fajar hari itu, yang telah demikian lama dinanti-nantikan dengan penuh harap oleh para nabi, dan yang Ia Sendiri damba serta rindukan sejak saat kelahiran-Nya di dunia, dan yang tentangnya telah Ia katakan kepada para murid-Nya, “Aku harus menerima baptisan, dan betapakah susahnya hati-Ku, sebelum hal itu berlangsung!”

Para prajurit pembantu, yang terkantuk-kantuk, terjaga sebentar, dan melihat kepada-Nya dengan terperanjat. Mereka tak mengatakan apa-apa, tetapi tampaknya mereka takjub dan takut. Tuhan Ilahi kita dikurung dalam bilik penjara ini satu jam lamanya, atau kurang lebih begitu.

Sementara YESUS berada dalam penjara bawah tanah, Yudas, yang berkeliaran naik turun lembah Hinnom bagaikan seorang gila, mengarahkan langkah menuju kediaman Kayafas, dengan tigapuluh keping perak, upah pengkhianatannya, masih tergantung di pinggang. Sekelilingnya sunyi sepi, ia berbicara kepada beberapa orang penjaga, tanpa mengungkapkan jati dirinya, dan bertanya apakah yang hendak dilakukan terhadap Orang Galilea itu. “Ia telah dijatuhi hukuman mati. Ia pasti akan segera disalibkan,” jawab mereka. Yudas berjalan mondar-mandir sembari mendengarkan dengan seksama berbagai percakapan orang mengenai YESUS. Sebagian berbicara tentang tindak kekejian yang dilakukan terhadap-Nya, sebagian lain berbicara tentang kesabaran-Nya yang mengagumkan, sementara yang lain berbicara mengenai pengadilan serius yang akan dilangsungkan esok hari di hadapan sidang agung. Sementara sang pengkhianat mendengarkan dengan cermat segala pendapat berbeda yang mereka sampaikan, fajar mulai tiba. Para anggota pengadilan mulai bersiap. Yudas menyelinap di balik bangunan agar tak terlihat. Seperti Kain, ia berusaha menyembunyikan diri dari hadapan manusia; keputusasaan mulai menguasai segenap jiwanya. Tempat di mana ia bersembunyi adalah tempat di mana para pekerja sepanjang malam mempersiapkan kayu salib bagi Tuhan kita. Segala sesuatu telah siap, dan para pekerja tidur di sampingnya. Yudas diliputi perasaan ngeri melihatnya, ia bergidik dan melarikan diri ketika melihat alat kematian keji yang demi sejumlah uang, ia telah menyerahkan Tuhan-nya dan Guru-nya. Ia berlari ke sana kemari dalam penyesalan yang dalam, dan akhirnya menyembunyikan diri di sebuah gua terdekat, di mana ia memutuskan untuk menunggu pengadilan yang akan dilangsungkan pagi itu.

Pengadilan Pagi

Kayafas, Hanas, para tua-tua, dan para ahli Taurat berkumpul kembali pagi harinya di aula pengadilan guna mengadakan pengadilan resmi, sebab pertemuan-pertemuan pada malam hari tidak sah menurut hukum dan hanya dapat dipandang sebagai persiapan. Sebagian besar anggota sidang menginap di kediaman Kayafas, di mana tempat-tempat tidur telah dipersiapkan bagi mereka. Tetapi, sebagian yang lain, di antaranya Nikodemus dan Yusuf dari Arimatea, pulang ke rumah dan kembali ketika fajar menyingsing. Pertemuan itu penuh sesak, dan para anggota mulai melaksanakan tugas mereka dengan cara yang paling tergesa-gesa. Mereka ingin sesegera mungkin menjatuhkan hukuman mati atas Yesus. Tetapi, Nikodemus, Yusuf, dan beberapa yang lainnya menentang keputusan tersebut dan menuntut agar keputusan ditangguhkan hingga berakhirnya perayaan, mengingat khawatir akan timbulnya pergolakan di antara rakyat; mereka juga bersikeras bahwa tak ada penjahat yang dapat dijatuhi hukuman secara adil jika tuduhan-tuduhan tidak dapat dibuktikan, dan bahwa dalam perkara yang sedang mereka hadapi ini, semua saksi-saksi saling bertentangan satu sama lain. Para imam besar dan pengikut mereka menjadi sangat berang. Mereka mengatakan kepada Yusuf dan Nikodemus secara terus terang bahwa mereka tidak terkejut keduanya menyatakan kekecewaan atas apa yang telah terjadi, sebab keduanya adalah pengikut Orang Galilea itu dan penganut ajaran-Nya, dan bahwa keduanya pasti gelisah jika Ia terbukti bersalah. Imam besar bahkan bertindak lebih jauh dengan berusaha mengeluarkan dari sidang semua anggotanya yang menaruh bahkan sedikit simpati sekalipun terhadap Yesus. Para anggota ini mengajukan protes dengan menyatakan cuci tangan atas segala yang akan terjadi terhadap sidang di masa mendatang, mereka meninggalkan ruang pengadilan, lalu pergi ke Bait Allah. Sejak saat itu, tak pernah lagi mereka duduk dalam sidang.

Kayafas lalu memerintahkan para pengawal untuk menghadirkan Yesus sekali lagi ke hadapannya, dan mempersiapkan segala sesuatu untuk membawa-Nya ke pengadilan Pilatus segera setelah ia menjatuhkan hukuman mati. Para pesuruh sidang bergegas menuju penjara, dan dengan kebrutalan seperti biasanya, mereka melepaskan ikatan tangan Yesus, merenggut mantol usang yang tadinya mereka kenakan di atas pundak-Nya, menyuruh Yesus mengenakan jubah-Nya sendiri yang dekil, mengencangkan tali-temali yang mereka lilitkan sekeliling pinggang-Nya, lalu menyeret-Nya keluar dari sel. Penampilan Yesus, saat Ia berjalan lewat di antara khalayak ramai yang telah berkumpul di halaman depan rumah, bagaikan kurban yang digiring untuk dibantai. Wajah-Nya telah sama sekali berubah dan bengkak serta memar di sana-sini karena perlakuan bengis atas-Nya, jubah-Nya penuh noda lumpur dan terkoyak-koyak. Tetapi, pemandangan akan sengsara-Nya ini, jauh dari membangkitkan rasa belas-kasihan dalam diri orang-orang Yahudi yang keras hati, malahan hanya menimbulkan perasaan jijik dan semakin mengobarkan murka mereka. Rasa belas-kasihan, sungguh, tak ada dalam hati makhluk-makhluk keji ini.

Kayafas, yang sedikit pun tak berusaha menyembunyikan rasa dengkinya, dengan angkuh berbicara kepada Yesus, “Jika Engkau adalah Kristus, katakanlah terus terang.” Lalu, Yesus mengangkat kepala-Nya dan menjawab dengan keagungan dan ketenangan yang luar biasa, “Sekalipun Aku mengatakannya kepada kamu, namun kamu tidak akan percaya; dan sekalipun Aku bertanya sesuatu kepada kamu, namun kamu tidak akan menjawab, ataupun melepaskan Aku. Tetapi, mulai sekarang Anak Manusia sudah duduk di sebelah kanan Allah Yang Mahakuasa.” Para imam besar saling memandang satu sama lain dan berkata kepada Yesus dengan tertawa mengejek, “Kalau begitu, Engkau ini Anak Allah?” Yesus menjawab dengan suara kebenaran kekal, “Kamu sendiri mengatakan, bahwa Akulah Anak Allah.” Mendengar kata-kata ini, mereka semua berteriak-teriak, “Untuk apa kita perlu kesaksian lagi? Kita telah mendengar dari mulut-Nya sendiri.”

Mereka semua segera bangkit dan saling berlomba satu sama lain siapakah yang paling hebat dalam melancarkan penghinaan terhadap Yesus, yang mereka sebut sebagai pengacau rendahan yang berambisi menjadi Mesias dan berpura-pura berhak duduk di sebelah kanan Allah. Kemudian mereka memerintahkan para prajurit pembantu untuk membelenggu kedua tangan-Nya kembali dan mengenakan rantai sekeliling leher-Nya (hal ini biasa dilakukan terhadap para penjahat yang dijatuhi hukuman mati), serta bersiap untuk menggiring-Nya ke hadapan Pilatus. Seorang pesuruh telah diutus untuk memohon pada Pilatus agar bersiap mengadili seorang penjahat, sebab hal ini penting agar jangan sampai tertunda mengingat akan segera dimulainya perayaan.

Para imam Yahudi bersungut-sungut di antara mereka karena wajib mengajukan permohonan persetujuan hukuman kepada Gubernur Romawi. Tetapi hal itu wajib dilakukan, sebab mereka tak memiliki hak untuk menjatuhkan hukuman kepada para penjahat, terkecuali untuk hal-hal yang berhubungan dengan agama dan Bait Allah saja, juga mereka tak dapat menjatuhkan hukuman mati. Mereka berusaha membuktikan bahwa Yesus adalah musuh kaisar, dan tuduhan ini berhubungan dengan departemen yang ada di bawah wewenang Pilatus. Segenap prajurit berdiri di depan rumah, dengan dikelilingi oleh sekelompok besar musuh Yesus, dan juga rakyat biasa yang ingin memuaskan rasa ingin tahu mereka. Para imam besar dan sebagian anggota sidang berjalan di bagian depan arak-arakan, lalu Yesus, yang digiring oleh para prajurit pembantu dan dikawal oleh para prajurit yang mengikuti, sementara khalayak ramai berjalan di bagian belakang. Mereka harus menuruni Bukit Sion dan melintasi suatu daerah di kota bawah agar dapat sampai ke istana Pilatus. Banyak imam yang tadinya menghadiri sidang segera pergi ke Bait Allah, sebab mereka harus mempersiapkan diri untuk perayaan.


Keputusasaan Yudas

Sementara orang-orang Yahudi menggiring Yesus ke hadapan Pilatus, Yudas sang pengkhianat berjalan mondar-mandir mendengarkan percakapan khalayak ramai yang mengikuti. Telinganya sakit mendengar kata-kata seperti ini, “Mereka membawa-Nya ke hadapan Pilatus; para imam besar telah menjatuhkan hukuman mati atas Orang Galilea itu; Ia akan disalibkan; mereka akan segera mengeksekusi-Nya; Ia telah disiksa begitu keji; kesabaran-Nya sungguh mengagumkan; Ia tidak membuka mulut-Nya; satu-satunya perkataan-Nya ialah bahwa Ia adalah Mesias dan bahwa Ia akan duduk di sebelah kanan Allah; mereka akan menyalibkan-Nya karena kata-kata-Nya itu; andai Ia tak mengatakannya, mereka tak akan dapat menjatuhkan hukuman mati atas-Nya. Pecundang yang menjual-Nya adalah salah seorang murid-Nya sendiri, bahkan baru saja ia makan anak domba Paskah bersama-Nya; demi apa pun aku tak akan melakukan perbuatan seperti itu; bagaimanapun mungkin besarnya kesalahan Orang Galilea itu, sungguh tak pantas ia menjual Teman-nya demi uang; orang tak bermoral seperti murid ini jauh lebih pantas dijatuhi hukuman mati.”

Maka, kesedihan, keputusasaan dan sesal meliputi benak Yudas. Namun, semuanya terlambat sudah. Segera setan mendorongnya untuk melarikan diri. Yudas pun berlari seolah seribu musuh menghendaki nyawanya. Sementara ia berlari, kantong yang tergantung di pinggang memukul-mukul kakinya serta memacunya bagaikan suatu cemeti dari neraka. Yudas menggenggam kantong itu dalam tangannya agar jangan ia memukul-mukulnya lagi. Ia berlari sekencang mungkin, tetapi ke manakah ia hendak pergi? Tidak kepada khalayak ramai itu, agar ia dapat menjatuhkan diri di kaki Yesus, Juruselamat-nya yang penuh belas-kasihan, untuk mohon pengampunan daripada-Nya, mohon diperkenankan mati bersama-Nya. Tak hendak pula ia mengakui segala kesalahannya dengan tobat sempurna di hadapan Allah, melainkan berusaha melepaskan tanggung jawab atas kejahatannya, atas ganjaran pengkhianatannya di hadapan dunia. Sebaliknyalah Yudas berlari bagaikan seorang gila dan masuk ke dalam Bait Allah, di mana beberapa orang anggota sidang berkumpul setelah pengadilan Yesus. Mereka saling berpandangan satu sama lain dengan tercengang, lalu memandang Yudas dengan senyum sinis. Yudas, dengan gerakan kalut mencabut kantong berisi tigapuluh keping perak dari pinggang, mengulurkannya dengan tangan kanannya, seraya berseru dengan nada putus asa, “Ambillah kembali kepingan perak kalian - kepingan perak dengan mana kalian menyuapku agar mengkhianati Orang Benar ini. Ambillah kembali kepingan perak kalian, bebaskan Yesus, persekongkolan kita telah berakhir. Aku telah berdosa karena menyerahkan darah orang yang tak bersalah.” Para imam menjawabnya dengan cara yang paling menghina, dan, seolah khawatir kalau-kalau menajiskan diri dengan menyentuh upah sang pengkhianat, mereka tak mau menyentuh kepingan perak yang ia sodorkan, melainkan menjawab, “Apa urusan kami dengan itu? Jika kau berpikir telah menjual darah orang yang tak bersalah, itu urusanmu sendiri! Kami tahu apa yang kami lakukan, dan kami telah mengadili bahwa Ia pantas dihukum mati. Ambillah uangmu dan jangan berkata apa-apa lagi.” Mereka mengucapkan kata-kata ini dengan nada gusar, seperti yang biasa diucapkan orang apabila hendak segera menyingkirkan seorang pengacau, lalu segera bangkit dan berjalan pergi. Hal ini membangkitkan murka dan keputusasaan yang begitu hebat dalam diri Yudas hingga ia nyaris gila. Rambutnya berdiri tegak, ia merobek kantong berisi tigapuluh keping perak itu menjadi dua, melemparkannya ke Bait Allah, lalu melarikan diri ke pinggiran kota.

http://www.hollywoodjesus.com/movie/passion2/50.jpeg

Lagi, aku melihatnya berlarian kesana kemari bagaikan seorang yang tidak waras di lembah Hinnom. Setan ada di sampingnya dalam bentuk yang menyeramkan, berusaha membuatnya putus-asa sama sekali dengan membisikkan segala kutuk yang diucapkan para nabi atas lembah ini, di mana orang-orang Yahudi dulu biasa mengurbankan anak-anak mereka sebagai persembahan kepada berhala-berhala.

Tampak seakan-akan segala kutuk itu ditujukan kepadanya: “Mereka akan keluar dan akan memandangi bangkai orang-orang yang telah memberontak kepada-Ku. Di situ ulat-ulatnya tidak akan mati, dan apinya tidak akan padam.” Lagi, “Kain, di mana Habel, adikmu itu? Apakah yang telah kauperbuat ini? Darah adikmu itu berteriak kepada-Ku dari tanah. Maka sekarang, terkutuklah engkau, terbuang jauh dari tanah; engkau menjadi seorang pelarian dan pengembara di bumi.” Ketika Yudas tiba di Sungai Kidron dan melayangkan pandangannya ke Bukit Zaitun, ia gemetar, lalu berbalik pergi. Kata-kata ini terngiang-ngiang di telinganya, “Sahabat, darimanakah engkau? Hai Yudas, engkau menyerahkan Anak Manusia dengan ciuman?” Kengerian menguasai jiwanya, pikirannya semakin kacau, dan iblis berbisik lagi, “Di sinilah Daud melintasi Kidron ketika ia melarikan diri dari Absalom. Absalom mengakhiri nyawanya dengan menggantung diri. Kaulah yang dimaksudkan Daud ketika ia berkata, Mereka membalas kejahatan kepadaku ganti kebaikan dan kebencian ganti kasihku. Biarlah seorang pendakwa berdiri di sebelah kanannya; apabila dihakimi, biarlah ia keluar sebagai orang bersalah. Biarlah umurnya berkurang, biarlah jabatannya diambil orang lain. Biarlah kesalahan nenek moyangnya diingat-ingat di hadapan TUHAN, dan janganlah dihapuskan dosa ibunya. Oleh karena ia tidak ingat menunjukkan kasih, tetapi mengejar orang sengsara dan miskin dan orang yang hancur hati sampai mereka mati. Ia cinta kepada kutuk - biarlah itu datang kepadanya. Ia memakai kutuk sebagai bajunya - biarlah itu merembes seperti air ke dalam dirinya, dan seperti minyak ke dalam tulang-tulangnya. Biarlah itu baginya seperti pakaian yang dikenakannya, sebagai ikat pinggang yang senantiasa dipakainya.'” [/i]Dihantui oleh pikiran-pikiran ngeri ini, Yudas berlari dan berlari hingga tiba di kaki bukit. Tempat itu suram dan terpencil, penuh dengan sampah dan bangkai-bangkai busuk. Suara-suara sumbang dari kota bergema di telinganya. Setan terus-menerus mengulang, [i]“Sekarang mereka akan melaksanakan hukuman mati atas-Nya. Engkau telah menjual-Nya. Tidak tahukah engkau akan pepatah, Ia yang menjual nyawa saudaranya dan menerima upahnya, biarlah ia mati’? Akhirilah deritamu, derita yang ngeri. Akhirilah sengsaramu.” Dikuasai keputusasaan yang hebat, Yudas melepaskan ikat pinggangnya dan menggantung diri di sebuah pohon yang tumbuh di suatu ceruk karang. Setelah ia tewas, tubuhnya hancur berkeping-keping dan isi perutnya berceceran di atas tanah.

YESUS Dibawa ke Hadapan Pilatus

Para musuh-Nya yang keji menggiring Juruselamat kita melewati bagian kota yang paling ramai untuk membawa-Nya ke hadapan Pilatus. Arak-arakan berjalan perlahan menuruni sebelah utara Bukit Sion, lalu melintasi daerah sebelah timur Bait Allah yang disebut Acre, menuju istana dan balai pengadilan Pilatus, yang terletak di sebelah baratlaut Bait Allah, menghadap suatu alun-alun yang luas. Kayafas, Hanas dan banyak pemimpin sidang lainnya berjalan di bagian depan dengan jubah perayaan. Dibelakang mereka sejumlah besar ahli Taurat dan orang-orang Yahudi, di antaranya adalah saksi-saksi palsu dan kaum Farisi yang licik, yang berperan utama dalam melancarkan tuduhan terhadap YESUS. Tuhan kita berjalan agak sedikit di belakang. Ia dikelilingi sepasukan prajurit dan digiring oleh para prajurit pembantu. Khalayak ramai berduyun-duyun datang dari segala penjuru dan ikut serta dalam iring-iringan, riuh-rendah melontarkan segala kutuk dan umpatan yang paling ngeri, sementara gerombolan-gerombolan orang berjalan bergegas, saling mendesak dan mendorong. Pakaian YESUS dilucuti, hanya pakaian dalam-Nya saja yang masih tinggal, yang penuh noda dan dekil karena kotoran-kotoran yang mereka lemparkan ke atasnya. Suatu rantai panjang tergantung sekeliling leher-Nya, memukul-mukul kedua lutut-Nya sementara Ia berjalan; kedua tangan-Nya dibelenggu seperti hari sebelumnya. Para prajurit pembantu menyeret-Nya dengan tali-tali tampar yang dililitkan sekeliling pinggang-Nya. YESUS lebih tepat dikatakan terhuyung-huyung daripada berjalan. Nyaris Ia tak dapat dikenali lagi akibat siksa dan aniaya sepanjang malam. Wajah-Nya pucat, kusut, bengkak, memar dan bahkan berdarah. Walau demikian, alogojo-algojo yang tak kenal belas kasihan terus menyiksa-Nya setiap saat dengan lebih lagi. Mereka telah mengumpulkan sekelompok besar sampah masyarakat, agar menjadikan kedatangan-Nya ke dalam kota penuh aib, guna memutarbalikkan kedatangan-Nya dengan jaya pada hari Minggu Palma. Mereka mencemooh-Nya dan dengan gerakan-gerakan tubuh yang mengejek menyebut-Nya raja. Di jalanan berbatu yang dilewati-Nya, mereka menebarkan ranting-ranting dan kain-kain kotor. Dengan seribu satu caci-maki mereka mengolok-olok-Nya, meniru-nirukan mereka yang menyambut kedatangan-Nya dengan jaya di Yerusalem.

Di sudut sebuah bangunan, tak jauh dari kediaman Kayafas, Bunda YESUS yang berduka, bersama Yohanes dan Magdalena, berdiri menyaksikan semuanya. Jiwa sang bunda senantiasa bersatu dengan jiwa Putranya. Namun demikian, terdorong oleh kasihnya yang begitu besar, segala daya upaya dilakukannya agar ia sungguh dapat berada dekat jantung hatinya. Setelah kunjungannya tengah malam ke balai pengadilan Kayafas, Bunda Maria tinggal di ruang perjamuan beberapa waktu lamanya, tanpa daya dan tanpa sepatah kata pun keluar dari bibirnya karena dukacita yang dahsyat. Tetapi, ketika YESUS diseret keluar dari bilik penjara-Nya untuk dibawa kembali ke hadapan hakim-hakim, ia bangkit berdiri, mengenakan kerudung dan mantolnya, serta berkata kepada Magdalena dan Yohanes, “Marilah kita pergi mengikuti Putraku ke pengadilan Pilatus. Aku harus melihat-Nya lagi.” Mereka pergi ke suatu tempat yang pasti akan dilewati arak-arakan dan menanti. Bunda YESUS tahu bahwa Putranya menderita hebat, tapi tak pernah terbayangkan olehnya keadaan yang begitu mengenaskan serta menyayat hati seperti Ia telah dihinakan oleh kebrutalan para musuh-Nya. Dalam bayangannya, ia melihat YESUS menanggung sengsara yang ngeri, namun ditopang serta diterangi oleh kekudusan, kasih dan kesabaran. Tetapi, sekarang, kenyataan yang memilukan ini menembusi hatinya yang terdalam.

Di barisan depan arak-arakan tampaklah para imam, musuh terbesar Putra Ilahinya. Mereka mengenakan jubah yang indah anggun, tetapi ah, ngeri dikata; bukannya menampilkan martabat agung jabatan imamat dari Yang Mahakuasa, melainkan mereka telah berubah menjadi imam-imam setan. Sebab, orang tak dapat menatap wajah mereka yang bengis tanpa melihat pula di sana, terpancar dengan jelas, hasrat iblis yang merasuki jiwa mereka, - kemunafikan, kelicikan, dan dendam kesumat untuk melaksanakan tindak kejahatan yang paling keji, kematian Tuhan dan Juruselamat kita, Putra tunggal Allah. Di belakang para imam adalah saksi-saksi palsu, para pendakwa yang penuh tipu daya, di antara khalayak ramai yang hiruk-pikuk. Dan akhirnya - Ia Sendiri - Putranya - YESUS, Putra Allah, Putra Manusia, dibelenggu dengan rantai, hampir-hampir tak mampu menyangga tubuh-Nya Sendiri, tetapi, tanpa belas kasihan diseret oleh para musuh-Nya yang tak berperikemanusiaan, pukulan bertubi didaratkan pada tubuh-Nya, ditinju oleh yang lainnya, dan dari keseluruhan orang banyak itu kutuk, cemooh, segala cerca yang paling hina, riuh-rendah diteriakkan kepada-Nya.

Ia akan sama sekali tak dikenali, bahkan oleh mata BundaNya Sendiri, dalam keadaan setengah telanjang, hanya berbalut sisa-sisa jubah-Nya yang telah koyak di sana-sini, andai Bunda-Nya tak segera mengenali tingkah laku-Nya yang kontras dengan tingkah laku para penganiaya-Nya yang biadab. Hanya Ia Seorang yang di tengah segala aniaya dan sengsara-Nya tetap tenang dan berserah total kepada Tuhan, jauh dari sikap membalas, tak pernah mengangkat tangan-Nya selain untuk memanjatkan doa kepada BapaNya yang Kekal demi pengampunan dosa para musuh-Nya. Sementara Ia berjalan mendekat, Bunda Maria tak dapat menahan diri lagi, ia berteriak dengan suara gemetar, “Sungguh malang! adakah itu Putraku? Ah, benar! Aku melihat-Nya, Dia-lah Putraku terkasih. Ah, YESUS, Yesusku terkasih!” Ketika arak-arakan hampir tepat tiba di hadapan Bunda Maria, YESUS memandang kepadanya dengan tatapan mata penuh sayang dan belas kasihan. Tatapan mata ini tampaknya terlalu dahsyat bagi seorang ibunda yang dirundung duka. Ia lemas tak sadarkan diri sama sekali beberapa waktu lamanya. Yohanes dan Magdalena berusaha memapahnya pulang, tetapi sekonyong-konyong ia bangkit berdiri dan, dengan ditemani kedua murid terkasih, melangkahkan kaki menuju istana Pilatus.

Segenap penduduk kota Ophel berkerumun di suatu tempat terbuka untuk melihat YESUS. Tetapi, jauh dari memberikan penghiburan kepada-Nya; mereka malahan menambahkan duka baru dalam piala sengsara-Nya; mereka menghujamkan ke dalam hati-Nya kesedihan mendalam yang biasa dirasakan oleh mereka yang melihat para sahabatnya meninggalkan mereka di saat-saat sulit. YESUS telah melakukan demikian banyak bagi penduduk Ophel, tetapi, begitu mereka melihat-Nya direndahkan hingga keadaan penuh sengsara dan hina, segera saja iman mereka terguncang. Mereka tak lagi percaya bahwa Ia adalah raja, nabi, Mesias, Putra Allah. Kaum Farisi tertawa mengejek serta memperolok mereka karena rasa hormat yang dulu mereka nyatakan kepada YESUS. “Lihatlah rajamu sekarang,” seru mereka; “sambutlah Dia; tidakkah kalian mengucapkan selamat kepada-Nya sekarang sebab Ia akan segera dimahkotai dan akan duduk di atas tahta-Nya? Segala tipu mukjizat-Nya telah berakhir; para imam besar telah mengakhiri segala muslihat dan sihir-Nya.”

Sekalipun ada pada orang-orang malang ini kenangan akan mukjizat-mukjizat dan penyembuhan-penyembuhan ajaib yang dilakukan YESUS di hadapan mata mereka; sekalipun banyak kebajikan yang Ia limpahkan atas mereka, iman mereka terguncang oleh sebab melihat-Nya begitu dihinakan dan dijadikan sasaran olok-olok oleh imam besar dan para anggota Sanhedrin, yang dipandang sebagai kalangan terhormat di Yerusalem. Sebagian orang pergi dengan keraguan di hati, sebagian lainnya tinggal dan berusaha menggabungkan diri dengan khalayak ramai, namun mereka dihalang-halangi oleh para prajurit yang dikirim oleh kaum Farisi guna mencegah timbulnya pergolakan dan keruwetan.

YESUS di Hadapan Pilatus

Sekitar pukul delapan pagi, menurut perhitungan waktu kita, ketika arak-arakan tiba di istana Pilatus. Hanas, Kayafas dan para pemimpin Sanhedrin berhenti di bagian antara forum dan pintu masuk ke Praetorium, di mana bangku-bangku batu ditempatkan bagi mereka. Para pengawal dengan brutal menyeret YESUS ke kaki anak tangga yang menuju ke kursi pengadilan Pilatus. Pilatus sedang berbaring di atas sebuah kursi yang nyaman di serambi yang menghadap ke forum. Di sampingnya terdapat sebuah meja kecil dengan tiga kaki, di mana diletakkan lencana kekuasaannya dan beberapa benda lain. Pilatus dikelilingi para pejabat dan para prajurit yang mengenakan pakaian kebesaran tentara Romawi. Orang-orang Yahudi dan para imam tidak masuk ke dalam Praetorium karena takut mencemarkan diri, jadi mereka tetap berada di luar.

Ketika Pilatus melihat arak-arakan yang hiruk-pikuk itu masuk, dan melihat betapa keji orang-orang Yahudi yang kejam memperlakukan tawanan mereka, ia bangkit, dan menyapa mereka dengan nada meremehkan sebagaimana dapat dibayangkan seorang jenderal yang menang perang menyapa kepala desa kecil yang ditaklukkannya, “Apa maksud kalian datang pagi-pagi seperti ini? Mengapa kalian menganiaya tawanan ini sebegitu keji? Tidak dapatkah kalian menahan diri untuk tidak menyiksa dan menganiaya tawanan kalian bahkan sebelum mereka diadili?” Mereka tidak menjawab, melainkan berteriak kepada para pengawal, “Bawa Dia kemari - bawa Dia untuk diadili!” Lalu, berpaling kepada Pilatus, mereka berkata, “Mohon dengarkanlah tuduhan kami terhadap penjahat ini, sebab kami tidak dapat masuk ke balai pengadilan tanpa mencemarkan diri kami.” Baru saja mereka selesai mengucapkan kata-kata, terdengarlah suara memecah dari antara khalayak ramai yang berkerumun. Suara tersebut datang dari seorang tua yang berpenampilan terhormat, pembawaannya mengesankan, yang berseru, “Kalian benar tidak memasuki Praetorium, sebab tempat itu telah dikuduskan oleh darah Kanak-kanak Suci; hanya ada satu Pribadi saja yang berhak memasukinya, dan hanya Ia Seorang yang dapat masuk ke dalamnya, sebab Ia Sendiri sama murninya seperti Kanak-kanak Suci yang dibantai di sana.” Lelaki yang mengucapkan kata-kata ini dengan suara nyaring, lalu menghilang di antara orang banyak, adalah seorang kaya bernama Zadok, sepupu Obed, suami Veronica; dua di antara anaknya termasuk dalam bilangan Kanak-kanak Suci yang diperintahkan untuk dibantai oleh Herodes saat kelahiran Juruselamat kita. Sejak peristiwa mengerikan itu, ia meninggalkan pesona dunia dan, bersama isterinya, hidup menurut peraturan kaum Esseni. Pernah ia berjumpa dengan Juruselamat kita di rumah Lazarus dan di sana ia mendengar-Nya mengajar. Pemandangan akan Ia yang diseret secara biadab ke hadapan Pilatus membangkitkan dalam benaknya kenangan akan sengsaranya sendiri saat bayi-bayinya disembelih secara keji di hadapan matanya. Ia bertekad untuk menyampaikan kesaksian di hadapan publik mengenai keyakinannya akan ketakberdosaan YESUS. Para penganiaya Tuhan kita terlalu larut dalam amarah atas sikap congkak Pilatus terhadap mereka, sementara mereka sendiri berada dalam posisi harus merendahkan diri, hingga mereka tak ambil pusing atas kata-kata seorang asing.

Para pengawal yang bengis menyeret Tuhan kita menaiki anak tangga pualam dan menggiring-Nya ke ambang serambi, darimana Pilatus berbicara dengan para imam Yahudi. Sang Gubernur Romawi telah sering mendengar tentang YESUS, walau ia sendiri belum pernah melihat-Nya. Sekarang, ia begitu terpesona atas pembawaan yang tenang dan agung dari Orang yang dibawa ke hadapannya ini dalam keadaan yang begitu mengenaskan. Sikap para imam dan tua-tua yang tak berperikemanusiaan menggusarkan hatinya, sekaligus membangkitkan perasaan benci terhadap mereka. Segera saja ia memberitahukan kepada mereka bahwa sedikit pun ia tak hendak menjatuhkan hukuman atas YESUS tanpa bukti-bukti kuat yang membenarkan tuduhan mereka. “Apakah tuduhan kamu terhadap orang ini?” tanyanya kepada para imam dengan nada sangat menghina. “Jikalau Ia bukan seorang penjahat, kami tidak menyerahkan-Nya kepadamu!” jawab para imam dengan sengit. “Ambillah Dia,” kata Pilatus, “dan hakimilah Dia menurut hukum Tauratmu.” “Engkau tahu betul,” jawab mereka, “Kami tidak diperbolehkan menjatuhkan hukuman mati atas seseorang.” Para musuh YESUS amat murka - betapa ingin mereka pengadilan itu segera berakhir dan kurban mereka dihukum mati sesegera mungkin, agar mereka dapat mempersiapkan diri untuk perayaan kurban anak domba Paskah. Orang-orang breng*** yang menyedihkan ini tidak mengetahui bahwa Ia yang mereka seret ke hadapan pengadilan seorang hakim kafir (yang kediamannya bahkan tak boleh mereka masuki karena takut menajiskan diri dan tak layak ambil bagian dalam kurban yang figuratif), bahwa Ia, dan hanya Ia saja, adalah Anak Domba Paskah sejati, sementara yang lain hanyalah sekedar lambang belaka.

Pilatus akhirnya memerintahkan mereka untuk menyampaikan tuduhan. Mereka mengajukan tiga tuduhan dan membawa sepuluh orang saksi guna membuktikan kebenaran masing-masing tuduhan. Tujuan utama mereka adalah meyakinkan Pilatus bahwa YESUS adalah pemimpin suatu komplotan yang melawan kaisar; dengan demikian Ia dapat dijatuhi hukuman mati sebagai seorang pemberontak. Mereka sendiri tak memiliki wewenang dalam perkara demikian, sebab mereka tak memiliki hak untuk mengadili seseorang, terkecuali yang menyangkut pelanggaran-pelanggaran agama. Usaha pertama mereka adalah membuktikan bahwa Ia menghasut rakyat, memicu mereka mengadakan pemberontakan, dan dengan demikian merupakan ancaman bagi ketenangan dan kesejahteraan rakyat. Guna membuktikan tuduhan ini, mereka mengajukan beberapa saksi palsu. Juga mereka melaporkan bahwa Ia melanggar hari Sabat, bahkan mencemarkannya dengan menyembuhkan orang sakit pada hari itu. Saat mereka menyampaikan tuduhan ini, Pilatus menyela dan mengatakan dengan nada mencemooh, “Tentu saja, karena tak seorang pun dari kalian sendiri sakit - seandainya kalian sendiri yang sakit, pastilah kalian tak akan mengeluh disembuhkan pada hari Sabat.” “Ia menyesatkan rakyat dan mengajarkan ajaran-ajaran yang paling menjijikkan. Ia mengatakan bahwa tak seorang pun dapat beroleh hidup kekal jika tidak makan daging-Nya dan minum darah-Nya.” Pilatus merasa jengkel atas dendam kesumat yang terungkap lewat perkataan maupun ekspresi wajah mereka. Ia memalingkan wajahnya dari mereka dengan pandangan mengejek seraya berkata, “Pastilah kalian sangat ingin mengikuti ajaran-ajaran-Nya dan beroleh hidup kekal, sebab kalian semua haus akan tubuh dan darah-Nya.”

Orang-orang Yahudi kemudian mengajukan tuduhan kedua melawan YESUS, yaitu bahwa Ia melarang rakyat membayar pajak kepada kaisar. Kata-kata ini membangkitkan murka Pilatus, sebab merupakan tanggung-jawabnya agar semua pajak dibayarkan sesuai ketentuan. Ia berseru dengan berang, “Bohong! Aku pasti lebih tahu tentang masalah ini daripada kalian.” Hal ini membuat para musuh Tuhan kita segera melanjutkan ke tuduhan yang ketiga, yang mereka ajukan dengan kata-kata seperti ini, “Meskipun Orang ini asal-usulnya tidak jelas, Ia merupakan pemimpin dari suatu kelompok yang besar. Saat menjadi pemimpin mereka, Ia menjatuhkan kutuk atas Yerusalem, dan menceritakan perumpamaan-perumpamaan bermakna ganda mengenai seorang raja yang sedang mempersiapkan perjamuan nikah bagi puteranya. Orang banyak yang Ia kumpulkan di bukit pernah berusaha menjadikan-Nya raja, hal ini lebih cepat dari yang Ia perkirakan, rencana-Nya belum matang, karenanya Ia melarikan diri dan bersembunyi. Sesudah itu, Ia datang kembali dengan lebih mantap: hari itu Ia memasuki kota Yerusalem di hadapan khalayak ramai yang bersorak-sorai; Ia memerintahkan orang banyak meneriakkan seruan-seruan yang membahana, “Hosana bagi Anak Daud! diberkatilah Kerajaan yang datang, Kerajaan bapa kita Daud.” Ia mewajibkan para pengikut-Nya menyampaikan penghormatan kerajaan kepada-Nya; Ia mengatakan kepada mereka bahwa Dia-lah KRISTUS, Tuhan Yang Diurapi, Mesias, raja yang dijanjikan kepada bangsa Yahudi, dan Ia menghendaki disebut dengan gelar-gelar agung itu.” Sepuluh orang saksi memberikan kesaksian mengenai hal ini.

Tuduhan terakhir - bahwa YESUS membuat DiriNya disebut raja - meninggalkan kesan dalam diri Pilatus. Ia mengernyitkan kening, meninggalkan serambi, melayangkan pandangan selidik kepada YESUS, masuk ke dalam apartemen sebelah, dan memerintahkan para pengawal untuk membawa-Nya seorang diri ke hadapannya. Pilatus bukan saja seorang yang percaya takhyul, tetapi juga amat lemah jiwanya dan mudah terpengaruh. Seringkali ia, dalam pengajaran kafir, mendengar disebut adanya anak-anak dewa yang tinggal untuk sementara waktu di bumi. Ia juga tahu pasti bahwa para nabi bangsa Yahudi sejak lama berselang telah menubuatkan bahwa akan bangkit dari antara mereka, Dia yang adalah Tuhan yang Diurapi, Juruselamat mereka, Pembebas dari perbudakan; dan bahwa banyak di antara mereka yang percaya teguh akan hal ini. Ia juga ingat bahwa raja-raja dari timur telah datang kepada Herodes, pendahulu penguasa yang sekarang, untuk menyampaikan sembah sujud kepada raja orang Yahudi yang baru dilahirkan, dan bahwa karena hal itu, Herodes memerintahkan pembunuhan Kanak-kanak Suci. Telah seringkali ia mendengar tradisi mengenai Mesias dan raja orang Yahudi, dan bahkan mempelajarinya dengan rasa ingin tahu, meskipun tentu saja, karena ia seorang kafir, tanpa iman sedikitpun. Andai ia mempercayainya, mungkin ia akan sependapat dengan kaum Herodian dan kaum Yahudi yang menantikan seorang raja yang berkuasa dan jaya. Dengan gagasan-gagasan demikian dalam benaknya, maksud orang-orang Yahudi menuduh seorang pribadi yang malang dan sengsara yang mereka bawa ke hadapannya dengan tuduhan menyatakan diri sebagai raja yang dijanjikan dan Mesias, tentu saja tampak tak masuk akal baginya. Tetapi, karena para musuh YESUS mengajukan tuduhan-tuduhan ini sebagai bukti pengkhianatan-Nya terhadap kaisar, ia pikir baik jika ia menginterogasi-Nya secara pribadi mengenai hal tersebut.

“Engkau inikah raja orang Yahudi?” tanya Pilatus seraya menatap lekat Tuhan kita; tak dapat ia menahan rasa takjubnya atas ekspresi ilahi yang terpancar dari wajah-Nya.

Jawab YESUS, “Apakah engkau katakan hal itu dari hatimu sendiri, atau adakah orang lain yang mengatakannya kepadamu tentang Aku?”

Pilatus merasa tersinggung karena YESUS berpikiran mungkin ia percaya akan hal-hal yang demikian, maka katanya, “Apakah aku seorang Yahudi? Bangsa-Mu sendiri dan imam-imam kepala yang telah menyerahkan Engkau kepadaku untuk dijatuhi hukuman mati; apakah yang telah Engkau perbuat?”

YESUS menjawab dengan penuh keagungan, “Kerajaan-Ku bukan dari dunia ini; jika Kerajaan-Ku dari dunia ini, pasti hamba-hamba-Ku telah melawan, supaya Aku jangan diserahkan kepada orang Yahudi, akan tetapi Kerajaan-Ku bukan dari sini.”

Pilatus agak sedikit tersentuh oleh kata-kata khidmad yang disampaikan-Nya dan ia berbicara kepada-Nya dengan nada lebih serius, “Jadi Engkau adalah raja?”

Jawab YESUS, “Engkau mengatakan, bahwa Aku adalah raja. Untuk itulah Aku lahir dan untuk itulah Aku datang ke dalam dunia ini, supaya Aku memberi kesaksian tentang kebenaran; setiap orang yang berasal dari kebenaran mendengarkan suara-Ku. ”

Pilatus menatap kepada-Nya. Ia bangkit dari kursinya dan berkata, “Apakah kebenaran itu?”

Mereka kemudian saling berbicara beberapa patah kata lagi, yang aku tidak ingat sekarang, lalu Pilatus kembali ke serambi. Jawaban serta sikap YESUS jauh melampaui pengertiannya, tetapi ia melihat dengan jelas bahwa gagasan-Nya mengenai kerajaan tidak akan menimbulkan pertentangan dengan kaisar, sebab yang dimaksudkan-Nya bukan kerajaan duniawi; sedangkan kaisar tidak peduli akan hal di luar dunia ini. Sebab itu ia berbicara lagi kepada imam-imam kepala dari serambi dan mengatakan, “Aku tidak mendapati kesalahan apapun pada-Nya.” Para musuh YESUS menjadi gusar dan meneriakkan seribu satu tuduhan berbeda melawan Juruselamat kita. Namun, YESUS diam saja, tenggelam dalam doa bagi para musuh bebuyutan-Nya ini. Ia juga tak menjawab ketika Pilatus mengatakan hal ini kepada-Nya, “Tidakkah Engkau memberi jawab? Lihatlah betapa banyaknya tuduhan mereka terhadap Engkau!” Pilatus sungguh heran dan berkata, “Aku melihat dengan jelas bahwa segala tuduhan mereka adalah dusta.” Tetapi, para pendakwa YESUS, yang amarahnya semakin meluap-luap, berteriak, “Engkau tidak mendapati kesalahan apapun pada-Nya? Apakah menghasut rakyat untuk memberontak di segenap penjuru kerajaan bukan suatu kejahatan? - bagaimana dengan menyebarkan ajaran-ajaran sesat, bukan hanya di sini, tetapi juga di Galilea?”

Disebutnya Galilea membuat Pilatus terdiam sejenak, ia berpikir-pikir, lalu bertanya, “Apakah Ia ini seorang Galilea, warga Herodes?” Mereka menjawab, “Ya; orangtua-Nya tinggal di Nazaret. Ia Sendiri sekarang tinggal di Kapernaum.”

“Jika demikian,” jawab Pilatus, “bawalah Ia kepada Herodes; Ia berada di sini untuk perayaan. Herodes akan segera mengadili-Nya, sebab Ia adalah warganya.” Segera YESUS digiring keluar dari balai pengadilan. Pilatus mengirimkan seorang utusan kepada Herodes guna memberitahukan bahwa YESUS dari Nazaret, yang adalah warganya, akan dibawa ke hadapannya untuk diadili. Pilatus mempunyai dua alasan melakukan hal ini. Pertama, ia senang dapat menghindarkan diri dari menjatuhkan hukuman, sebab ia merasa bimbang dengan segala perkara ini. Kedua, ia senang beroleh kesempatan menyenangkan hati Herodes, dengan siapa ia berselisih, sebab ia tahu bagaimana inginnya Herodes melihat YESUS.

Para musuh Tuhan kita sungguh murka diusir pergi secara demikian oleh Pilatus di hadapan segala orang banyak itu. Karenanya, mereka melampiaskan amarah mereka dengan memperlakukan-Nya terlebih keji dari sebelumnya. Mereka membelenggu-Nya kembali dan tak henti-hentinya melancarkan kutuk serta pukulan yang bertubi-tubi sementara mereka bergegas menggiring-Nya menerobos khalayak ramai menuju istana Herodes, yang letaknya tak jauh dari forum. Beberapa prajurit Romawi ikut serta dalam arakan-arakan.

Selama pengadilan berlangsung, Claudia Procles - isteri Pilatus - kerapkali mengirimkan pesan kepada suaminya mengisyaratkan bahwa ia sungguh ingin berbicara dengan-Nya. Ketika YESUS digiring ke istana Herodes, Claudia berdiri di atas balkon dan menyaksikan segala perlakuan biadab para musuh-Nya dengan perasaan campur-baur antara takut, duka serta ngeri.

]Pilatus dan Isterinya [/b]

Ketika orang-orang Yahudi menggiring YESUS ke istana Herodes, aku melihat Pilatus pergi menemui isterinya, Claudia Procles. Isterinya bergegas menjumpainya dan berdua mereka pergi ke suatu pondok taman kecil yang berada di salah satu serambi belakang istana. Claudia tampak sangat gelisah dan diliputi ketakutan. Ia seorang perempuan yang tinggi perawakannya dan cantik parasnya, walau teramat pucat. Rambutnya dijalin dengan sedikit hiasan, tetapi sebagian besar tertutup oleh kerudung panjang yang jatuh dengan anggun di atas pundaknya. Ia mengenakan anting-anting, seuntai kalung, dan gaunnya yang panjang dan berlipat-lipat diikat oleh semacam gesper. Ia berbicara lama dengan Pilatus dan memohonnya dengan sangat untuk tidak melukai YESUS, sang Nabi, yang Mahakudus dari yang Kudus. Ia juga menceritakan mimpi-mimpi atau penglihatan-penglihatan luar biasa yang ia alami malam sebelumnya tentang Dia.

Sementara Claudia berbicara, aku melihat sebagian besar penglihatan-penglihatan itu: yang berikut ini adalah yang paling menggoncangkan hati. Pertama, peristiwa-peristiwa utama dalam kehidupan KRISTUS - kabar sukacita, kelahiran, sembah sujud para gembala dan para majus, nubuat Simeon dan Hana, pengungsian ke Mesir, pembunuhan Kanak-kanak Suci, dan pencobaan YESUS di padang gurun. Juga diperlihatkan kepadanya dalam mimpi peristiwa-peristiwa yang paling menonjol dalam kehidupan YESUS di depan publik. YESUS senantiasa tampak kepadanya berselubungkan suatu sinar kemilau, tetapi para musuh-Nya yang jahat dan keji tampak dalam rupa yang paling mengerikan serta menjijikkan yang dapat dibayangkan. Ia melihat sengsara-Nya yang dahsyat, ketenangan-Nya, dan kasih-Nya yang tak habis-habisnya, pula ia melihat dukacita Bunda-Nya dan penyerahan diri total sang Bunda kepada Allah. Penglihatan-penglihatan ini meliputi hati isteri Pilatus dengan kegelisahan serta kengerian luar biasa, teristimewa karena penglihatan-penglihatan tersebut disertai pula dengan lambang-lambang yang membuatnya mengerti segala maknanya. Hatinya yang lemah-lembut tersiksa oleh penglihatan-penglihatan yang begitu ngeri. Ia menderita karenanya sepanjang malam. Terkadang, mimpi-mimpi itu tampak samar, tetapi seringkali tampak jelas dan nyata. Ketika fajar menyingsing, dan ia terjaga karena suara hiruk-pikuk khalayak ramai yang menyeret YESUS untuk diadili, ia melihat arak-arakan dan segera mengenali bahwa kurban yang lemah-lembut tanpa melawan sedikitpun di antara orang banyak itu, yang dibelenggu, yang menderita sengsara, dan yang diperlakukan di luar batas perikemanusiaan hingga hampir tak dapat dikenali lagi, tak lain adalah Ia yang bercahaya dan mulia yang begitu sering muncul di hadapan matanya dalam penglihatan-penglihatan di waktu malam. Hatinya begitu trenyuh demi melihat YESUS; segera ia memanggil Pilatus serta menceritakan kepadanya segala sesuatu yang terjadi padanya. Ia berbicara dengan berapi-api dan penuh emosi, dan walau ada banyak hal dalam apa yang dilihatnya itu, yang tidak dapat dimengertinya, namun demikian, ia memohon dan meminta dengan sangat kepada suaminya, dengan tutur-kata yang paling menyentuh hati, agar mengabulkan permohonannya.

Pilatus tercengang, sekaligus menjadi gelisah karena perkataan isterinya. Ia memperbandingkan apa yang diceriterakan isterinya itu dengan segala sesuatu yang ia dengar sebelumnya mengenai YESUS. Ia memikirkan dalam-dalam rasa dengki orang-orang Yahudi, ketenangan agung Juruselamat kita, dan perkataan-perkataan misterius yang Ia berikan sebagai jawab atas pertanyaannya. Ia bimbang beberapa saat lamanya. Akhirnya, tergerak oleh permohonan isterinya, Pilatus mengatakan kepadanya bahwa ia telah memaklumkan pernyataan YESUS tidak bersalah, dan bahwa ia tak akan menjatuhkan hukuman mati atas-Nya, sebab ia melihat tuduhan-tuduhan yang diajukan terhadap YESUS hanyalah dusta yang dibuat-buat oleh para musuh-Nya. Pilatus menceriterakan perkataan YESUS kepada dirinya dan berjanji kepada isterinya bahwa tak akan ada suatu pun yang dapat mempengaruhinya untuk menjatuhkan hukuman atas Orang Benar ini; ia bahkan memberikan cincin kepada isterinya sebelum mereka berpisah sebagai tanda bahwa ia tak akan ingkar.

Pilatus adalah seorang yang bermoral bejat dan bimbang, perangainya yang terburuk adalah kesombongan yang luar biasa dan kelicikan, yang membuatnya tak segan melakukan tindakan yang tidak adil, jika itu menguntungkan kepentingannya. Ia amat percaya takhyul, dan dalam saat-saat sulit biasa menggunakan jimat dan sihir. Ia sungguh bingung dan gelisah menghadapi perkara YESUS. Aku melihatnya berjalan kian kemari, membakar dupa dari satu dewa ke dewa lainnya, mohon agar mereka membantunya. Tetapi, setan mengisi benaknya dengan kekalutan yang terlebih lagi. Pertama, setan menanamkan suatu gagasan jahat dalam benaknya, lalu gagasan jahat berikutnya. Pilatus lalu berusaha mendapatkan pertolongan dari salah satu praktek takhayul kegemarannya, yaitu menyaksikan ayam-ayam keramat makan, tetapi sia-sia belaka - benaknya tetap tertutup kabut gelap, dan ia menjadi semakin lebih bimbang dari sebelumnya. Pertama ia berpikir akan membebaskan Juruselamat kita, yang ia tahu pasti tak bersalah, tetapi kemudian ia takut membangkitkan murka dewa-dewa berhalanya, sebab ia membayangkan mungkin YESUS semacam setengah dewa yang merupakan musuh bebuyutan para dewa. “Mungkin saja,” katanya dalam hati, “bahwa Orang ini sungguh raja orang Yahudi yang kedatangannya telah dinubuatkan oleh begitu banyak nabi. Kepada raja orang Yahudilah para Majus datang dari Timur untuk bersembah sujud. Mungkin Ia seorang musuh rahasia, baik bagi dewa-dewa maupun bagi kaisar; jika demikian, alangkah cerobohnya aku jika menyelamatkan nyawa-Nya. Siapa tahu kematian-Nya merupakan kemenangan bagi dewa-dewa?” Lalu, teringatlah ia akan mimpi-mimpi menakjubkan yang diceritakan oleh isterinya yang belum pernah berjumpa dengan YESUS. Pikirannya berubah lagi; ia memutuskan akan lebih aman jika tidak menjatuhkan hukuman atas-Nya. Ia berusaha membujuk dirinya bahwa ia menghendaki suatu hukuman yang adil, tetapi ia menipu diri, sebab ketika ia bertanya pada dirinya, “Apakah kebenaran itu?” ia tidak menanti jawabnya. Pikirannya sama sekali kacau, ia bingung tak tahu harus berbuat apa. Satu-satunya keinginannya adalah untuk tidak mendatangkan resiko atas dirinya sendiri.

YESUS di Hadapan Herodes

Istana Herodes, raja wilayah, dibangun di sebelah utara forum, di kota baru, tak jauh dari istana Pilatus. Sepasukan prajurit Romawi, sebagian besar berasal dari bagian negeri itu yang terletak antara Switzerland dan Italia, bergabung dalam arak-arakan. Para musuh YESUS sungguh berang bahwa mereka harus dilemparkan ke sana sini, karenanya mereka melampiaskan amarah mereka kepada YESUS. Utusan Pilatus telah pergi mendahului arak-arakan, sebab itu Herodes menantikan kedatangan mereka. Ia duduk di atas timbunan bantal, yang ditumpuk begitu rupa membentuk semacam tahta, di suatu ruangan yang luas, dikelilingi para bangsawan dan prajurit. Imam-imam kepala masuk dan mengambil tempat di samping Herodes, sementara YESUS mereka tinggalkan di pintu masuk. Herodes merasa tersanjung dan senang karena dengan demikian Pilatus memaklumkan kekuasaan Herodes di hadapan umum dalam mengadili orang-orang Galilea. Ia juga gembira akan melihat YESUS, yang tidak berkenan muncul di hadapannya, sekarang telah direndahkan hingga begitu nista dan hina. Rasa ingin tahu Herodes begitu besar karena kata-kata pujian Yohanes Pembaptis dalam memaklumkan kedatangan YESUS. Ia juga telah banyak mendengar tentang-Nya dari kaum Herodian, dan dari banyak mata-mata yang ia utus ke berbagai penjuru. Sebab itu ia bergirang hati mendapat kesempatan menginterogasi-Nya di hadapan para bangsawan dan para imam Yahudi. Ia berharap dapat memamerkan wawasan dan pengetahuannya. Pilatus mengiriminya pesan, “tidak mendapati kesalahan apapun pada-Nya.” Herodes menyimpulkan bahwa kata-kata ini dimaksudkan sebagai isyarat bahwa Pilatus menghendaki agar ia memandang rendah, serta jangan menaruh kepercayaan pada para pendakwa. Sebab itu, Herodes menyapa mereka dengan cara yang seangkuh mungkin, dan karenanya angkara murka para imam kepala semakin meluap hingga tak terlukiskan lagi.

Mereka semua serempak menyerukan tuduhan-tuduhan mereka, yang hampir-hampir tak diindahkan Herodes, sebab perhatiannya semata-mata ditujukan untuk memuaskan rasa ingin tahunya dengan memandang penuh selidik kepada YESUS, yang telah lama ingin dilihatnya. Tetapi, saat ia melihat-Nya setengah telanjang, hanya berbalut sisa-sisa mantol-Nya, nyaris tak dapat berdiri tegak, wajah-Nya sama sekali rusak karena pukulan dan tinju, belepotan lumpur dan kotoran yang dilemparkan orang banyak ke kepala-Nya, maka raja gemerlap yang setengah banci itu memalingkan wajahnya dengan perasaan jijik, menyebut nama Tuhan, dan berkata kepada para imam dengan nada bercampur antara kasihan dan jijik, “Segera bawa Ia pergi dari sini dan jangan bawa Dia lagi ke hadapanku dalam keadaan yang begitu memuakkan.” Para prajurit membawa YESUS ke pengadilan bagian luar, mengambil air dalam sebuah baskom, dengan mana mereka membersihkan jubah-Nya yang penuh noda dan wajah-Nya yang telah rusak. Tetapi, bahkan dalam melakukan hal ini pun, mereka tak dapat menahan diri untuk tidak melakukannya secara brutal, dan sama sekali tak mengindahkan luka-luka yang memenuhi sekujur tubuh-Nya.

Sementara itu, Herodes mengecam para imam sama kerasnya seperti yang dilakukan Pilatus. “Perilaku kalian sungguh mirip jagal,” katanya, “dan kalian membantai korban kalian cukup dini.” Para imam kepala segera mengajukan tuduhan-tuduhan mereka. Ketika YESUS dibawa masuk kembali ke hadapannya, Herodes berpura-pura menaruh belas kasihan dan menawarkan segelas anggur kepada-Nya guna memulihkan kekuatan-Nya. Tetapi, YESUS memalingkan wajah-Nya, menolak meringankan penderitaan-Nya dengan itu.

http://terang.webs.com/photos/salib/Pilatus.jpg

Herodes kemudian mulai berbicara dengan gencar serta panjang lebar tentang segala yang telah ia dengar mengenai YESUS. Ia mengajukan seribu satu pertanyaan dan mendesak YESUS untuk melakukan suatu mukjizat di hadapannya. Tetapi YESUS tak menjawab sepatah kata pun, melainkan berdiri di hadapannya dengan mata memandang ke lantai. Hal ini membangkitkan kejengkelan dan kekecewaan Herodes, walau ia berusaha untuk menekan amarah dan meneruskan interogasi. Pertama-tama, ia mengungkapkan keterkejutannya menggunakan kata-kata yang membujuk. “Benarkah ini YESUS dari Nazaret,” serunya, “bahwa Engkau Sendiri ada di hadapanku sebagai seorang penjahat? Aku telah mendengar perbuatan-perbuatan-Mu yang banyak dibicarakan orang. Mungkin Engkau tidak menyadari bahwa Kau telah sungguh menghinaku dengan membebaskan para tahanan yang aku kurung di Thirza, tetapi mungkin tujuan-Mu baik. Gubernur Romawi sekarang mengirimkan-Mu kepadaku untuk diadili; jawab apakah yang dapat Kau-berikan atas segala tuduhan ini? Engkau diam saja? Aku telah mendengar banyak mengenai kebijaksanaan-Mu dan juga mengenai agama yang Engkau ajarkan, jadi, biarkan aku mendengar jawab-Mu dan membungkam para musuh-Mu. Apakah Engkau raja orang Yahudi? Apakah Engkau Putra Allah? Siapakah Engkau? Kata orang, Engkau melakukan mukjizat-mukjizat yang mengagumkan; lakukanlah satu perbuatan ajaib sekarang di hadapanku. Aku berkuasa untuk membebaskan-Mu. Sungguhkah Engkau mencelikkan mata orang buta, membangkitkan Lazarus dari mati, dan memberi makan dua atau tiga ribu orang dari hanya sedikit roti saja? Mengapa Kau tidak menjawab? Aku nasehatkan agar Kau segera melakukan suatu mukjizat sekarang di hadapanku; mungkin Engkau akan bersukacita nanti setelah memenuhi keinginanku.”

http://terang.webs.com/photos/salib/JESUS%20diam.jpg

YESUS tetap diam saja, dan Herodes terus menanyai-Nya bahkan dengan lebih gencar.

“Siapakah Engkau?” tanyanya. “Darimanakah kuasa-Mu berasal? Bagaimana mungkin Engkau tak lagi memilikinya? Adakah Engkau Dia yang kelahirannya dinubuatkan dengan begitu menakjubkan? Raja-raja dari Timur datang kepada ayahku untuk menjumpai raja orang Yahudi yang baru dilahirkan; benarkah Engkau adalah bayi itu? Apakah Engkau melarikan diri ketika begitu banyak kanak-kanak dibunuh, dan bagaimana mungkin Engkau bisa lolos? Mengapa selama bertahun-tahun Engkau tak dikenal? Jawab pertanyaanku! Apakah Engkau seorang raja? Penampilan-Mu jelas bukan seorang raja. Aku dengar Engkau diarak ke Bait Allah dengan jaya beberapa waktu yang lalu; apa maksudnya? - Bicaralah! - Jawab!”

Herodes terus mencecar YESUS dengan pertanyaan yang bertubi, tetapi KRISTUS tidak membuka mulut sama sekali. Ditunjukkan kepadaku (seperti yang telah aku ketahui) bahwa YESUS diam membisu karena Herodes berada dalam keadaan eks-komunikasi, baik karena perkawinan zinahnya dengan Herodias, maupun karena mengeluarkan perintah untuk mengeksekusi St. Yohanes Pembaptis. Hanas dan Kayafas, yang melihat bagaimana mendongkolnya Herodes atas kebisuan YESUS, segera berusaha mengambil kesempatan dalam murkanya. Mereka menyampaikan tuduhan-tuduhan mereka, mengatakan bahwa YESUS menyebut Herodes sebagai serigala; bahwa ambisi utama-Nya selama bertahun-tahun adalah menyingkirkan keluarga Herodes; bahwa Ia berusaha menetapkan suatu agama baru, dan bahwa Ia merayakan Paskah sehari sebelum yang ditentukan. Walau Herodes sungguh gusar atas sikap YESUS, ia tidak kehilangan visi tujuan politik yang hendak dicapainya. Ia bertekad untuk tidak menjatuhkan hukuman mati kepada KRISTUS, baik karena ia mengalami suatu perasaan ngeri yang misterius serta tak dapat diungkapkan saat berada di hadapan-Nya, maupun karena ia masih merasa menyesal telah membunuh Yohanes Pembaptis. Di samping itu ia benci kepada para imam besar yang tidak mengijinkannya ambil bagian dalam kurban karena hubungan perzinahannya dengan Herodias.

Tetapi, alasan utama dari keputusannya untuk tidak menjatuhkan hukuman mati kepada YESUS adalah bahwa ia ingin membalas penghormatan Pilatus, dan ia beranggapan cara terbaik untuk membalasnya adalah dengan menunjukkan rasa hormat atas keputusan dan persetujuan atas pendapatnya. Tetapi, ia berbicara dengan nada sangat menghina YESUS. Berpaling kepada para pengawal dan para hamba yang mengelilingi-Nya, yang berjumlah sekitar dua ratus orang, ia berkata, “Bawa pergi orang to*** ini dan berilah ganjaran yang setimpal bagi-Nya. Lebih tepat dikatakan Ia ini seorang gila daripada seorang penjahat.”

Tuhan kita segera dibawa ke sebuah halaman yang luas, di mana segala penghinaan dan penganiayaan dilampiaskan terhadap-Nya. Halaman ini terletak di antara dua sayap istana, dan Herodes berdiri menyaksikannya dari atas podium untuk beberapa waktu lamanya. Hanas dan Kayafas ada di sampingnya, terus berusaha membujuknya untuk menjatuhkan hukuman mati kepada Juruselamat kita. Tetapi usaha mereka tak membuahkan hasil, dan Herodes menjawab dengan suara yang cukup keras hingga dapat didengar oleh para prajurit Romawi, “Tidak, aku bertindak salah jika aku menghukum-Nya.” Maksudnya ialah bahwa adalah salah menjatuhkan hukuman atas seseorang yang oleh Pilatus dinyatakan tak bersalah, meskipun Pilatus telah memberikan kehormatan padanya untuk menentukan keputusan terakhir.

Ketika para imam besar dan para musuh YESUS yang lain mendapati bahwa Herodes telah berketetapan untuk tidak memenuhi keinginan mereka, mereka mengirimkan utusan-utusan ke bagian kota yang disebut Acre, yang mayoritas penduduknya adalah kaum Farisi, guna memberitahukan bahwa mereka harus berkumpul di sekitar istana Pilatus, mengumpulkan khalayak ramai, menyuap mereka untuk mengadakan huru-hara serta menuntut dijatuhkannya hukuman mati atas Tuhan kita. Mereka juga mengirimkan utusan-utusan rahasia guna menggelisahkan rakyat dengan ancaman-ancaman murka ilahi jika mereka tidak mendesak agar YESUS, yang mereka sebut sebagai penghujat Allah, dijatuhi hukuman mati. Para utusan ini juga diperintahkan untuk menakut-nakuti dengan mengintimidasi warga bahwa jika YESUS tidak dihukum mati, Ia akan berpihak kepada bangsa Romawi dan membantu mereka dalam membinasakan bangsa Yahudi, sebab itulah yang dimaksudkan-Nya saat Ia berbicara tentang kerajaan-Nya yang akan datang. Mereka berusaha menyebarluaskan berita di bagian-bagian lain kota bahwa Herodes telah menjatuhkan hukuman mati atas-Nya, namun demikian tetap dipandang perlu rakyat juga menyatakan keinginan mereka, sebab para pengikut-Nya patut diwaspadai, sebab jika Ia dibebaskan, Ia akan bergabung dengan bangsa Romawi, menimbulkan kekacauan pada hari raya, dan melakukan balas dendam yang paling biadab. Sebagian di antara mereka menyebarkan berita-berita yang sebaliknya, pula berita-berita yang mencemaskan guna menggelisahkan penduduk dan memicu pemberontakkan; sementara yang lain membagi-bagikan uang di antara para prajurit untuk menyuap mereka agar bertindak keji terhadap YESUS, hingga mengakibatkan kematian-Nya, yang begitu ingin mereka lakukan secepat mungkin, kalau-kalau Pilatus membebaskan-Nya.

Sementara kaum Farisi menyibukkan diri dengan perkara-perkara ini, Juruselamat kita yang Terberkati menderita aniaya yang paling dahsyat dari para prajurit yang brutal, kepada siapa Herodes menyerahkan-Nya agar diperolok sebagai seorang to***. Mereka menyeret YESUS ke halaman, salah seorang dari mereka mendapatkan sebuah karung putih besar yang dulunya karung kapas, mereka membuat lubang di tengahnya dengan pedang, lalu melambung-lambungkannya ke atas kepala YESUS, setiap tindakan disertai dengan tawa riuh-rendah yang paling memuakkan. Seorang prajurit lain membawa sebuah jubah usang berwarna merah, melilitkannya sekeliling leher-Nya, sementara para prajurit yang lain berlutut di hadapan-Nya - meninju-Nya - menganiaya-Nya - meludahi-Nya - menampar pipi-Nya, sebab Ia tidak mau menjawab raja, mengolok-olok-Nya dengan berpura-pura menghaturkan sembah - melemparkan lumpur kepada-Nya - menjerat pinggang-Nya, berpura-pura mengajak-Nya menari; lalu, setelah mencampakkan-Nya, menyeret-Nya dalam sebuah selokan yang mengalir di samping halaman, mengakibatkan kepala-Nya yang kudus membentur pilar-pilar dan dinding-dinding tembok. Akhirnya mereka membuat-Nya berdiri kembali, hanya untuk melanjutkan aniaya mereka. Para prajurit dan hamba Herodes yang berkumpul di halaman ini berjumlah hingga dua ratus orang, dan semua beranggapan berbuat jasa bagi raja dengan menganiaya YESUS dengan jenis kekejian yang baru. Banyak di antara mereka yang disuap oleh para musuh YESUS agar memukul-Nya di bagian kepala dengan tongkat-tongkat mereka, dan mereka mempergunakan kesempatan dalam kekacauan dan keributan ini untuk melakukannya. YESUS memandang mereka semua dengan penuh belas kasihan. Rasa sakit yang luar biasa terkadang menyebabkan-Nya merintih dan mengerang, tetapi para musuh-Nya bersukacita atas sengsara-Nya, mengejek erangan-Nya, dan tak satu pun dari antara orang banyak itu yang memperlihatkan barang sedikit pun rasa belas kasihan. Aku melihat darah mengalir dari kepala-Nya, tiga kali pukulan yang hebat membuat-Nya jatuh terkapar. Para malaikat menangis di samping-Nya, mereka meminyaki kepala-Nya dengan balsam surgawi. Dinyatakan kepadaku bahwa jika bukan karena pertolongan surgawi ini, pastilah Ia telah mati karena luka-luka-Nya itu. Orang-orang Filistin di Gaza, yang melampiaskan murka mereka dengan menyiksa Simson malang yang buta, masih jauh dari keji dibandingkan algojo-algojo biadab Tuhan kita.

Namun demikian, para imam sudah tak sabar untuk segera kembali ke Bait Allah, sebab itu, setelah meyakinkan bahwa instruksi-instruksi mereka atas YESUS dilaksanakan, mereka kembali kepada Herodes dan berusaha membujuknya untuk menjatuhkan hukuman mati kepada Tuhan kita. Tetapi, Herodes, yang telah berketetapan untuk menyenangkan hati Pilatus, menolak mengabulkan keinginan mereka dan mengirimkan YESUS kembali dengan berpakaian bagaikan seorang to***.

Yesus Digiring Kembali
dari Istana Herodes ke Istana Pilatus

Para musuh Yesus sungguh murka serta mendongkol diperintahkan untuk membawa Yesus kembali, dalam keadaan masih belum dijatuhi hukuman mati, kepada Pilatus, yang telah berulangkali menyatakan bahwa Ia tak bersalah. Mereka menggiring-Nya lewat jalan memutar yang lebih jauh, guna, pertama, membiarkan penduduk di bagian kota itu melihat-Nya dalam keadaan direndahkan hingga begitu hina, dan kedua, memberikan lebih banyak waktu bagi para utusan mereka untuk menimbulkan kekacauan dalam warga masyarakat.

Jalanan yang mereka lalui berbatu-batu dan tak rata. Para prajurit, dengan disemangati oleh kaum Farisi, nyaris tak henti barang sejenak dalam menganiaya Yesus. Jubah panjang yang dikenakan pada-Nya merintangi langkah kaki-Nya dan menyebabkan-Nya jatuh tersungkur lebih dari satu kali. Para pengawal-Nya yang bengis, pula banyak di antara khalayak ramai yang brutal, bukannya menolong Dia yang telah kehabisan tenaga, malahan berusaha memaksa-Nya bangkit kembali dengan melancarkan pukulan dan tendangan bertubi.

Dalam segala aniaya ini, Yesus tak melawan sedikit pun. Tak kunjung henti Ia memanjatkan doa kepada BapaNya, mohon rahmat serta kekuatan agar Ia mampu bertahan dan menuntaskan karya SengsaraNya demi penebusan kita.

Kira-kira pukul delapan pagi ketika arak-arakan tiba di istana Pilatus. Khalayak ramai penuh sesak, kaum Farisi terlihat berjalan kian-kemari, berusaha keras menghasut serta membangkitkan amarah orang banyak. Pilatus, yang ingat akan terjadinya huru-hara tahun sebelumnya pada saat Paskah, mengerahkan hingga lebih dari seribu prajurit, yang ditempatkannya di sekitar Praetorium, forum dan istananya.

Santa Perawan, kakak perempuannya - Maria (anak Heli), Maria (anak Kleopas), Magdalena, dan sekitar duapuluh orang perempuan kudus, berdiri di sebuah ruangan di mana mereka dapat menyaksikan segala sesuatu yang terjadi; pada awalnya Yohanes ada bersama mereka.

Kaum Farisi menggiring Yesus, masih dalam pakaian seorang tolol, menerobos di antara khalayak ramai yang marah. Mereka mengerahkan kekuasaan mereka guna mengumpulkan para penjahat yang paling keji dan bengis dari kalangan sampah masyarakat. Seorang hamba yang diutus oleh Herodes telah tiba di hadapan Pilatus dengan suatu pesan yang menyatakan bahwa tuannya sungguh menghargai rasa hormat Pilatus atas pendapatnya, tetapi ia menganggap Orang Galilea yang tersohor ini tak lebih dari seorang tolol belaka, karenanya ia memperlakukan-Nya demikian, dan sekarang mengirimkan-Nya kembali. Pilatus cukup puas mendapati bahwa Herodes mempunyai pendapat yang sama dengan pendapatnya, sebab itu ia membalasnya dengan suatu pesan yang menyatakan rasa hormatnya. Sejak saat itu, Pilatus dan Herodes bersahabat, setelah saling bermusuhan selama bertahun-tahun; sesungguhnya, sejak robohnya terowongan air.*

Yesus sekali lagi digiring ke kediaman Pilatus. Para prajurit pembantu menyeret-Nya menaiki anak-anak tangga dengan kebrutalan mereka seperti biasanya; kaki-Nya terjerat jubah-Nya yang panjang dan Ia jatuh terjerembab di atas anak tangga pualam berwarna putih, yang segera menjadi merah karena darah yang mengucur dari kepala-Nya yang kudus. Para musuh-Nya mengambil tempat duduk di pintu masuk forum; khalayak ramai tertawa riuh-rendah melihat Yesus jatuh tersungkur, para prajurit pembantu, bukannya membantu-Nya bangkit, malahan memukuli kurban mereka yang tak bercela. Pilatus berbaring di sebuah kursi yang empuk dan nyaman, dengan sebuah meja kecil di hadapannya, dikelilingi para pejabat serta orang-orang yang membawa kepingan perkamen berisi tulisan dalam tangan mereka. Pilatus melangkah maju dan berkata kepada para pendakwa Yesus, “Kamu telah membawa orang ini kepadaku sebagai seorang yang menyesatkan rakyat. Kamu lihat sendiri bahwa aku telah memeriksa-Nya, dan dari kesalahan-kesalahan yang kamu tuduhkan kepada-Nya tidak ada yang kudapati pada-Nya. Dan Herodes juga tidak, padahal aku mengirimkan kalian kepadanya. Sesungguhnya tidak ada suatu apapun yang dilakukan-Nya yang setimpal dengan hukuman mati. Jadi aku akan menghajar Dia, lalu melepaskan-Nya.”

Ketika kaum Farisi mendengar kata-kata ini, mereka menjadi gusar dan berusaha keras dengan segala daya upaya mereka untuk menghasut rakyat agar memberontak; mereka membagi-bagikan uang di antara khalayak ramai demi tercapainya tujuan yang mereka inginkan. Pilatus memandang sekeliling dengan sikap meremehkan dan berbicara kepada mereka dalam kata-kata yang menghina.

Merupakan saat yang tepat waktu itu, menurut kebiasaan lama, rakyat memperoleh hak istimewa untuk menuntut dibebaskannya seorang tahanan. Kaum Farisi telah menyebarkan utusan-utusan mereka untuk membujuk khalayak ramai menuntut kematian, dan bukannya pembebasan, Tuhan kita. Pilatus berharap mereka menuntut agar Yesus dibebaskan, karenanya ia memutuskan untuk memberikan pilihan kepada mereka, Yesus atau seorang penjahat bernama Barabas. Barabas ini telah terbukti melakukan pembunuhan keji dalam pemberontakan, dan juga terbukti melakukan banyak kejahatan lain, disamping itu, ia sangat dibenci masyarakat.

Terjadi suatu keributan di antara orang banyak. Sebagian dari antara mereka maju dan juru bicara mereka berbicara kepada Pilatus dengan suara lantang, katanya, “Berikanlah kepada kami hak yang senantiasa engkau berikan pada hari raya.” Pilatus menjawab, “Ada padaku kebiasaan untuk membebaskan bagi kalian seorang penjahat pada hari raya Paskah. Siapa yang kalian kehendaki kubebaskan bagi kalian, Barabas atau Yesus, yang disebut Kristus?”

Mekipun Pilatus dalam benaknya tidak merasa yakin bahwa Yesus adalah Raja Orang Yahudi, namun ia menyebut-Nya demikian, sebagian karena kesombongannya sebagai orang Romawi merasakan kegembiraan dapat merendahkan orang Yahudi dengan menyebut seorang yang penampilannya begitu hina sebagai raja mereka; sebagian lagi karena ia merasakan adanya semacam keyakinan batin bahwa Yesus mungkin adalah sungguh raja ajaib itu, Mesias yang dijanjikan. Ia melihat dengan jelas bahwa para imam mengajukan tuduhan-tuduhan melawan Yesus hanya karena rasa iri dan dengki semata. Hal ini membangkitkan hasratnya untuk mengecewakan mereka, dan hasrat ini semakin meningkat dengan adanya cahaya samar kebenaran yang pada tingkat tertentu menerangi pikirannya. Timbul suatu kebimbangan di antara khalayak ramai ketika Pilatus melontarkan pertanyaan; beberapa suara menjawab, “Barabas.” Seorang hamba yang diutus oleh isteri Pilatus meminta waktunya sebentar. Pilatus meninggalkan podium dan hamba itu menghaturkan tanda perjanjian yang diberikan Pilatus kepada isterinya, seraya berkata, “Claudia Procles memohon anda mengingat janji anda pagi ini.” Kaum Farisi dan para imam berjalan dengan cemas dan tergesa-gesa di antara khalayak ramai, mengancam sebagian dan memberikan perintah kepada yang lain, meskipun, sesungguhnya, sedikit saja yang masih diperlukan untuk menghasut orang banyak yang sudah mulai mengamuk.

Bunda Maria, bersama Magdalena, Yohanes dan para perempuan kudus, berdiri di suatu pojok di forum, gemetar dan menangis. Meskipun Bunda Yesus sepenuhnya paham bahwa penebusan umat manusia tidak akan mungkin diperoleh selain melalui wafat Putranya, namun ia diliputi dukacita hebat seorang ibunda, dengan hasrat yang kuat untuk menyelamatkan Putranya dari aniaya dan dari kematian yang akan segera ditanggung-Nya. Bunda Maria mohon dengan sangat kepada Tuhan Allah untuk tidak membiarkan kejahatan yang begitu ngeri itu terjadi, ia mengulangi kata-kata Yesus di Taman Zaitun, “Sekiranya mungkin, biarkanlah piala ini berlalu.” Masih terbersit seberkas harapan samar dalam hatinya, sebab tersiar kabar bahwa Pilatus bermaksud membebaskan Yesus. Kelompok-kelompok orang, terutama penduduk Kapernaum, di mana Yesus mengajar, dan kepada siapa Ia banyak melakukan mukjizat penyembuhan, bergerombol di sekelilingnya; mereka berpura-pura tidak mengenal baik ibunda Yesus maupun para perempuan kudus yang menyertainya, yang sedang menangis pilu; hanya sesekali mereka mencuri pandang, seolah kebetulan semata, pada sosok-sosok yang berkerudung rapat itu. Banyak yang berharap, termasuk juga para perempuan kudus, bahwa mereka ini setidak-tidaknya akan menolak Barabas dan mohon pembebasan bagi Juruselamat dan Penolong mereka; tetapi harapan ini, sungguh sayang, sia-sia belaka.

Pilatus mengirimkan kembali tanda perjanjian itu kepada isterinya sebagai jaminan akan maksud baiknya menepati janji. Lagi, ia maju ke podium dan duduk di atas meja kecil. Imam-imam kepala juga ikut duduk. Sekali lagi Pilatus bertanya, “Siapa di antara kedua orang itu yang kamu kehendaki kubebaskan bagimu?” Suara khalayak ramai menggema di seluruh balai pengadilan, “Jangan Dia, melainkan Barabas!” Jawab Pilatus, “Jika begitu, apakah yang harus kuperbuat dengan Yesus, yang disebut Kristus?” Serempak mereka semua berteriak riuh-rendah “Salibkan Dia! Salibkan Dia!” “Kejahatan apa yang sebenarnya telah dilakukan Orang ini?” tanya Pilatus untuk ketiga kalinya. “Tidak ada suatu kesalahan pun yang kudapati pada-Nya. Aku akan menyesah Dia, lalu melepaskan-Nya”

Segera teriakan, “Salibkan Dia! Salibkan Dia!” membahana di antara khalayak ramai, dan suara itu menggema bagaikan suatu badai dahsyat dari neraka; para imam besar dan kaum Farisi berteriak-teriak seraya bergegas kian kemari bagaikan orang gila. Akhirnya Pilatus menyerah, karakternya yang lemah dan pengecut tak sanggup menghadapi demonstrasi yang begitu brutal. Ia menyerahkan Barabas kepada orang banyak, dan menyerahkan Yesus agar disesah.

YESUS Didera

Pilatus, yang paling bimbang dan lemah dari segala hakim, telah berkali-kali mengulangi kata-kata pengecut ini, “Tidak ada suatu kesalahan pun yang kudapati pada-Nya. Jadi aku akan menghajar Dia, lalu melepaskan-Nya.” Yang terus-menerus dijawab oleh orang-orang Yahudi dengan, “Salibkan Dia! Salibkan Dia!” Pilatus memutuskan untuk berpegang pada ketetapannya untuk tidak menghukum mati Tuhan kita, dan memerintahkan agar YESUS didera menurut cara bangsa Romawi. Sebab itu, para pengawal diperintahkan untuk menggiring-Nya menerobos khalayak ramai yang marah ke forum, yang mereka lakukan dengan cara yang paling brutal, sembari melancarkan aniaya atas-Nya, serta mendaratkan pukulan bertubi ke tubuh-Nya dengan tongkat-tongkat mereka. Pilar di mana para penjahat didera berdiri di sebelah utara istana Pilatus, dekat gardu jaga. Para algojo segera tiba dengan membawa cambuk, tongkat, dan tali tampar, yang mereka lambung-lambungkan sembari menyeringai. Mereka berjumlah enam orang, berkulit gelap kehitaman, agak lebih pendek dari YESUS; dada mereka bercelemek selembar kulit, atau suatu material yang dekil; pinggang mereka berikat, dan tangan-tangan mereka yang berbulu serta kekar, polos tanpa hiasan. Mereka adalah para penjahat dari perbatasan Mesir yang dijatuhi hukuman kerja paksa karena kejahatan-kejahatan yang telah mereka lakukan. Mereka terutama dipekerjakan dalam pembangunan kanal-kanal, dan pembangunan gedung-gedung publik; penjahat yang paling bengis dipilih untuk bertindak sebagai algojo-algojo di Praetorium.

Orang-orang yang kejam ini telah seringkali mendera para penjahat yang malang hingga tewas di pilar ini. Mereka serupa binatang buas atau iblis dan tampak seperti setengah mabuk. Mereka meninju Tuhan kita dengan kepalan tangan mereka dan menyeret-Nya dengan menarik tali-temali yang membelenggu-Nya, meskipun Ia mengikuti mereka tanpa melawan sedikit pun. Akhirnya, dengan keji mereka mencampakkan tubuh-Nya hingga jatuh terkapar setelah membentur pilar. Pilar ini, yang terletak di tengah-tengah halaman, berdiri sendiri, tidak menyangga suatu bagian bangunan manapun. Pilar tidak terlalu tinggi, seorang yang jangkung dapat menggapai puncaknya dengan menjulurkan tangannya; ada suatu cincin besi yang besar di bagian puncak dan dua cincin serta kait-kait agak sedikit di bawahnya. Mustahil menggambarkan kekejian yang dilakukan para algojo ini terhadap YESUS. Mereka mengoyakkan mantol yang dikenakan pada-Nya sebagai olok-olok di istana Herodes dan hampir-hampir membuat-Nya terkapar lagi.

http://www.hollywoodjesus.com/movie/passion2/21.jpg

YESUS menggigil gemetar sementara Ia berdiri di depan pilar. Ia melepaskan pakaian-Nya secepat yang Ia mampu dengan kedua tangan-Nya yang bengkak-bengkak dan berdarah. Satu-satunya balasan yang Ia lakukan ketika para algojo-Nya yang beringas menyiksa serta menganiaya-Nya adalah memanjatkan doa bagi mereka dengan cara yang paling menyentuh hati. Sekali Ia memalingkan wajah-Nya kepada Bunda-Nya, yang berdiri terpaku, sepenuhnya tenggelam dalam dukacita yang hebat. Tatapan ini melumpuhkannya; Bunda Maria lemas tak sadarkan diri dan pastilah ia roboh terkapar andai para perempuan kudus yang bersamanya tidak menopangnya. YESUS melingkarkan kedua tangan-Nya sekeliling pilar, kedua tangan-Nya diangkat begitu rupa, para prajurit pembantu mengikatkannya pada cincin besi yang ada di puncak pilar; kemudian mereka mengerek kedua tangan-Nya pada suatu ketinggian tertentu hingga kedua kaki-Nya, yang dibelenggu erat ke dasar pilar, hampir-hampir tak menyentuh tanah. Demikianlah Yang Mahakudus dari Yang Kudus diregangkan dengan keji, tanpa selembar kain pun, pada sebuah pilar yang dipergunakan untuk menghukum para penjahat besar. Lalu dua algojo bengis yang haus akan darah mulai mendera tubuh-Nya yang kudus dari kepala hingga kaki dengan cara yang paling biadab. Cambuk atau cemeti pertama mereka gunakan, tampak padaku, terbuat dari semacam kayu putih yang lentur, tetapi mungkin juga terbuat dari otot sapi atau kulit.

Khalayak ramai Yahudi berkerumun tak jauh dari pilar di mana hukuman ngeri dilaksanakan, prajurit-prajurit Romawi ditempatkan di setiap penjuru sekitarnya. Banyak orang berjalan hilir mudik, sebagian dalam kebisuan, sebagian seraya membicarakan YESUS dengan kata-kata yang paling menghina, sedikit orang tampak tergerak hatinya, dan aku pikir aku melihat berkas-berkas sinar memancar dari Tuhan kita dan masuk ke dalam hati orang-orang yang hatinya tergerak oleh belas kasihan. Aku melihat gerombolan-gerombolan para pemuda berani namun keji, yang sepanjang waktu itu menyibukkan diri dekat gardu jaga mempersiapkan cambuk-cambuk baru, sementara yang lainnya pergi mencari semak-semak duri. Beberapa hamba para imam besar datang menghampiri para algojo yang brutal dan memberikan sejumlah uang; juga satu tempayan besar berisi cairan merah yang memabukkan dan melipatgandakan keberingasan mereka sepuluh kali lipat terhadap Kurban yang tak bercela. Dua algojo terus menghajar Tuhan kita dengan keganasan yang tak kunjung padam hingga seperempat jam lamanya, lalu mereka digantikan oleh dua orang lainnya. Sekujur tubuh YESUS penuh dengan bilur-bilur hitam, biru dan merah; darah jatuh menetes membasahi lantai, namun demikian teriakan riuh-rendah yang berasal dari antara khalayak ramai Yahudi menunjukkan bahwa kekejian mereka masih jauh dari terpuaskan.

Malam itu udara dingin menggigit, pagi hari gelap berawan; rintik hujan es membasahi bumi, hingga mencengangkan semua orang, tetapi menjelang pukul duabelas siang, hari menjadi cerah dan matahari bersinar terang.

Dua algojo baru mulai mendera YESUS sekuat tenaga; mereka mempergunakan jenis tongkat yang berbeda - semacam tongkat berduri yang bertabur simpul dan ujung-ujung runcing. Cambukan dengan tongkat ini merobek serta mengoyak daging-Nya, darah-Nya muncrat hingga membasahi tangan-tangan mereka. Ia mengerang, berdoa dan gemetar hebat. Saat itulah, beberapa orang asing yang menunggang onta melintasi forum; mereka berhenti sesaat dan diliputi rasa belas kasihan serta ngeri akan apa yang mereka saksikan; beberapa orang yang ada di sana menjelaskan kepada mereka apa yang telah terjadi. Beberapa orang dari para pengelana ini telah dibaptis oleh Yohanes, sementara yang lainnya ikut mendengarkan khotbah YESUS di bukit. Suara riuh-rendah dan hiruk-pikuk khalayak ramai bahkan terlebih lagi memekakkan telinga dekat kediaman Pilatus.

Dua algojo baru lainnya menggantikan dua algojo yang terakhir disebut di atas. Mereka segera mulai mendera; cambuk mereka terdiri dari rantai-rantai kecil, atau ikat dengan kait-kait besi, yang menembus hingga ke tulang, mencabik seta mencongkel potongan-potongan besar daging setiap kali dicambukkan. Sungguh malang! apakah yang dapat dikatakan untuk menggambarkan peristiwa yang begitu ngeri - yang begitu menghancur-remukkan hati ini!

Namun demikian, kekejian orang-orang yang tak berperikemanusiaan ini belum juga terpuaskan; mereka melepaskan belenggu YESUS, lalu lagi membelenggu-Nya dengan punggung-Nya menghadap ke pilar. Karena YESUS sudah sama sekali tak mampu menopang DiriNya untuk berdiri tegak, mereka melilitkan tali-temali sekeliling pinggang-Nya, di bawah kedua lengan-Nya, di atas kedua lutut-Nya, dan setelah mengikatkan kedua tangan-Nya erat-erat pada cincin-cincin yang ada di bagian atas pilar, mereka mulai mendera-Nya lagi bahkan dengan lebih beringas dari sebelumnya. Seorang di antara mereka menghajar-Nya bertubi-tubi pada bagian wajah-Nya dengan sebatang tongkat baru. Tubuh Tuhan kita sepenuhnya hancur remuk - yang ada hanya suatu luka yang besar. Ia memandang para penganiaya-Nya dengan kedua mata-Nya bersimbah darah, seolah mohon belas kasihan; tetapi kebrutalan mereka semakin menjadi, dan setiap kali, erangan-Nya menjadi semakin lirih.

Penderaan yang ngeri terus berlangsung tanpa jeda selama tigaperempat jam lamanya, ketika seorang asing dari rakyat jelata, seorang kerabat Ctesiphon, orang buta yang dicelikkan YESUS, menyeruak maju dari antara orang banyak dan menghampiri pilar dengan sebilah pisau yang bentuknya seperti celurit dalam genggamannya. “Berhenti!” serunya penuh amarah, “Berhenti! Jangan lagi kalian mendera Orang yang tak berdosa ini hingga tewas!” Para algojo yang setengah mabuk amat terperanjat, mereka diam terpaku, sementara laki-laki ini secepat kilat memotong tali-temali yang membelenggu YESUS ke pilar, lalu ia pun menghilang di antara orang banyak. YESUS jatuh terkapar nyaris tak sadarkan diri di atas ubin yang basah oleh darah-Nya. Para algojo meninggalkan-Nya seorang diri di sana, mereka bergabung kembali dengan kawanan mereka yang keji, yang sedang bersenang-senang di gardu jaga dengan minum-minum dan menganyam sebuah mahkota duri.

Tuhan kita tetap tergeletak untuk beberapa waktu lamanya di lantai, di kaki pilar, bermandikan darah-Nya sendiri. Dua atau tiga gadis pemberani datang mendekat guna memuaskan rasa ingin tahu mereka dengan mengamati-Nya. Mereka memandang sekilas, lalu buru-buru memalingkan wajah mereka karena jijik, saat itu rasa sakit yang diakibatkan luka-luka YESUS begitu dahsyat hingga Ia mengangkat kepala-Nya yang berdarah dan memandang mereka. Mereka segera mundur; para prajurit serta pengawal tertawa terbahak dan menggoda mereka.

Sepanjang penderaan Tuhan kita, aku melihat malaikat-malaikat yang menangis begitu sering menghampiri-Nya; aku juga mendengar doa-doa yang terus-menerus dipanjatkan YESUS kepada BapaNya demi pengampunan dosa-dosa kita - doa-doa yang tak kunjung henti sepanjang pelaksanaan hukuman keji ini. Sementara Ia terkapar bermandikan DarahNya, aku melihat seorang malaikat mengunjukkan kepada-Nya suatu bejana berisi minuman berwarna cerah yang tampaknya memulihkan tenaga-Nya hingga ke suatu tingkat tertentu. Para prajurit pembantu segera datang, dan setelah mendaratkan beberapa pukulan pada tubuh-Nya dengan tongkat mereka, memaksa-Nya bangkit berdiri dan mengikuti mereka. YESUS dengan teramat susah-payah berusaha bangkit, tungkai-tungkai-Nya yang gemetar nyaris tak mampu menyangga berat tubuh-Nya. Mereka tidak memberi-Nya waktu untuk mengenakan pakaian-Nya, melainkan melemparkan jubah-Nya ke atas bahu-Nya yang telanjang dan menggiring-Nya dari pilar ke gardu jaga. YESUS menyeka darah yang menetes menuruni wajah-Nya dengan ujung jubah-Nya. Saat Ia digiring lewat di depan bangku-bangku batu di mana para imam besar duduk, mereka berteriak-teriak liar, “Bunuh Dia! Salibkan Dia! Salibkan Dia” lalu memalingkan muka mereka dengan jijik. Para algojo menggiring-Nya masuk ke dalam gardu jaga yang penuh dengan para budak, prajurit pembantu, para tukang dan kuli, serta para berandal, tetapi tak ada prajurit.

Hiruk-pikuk murka khalayak ramai begitu menggelisahkan Pilatus, hingga ia minta bala bantuan serdadu Romawi dari Benteng Antonia, dan menempatkan pasukan-pasukan yang berdisiplin tinggi ini di sekitar gardu jaga; mereka diperkenankan berbicara dan mengolok-olok YESUS dengan berbagai macam cara, tetapi tidak diperkenankan meninggalkan barisan mereka. Para serdadu ini, yang dikirim Pilatus untuk mengawas-awasi khalayak ramai, berjumlah sekitar seribu orang.

Bunda Maria Saat YESUS Didera

http://www.hollywoodjesus.com/movie/passion2/60.jpeg

Aku melihat Santa Perawan tenggelam dalam ekstasi yang terus-menerus sepanjang waktu penderaan Putra Ilahinya. Ia menyaksikan serta menderita dengan kasih dan dukacita yang tak terlukiskan segala siksa aniaya yang diderita Putranya. Ia mengerang lirih, kedua matanya sembab dan merah karena airmata. Sehelai kerudung lebar membalut tubuhnya dan ia menyandarkan diri pada Maria Heli, kakak perempuannya*, yang telah lanjut usia dan wajahnya mirip benar dengan ibunda mereka, St. Anna. Maria Kleopas, puteri Maria Heli, juga ada di sana. Para sahabat YESUS dan Bunda Maria berdiri bergerombol, mereka mengenakan kerudung lebar, tampak larut dalam duka dan kecemasan yang hebat; mereka menangis seakan sedang menghadapi ajal. Bunda Maria mengenakan gaun biru panjang, yang sebagian tertutup oleh mantol wol berwarna putih, kerudungnya berwarna putih kekuningan. Magdalena nyaris bagaikan seorang yang telah kehilangan akal karena dukacita, rambutnya tergerai lepas di bawah kerudungnya.

Ketika YESUS jatuh terkapar di kaki pilar setelah penderaan, aku melihat Claudia Procles, isteri Pilatus, mengirimkan beberapa potong kain lenan yang lebar kepada Bunda Tuhan. Aku tidak tahu apakah perempuan yang lembut hati ini berpikiran bahwa YESUS akan dibebaskan, dan bahwa BundaNya pasti akan membutuhkan lenan untuk membalut luka-luka-Nya. Setelah penderaan berakhir, Bunda Maria tersadar kembali; ia melihat Putra Ilahinya sama sekali terkoyak dan tercabik habis, digiring oleh para prajurit pembantu setelah penderaan. YESUS menyeka mata-Nya yang bersimbah darah agar Ia dapat memandang BundaNya; dan BundaNya mengulurkan kedua tangannya kepada sang Putra, sementara terus terpaku menatap jejak-jejak darah yang ditinggalkan kaki-Nya.

Segera aku melihat Bunda Maria dan Magdalena menghampiri pilar di mana YESUS didera; khalayak ramai ada dikejauhan. Keduanya setengah tersembunyi di balik para perempuan kudus lainnya dan juga segelintir orang yang baik hati yang bergabung bersama mereka. Mereka berlutut di ubin dekat pilar dan menyeka darah kudus dengan kain lenan yang diberikan oleh Claudia Procles. Saat itu Yohanes tidak bersama para perempuan kudus, yang berjumlah sekitar duapuluh orang. Putera-putera Simeon dan putera Obed, juga Veronica, pula dua kemenakan Yusuf dari Arimatea - Aram dan Themni - berada di Bait Allah; mereka tampak dirundung duka. Waktu itu tak lebih dari pukul sembilan pagi ketika penderaan berakhir.

[i]* Maria Heli seringkali disebut dalam kisah ini. Menurut Sr. Emmerick, ia adalah puteri St. Yoakim dan St. Anna, yang dilahirkan hampir duapuluh tahun sebelum kelahiran Santa Perawan. Ia bukanlah anak terjanji, dan disebut Maria Heli, untuk membedakannya dari mereka dengan nama yang sama, sebab ia puteri Yoakim, yang disebut juga Heliachim. Suaminya bernama Kleopas, dan puterinya bernama Maria Kleopas. Tetapi, puterinya ini, lebih tua usianya dari bibinya, yaitu Santa Perawan. Maria Kleopas menikah pertama dengan Alfeus, dengan siapa ia beroleh tiga orang putera, yang kelak menjadi para rasul, yaitu Simon, Yakobus Muda dan Tadeus. Dari suaminya yang kedua, ia beroleh seorang putera, Sabat, dan seorang putera lain bernama Simon, dari suaminya yang ketiga, Yonas. Simon kelak menjadi Uskup Yerusalem. [/i]

Gambaran tentang
Penampilan Pribadi Santa Perawan

Ketika peristiwa-peristiwa sedih ini terjadi, aku berada di Yerusalem, terkadang di suatu tempat, terkadang di tempat lainnya. Aku tak berdaya, sengsaraku begitu hebat, dan aku merasa seakan-akan hendak mati. Saat Mempelai-ku yang mengagumkan didera, aku duduk dekat sana, di bagian di mana orang Yahudi tak berani mendekat, takut menajiskan diri; tetapi aku tidak takut menajiskan diri, aku hanya rindu kiranya setetes darah Tuhan jatuh ke atasku guna menyucikanku. Hatiku sama sekali hancur-luluh hingga aku pikir pastilah aku mati, sebab aku tak dapat memberikan kelegaan pada Yesus, dan setiap deraan yang diderita-Nya membuatku menangis dan mengerang begitu rupa hingga aku merasa heran bahwa aku tidak diusir pergi. Ketika para algojo menggiring Yesus ke gardu jaga untuk memahkotai-Nya dengan mahkota duri, timbul hasrat kuat dalam diriku untuk mengikuti-Nya agar aku dapat bersatu dengan Dia dalam sengsara-Nya. Saat itulah Bunda Yesus, dengan ditemani para perempuan kudus, menghampiri pilar dan menyeka darah yang membasahi pilar dan lantai sekitarnya. Pintu gardu jaga terbuka; aku mendengar tawa liar orang-orang yang tak punya hati, yang sedang sibuk menyelesaikan anyaman mahkota duri yang mereka persiapkan bagi Tuhan kita. Aku begitu dikuasai oleh duka yang pedih, tetapi aku berusaha menyeret diriku mendekati tempat di mana Tuhan kita hendak dimahkotai duri.

Lagi, aku melihat Santa Perawan; rona wajahnya pucat pasi, matanya sembab dan merah karena airmata, tetapi wibawa pembawaannya yang bersahaja sungguh tak terlukiskan. Kendati dahsyatlah dukacita dan sengsaranya, kendati lelah letih tubuhnya (sebab ia telah menempuh perjalanan panjang sejak sore sebelumnya menyusuri jalan-jalan Yerusalem, dan melintasi Lembah Yosafat), penampilannya tenang dan bersahaja, tak satu pun lipatan gaunnya yang tak tertata rapi pada tempatnya. Ia memandang sekeliling dengan agung; kerudungnya jatuh dengan anggun di atas pundaknya. Gerak-geriknya lemah-lembut, dan walau hatinya didera dukacita yang teramat pahit, raut wajahnya tenang dan penuh penyerahan diri. Gaunnya basah oleh tetes-tetes embun yang jatuh semalam, dan oleh airmata yang mengucur begitu deras dari pelupuk matanya; jika tidak, pastilah gaunnya itu tanpa cela. Keelokan wajahnya sungguh luar biasa, tak dapat diungkapkan dengan kata-kata, sebab melampaui keelokan manusia - merupakan perpaduan antara keagungan, kekudusan, kesahajaan dan kemurnian.

Penampilan Maria Magdalena sama sekali berbeda; ia lebih tinggi dan perawakannya lebih kokoh, ekspresi wajahnya memancarkan keteguhan hati, namun keelokan wajahnya nyaris sirna oleh hasrat hati yang begitu lama diumbarnya, dan oleh tobat yang total dan duka hebat yang ia rasakan sesudahnya. Sungguh iba memandangnya; Maria Magdalena adalah gambaran keputusasaan, rambutnya yang panjang tergerai, sebagian tertutup kerudungnya yang basah dan koyak; penampilannya bagaikan seorang yang tenggelam dalam sengsara, nyaris gila karena dukacita. Banyak penduduk Magdala berdiri di sekelilingnya, mengamatinya dengan terkejut dan penuh selidik, sebab mereka mengenalnya di masa-masa yang lampau, unggul dalam kekayaan dan sesudahnya terpuruk dalam sengsara yang hina. Mereka menunjuk-nunjuk dengan jari mereka, bahkan melemparinya dengan lumpur; tetapi Maria Magdalena tak melihat apa-apa, tak mengenal siapa-siapa, tak merasakan apa-apa, selain dukacita pilu yang menyayat hatinya.

YESUS Dimahkotai Duri

http://www.hollywoodjesus.com/movie/passion2/68.jpeg

Tak lama setelah Sr Emmerick melanjutkan kisah penglihatannya akan Sengsara, lagi, ia sakit parah, terserang demam dan tersiksa oleh rasa dahaga yang hebat hingga lidahnya kering dan melekat ke langit-langitnya; pada hari Senin setelah Minggu Keempat Prapaskah, tenaganya terkuras habis hingga dengan susah payah, dan setelah banyak jeda istirahat, barulah ia dapat mengisahkan segala yang diderita Tuhan kita saat Ia dimahkotai duri. Sr Emmerick nyaris tak dapat berbicara, sebab ia sendiri ikut merasakan setiap gejolak peristiwa yang ia kisahkan sebagai berikut:

Pilatus berulang kali mengecam khalayak ramai sepanjang masa penderaan YESUS, tetapi mereka segera menyelanya dengan berteriak-teriak, “Ia harus dihukum mati, bahkan jika kami harus mati untuk itu.” Ketika YESUS digiring ke gardu jaga, mereka semua berteriak-teriak lagi, “Salibkan Dia, salibkan Dia!”

Sesudah itu ada hening sesaat. Pilatus sibuk memberikan berbagai perintah kepada para prajurit; para hamba imam-imam besar datang membawakan minuman segar bagi mereka. Kemudian Pilatus, yang kepercayaannya terhadap takhayul menjadikannya gelisah, masuk ke bagian dalam istananya guna mohon petunjuk para dewa dan membakar dupa bagi mereka.

Ketika Santa Perawan dan para perempuan kudus selesai membersihkan darah YESUS yang membasahi pilar dan sekitarnya, mereka meninggalkan forum dan pergi ke sebuah rumah kecil dekat sana; aku tidak tahu siapa pemilik rumah itu. Yohanes, aku pikir, tidak ada di sana saat YESUS didera.

Sebuah serambi melingkari bagian dalam gardu jaga di mana Tuhan kita dimahkotai duri; pintu-pintunya terbuka. Para bajingan yang pengecut, yang menanti dengan penuh gairah untuk segera memuaskan kekejian mereka dengan menganiaya serta menyiksa Tuhan kita, berjumlah sekitar limapuluh orang; sebagian besar dari antara mereka adalah para hamba atau pelayan para sipir penjara dan prajurit. Khalayak ramai berkerumun sekeliling gardu jaga, tetapi posisi mereka segera diambil alih oleh seribu prajurit Romawi, yang berbaris rapi dan disiagakan di sana. Walau tidak diperkenankan meninggalkan barisan, para prajurit ini berperan penuh dalam aniaya dengan tawa dan tepuk-tangan mereka yang riuh-rendah guna meningkatkan keberingasan para algojo dalam melipatgandakan aniaya mereka; sama seperti sorak-sorai penonton membangkitkan semangat baru pada seorang pelawak, demikian pula teriakan-teriakan mereka meningkatkan sepuluh kali lipat kekejian orang-orang ini.

Di tengah gardu jaga tegak berdiri penggalan sebuah pilar, di atasnya diletakkan sebuah bangku tanpa sandaran yang teramat pendek, yang oleh orang-orang kejam ini ditaburi kerikil-kerikil tajam dan serpihan tembikar. Kemudian, mereka merenggut jubah YESUS dengan kasar, dengan demikian mengakibatkan luka-luka-Nya terkoyak lagi. Lalu, mereka melemparkan ke atas pundak-Nya sebuah mantol usang berwarna merah yang panjangnya tak sampai ke lutut; menyeret-Nya ke bangku yang telah mereka persiapkan, menghempaskan-Nya dengan brutal ke atasnya, setelah terlebih dulu menancapkan mahkota duri ke atas kepala-Nya. Mahkota duri ini terbuat dari tiga ranting duri yang dianyam, sebagian besar durinya sengaja dibengkokkan ke dalam agar menusuk serta menembusi kepala Tuhan kita. Sesudah menancapkan anyaman duri ini ke atas kepala-Nya, mereka mengencangkannya kuat-kuat dan mengikatkannya di belakang kepala-Nya; sekejap setelah hal ini memuaskan hati mereka, mereka menempatkan sebuah buluh besar ke dalam tangan-Nya. Semuanya ini dilakukan dengan kekhidmadan olok-olok seolah mereka sungguh sedang memahkotai-Nya sebagai raja. Kemudian, mereka merenggut buluh itu dan memukulkannya ke kepala-Nya begitu hebat hingga kedua mata-Nya segera dibanjiri darah; mereka berlutut di hadapan-Nya; mencemooh-Nya; meludahi wajah-Nya dan menghajar-Nya seraya berkata, “Salam, Raja orang Yahudi!” Lalu mereka menyepak bangku di mana Ia duduk, menarik-Nya berdiri dari tanah di mana Ia jatuh tersungkur, dan mendudukan-Nya kembali dengan kebrutalan yang paling bengis.

Mustahil menggambarkan kebiadaban yang dipikirkan serta dilakukan oleh monster-monster dalam rupa manusia ini. Derita YESUS karena kehausan, akibat demam yang disebabkan oleh luka-luka dan sengsara-Nya, begitu hebat.* Sekujur tubuh-Nya gemetar, daging-Nya tercabik dan terkoyak, lidah-Nya lekat ke langit-langit. Satu-satunya pelega dahaga yang Ia dapatkan adalah darah yang menetes dari kepala-Nya, jatuh ke atas bibir-Nya yang kering dan pecah-pecah. Pemandangan yang mengenaskan ini berlangsung selama setengah jam penuh, dan sepanjang waktu itu, para prajurit Romawi terus bertepuk-tangan dan memberikan semangat untuk penganiayaan yang terlebih dahsyat lagi.

Ecce Homo

http://terang.webs.com/photos/salib/Lihatlah%201.jpg

http://www.hollywoodjesus.com/movie/passion2/54.jpeg

Para algojo yang bengis kemudian menggiring Tuhan kita kembali ke istana Pilatus, dengan mantol merah masih tergantung di pundak-Nya, mahkota duri di kepala-Nya dan buluh dalam tangan-Nya yang dibelenggu. YESUS sama sekali tak dapat dikenali lagi, kedua mata-Nya, mulut dan jenggot-Nya sepenuhnya berlumuran darah, tubuh-Nya merupakan seonggok luka yang besar, punggung-Nya bongkok seperti seorang yang sudah lanjut usia, sementara kedua tungkai-Nya gemetar sementara Ia berjalan. Ketika Pilatus melihat-Nya muncul di pintu masuk balai pengadilan, bahkan ia (yang hatinya begitu keras tegar) terpana dan tergoncang oleh rasa ngeri dan belas kasihan, sementara para imam yang biadab dan khalayak ramai, jauh dari rasa iba, melainkan terus menghujani-Nya dengan makian dan cemooh. Ketika YESUS telah mendaki tangga, Pilatus maju ke depan, terompet dibunyikan guna memaklumkan bahwa gubernur hendak berbicara. Pilatus menyapa imam-imam kepala dan orang banyak dengan kata-kata berikut: “Lihatlah, aku membawa Dia ke luar kepada kamu, supaya kamu tahu, bahwa aku tidak mendapati kesalahan apapun pada-Nya.”

Para prajurit pembantu membawa YESUS kepada Pilatus agar orang banyak dapat sekali lagi memuaskan mata mereka yang keji atas-Nya, dalam keadaan-Nya yang direndahkan hingga begitu rupa. Ngeri dan menghancur-luluhkan hati, sungguh, itulah pemandangan yang Ia tawarkan. Suatu pekik ngeri memecah dari antara khalayak ramai, diikuti suatu keheningan yang senyap saat Ia dengan susah payah mengangkat kepala-Nya yang penuh luka, dengan mahkota duri tertancap di atas-Nya, dan mengarahkan pandangan memelas ke arah massa yang beringas. Pilatus menunjukkan YESUS kepada orang banyak seraya berseru: “Ecce homo! Lihatlah manusia itu!” Kedengkian para imam besar dan pengikut mereka, jika masih mungkin, semakin meningkat melihat YESUS, dan mereka berteriak-teriak, “Bunuh Dia, salibkan Dia!” “Belum puaskah kalian?” kata Pilatus. “Hukuman yang telah Ia terima, tak diragukan lagi, cukup untuk menghalau segala hasrat dalam DiriNya untuk menjadi raja.” Tetapi mereka semakin keras berteriak, dan massa bergabung serta dalam meneriakkan, “Salibkan Dia, salibkan Dia!” Pilatus membunyikan terompet agar orang banyak tenang, lalu katanya “Ambil Dia dan salibkan Dia; sebab aku tidak mendapati kesalahan apapun pada-Nya.” “Kami mempunyai hukum dan menurut hukum itu Ia harus mati,” jawab para imam, “sebab Ia menganggap diri-Nya sebagai Anak Allah.” Kata-kata ini, “Ia menganggap diri-Nya sebagai Anak Allah” membangkitkan rasa takut dalam diri Pilatus; ia membawa YESUS ke suatu ruangan lain dan bertanya kepada-Nya, “Dari manakah asal-Mu?” Tetapi YESUS tidak menjawab. “Tidakkah Engkau mau bicara dengan aku?” kata Pilatus, “Tidakkah Engkau tahu, bahwa aku berkuasa untuk membebaskan Engkau, dan berkuasa juga untuk menyalibkan Engkau?”

“Engkau tidak mempunyai kuasa apapun terhadap Aku,” jawab YESUS, “jikalau kuasa itu tidak diberikan kepadamu dari atas. Sebab itu: dia, yang menyerahkan Aku kepadamu, lebih besar dosanya.”

Sikap Pilatus yang lemah dan tanpa ketegasan membuat Claudia Procles diliputi perasaan cemas; lagi, ia mengirimkan tanda janji guna mengingatkan suaminya akan janjinya, tetapi Pilatus hanya menanggapi dengan suatu jawab yang samar dan berbau takhayul, yang menyatakan bahwa ia menyerahkan keputusan atas perkara ini ke dalam tangan para dewa. Para musuh YESUS, para imam besar dan kaum Farisi, mendengar kabar akan daya upaya yang dilakukan Claudia demi membebaskan YESUS. Karenanya, mereka menyebarkan isu di kalangan rakyat menyatakan bahwa para pengikut Tuhan kita telah merayu perempuan itu agar membebaskan YESUS, kemudian YESUS akan menggabungkan diri dengan bangsa Romawi dan mendatangkan kehancuran bagi Yerusalem serta kebinasaan bagi bangsa Yahudi.

Pilatus semakin bimbang dan ragu, sama sekali hilang akal; ia tidak tahu langkah apa yang harus diambilnya; lagi ia berbicara kepada para musuh YESUS menyatakan bahwa ia “tidak mendapati kesalahan apapun pada-Nya,” tetapi, dengan lebih brutal massa terlebih lagi menuntut kematian-Nya. Timbul dalam benak Pilatus ingatan akan segala tuduhan terhadap YESUS yang saling bertentangan satu dengan lainnya, mimpi-mimpi misterius isterinya, kesan yang tak dapat dijelaskan yang timbul dalam dirinya oleh perkataan-perkataan YESUS, sebab itu ia memutuskan untuk menanyai-Nya kembali guna mendapatkan informasi yang mungkin dapat mencerahkan pikirannya dalam menentukan tindakan yang harus ia ambil. Pilatus kembali ke Praetorium, seorang diri masuk ke suatu ruangan dan meminta agar Juruselamat kita dihadapkan kepadanya. Ia memandang sekilas pada Sosok yang remuk dan berdarah di hadapannya seraya berseru dalam hati, “Mungkinkah Ia ini Allah?” Lalu, ia berpaling kepada YESUS, mendesak-Nya untuk mengatakan apakah Ia Allah, adakah ia raja yang dijanjikan kepada bangsa Yahudi, di manakah kerajaan-Nya, dan termasuk dewa golongan manakah Dia. Aku hanya dapat menyampaikan makna perkataan YESUS yang khidmad dan tegas. YESUS mengatakan “bahwa kerajaan-Nya tidak berasal dari dunia ini,” dan Ia juga menyampaikan kecaman keras atas begitu banyak kejahatan tersembunyi yang mencemari hati nurani Pilatus, memperingatkannya akan kutuk ngeri yang akan menimpanya jika ia tidak bertobat; dan akhirnya menyatakan bahwa Ia Sendiri, Putra Manusia, akan datang pada akhir zaman untuk memaklumkan penghukuman yang adil atasnya.

Pilatus antara ketakutan dan murka mendengar perkataan YESUS; ia kembali ke balkon dan lagi menyatakan bahwa ia akan membebaskan YESUS; tetapi orang banyak berteriak, “Jikalau engkau membebaskan Dia, engkau bukanlah sahabat Kaisar. Setiap orang yang menganggap dirinya sebagai raja, ia melawan Kaisar.” Sebagian lainnya berteriak bahwa mereka akan mendakwanya di hadapan kaisar dengan tuduhan telah mengganggu hari raya mereka, bahwa ia harus segera menentukan keputusan, sebab mereka wajib berada di Bait Allah sebelum pukul sepuluh malam. Teriakan, “Salibkan Dia! Salibkan Dia!” membahana di segenap penjuru; menggema lewat atap-atap rumah yang rata, yang ada dekat forum, di mana orang banyak berkerumun. Pilatus melihat bahwa segala usahanya sia-sia belaka, bahwa ia tak dapat mengendalikan massa yang mengamuk; teriakan dan kutukan mereka memekakkan telinga, dan ia mulai takut akan timbulnya huru-hara. Sebab itu, ia mengambil air, membasuh tangannya di hadapan rakyat, seraya berkata, “Aku tidak bersalah terhadap darah orang ini; itu urusan kamu sendiri!” Suatu teriakan sepakat yang mengerikan datang dari arah orang banyak yang datang dari segala penjuru Palestina, “Biarlah darah-Nya ditanggungkan atas kami dan atas anak-anak kami!”.

YESUS Dijatuhi Hukuman Mati

Pilatus, yang tak hendak mengetahui kebenaran, melainkan hanya ingin segera keluar dari masalah tanpa merugikan dirinya, menjadi terlebih lagi bimbang dan ragu dari sebelumnya; hati nuraninya membisikkan, “YESUS tidak bersalah”; isterinya mengatakan “Ia adalah Orang Benar”; perasaan takhayul membuatnya gelisah khawatir YESUS adalah musuh para dewa; dan jiwa pengecut meliputinya dengan perasaan gentar kalau-kalau YESUS, jika Ia adalah dewa, akan membalas dendam atas pengadilannya. Pilatus sekaligus gusar dan was-was akan perkataan YESUS yang terakhir, jadi ia mengusahakan daya upaya lain demi membebaskan-Nya; tetapi orang-orang Yahudi segera mengancam akan mendakwanya di hadapan kaisar. Ancaman ini menciutkan nyali Pilatus, sebab itu ia memutuskan untuk mengabulkan tuntutan mereka, meskipun ia sendiri yakin benar dalam hatinya bahwa YESUS tidak bersalah; Pilatus sepenuhnya sadar bahwa dengan menjatuhkan hukuman mati atas YESUS ia mengabaikan segala hukum keadilan, di samping mengingkari janji yang ia ikrarkan kepada isterinya pagi tadi. Demikianlah ia menyerahkan YESUS pada kedengkian bangsa Yahudi dan berusaha menghalau rasa bersalahnya dengan membasuh tangan di hadapan rakyat seraya berkata, “Aku tidak bersalah terhadap darah orang ini; itu urusan kamu sendiri!” Ah, betapa sia-sia engkau mengucapkan kata-kata itu, hai Pilatus, sebab darah-Nya ditanggungkan atasmu juga; engkau tak dapat membasuh darah-Nya dari jiwamu, seperti engkau membasuh tanganmu.

Kata-kata ngeri itu, “Biarlah darah-Nya ditanggungkan atas kami dan atas anak-anak kami!” tak henti-hentinya berkumandang sementara Pilatus memulai persiapannya untuk menjatuhkan hukuman mati. Pilatus meminta jubah yang biasa ia kenakan dalam kesempatan-kesempatan resmi, mengenakan sejenis mahkota, menyematkan batu berharga di atas kepalanya, menukar mantolnya, dan menyuruh agar tongkat dibawa ke hadapannya. Pilatus dikelilingi para prajurit, didahului oleh para pejabat pengadilan, dan diikuti oleh para ahli Taurat yang membawa gulungan-gulungan perkamen serta buku-buku yang digunakan untuk mencatat nama-nama dan tanggal. Seorang berjalan di depan dengan membawa terompet. Demikianlah urutan iring-iringan yang berarak dari istana Pilatus menuju forum, di mana kursi pengadilan yang biasa dipergunakan dalam peristiwa-peristiwa khusus seperti ini ditempatkan berhadapan dengan pilar di mana YESUS didera. Balai pengadilan ini disebut Gabata; semacam serambi bundar, letaknya agak tinggi dengan anak-anak tangga; di atasnya terdapat kursi Pilatus, di belakang kursi ini terdapat sebuah bangku bagi para pejabat yang lebih rendah, sementara sejumlah serdadu disiagakan sekeliling serambi dan di atas anak-anak tangga. Banyak dari antara kaum Farisi yang telah meninggalkan istana untuk pergi ke Bait Allah, sehingga Hanas, Kayafas, dan duapuluh delapan imam saja bersama dengan Gubernur Romawi yang berada di forum. Juga kedua penyamun dibawa ke sana pada saat Pilatus mengajukan Juruselamat kita ke hadapan rakyat seraya berkata, “Lihatlah manusia itu!”

Tuhan kita masih mengenakan mantol ungu, dengan mahkota duri di atas kepala-Nya, dan kedua tangan-Nya dibelenggu, ketika para prajurit pembantu menyeret-Nya ke balai pengadilan dan menempatkan-Nya di antara kedua penjahat. Segera sesudah Pilatus duduk, ia kembali menyapa para musuh YESUS dengan kata-kata ini, “Inilah rajamu!”

Tetapi teriakan `Salibkan Dia! Salibkan Dia!’ segera membahana dari
segala penjuru.

http://http://terang.webs.com/photos/salib/lihatlah%203.jpg

“Haruskah aku menyalibkan rajamu?” tanya Pilatus.“Kami tidak mempunyai raja selain dari Kaisar!” jawab para imam besar.

Pilatus tahu bahwa akan sia-sia saja berbicara lagi, sebab itu ia memulai persiapannya untuk menjatuhkan hukuman mati. Kedua penyamun telah dijatuhi hukuman mati dengan disalibkan beberapa waktu sebelumnya, tetapi para imam besar berhasil mendapatkan penangguhan atas eksekusi mereka, maksudnya agar Tuhan kita menanggung penghinaan terlebih lagi dengan disalibkan bersama dua orang penjahat yang paling tercela. Salib kedua penyamun ada di samping mereka, tetapi salib yang diperuntukkan bagi Tuhan kita masih belum dibawa, sebab Ia masih belum dijatuhi hukuman mati.

Santa Perawan, yang telah undur diri ke tempat yang agak jauh setelah penderaan YESUS, maju mendekat untuk mendengarkan pemakluman hukuman mati atas Putra sekaligus Tuhannya. YESUS berdiri di antara para prajurit pembantu, di kaki anak tangga yang menuju ke balai pengadilan. Terompet ditiup guna menenangkan massa, lalu hakim yang pengecut dan hina, dengan suara gemetar dan bimbang, memaklumkan hukuman mati atas Manusia yang Benar. Penglihatan akan sikap pengecut serta munafik dari makhluk tercela ini, yang walau demikian dipenuhi kesombongan dan kebanggaan diri atas kedudukannya yang penting, nyaris menguasai diriku; sorak-sorai buas para algojo - wajah-wajah para imam besar yang menyeringai penuh kemenangan, semakin membuat YESUS terpuruk dalam keadaan-Nya yang dihinakan begitu rupa, pula dukacita pilu yang menembusi hati BundaNya terkasih - semakin dalam menyayat hatiku. Aku mendongakkan kepala dan melihat orang-orang Yahudi yang keji hampir-hampir melahap kurbannya dengan sorot mata mereka, para serdadu berdiri dengan wajah dingin, sejumlah besar iblis yang mengerikan bersliweran ke sana ke mari dan berbaur dengan khalayak ramai. Aku merasa bahwa seharusnyalah aku ada di tempat YESUS, Mempelaiku terkasih, oleh sebab hukuman yang dijatuhkan atas-Nya sama sekali tidak adil; tetapi aku begitu larut dalam dukacita, dan sengsaraku begitu dahsyat, hingga tak dapat mengingat dengan pasti segala yang aku lihat. Bagaimanapun, aku akan menceritakannya sejauh yang dapat aku ingat.

Setelah sambutan bertele-tele yang pada intinya berbicara mengenai pujian yang muluk dan berlebihan atas Kaisar Tiberias, Pilatus berbicara mengenai tuduhan-tuduhan yang diajukan para imam besar terhadap YESUS. Ia mengatakan bahwa mereka menjatuhkan hukuman mati atas YESUS karena YESUS telah mengganggu ketenangan masyarakat dan melanggar hukum mereka dengan menyebut DiriNya sebagai Putra Allah dan Raja bangsa Yahudi; dan bahwa rakyat telah sepakat menuntut agar permintaan mereka dikabulkan. Kendati berulang kali menyatakan bahwa YESUS tidak bersalah, namun hakim yang culas dan tak berguna ini tidak malu mengatakan bahwa ia sendiri juga berpendapat bahwa keputusan mereka itu adil, dan oleh sebab itu ia memaklumkan hukuman - yang dilakukannya dengan mengatakan, “Aku menjatuhkan hukuman mati atas YESUS dari Nazaret, Raja orang Yahudi, dengan disalibkan!” Lalu, Pilatus memerintahkan agar para algojo membawa masuk salib. Aku pikir, aku ingat pula ia mengambil sebatang kayu panjang dalam tangannya, mematahkannya, lalu melemparkan potongan-potongannya ke kaki YESUS.

Mendengar kata-kata Pilatus ini, Bunda YESUS sepenuhnya tak sadarkan diri untuk beberapa waktu lamanya, sebab ia tahu pasti sekarang bahwa Putranya terkasih harus mati dengan cara yang paling hina dan paling mengerikan dari segala kematian. Yohanes dan para perempuan kudus membopongnya pergi, agar jangan sampai makhluk-makhluk tanpa hati yang mengelilingi mereka menambahkan lagi kejahatan demi kejahatan dengan menertawakan dukacitanya. Tetapi, baru saja Bunda Maria siuman kembali, ia mohon dengan sangat agar dibawa kembali ke setiap tempat yang telah dikuduskan oleh sengsara Putranya, agar ia dapat membasahi tempat-tempat itu dengan air matanya. Demikianlah Bunda Tuhan kita, atas nama Gereja, menjadikan tempat-tempat kudus itu sebagai miliknya.

Pilatus kemudian menuliskan hukuman, dan mereka yang berdiri di belakangnya menyalinnya sebanyak tiga kali. Kata-kata yang ia tulis berbeda dari apa yang ia ucapkan; aku dapat melihat dengan jelas bahwa pikirannya sama sekali kacau - seorang malaikat murka tampak membimbing tangannya. Isi hukuman tertulis adalah: “Aku terpaksa, karena khawatir timbul pergolakan, memenuhi keinginan para imam besar, kaum Sanhedrin, dan rakyat, yang berteriak-teriak menuntut kematian YESUS dari Nazaret, yang mereka tuduh telah mengganggu ketenangan rakyat dan menghujat serta melanggar hukum mereka. Aku telah menyerahkan Dia kepada mereka untuk disalibkan, walau tuduhan-tuduhan mereka tampaknya tanpa dasar. Aku melakukannya karena khawatir mereka mendakwaku di hadapan kaisar bahwa aku mendukung pemberontakan, dan menyebabkan ketidakpuasan di kalangan bangsa Yahudi dengan menolak hak-hak keadilan mereka.”

Pilatus kemudian menulis pada prasasti yang akan dipasang pada salib, sementara para pegawai menyalin hukuman tertulis beberapa kali, agar salinan tersebut dapat dikirimkan ke bagian-bagian negeri yang jauh.

Para imam besar sama sekali tidak puas dengan kata-kata yang dituliskan, yang menurut mereka tidak benar; dengan geram mereka mengepung balai pengadilan guna berusaha membujuk Pilatus agar mengganti tulisan tersebut, “Jangan engkau menulis: Raja orang Yahudi, tetapi bahwa Ia mengatakan: Aku adalah Raja orang Yahudi.”

Pilatus menjadi murka dan menjawab dengan berang, “Apa yang kutulis, tetap tertulis!”

Para imam besar juga mendongkol sebab salib Tuhan kita seharusnyalah tidak lebih tinggi dari salib kedua penyamun, tetapi hal itu perlu dilakukan, jika tidak, tak akan ada cukup tempat untuk menempelkan prasasti; sebab itu mereka berusaha keras membujuk Pilatus agar prasasti yang memuakkan itu jangan dipasang saja. Tetapi Pilatus sudah memutuskan, dan kata-kata mereka tak dapat mengubah pendiriannya; sebab itu salib harus dipanjangkan dengan sepotong kayu baru. Sebab itu, bentuk salib YESUS menjadi istimewa - potongan kayu yang merupakan lengan salib mencuat ke atas bagaikan cabang-cabang pohon yang tumbuh dari batangnya, bentuknya amat mirip dengan huruf Y, dengan bagian bawahnya dipanjangkan hingga seolah muncul dari tengah lengan salib; tambahan kayu yang dipasangkan pada bagian bawah lengan salib lebih tipis dari badan salib. Sepotong kayu juga dipakukan di bagian bawah badan salib sebagai tempat tumpuan kaki.

Pada saat Pilatus memaklumkan hukuman keji ini, aku melihat isterinya, Claudia Procles, mengembalikan kepadanya tanda janji yang telah ia berikan. Sore hari perempuan itu meninggalkan istana dan bergabung dengan sahabat-sahabat Tuhan kita, yang menyembunyikannya di suatu kamar bawah tanah dalam rumah Lazarus di Yerusalem. Sesudahnya, pada hari itu juga, aku melihat seorang sahabat YESUS mengukirkan kata-kata “Judex injustus”, dan nama Claudia Procles, pada sebuah batu berwarna hijau yang terdapat di belakang serambi Gabata - batu ini hingga sekarang masih dapat ditemukan pada pondasi sebuah gereja atau rumah di Yerusalem, yang didirikan di tempat yang dulu bernama Gabata. Claudia Procles menjadi seorang Kristen, mengikuti St Paulus, dan menjadi sahabatnya yang istimewa.

Segera sesudah Pilatus memaklumkan hukuman mati, YESUS diserahkan ke dalam tangan para prajurit pembantu. Pakaian yang ditanggalkan dari tubuh-Nya di istana Kayafas dibawa untuk dikenakan-Nya lagi. Aku pikir orang-orang yang berbelas-kasih telah mencucinya, sebab pakaian itu tampak bersih. Para bajingan yang mengelilingi YESUS membuka belenggu tangan-Nya agar Ia dapat mengenakan pakaian-Nya. Dengan kasar mereka merenggut mantol merah yang mereka kenakan pada-Nya sebagai olok-olok, sebab itu, luka-luka-Nya terkoyak lagi dan darah pun memancar. YESUS mengenakan baju dalam linen milik-Nya sendiri dengan tangan-tangan gemetar; mereka melemparkan selendang bahu di atas pundak-Nya. Karena mahkota duri terlalu besar dan menghalangi jubah tak berjahit yang dibuat BundaNya untuk-Nya, masuk melalui kepala-Nya, mereka merenggut mahkota duri dengan bengis, tanpa menghiraukan sakit hebat yang diakibatkannya. Pakaian wol-Nya yang berwarna putih lalu dilemparkan ke atas pundak-Nya, lalu ikat pinggang-Nya yang lebar dan mantol-Nya. Kemudian, mereka melingkarkan ke pinggang-Nya suatu cincin dengan ujung-ujung besi yang runcing pada permukaannya, ke cincin itulah mereka mengikatkan tali-temali dengan mana Ia digiring. Semuanya dilakukan dengan kebrutalan para prajurit seperti biasanya.

Kedua penyamun berdiri, satu di sebelah kanan dan yang lain di sebelah kiri YESUS; tangan-tangan mereka dibelenggu dan sebuah rantai dikenakan sekeliling leher mereka; sekujur tubuh mereka penuh bilur-bilur biru dan hitam, bekas penderaan hari sebelumnya. Perilaku penyamun yang kemudian bertobat tampak tenang dan damai, sementara penyamun lainnya, memperlihatkan perilaku sebaliknya, kasar dan beringas; ia bergabung dengan para prajurit pembantu dalam menganiaya serta menyiksa YESUS, yang memandang kepada kedua rekan-Nya dengan penuh belas dan kasih, serta mempersembahkan sengsara-Nya demi keselamatan mereka. Para prajurit pembantu mengumpulkan segala peralatan yang diperlukan untuk penyaliban serta mempersiapkan segala sesuatu untuk perjalanan yang ngeri dan penuh sengsara ke Kalvari.

Pada akhirnya, Hanas dan Kayafas menyudahi perdebatan mereka dengan Pilatus dan pergi dengan mendongkol, membawa bersama mereka lembaran-lembaran perkamen di mana hukuman dituliskan. Mereka pergi bergegas, takut kalau-kalau terlambat tiba di Bait Allah untuk merayakan kurban Paskah. Demikianlah para imam besar, yang sama sekali buta, meninggalkan Anak Domba Paskah sejati. Mereka pergi ke Bait Allah yang terbuat dari batu guna menyembelih serta mengurbankan anak domba yang tak lain hanyalah sekedar simbol, sementara mereka meninggalkan Anak Domba Paskah sejati, yang digiring ke Altar Salib oleh para algojo-algojo yang keji. Para imam itu sangat berhati-hati untuk tidak mencemarkan raga mereka, sementara jiwa mereka sepenuhnya cemar oleh murka, dengki dan iri. Mereka telah mengatakan, “Biarlah darah-Nya ditanggungkan atas kami dan atas anak-anak kami!” Dengan kata-kata itulah mereka merayakan Paskah dan meletakkan tangan algojo atas kepala Kurban. Demikianlah, dua jalan terbentuk - yang satu menghantar orang ke altar milik hukum Yahudi, sementara yang lainnya menghantar orang ke Altar Rahmat: Pilatus, si kafir yang congkak dan pengecut, hamba dunia itu, yang gemetar di hadapan Allah yang benar, namun demikian memuja berhala-berhala palsunya, mengambil jalan tengah dan kembali ke istananya.

YESUS Memanggul Salib

Ketika Pilatus meninggalkan balai pengadilan, sebagian prajurit menyertainya, mereka berbaris tegap di depan istana; sebagian lainnya mengawal para penjahat. Duapuluh delapan kaum Farisi bersenjata pergi menuju forum dengan menunggang kuda guna menyertai YESUS ke tempat eksekusi; di antara mereka terdapat enam orang musuh bebuyutan YESUS yang ikut serta dalam penangkapan-Nya di Taman Zaitun. Para prajurit pembantu menggiring YESUS ke bagian tengah pengadilan, para hamba mencampakkan salib di depan kaki-Nya, dengan lengan salib terikat pada badan salib. YESUS berlutut di samping salib, memeluknya dengan tangan-tangan-Nya yang kudus, menciumnya tiga kali, dan pada saat yang sama memanjatkan doa syukur yang paling menyentuh hati kepada Bapa SurgawiNya atas karya penebusan yang baru saja Ia mulai. Merupakan kebiasaan di antara para imam kafir untuk memeluk suatu altar yang baru, begitu pulalah YESUS memeluk salib-Nya, altar agung di mana Kurban Silih Berdarah akan segera dipersembahkan. Para prajurit pembantu segera menyeret-Nya bangkit, dan lalu menghempaskan-Nya agar berlutut kembali, dan nyaris tanpa pertolongan meletakkan salib yang berat ke atas pundak kanan-Nya. YESUS menahan berat beban salib dengan tangan kanan-Nya. Aku melihat para malaikat datang menolong-Nya, jika tidak, bahkan mustahil Ia dapat mengangkat salib itu dari tanah. Sementara YESUS masih berlutut dan berdoa, para prajurit pembantu meletakkan lengan salib, yang agak sedikit melengkung dan belum diikatkan pada badan salib, ke atas punggung kedua penyamun dan mengikatkan tangan mereka erat-erat padanya. Badan salib digotong oleh para hamba, sebab potongan yang melintang tidak akan dipasangkan pada badan salib hingga saat eksekusi. Terompet ditiup guna memaklumkan keberangkatan pasukan berkuda Pilatus. Salah seorang Farisi yang tergabung dalam pasukan pengawal menghampiri YESUS yang masih tetap berlutut, katanya, “Berdiri! Kami sudah cukup mendengar khotbah-khotbah-Mu yang hebat itu; sekarang berdiri dan berangkat.” Mereka menarik-Nya berdiri dengan kasar, sebab Ia sama sekali tak dapat bangkit tanpa pertolongan. YESUS lalu merasakan di atas pundak-Nya beratnya beban salib yang harus kita panggul seturut teladan-Nya, seturut perintah-Nya yang benar dan kudus untuk mengikuti-Nya. Demikian, dimulailah arak-arakan kemenangan Raja segala Raja, arak-arakan yang dipandang begitu hina di bumi, namun begitu mulia di surga.

http://www.hollywoodjesus.com/movie/passion2/51.jpeg

Dengan bantuan tali-temali yang diikatkan para algojo pada kaki salib, dua prajurit pembantu menahan salib untuk mencegahnya menumbuk sesuatu. Empat prajurit lain memegang tali-temali yang mereka lilitkan pada tubuh YESUS di bawah pakaian-Nya. Pemandangan akan Tuhan kita yang gemetar di bawah beban berat, segera mengingatkanku akan Ishak, ketika ia memikul kayu bakar yang dimaksudkan untuk mengurbankan dirinya sendiri di bukit. Terompet Pilatus dibunyikan sebagai tanda keberangkatan, sebab Pilatus sendiri bermaksud pergi ke Kalvari mengepalai detasemen prajurit, guna mencegah kemungkinan timbulnya pergolakan. Pilatus menunggang kuda, dengan segala kemegahannya, dikelilingi para prajurit dan sekelompok petugas Kalvari, diikuti oleh sekitar tiga ratus pasukan infantri yang datang dari perbatasan-perbatasan Italia dan Swiss. Iring-iringan didahului oleh seorang peniup terompet, yang meniup terompetnya di setiap ujung jalan dan memaklumkan hukuman. Sejumlah perempuan dan anak-anak berjalan di belakang arak-arakan dengan tali, paku, palu, dan keranjang-keranjang berisi berbagai macam perkakas dalam tangan mereka; lainnya, yang lebih kuat, membawa pancang, tangga, dan badan salib kedua penyamun; sementara sebagian dari kaum Farisi mengikuti dengan menunggang kuda. Seorang anak lelaki yang bertugas membawa prasasti dengan tulisan Pilatus untuk dipasang pada salib, juga membawa mahkota duri (yang telah ditanggalkan dari kepala YESUS) di ujung sebuah tongkat yang panjang, tetapi anak itu tidak tampak jahat dan keras hati seperti yang lainnya.

Selanjutnya aku melihat Juruselamat dan Penebus terkasih - kedua kaki-Nya yang telanjang bengkak dan berdarah - punggung-Nya bongkok seolah Ia hendak tenggelam di bawah beban salib yang berat, sekujur tubuh-Nya penuh luka-luka dan berlumuran darah. Tampaknya YESUS setengah tak sadarkan diri karena kehabisan tenaga (tanpa tidur ataupun istirahat sejak Perjamuan Terakhir malam sebelumnya), lemas akibat kehilangan begitu banyak darah, dan terserang rasa dahaga yang hebat akibat demam dan sakit yang tak terperi. YESUS menyangga salib pada pundak kanan-Nya dengan tangan kanan-Nya, sementara tangan kiri-Nya terkulai nyaris tanpa daya di sampingnya. Dari waktu ke waktu tampak YESUS mengangkat naik jubah-Nya yang panjang agar jangan sampai kaki-Nya yang berdarah terjerat olehnya. Keempat prajurit pembantu yang memegangi tali-temali yang diikatkan sekeliling pinggang-Nya, berjalan agak jauh dari-Nya; dua yang di depan menarik-Nya maju, sementara dua yang di belakang menarik-Nya mundur, hingga Ia tak dapat bergerak maju tanpa harus bersusah payah. Kedua tangan-Nya tersayat oleh tali-temali yang membelenggunya; wajah-Nya berlumuran darah dan tak lagi dapat dikenali; rambut dan jenggot-Nya lengket oleh darah; beratnya beban salib dan rantai yang membelenggu-Nya bersama-sama menekan, mengakibatkan jubah wool-Nya menggigit luka-luka-Nya serta mengoyakkannya. Hanya kata-kata cemooh dan hinaan saja yang dilontarkan kepada-Nya, namun demikian YESUS tak kunjung henti berdoa bagi para penganiaya-Nya, wajah-Nya memancarkan perpaduan antara kasih dan penyerahan diri yang total. Banyak serdadu berjalan di samping arak-arakan; setelah YESUS, kedua penyamun digiring di belakangnya, dengan lengan salib yang terpisah dari badan salib dibebankan di atas punggung mereka, sementara kedua tangan mereka diikatkan erat pada kedua ujung lengan salib. Para penyamun mengenakan baju yang besar dan semacam selendang bahu yang menutup bagian atas tubuh mereka, serta topi jerami di atas kepala mereka. Penyamun yang baik tampak tenang, sementara yang lain sebaliknya, ia amat berang dan tak henti-hentinya mengumbar kutuk dan sumpah serapah. Bagian belakang arak-arakan dipimpin oleh sisa kaum Farisi yang menunggang kuda, yang hilir mudik menyampaikan perintah. Pilatus dan pasukannya agak jauh di belakang; ia berada di tengah-tengah para pejabatnya dengan pakaian kebesaran, didahului oleh petugas Kalvari dan diikuti oleh tiga ratus prajurit yang berjalan kaki. Pilatus melintasi forum dan kemudian masuk ke salah satu jalan utama; ia berarak melewati tengah kota guna mencegah timbulnya pemberontakan di antara rakyat.

YESUS digiring melalui suatu jalan belakang yang sempit, agar iring-iringan jangan sampai mengganggu mereka yang pergi menuju Bait Allah, dan juga agar Pilatus dan pasukannya dapat leluasa menguasai seluruh jalan utama. Orang banyak menghindar dan pergi menjauh begitu mereka membaca hukuman. Sebagian besar orang Yahudi pulang ke rumah masing-masing atau menuju Bait Allah, guna segera mempersiapkan kurban Anak Domba Paskah; tetapi sejumlah orang masih bersliweran dengan tergesa untuk melihat iring-iringan yang mengenaskan ini lewat. Para prajurit Romawi mencegah orang banyak ikut serta dalam arak-arakan, sebab itu mereka yang penuh rasa ingin tahu harus lewat jalan belakang yang memutar, atau mempercepat langkah mereka agar tiba di Kalvari sebelum YESUS. Jalanan di mana YESUS digiring adalah jalanan yang sempit dan kumuh; YESUS menanggung banyak kesakitan ketika harus melewatinya, sebab para prajurit pembantu berada di dekat-Nya dan menganiaya-Nya. Orang banyak menonton dari atas atap-atap rumah dan juga dari jendela-jendela, menghina-Nya dengan kata-kata cemooh; para kuli yang bekerja di jalanan melempari-Nya dengan lumpur dan kotoran; bahkan anak-anak, dengan hasutan para musuh YESUS, mengisi kantong-kantong baju mereka dengan kerikil-kerikil tajam, yang mereka lemparkan dari pintu-pintu rumah sementara Ia lewat, agar Ia akan terpaksa lebih bersusah-payah melangkah.

YESUS Jatuh Pertama Kali

Jalanan yang baru saja kita bicarakan, setelah membelok sedikit ke kiri, menjadi agak curam, juga semakin melebar, sebuah terowongan air bawah tanah yang berasal dari Gunung Sion melintas di bawahnya. Daerah sekitarnya merupakan lembah yang sering kali digenangi air dan lumpur setelah hujan, sebuah batu besar ditempatkan di tengah-tengah guna memudahkan orang melintasinya. Ketika YESUS tiba di tempat ini, tenaga-Nya sama sekali telah terkuras habis; Ia bahkan nyaris tak dapat bergerak; para prajurit pembantu menyeret serta menarik-Nya tanpa belas kasihan sedikit pun, hingga Ia jatuh terjerembab menghantam batu besar itu sementara salib jatuh di samping-Nya. Para algojo yang keji terpaksa berhenti, mereka menganiaya serta menghajar-Nya tanpa ampun; seluruh iring-iringan menjadi terhenti, mengakibatkan sedikit kekacauan. Sia-sia saja Tuhan kita mengulurkan tangan-Nya mohon seseorang membantu-Nya bangkit berdiri: “Ah!” serunya, “semuanya akan segera berakhir,” dan Ia memanjatkan doa bagi para musuh-Nya. “Angkat Dia,” kata orang-orang Farisi, “jika tidak, Ia akan mati di tangan kita.” Ada banyak perempuan dan anak-anak ikut serta dalam arak-arakan; para perempuan menangis, sementara anak-anak ketakutan. Tetapi, YESUS menerima penghiburan dari atas, Ia mengangkat kepala-Nya; namun, orang-orang biadab ini, jauh dari rasa iba hendak meringankan penderitaan-Nya, malahan mereka menancapkan lagi mahkota duri ke atas kepala-Nya sebelum mereka menarik-Nya keluar dari lumpur. Baru saja Ia berdiri menjejakkan kaki-Nya ketika mereka telah membebankan kembali salib berat ke atas pundak-Nya. Mahkota duri yang menudungi kepala-Nya menambah rasa sakit yang tak terperi, dan menyebabkan-Nya harus membungkuk ke satu sisi guna memberikan ruang bagi salib, yang menekan berat di pundaknya.

http://terang.webs.com/photos/salib/jatuh%202.jpg

YESUS Jatuh Kedua Kali

Bunda YESUS yang berdukacita meninggalkan forum dengan disertai oleh Yohanes dan beberapa perempuan, segera setelah hukuman yang tak adil dimaklumkan. Bunda Maria sibuk berjalan kian kemari ke tempat-tempat yang telah dikuduskan oleh Tuhan kita dan membasahi tempat-tempat itu dengan airmatanya. Tetapi ketika suara terompet, orang-orang yang bergegas, dan gemerincing pasukan berkuda memaklumkan bahwa iring-iringan akan segera berangkat menuju Kalvari, Santa Perawan tak dapat menahan kerinduannya untuk melihat Putranya terkasih sekali lagi; ia mohon Yohanes untuk membawanya ke tempat yang pasti akan dilewati-Nya. Yohanes membimbingnya ke suatu istana yang pintu masuknya berada di jalan yang dilalui YESUS setelah Ia jatuh pertama kali; istana ini, aku yakin, adalah rumah kediaman Imam Besar Kayafas, yang balai pengadilannya terletak di bagian yang disebut Sion. Yohanes mohon dan mendapatkan ijin dari seorang hamba yang baik hati untuk berdiri di pintu masuk bersama Bunda Maria dan para perempuan yang menyertainya. Bunda Allah tampak pucat pasi, matanya sembab dan merah karena airmata, tubuhnya terbungkus rapat dalam balutan mantol berwarna abu-abu kebiruan. Teriak dan seruan cemooh dari khalayak ramai yang mengamuk terdengar jelas, juga bentara yang pada saat itu memaklumkan dengan suara lantang bahwa tiga penjahat akan segera disalibkan. Hamba itu membuka pintu, suara-suara yang mengerikan itu semakin lama semakin jelas terdengar, Bunda Maria jatuh berlutut. Setelah berdoa dengan khusuk, ia berpaling kepada Yohanes dan bertanya, “Haruskah aku tinggal? Ataukah sebaiknya aku pergi saja? Adakah aku memiliki kekuatan untuk menyaksikan pemandangan yang demikian?” Yohanes menjawab, “Bunda, jika engkau tidak tinggal dan melihat-Nya lewat, engkau akan menyesalinya di kemudian hari.” Karenanya, mereka tinggal dekat pintu, dengan mata menatap lekat pada arak-arakan yang masih berada di kejauhan dan bergerak maju perlahan. Ketika mereka yang membawa peralatan eksekusi mendekat, dan Bunda YESUS melihat wajah-wajah bengis penuh kemenangan, ia tak kuasa menahan perasaan hatinya, dijalin erat jari-jari kedua tangannya seolah memohon dengan sangat pertolongan dari surga. Melihat itu, seorang dari antara mereka bertanya kepada yang lain: “Siapakah perempuan itu yang berdukacita begitu rupa?” Temannya menjawab, “Ia adalah Bunda Orang Galilea itu.” Mendengar hal ini, orang-orang yang keji itu bukannya iba karena belas kasihan, malahan mereka mulai berolok-olok dengan dukacita Bunda yang paling berduka ini: mereka menunjuk-nunjuk kepadanya, salah seorang dari mereka mengambil paku-paku yang akan dipergunakan untuk memakukan YESUS pada salib dan memperlihatkannya kepada Santa Perawan dengan cara yang paling keji; tetapi Bunda YESUS memalingkan wajahnya, mengarahkan pandangannya kepada YESUS, yang semakin mendekat. Ia menyandarkan diri pada pilar untuk menopang tubuhnya, kalau-kalau ia tak sadarkan diri karena dukacita; sebab rona wajahnya putih bagaikan mayat dan bibirnya nyaris biru. Kaum Farisi yang menunggang kuda lewat, diikuti oleh anak laki-laki yang membawa prasasti, lalu Putra-Nya terkasih. YESUS hampir tenggelam di bawah beban berat salib-Nya, dan kepala-Nya, yang masih bermahkotakan duri, jatuh terkulai dalam sengsara di pundak-Nya. YESUS melemparkan tatapan belas kasih dan sengsara kepada BundaNya, terhuyung-huyung, dan jatuh untuk kedua kalinya di atas kedua tangan dan lutut-Nya. Bunda Maria sama sekali hancur luluh melihatnya; ia tak ingat apa-apa lagi; ia tak melihat baik para prajurit maupun para algojo; ia tak melihat siapa-siapa selain Putranya yang terkasih dan tersayang. Ia menghambur dari pintu ke tengah kerumunan massa yang sedang menganiaya serta menyiksa-Nya, jatuh berlutut di sisi Putranya lalu memeluk-Nya erat-erat. Kata-kata yang aku dengar hanyalah, “Putraku terkasih!” dan “Bunda!” tetapi aku tidak yakin apakah kata-kata ini sungguh diucapkan atau hanya ada dalam benakku saja.

http://www.hollywoodjesus.com/movie/passion2/48.jpeg

Sejenak terjadi kebingungan. Yohanes dan para perempuan kudus berusaha membangkitkan Bunda Maria agar berdiri, para prajurit pembantu menghardiknya; seorang di antara mereka berkata, “Apa yang kau lakukan di sini, hai perempuan? Ia tidak akan berada dalam tangan kami andai Ia dididik dengan baik.”

Sebagian dari para prajurit tersentuh hatinya, dan walau mereka harus meminta Santa Perawan untuk minggir dan tidak menghalangi jalan, tak seorang pun berani menyentuhnya. Yohanes dan para perempuan kudus mengelilingi Bunda Maria yang jatuh lemas setengah tak sadarkan diri, tubuhnya roboh ke sebuah batu yang terletak dekat pintu masuk; di atas batu itulah jejak-jejak tangannya tertera. Batu yang sangat keras ini sesudahnya dipindahkan ke sebuah gereja Katolik pertama yang dibangun di Yerusalem, dekat Kolam Betsaida, pada masa St Yakobus Muda menjadi uskup kota itu. Kedua murid yang bersama Bunda YESUS membopongnya masuk ke dalam rumah, lalu pintu ditutup. Sementara itu, para prajurit pembantu telah menarik YESUS berdiri dan dengan sikap berbeda memerintahkan-Nya untuk memanggul salib. Lengan salib dilepaskan ikatannya dari badan salib dan dililitkan dengan tali-temali hingga YESUS dapat menahan potongan kayu itu dengan kedua lengan-Nya, dengan cara demikian berat badan salib sedikit terkurangi, karena badan salib lebih terseret ke tanah. Aku melihat banyak orang berdiri di sana sini dalam kelompok-kelompok, sebagian besar memuaskan nafsu jahat mereka dengan menghina Tuhan kita dengan berbagai macam cara, tetapi sekelompok kecil wanita berkedurung menangis terisak-isak.

Simon dari Kirene ~ YESUS Jatuh Ketiga Kali

http://www.hollywoodjesus.com/movie/passion2/56.jpeg

Arak-arakan tiba di sebuah bangunan melengkung yang dibangun pada sebuah tembok tua milik kota, berhadapan dengan alun-alun, di mana tiga jalan berakhir, ketika YESUS tersandung sebuah batu besar yang ditempatkan di tengah jalan; salib tergelincir dari pundak-Nya sementara Ia jatuh terkapar di atas batu dan sama sekali tak berdaya untuk bangkit berdiri. Banyak orang berpenampilan terhormat, yang sedang dalam perjalanan menuju Bait Allah, berhenti dan berseru penuh rasa iba: “Lihat laki-laki malang itu, pastilah Ia akan mati!” tetapi para musuh-Nya tak menunjukkan belas kasihan sedikit pun. Jatuh YESUS mengakibatkan iring-iringan terhenti, sebab Tuhan kita tak mampu bangkit kembali. Kaum Farisi berteriak kepada para prajurit, “Kita tak akan dapat membawa-Nya ke tempat eksekusi dalam keadaan hidup, jika kalian tidak mendapatkan seseorang untuk memanggul salib-Nya.” Saat itulah Simon dari Kirene, seorang kafir, kebetulan berjalan lewat, dengan disertai ketiga anaknya. Simon, seorang tukang kebun, dalam perjalanan pulang ke rumah setelah bekerja di suatu taman dekat tembok sebelah timur kota; ia membawa sekantong potongan ranting tanam-tanaman. Dari pakaian yang dikenakannya, para prajurit segera mengenali Simon sebagai seorang kafir; mereka menahannya dan memerintahkannya untuk membantu YESUS memanggul salib-Nya. Pada mulanya ia menolak, tetapi segera terpaksa taat; meskipun anak-anaknya menangis dengan ribut karena takut, hingga beberapa perempuan menenangkan serta menjaga mereka. Simon teramat marah, dan dengan hebat mengungkapkan kekesalan hatinya karena dipaksa berjalan dengan seorang yang keadaannya begitu hina, dekil dan penuh sengsara; tetapi YESUS meneteskan airmata dan menatap padanya dengan tatapan surgawi yang begitu lemah lembut sehingga hatinya tersentuh. Bukannya terus menunjukkan kedongkolan hatinya, malahan ia membantu YESUS bangkit, sementara para algojo mengikatkan satu sisi lengan salib ke atas pundaknya. Simon berjalan di belakang Tuhan kita, dengan demikian banyak meringankan YESUS dari beban salib yang berat. Ketika segala sesuatunya telah siap, arak-arakan pun bergerak maju kembali. Simon seorang yang kekar perawakannya, usianya sekitar empatpuluh tahun. Anak-anaknya mengenakan jubah dari bahan yang berwarna-warni. Dua yang tertua, Rufus dan Aleksander, di kemudian hari menggabungkan diri dengan para murid YESUS; yang ketiga jauh lebih kecil, tetapi beberapa tahun sesudahnya pergi untuk tinggal bersama St Stefanus. Simon tidak akan memanggul salib YESUS barang sekejap pun andai ia tidak merasakan hatinya tersentuh begitu dalam oleh rahmat Tuhan.

Kerudung Veronica

Sementara arak-arakan melewati suatu jalanan yang panjang, terjadi suatu peristiwa yang meninggalkan kesan mendalam dalam diri Simon. Banyak orang dari kalangan terhormat sedang bergegas menuju Bait Allah, sebagian besar dari mereka menghindar ketika melihat Yesus, sebab mereka takut mencemarkan diri, sebaliknya sebagian yang lain berhenti dan menunjukkan belas kasihan terhadap sengsara-Nya. Ketika arak-arakan telah maju kurang lebih dua ratus langkah dari tempat di mana Simon mulai membantu Tuhan kita memanggul salib-Nya, pintu sebuah rumah yang indah di kiri jalan terbuka, seorang perempuan berpenampilan anggun, dengan menggandeng seorang gadis kecil, keluar dan melangkah pasti menuju arak-arakan. Serafia adalah nama perempuan pemberani tersebut, yang dengan berbuat demikian berani berhadapan dengan khalayak ramai yang murka. Serafia adalah isteri Sirakh, salah seorang anggota sidang Bait Allah. Di kemudian hari, Serafia dikenal sebagai Veronica, nama yang diambil dari kata “vera icon” (gambar asli), guna mengenangkan tindakannya yang gagah berani pada hari ini.

Serafia telah mempersiapkan anggur harum yang sedap, yang dengan saleh hendak dipersembahkannya kepada Tuhan kita guna sedikit menyegarkan-Nya dalam perjalanan sengsara-Nya ke Kalvari. Ia telah berdiri menunggu di pinggir jalan beberapa waktu lamanya, dan akhirnya memutuskan untuk kembali ke rumah dan menanti. Saat pertama kali aku melihatnya, ia terbalut dalam kerudung panjang, menggenggam tangan seorang gadis kecil berumur sembilan tahun yang diadopsinya; sehelai kerudung besar tergantung pada lengannya; gadis kecil itu berusaha menyembunyikan tempayan anggurnya ketika iring-iringan datang mendekat. Mereka yang berbaris di bagian depan iring-iringan berusaha mendorong Serafia mundur; tetapi ia terus maju menerobos khalayak ramai, para prajurit, para prajurit pembantu, hingga tiba pada Yesus;
ia berlutut di hadapan-Nya dan mengulurkan kerudung sembari berkata, “Ijinkanlah hamba menyeka wajah Tuhan-ku.”

http://terang.webs.com/photos/salib/Veronica.jpg

Yesus menyambut kerudung dengan tangan kiri-Nya, menyeka wajah-Nya yang berlumuran darah, lalu mengembalikannya seraya mengucapkan terima kasih. Serafia mencium kain itu dan menyimpannya di bawah mantolnya. Gadis kecil dengan malu-malu menyerahkan anggur, tetapi para prajurit yang brutal tak mengijinkan Yesus meminumnya. Tindakan Serafia yang nekad dan sekonyong-konyong ini membuat para prajurit terpaku, mengakibatkan kelengangan sesaat, walau tak disengaja, yang dimanfaatkan Serafia untuk menyerahkan kerudung kepada Guru Ilahi-nya. Baik kaum Farisi maupun para prajurit amat murka, bukan hanya karena jeda sesaat ini, melainkan terlebih karena penghormatan yang disampaikan kepada Yesus, yang dilakukan di hadapan publik, sebab itu mereka melampiaskan murka mereka dengan menyiksa serta menghajar Yesus, sementara Serafia bergegas kembali ke rumahnya.

Begitu tiba di rumah, Serafia meletakkan kerudung wolnya di atas meja, sementara ia sendiri jatuh berlutut nyaris tak sadarkan diri. Seorang sahabat yang masuk ke rumah sebentar kemudian, mendapati Serafia terus berlutut dalam keadaan demikian, dengan gadis kecil menangis di sisinya, dan, dengan terperanjat, sahabat itu mendapati wajah Tuhan kita yang berdarah tergambar di atas kerudung, sungguh suatu gambar yang hidup, yang meluluhkan serta menyayat hati siapa saja yang memandangnya. Lelaki itu membangkitkan Serafia dan menunjuk ke arah kerudung. Lagi, Serafia bersujud di hadapan kerudung seraya berseru dengan air mata berderai, “Sekarang, sungguh aku harus menyerahkan segala-galanya dengan hati bahagia, sebab Tuhan-ku telah berkenan memberiku kenangan akan DiriNya.” Tekstur kerudung ini terbuat dari wol yang sangat baik mutunya; panjangnya tiga kali lebarnya, biasanya dikenakan sebagai penutup bahu. Merupakan suatu kebiasaan memberikan kerudung semacam ini kepada mereka yang sedang dilanda duka, atau yang berbeban berat, atau sakit, agar mereka dapat menyeka wajah mereka dengannya; hal ini biasa dilakukan guna mengungkapkan simpati atau belas kasihan. Veronica menyimpan kerudung itu hingga akhir hayatnya, memasangnya di atas kepala tempat tidurnya; kemudian kerudung itu diserahkan kepada Santa Perawan, yang mewariskannya kepada para rasul, yang sesudahnya mewariskannya kepada Gereja.

Serafia dan Yohanes Pembaptis adalah saudara sepupu; ayah Serafia adalah saudara Zakharia. Ketika Yoakim dan Anna membawa Santa Perawan, yang kala itu masih berumur empat tahun, ke Yerusalem, untuk menyerahkannya sebagai perawan Bait Allah, mereka menginap di rumah Zakharia, yang letaknya dekat dengan pasar ikan. Serafia, yang setidaknya lima tahun lebih tua dari Santa Perawan, datang pada perkawinan Santa Perawan dengan St Yosef. Serafia juga sanak Simeon tua, yang menyampaikan nubuat ketika Kanak-kanak Yesus diserahkan dalam buaiannya. Serafia dibesarkan bersama kedua putera Simeon; baik kepada kedua puteranya maupun kepada Serafia, Simeon menanamkan kerinduan yang berkobar untuk melihat Tuhan kita. Ketika Yesus berusia duabelas tahun dan tinggal mengajar di Bait Allah, Serafia, yang pada waktu itu belum menikah, mengirimkan makanan untuk-Nya setiap hari ke sebuah penginapan kecil, sekitar seperempat mil jauhnya dari Yerusalem, di mana Yesus tinggal apabila Ia tidak sedang berada di Bait Allah. Bunda Maria tinggal di penginapan itu selama dua hari, ketika dalam perjalanannya dari Betlehem ke Yerusalem untuk mempersembahkan Putranya di Bait Allah. Kedua orang tua yang mengurus penginapan ini adalah kaum Esseni; mereka bersahabat baik dengan Keluarga Kudus. Penginapan itu memiliki semacam bangunan bagi kaum miskin, Yesus dan para murid-Nya sering pergi ke sana untuk menginap.

Serafia menikah dalam usia yang agak lambat; suaminya, Sirakh, adalah keturunan Susana yang saleh; ia seorang anggota Sanhedrin. Pada mulanya ia amat menentang Tuhan kita, dan isterinya harus banyak menderita karena keterikatannya pada Yesus dan pada para perempuan kudus, tetapi Yusuf dari Arimatea dan Nikodemus memberikan pemahaman yang lebih baik kepada Sirakh, dan ia mengijinkan Serafia untuk mengikuti Tuhan kita. Ketika Yesus diadili secara tidak adil di istana Kayafas, suami Serafia bergabung dengan Yusuf dan Nikodemus yang mengupayakan pembebasan bagi Tuhan kita; mereka bertiga akhirnya mengundurkan diri dari jabatan mereka dalam Sidang.

Serafia berusia sekitar limapuluh tahun ketika arak-arakan kemenangan Tuhan kita memasuki Yerusalem pada hari Minggu Palma, dan aku melihatnya melepaskan kerudungnya lalu menebarkannya ke atas tanah agar Yesus dapat berjalan di atasnya. Kerudung yang sama ia persembahkan kepada Yesus dalam arak-arakan-Nya yang kedua, arak-arakan yang menurut dunia jauh dari kemuliaan, tetapi sesungguhnya jauh teramat mulia. Kerudung itu memperolehkan nama baru bagi Serafia, yaitu Veronica. Kerudung masih disimpan hingga kini dan dihormati oleh umat beriman.

YESUS Jatuh Keempat dan Kelima Kalinya
Puteri-Puteri Yerusalem

http://www.hollywoodjesus.com/movie/passion2/24.jpg

Arak-arakan masih agak jauh dari gerbang barat daya yang besar, yang dibangun pada tembok kota, sementara jalanan tidak rata dan curam. Arak-arakan pertama-tama harus lewat di bawah kubah bangunan yang melengkung, lalu melintasi sebuah jembatan, dan akhirnya lewat di bawah bangunan melengkung yang kedua. Tembok di sebelah kiri gerbang pada mulanya menuju ke arah selatan, lalu sedikit mengarah ke barat, dan akhirnya menuju ke selatan di belakang Bukit Sion. Ketika arak-arakan mendekati gerbang ini, para prajurit pembantu yang beringas mendorong YESUS ke sebuah kubangan yang ada dekat sana. Simon dari Kirene, dalam usahanya menghindari kubangan, memutar palang salibnya, mengakibatkan YESUS jatuh keempat kalinya, tercebur ke dalam lumpur yang kotor. Simon bersusah-payah mengangkat salib kembali. YESUS lalu berseru dalam nada suara yang, walaupun jelas, terdengar sedih dan menyayat hati, “Yerusalem, Yerusalem. Berkali-kali Aku rindu mengumpulkan anak-anakmu, sama seperti induk ayam mengumpulkan anak-anaknya di bawah sayapnya, tetapi kamu tidak mau.” Ketika kaum Farisi mendengar perkataan ini, amarah mereka meledak; mereka melancarkan kembali caci-maki serta hajaran yang bertubi guna memaksa-Nya segera keluar dari lumpur. Kekejian mereka terhadap YESUS amat menggusarkan hati Simon dari Kirene hingga akhirnya ia berseru, “Jika kalian terus bersikap brutal seperti ini, aku akan melemparkan salib ini dan tidak mau memikulnya lagi. Kalian dapat memaksaku hanya setelah kalian melangkahi mayatku terlebih dulu.”

Suatu jalanan yang sempit dan berbatu segera terlihat begitu pintu gerbang terlewati; jalanan ini mengarah ke utara dan menuju ke Kalvari. Jalanan yang tinggi sesudahnya segera terbagi menjadi tiga cabang, jalanan pertama mengarah ke barat daya, menuju ke Betlehem melalui lembah Gihon; jalanan kedua mengarah ke selatan, menuju ke Emaus dan Joppa; jalanan ketiga juga mengarah ke barat daya, mengitari Kalvari dan berakhir di pintu gerbang yang menuju ke Bethsur. Orang yang berdiri di pintu gerbang di mana YESUS digiring, dapat dengan mudah melihat gerbang Betlehem. Para petugas telah mengikatkan suatu papan pengumuman pada sebuah tonggak yang berdiri di awal jalan yang menuju Kalvari, guna memaklumkan kepada siapa saja yang lewat bahwa YESUS dan kedua penyamun akan segera dihukum mati. Sekelompok perempuan bergerombol dekat sana, menangis dan meratap; banyak di antara mereka yang menggendong anak-anak kecil dalam pelukan mereka; sebagian besar adalah para gadis dan para perempuan dari Yerusalem yang mendahului arak-arakan; sebagian kecil lainnya berasal dari Betlehem, Hebron dan daerah-daerah sekitarnya, yang datang untuk merayakan Paskah.

http://www.hollywoodjesus.com/movie/passion2/29.jpg

YESUS nyaris jatuh lagi, tetapi Simon, yang ada di belakang-Nya dan melihat bahwa Ia tak sanggup bertahan, bergegas menopang-Nya. YESUS menyandarkan diri pada Simon, dan dengan demikian terhindar dari jatuh terkapar di atas tanah. Ketika para perempuan dan anak-anak melihat keadaan Tuhan kita bagaimana Ia dihinakan begitu rupa, mereka menangis meraung-raung, meratap, dan menurut kebiasaan orang Yahudi, mengulurkan kain kepada YESUS guna menyeka wajah-Nya. YESUS berpaling kepada mereka dan berkata, “Hai puteri-puteri Yerusalem, janganlah kamu menangisi Aku, melainkan tangisilah dirimu sendiri dan anak-anakmu! Sebab lihat, akan tiba masanya orang berkata: Berbahagialah perempuan mandul dan yang rahimnya tidak pernah melahirkan, dan yang susunya tidak pernah menyusui. Maka orang akan mulai berkata kepada gunung-gunung: Runtuhlah menimpa kami! dan kepada bukit-bukit: Timbunilah kami! Sebab jikalau orang berbuat demikian dengan kayu hidup, apakah yang akan terjadi dengan kayu kering?” Kemudian YESUS mengucapkan beberapa patah kata penghiburan kepada mereka, yang tak dapat aku ingat dengan jelas.

Arak-arakan berhenti sejenak. Para algojo, yang berangkat terlebih dahulu, telah tiba di Kalvari dengan segala peralatan eksekusi, di belakang mereka seratus prajurit Romawi yang berangkat bersama Pilatus; Pilatus hanya menyertai arak-arakan hingga ke pintu gerbang, lalu kembali ke kota.