Semua terjadi karna suatu alasan

ku merenungkan betapa Tuhan itu Bapa yang sangat baik. Dia bukan Bapa yang tidak tahu keadaan anak-anak-Nya. Ya pikiran, hati atau kejadian yang dialami si anak saat itu juga. Tapi dia Maha tahu.

Tapi didalam perenunganku aku terbesit kembali dengan pertanyaan Jika dia tahu semua isi hati, pikiran dan situasi yang kualami. Apaka ia peduli terhadap semua itu?

Ketika suatu saat pikiran ku mumet soal segala hal yang ada dalam hidupku ya pekerjaan, pelayanan, keuangan, teman hidup atau hal-hal yang merupakan pilihan-pilihan. Pernah aku merasa apa Dia tahu pikiranku yang mumet ini hmmmm. Dengan segera hati ku berkata “Ya Dia tahu” tapi apakah Dia “peduli”. Jika “ya” mengapa tidak kasih yang lebih baik? Mengapa orang yang tidak kenal Tuhan dapatkan yang baik sedangkan aku?

sampai saat keadaan hati ku merasa tidak ada yang peduli, tidak ada yang mengerti, tidak ada yang memperhtikan dan merasa sendiri.

Setiap hari kurenungkan Firman Tuhan dan kutemukan jawaban yang pasti, Dia berkata

“Nak, jangan marah karena orang yang berbuat jahat. Jangan iri hati kepada orang yang berbuat curang” dengan kasih Dia menyatakan itu.

Aku bertanya “Apakah aku tidak lebih berharga dari mereka Tuhan?”

Katanya padaku “Mereka segera kering seperti rumput dan layu seperi tumbuhan hijau dan kaku. Kejadianmu ajaib dan pasti ajaib apa yg Kubuat. Sekali-kali Aku tidak akan membiarkan kamu dan sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau.”

“Tapi mengapa aku harus mengalami hal-hal menyesakkan. Bukankah Kau katakan aku diciptakan ajaib? Bukankah kehidupanku seharusnya dipenuhi kejaiban?” ku katakan pada-Nya dengan sedikit kesal!

“Nak, berdiam dirilah dan nantikan Aku”

“Bagaimana aku dapat berdiam jika hati dan pikiranku tak tenang? dan bagaimana aku dapat menantikan-Mu ketika aku merasa waktu-Mu terasa begitu lama.”

Kembali dengan nada kesal kukatakan pada-Nya!

“Nak, jangan kau marah karena orang yang berhasil dalam hidupnya atau karena orang yang melakukan tipu daya. berhenti marah anak-Ku dan buang panas hati itu, jangan marah, itu hanya membawa mu kepada dosa…”

Aku berdiam. Dengan hati yang hancur aku mengakui “Bapa ampuni aku yang telah menjadi marah dan kesal akan keadaan ku. Dan membandingkan diriku dengan orang lain.
Bapa, Kau tahu aku telah menyerahkan hidupku pada-Mu agar aku berubah dalam kehidupan rohaniku. Caraku melayani-Mu. Temperamenku. Dalam hubunganku dengan-Mu. Meskipun pernah Kau merubahku dengan cara yang sangat menyakitkan dagingku dengan meminta hal yg sangat kusukai. Aku sadar jika uang, pelayanan, teman hidup bukanlah segalanya. Kaulah segalanya. Saat ini berikanlah hatiku kekuatan sekali lagi untuk percaya dan berjalan bersama-Mu.”

Tiba-tiba aku ingat akan sebuah bait lagu yang berkata: “Walau kadang tak tahu rahasia jalan-Mu. Dan keputusan dari-Mu namun Aku trus PERCAYA”

Dan lagi Bapa menyatakan kasihnya kepada ku sambil berkata:

" Apakah kau percaya kepada-Ku?
Apakah kau sudah melakukan yang benar?
Dan apakah Kau tetap didalam hadirat-Ku dan tetap setia? Dan apakah kau bergembira karena kehadiran-Ku?
Jika kau lakukan semua Aku akan memberikan kepadamu apa yang diinginkan hatimu"
Kurenungkan kata-kata-Nya

“Serahkanlah hidupmu kepada-Ku dan percayalah kepada-Ku dan Aku akan bertindak; Aku akan munculkan kebenaran-Mu seperti terang, dan hakmu seperti siang. Berdiam dirilah dan Nantikanlah Aku…”

“Jika kamu bergantung kepada-Ku maka kau peroleh apa yang seharusnya kamu miliki dan begembira karena kesejahteraan yang berlimpah-limpah. Aku akan menuntun dirimu. Menetapkan langkah-langkahmu disaat hidup mu tetap berkenan kepada Ku. Dan Aku tidak membiarkanmu tergeletak saat jatuh. Kau tahu? dari dahulu sampai sekarang tidak pernah Aku lihat orang benar ditinggalkan atau anak cucunya meminta-minta tetapi justru mereka menjadi berkat. Begitu juga dengan hidupmu. Nantikanlah Aku dan tetap berjalanlah bersama-Ku maka Aku akan mengangkat engkau. Aku mengasihimu. Jadilah kuat anak-Ku”
Kini dengan hati yang bersyukur aku katakana:

“Thank You FATHER!!” Kini aku semakin tahu dan percaya akan kehadiran-Nya dalam Hidupku. Tidak sekedar hadir tetapi Dia menjadi segalanya untuk hidup ku. Dia ajar aku tidak bergantung pada iman dimasa lalu tetapi pada iman ku disaat ini kepada Dia. Mekipun belum tahu jalan-Mya dan keputusan hati-Nya tapi aku tahu janji-Nya. Dia tidak akan meninggalkanku dan aku percaya Dia tahu apa yang Dia sedang kerjakan didalam ku. Yang pasti yang terbaik bagiku.

Memang kadang masih ada kekuatiran dihatiku, tetapi KepercayaanKu kepada Allah lebih besar. Aku mulai belajar mengucap syukur dan melihat perkara-perkara ajaib yang dia kerjakan dalam hidupku. Seperti Tuhan Yesus bilang setia perkara kecil maka akan diberikan perkara yang lebih besar.

Sumber: Glory To Glory

Seorang anak mengeluh pada ayahnya mengenai kehidupannya dan menanyakan mengapa hidup ini terasa begitu berat baginya. Ia tidak tahu bagaimana menghadapinya dan hampir menyerah. Ia sudah lelah untuk berjuang. Sepertinya setiap kali satu masalah selesai, timbul masalah baru.

Ayahnya, seorang koki, membawanya ke dapur. Ia mengisi 3 panci dengan air dan menaruhnya di atas api. Setelah air di panci-panci tersebut mendidih. Ia menaruh wortel di dalam panci pertama, telur di panci kedua dan ia menaruh kopi bubuk di panci terakhir. Ia membiarkannya mendidih tanpa berkata-kata. Si anak membungkam dan menunggu dengan tidak sabar, memikirkan apa yang sedang dikerjakan sang ayah. Setelah 20 menit, sang ayah mematikan api. Ia menyisihkan wortel dan menaruhnya di mangkuk, mengangkat telur dan meletakkannya di mangkuk yang lain, dan menuangkan kopi di mangkuk lainnya.

Lalu ia bertanya kepada anaknya, “Apa yang kau lihat, nak?” “Wortel, telur, dan kopi” jawab si anak. Ayahnya mengajaknya mendekat dan memintanya merasakan wortel itu. Ia melakukannya dan merasakan bahwa wortel itu terasa lunak. Ayahnya lalu memintanya mengambil telur dan memecahkannya. Setelah membuang kulitnya, ia mendapati sebuah telur rebus yang mengeras. Terakhir, ayahnya memintanya untuk mencicipi kopi. Ia tersenyum ketika mencicipi kopi dengan aromanya yang khas. Setelah itu, si anak bertanya, “Apa arti semua ini, Ayah?” Ayahnya menerangkan bahwa ketiganya telah menghadapi kesulitan yang sama, perebusan, tetapi masing-masing menunjukkan reaksi yang berbeda.

Wortel sebelum direbus kuat, keras dan sukar dipatahkan. Tetapi setelah direbus, wortel menjadi lembut dan lunak.

Telur sebelumnya mudah pecah. Cangkang tipisnya melindungi isinya yang berupa cairan. Tetapi setelah direbus, isinya menjadi keras.

Bubuk kopi mengalami perubahan yang unik. Setelah berada di dalam rebusan air, bubuk kopi merubah air tersebut. “Kamu termasuk yang mana?,” tanya ayahnya. “Ketika kesulitan mendatangimu, bagaimana kau menghadapinya? Apakah kamu wortel, telur atau kopi?”

Bagaimana dengan kamu? Apakah kamu adalah wortel yang kelihatannya keras, tapi dengan adanya penderitaan dan kesulitan, kamu menyerah, menjadi lunak dan kehilangan kekuatanmu.

Apakah kamu adalah telur, yang awalnya memiliki hati lembut? Dengan jiwa yang dinamis, namun setelah adanya kematian, patah hati, perceraian atau pemecatan menjadi keras dan kaku. Dari luar kelihatan sama, tetapi apakah kamu menjadi pahit dan keras dengan jiwa dan hati yang kaku?

Ataukah kamu adalah bubuk kopi? Bubuk kopi merubah air panas, sesuatu yang menimbulkan kesakitan, untuk mencapai rasanya yang maksimal pada suhu 100 derajat Celcius. Ketika air mencapai suhu terpanas, kopi terasa semakin nikmat. Jika kamu seperti bubuk kopi, ketika keadaan menjadi semakin buruk, kamu akan menjadi semakin baik dan membuat keadaan di sekitarmu juga membaik.

aduh jd sedih membacanya.

saya ingin menjadi sperti bubuk kopi yg mn keadaan smakin buruk tp saya akan semakin baik. tlg doakan ya.

Saya yakin dan percaya, Rancangan Tuhan itu baik dan tidak kan melebihi kemampuan saya. Rancangan Tuhan itu mungkin lambat tp tdk pernah terlambat.

Doa : Tuhan, berikan saya kaki,tangan,dan hati yg kuat tuk jalani seluruh rancanganMu atas diri saya. Amen.

God bless.

Pada saat itu aku pulang kerja, saat aku melihat ada satu jembatan, terbersit di pikiranku : “Apakah baik ya jika aku mengakhiri hidupku di jembatan ini?”. Aku sudah bosan dengan hidupku yang seperti ini. Dari kecil hidupku merasa ditolak, ketika aku besar, ketika aku kuliah, aku pikir aku telah menemukan hidupku yang terbaik. Aku pacaran, dan pada saat itu juga aku ditolak. Aku merasa Tuhan itu jahat dalam hidupku.

Saat Lili masih bayi, seorang paranormal mengatakan pada ibunya bahwa Lili adalah anak pembawa sial. Sejak itulah Lili menerima perlakuan keluarga yang amat buruk.

Aku sering didiskriminasikan kalau sedang makan. Misalnya, kadang keluargaku makan tomat dan telur yang dijadikan satu sementara aku hanya makan nasi dengan sedikit garam dan air serta krupuk. Terkadang kalau orang tuaku pergi aku tidak suka diajak karena mereka tidak nyaman untuk mengajak aku. Mereka hanya akan mengajak kakak dan sepupu aku yang lain sementara aku hanya ditinggal dirumah. Aku jadi terbiasa di rumah dan aku tidak pernah pergi ke yang namanya mall.

Setiap kali Lili melakukan kesalahan maka ia akan disebut sebagai anak sial. Akibatnya Lili mulai menunjukkan sikap yang tidak semestinya. Lili bahkan berani memperlakukan kakaknya, Maria Herawati secara tidak wajar.

Dia berusaha untuk menyakiti perasaan saya, sampai-sampai dia pernah memukuli saya sebagai kakaknya. Dia berusaha menyakiti hati saya.

Saat kuliah dia berkenalan dengan pria yang lalu menjadi pacarnya.
Ternyata pria ini cukup baik, cukup berhasil dan berhasil memberikan apa yang selama ini aku inginkan dalam hidupku. Aku berpikir bahwa dia adalah orang yang Tuhan kasih untuk membebaskan aku dari penderitaan selama ini.

Tetapi hubungan cinta mereka tidak bertahan lama.
Pada saat-saat aku mencintai dia lebih daripada aku mencintai diriku sendiri, dia pergi meninggalkan aku. Selama ini aku berfikir bahwa akhirnya Tuhan mendengar doaku. Tuhan memberi aku seorang pria yang mengerti aku yang aku pikir tidak akan aku dapat dari orang lain. Aku lalu berpikir bahwa kerjaan Tuhan itu hanya menipu, dari aku lahir hingga besar tidak pernah ada yang sayang padaku. Aku bertanya kenapa Tuhan tidak mengerjakan sesuatu. Katanya Tuhan penuh dengan kuasa, katanya Tuhan penuh dengan Maha… Maha… Maha…. Tapi kenapa Tuhan tidak bisa merubah hidupku yang seperti ini?.

Kekecewaan yang mendalam membuat Lili berkali-kali mencoba untuk mengakhiri hidupnya.
Tuhan gimana ya?, aku ingin mati!. Tapi kenapa setiap kali aku ingin mati, aku ingat pada orang tua. Padahal orang tua juga nggak sayang-sayang amat padaku. Peduli padaku juga tidak.

Lili merasakan puncak deritanya. Belum cukup disitu, pada bulan yang sama tante yang paling dekat dengan Lili meninggal dunia. Ditengah pertanyaan yang berkecamuk dalam dirinya, Tuhan mulai menyatakan kasihNya dalam kehidupan Lili.

Aku berpikir : “Akhirnya setiap orang harus mati juga, tapi kenapa ya saya justru tidak mati-mati!”. Aku melihat wajahnya sambil bertanya-tanya : “Kalau mati, apa ya yang aku akan lakukan?. Apakah ketika aku mati semuanya selesai begitu saja”. Saat itulah Tuhan mulai berkata-kata : “Aku mengasihimu walaupun dunia membuang engkau. Aku tidak pernah membuang engkau”.

Aku tiba-tiba merasa Tuhan datang dan aku tidak pernah merasa seperti itu. Kata-kata “Aku mengasihi kamu” itu yang membuat aku berpikir bahwa itu pasti perkataan Tuhan karena aku tidak pernah bisa mengasihi diriku sendiri.

Sejak malam itu Lili mulai bisa mengampuni orang-orang yang menyakiti dirinya. Dia juga mulai belajar untuk mengasihi keluarganya. Tetapi Lili tidak berusaha sendirian, ada seorang teman yang selalu mendukungnya dalam doa.

Venalis Sutanto, temanLili bersaksi tentang hidup lama Lili.
Dulu Lili tertutup orangnya. Dia juga orang yang kasar dan sering marah. Tapi sekarang dia lebih lembut, lebih perhatian pada keluarganya dan juga suka menolong orang lain.

Maria Herawati, kakak Lili juga melihat perubahan adiknya ini.
Sekarang Lili telah berubah dan mau peduli pada kami sekeluarga, pada saya, pada mama dan dengan adiknya.

Hidup Lili ini menjadi hidup yang dipenuhi nilai Illahi.
Terima kasih Tuhan engkau telah memulihkan aku dan menjadikan hidupku lebih berarti.

sumber: Lili

Letihkah kamu?


http://img241.imageshack.us/img241/6241/83830551.jpg

2 Korintus 4:1
Oleh kemurahan Allah kami telah menerima pelayanan ini. Karena itu kami tidak tawar hati.

Mazmur 150; Yohanes 10; 1 Tawarikh 11-12

Seorang pendeta di pedesaan Skotlandia dipaksa keluar oleh para penatua di gerejanya karena dianggap tidak menghasilkan buah dari pelayanannya. Penduduk desa itu bersikap dingin dan memusuhi kebenaran. Selama pelayanan sang pendeta di desa tersebut, tidak terjadi pertobatan maupun babtisan.

Namun, pendeta tersebut masih selalu mengingat akan sebuah respon positif dari salah satu khotbahnya. Saat itu setelah khotbah yang dibawakannya, piring persembahan pun diedarkan dalam kebaktian, dan seorang anak laki-laki meletakkan piring itu lalu berdiri di atasnya.

Saat diminta menjelaskan mengapa ia melakukan hal itu, anak itu menjawab bahwa ia berbuat demikian karena sangat tersentuh oleh kehidupan sang pendeta. Dan karena tak punya uang untuk dipersembahkan, ia ingin memberi diri sepenuhnya bagi Allah. Sang pendeta sangat yakin bahwa Tuhan pasti melihat iman anak kecil ini dan akan memakainya dengan luar biasa.

Iman sang pendeta pun terbukti pada akhirnya. Anak kecil yang berdiri di atas piring persembahan itu adalah Robert Moffat, orang yang pada tahun 1817 menjadi pelopor utusan Injil di Afrika Selatan. Ia dipakai Allah secara luar biasa untuk menjamah kehidupan banyak orang. Padahal semua ini dimulai dari gereja kecil dan kesetiaan pendeta yang tidak dihargai.

Mungkin Anda tidak melihat buah pekerjaan Anda bagi Tuhan. Namun, tetaplah setia jangan menjadi tawar hati. Dia akan memberi tuaian sesuai dengan waktu dan jalan-Nya jikalau Anda tidak berputus asa.

Rahasia sukses adalah menemukan apa yang harus dilakukan dan secara konsisten melakukannya tiap hari

[B]Enyahkanlah Katak-Katak Itu!

Keluaran 8:9[/B]
Kata Musa kepada Firaun: “Silakanlah tuanku katakan kepadaku, bila aku akan berdoa untukmu, untuk pegawaimu dan rakyatmu, supaya katak-katak itu dilenyapkan dari padamu dan dari rumah-rumahmu, dan hanya tinggal di sungai Nil saja.”

Bacaan Alkitab setahun: Amsal 20; Efesus 3; Pengkhotbah 6-7

http://img193.imageshack.us/img193/7302/frog5.jpg

Pernahkah Anda bergumul dengan salah satu masalah yang enggan lenyap? Masalah itu agaknya kebal terhadap semua penyelesaian yang bisa Anda pikirkan. Anda mengusir masalah itu dengan berbagai cara, tetapi masalah itu malah meluas sampai tidak dapat dikendalikan.

Alkitab menyatakan bahwa seorang Firaun Mesir juga menghadapi masalah semacam itu ribuan tahun yang lalu. Dia berbantah sengit dengan Tuhan mengenai masa depan umat Israel, dan akibatnya dia bangun pada suatu pagi dengan mendapati negerinya dikerumuni katak-katak yang berlumpur, bau dan berlompatan di mana-mana.

Kejadian itu merupakan masalah yang gawat. Saya tidak berbicara tentang seekor atau dua ekor katak di halaman depan istana. Yang saya maksudkan ialah katak di mana-mana, di seantero negeri - di ranjang, di atas meja makan, katak-katak besar di perapian dalam dapur, katak-katak kecil di adonan roti dan air minum, di rambut, dan di tempat-tempat lain yang bahkan tidak ingin Anda bayangkan!

Lalu Tuhan mulai mengadakan tindakan. Dia mengutus hamba-Nya Musa menghadap Firaun untuk menanyakan waktu melenyapkan katak-katak itu. Tahukah Anda jawaban yang diucapkan Firaun? “Besok.” Dapatkah Anda bayangkan itu? Dia sebenarnya dapat berkata, “Lenyapkan katak-katak itu sekarang juga! Hari ini!” Tetapi dia memutuskan untuk melewatkan waktu satu malam lagi di antara katak-katak menjijikkan itu.

Mungkin Anda berpikir, “Itu adalah keputusan bodoh yang pernah saya dengar. Mengapa sampai dia memintanya besok?” Entahlah. Barangkali untuk alasan serupa yang Anda kemukakan dalam hal menunggu sampai besok untuk diselamatkan atau disembuhkan atau menjadi makmur.

Inilah yang saya ingin Anda perhatikan. Ketika Musa mempersilahkan Firaun menentukan waktunya dan dia menjawab, “Besok,” maka Musa menanggapinya, “Baiklah. Agar tuanku mengetahui bahwa ada Tuhan di surga, JADILAH SEPERTI KATAMU ITU.”

Saya ingin mengajukan pertanyaan kepada Anda: Berapa lama Anda bersedia membiarkan masalah yang membandel itu mengusik Anda? Kapan Anda ingin mengenyahkan katak-katak dalam hidup Anda? Sadarkah Anda bahwa masalah itu akan tetap bertahan selama Anda membiarkannya? Masalah itu akan tetap bercokol dalam hidup Anda sampai akhirnya Anda mengabil keputusan penting untuk berjalan bersama dengan firman Tuhan dan mengusirnya. Mengapa tidak Anda lakukan hal itu pada hari ini?

Bukan masalah yang meruntuhkan Anda tapi keputusan Anda untuk tidak mempraktekkan Firman yang membuat masalah itu tetap bercokol di sana.

sumber : Jawaban

Istriku berkata kepada aku yang sedang baca koran, “Berapa lama lagi
kamu baca
koran itu? Tolong kamu ke sini dan
bantu anak perempuanmu tersayang untuk makan.”

Aku taruh koran dan melihat anak perempuanku satu-satunya, namanya
Sindu tampak
ketakutan, air matanya banjir. Di depannya ada semangkuk nasi berisi
nasi susu
asam/yogurt (nasi khas India /curd rice).

Sindu anak yang manis dan termasuk pintar dalam usianya yang baru 8
tahun. Dia
sangat tidak suka makan curd rice ini. Ibu dan istriku masih kuno,
mereka
percaya sekali kalau makan curd rice ada “cooling effect”.

Aku mengambil mangkok dan berkata, “Sindu sayang, demi ayah, maukah
kamu makan
beberapa sendok curd rice ini? Kalau tidak, nanti ibumu akan
teriak-teriak sama
ayah.” Aku bisa merasakan istriku cemberut dibelakang punggungku.

Tangis Sindu mereda dan ia menghapus air mata dengan tangannya dan
berkata,
“Boleh ayah. Akan saya makan curd rice ini tidak hanya beberapa sendok,
tapi
semuanya akan saya habiskan, tapi saya akan minta…” agak ragu-ragu
sejenak,
“Akan minta sesuatu sama ayah bila habis semua nasinya. Apakah ayah mau
berjanji
memenuhi permintaan saya?”

Aku menjawab, “Oh pasti sayang”.

Sindu tanya sekali lagi, “Betul nih ayah?” “Yah pasti…” sambil
menggenggam
tangan anakku yang kemerah mudaan dan lembut sebagai tanda setuju.

Sindu juga mendesak ibunya untuk janji hal yang sama, istriku menepuk
tangan
Sindu yang merengek sambil berkata tanpa emosi, “Janji” kata istriku.

Aku sedikit khawatir dan berkata, “Sindu jangan minta komputer atau
barang-barang lain yang mahal yah, karena ayah saat ini tidak punya
uang.”

Sindu menjawab, “Jangan khawatir, Sindu tidak minta barang-barang mahal
kok.”
Kemudian Sindu dengan perlahan-lahan dan kelihatannya sangat menderita,
dia
bertekad menghabiskan semua nasi susu asam itu.

Dalam hatiku aku marah sama istri dan ibuku yang memaksa Sindu untuk
makan
sesuatu yang tidak disukainya.

Setelah Sindu melewati penderitaannya, dia mendekatiku dengan mata
penuh harap.
Dan semua perhatian (aku, istriku dan juga ibuku) tertuju kepadanya.
Ternyata
Sindu mau kepalanya digunduli/dibotaki pada hari Minggu.

Istriku spontan berkata, “Permintaan gila, anak perempuan dibotaki,
tidak
mungkin!” Juga ibuku menggerutu, “Jangan terjadi dalam keluarga kita,
dia
terlalu banyak nonton TV. Dan program-program TV itu sudah merusak
kebudayaan
kita.”

Aku coba membujuk, “Sindu kenapa kamu tidak minta hal yang lain kami
semua akan
sedih melihatmu botak.”

Tapi Sindu tetap dengan pilihannya, “Tidak ada 'yah, tak ada keinginan
lain,”
kata Sindu.

Aku coba memohon kepada Sindu, “Tolonglah kenapa kamu tidak mencoba
untuk
mengerti perasaan kami.”

Sindu dengan menangis berkata, “Ayah sudah melihat bagaimana
menderitanya saya
menghabiskan nasi susu asam itu dan ayah sudah berjanji untuk memenuhi
permintaan saya kenapa ayah sekarang mau menarik/menjilat ludah
sendiri?
Bukankah Ayah sudah mengajarkan pelajaran moral, bahwa kita harus
memenuhi janji
kita terhadap seseorang apapun yang terjadi seperti Raja Harishchandra
(raja
India jaman dahulu kala) untuk memenuhi janjinya rela memberikan tahta,
harta/kekuasaannya, bahkan nyawa anaknya sendiri.”

Sekarang aku memutuskan untuk memenuhi permintaan anakku, “Janji kita
harus
ditepati.”

Secara serentak istri dan ibuku berkata, “Apakah aku sudah gila?”

“Tidak,” jawabku, “Kalau kita menjilat ludah sendiri, dia tidak akan
pernah
belajar bagaimana menghargai dirinya sendiri.”

“Sindu permintaanmu akan kami penuhi.”

Dengan kepala botak, wajah Sindu nampak bundar dan matanya besar dan
bagus. Hari
Senin, aku mengantarnya ke sekolah, sekilas aku melihat Sindu botak
berjalan ke
kelasnya dan melambaikan tangan kepadaku. Sambil tersenyum aku membalas
lambaian
tangannya.

Tiba-tiba seorang anak laki-laki keluar dari mobil sambil berteriak,
“Sindu
tolong tunggu saya.”

Yang mengejutkanku ternyata kepala anak laki-laki itu botak. Aku
berpikir
mungkin “botak” model jaman sekarang.

Tanpa memperkenalkan dirinya seorang wanita keluar dari mobil dan
berkata, “Anak
anda ,Sindu, benar-benar hebat. Anak laki-laki yang jalan bersama-sama
dia
sekarang, Harish adalah anak saya, dia menderita kanker leukemia.”

Wanita itu berhenti sejenak, menangis tersedu-sedu, “Bulan lalu Harish
tidak
masuk sekolah, karena pengobatan chemo therapy kepalanya menjadi botak
jadi dia
tidak mau pergi kesekolah takut diejek/dihina oleh teman-teman
sekelasnya. Nah,
Minggu lalu Sindu datang ke rumah dan berjanji kepada anak saya untuk
mengatasi
ejekan yang mungkin terjadi. Hanya saya betul-betul tidak menyangka
kalau Sindu
mau mengorbankan rambutnya yang indah untuk anakku Harish. Tuan dan
istri tuan
sungguh diberkati Tuhan mempunyai anak perempuan yang berhati mulia.”

Aku berdiri terpaku dan aku menangis. Malaikat kecilku tolong ajarkanku
tentang kasih.

“Bersukacitalah dengan orang yang bersukactia, dan menangislah dengan
orang yang menangis!”

sumber: renungan harian


http://img189.imageshack.us/img189/660/buchenwald.jpg


http://img43.imageshack.us/img43/1717/t34041qq116.jpg

Yohanes 1: 10-18
Ia telah ada di dalam dunia dan dunia dijadikan oleh-Nya, tetapi dunia tidak mengenal-Nya.
Ia datang kepada milik kepunyaan-Nya, tetapi orang-orang kepunyaan-Nya itu tidak menerima-Nya.
Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya;
orang-orang yang diperanakkan bukan dari darah atau dari daging, bukan pula secara jasmani oleh keinginan seorang laki-laki, melainkan dari Allah.
Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran.

Yohanes memberi kesaksian tentang Dia dan berseru, katanya: “Inilah Dia, yang kumaksudkan ketika aku berkata: Kemudian dari padaku akan datang Dia yang telah mendahului aku, sebab Dia telah ada sebelum aku.”
Karena dari kepenuhan-Nya kita semua telah menerima kasih karunia demi kasih karunia;
sebab hukum Taurat diberikan oleh Musa, tetapi kasih karunia dan kebenaran datang oleh Yesus Kristus.
Tidak seorangpun yang pernah melihat Allah; tetapi Anak Tunggal Allah, yang ada di pangkuan Bapa, Dialah yang menyatakan-Nya.

Elie Wiesel, penerima hadiah Nobel Perdamaian tahun 1986, adalah seorang yang berhasil selamat dari kekejaman tentara Nazi. Dalam bukunya yang terkenal, Night, ia berkisah tentang pengalamannya ketika berada di Kamp Konsentrasi di Auschwitz dan Buchenwald. Diceritakan tentang seorang anak kecil yang digantung oleh tentara Nazi di hadapan para penghuni kamp. Saat tubuh kecil itu bergoyang meregang nyawa, dari kerumunan orang banyak terdengar suara bertanya, “Di mana Tuhan?” Dan Wiesel menjawab lirih, “Di sana, digantung bersama anak itu.”

Di tengah ketidakadilan dan penderitaan hidup, kita kerap menjadi ragu akan kasih dan kebaikan Tuhan. Hari ini kita diingatkan kembali akan solidaritas Allah atas kita di dalam Tuhan Yesus, Sang Firman yang telah menjadi manusia dan diam di antara kita (ayat 14). Itu berarti, bahwa Allah Yang Mahaagung dan Mahabesar itu ternyata juga Allah yang dekat. Allah yang kepada-Nya kita memanggil Bapa. Dia tidak berada di luar sejarah, dan mengendalikannya seperti orang yang memainkan remote control. Dia sungguh-sungguh berada di dalam sejarah; terlibat bersama kita; merasakan apa yang kita rasakan; menanggung apa yang kita tanggung.

Untuk dapat mengalami solidaritas Allah, syaratnya cuma satu: menerima Sang Firman dan percaya kepada-Nya (ayat 12). Yah, sesederhana itu. Namun, justru itulah yang paling menentukan hidup kita; bukan hanya di dunia ini, tetapi juga dalam kehidupan kekal kelak. Nah, sudahkah Anda membuka hati untuk menerima Dia?

Kristus sungguh-sungguh turut merasakan suka dan duka kita

Penulis: Ayub Yahya - www.renunganharian.net

Penderitaan selalu ada di mana-mana. Menimpa siapa saja. Dapat terjadi kapan saja. Suka atau tidak. Bisakah kita mengelak? Melalui tulisan ini saya ingin menghadirkan hasil permenungan pribadi. Anggap saja ini sebagai sebuah alternatif dari berbagi pilihan sikap yang telah ada.

Hidup penuh dengan keseimbangan. Ada baik di satu sisi, buruk menempati sisi yang lainnya. Bahagia-derita, tawa-tangisan, positif-negatif, sukses-gagal, siang-malam, semuanya hadir secara bersamaan membentuk sebuah keseimbangan. Seperti dua sisi mata uang, tak terpisahkan sampai kapan pun.

Lihatlah magnet, ada kutub positif dan negatif. Kita belajar bahwa magnet yang sekutub akan tolak-menolak. Sedangkan magnet yang berlainan kutub tarik-menarik. Bayangkan kalau hanya ada satu kutub, masihkah dia berfungsi sebagai magnet?

Arus listrik adalah contoh lainnya. Jika hanya ada satu arus, hanya positif atau hanya negatif, lampu tidak akan menyala. Harus lengkap keduannya. Atau bayangkan kalau hanya ada siang tapi tidak ada malam. Entah apa jadinya dunia ini.

Penderitaan datang sebagai sebuah makna tersembunyi. Dalam penderitaan pasti ada nilai kehidupan yang bisa kita petik. Ada sebuah pelajaran yang berharga. Penderitaan tidak hadir untuk dihindari atau disingkirkan dari kehidupan. Penderitaan datang untuk membuat kita semakin kokoh berjalan meraih impian.

Misalkan saja sebatang pohon, sebelum dia tumbuh semakin tinggi akarnya harus tumbuh semakin dalam mencengkram tanah. Karena semakin tinggi pohon semakin kencang angin bertiup. Kalau tidak, dengan sekali tiupan angin dia tumbang menyusur tanah. Sia-sialah sudah usahanya untuk tumbuh semakin tinggi.

Cobaan dan penderitaan serupa zat gizi dan vitamin yang dibutuhkan untuk tumbuh ke dalam. Menguatkan mental dan hati. Membuat pijakan kita semakin kokoh sebelum tumbuh semakin tinggi.

Kegagalan kita untuk menangkap makna di balik sebuah kejadianlah yang membuat kita menghindari penderitaan. Tuhan tentu tidak akan membiarkan kita menderita tanpa sebuah alasan yang menguntungkan. Bukankah ada pepatah yang mengatakan bahwa Tuhan tidak akan memberi kita cobaan di luar kemampuan kita. Jelas… Tuhan tahu keadaan kita dan melalui cobaan kita dididik untuk meningkatkan kemampuan kita.

Saya percaya sepenuhnya bahwa Tuhan itu Maha Baik. Tidak hanya kebahagiaan, penderitaan pun menjadi tanda kebaikan Tuhan. Karena dalam setiap kejadian, baik bahagia maupun derita, Tuhan menitipkan makna kehidupan. Tugas kita adalah menemukan makna tersebut.

Sangat membahagiakan mengetahui bahwa ada satu hukum alam yang akan sangat membantu kita menggali pesan-pesan berharga dalam penderitaan. Hukum Polaritas. Hukum ini menyatakan bahwa tidak ada sesuatu pun ada tanpa ada kebalikannya.

Sekali lagi, bahwa tidak ada sesuatu pun ada tanpa ada kebalikannya.

Jika kita menganggap suatu kejadian itu negatif, menurut Hukum Polaritas nilai positif pun ada di sana. Tidak mungkin tidak, karena Hukum Polaritas adalah hukum alam yang berlaku kapan saja, di mana saja, pada siapa saja, suka atau tidak. Sama seperti Hukum Gravitasi bumi.

Saya yakin anda ingin sebuah contoh sekarang.

Lihatlah proses kelahiran. Sang ibu harus menahan sakit yang luar biasa. Mempertaruhkan hidupnya. Akan tetapi, pada saat yang sama dia sedang memberikan sebuah kehidupan baru kepada bayinya. Penderitaan menghasilkan kebahagiaan.

Sebaliknya, kelahiran seorang anak akan membawa kebahagiaan untuk keluarganya (Kalau kelahiran itu memang diinginkan). Keluarga senang karena sekarang ada anggota baru dalam keluarga. Tapi, bukankah kematian telah menanti dengan pasti. Tidak ada seorang pun yang dapat menghindarinya.

Sekali lagi, tidak ada sesuatu pun ada tanpa ada kebalikannya. Tergantung fokus pikiran kita ke arah mana. Kemelekatan pikiran akan kebahagiaanlah yang membutakan mata kita akan makna di balik derita.

Kalau dalam derita ada kebahagiaan dan dalam kebahagiaan mengandung derita, bagaimanakah cara terbaik dalam menghadapi segala kejadian? Seorang bijak di negeri ini memberikan sebuah saran adalah dengan keikhlasan. Ikhlas menerima apa pun yang terjadi. Percaya dan pasrah bahwa apa pun yang terjadi adalah yang terbaik bagi kita. Kemauan Tuhan memang terkadang di luar pemikiran kita. Akan tetapi, kita harus percaya bahwa semua yang terjadi adalah demi kebaikan kita.

Hermanus Y Lobo

Kalau dalam derita ada kebahagiaan dan dalam kebahagiaan mengandung derita, bagaimanakah cara terbaik dalam menghadapi segala kejadian? Seorang bijak di negeri ini memberikan sebuah saran adalah dengan keikhlasan. Ikhlas menerima apa pun yang terjadi. Percaya dan pasrah bahwa apa pun yang terjadi adalah yang terbaik bagi kita. Kemauan Tuhan memang terkadang di luar pemikiran kita. Akan tetapi, kita harus percaya bahwa semua yang terjadi adalah demi kebaikan kita

sweet… blessed…
semua yang terjadi memang demi kebaikan kita, apapun yang terjadi…
thanks for sharing sis :onion-head25:

Adakah Tuhan


http://img193.imageshack.us/img193/2113/86065315.jpg

Adakah Tuhan di dunia ini? :huh:

Adakah Tuhan peduli sama manusia? :rolleye0014:

Adakah Tuhan adil? :char12:

Adakah hidup yang indah? :coolsmiley:

Adakah manusia bisa bertanggung jawab atas tindakan yang telah dilakukannya?

Disaat kita merasa mampu melakukan segala sesuatu sendirian, Tuhan itu tidak ada di dunia ini. “Aku mampu melakukan semuanya sendiri”, “aku hebat”, aku, aku dan semuanya aku.

Seiring waktu berjalan, disaat kesulitan dan badai kehidupan menerpa, lalu kita bertanya “mana Tuhan?”, “mana pertolonganNya?”, “mana tanganNya?” mana, mana dan semuanya mana. Kita merasa Tuhan tidak adil, tapi apakah benar Tuhan itu tidak adil? Yang tidak adil itu adalah kita. Disaat senang kita melupakan Tuhan, disaat sedih kita mencari Tuhan tapi kita seakan tidak menemukanNya.

Kenapa Tuhan?
Disaat ada masalah, disaat ada kesulitan, disaat ada badai kehidupan, apa yang menjadi subjek utama kita?

Siapa atau apa? Tuhan kah? Masalah kita kah? Atau apa?

Masalah, badai, kesulitan, apapun itu, itulah yang menjadi subjek utama dan Tuhan lah objeknya. Mata kita terhalang, hati kita tertutup, pikiran kita terbatasi oleh MASALAH.

Tuhan ada? Ya, Dia ada, tapi kenapa tidak ada? Karena dia ada dibelakang tembok masalah itu. Kita diselimuti masalah, kita didalam kotak masalah, kita tertutup rapat dan rapi oleh masalah.

Siapa? Apa? Yang menjadi penyebab datangnya masalah itu? Siapa? Apa? Penyebabnya. Kita, pikiran kita, tindakan kita, perbuatan kita, dan semuanya bersumber pada diri kita, kita dan kita. Tuhan tahu, Tuhan Maha tahu, Tuhan tahu segala sesuatu tanpa perlu diberitahu dan tanpa hal itu terjadi terlebih dahulu. Tapi kenapa? Kenapa Tuhan mengijinkan kita melakukan kesalahan? Kenapa Tuhan tidak mencegahnya? Kenapa Tuhan tidak menghalanginya? Kenapa Tuhan diam saja dan hanya berpangku tangan saat melihat kita membuat masalah? Kenapa Tuhan tidak peduli sewaktu kita membuat masalah dan Tuhan tahu kalau masalah itu akan membuat kita susah dan sangat-sangat susah?

Coba kita kilas balik kebelakang. Coba kita lihat kembali apa yang kita lakukan beberapa hari, beberapa minggu, atau mungkin beberapa bulan sebelum kita merasa “Kenapa masalahnya besar banget ya?”. Coba kita ingat-ingat kembali, coba kita mengecek kembali.

Adakah Tuhan peduli terhadap kita? Adakah kita menepati komitmen kita? Adakah kita TAAT pada Tuhan? Adakah kita diingatkan Tuhan? Adakah kita ditegur Tuhan? Adakah kita disadarkan Tuhan?

Jawabannya adalah YA, Tuhan peduli sama kita. Ya, kita TIDAK menepati komitmen kita. Ya, kita TIDAK taat sama Tuhan. YA, kita diingatkan Tuhan. YA, kita ditegur Tuhan dan YA, kita disadarkan Tuhan.

Tapi apa? Apa yang kita lakukan kemudian? Kita mengeraskan hati, kita merasa “Aku mampu melakukan semua ini sendiri, Tuhan minggir aja dulu deh” dan kita menambahkan “Kalau aku cape dan gagal, aku nyerah deh sama Kamu, Tuhan”.

Hasilnya apa? Apa yang kita Tuai? Apa yang kita rasa kemudian? Apa yang kita alami? Kehancuran, putus asa, kekecewaan, kerugian, TIDAK ADA satupun yang baik yang kita alami.

Kawan-kawanku terkasih, ini adalah pelajaran yang aku alami saat ini. Aku tidak taat, aku tidak memegang komitmenku, aku tidak mempedulikan peringatan Tuhan, aku tidak menghiraukan teguran Tuhan. Hasilnya apa? Aku mengalami kehancuran, tapi Tuhan masih membiarkan aku hidup.

Kawan, terkadang kita merasa “kenapa Tuhan mengijinkan ini semua terjadi?”, “kenapa Tuhan ga mencegah saja?”, “kenapa Tuhan kok membiarkan kita menderita?”, sadarlah, ini semua adalah Buah dari KETIDAKTAATAN kita. Bukan Tuhan yang Jahat, tapi kita yang Jahat. Bukan Tuhan yang tidak adil, tapi kita yang tidak adil. Bukan Tuhan yang tidak peduli, tapi kita yang tidak peduli.

Jangan pernah takut untuk menangis, karena Tuhan menganugerahkan air mata sebagai ungkapan perasaan kita saat kita tidak bisa mengungkapkannya dengan kata-kata.

Dalam 1 Petrus 1:6, Rasul Petrus menulis, “Bergembiralah akan hal itu, sekalipun sekarang ini kamu seketika harus berdukacita oleh berbagai-bagai pencobaan.” Dalam pandangan Petrus, penderitaan merupakan “Sekolah Pendewasaan” bagi orang percaya. Petrus rupanya memegang nilai-nilai yang sama seperti yang Daud percaya. Raja Daud berkata, “Bahwa aku tertindas itu baik bagiku, supaya aku belajar ketetapan-ketetapan-Mu.” (Maz 119:17).

Salam sejahtera

sumber: Cerita-Kristen.com

                                [b]Kebaikan yang sulit dipahami[/b]

http://meisusilo.files.wordpress.com/2009/03/image165.png

[b]Bahwa aku tertindas itu baik bagiku, supaya aku belajar ketetapa-ketetapan-Mu. Taurat yang Kau sampaikan adalah baik bagiku, lebih dari pada ribuan keping emas dan perak.

Mazmur 119:71-72[/b]

Ketika masih muda, Lee Sundstrom mengalami kekecewaan yang sangat dalam saat Perang Dunia II.

Peristiwa Pearl Harbor belum terjadi, namun dia harus mengikuti wajib militer. Dia memprotes dewan daerah supaya dibebaskan dari wajib militer itu karena ia memenuhi syarat menjadi hamba Tuhan dan sebagai asisten penginjil Irwin Moon. Namun, mereka tidak berpendapat demikian, maka Lee berangkat ke Ford Ord pada bulan Maret 1941.

Setelah mengikuti latihan dasar, Lee mempelajari radar di Fort Monmouth, New Jersey. Dia diminta untuk tetap tinggal dan diberi tahu bahwa dia mendapat kesempatan untuk naik pangkat menjadi Sersan Kepala.

“Saya langsung menerima tawaran itu dan segera membayangkan bagaimana nanti bila saya memakai kemeja dengan lencana Sersan Kepala dengan gaji yang lebih tinggi.”

Namun itu hanya mimpi. “Sebagaimana terbukti, saya memang berada di Ft. Monmouth, tetapi harus memikirkan untuk memperoleh pinjaman di Ft. Ord. Saya baru saja berada di Ft. Ord dan tidak mengenal siapapun. Saya lihat orang-orang itu naik pangkat. Sungguh menyakitkan bagi saya.”

“Saya mengadukan hal ini kepada Tuhan dan kemudian Dia memberi saya dama sejahtera dan membuat saya bersedia tinggal di Buck Private. Disi saya menjadi instruktur, namun mengerjakan semua tugas KP (Kichen Patrol = orang yang bertugas memasak dan membersihkan dapur) dan Latrine Orderly (Petugas pembersih kamar mandi). Dan, mendapat gaji setara dengan kopral.”

“Saya sanggup menghadapi pengalaman yang tidak mampu saya pahami dan menjadikan saya rendah hati karena buah doa dan membaca firman Tuhan. Kini saya bersyukur karena Tuhan telah menempatkan saya dalam keadaan tersebut. Banyak hal yang lahir dari kekecewaan itu dan kemenangan yang berikutnya.”

Lee selalu mengingat peristiwa tersebut di kemudian hari saat dia harus mempercayai Allah ditengah-tengah situasi yang membingungkan.

“Akhirnya saya tahu bahwa jendral di Ft. Ord menolak kepindahan saya karena di Ft. Monmouth terkenal suka menghalangi orang-orang yang dikirim kesana hanya untuk tugas sementara. Jendral ini tidak menginginkan seorangpun mengalami hal itu. Beliau adalah orang yang memiliki integritas. Menurut yang saya dengar, beliau sebenarnya bisa menjadi Kepala Petugas Penghubung, namun akhirnya gagal karena beliau tidak mau bermain politik. Beberapa tahun kemudian beliau menghubungi saya beberapa kali dan memberitahu bahwa secara pribadi dia mengikuti karir saya.”

Akhirnya Lee direkomendasikan menjadi pegawai di Candidate School (sekolah untuk anggota militer yang akan menjadi pegawai dalam ketentaraan) dan diberhentikan ketika perang usai dengan jabatan Kapten.

Dari yang dialaminya Lee belajar tentang kebenaran “Sebab bukan dari timur atau dari barat dan bukan dari padang gurun datangnya peninggian itu, tetapi Allah adalah Hakim: direndahkan-Nya yang satu dan ditinggikan-Nya yang lain.” (Mazmur 75:7-8).

Kadang-kadang cara kerja kebaikan Allah tampak sulit dipahami. Kebaikan-Nya bekerja melalui jaringan kusut antara kekudusan-Nya dan ciptaan-Nya yang sering memberontak, kita. Dia berusaha keras merancangkan segala sesuatunya untuk kebaikan setiap orang, baik pikiran, tubuh, jiwa dan rohnya sempurna.

Kadang kebaikannya seolah-olah Dia menendang kita: itu menyakitkan. Dunia kita tampak suram. Allah sepertinya marah. Namun bila kita menerima keadaan itu dengan sikap yang benar, kita akan melihat kebaikan-Nya di balik semua keadaan itu.

Ingatlah bahwa kebaikan Allah itu bersifat dinamis. Dia bahkan dapat menggunakan sesuatu yang sangat buruk dalam kehidupan ini untuk menyatakan kebaikan-Nya. Semua itu hanya memiliki satu tujuan, untuk meraih Anda masuk dalam rencana keselamatan-Nya dan membimbing Anda pulang menuju rumah Bapa Sorgawi yang kekal.

Adaptasi dari : Allah Itu Baik Senantiasa; Janet Chester Bly; Metanoia ( via jawaban.com

semoga doanya terkabul bro :slight_smile: