Sekeluarga Dibantai Massa, Polisi tak Berkutik

Sekeluarga Dibantai Massa, Polisi tak Berkutik
Selasa, 8 April 2008 | 07:13 WIB

SUMENEP,SELASA - Diduga karena dendam, ratusan orang yang diduga suruhan kepala desa (kades) membantai mantan kepala desa (kades), anak kandungnya dan seorang kerabatnya, Senin (7/4). Meski tragis, kejadian di Desa Tanjung Giok, Pulau Tanjung Giok, Kecamatan Sapeken, Sumenep (Madura) itu belum berhasil disentuh aparat keamanan hingga tadi malam. Pasalnya, jumlah polisi di pulau terpencil itu tak sebanding dengan jumlah massa yang kalap.

Bahkan, saat berusaha mengatasi keadaan, 8 polisi yang dipimpin Kapolsek Sapeken Aiptu Didik Muhartoyo justru diancam dan dikejar warga. Akibatnya, kapolsek dan anak buahnya lari terbirit-birit dan menyelamatkan diri ke pulau terdekat, Pulau Sepanjang, dengan naik perahu. Dua jam kemudian, tim kapolsek itu baru tiba di Pulau Sepanjang.

Korban tewas dalam pembantaian itu diketahui bernama H Majeni, 52, mantan kades Tajung Giok dan anak kandungnya Abdul Hamid, 32. Seorang kerabat Majeni yang belum diketahui namanya, dikabarkan dalam kondisi luka parah.

Informasi yang dihimpun Surya menyebutkan, pembantaian itu diduga dipicu konflik sejak pemilihan kepala desa (pilkades) tahun 2007. Korban Abdul Hamid kalah dengan Sahiruddin yang saat ini menjabat kepala desa Tanjung Giok.

Akibat kekalahan itu, dikabarkan Majeni dan Hamid kerap melaporkan Sahiruddin ke kepolisian setempat dengan beragam tudingan. Mulai dari soal dugaan penyelewengan distribusi beras miskin hingga maraknya pengeboman ikan dengan potasium.

’’ Bentrok ini merupakan akumulasi dari berbagai persoalan di desa, mulai dari potasium, tanah hingga masalah jalan desa yang sempat ditutup oleh korban dengan dalih jalan itu di atas tanah H Majeni,’’ ujar tokoh masyarakat Sapeken, ustad Dhailami kepada Surya yang menghubungi via telepon, Senin (7/4) sore.

Kabar lain juga beredar, setelah kalah pilkades, Hamid mendirikan lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang menyoroti penyimpangan di desa dan melaporkannya ke aparat hukum. Kades pun merasa terganggu dengan keberadaan Hamid dan Majeni di desanya.

’’Hamid melaporkan maraknya penangkapan ikan dengan potasium ke Satpolair (Satuan Kepolisian Air) yang berbuah ditangkapnya sekitar 25 orang warga. Diduga, mereka adalah orang-orang kades Sahuruddin, sehingga perseteruan semakin tajam,’’ ujar Sajali, teman akrab korban.

Tertangkapnya 25 nelayan Tanjung Giok dimanfaatkan untuk menggerakkan warga yang kontra Majeni dan Hamid. Minggu (6/4) sekitar pukul 09.00 WIB rumah korban didatangi ratusan orang yang diduga suruhan kades Sahirudin. Namun, mereka tak bertemu karena kebetulan keduanya sedang panen rumput laut. Massa hanya merusak pagar dan tanaman milik korban.

Esok hari, Senin (7/4), sekitar pukul 06.00 WIB ratusan massa kembali mendatangi rumah korban. Mereka membawa senjata tajam, pentungan dan kayu. Para korban yang hanya bertiga langsung dibantai beramai-ramai.

Polisi yang datang ke tempat kejadian sekitar pukul 09.00 WIB, tidak bisa mencegah amuk massa. Bahkan aparat berjumlah 8 orang yang dipimpin Kapolsek Sapeken, Aiptu Didik Muhartoyo ngacirt dikejar massa, dan melarikan diri dengan menumpang perahu ke Pulau Sepanjang. Tidak hanya itu. Petugas medis yang datang ke TKP diancam akan dihabisi jika menolong korban.

Kapolres Sumenep, AKBP Drs Darmawan yang mendengar kejadian itu langsung memerintahkan anggotanya untuk berangkat mengamankan lokasi kejadian dan mengevakuasi korban.

Tepat pukul 14.00 WIB kemarin, 40 orang personel dari samapta, reskrim dan intel Polres Sumenep bergerak ke Pulau Sapeken dengan kapal milik pemkab. Tapi karena perjalanan ke Pulau Tanjung memakan waktu 9 jam, diperkirakan baru pukul 23.00 WIB tadi malam mereka sampai di TKP.

”Pasukan langsung kita terjunkan ke lokasi kejadian. Korban harus segera dievakuasi dan menyelidiki serta menangkap siapa saja pelakunya,’’ ujar Kapolres kepada wartawan.

Kapolres mengakui, sampai saat ini pihaknya masih belum mengetahui pasti motif pembantaian. Informasi sementara yang diterima Kapolres, sebelumnya korban H Majeni telah melakukan pemagaran atas sebidang tanah miliknya yang sudah dijadikan fasilitas umum desa. Pemagaran itu mengundang amarah dari warga setempat.

http://www.kompas.com

inget film PKI deh…

untuk pak Polisi setempat, kenapa kabur? seharusnya kan bisa menangani masalah ini dengan segera. jangan apa2 harus tembak, pencuri ayam ditembak, pengutil toko ditembak… apa ngga bisa untuk hal yang “cilik” ajah dengan tangan “kosong”? cerdik dikit kan bisa yah, coba tolong dicek seberapa massa yang main hakim, kalo kekuatan masih belum memadai kan bisa via HT kek, radio panggil kek, HP kek telp ke kesatuan pusat dan minta bantuan… kan jadi ketauan aparat keamanan tuh gimana sebenarnya… :mad0261: semoga bisa jadi koreksi…

lho kok kabur ???
ehm… tapi setidak nya sudah ada usaha memanggil bantuan… harus nya ini jadi pelajaran buat polri agar tidak terjadi main hakim sendiri di kemudian hari…

CK CK CK… polisi kok malah kabur, tapi emang polisi juga manusia di hadepin ma orang banyak juga pasti takut juga.

aku pernah lihat video yang tentang kerusuhan di sampit eeee… itu ada orang dibacokin didepan polisi, polisinya diam aja…

emang lebih baik ngandalin Tuhan kita lebih mantab :happy0025: