sedih melihat fenomena pelayanan

sy cukup sedih melihat pelayanan jmn sekarang. Hampir semua pelayanan dikaitkan dgn duit. pdt berkotbah duit, penatua majelis melayah ibadah ada pengganti transport. kepanitiaan ada insentif. kegiatan kkr ada honor. uang memang perlu tp jgn semua bentuk pelayanan ditakar dengan duit? :onion-head33: :onion-head53:

Banyak ga duitnya?

Setuju aku juga sedih. tapi aku juga yakin masih ada ratusan atau ribuan atau puluhan ribu anak Tuhan yang tulus. dan yang terpenting motivasi kita.jangan jadikan akar pahit atau batu sandungan yang “mereka” lakukan tapi pandang dari sisi bahwa mereka juga saudara satu tubuh Kristus juga. Doakan saja. minta hikmat.

maaf newbei ikut coment…
mungkin gak semuanya seperti itu…
contoh nya di tempat saya,ya mungkin karna gereja kami kecil, dan juga letak nya di pedalaman…
hanya pendeta yg mendapatkan honor…
majelis, guru sekolah minggu, anggota komisi, tidak ada yg di bayar…

Kalau dahulu anak2 kota besar tdk mau jadi pendeta, dan para ortu tdk mau anaknya menikah dng pendeta, krn gak ada uangnya, nti makan apa. Tapi skrg fenomena telah berubah, pendeta adalah suatu profesi yg sgt menjanjikan masa depan baik dng harta cukup berlimpah. Pendeta juga manusia yg memerlukan uang utk pemenuhan kebutuhan hidup sehari2. Sah saja pendeta menjadi kaya, namun jgnlah mempengaruhi pelayanannya khususnya terhadap jemaat yg tergolong biasa, kurang mampu, bahkan miskin harta. Tuhan memberkati si pdt agar dia lebih peka lagi thd jemaatnya yg berkekurangan.

Saya pribadi melihat ini adalah tantangan buat calon pendeta dan pendeta2.

hamba Tuhan juga manusia kan :cheesy:

Gereja saja sekarang banyak yang pakai sistem ‘waralaba’, kalau disuatu tempat 'setoran’nya kurang, maka langsung tutup :tongue: