Sahabat yang manis sekaligus beracun

Saat dibangku kuliah, saya memiliki seorang sahabat yang dekat dengan saya. Saya sangat menyayanginya, dan saya pikir begitu pula dengan dia. Saat itu saya tak mengerti arti ketergantungan emosi dan lain sebagainya. Dia begitu perhatian, begitu mendalam dan “romantis” dalam taraf sahabat. Dia juga orang yang memberikan banyak pengaruh positif di satu sisi, terutama dalam pengenalan akan Tuhan (saat itu saya belum tobat), hingga akhirnya bertobat dan ikut Kristus. Saya menyayanginya sekaligus mengaguminya.

Namun memang tidak ada manusia yang sempurna. Lama kelamaan saya merasakan tekanan yang semakin terasa seiring berjalannya waktu, terutama satu tahun terakhir kuliah. Sahabat saya tersebut semakin seolah2 “ingin menjadikan saya seperti apa yang diinginkannya”. Dengan mengkritiki segala sikap saya yang dirasanya tidak sesuai dengan karakternya, misalkan jika saya tak setegas dia, tak sesimpatik dia, dan hal2 spele semacam jika saya menyukai style baju yang lebih casual. Bahkan jika ujian dia tidak belajar, maka dia akan merengek supaya saya sama2 tidak belajar. Awalnya saya pikir itu hanya satu dua hal sepele yang tak saya pertimbangkan. Lambat laun dia mulai berusaha menanamkan “image” tertentu mengenai diri saya yang “disukai olehnya”. Jika kira-kira ada hal yang mengancam dirinya tetap diatas, maka dia akan mulai untuk berkata2 manis, diplomatis, atau apapun yang membuat saya tetap dibawahnya. Dia akan baik pada saya jika saya bersikap manis dan berusaha menyenangkannya, dan akan “ngambek” jika sebaliknya.

Saat lulus kuliah, sedapat mungkin kami masih keep in contact, namun dia semakin menjauh oleh karena kesibukan kerjanya, dan kami semakin jarang kontak. Kebetulan sekali! Saya terbebas dari dia akhirnya. Saat2 kami sudah jarang berkumpul, saya semakin menyadari akan segala yang telah terjadi. Saya bertemu teman2 lama, dan teman2 baru, dan saya benar2 merasa bisa menjadi diri saya sendiri.
Dua tahun sudah berlalu, sepertinya dia mengalami kejenuhan dengan kantornya. Kemudian dia mengontak saya lagi, dengan sangat friendly seperti dahulu kala. Dia merindukan saya (entah benar entah tidak). Dia ingin bertemu saya lagi dan ingin berkumpul seperti dulu lagi. Namun perasaan saya kacau, saya tak mau bertemu dia. Adalah salah saya sendiri mau didominasi dan dimanipulasi seperti dulu itu, saat itu saya akui bahwa saya takut kehilangan dia.

saya benar2 takut untuk kembali dekat dengannya, manipulasinya benar2 halus dan tak terasa. Saya tak mau dirongrong secara emosional seperti dulu lagi. Apakah saya salah menghindarinya? atau artinya saya jadi kepahitan olehnya? saya benar2 bingung… :frowning:

jadilah dirimu sendiri… tidak ada seorangpun yang bisa hidup dalam pribadi rekaan/bentukan orang lain…

jangan kembali ke kubangan yang sama.

GBU :slight_smile:

di usia kamu skg seharusnya kamu dah bisa menentukan pribadi kamu sendiri… kalau memang kamu msh takut jika dy akan memanipulasi kamu secara halus. sebaiknya hindari dulu pertemuan dengan dia.

Salah atau tidak menghindari orang spt itu, tergantung persepsi tiap orang. Buat saya, itu bukan suatu kesalahan. Selama pertemuan dengan dy, malah membuat kamu tidak nyaman.

Untuk mslh kepahitan, aku kurang tahu. Tapi, mungkin ada satu trauma ketika anda bersama dy. Anda merasa nyaman namun disatu sisi anda kehilangan jati diri anda. Sebaiknya anda menentukan jalan anda sendiri. Jika belum bisa atau takut ntinya kehilangan jati diri anda bersama dy. Untuk sementara waktu ini, jgn bertemu dengan dy dulu smp anda siap untuk bertemu dengan dy. :slight_smile:

Trima kasih banget untuk jawaban2nya Duo Alva n Milky.
Benar sekali, sudah bukan saatnya untuk dimanipulasi. Dan saya pikir memang yang terbaik sebaiknya saya hindari dulu deh. Kan memang tak bisa menyenangkan semua orang ya…

Sbg pribadi sebaiknya harus punya prinsip, jangan mau dijadikan boneka :wink:

waduh…ini namanya menjadikan orang lain sama seperti apa yang diingikannya…ngeri jg.koq ada y orang kaya gitu
klo gawe mo jd diri gawe sendiri, harus berani memutuskan segala sesuatu sekalipun keputusannya itu terkadang salah.

Kata kuncinya, be assertive!
Katakan secara terus terang dan sopan bahwa Anda tidak bersedia menjadi seperti yang diinginkan teman Anda. Setiap orang berhak menjadi diri sendiri.
Jika diungkapkan dengan tepat (tanpa menyinggung), seharusnya tidak akan terjadi masalah. Semoga membantu.
Salam

simple aja… kl engga ada damai sejahtera di hati yaj mendingan jangan ketemu

btw, temenmu ini jenis kelaminnya sama dengan u atau beda?

Dear ayaya,

Dari cerita kamu, kesimpulan saya adalah kamu sudah lebih baik saat berpisah dengan “sahabatmu” dimana kamu sudah bisa menjadi dirimu sendiri dan punya banyak teman :afro:

Jadi tidak perlu kuatir lagi kalau dia masih “memaksa” kamu karena kamu masih banyak teman yang akan mendukung
(seperti di FK ini :)) sudah saatnya kamu menyatakan pendapatmu jangan cuma jadi yesman / yeswoman aja. :ashamed0004:

Sahabat yang baik adalah seseorang yang dapat menerima kamu apa adanya, menghibur kamu di saat sedih,
tertawa bersamamu di saat senang, mau menegur kamu di saat salah.
(Ada yang mau jadi sahabat saya? :ashamed0002:)

Dunia tidak selebar daun kelor. Tapi lebih lebar dari itu.
Kalau kita terbiasa mikir hal-hal kecil, kita akan jadi manusia yang serba salah.
Think big!.
Salam

setuju :afro:

dulu ada juga punya temen suka monopoli begitu, aku jauhin demi “kesehatan” ;D ;D

bener kata tmn2 harus punya prinsip… dia begitu, ya tetap begitu… kamu ya kamu, bukan dia atau barangnya dia

Setuju saran om khalil … mana nih TS ?

Kalo menurut saya kamu cuma mau jadi tempat pelarian sementara aja tuh :smiley: karena dia-nya lagi bermasalah …

nah, ambil positif-nya,
kamu sudah bertobat! :slight_smile:

jadilah garam dan terang dunia… :slight_smile: :slight_smile: :slight_smile: