Saat Teduh

[b]http://saatteduh.wordpress.com/2014/06/
Tak menghalalkan segala cara
Posted on Jumat, 13 Juni, 2014 by Saat Teduh

Baca: 2 Samuel 4:1-12
http://www.jesoes.com/alkitab/2sam/4/1

Abner ternyata bagai tulang punggung bagi Israel, karena kematiannya bermakna runtuhnya benteng pertahanan takhta Israel (1). Situasi memburuk yang terjadi di Israel ini dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya oleh Baana dan Rekhab, yang bertugas sebagai kepala gerombolan.Mungkin mereka melihat suatu kesempatan menarik untuk menolong Daud meraih kekuasaan seutuhnya. Bila mereka berhasil, tentu Daud tidak akan segan-segan memberikan imbalan besar bagi mereka. Barangkali begitu imajinasi mereka saat itu.

Rekhab dan Baana mendatangi kediaman Isyboset pada saat yang tepat, saat penjaga pintu rumahnya tertidur (5-6). Kepala Isyboset pun menjadi incaran mereka untuk dipersembahkan kepada Daud (7). Maka perjalanan jauh dengan membawa kepala Isyboset pun rela mereka tempuh. Tentu harapan mereka tidak jauh-jauh dari imbalan karena mengira bahwa Daud akan sangat senang bila musuhnya tiada. Namun mereka sama sekali tidak memperhitungkan kesetiaan Daud pada janjinya terhadap Saul (lihat 1Sam. 24:20-22). Bagi Daud, Saul dan keluarganya bukanlah musuh, meskipun Isyboset bukanlah orang yang diurapi Tuhan untuk menjadi raja. Maka bagaimanapun, tindakan Rekhab dan Baana jelas tidak dapat diterima Daud. Meski mereka berdua membawa-bawa nama Allah, tetapi bagi Daud tindakan mereka bukan merupakan wujud campur tangan Allah. Maka hidup keduanya pun kemudian berakhir sama seperti orang Amalek yang melaporkan kematian Saul (10-12).

Walau mengetahui ketetapan Allah bagi hidupnya, Daud tidak mau melangkahi Allah untuk mewujudkan ketetapan itu. Daud selalu membiarkan Allah bertindak mewujudkan kehendak-Nya berdasarkan cara dan waktu-Nya sendiri, sehingga tak ada cara-cara kotor yang pernah dia setujui. Kiranya ini menjadi teladan bagi kita. Bila Tuhan memang menghendaki kita untuk menjadi sesuatu, niscaya Dia sendiri yang akan membuka jalan itu. Tak perlu ambisi yang sampai membuat kita menempuh segala cara.

Pujian Hari Ini
Posted on Jumat, 13 Juni, 2014 by Saat Teduh

Bacaan Alkitab hari ini: Mazmur 33-34
http://www.jesoes.com/alkitab/mzm/33/1

Orang-orang pada zaman dulu mengandalkan kuda sebagai cermin kekuatan militer sebuah kerajaan. Pada masa kini, yang diandalkan manusia umumnya adalah jabatan atau kekuasaan. Daud, sangat sadar bahwa imannya tidak boleh berlandaskan kekuatan fisik, melainkan harus berlandaskan Allah yang Maha Kuasa (33:16-19). Daud telah sering mengalami dan melihat bagaimana Allah melepaskan orang beriman dari tangan musuh (34:5-8, 18). Dia sadar bahwa orang beriman juga bisa mengalami krisis, teror, dan kematian. Sepanjang sejarah, banyak orang beriman yang dianiaya, dijadikan mangsa binatang buas, ditelantarkan, dibunuh, dan sebagainya (Roma 8:35-36, Ibrani 11:32-40). Walaupun Allah dapat menyelamatkan umat-Nya, kadang-kadang—dengan alasan yang hanya diketahui Allah—Ia “membiarkan” umat-Nya jatuh ke tangan musuh. Sekalipun demikian, “Tuhan dekat kepada mereka yang patah hati dan remuk jiwanya…” (Mazmur 34:19). Orang benar yang sungguh-sungguh percaya kepada-Nya tidak akan kehilangan pengharapan di dalam Allah yang telah menjamin mereka.

Pujian Daud dalam Mazmur 34 berasal dari pemahaman yang benar akan Allah. Pujian itu tidak semata-mata berlandaskan pengalaman hidup yang penuh sukacita, namun juga dukacita (34:2). Memuji Tuhan adalah ciri wajar dari kehidupan umat yang telah mengalami anugerah-Nya (33:1), Ia adalah Allah bangsa-bangsa dan Allah Pencipta yang Mahakuasa (33:6-11), Allah yang berdaulat atas sejarah (33:12-19)—semua ini menjadi alasan untuk menaikkan pujian bagi Allah. Hanya di dalam pengenalan yang benar akan Dia, hati kita dapat bersukacita dan menaikkan pujian bagi-Nya. Kiranya Tuhan memberi kita sebuah pujian pada hari ini untuk mengingatkan kita akan kebaikan dan kebesaran-Nya, apa pun yang mungkin sedang kita hadapi. [J]

Mazmur 34:2
“Aku hendak memuji TUHAN pada segala waktu; puji-pujian kepada-Nya tetap di dalam mulutku.”[/b]

[b]http://saatteduh.wordpress.com/2014/06/
Tetaplah Setia
Posted on Sabtu, 14 Juni, 2014 by Saat Teduh

Bacaan Alkitab hari ini: Mazmur 35
http://www.jesoes.com/alkitab/mzm/35/1

Kejahatan di dunia ini adalah akibat dari dosa. Manusia yang telah tercemar dosa, tidak mungkin bebas dari kejahatan. Ketika ada orang benar yang tertindas oleh kejahatan, naluri alamiah yang muncul adalah bahwa kejahatan mereka harus diganjari. Mazmur ini merupakan genre (jenis sastra) mazmur “kutukan”, yaitu mazmur yang berisi permohonan agar Tuhan menunjukkan keadilan-Nya dengan menghukum orang yang melakukan kejahatan. Doa seperti ini bukan bersumber dari keinginan membalas dendam karena perasaan benci, melainkan karena kerinduan agar kebenaran Tuhan ditegakkan. Pemazmur percaya bahwa ia dapat mengandalkan keadilan Tuhan di tengah sistem peradilan manusia yang tidak dapat diandalkan.

Sering kali orang Kristen menyerah dan berkompromi karena tidak yakin apakah dirinya masih dapat bertahan menghadapi kerasnya hidup dalam dunia bila dia berlaku benar. Banyak orang berseru seperti pemazmur, “Sampai berapa lama, Tuhan, Engkau memandangi saja?” (35:17, bandingkan dengan ayat 22). Saat kita menghadapi kejahatan, marilah kita meneladani iman Daud yang mendasari mazmur ini. Pemazmur mempercayai keadilan, kemahakuasaan, dan kepedulian Allah, betapa pun suramnya hidup ini. Iman merupakan sumber kekuatan untuk tetap berserah dan bertahan untuk mengikuti jalan Tuhan. Percayalah bahwa keadilan dan kebenaran Allah akan selalu dinyatakan pada waktu-Nya. Dengan berlaku setia, iman akan menjadi “suatu bukti tentang adilnya penghakiman Allah, yang menyatakan bahwa kamu layak menjadi warga Kerajaan Allah, kamu yang sekarang menderita karena Kerajaan itu” (2 Tesalonika 1:5). Percayalah bahwa Allah tetap duduk di takhta-Nya untuk menghakimi secara adil (bandingkan dengan Wahyu 16:5-7). [J]

Mazmur 37:3
“Percayalah kepada TUHAN dan lakukanlah yang baik, diamlah di negeri dan berlakulah setia.”

Belajar memuji Tuhan
Posted on Minggu, 15 Juni, 2014 by Saat Teduh

Baca: Mazmur 134
http://www.jesoes.com/alkitab/mzm/134/1

Mengapa mazmur ini mengajak para hamba Tuhan memuji Tuhan? Sepertinya mazmur ini merupakan dorongan atau pemberian semangat dari umat yang datang untuk beribadah di rumah Tuhan kepada para pelaksana ibadah, yaitu para imam.Para imam mulai bersiap-siap untuk pelayanan ibadah persembahan kurban sejak malam hari, menantikan fajar menyingsing untuk memulai pelayanan tersebut. Apa makna ajakan memuji Tuhan ini buat kita para hamba-Nya masa kini?

Coba kita memeriksa sejenak hidup penyembahan kita kepada Tuhan selama ini! Bukankah seringkali, penyembahan kita hanya bersifat rutinitas, dengan sedikit atau bahkan tanpa penghayatan sama sekali. Penyembahan seperti itu, bukan penyembahan sejati. Jangan-jangan yang sedang kita lakukan hanyalah pemenuhan kewajiban kita seturut perintah firman-Nya untuk memuji dan menyembah Dia. Lebih parah lagi, bisa jadi penyembahan kita sebenarnya demi pemuasan kejiwaan kita yang membutuhkan kelepasan dari emosi-emosi negatif karena kerumitan hidup di dunia ini. Dengan mengangkat tangan, berteriak, menangis, meloncat-loncat, kita mencoba menghibur diri dengan penyembahan yang hakikatnya berpusat pada diri sendiri! Kita lupa bahwa Dia yang bertakhta di Sion, berhak menerima sembah kita tanpa embel-embel apa pun, tanpa motivasi sampingan apa pun.

Ajakan menyembah Tuhan merupakan kesempatan untuk menghayati ulang kebesaran dan kemuliaan-Nya, serta terkagum-kagum akan karya-Nya yang ajaib. Baiklah kita dengan jujur menyediakan diri untuk dikoreksi dalam ibadah kita. Kalau motivasi kita keliru, atau penghayatan kita dangkal, atau kita ternyata sedang mendua hati dengan hal-hal dunia ini yang lebih menarik daripada dengan Tuhan, kita perlu bertobat! Lantunkan ulang Mazmur 134 ini. Hayati kembali penyembahanmu kepada Tuhan secara segar dan buka hatimu untuk menerima berkat-Nya.
[/b]

[b]http://saatteduh.wordpress.com/2014/06/
Wibawa Sang Raja
Posted on Minggu, 15 Juni, 2014 by Saat Teduh

Bacaan Alkitab hari ini: Markus 1
http://www.jesoes.com/alkitab/mrk/1/1

Banyak orang salah mengerti tentang siapakah Yesus Kristus itu. Saat merayakan Natal, gambaran sebagian orang adalah bahwa Yesus Kristus itu adalah bayi lemah yang dikejar-kejar oleh Raja Herodes sehingga orang tuanya harus mengungsi ke Mesir. Saat merayakan Jumat Agung, sebagian orang menganggap Yesus Kristus sebagai seorang lemah yang tidak berdaya menghadapi penyaliban. Saat merayakan Paskah, tidak semua orang Kristen menyadari bahwa peristiwa kebangkitan itu merupakan perayaan kemenangan atas kuasa dosa dan kuasa maut.

Pasal pertama Injil Markus ini mengungkapkan berbagai fakta yang menunjukkan bahwa Yesus Kristus adalah Raja yang berwibawa:

Pertama, pelayanan Tuhan Yesus didahului oleh pelayanan Yohanes Pembaptis yang berperan sebagai pembuka jalan (1:1-4). Sebagai pembuka jalan, Yohanes Pembaptis mengakui bahwa Tuhan Yesus lebih berkuasa dan lebih mulia daripada dirinya (1:7-8).

Kedua, Yesus Kristus memiliki otoritas Ilahi. Saat Ia memberi diri untuk dibaptis oleh Yohanes Pembaptis, kesatuan Tuhan Yesus dengan Allah Bapa dan Allah Roh Kudus diperlihatkan (diumumkan) melalui langit yang terkoyak, Roh Kudus yang turun ke atas diri Tuhan Yesus, serta pengumuman yang disampaikan sendiri oleh Allah Bapa (1:9-11). Otoritas Ilahi Tuhan Yesus itu nampak jelas saat Dia memanggil murid-murid-Nya untuk mengikut Dia (1:16-20), saat Dia mengajar orang banyak (1:21-22), dan saat Dia mengusir roh jahat (1:23-26, 34). Perhatikan bahwa keempat murid pertama Tuhan Yesus—yaitu Simon, Andreas, Yakobus, dan Yohanes—dipanggil dalam keadaan sebagai nelayan aktif (1:16, 19), bukan sebagai pengangguran. Perhatikan pula bahwa Tuhan Yesus melaksanakan rencana-Nya sendiri, bukan mengikuti keinginan massa (1:37-38). [P]

Markus 1:22
“Mereka takjub mendengar pengajaran-Nya, sebab Ia mengajar mereka sebagai orang yang berkuasa, tidak seperti ahli-ahli Taurat.”

Kunci keberhasilan
Posted on Sabtu, 14 Juni, 2014 by Saat Teduh

Baca: 2 Samuel 5:1-10
http://www.jesoes.com/alkitab/2sam/5/1

Menjadikan Daud sebagai raja adalah satu-satunya pilihan bagi Israel karena Abner dan Isyboset telah mati. Ini diperkuat dengan rekam jejak Daud yang begitu mengesankan dalam bidang militer serta ketetapan Tuhan untuk menjadikan Daud sebagai raja Israel (1, bdk. 1Sam. 18:13-14, 30; 2Sam. 3:18). Maka para tua-tua Israel melantik Daud sebagai raja Israel (3).

Setelah itu, Daud bermaksud menjadikan Yerusalem sebagai ibukota karena lokasinya yang sangat strategis. Namun di situ tinggal orang Yebus (6). Orang Yebus adalah keturunan Kanaan, anak ketiga dari Ham (Kej. 10:6, 15-16). Sebenarnya di masa silam Yosua telah merebut Yerusalem (Yos. 10), tetapi suku Benyamin tidak mengusir mereka (Yos. 1:21) hingga mereka tetap ada di Yerusalem sampai masa Daud. Maka pengusiran terhadap orang Yebus dari Yerusalem, di sisi lain dapat dikatakan sebagai upaya meneruskan perintah Allah yang dinyatakan pada zaman Musa (Kel. 23:23-24; Ul. 7:1-2, 20:17).

Tentu saja orang Yebus tidak tinggal diam. Bagai melancarkan perang urat syaraf, orang Yebus menyatakan bahwa kota mereka sangat aman sehingga orang buta dan orang timpang pun akan membuat Daud tidak mampu merebut wilayah mereka (6). Orang Yebus berani menyombongkan diri karena menganggap lokasi mereka akan sulit ditembus oleh Daud dan pasukannya (6). Namun dengan strateginya, Daud berhasil mengalahkan orang Yebus dengan masuk melalui saluran air (8), suatu strategi yang mungkin tak pernah diduga oleh orang Yebus sebelumnya.

Penulis 2 Samuel menulis bahwa kunci rahasia keberhasilan Daud yang sesungguhnya adalah Allah, yang menyertai Daud (10). Kita lihat bahwa pihak yang menolak Daud sebagai raja akan mengalami kehancuran. Daud adalah prototipe “Anak Daud”, Yesus Kristus yang datang ke dunia. Dialah Raja yang datang ke bumi untuk mengalahkan musuh-musuh-Nya dan untuk menjalankan pemerintahan-Nya. Siapa yang menolak Dia akan menerima hukuman abadi, yang menerima Dia akan menerima keselamatan kekal.[/b]

[b]http://saatteduh.wordpress.com/2014/06/
Untuk kita taati seutuhnya
Posted on Senin, 16 Juni, 2014 by Saat Teduh

Baca: 2 Samuel 5:11-25
http://www.jesoes.com/alkitab/2sam/5/11

Ada dua respons terhadap kehadiran Daud sebagai raja Israel. Pertama, menjadikan Daud sebagai sekutu dan kedua, menganggap Daud sebagai musuh. Hiram, raja negeri Tirus, memilih sikap pertama (11) sementara orang Filistin mengambil sikap kedua (17-25).

Hiram menolong Daud dalam membangun istana di Yerusalem, kota yang baru ditaklukkan Daud. Hiram menyediakan segala sesuatu yang diperlukan, baik bahan bangunan maupun pekerja-pekerja. Namun orang Filistin tidak demikian. Mereka justru bermaksud menangkap Daud saat mendengar bahwa Daud menjadi raja (17). Menanggapi hal itu, Daud mencari pimpinan Allah (19). Tentu saja Allah menghargai ketergantungan Daud kepada-Nya dan menjanjikan kemenangan hingga Daud berhasil mengalahkan Filistin di Baal Perazim (20-21). Kemenangan pertama tidak membuat Daud menjadi pongah atau membanggakan diri. Ia tahu benar bahwa kemenangan itu datangnya dari Allah. Maka ketika orang Filistin menyerbu untuk kedua kalinya, Daud tetap merasa perlu untuk mencari kehendak Allah dan menaati Dia (22-25). Dalam hal ini, Daud memberi teladan untuk mencari kehendak Allah dalam apa pun yang kita lakukan.

Namun saat tinggal di Yerusalem, selain membangun istana Daud juga membangun keluarga dengan mengambil gundik dan istri dari Yerusalem (13). Dengan memiliki istana dan keluarga, Daud bermaksud memantapkan posisinya sebagai raja Israel. Padahal ia telah memiliki beberapa istri dan anak sebelum ia pergi ke Yerusalem (2Sam. 2:2, 3:2-5). Dalam hal ini, Daud tidak mengindahkan peringatan Allah terhadap raja Israel, “Juga janganlah ia mempunyai banyak isteri, supaya hatinya jangan menyimpang….” (Ul. 17:17). Di kemudian hari Daud menghadapi banyak masalah dengan anak-anaknya, juga akibat hubungannya dengan banyak perempuan. Ini tentu tak patut ditiru. Kita tak bisa mematuhi perintah Allah secara parsial. Kita tak bisa juga memilih-milih mana bagian firman Tuhan yang kita ingin taati dan mana yang tidak karena keseluruhan firman tertuju bagi kita untuk kita taati.

Kristus Datang untuk Orang Berdosa
Posted on Senin, 16 Juni, 2014 by Saat Teduh

Bacaan Alkitab hari ini: Markus 2
http://www.jesoes.com/alkitab/mrk/2/1

Perkataan “Kristus datang untuk (memanggil) orang berdosa” (bandingkan dengan 2:17) tidaklah berarti bahwa Tuhan Yesus menolak atau tidak peduli terhadap orang yang hidup secara baik-baik, melainkan bahwa sasaran pelayanan Tuhan Yesus adalah orang-orang yang menyadari bahwa dirinya adalah orang berdosa. Orang yang menganggap dirinya sebagai orang baik-baik adalah orang yang sulit menyadari bahwa dirinya memerlukan Tuhan Yesus.

Saat Tuhan Yesus mengatakan kepada orang lumpuh yang dibawa kepada-Nya, “Hai anak-Ku, dosamu sudah diampuni!” (2:5), orang lumpuh itu tidak tersinggung karena dia pasti menyadari keberdosaannya. Sebaliknya, para ahli Taurat yang mendengar perkataan Tuhan Yesus itu menganggap Tuhan Yesus telah menghujat Allah melalui perkataan-Nya. Akan tetapi, mereka menjadi kebingungan karena Tuhan Yesus sanggup membuat orang lumpuh menjadi bisa berjalan. Kemampuan Tuhan Yesus menyembuhkan orang sakit itu membuat para ahli Taurat tidak berani menyangkal secara terang-terangan wewenang Tuhan Yesus untuk mengampuni dosa.

Ketidaksadaran akan keberdosaan diri mereka membuat para ahli Taurat dari golongan Farisi tidak cukup rendah hati untuk menyambut kehadiran Tuhan Yesus. Sikap mereka amat kontras dengan sikap terbuka yang ditunjukkan oleh para pemungut cukai dan orang-orang yang sadar bahwa diri mereka adalah orang berdosa (2:15). Mengesankan pula untuk disimak bahwa ketika Lewi—sang pemungut cukai itu—menerima panggilan Tuhan Yesus untuk mengikut Dia, Lewi langsung memberi respons dengan meninggalkan pekerjaannya. Bagaimana respons Anda saat Tuhan Yesus memanggil Anda untuk mengikuti Dia? [P]

Markus 2:17b
“Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit; Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa.”[/b]

[b]http://saatteduh.wordpress.com/2014/06/page/2/
Kristus Datang untuk Orang Berdosa
Posted on Senin, 16 Juni, 2014 by Saat Teduh

Bacaan Alkitab hari ini: Markus 2
http://www.jesoes.com/alkitab/mrk/2/1

Perkataan “Kristus datang untuk (memanggil) orang berdosa” (bandingkan dengan 2:17) tidaklah berarti bahwa Tuhan Yesus menolak atau tidak peduli terhadap orang yang hidup secara baik-baik, melainkan bahwa sasaran pelayanan Tuhan Yesus adalah orang-orang yang menyadari bahwa dirinya adalah orang berdosa. Orang yang menganggap dirinya sebagai orang baik-baik adalah orang yang sulit menyadari bahwa dirinya memerlukan Tuhan Yesus.

Saat Tuhan Yesus mengatakan kepada orang lumpuh yang dibawa kepada-Nya, “Hai anak-Ku, dosamu sudah diampuni!” (2:5), orang lumpuh itu tidak tersinggung karena dia pasti menyadari keberdosaannya. Sebaliknya, para ahli Taurat yang mendengar perkataan Tuhan Yesus itu menganggap Tuhan Yesus telah menghujat Allah melalui perkataan-Nya. Akan tetapi, mereka menjadi kebingungan karena Tuhan Yesus sanggup membuat orang lumpuh menjadi bisa berjalan. Kemampuan Tuhan Yesus menyembuhkan orang sakit itu membuat para ahli Taurat tidak berani menyangkal secara terang-terangan wewenang Tuhan Yesus untuk mengampuni dosa.

Ketidaksadaran akan keberdosaan diri mereka membuat para ahli Taurat dari golongan Farisi tidak cukup rendah hati untuk menyambut kehadiran Tuhan Yesus. Sikap mereka amat kontras dengan sikap terbuka yang ditunjukkan oleh para pemungut cukai dan orang-orang yang sadar bahwa diri mereka adalah orang berdosa (2:15). Mengesankan pula untuk disimak bahwa ketika Lewi—sang pemungut cukai itu—menerima panggilan Tuhan Yesus untuk mengikut Dia, Lewi langsung memberi respons dengan meninggalkan pekerjaannya. Bagaimana respons Anda saat Tuhan Yesus memanggil Anda untuk mengikuti Dia? [P]

Markus 2:17b
“Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit; Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa.”

Tuhan atas Hari Sabat
Posted on Selasa, 17 Juni, 2014 by Saat Teduh

Bacaan Alkitab hari ini: Markus 3
http://www.jesoes.com/alkitab/mrk/3/1

http://www.jesoes.com/alkitab/luk/13/15
http://www.jesoes.com/alkitab/luk/14/5
http://www.jesoes.com/alkitab/mrk/2/27

Pemahaman Tuhan Yesus terhadap peraturan-peraturan dalam kitab Taurat berbeda jauh dengan pemahaman para ahli Taurat. Para ahli Taurat berusaha memerinci apa yang termasuk dalam hukum Taurat tanpa memahami maksud sebenarnya dari peraturan tersebut. Akibatnya, hukum Taurat menjadi beban berat bagi orang-orang pada zaman Tuhan Yesus. Akibat lain adalah penerapan dari hukum Taurat menjadi terasa aneh bila kita berpikir dengan akal sehat tanpa sikap apriori (keyakinan terhadap suatu pendapat tanpa berpikir atau tanpa peduli dengan apa yang sebenarnya). Sebagai contoh, orang Yahudi tetap melepaskan ternak mereka pada hari Sabat dan membawa ternak mereka ke tempat minuman. Mereka juga akan segera menolong anak atau ternak mereka yang terperosok ke dalam sumur pada hari Sabat (bandingkan dengan Lukas 13:15; 14:5). Yang aneh, mereka beranggapan bahwa tindakan Tuhan Yesus menyembuhkan orang sakit pada hari Sabat itu merupakan pelanggaran terhadap peraturan Sabat (Markus 3:1-5).

Bagi Tuhan Yesus, peraturan Sabat—bahkan juga peraturan hukum Taurat yang lain—diberikan Allah bukan untuk menjadi beban yang tidak masuk akal, melainkan diberikan untuik kepentingan manusia (Markus 2:27). Tuhan Yesus adalah penafsir hukum Taurat yang paling tepat karena Dia adalah Tuhan (Penguasa) atas hari Sabat. Memahami maksud sebenarnya dari pemberian hukum Taurat ini penting agar kita tidak salah dalam menerapkan peraturan-peraturan dalam Alkitab. Di Indonesia, kita bisa membaca atau mendengar tentang berbagai keputusan pengadilan yang “aneh” (tidak memenuhi rasa keadilan masyarakat) yang dilandasi oleh pemahaman yang dangkal tentang hukum. [P]

Markus 2:27-28
Lalu kata Yesus kepada mereka: “Hari Sabat diadakan untuk manusia dan bukan manusia untuk hari Sabat, jadi Anak Manusia adalah juga Tuhan atas hari Sabat.”[/b]

[b]Hormati Allah!
Posted on Selasa, 17 Juni, 2014 by Saat Teduh

Baca: 2 Samuel 6:1-23
http://www.jesoes.com/alkitab/2sam/6/1

http://www.jesoes.com/alkitab/kel/25/12
http://www.jesoes.com/alkitab/bil/4/15

Pelanggaran terhadap kekudusan Allah dan pelecehan terhadap hadirat Allah dipandang sebagai kejahatan serius oleh Allah. Namun kekurangpekaan kita terhadap hadirat Allah dan kekudusan-Nya membuat kita kurang memiliki rasa hormat kepada Allah ketika memasuki hadirat-Nya. Pasal ini memperlihatkan bahaya kurangnya sensitivitas terhadap hadirat dan kekudusan Allah.

Dengan dijadikannya Yerusalem sebagai pusat pemerintahan, membuat Daud ingin menempatkan tabut Allah di kota itu sebagai lambang kehadiran-Nya (1-3). Namun sayangnya, pemindahan tabut dilakukan tidak sesuai dengan aturan Tuhan (bdk. Kel. 25:12-15). Tabut dibawa dengan kereta, padahal seharusnya diusung oleh orang Lewi dari keluarga Kehat (Bil. 4:15). Pelanggaran terjadi lagi saat lembu-lembu yang menghela kereta itu tergelincir. Uza yang mengkhawatirkan jatuhnya tabut, kemudian memegang tabut itu (6). Ini mengakibatkan Tuhan marah dan menjatuhkan hukuman mati kepada Uza (7). Terlalu berlebihankah hukuman mati itu bila dibandingkan dengan kesalahan Uza? Daud menganggap demikian dan ini membuat dia marah (8). Padahal tindakan menyentuh tabut merupakan hal terlarang. Menyentuhnya berarti mati! Dalam hal ini, Uza tidak melihat perbedaan antara tabut dan barang berharga lain. Maksud Uza untuk mencegah terjatuhnya tabut tidak salah, tetapi tak ada kepekaan mengenai kekudusan tabut itu. Orang Lewi saja dilarang menyentuhnya.

Mikhal, istri Daud, juga tidak memiliki sensitivitas terhadap hadirat Allah. Ia melecehkan suaminya yang merendahkan diri di hadirat Allah (16, 20). Penulis 2 Samuel menyatakan bahwa Mikhal tak memiliki anak hingga akhir hayatnya (23).

Kisah dalam pasal ini memberikan peringatan keras bagi kita. Hadirat Allah dan kekudusan-Nya tidak bisa kita pandang remeh. Dia Allah dan berada di hadirat-Nya mengharuskan kita untuk memiliki sikap hormat. Dan bicara soal kekudusan-Nya, bukan bicara tentang sesuatu yang bisa ditawar-tawar, melainkan suatu harga mati, yang harus kita junjung tinggi.
[/b]

[b]http://saatteduh.wordpress.com/2014/06/
Bukan hanya karena keinginan
Posted on Rabu, 18 Juni, 2014 by Saat Teduh

Baca: 2 Samuel 7:1-17
http://www.jesoes.com/alkitab/2sam/7/1
http://www.jesoes.com/alkitab/kel/25/8
http://www.jesoes.com/alkitab/2sam/6/17
http://www.jesoes.com/alkitab/1taw/22/8
http://www.jesoes.com/alkitab/1taw/28/3

Lebih dari empat ratus tahun sebelum kisah ini terjadi, ketika bangsa Israel mengembara di padang belantara, Allah menyuruh Musa untuk membangun kemah suci (Kel. 25:8-9). Saat itu bangsa Israel sudah tinggal menetap dan tabut sudah ada di Yerusalem (2Sam. 6:17).

Saat merasakan kenyamanan tinggal di rumahnya, Daud mengingat bahwa tabut Allah ada di tempat yang tidak sebanding dengan tempat tinggalnya. Rasa hormatnya kepada Allah membuat ia memiliki kerinduan untuk membangun tempat yang layak bagi tabut itu (1-2). Lalu niat itu disampaikan Daud kepada nabi Natan. Natan yang melihat niat itu sebagai sesuatu yang baik, menyetujuinya (3).

Akan tetapi, bukan demikian yang Allah kehendaki. Tabut sudah diletakkan di dalam kemah sejak zaman Keluaran (6). Selain itu, Allah tak pernah memerintahkan umat untuk membangun sebuah bait yang permanen (7). Lagi pula, Daud bukanlah orang yang tepat untuk membangun bait itu karena ia telah banyak menumpahkan darah dalam peperangan (5, bdk. 1Taw. 22:8, 28:3).

Penolakan Allah terhadap ide Daud bukan karena Allah sedang menghukum Daud atau tidak menyukai maksud baiknya. Daud sendiri telah mengalami berkat Allah yang menjadikan dia sebagai raja, dan juga telah mengalahkan musuh-musuhnya (8-9a). Allah pun memberkati Daud dengan reputasi (9b), tanah bagi Israel (10), keamanan (10-11), dan dinasti yang berkelanjutan (11b-16). Maka penolakan itu hanya mengarahkan Daud pada kehendak-Nya. Anak Daudlah yang kelak akan mendirikan rumah bagi Allah (13).

Dari kisah ini kita belajar bahwa kita harus selalu menguji keinginan untuk melayani Allah atau melakukan sesuatu bagi Dia. Allah ternyata tidak selalu menginginkan kita memenuhi hasrat untuk melakukan sesuatu bagi Dia, misalnya dengan menjadi hamba Tuhan/pendeta atau misionaris. Bisa saja Dia menginginkan kita melayani dengan cara yang berbeda dari yang kita pikirkan. Sebab itu, penting bagi kita untuk selalu bertanya kepada Allah. Penting juga mencari konfirmasi dari hamba Tuhan/pendeta.

Guru yang Hebat
Posted on Rabu, 18 Juni, 2014 by Saat Teduh

Bacaan Alkitab hari ini: Markus 4
http://www.jesoes.com/alkitab/mrk/4/1
http://www.jesoes.com/alkitab/mrk/1/22

Tuhan Yesus adalah Guru yang Hebat. Orang banyak yang mendengar pengajaran Tuhan Yesus merasa takjub karena Tuhan Yesus mengajar sebagai orang yang berkuasa (1:22). Wibawanya berasal dari diri-Nya sendiri. Perkataan-Nya sesuai dengan tindakan-Nya. Dia bukan hanya mengajar, tetapi dia juga menyembuhkan orang sakit dan mengusir roh-roh jahat. Belas kasihan-Nya bukan hanya diucapkan, tetapi diwujudkan secara nyata melalui perbuatan-Nya. Kehebatan Tuhan Yesus sebagai seorang Guru bukan hanya terlihat dari wibawa-Nya, tetapi juga dari cara Tuhan Yesus mengajar.

Walaupun isi pengajaran Tuhan Yesus tidak selalu mudah untuk dimengerti, pada umumnya Tuhan Yesus mengajar secara sederhana dengan memakai perumpamaan. Yang dipakai sebagai bahan perumpamaan bisa berupa hal-hal yang terjadi pada masa itu, tetapi bisa pula berupa cerita-cerita masa lampau. Tidak penting bagi kita untuk mempersoalkan apakah cerita yang dipakai dalam perumpamaan Tuhan Yesus adalah peristiwa yang benar-benar pernah terjadi atau bukan, karena yang penting bukan perumpamaannya, melainkan makna yang terkandung dalam perumpamaan tersebut. Perlu diperhatikan bahwa setiap perumpamaan hampir selalu memiliki sebuah pesan utama. Dalam mempelajari sebuah perumpamaan, yang paling penting adalah mencari pesan utama perumpamaan itu. Jangan terjebak untuk mengartikan setiap detil dari perumpamaan tersebut. Bila Tuhan Yesus sendiri sudah menjelaskan arti perumpamaan yang dia pakai, jangan menafsir dengan tafsiran yang berbeda. Misalnya perumpamaan tentang penabur dalam 4:3-8 yang dijelaskan oleh Tuhan Yesus dalam 4:13-20 sebagai empat cara menanggapi firman Allah. Pemakaian perumpamaan sebagai alat untuk mengajar ini merupakan teladan dan tantangan bagi para pengajar Alkitab—termasuk para guru sekolah minggu—untuk mengajar secara kreatif. [P]

Markus 4:2a
“Dan Ia mengajarkan banyak hal dalam perumpamaan kepada mereka.”[/b]

[b]http://saatteduh.wordpress.com/2014/06/
Dia Memberikan yang Terbaik
Posted on Kamis, 19 Juni, 2014 by Saat Teduh

Bacaan Alkitab hari ini: Markus 5
http://www.jesoes.com/alkitab/mrk/5/1

Banyak orang menganggap dirinya berharga, tetapi tidak banyak orang yang menganggap diri orang lain itu berharga. Banyak orang berani mengorbankan hartanya untuk kesembuhan diri sendiri atau keluarga dekat, tetapi tidak banyak orang yang bersedia mengorbankan hartanya untuk orang lain. Kita mudah merasa kasihan melihat orang yang menderita, tetapi tidak mudah bagi kita untuk mengorbankan harta kita untuk orang tersebut.

Dalam bacaan hari ini, kita bisa membaca bahwa bagi Tuhan Yesus, orang yang kerasukan roh jahat di daerah Gerasa itu lebih berharga daripada dua ribu ekor babi (5:1-13). Pada masa kini, harga dua ribu ekor babi itu bisa mencapai puluhan milyar rupiah. Sikap para pemilik babi yang meminta Tuhan Yesus meninggalkan daerah mereka (5:14-17) mewakili sikap banyak orang di sepanjang masa yang menolak Tuhan Yesus karena mereka beranggapan bahwa hidup dalam ketaatan kepada Tuhan Yesus akan mengakibatkan kerugian secara finansial.

Kita tidak bisa mengikut Tuhan Yesus bila motivasi kita adalah mencari keuntungan secara finansial. Alasan yang paling tepat untuk menjadi pengikut Tuhan Yesus adalah karena Tuhan Yesus mempedulikan kita dan ingin memberikan yang terbaik kepada kita. Sekalipun demikian, harus kita ingat bahwa yang terbaik bagi kita itu kadang-kadang tidak seperti yang kita pikirkan. Bagi Yairus, yang terbaik adalah kesembuhan anaknya (5:22-24, 35-42). Bagi seorang perempuan yang sudah dua belas tahun menderita pendarahan, yang terbaik adalah berhentinya pendarahan (5:25-34). Bagi para pemilik babi, kehilangan babi akan membuat mereka belajar untuk lebih menghargai manusia daripada babi. [P]

Markus 5:13
“Yesus mengabulkan permintaan mereka. Lalu keluarlah roh-roh jahat itu dan memasuki babi-babi itu. Kawanan babi yang kira-kira dua ribu jumlahnya itu terjun dari tepi jurang ke dalam danau dan mati lemas di dalamnya.”

Menanggapi penolakan Allah
Posted on Kamis, 19 Juni, 2014 by Saat Teduh

Baca: 2 Samuel 7:1-18-29
http://www.jesoes.com/alkitab/2sam/7/18

Bagaimana reaksi Anda terhadap sebuah penolakan? Tidak semua orang bisa menerima penolakan dengan sikap yang positif. Ada orang yang akan kecewa, ada juga yang akan tersinggung atau marah. Lalu bagaimana bila penolakan itu datang dari Allah?

Daud sudah sukses. Ia sudah meraih kemenangan demi kemenangan dalam peperangan. Ia juga telah memiliki istana yang megah. Namun masih ada yang mengganjal di hatinya. Ia masih ingin melakukan hal yang lebih besar lagi yaitu membangun bait, tempat Allah berdiam. Bukankah itu merupakan hal yang mulia? Tak seorang pun akan menyangkal hal itu. Akan tetapi, respons Allah berbeda! Allah seolah mempertanyakan, “Siapakah engkau sehingga mau membangun sebuah bait bagiKu?” Allah ternyata menolak ide Daud.

Bagaimana reaksi Daud menghadapi penolakan Allah? Ia tidak mengeluh, juga tidak bersungut-sungut. Ia malah berdoa. Di dalam doanya, Daud bersyukur atas apa yang telah dialami (18-21) dan memuji Allah atas karya-Nya yang begitu besar bagi umat-Nya (22-24). Selain itu, Daud memohon Allah agar memenuhi janji-janji-Nya (25-29). Di dalam doanya itu, Daud menyebut dirinya sebagai hamba Allah sampai sepuluh kali. Ini menyiratkan kesadaran Daud akan dirinya, dari bukan siapa-siapa, dari gembala domba di padang belantara, dia telah dijadikan Allah sebagai raja Israel. Itu sama sekali bukan karena kemampuannya melainkan karena anugerah Allah semata. Kesadaran ini menunjukkan bahwa Daud menerima dengan baik penolakan Allah terhadap idenya. Ini sekaligus merupakan pengakuan Daud bahwa otoritas tertinggi datangnya dari Allah.

Jadi apa pun yang kita lakukan bagi Allah, lakukanlah bukan dengan pandangan seperti si kaya memberi kepada si miskin; juga lakukanlah bukan dengan kemampuan diri sendiri melainkan dengan kekuatan yang dari Allah. Allah sajalah yang akan melakukan hal-hal besar melalui kita. Ingatlah, betapapun besarnya rencana kita bagi Allah, rencana Allah tetaplah yang terbesar. Karena itu, selidikilah rancangan-Nya dengan saksama dan tunduklah.[/b]

[b]http://saatteduh.wordpress.com/2014/06/
Pemenuhan rancangan Allah
Posted on Jumat, 20 Juni, 2014 by Saat Teduh

Baca: 2 Samuel 8:1-18
http://www.jesoes.com/alkitab/2sam/8/1

Bangsa Filistin yang tinggal di bagian barat Israel adalah tetangga yang paling banyak menyulitkan Israel selama berabad-abad. Namun di bawah kepemimpinan Daud, bangsa Filistin berhasil ditundukkan (1).

Bangsa Moab juga berhasil ditaklukkan oleh Daud. Dengan strategi tak semua orang Moab yang dibinasakan, Daud mendapatkan upeti dari mereka (2). Ini penting untuk menunjukkan kekuatan dan dominasi Israel. Berikutnya Daud mengalahkan Hadadezer, raja Zoba, sekaligus menundukkan orang Aram, yang bermaksud membantu Hadadezer (3-6). Belum lagi orang Edom yang tewas hingga delapan belas ribu orang (13-14). Orang Amalek pun ikut dikalahkan (12). Namun tak semua tetangga Israel bersikap memusuhi. Ada juga Tou, raja Hamat, yang menjalin perdamaian dengan Daud (9-10). Daud pun memperlakukan bangsa Hamat dengan baik.

Perluasan wilayah kekuasaan membuat Daud menambah staf (15-18). Maka dengan keberhasilan demikian, nama Daud semakin besar (13) seperti yang dijanjikan Allah (2Sam. 7:9), karena Daud memerintah dengan menegakkan keadilan dan kebenaran (15). Namun semua upeti dan hasil pampasan perang dipersembahkan Daud kepada Tuhan (11-12) karena ia tahu bahwa sesungguhnya semua itu adalah milik Allah.

Strategi menempatkan pasukan di negara-negara tetangga (14) membuat mereka tidak bisa lagi mengusik, menentang, atau menindas Israel. Maka ada kedamaian di tanah Israel, seperti yang telah dijanjikan Allah (6, 14).

Kemenangan, berkat, dan kesejahteraan dialami Israel selama masa pemerintahan Daud. Inilah salah satu sebab mengapa Daud disebut sebagai raja terbesar dalam sejarah Israel. Inilah yang sebenarnya Tuhan inginkan terjadi pada masa pemerintahan Saul, tetapi ia menolak Allah. Karena Daud bersedia tunduk pada pemerintahan Allah, maka Tuhan pun menundukkan bangsa-bangsa di kakinya. Ini bukanlah prinsip tabur-tuai, tetapi ketaatan kita pada Allah memang akan menggiring kita pada pemenuhan rancangan Allah dalam hidup kita. Maka sikap terbaik adalah tunduk.

Hati-Nya Tergerak Oleh Belas Kasihan
Posted on Jumat, 20 Juni, 2014 by Saat Teduh

Bacaan Alkitab hari ini: Markus 6
http://www.jesoes.com/alkitab/mrk/6/1

Perkembangan media komunikasi visual—misalnya televisi —memiliki dampak positif maupun negatif. Dari satu sisi, media komunikasi visual membuat kita bisa memahami berbagai hal secara lebih menyeluruh. Dari sisi lain, media komunikasi visual juga bisa membuat kita terbiasa melihat penderitaan, kekerasan, kemerosotan moral, dan sebagainya, sehingga hati kita sama sekali tidak tergerak ketika melihat hal-hal itu.

Dalam bacaan hari ini, hati Tuhan Yesus tergerak ketika melihat orang banyak yang berada dalam keadaan lelah dan terlantar seperti domba tanpa gembala (6:34; bandingkan dengan Matius 9:36). Bila kita memperhatikan kehidupan dan pelayanan Tuhan Yesus, ada dua hal umum yang membuat Tuhan Yesus bertindak, yaitu penderitaan dan iman. Di satu sisi, Tuhan Yesus tidak bisa diam saja ketika melihat ada orang yang sakit, terlantar, dirasuk setan (atau roh jahat), atau sedang bersedih (karena anggota keluarganya meninggal). Di sisi lain, Tuhan Yesus juga tidak bisa bersikap tidak peduli terhadap orang yang beriman atau yang menggantungkan hidupnya kepada-Nya. Sebaliknya, Tuhan Yesus tidak melakukan banyak hal di daerah asalnya sendiri, karena orang-orang di sana menutup pintu hati mereka (6:1-6a)

Kita harus waspada agar hati kita tidak menjadi keras karena kita menutup mata terhadap penderitaan dan kebutuhan yang muncul di sekitar kita. Memang, kita hanya bisa membantu orang yang bersedia untuk kita bantu. Akan tetapi, jangan sampai masalah yang kita hadapi menutup pintu hati kita. Ingatlah bahwa Tuhan Yesus telah lebih dulu meninggalkan kenyamanan surga dan datang ke dunia yang jahat ini untuk menyelamatkan kita. [P]

Markus 6:34
“Ketika Yesus mendarat, Ia melihat sejumlah besar orang banyak, maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka seperti domba yang tidak mempunyai gembala.Lalu mulailah Ia mengajarkan banyak hal kepada mereka.”[/b]

[b]http://saatteduh.wordpress.com/2014/06/
Berubah status
Posted on Sabtu, 21 Juni, 2014 by Saat Teduh

Baca: 2 Samuel 9:1-13
http://www.jesoes.com/alkitab/2sam/9/1
http://www.jesoes.com/alkitab/1sam/20/14

Pada waktu itu, merupakan suatu hal yang lazim bagi seorang raja yang berhasil merebut singgasana untuk menghabisi keturunan atau keluarga dari raja sebelumnya, karena akan dianggap sebagai ancaman. Namun sikap Daud berlawanan dengan kelaziman itu.Ia malah bertanya, “Masih adakah orang yang tinggal dari keluarga Saul?…” (1). Pertanyaan Daud menunjukkan kasihnya yang besar. Seperti kita tahu, Saul sendiri sudah menganggap Daud sebagai musuh. Namun di sisi lain, Daud melakukannya karena ia mengingat hubungan dan perjanjiannya dengan Yonatan (1, bdk. 1Sam. 20:14-15).

Dari Ziba, pelayan di keluarga Saul, Daud mendapat informasi bahwa masih ada Mefiboset, anak Yonatan (2-4). Rupanya selama ini ia bersembunyi demi keamanan dirinya. Namun mau tidak mau, Mefiboset harus menunjukkan diri ketika Daud mencari dia (5-6). Bagaimana reaksi Mefiboset? Ia merasa tidak layak menerima semua kebaikan Daud (8). Bagaimana tidak? Ia tentu tahu riwayat hidupnya dan siapa yang saat itu ada di hadapannya. Meski ia berasal dari keluarga raja yang dulu berkuasa, tetapi saat itu ia bukan siapa-siapa.

Namun Daud menunjukkan kebaikannya secara konkret dengan membiarkan Mefiboset makan semeja dengan Daud, seperti seorang anak raja (7, 11, 13). Selain itu, Daud berjanji bahwa Mefiboset akan menerima segala sesuatu yang seharusnya menjadi miliknya, yaitu harta milik Saul dan keluarganya (9). Sungguh suatu anugerah bagi Mefiboset.

Gambaran ketidaklayakan ini juga melekat pada kita, saat kita masih berdosa. Walau demikian, Allah memilih untuk mengasihi kita. Maka setelah menyadari keberdosaan kita dan menerima Kristus sebagai Juruselamat kita, barulah segala sesuatunya berubah. Kita tidak lagi najis karena dosa, melainkan menjadi kudus karena darah Anak Domba. Kita tidak lagi menjadi musuh Allah melainkan menjadi anak-anak Allah, dan karena itu menjadi bagian dari keluarga Allah. Dengan status demikian, maka seharusnyalah hidup kita menggambarkan kemuliaan hidup anak-anak Allah. Itulah respons tepat bagi anugerah Allah yang kita terima.

Tuhan Yesus Melihat Hati
Posted on Sabtu, 21 Juni, 2014 by Saat Teduh

Bacaan Alkitab hari ini: Markus 7
http://www.jesoes.com/alkitab/mrk/7/1

Apa yang penting bagi Tuhan Yesus berbeda dengan apa yang penting bagi orang Farisi. Orang Farisi mementingkan adat istiadat yang bisa dilihat oleh orang banyak, sedangkan Tuhan Yesus mementingkan perbuatan yang dilandasi oleh ketulusan hati. Orang Farisi mementingkan masalah mencuci tangan sebelum makan, sedangkan Tuhan Yesus mengabaikan hal-hal seperti itu (7:2-5). Dengan perkataan lain, Orang Farisi mementingkan kemasan dari hukum Taurat, sedangkan Tuhan Yesus mementingkan inti dari hukum Taurat.

Bagi Tuhan Yesus, inti dari seluruh tuntutan Allah dalam hukum Taurat adalah mengasihi. Bagi orang Farisi, ketaatan kepada rincian aturan—yang oleh Tuhan Yesus disebut sebagai adat istiadat manusia—dianggap lebih penting daripada kewajiban mengasihi (atau menghormati) orang tua (7:9-13). Tuhan Yesus berpandangan bahwa menjaga kondisi hati amat penting karena hati adalah sumber pikiran dan pikiran adalah sumber perbuatan. Bila hati kita baik dan suci, kita akan melakukan hal-hal yang baik dan suci. Bila hati kita busuk, kita akan sulit menghindari perbuatan yang jahat (7:20-23; Amsal 4:23). Bila kita mengikuti berbagai aturan, tetapi hati kita sebenarnya jahat, ketaatan kita hanya merupakan kemunafikan. Bila hati kita baik dan suci, ketaatan kita akan dilandasi oleh ketulusan. Terhadap para ahli Taurat yang mementingkan adat istiadat, Tuhan Yesus memberikan terguran keras, “Benarlah nubuat Yesaya tentang kamu, hai orang-orang munafik! Sebab ada tertulis: Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku. Percuma mereka beribadah kepada-Ku, sedangkan ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia. Perintah Allah kamu abaikan untuk berpegang pada adat istiadat manusia.” (Markus 7:6b-8). [P]

1 Samuel 16:7b
“Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati.”[/b]

[b]http://saatteduh.wordpress.com/2014/06/page/2/
Allah yang berdaulat atas sejarah
Posted on Minggu, 22 Juni, 2014 by Saat Teduh

Baca: Mazmur 135
http://www.jesoes.com/alkitab/mzm/135/1

Seseorang pernah berkata bahwa manusia belajar dari sejarah bahwa ia tidak pernah belajar dari sejarah. Oleh karena itu sejarah berulang. Perang Dunia pertama dan kedua menjadi saksi sejarah bahwa walaupun peperangan itu menghancurkan banyak keluarga, kebudayaan, dan masyarakat, tetap saja orang berperang demi sesuatu yang tidak mungkin didapatkan melalui peperangan.Itulah kenyataan sejarah manusia yang diwarnai dosa.

Namun demikian, anak-anak Tuhan bisa belajar sejarah dan menjadi berhikmat. Tentu selama sejarah itu dilihat dari perspektif Allah yang berdaulat. Mazmur 135 mengajak anak-anak Tuhan memuji Tuhan karena karya-Nya atas umat-Nya. Sejarah Israel membuktikan kasih setia Tuhan atas umat-Nya. Sejarah membuktikan bahwa Allah Israel melampaui para ilah bangsa-bangsa lain. Itu terbukti ketika mereka keluar dari perbudakan Mesir setelah Allah menimpakan tulah-tulah yang menunjukkan ketidakberdayaan para dewa Mesir. Ketika Israel berjalan di padang gurun menuju tanah perjanjian, tiada bangsa satu pun yang sanggup menghalangi mereka. Termasuk penduduk Kanaan, yang tanahnya diberikan Allah kepada Israel.

Allah Israel bukan hanya jauh lebih besar dan perkasa daripada segala ilah bangsa-bangsa. Ilah-ilah mereka hanyalah berhala mati buatan tangan manusia. Allah Israel adalah Allah yang hidup, yang menerima penyembahan karena Dia layak disembah. Mazmur ini ditutup dengan kembali mengajak semua umat Allah untuk memuji dan membesarkan Dia yang hadir dan bertakhta di tengah-tengah mereka.

Di dalam Kristus Allah telah menyatakan kuasa di bumi milik-Nya ini (Mat. 28:18). Oleh karena itu proklamasikan Kristus kepada dunia bahwa Dialah satu-satu-Nya yang layak disembah. Agar semua suku, bangsa, dan bahasa mengakui dan menyembah Sang Pemilik dan Penebus dunia ini.

Tuhan Yesus Menuntut Ketegasan
Posted on Minggu, 22 Juni, 2014 by Saat Teduh

Bacaan Alkitab hari ini: Markus 8
http://www.jesoes.com/alkitab/mrk/8/1

Seorang yang hendak menjadi pengikut Tuhan Yesus tidak bisa hanya menjadi penonton, melainkan harus memberi respons melalui sikap yang tegas. Sesudah Tuhan Yesus bertanya kepada murid-murid-Nya, “Kata orang, siapakah Aku ini?” (8:27), Tuhan Yesus melanjutkan dengan pertanyaan berikutnya, “Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?” (8:29). Tuhan Yesus tidak puas bila murid-murid-Nya hanya ikut-ikutan! Bahkan, Tuhan Yesus menginginkan agar murid-murid-Nya mengikuti Dia dengan kesadaran penuh akan konsekuensi yang harus mereka tanggung (8:34).

Setiap orang yang ingin menjadi pengikut Tuhan Yesus harus bersedia menyangkal diri (mengubah cara berpikir dan cara menjalani hidup). Rencana penebusan, yaitu bahwa Kristus harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan bangkit sesudah tiga hari, merupakan rencana yang tidak masuk akal dan merugikan bagi Petrus (8:31-32). Akan tetapi, berpikir berdasarkan sudut pandang Allah merupakan salah satu tuntutan Kristus (8:33).

Bila kita bersedia menanggalkan cara berpikir kita dan mulai berpikir dari sudut pandang Allah, barulah kita bisa melakukan hal-hal besar bagi Allah. Saat Tuhan Yesus menuntut murid-murid-Nya untuk memberi makan orang banyak, para murid harus rela menyerahkan tujuh roti dan beberapa ekor ikan yang mereka miliki kepada Tuhan Yesus. Di tangan Tuhan Yesus, tujuh roti dan beberapa ekor ikan itu dapat dipakai untuk memberi makan empat ribu orang sampai kenyang. Bila kita bersedia menyangkal diri dan memikul salib (8:34), kita akan bisa melakukan hal-hal yang melampaui kemampuan alamiah kita.[P][/b]

[b]http://saatteduh.wordpress.com/2014/06/
Daud, prototipe Kristus
Posted on Senin, 23 Juni, 2014 by Saat Teduh

Baca: 2 Samuel 10:1-19
http://www.jesoes.com/alkitab/2sam/10/1

“Air susu dibalas air tuba”, mungkin itulah gambaran tepat untuk penghinaan yang dilakukan bangsa Amon terhadap pasukan Daud. Mereka diutus Daud untuk menemui Hanun, anak raja Amon, guna menyampaikan bela sungkawa atas wafatnya raja Amon.

Akan tetapi, kebaikan Daud tidak mendapat sambutan yang sebagaimana mestinya. Hanun, anak raja Amon sebelumnya, mendapat masukan dari para pemuka bani Amon. Ia jadi meyakini bahwa utusan raja Daud adalah mata-mata yang akan mengintai negeri mereka. Lalu Hanun mempermalukan pasukan Daud dengan mencukur setengah dari janggut mereka serta memotong pakaian mereka di bagian tengah (4). Padahal bagi pria Yahudi, janggut merupakan simbol kehormatan. Tindakan Hanun ini bagai upaya menabuh genderang perang. Itu disadari oleh Hanun (6), tetapi ia tak mau menempuh jalan damai atau meminta maaf kepada Daud. Ia malah menyewa tentara bayaran untuk menggalang kekuatan (6), karena khawatir bila Daud menuntut balas.

Yoab mendapat mandat dari Daud untuk memimpin pasukan. Lalu ia menyusun strategi dengan membagi pasukannya jadi dua (7-11). Sebagai pemimpin perang, Yoab juga membangkitkan semangat pasukannya (12).

Perang berakhir dengan mundurnya orang Aram dan orang Amon dari medan perang (13). Namun orang Aram masih belum melupakan kekalahan itu. Mereka menuntut balas dengan membawa pasukan yang lebih banyak (16). Daud tentu tidak tinggal diam. Ia pun mengerahkan seluruh orang Israel (17). Maka sekali lagi orang Aram harus melarikan diri dari tentara Israel dengan kerugian yang tidak sedikit (18). Kekalahan ini membuat efek jera bukan hanya pada tentara Aram, melainkan juga pada raja-raja taklukan Hadadezer, raja Aram (19).

Kisah Daud di pasal 8-10 memperlihatkan dirinya sebagai prototipe Kristus. Kasih karunianya kepada Mefiboset dan ketegasannya kepada musuh-musuhnya mengingatkan kita tentang kedaulatan dan kasih Allah. Kasih itu membuat manusia diselamatkan, tetapi kedaulatan-Nya membuat musuh-Nya dibinasakan.

Keagungan & Kerendahhatian Kristus
Posted on Senin, 23 Juni, 2014 by Saat Teduh

Bacaan Alkitab hari ini: Markus 9
http://www.jesoes.com/alkitab/mrk/9/1

Dalam bacaan Alkitab hari ini (9:1-7), Petrus, Yakobus, dan Yohanes diberi kesempatan untuk melihat kemuliaan Tuhan Yesus yang berubah rupa dan bersama-sama dengan Elia dan Musa. Hal ini tidak berarti bahwa sebelum peristiwa itu, Tuhan Yesus kurang mulia. Akan tetapi hal itu berarti bahwa sebelum saat itu, kemuliaan Tuhan Yesus hanya nampak secara samar-samar. Dalam peristiwa itu, Elia dan Musa dipilih untuk mendampingi Tuhan Yesus karena dalam Perjanjian Lama, kuasa Allah ditunjukkan kepada banyak orang secara paling terang benderang dalam pelayanan mereka.

Yang menarik, setelah Tuhan Yesus menampakkan kemuliaan-Nya, istilah yang Dia pakai untuk menyebut diri-Nya adalah “Anak Manusia” dan istilah itu dipakai saat Tuhan Yesus menyampaikan tentang penderitaan dan penghinaan yang akan Dia terima (9:12). Saat itu pun, Tuhan Yesus juga menyebut tentang kebangkitan-Nya dari antara orang mati (9:9-10). Oleh karena itu, kita dapat menyimpulkan bahwa melalui peristiwa penampakan kemuliaan Tuhan Yesus itu, kemuliaan dan kerendahhatian Tuhan Yesus bersatu. Dia seharusnya disembah dan dimuliakan, tetapi Dia bersedia dihina dan menderita, bahkan penderitaan yang akan Dia hadapi adalah puncak penderitaan yang dapat dialami manusia pada saat itu, yaitu menderita karena disalibkan untuk menebus dosa umat manusia.

Pada masa kini, kita bisa meyakini bahwa Tuhan Yesus telah menyediakan tempat di surga bagi setiap orang percaya. Sekalipun masa depan kita telah terjamin, hal itu tidak berarti bahwa kita bisa hidup seenaknya saat ini, melainkan kita harus memakai hidup kita untuk melayani Tuhan melalui pelayanan kita kepada sesama. [P]

Markus 9:31b
Ia berkata kepada mereka: “Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia, dan mereka akan membunuh Dia, dan tiga hari sesudah Ia dibunuh Ia akan bangkit.”[/b]

[b]http://saatteduh.wordpress.com/2014/06/
Dosa seperti bola salju
Posted on Selasa, 24 Juni, 2014 by Saat Teduh

Baca: 2 Samuel 11:1-27
http://www.jesoes.com/alkitab/2sam/11/1
http://www.jesoes.com/alkitab/kej/3/6
http://www.jesoes.com/alkitab/yak/1/14

Melihat, menginginkan, dan mengambil, itulah yang sering menjadi pola orang saat akan jatuh ke dalam dosa (bdk. Kej. 3:6; Yak. 1:14-15). Pola ini pula yang tampaknya terjadi pada diri Daud dalam hubungannya dengan Batsyeba.

Waktu itu Yoab masih berusaha menundukkan bangsa Amon dalam pertempuran di Raba. Ke mana Daud? Ia malah tinggal di Yerusalem (1). Padahal penulis 2 Samuel menyebutkan, biasanya raja-raja berperang pada saat pergantian tahun. Dengan tinggal saja di Yerusalem berarti Daud tidak memperlihatkan tanggung jawabnya sebagai panglima perang kerajaan dan ikut berbagi beban dengan para prajuritnya dalam membela kerajaan.

Pada saat ia bersantai-santai itulah pencobaan datang. Ia melihat seorang perempuan sedang mandi (2). Orang mungkin saja melihat tanpa disengaja. Masalahnya, Daud tidak berhenti melihat dan setelah melihat ia menginginkan perempuan itu, yang ternyata bernama Batsyeba, istri Uria (3). Lalu tahap menginginkan itu dilanjutkan dengan tahap mengambil Batsyeba dan tidur dengan perempuan itu (4).

Kesadaran akan bahaya baru muncul setelah Batsyeba memberitahu Daud bahwa ia mengandung (5). Maka yang muncul kemudian adalah muslihat untuk menutupi dosa, mulai dari cara yang halus (6-11), yang kotor (12-13), sampai yang bersifat kriminal (14-21), yang ditujukan kepada Uria, suami Batsyeba.

Melihat, menginginkan, dan mengambil merupakan suatu proses yang tidak berdiri sendiri, melainkan berkaitan dan berkembang. Jadi dosa tidak bersifat stagnan atau statis. Dosa seperti bola salju, semakin digelindingkan akan semakin besar! Dimulai dari berzinah dengan istri orang hingga “membunuh” suami perempuan itu. Meski dilakukan sembunyi-sembunyi dan hanya diketahui sedikit orang, tetapi penulis 2 Samuel menyatakan bahwa dosa yang dilakukan Daud adalah jahat di mata Tuhan (27). Ini menjadi suatu peringatan keras bagi kita. Jangan pernah bermain-main dengan dosa. Bila suatu waktu kita jatuh ke dalam dosa, jangan berkubang di dalamnya. Mintalah pengampunan Sang Penebus.

Kristus Menawarkan Keselamatan
Posted on Selasa, 24 Juni, 2014 by Saat Teduh

Bacaan Alkitab hari ini: Markus 10
http://www.jesoes.com/alkitab/mrk/10/1
http://www.jesoes.com/alkitab/rm/3/20
http://www.jesoes.com/alkitab/rm/3/28
http://www.jesoes.com/alkitab/gal/2/16
http://www.jesoes.com/alkitab/gal/3/11

Pertanyaan, “Guru yang baik, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?” (10:17) menunjukkan bahwa si penanya beranggapan bahwa hal memperoleh hidup kekal (atau bisa kita sebut sebagai “keselamatan”) bergantung pada perbuatan. Keyakinan bahwa keselamatan bergantung pada perbuatan bukan hanya keyakinan orang kaya itu saja, tetapi keyakinan banyak orang di segala zaman. Pernyataan Tuhan Yesus, “Hanya satu lagi kekuranganmu,” (10:21) menunjukkan bahwa tuntutan berupa perbuatan untuk memperoleh keselamatan itu adalah tuntutan kesempurnaan. Tanpa kesempurnaan dalam perbuatan, tidak mungkin seseorang bisa memperoleh keselamatan! Orang kaya itu telah menuruti perintah-perintah Allah yang dia ketahui sejak masa mudanya (10:19-20). Akan tetapi, Tuhan Yesus melihat adanya masalah yang sangat mendasar pada diri orang kaya itu, yaitu keterikatan atau ketergantungan pada hartanya (10:21). Sayangnya, orang kaya itu tidak bisa melepaskan diri dari ketergantungannya kepada harta sehingga dia tidak bisa masuk ke dalam Kerajaan Allah (10:22-23).

Sebenarnya, memang tidak ada seorang pun yang sanggup memenuhi semua tuntutan Allah dalam hukum Taurat (Roma 3:20, 28; Galatia 2:16; 3:11). Hanya Kristus yang sanggup memenuhi seluruh tuntuan Allah melalui kematian-Nya di kayu salib. Keberhasilan Kristus memenuhi seluruh tuntutan Allah itu dibuktikan oleh kebangkitan-Nya dari antara orang mati. Setiap orang yang meyakini tentang kematian Kristus untuk orang berdosa dan kebangkitan-Nya dari antara orang mati akan memperoleh keselamatan. Inilah Injil atau Kabar Baik itu. [P]

Galatia 2:16
“Kamu tahu, bahwa tidak seorang pun yang dibenarkan oleh karena melakukan hukum Taurat, tetapi hanya oleh karena iman dalam Kristus Yesus. Sebab itu kami pun telah percaya kepada Kristus Yesus, supaya kami dibenarkan oleh karena iman dalam Kristus dan bukan oleh karena melakukan hukum Taurat.”[/b]

[b]http://saatteduh.wordpress.com/2014/06/
Pengakuan dan pengampunan dosa
Posted on Rabu, 25 Juni, 2014 by Saat Teduh

Baca: 2 Samuel 12:1-31
http://www.jesoes.com/alkitab/2sam/12/1
http://www.jesoes.com/alkitab/mzm/32/1

Kita bisa menyembunyikan dosa kita dari orang lain sehingga mereka tak tahu, tetapi bisakah kita menyembunyikan dosa kita dari Allah, yang Maha Tahu? Sesudah berzina dengan Batsyeba, Daud diam-diam saja selama beberapa waktu. Ia tidak mengakui dosanya di hadapan Allah. Namun dari Mazmur 32 kita bisa melihat bahwa ia merasa menderita juga bila menyimpan-nyimpan dosanya.

Akan tetapi, Tuhan tidak bisa mendiamkan dosa orang untuk selamanya. Allah mungkin menunda hukuman, tetapi kita harus mengingat bahwa tak ada dosa yang terlewatkan oleh Allah. Maka melalui perumpamaan (1-4), nabi Natan mengajak Daud untuk melihat dosanya hingga kemudian ia menyadari bahwa Tuhan sedang menegur dia atas dosa-dosanya (5-9, 13). Dosa Daud kemudian mendatangkan hukuman: dosa seksual akan melanda keluarganya (11-12) dan anak yang sedang dikandung Batsyeba akan mati (14). Apakah ini berarti bahwa Tuhan tidak mengampuni dosa Daud? Bukan demikian, tetapi hukuman memang merupakan konsekuensi dari dosa yang telah dilakukan manusia.

Namun Tuhan tidak berhenti sampai di sini. Kasih karunia-Nya tetap tercurah atas Daud dan Batsyeba kemudian melahirkan anak lagi (24-25). Allah meneruskan berkat-Nya dengan kemenangan Israel dalam peperangan melawan bani Amon di Raba (26-31). Dosa-dosa Daud memang mendatangkan hukuman yang sangat berat, tetapi Allah yang penuh anugerah itu tidak menghancurkan kehidupan Daud sehingga ia masih bisa mengalami berkat-berkat Allah.

Kisah dosa dan pengampunan Allah memang banyak terdapat di dalam Alkitab. Namun kita harus paham bahwa semua itu tertulis bukan untuk mendorong orang berbuat dosa, melainkan untuk memperingatkan kita tentang bahaya dosa. Karena itu, kita harus menghindari dosa, dengan cara apa pun. Bila kita jatuh juga ke dalam dosa, kita tahu bahwa Kristus telah menanggung dosa-dosa kita di salib. Maka datang kepada-Nya merupakan satu-satunya jalan terbaik untuk pengampunan dosa kita, agar kita tetap beroleh kasih karunia-Nya.

Otoritas Tuhan Yesus
Posted on Rabu, 25 Juni, 2014 by Saat Teduh

Bacaan Alkitab hari ini: Markus 11
http://www.jesoes.com/alkitab/mrk/11/1
http://www.jesoes.com/alkitab/yoh/1/1
http://www.jesoes.com/alkitab/yoh/1/14

Otoritas adalah hak atau wewenang untuk bertindak atau untuk mengatur. Salah satu penyebab permasalahan yang muncul dalam pelayanan Tuhan Yesus disebabkan karena ketidakmengertian para imam kepala, para ahli Taurat, dan orang-orang Fairsi tentang otoritas Tuhan Yesus. Sebenarnya, ketidakmengertian mereka itu disebabkan karena sikap keras kepala. Mereka tidak mau tunduk terhadap otoritas Tuhan Yesus. Hal ini berbeda dengan sikap orang banyak yang lebih terbuka terhadap otoritas Tuhan Yesus saat mereka melihat penyembuhan orang sakit, pengusiran setan, dan mujizat yang dilakukan oleh Tuhan Yesus.

Dalam bacaan Alkitab hari ini, kontras kedua macam sikap di atas terlihat jelas. Para pemilik keledai tanpa ragu-ragu merelakan keledai mereka untuk dipakai oleh Tuhan Yesus (11:1-7), sedangkan imam-imam kepala, ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi mempertanyakan otoritas Tuhan Yesus yang mengusir para pedagang yang berjual beli di halaman Bait Allah serta membalikkan meja-meja para penukar uang dan bangku-bangku para pedagang merpati (11:15-18, 27-28). Semua reaksi negatif yang ditunjukkan oleh para imam kepala dan para ahli Taurat dilatarbelakangi oleh ketidaksediaan untuk mengakui otoritas Tuhan Yesus (11:28).

Injil Yohanes menguraikan secara terus terang bahwa Tuhan Yesus adalah Allah—Sang Pencipta—yang menjadi manusia (Yohanes 1:1-3, 14). Dialah yang menciptakan dunia (termasuk manusia), tetapi dunia (manusia) tidak mengenal Dia dan tidak bersedia menerima Dia (1:10-11), artinya tidak bersedia mengakui otoritas keilahian-Nya. Seandainya manusia bersedia menerima Dia, tentulah manusia tidak akan mempertanyakan otoritas Tuhan Yesus! [P]

Markus 11:28b
“Dengan kuasa manakah Engkau melakukan hal-hal itu? Dan siapakah yang memberikan kuasa itu kepada-Mu, sehingga Engkau melakukan hal-hal itu?”[/b]

[b]http://saatteduh.wordpress.com/2014/06/
Tragedi keluarga raja
Posted on Kamis, 26 Juni, 2014 by Saat Teduh

Baca: 2 Samuel 13:1-22
http://www.jesoes.com/alkitab/2sam/13/1
http://www.jesoes.com/alkitab/2sam/3/2

Dosa bisa saja tidak terjadi bila orang-orang di sekitar orang yang akan berbuat dosa mau melarang atau menegur, bahkan menghalangi perbuatan dosa itu. Namun bila orang diam saja atau malah memberikan dukungan maka dosa akan bagaikan api terguyur bensin.

Amnon adalah anak laki-laki Daud yang pertama (2Sam. 3:2). Ia jatuh cinta pada Tamar, saudara perempuannya, seayah lain ibu (1-2). Cinta terlarang ini dikompori oleh Yonadab, saudara sepupu Amnon, dengan suatu tipu muslihat (3-5). Ia mengusulkan agar Amnon mengatur pertemuan pribadi dengan Tamar. Caranya, ia berpura-pura sakit dan meminta dikunjungi Tamar. Ide Yonadab yang dirasa cemerlang, segera dijalankan oleh Amnon dengan memanfaatkan ayahnya, Daud. Tamar pun didatangkan ke kamar Amnon (6-10) dan di situlah Amnon memerkosa Tamar (11-14). Namun apa yang terjadi setelah itu? Rasa cinta tiba-tiba hilang berganti benci (15) dan Tamar diusir begitu saja dari kamar Amnon (16-18). Ternyata cinta Amnon kepada Tamar bukanlah cinta sejati, melainkan hawa nafsu yang dapat menguap begitu saja ketika sudah terpuaskan.

Absalom, abang kandung Tamar, mengetahui peristiwa memalukan itu dari Tamar sendiri (20). Namun ia hanya bisa menyimpan rasa bencinya terhadap Amnon (22). Mungkin ia menunggu saat yang tepat untuk balas dendam. Daud sendiri juga tahu dan ia marah (21). Namun sayang, selaku ayah, Daud tidak melakukan tindakan tegas terhadap orang yang memerkosa putrinya. Seharusnya ia peka terhadap perilaku ganjil Amnon dan tidak mengizinkan Tamar menemui Amnon. Absalom saja bisa peka terhadap apa yang telah dialami Tamar. Yonadab sendiri selaku saudara sepupu seharusnya tidak mendorong Amnon untuk berbuat jahat.

Dosa yang dimulai dari Daud kemudian menjangkiti anggota keluarganya sehingga setiap orang bisa terjerat dalam lingkaran dosa itu. Coba selidiki keluarga kita, apakah dosa juga berkuasa di dalamnya? Bila ya, mintalah Kristus mematahkan kuasa itu dan lakukanlah pertobatan sebagai keluarga. Setelah itu, utamakan Yesus dalam keluarga Anda.

Dia Datang untuk Kita
Posted on Kamis, 26 Juni, 2014 by Saat Teduh

Bacaan Alkitab hari ini: Markus 12
http://www.jesoes.com/alkitab/mrk/12/1

Seorang yang belum benar-benar mengenal kasih Kristus mungkin saja beranggapan bahwa tuntutan Allah agar kita mengasihi Dia dengan segenap hati, segenap jiwa, segenap akal budi, dan segenap kekuatan serta mengasihi sesama seperti diri sendiri (12:29-31) sebagai tuntutan yang berlebihan. Akan tetapi bila kita mengingat apa yang telah Kristus lakukan bagi kita, jelaslah bahwa tuntutan tersebut merupakan tuntutan yang wajar.

Dalam perumpamaan tentang kebun anggur (12:1-9), kebun anggur itu merupakan gambaran tentang bangsa Israel. Penggarap kebun anggur itu adalah para pemimpin Israel. Dalam perumpamaan Tuhan Yesus ini, para pemimpin Israel yang dimaksud adalah para pemimpin agama Yahudi, yaitu para ahli Taurat, imam-imam kepala, dan orang-orang Farisi. Pemilik kebun anggur adalah Allah sendiri. Hamba-hamba yang diutus oleh Pemilik kebun anggur menunjuk kepada para nabi yang umumnya ditolak, dianiaya, bahkan ada yang dibunuh. Anak Pemilik Kebun adalah Yesus Kristus, Sang Anak Tunggal Allah. Perumpamaan ini menunjukkan bahwa Tuhan Yesus sadar benar bahwa kedatangan-Nya adalah untuk mati di tangan para pemimpin agama Yahudi.

Sadarkah Anda bahwa Tuhan Yesus adalah Anak Tunggal Allah yang diutus oleh Allah untuk menebus dosa manusia berdosa? Dia datang bukan untuk kepentingan diri-Nya sendiri, melainkan untuk menderita sampai mati di kayu salib bagi kita! Oleh karena itu, tidakkah wajar bila tuntutan Allah adalah agar kita mengasihi Dia dengan keseluruhan diri kita (hati, jiwa, akal budi, kekuatan)? [P]

Yohanes 1:10-12
“Ia telah ada di dalam dunia dan dunia dijadikan oleh-Nya, tetapi dunia tidak mengenal-Nya. Ia datang kepada milik kepunyaan-Nya, tetapi orang-orang kepunyaan-Nya itu tidak menerima-Nya. Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya”[/b]

[b]http://saatteduh.wordpress.com/2014/06/
Hindari dosa!
Posted on Jumat, 27 Juni, 2014 by Saat Teduh

Baca: 2 Samuel 13:23-39

http://www.jesoes.com/alkitab/2sam/13/23
http://www.jesoes.com/alkitab/1yoh/1/9
http://www.jesoes.com/alkitab/rm/6/12

Absalom membenci saudaranya seayah, yaitu Amnon, karena telah menghancurkan hidup Tamar, saudara kandungnya. Apa lagi Daud, ayah mereka, tidak melakukan tindakan apa pun. Maka sejak hari Tamar diperkosa, Absalom bermaksud membuat Amnon membayar harga atas hancurnya kehidupan Tamar (32). Tinggal soal waktu dan kesempatan. Dengan cermat dan sabar, Absalom merancang pembalasan dendam terhadap Amnon.

Setelah dua tahun berlalu, kesempatan itu datang. Seperti Amnon menipu Daud agar menyuruh Tamar datang ke kamarnya, begitulah Absalom menipu Daud agar menyuruh Amnon datang ke peternakan dombanya. Saat domba-domba Absalom kehilangan bulu wolnya (23-24), saat itulah Amnon kehilangan nyawanya (28-29).

Meski semula berduka karena mendengar bahwa semua anaknya mati dibunuh Absalom, duka itu tidak surut saat tahu bahwa hanya Amnon yang mati. Absalom yang menyadari kesalahannya, kemudian kabur ke Gesur (38).

Kesalahan yang dilakukan anggota keluarga Daud terhadap Daud ternyata sama seperti kesalahan yang Daud lakukan kepada Allah. Ketika Daud menyalahgunakan otoritasnya sebagai raja Israel dengan mengambil Batsyeba, Amnon menyalahgunakan posisinya sebagai putra mahkota untuk mengambil Tamar. Tindakan Daud membunuh Uria sama dengan tindakan Absalom membunuh Amnon. Daud menuai konsekuensi atas perbuatannya, walaupun ia telah mengakui dosa dan diampuni.

Kebanyakan orang hafal 1 Yohanes 1:9 yang berbicara tentang bagaimana menangani dosa setelah dilakukan. Namun kita juga perlu memahami Roma 6:12-13, yang berbicara tentang bagaimana menangani dosa sebelum kita jatuh ke dalamnya.

Kristus memang telah menebus kita dari dosa, tetapi setelah kita mengalami karya keselamatan-Nya tentu kita perlu menjaga kekudusan kita dengan menghindarkan diri dari perbuatan dosa, daripada meminta ampun setelah terjerat ke dalamnya, karena konsekuensi atas dosa itu akan tetap mengikuti kita.

Cara Pandang yang Berbeda
Posted on Jumat, 27 Juni, 2014 by Saat Teduh

Bacaan Alkitab hari ini: Markus 13
http://www.jesoes.com/alkitab/mrk/13/1

Cara pandang Tuhan Yesus berbeda dengan cara pandang murid-murid-Nya. Saat murid-murid Tuhan Yesus menyaksikan Bait Allah, mereka terpesona oleh kekokohan bangunan Bait Allah. Akan tetapi, Tuhan Yesus memiliki cara pandang yang berbeda. Tuhan Yesus mengetahui bahwa bangunan Bait Allah yang amat kokoh itu akan runtuh dan menjadi rata dengan tanah (13:1-2). Perbedaan cara pandang itu disebabkan karena para murid hanya bisa melihat hal-hal yang kelihatan pada saat itu dan tidak bisa melihat apa yang belum terjadi, sedangkan Tuhan Yesus memandang segala sesuatu dari sudut pandang global, baik secara tempat maupun waktu.

Tuhan Yesus mengetahui apa yang akan terjadi di masa depan, bukan hanya mengenai peristiwa-peristiwa yang terjadi di Palestina, tetapi juga peristiwa-peristiwa yang terjadi di seluruh dunia. Cara pandang yang bersifat global ini membuat Dia melihat segala sesuatu dengan cara yang berbeda. Oleh karena itu, tidak mengherankan bila Tuhan Yesus sering kali mengemukakan pemikiran yang tidak terduga oleh para pendengarnya. Dalam pasal ini, para murid pasti tidak menyangka bahwa pembicaraan tentang Bait Allah akan berlanjut menjadi perbincangan tentang akhir (atau kesudahan) zaman (13:4). Perlu diingat bahwa pengertian tentang akhir zaman bisa bermacam-macam. Dalam waktu dekat, kesudahan zaman adalah runtuhnya kota Yerusalem dengan Bait Allah di dalamnya seperti perbincangan dalam 13:1-2. Dalam waktu jauh, akhir zaman yang ditandai oleh penyiksaan (13:19), penyesatan (13:22) serta berbagai gejala (bencana) alam (13:24-25), dan diakhiri dengan kedatangan Tuhan Yesus kedua kali (13:26) yang masih kita nantikan penggenapannya. Semoga kita semua ditemukan sedang berjaga-jaga saat Tuhan Yesus datang kembali. [P]

Markus 13:23
“Hati-hatilah kamu! Aku sudah terlebih dahulu mengatakan semuanya ini kepada kamu.”[/b]

[b]http://saatteduh.wordpress.com/2014/06/
Ketika Aku Mempertanyakan Allah
Posted on Jumat, 27 Juni, 2014 by Saat Teduh

Clint Dempsey menyadari kecintaannya pada sepakbola sejak masa sekolah. Luapan kegembiraan setelah mencetak gol telah mendorong Dempsey makin mendalami kecintaannya pada olahraga yang telah membawanya hingga ke berbagai tempat di dunia dan bermain dalam level tertinggi di Eropa dan Amerika Serikat.

“Awalnya orangtuaku membawaku belajar sepakbola supaya aku mempelajari cara bergaul yang baik dengan orang lain,” kata Dempsey. “Aku tidak pernah tahu bahwa olahraga yang kusukai dan keterampilan yang kupelajari itu kemudian berperan besar dalam hubunganku dengan Allah.”

Dempsey masih berusia 21 tahun ketika ia menjadi pemain profesional, dan pada tahun itu juga ia berhasil masuk dalam tim nasional Amerika Serikat serta meraih gelar Pemain Baru Terbaik di Liga Utama Sepakbola AS (MLS). Setahun kemudian ia membawa klubnya New England Revolution memenangi trofi juara MLS yang diraih dua kali berturut-turut. Selanjutnya ia bermain di Inggris untuk Fulham dan Tottenham Hotspur, membantu tim nasional menjuarai Piala Emas CONCACAF, mewakili negaranya dalam kejuaraan Piala Dunia dan beberapa kali digelari Atlet Sepakbola Terbaik di AS….

Klik di sini untuk artikel lengkap nya

Relasi dan rekonsiliasi
Posted on Sabtu, 28 Juni, 2014 by Saat Teduh

Baca: 2 Samuel 14:1-33
http://www.jesoes.com/alkitab/2sam/14/1

Sebagaimana hubungan lainnya, hubungan ayah-anak tidak selalu berjalan baik. Banyak benih-benih konflik di dalam hubungan itu. Terlebih hubungan Daud-Absalom, yang memiliki latar belakang khusus.

Sudah tiga tahun Daud membiarkan Absalom melarikan diri ke Gesur, mungkin sebagai hukuman atas kesalahannya (2Sam. 13:23-36). Namun ternyata Daud merindukan Absalom (1). Yoab tahu hal itu, lalu memprakarsai rekonsiliasi hubungan ayah-anak itu.

Dengan meminta seorang perempuan Tekoa untuk bersandiwara di depan Daud, Yoab menegur Daud tentang sikapnya terhadap Absalom (13). Ia mengingatkan Daud tentang Allah, yang tidak pernah menginginkan adanya orang yang terbuang dari hadapan-Nya (14). Allah selalu menginginkan rekonsiliasi antara manusia dengan diri-Nya. Kita tahu bahwa di kemudian hari, salib Kristus menjadi bukti atas kebenaran ini. Sebab itu, sudah seharusnya Daud menunjukkan kasihnya kepada Absalom.

Lalu Daud menyetujui kepulangan Absalom ke Yerusalem (21), walau ia masih belum mau menemui anaknya (24). Tidak adanya komunikasi dengan ayahnya padahal ia telah jauh-jauh kembali, menimbulkan perasaan tidak enak di dalam diri Absalom. Sampai-sampai ia merasa lebih baik mati (32). Sikap Daud seolah menunjukkan bahwa maafnya adalah maaf setengah hati. Ini berdampak pada dosa lain, yaitu tindakan brutal (30). Barulah setelah Yoab menyampaikan permohonan Absalom, Daud mau menerima anaknya itu (33). Rekonsiliasi pun terjadi. Daud menerima kembali anaknya dan Absalom bertemu kembali dengan ayahnya.

Relasi ayah-anak antara Daud dan Absalom memang tidak terbangun dengan baik, terutama karena peristiwa yang terjadi atas Tamar. Namun retaknya relasi itu bisa disikapi dengan baik oleh keduanya pada akhirnya. Ini menjadi pelajaran bagi setiap orang tua dalam berelasi dengan anak dan setiap kita dalam berelasi dengan orang lain. Memang relasi tidak selalu berjalan mulus, karena itu rekonsiliasi bisa menjadi jalan keluar bagi pemulihan sebuah relasi.[/b]

[b]http://saatteduh.wordpress.com/2014/06/
Pencipta dan penebus
Posted on Minggu, 29 Juni, 2014 by Saat Teduh

Baca: Mazmur 136
http://www.jesoes.com/alkitab/mzm/136/1

Mazmur 136 mengajak kita menaikkan syukur karena karya-Nya dalam hidup umat-Nya. Sepertinya mazmur ini dilantunkan dalam suatu ibadah dengan bersahut-sahutan. Satu baris pernyataan perbuatan Allah yang diucapkan oleh imam atau pemimpin pujian, disambut dengan satu baris yang diucapkan umat sebagai respons “Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya.”

Mazmur ini mulai dengan karya Allah dalam penciptaan (5-9). Kapan terakhir kali kita mengagumi karya Allah yang menjadikan alam semesta ini begitu asri dan harmonis? Kalau yang kita lihat kerusakan di sana sini, itu disebabkan ulah manusia. Polusi di kota-kota besar, membuat sulit kita melihat keindahan dan keasrian alam ini. Namun Kejadian pasal 1 mengingatkan kita bahwa Allah masih berkarya sampai saat ini dalam memperbarui ciptaan-Nya, dan satu kali kelak semua akan diperbarui total.

Dari karya penciptaan, pemazmur meneruskan mensyukuri kasih setia Allah dengan menceritakan karya-Nya dalam sejarah permulaan Israel. Mulai dari karya penebusan dari perbudakan Mesir (10-15), diteruskan dengan perjalanan di padang gurun (16-20), sampai akhirnya mereka masuk ke tanah perjanjian (21-24). Mazmur Syukur ini ditutup dengan pernyataan perbuatan-Nya atas segala makhluk (25), untuk mengingatkan kita bahwa Dia Allah bukan hanya eksklusif untuk Israel, melainkan melalui Israel untuk semua makhluk.

Bisakah kita bersyukur karena karya Allah dalam sejarah hidup kita? Dia adalah Allah pencipta kita yang dalam kasih setia-Nya telah menebus kita dari perbudakan dosa. Dia sedang menuntun kita dalam perjalanan mengarungi padang gurun dunia ini. Suatu hari kelak kita akan menikmati tanah perjanjian yang kekal, peristirahatan dari semua pergumulan hidup. Bila kita belum atau jarang bersyukur, marilah sekarang mulai dan jangan berhenti bersyukur.

Keunikan Pelayanan Tuhan Yesus
Posted on Sabtu, 28 Juni, 2014 by Saat Teduh

Bacaan Alkitab hari ini: Markus 14
http://www.jesoes.com/alkitab/mrk/14/1

Pelayanan Tuhan Yesus yang diuraikan dalam Kitab-kitab Injil ini menunjukkan bahwa Tuhan Yesus itu unik. Dia berbeda kualitas—dalam segala hal—dengan tokoh-tokoh lain di bumi ini. Perbedaan kualitas ini bukan hanya disebabkan karena sesungguhnya Dia adalah Allah sejati, tetapi juga karena kualitas kemanusiaan-Nya tanpa cacat. Dia adalah teladan bagi kita! Bacaan hari ini menunjukkan beberapa keunikan dari pelayanan Tuhan Yesus.

Pertama, pelayanan Tuhan Yesus tidak membeda-bedakan orang. Tuhan Yesus mempedulikan orang-orang yang diabaikan atau diremehkan oleh para pemimpin agama. Mengapa perempuan dalam 14:3 itu rela memecahkan botol minyak narwastu yang mahal harganya untuk mengurapi kepala Tuhan Yesus? Karena masyarakat pada waktu itu meremehkan wanita, tetapi Tuhan Yesus menghargai wanita.

Kedua, Tuhan Yesus rela menanggung risiko dalam pelayanan-Nya, bahkan Dia secara sadar menghadapi penderitaan sampai di kayu salib. Oleh karena itu, Dia sadar bahwa tidak lama lagi Dia akan mati dan dikuburkan (bandingkan dengan 14:8). Dia sadar betul bahwa salah seorang murid-Nya (Yudas) akan berkhianat (14:18) dan salah seorang murid yang lain (Petrus) akan menyangkal Dia (14:30). Sekalipun demikian, Dia membiarkan pengkhianatan dan penyangkalan itu terjadi karena Dia taat terhadap kehendak Allah.

Ketiga, Tuhan Yesus mengandalkan kekuatan doa. Ketika Dia akan berhadapan dengan maut di kayu salib, Dia tidak mau melarikan diri melainkan Dia berdoa di Taman Getsemani. Dia meyakini kuasa doa. Banyak orang mengakui kuasa doa, tetapi tidak banyak orang bersungguh-sungguh mengandalkan doa saat menghadapi masalah berat. [P]

Markus 14:38
“Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan; roh memang penurut, tetapi daging lemah.”

[/b]

[b]http://saatteduh.wordpress.com/2014/06/
Bukan kehendak Allah
Posted on Senin, 30 Juni, 2014 by Saat Teduh

Baca: 2 Samuel 15:1-12
http://www.jesoes.com/alkitab/2sam/15/1
http://www.jesoes.com/alkitab/1raj/1/5
http://www.jesoes.com/alkitab/2sam/3/2
http://www.jesoes.com/alkitab/2sam/5/3
http://www.jesoes.com/alkitab/1taw/2/9

Menjelang pemilihan kepala daerah atau presiden, biasanya para calon akan tebar pesona. Mereka akan melakukan segala cara untuk mengambil hati rakyat, baik dengan kampanye program, memberikan bantuan, kunjungan ke pasar rakyat, dan lain-lain.

Tidak jauh berbeda dengan Absalom, yang berhasrat mengudeta raja Daud, yang adalah ayahnya sendiri. Setiap hari ia mencoba menarik hati rakyat dengan kereta perang dan pengawalnya, di tepi jalan menuju Yerusalem (1, bdk. 1Raj. 1:5). Ia mengundang simpati rakyat dengan menyampaikan salam (5) dan mendengar keluhan mereka (2-3). Namun di balik itu, ia mengkritik pemerintahan ayahnya (2-3) serta menjanjikan pemerintahan yang lebih baik dibandingkan pemerintahan Daud (4).

Setelah empat tahun berusaha menjatuhkan nama Daud dan membangun nama baiknya sendiri, Absalom siap merealisasikan ambisi di tempat kelahirannya, yaitu di tempat Daud dilantik menjadi raja (2Sam. 3:2-3, 5:3). Namun ia musti mencari cara untuk pergi ke sana tanpa menimbulkan kecurigaan Daud. Dengan alasan untuk menggenapi nazar kepada Tuhan, Daud mengizinkan Absalom pergi ke Hebron (7-9). Absalom pun pergi dengan membawa dua ratus orang yang tidak tahu apa-apa (11). Namun sebelumnya, ia telah mengirimkan pesan rahasia ke suku-suku Israel agar mendukung dia (10). Selain itu ada Ahitofel, penasihat Daud (12), yang mendukung Absalom mungkin karena tidak tahu bahwa Absalom bukanlah orang pilihan Tuhan (bdk. 1Taw. 2:9-10).

Tindakan Absalom untuk menurunkan orang yang diurapi Allah dari takhtanya bertentangan dengan kehendak Allah dan karena itu akan gagal. Bahkan akan membuat dia dihukum Allah. Pemberontakan Absalom melawan orang yang diurapi Allah sama dengan reaksi orang Yahudi kepada Yesus, Sang Mesias. Mereka tidak menginginkan Kristus menjadi Raja mereka. Namun suatu saat Dia akan datang kembali dan menegakkan pemerintahan tanpa bisa ditawar-tawar lagi. Penolakan terhadap Kristus akan bermakna maut!

Respons Terhadap Kebangkitan Kristus
Posted on Senin, 30 Juni, 2014 by Saat Teduh

Bacaan Alkitab hari ini: Markus 16
http://www.jesoes.com/alkitab/mrk/16/1

Doktrin tentang kebangkitan Kristus (bersama dengan doktrin tentang kematian Kristus) merupakan doktrin terpenting dalam kepercayaan Kristen. Sekalipun demikian, tidak mudah mempercayai doktrin tersebut. Bagi murid-murid Tuhan Yesus pun, tidak mudah mempercayai bahwa Tuhan Yesus benar-benar telah bangkit sebelum mereka melihat sendiri Kristus yang bangkit, padahal masalah kebangkitan ini telah disebutkan secara samar-samar dalam Perjanjian Lama dan kemudian diberitakan secara terus terang oleh Tuhan Yesus (8:31; 9:9, 31; 10:34; 14:28).

Bila kita memperhatikan betapa sulitnya para murid Tuhan Yesus untuk mempercayai kebangkitan Tuhan Yesus, tidak mengherankan bila orang-orang pada masa kini pun amat sulit untuk mempercayai kebangkitan Kristus. Sekalipun demikian, berita tentang kebangkitan merupakan bagian dari berita Injil yang sama sekali tidak boleh diabaikan. Tanpa kebangkitan Tuhan Yesus, kita tidak akan bisa memiliki pengharapan tentang kebangkitan diri kita sendiri pada saat kedatangan Tuhan Yesus kedua kali. Tanpa kebangkitan Tuhan Yesus, kita tidak memiliki pengharapan akan masa depan.

Dari sisi penelitian terhadap naskah-naskah kuno—terutama naskah-naskah asli Alkitab—yang membicarakan atau menyinggung tentang kebangkitan Kristus, pembuktian terhadap berita tentang kebangkitan Kristus amat meyakinkan dan dapat dipertanggungjawabkan dari sudut pandang ilmu hukum. Dari sisi lain, benar bahwa diperlukan iman untuk mempercayai berita tentang kebangkitan Kristus. [P]

1 Korintus 15:3-4
“Sebab yang sangat penting telah kusampaikan kepadamu, yaitu apa yang telah kuterima sendiri, ialah bahwa Kristus telah mati karena dosa-dosa kita, sesuai dengan Kitab Suci, bahwa Ia telah dikuburkan, dan bahwa Ia telah dibangkitkan, pada hari yang ketiga, sesuai dengan Kitab Suci.”[/b]

[b]http://saatteduh.wordpress.com/2014/06/
Kristus Menerima Ketidakadilan
Posted on Minggu, 29 Juni, 2014 by Saat Teduh

Bacaan Alkitab hari ini: Markus 15
http://www.jesoes.com/alkitab/mrk/15/1

Apa yang terjadi terhadap Tuhan Yesus merupakan ketidakadilan yang luar biasa. Tuhan Yesus—Hakim yang Agung itu—membiarkan diri-Nya dihakimi oleh hakim-hakim yang sama sekali tidak adil. Tuhan Yesus—yang sama sekali tidak melakukan dosa—dituduh dengan tuduhan palsu, diperlakukan secara kasar (diludahi, dipukul, dihina) dan dijatuhi hukuman terberat pada masa itu yang biasanya dijatuhkan kepada para penjahat besar, yaitu hukuman salib.

Hal yang paling menarik dari sikap Tuhan Yesus dalam menghadapi perlakuan yang tidak semestinya itu adalah bahwa Dia sama sekali tidak membela diri. Dia membiarkan saja orang banyak berlaku tidak semestinya terhadap Dia. Pada saat itu—dan bahkan sampai Dia disalibkan di kayu salib—Tuhan Yesus menempatkan diri dalam posisi manusia berdosa yang sudah sepantasnya menerima hukuman Allah (bandingkan dengan Yesaya 53:7). Untuk kita—manusia berdosa—Tuhan Yesus rela untuk tidak diperlakukan secara semestinya, padahal sebenarnya Dia adalah Allah yang harus dipuji dan dimuliakan. Dia rela untuk turun dari status paling tinggi ke status paling rendah untuk mengangkat derajat manusia berdosa,

Sikap Tuhan Yesus dalam menghadapi ketidakadilan itu merupakan teladan bagi kita (Filipi 2:5-8). Bila kita hendak melayani orang lain, kita harus rela untuk merendahkan diri dan juga rela untuk direndahkan. Kita harus rela untuk diperlakukan tidak semestinya. Kita harus rela melepaskan apa yang menjadi hak kita. Yang menjadi sumber harga diri kita seharusnya bukanlah sikap orang lain terhadap diri kita, melainkan penghargaan Allah terhadap diri kita. [P]

Yesaya 53:7
“Dia dianiaya, tetapi dia membiarkan diri ditindas dan tidak membuka mulutnya seperti anak domba yang dibawa ke pembantaian; seperti induk domba yang kelu di depan orang-orang yang menggunting bulunya, ia tidak membuka mulutnya.”[/b]