Purgatory dalam alkitab.

Perbedaan antara Kristen Protestan dan katolik memang pada dasar bangunannya.
Protestan percaya dasar bangunan/ajaran Gereja adalah YESUS KRISTUS Ini berdasarkan penafsiran banyak ayat antara lain yang dibawah ini yang akan kita analisa sedetail dan semampu saya. Dan kiranya Tuhan menolong kita semua untuk memahami ayat2 ini.

I Kor 3:10-13

10.Sesuai dengan kasih karunia Allah yang dianugrahkan kepadaku, aku sebagai seorang ahli banungan yang cakap telah meletakan dasar dan orang lain membangun terus diatasnya. Tetapi tiaporang harus memperhatiknbagaimana ia harus membangun diatasnya.

Ternyata disini Tukang bangunan itu adalah Paulus. YESUS yang punya gereja meminta Paulus untuk sebagai tukang untuk membuatkan gereja. Waktu kita mau bangun rumah, kita minta kontraktor untuk membangun bagi kita. Jadi memang Tuhan mempercayakan Paulus dan kita semua untuk memberitakan injilnya supaya terbangun suatu perkumpulan orang percaya yang sekarang kita sebut gereja. Jaman dulu tidak tahu apa ini disebut gereja atau apa yang penting terkumpul suatu masyarakat yang menyembah Tuhan dan percaya YESUS sebagai juru selamat satu2nya. Dan ini oleh Paulus dianalogikan sebagai bangunan.

  1. Karena tidak ada seorangpun yang dapat meletakan dasar lain daripada dasar yang telah diletakan yaitu YESUS KRISTUS.

Perhatikan disini kata diletakan. Awalan di menunjukan bahwa bukan Paulus yang meletakan dasar ini, Paulus tidak mengatakan KULETAKAN, tapi Diletakan. Artinya dasar ini sudah ada sebelum Paulus membangun. Jadi Paulus bukan membuat ajaran baru tapi apa yang diajarkan oleh YESUS KRISTUS saja. Paulus hanya memulainya mengajarkan ajaran yang sudah ada ini disuatu daerah/pionir.

Dalam hal ini GK mengatakan bangunan yang dibangunnya itu memakai dasar Petrus. GK percaya Tuhan membangun suatu bangunan yaitu gereja dan Petrus dipaka sebagai dasar.

Protestan percaya Tuhan membangun suatu bangunan dan dia menyuruh kita semua untuk mengerjakan sebagai tukangnya Tuhan tapi dasarnya harus YESUS KRISTUS/ajaran KRISTUS. Jadi Petrus, Paus, Paulus dll tidak boleh mempunyai ajaran sendiri2 hanya KRISTUS saja.

12.Entahlah orang membangun diatas dasar ini dengan emas, perak, batu permata, kayu rumput kering atau jerami.

Tadi kita belajar bangunan adalah analogy, bukan benar2 gedung. bangunan disini melambangkan suatu ajaran keselamatan. Lalu bahan bangunannya adalah juga ajaran. Pada waktu pendeta kita berkotbah dan menyampaikan ajaran, motifnya bisa bermacam2.

Misal seorang pendeta berkotbah tentang perpuluhan, bisa saja karena murni ingin anggaotanya diberkati Tuhan tapi bisa juga karena dia ingin uang. Kalau anggota pada kasih perpuluhan, gereja jadi kaya dan gajinya naik.

Jadi motif bisa murni bisa tidak.

Ajaran bisa murni bisa tidak tergantung dari pembawa ajaran itu. Ada seorang pendeta mengatakan pada saya, kenapa gereja Yong Gie Choo di korea maju dia mengatakan karena jemaatnya menghargai pendetanya.

Barangkali motif dari pendeta ini supaya dia dihargai. jadi bukan karena murni, atau mungkin juga morni. Ada pengkotbah juga cari popularitas, bukan murni karena kasih dll.

  1. Sekali kelak pekerjaan masing orang akan nampak karena hari Tuhan akan menyatakannya sebab ia akan nampak dengan api dan bagaimana pekerjaan tiap2 orang akan diuji oleh api itu.

Kita perhatikan kata api disini sebagai penguji.

GK menafsirkan api disini sebagai purgatory/hukuman sementara untuk membuat orang yang belum suci jadi suci.

Ayat ini mengatakan api sebagai alat penguji. bukan hukuman sementara bukan membuat orang yang belum suci jadi suci. Jadi ada penyimpangan penafsiran disini yang punya motif untuk melegalkan ajaran purgatory. Konon ajaran ini dulunya menyebabkan orang datang ke pastor dan harus bayar persembahan. Dan menurut Bro Daniel FS setelah Innocent III persembahan tidak lagi suatu keharusan.

Saya kuatir ajaran ini punya motif tidak murni yaitu uang.

Paulus sudah punya kekuatiran entah bahan bangunan apa yang kelak di pakai oleh penerusnya dalam membangun bangunan Tuhan ini. Apakah emas murni,

GK percaya bangunan itu dasar/batu pemulanya adalah Petrus dan sekarang untuk semantara Petrus bukan saja dasar tapi Kepala gereja mewakili KRISTUS.
Dalam salah satu katekisimusnya, Gk mengajarkan bahwa diluar Gereja Katolik tidak ada keselamatan. Ini juga meragukan saya apa benar ajaran ini bertujuan supaya banyak orang diselamatkan ataukah bertujuan untuk terjadinya suatu Gereja besar raksasa semacam bangunan menara babel?

Emaskah bahan bangunan ini? atau Jeramikah? biarlah masing2 bertanya pada Tuhan dan menentukan pilihannya sesuai dengan hikmat Tuhan

dibangun atas dasar batu karang yang teguh yi Yesus sendiri :afro:

IMO.

Mat 16.18 “Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya.”
… teksnya secara khusus bicara tentang person Petrus dan pengakuan Petrus sebagai dasar gereja… sementara Kristus adalah batu penjurunya…

Jadi Bro satya percaya bahwa dasar gereja adalah Petrus?

Lalu kenapa Paulus dalam Korintus mengatakan Kristus adalah dasar gereja?

Yesus adalah Batu Penjuru Gereja… Kalau memperhatikan percakapan Yesus pada teks… maka secara personal Yesus menunjuk pribadi Petrus, hal ini tidak berlaku bagi pribadi yang lain. tetapi hal itu terjadi karena sebelumnya ada percakapan dan pengakuan Petrus… Bila kita melanjutkan… Petrus memang menjadi acuan dalam pembangunan jemaat mula-mula… jadi saya percaya itu adalah pribadi dan pengakuan Petrus yang menjadi dasar… dengan tetap mengatakan bahwa Yesus adalah Batu Penjuru Gereja.

Bro Satya.

Bro menyebut2 Batu Penjuru, dan juga dasar gereja.
Jadi Gereja punya batu penjuru dan juga punya dasar.

Paulus menyebut Dasar gereja adalah kristus, ini terdapat pada text korintus yang saya posting diatas.

Lalu apa penjelasan bro tentang surat Paulus ini, kenapa Paulus mengatakan dasar gereja adalah Kristus dan tidak menyebut Petrus sebagai dasar gereja.

Bila memperhatikan Firman Yesus yang dicatat oleh Matius 21:42, yang merupakan kutipan dari Maz 118:22-23, hal ini sama dalam ketiga injil sinoptik, istilah Batu Penjuru dikenakan oleh Yesus pada diriNya sendiri untuk menunjukkan dasar utama bangunan.
Istilah ini juga di gunakan oleh Petrus dalam suratnya yang pertama 2:7, juga dalam catatan tabib Lukas yang kedua 4:11, bahkan oleh Rasul Paulus kepada Jemaat di Efesus 2:20.

Saya memperhatikan bahwa Yesus menggunakan pribadi dalam menunjukkan bangunan adalah hal yang wajar pertama dirinya batu penjuru, kemudian Petrus sebagai dasar bahkan ketika berada di depan Imam Besar Ananias Paulus juga menggunakan istilah tembok bagi imam dan ahli Taurat.

Disisi lain dalam teks di 1 Korintus, dengan konteks pergulatan jemaat untuk memperlihatkan siapa yang utama, Paulus mengunakan istilah yang sedikit berbeda untuk menunjukkan peranan. coba perhatikan 3:9…

Kalau memperhatikan 1 Kor 3:10-13, kata dasar disana digunakan secara umum, yang dalam bangunan dikenal sebagai Batu Penjuru, yaitu dasar utama. mestinya ada batu-batu lain yang dipasang… cf. v. 12.

Coba perhatikan lagi teks di Matius 16:18, bila Yesus tidak berbicara secara pribadi kepada Petrus mengapa diawali dengan kata “Engkau adalah Petrus…” kemudian di sambung “dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya.” Dalam bahasa aslinya merupakan sebuah permainan bahasa karena menggunakan kata Petra dan Petros… jadi apakah Yesus salah?

Bro satya, tentu Tuhan tidak salah, namun saya ingin penjelasan lebih detail saja kan bro menyebut2 kata petros dan petra. juga bro menyebut permainan kata2 tentu itu punya makna yang bro tidak jelaskan secara detail.

Hehehehe… bro maafkan… bukan saya tidak mau… saya sedang tidak mood mempelajari detail sekarang… btw kalo bro perhatikan saya jarang posting sangat panjang dan dengan referensi yang bejibun… saya berusaha menulis pendek sesuai dengan konteks aja… so saya akan sambung segera setelah saya cukup waktu mempelajari dan membahasnya… maaf…

Terimakasih bro buat responnya.

Salam, topik ini kan bukan topik baru.
Search di google diskusi2 mengenai ini :
Salah satunya dari forum Protestan/Catholic :
http://www.speroforum.com/forum/topic.asp?TOPIC_ID=5583

Dari site catholic dan kutipan2 pendapat para teolog protestan :
http://catholicity.elcore.net/SimonIsTheRock.html

Matius 16
16:18 Dan Akupun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya.

Sebenarnya saya malas berkomentar di dalam thread ini, karena “batu karang” di dalam Matius 16:18 jelas menunjukkan kepada pribadi Petrus, bukan Yesus.

Yohanes 1
1:42 Ia membawanya kepada Yesus. Yesus memandang dia dan berkata: “Engkau Simon, anak Yohanes, engkau akan dinamakan Kefas (artinya: Petrus).”

Tetapi hal2 yang harus dicermati adalah:

  1. Jemaat-Ku (Kristus) bukan jemaat Petrus.

Matius
16:18 Dan Akupun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya.

  1. Peran Petrus :

Lukas 22
22:32 tetapi Aku telah berdoa untuk engkau, supaya imanmu jangan gugur. Dan engkau, jikalau engkau sudah insaf, kuatkanlah saudara-saudaramu."

Yohanes 21
21:17 Kata Yesus kepadanya untuk ketiga kalinya: “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?” Maka sedih hati Petrus karena Yesus berkata untuk ketiga kalinya: “Apakah engkau mengasihi Aku?” Dan ia berkata kepada-Nya: “Tuhan, Engkau tahu segala sesuatu, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau.” Kata Yesus kepadanya: "Gembalakanlah domba-domba-Ku.

Iman Kristen juga merupakan hasil penggembalaan dari Rasul Petrus.
Siapapun yang bertugas menjadi “gembala umat Kristus” adalah "batu karang dalam Matius 16:18, para gembala ini adalah “Petrus-Petrus2” lain yang dipercayakan Kristus untuk menggembalakan umat-Nya.

Matius 2
2:6 Dan engkau Betlehem, tanah Yehuda, engkau sekali-kali bukanlah yang terkecil di antara mereka yang memerintah Yehuda, karena dari padamulah akan bangkit seorang pemimpin, yang akan menggembalakan umat-Ku Israel."

Matius 23
23:10 Janganlah pula kamu disebut pemimpin, karena hanya satu Pemimpinmu, yaitu Mesias.

Salam

Sebetulnya topik ini saya maksudkan untuk mempelajari apa benar api yang dimaksud dalam I Kor 3;15 itu purgatory.

bro jack: pembahasan ttg itu akan melebar dan panjang… karena musti disamakan dari taraf fundamentalnya dulu… kapan2 kita bahas kalo bro bersedia… saya akan susun kerangka pikirnya dulu, supaya diskusinya bisa fokus…

salam

ond32lumut :afro:


[/quote]

Boleh juga bro kita sama2 belajar supaya jelas apa betul purgatory itu alkitabiah, makanya saya mulai dari ayat 10 untuk mengetahui api dalam ayat 15 itu apa betul2 purgatory?

[/quote]

Ups sorry bro saya salah tangkap, soalnya dari judul thread dan post pertama sebagian besar membahas tentang dasar gereja.
Mungkin judul threadnya bisa dirubah?

Judul sudah saya rubah bro memang saya salah kasih judul.

[/quote]
tunggu ya bro… namun bro harus berkacamata bening dulu… artinya jauhkan dulu katolik, protestan. dll… apalagi kalau udah benci katolik, dan sudah terekam dalam jiwa terpatri dalam hati bahwa katolik itu salah…

kalau bro sudah berkacamata kuning maka semua yg terlihat akan menjadi kuning juga bukan…???

setelah bro ngerti jalan pikir katolik secara jernih… baru bro renungkan, dan percaya atau tidak itu hak azasi…

salam…

ond32lumut :afro:


[/quote]

Ditunggu bro saya mau pakai kacamata alkitab. artinya alkitab jadi pedoman

tunggu ya bro… namun bro harus berkacamata bening dulu… artinya jauhkan dulu katolik, protestan. dll… apalagi kalau udah benci katolik, dan sudah terekam dalam jiwa terpatri dalam hati bahwa katolik itu salah…

kalau bro sudah berkacamata kuning maka semua yg terlihat akan menjadi kuning juga bukan…???

setelah bro ngerti jalan pikir katolik secara jernih… baru bro renungkan, dan percaya atau tidak itu hak azasi…

salam…

ond32lumut :afro:


[/quote]

[/quote]

bro jack:

Semua orang yang mengimani kristus akan selamat!
Gereja Katolik mengajarkan bahwa kita diselamatkan karena kasih karunia Allah oleh iman (lih. Ef 2:8, Tit 2:11; 3:7). Dan iman ini harus dinyatakan dan disertai dengan perbuatan, sebab jika tidak demikian, maka iman kita itu mati (lih. Yak 2:17, 24, 26).

namun semua orang yg mengimani kristus tidak selau suci/kudus!
“Jika kita berkata, bahwa kita tidak berdosa, maka kita menipu diri kita sendiri dan kebenaran tidak ada di dalam kita. Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.” (1 Yoh 1:8-9)

disurga:
tidak ada yg masuk kesurga dengan keadaan tidak suci
(“Tidak akan masuk ke dalamnya [surga] sesuatu yang najis” (Why 21:27) sebab Allah adalah kudus (Is 6:3). Maka kita semua dipanggil kepada kekudusan yang sama (Mat 5:48; 1 Pet 1:15-16), sebab tanpa kekudusan tak seorangpun dapat melihat Allah (Ibr 12:14).

maka bagaimana manusia akan masuk surga tapi belum suci?
Melihat bahwa memang tidak mungkin orang yang ‘setengah kudus’ langsung masuk surga, maka sungguh patut kita syukuri jika Allah memberikan kesempatan pemurnian di dalam Api Penyucian.
harus disucikan dulu…

api pensucian (purgatory)
tidak ada yang tau apa bentuk purgatory… disebut api karena mengacu pada kitab:
(“Jika pekerjaannya terbakar, ia akan menderita kerugian, tetapi ia sendiri akan diselamatkan, tetapi seperti dari dalam api.” (1 Kor 3:15)

namun terlepas bagaimana proses pensuciannya, atau bagaiman bentuknya, api atau bukan… pada prinsipnya purgatory itu adalah kondisi ketiga, selain di neraka/disurga.

Dasar kitab suci.
harus disepakati dulu, bahwa memang kata purgatory tidak eksplisit disebut dalam kitab suci, seperti halnya kata “trinitas”
menjelaskan hal ini saya harus berdasar alkitab, karena bagi umat protestan cenderung mengabaikan pengajaran bapa gereja.
purgatory memang diajarkan para bapa gereja sejak abad ke 3-4. namun begitu sebagai wawasan akan saya sertakan juga ajaran bapa2 gereja tersebut…

1. Keberadaan Api Penyucian diungkapkan oleh Yesus secara tidak langsung
pada saat Ia mengajarkan tentang dosa yang menentang Roh Kudus, “…tetapi jika ia menentang Roh Kudus, ia tidak akan diampuni, di dunia ini tidak, dan di dunia yang akan datang pun tidak.” (Mat 12:32) Di sini Yesus mengajarkan bahwa ada dosa yang dapat diampuni pada kehidupan yang akan datang. Padahal kita tahu bahwa di neraka, dosa tidak dapat diampuni, sedangkan di surga tidak ada dosa yang perlu diampuni. Maka pengampunan dosa yang ada setelah kematian terjadi di Api Penyucian, walaupun Yesus tidak menyebutkan secara eksplisit istilah ‘Api Penyucian’ ini.

2. Rasul Paulus mengajarkan bahwa pada akhirnya segala pekerjaan kita akan diuji oleh Tuhan.
“Jika pekerjaannya terbakar, ia akan menderita kerugian, tetapi ia sendiri akan diselamatkan, tetapi seperti dari dalam api.” (1 Kor 3:15) Api ini tidak mungkin merupakan api neraka, sebab dari api neraka tidak ada yang dapat diselamatkan. Api ini juga bukan surga, sebab di surga tidak ada yang ‘menderita kerugian’. Sehingga ‘api’ di sini menunjukkan adanya kondisi tengah-tengah, di mana jiwa-jiwa mengalami kerugian sementara untuk mencapai surga.

3. Rasul Petrus juga mengajarkan bahwa pada akhir hidup kita, iman kita akan diuji,
“…untuk membuktikan kemurnian imanmu yang jauh lebih tinggi nilainya daripada emas yang fana, yang diuji kemurniannya dengan api- sehingga kamu memperoleh puji-pujian dan kemuliaan… pada hari Yesus Kristus menyatakan diri-Nya (1 Pet 1:7). Rasul Petrus juga mengajarkan,
“Kristus telah mati untuk kita … Ia, yang yang telah dibunuh dalam keadaan-Nya sebagai manusia, tetapi yang telah dibangkitkan oleh Roh, dan di dalam Roh itu pergi memberitakan Injil kepada roh-roh yang ada di dalam penjara, yaitu roh-roh mereka yang dahulu pada waktu Nuh tidak taat kepada Allah…” (1 Pet 3: 18-20). Roh-roh yang ada di dalam penjara ini adalah jiwa-jiwa yang masih terbelenggu di dalam ‘tempat’ sementara, yang juga dikenal dengan nama ‘limbo of the fathers’ (‘limbo of the just‘). Selanjutnya Rasul Petrus juga mengatakan bahwa “Injil diberitakan juga kepada orang-orang mati supaya oleh roh, mereka dapat hidup menurut kehendak Allah” (1 Pet 4:6). Di sini Rasul Petrus mengajarkan adanya tempat ketiga selain surga dan neraka, yaitu yang kini disebut sebagai Api Penyucian.

4. Rasul Paulus mendoakan sahabatnya Onesiforus yang rajin mengunjunginya sewaktu ia dipenjara, agar Tuhan menunjukkan belas kasihan-Nya kepada sahabatnya itu ‘pada hari penghakiman’ (lihat 2 Tim 1:16-18). Rasul Paulus berdoa agar Tuhan berbelas kasihan kepada jiwa sahabatnya itu pada saat kematiannya.[1] Hal ini tentu tidak masuk akal jika doa yang dipanjatkan untuk orang yang meninggal tidak ada gunanya. Sebaliknya, ini merupakan contoh bahwa doa-doa berguna bagi orang-orang yang hidup dan yang mati. Tradisi para rasul mengajarkan demikian.

Dasar dari Pengajaran Bapa Gereja dan Tradisi Suci Gereja

  1. Tertullian (160-220), mengajarkan agar para istri mendoakan suaminya yang meninggal dan mendoakannya dengan Misa Kudus, setiap memperingati hari wafat suaminya.[3]

  2. St. Cyril dari Yerusalem (315-386) mengajarkan agar kita mempersembahkan permohonan bagi orang-orang yang telah meninggal, dan mempersembahkan kurban Kristus [dalam Misa Kudus] yang menghapus dosa-dosa kita dan mohon belas kasihan Allah kepada mereka dan kita sendiri.[4]

  3. St. Yohanes Krisostomus (347-407) mengajarkan agar kita rajin mendoakan jiwa sesama yang sudah meninggal.”Baiklah kita membantu mereka dan mengenangkan mereka. Kalau anak-anak Ayub saja telah disucikan oleh kurban yang dibawakan oleh Bapanya, bagaimana kita dapat meragukan bahwa persembahan kita membawa hiburan untuk orang-orang mati? Jangan kita bimbang untuk membantu orang-orang mati dan mempersembahkan doa untuk mereka.[5]

  4. St. Agustinus (354-430) mengajarkan, bahwa hukuman sementara sebagai konsekuensi dari dosa, telah dialami oleh sebagian orang selama masih hidup di dunia ini, namun bagi sebagian orang yang lain, dialami di masa hidup maupun di hidup yang akan datang; namun semua itu dialami sebelum Penghakiman Terakhir. Namun, yang mengalami hukuman sementara setelah kematian, tidak akan mengalami hukuman abadi setelah Penghakiman terakhir tersebut.[6]

  5. St. Gregorius Agung (540-604),“Kita harus percaya bahwa sebelum Pengadilan [Terakhir] masih ada api penyucian untuk dosa-dosa ringan tertentu, karena kebenaran abadi mengatakan bahwa, kalau seorang menentang Roh Kudus, ia tidak akan diampuni, ‘di dunia ini tidak, dan di dunia yang akan datangpun tidak (Mat 12:32). Dari ungkapan ini nyatalah bahwa beberapa dosa dapat diampuni di dunia ini, [sedangkan dosa] yang lain di dunia lain.”[7]

  6. Konsili Firenze (1439) dan Trente (1563), menjabarkan doktrin tentang Api Penyucian ini.[8] Konsili Firenze menyebutkan, “Dan jika mereka bertobat dan meninggal dalam kasih Tuhan sebelum melunasi penitensi dosa mereka…, jiwa mereka dimurnikan setelah kematian dalam Api Penyucian. Untuk membebaskan mereka, tindakan-tindakan silih (suffragia) dari para beriman yang masih hidup dapat membantu mereka, yaitu: Kurban Misa, doa-doa, derma, dan perbuatan kudus lainnya yang diberikan untuk umat beriman yang lain, sesuai dengan praktek Gereja. Hal demikian dinyatakan kembali dalam
    Konsili Trente, yang menegaskan keberadaan Api Penyucian, perlunya tindakan-tindakan silih (suffragia) dari para beriman untuk mendoakan jiwa-jiwa yang ada di dalamnya, terutama dengan Misa Kudus.

Jadi, ingatlah ketiga hal ini tentang Api Penyucian

  1. Hanya orang yang belum sempurna dalam rahmat yang dapat masuk ke dalam Api Penyucian. Api Penyucian bukan merupakan kesempatan kedua bagi mereka yang meninggal dalam keadaan tidak bertobat dari dosa berat.
  2. Api Penyucian ada untuk memurnikan dan memperbaiki. Akibat dari dosa dibersihkan, dan hukuman/ konsekuensi dosa ‘dilunasi’.
  3. Api Penyucian itu hanya sementara. Setelah disucikan di sini, jiwa-jiwa dapat masuk surga. Semua yang masuk Api Penyucian ini akan masuk surga. Api Penyucian tidak ada lagi pada akhir jaman, sebab setelah itu yang ada hanya tinggal Surga dan neraka.

baca lengkap di: http://katolisitas.org/2008/11/28/bersyukurlah-ada-api-penyucian/

berikut penjelasan semampu saya… kalau ada pertanyaan, saya juga akan jawab semampu saya…
namun, kacamata bening ya… :slight_smile:

salam… :slight_smile: