Polresta tangkap "Nabi Palsu"?

Dapat dari Timorexpress.com

http://www.timorexpress.com/photohead/1244161389Grafis.jpg

KUPANG,Timex–Proses hukum terhadap tujuh kelompok doa Sion Kota Allah yang telah ditetapkan sebagai tersangka oleh penyidik Polresta Kupang menuai protes dari Sinode GMIT.
“Aparat penyidik Polresta Kupang, terlalu cepat atau gegabah menetapkan tujuh nabi palsu tersebut sebagai tersangka,” kata Wakil Sekretaris Sinode GMIT, Pdt. Robert Litelnoni, S.Th, saat ditemui koran ini Kamis (4/6) kemarin.

Menurut Pdt. Robert, dalam pemeriksaan dan penetapan terhadap tujuh
tersangka kelompok doa Sion Kota Allah, penyidik Polresta Kupang, tidak menghadirkan saksi-saksi atau pihak-pihak yang merasa dirugikan dari aktivitas kelompok doa itu.
Ia menilai, aparat penyidik Polresta Kupang telah melangkahi GMIT karena dalam proses penyidikan, polisi tidak pernah memberitahukan hal tersebut kepada GMIT.

“Kalau ancaman pasalnya, adalah penodaan terhadap agama, maka agama mana yang merasa dinodai. Kalau Polisi mengatakan, agama Kristen Protestan yang dinodai, maka siapa yang pernah melaporkan kepada polisi untuk menangkap ke tujuh warga tersebut. Kami sendiri dari GMIT tidak merasa dinodai kok. Polisi dengan serta merta memvonis mereka melakukan tindakan pidana penodaan terhadap agama Kristen Protestan,” tandas Robert Litelnoni.

Robert menambahkan berdasarkan tim yang diturunkan GMIT untuk melakukan pendataan, ke tujuhnya adalah anggota GMIT. Oleh karena itu, GMIT memiliki peraturan pokok dalam melakukan penilikan dan penegakan disiplin gereja.

Di dalam pasal pasal 6 ayat 7 kata dia, jelas menyebutkan “Dalam hal tindakan hukum terhadap anggota gereja yang bersangkutan diserahkan penanganan dan penyelesaian terhadap pihak yang berwajib,” sebutnya.

Dengan demikian lanjut dia, bila merujuk pada aturan GMIT di atas maka, sebenarnya permasalahan itu diserahkan lebih dulu oleh GMIT kepada polisi.
“Tapi masalahnya khan, kami tidak pernah serahkan mereka untuk ditangani pihak berwajib. Kami tidak pernah melaporkan mereka. Lalu kemudian polisi mengenakan pasal penodaan agama. Pertanyaanya, agama mana yang dirugikan? Agama mana yang pernah menyerahkan mereka untuk diproses hukum,” tanya Robert.

Terpisah, penasehat hukum Sinode GMIT, John Rihi menyatakan hal senada bahwa penyidik Polresta Kupang terlalu gegabah dan prematur menetapakan para pelaku sebagai tersangka. “Kalau polisi tetapkan mereka dengan pasal penodaan terhadap agama, maka agama mana yang pernah dihadirkan di sana sebagai pihak saksi atau korban yang dirugikan? Tata cara mana yang berhubungan dengan agama apa? Siapa yang melapor,” sambungnya.

Sebagai pengacara GMIT, John Rihi, sangat menyesalkan penyidik Polresta Kupang yang dinilainya terlalu prematur dalam menetapkan ketujuh nabi palsu tersebut sebagai tersangka.
Sementara Kapolresta Kupang, AKBP Heri Sulistianto melalui Kaur Bin Ops IPTU Dedy Iskandar, mengatakan, penetapan ketujuhnya sudah sesuai dengan proses yang diupayakan penyidik. Dedy meminta GMIT tidak perlu melakukan intervensi terlalu jauh terhadap proses hukum yang semantara dilakukan penyidik Polresta Kupang.

Seperti dilansir, Minggu (31/5) lalu, pimpinan dan anggota kelompok doa
Sion Kota Allah ditangkap jajaran Polresta Kupang. Tujuh anggota kelompok doa Sion Kota Allah adalah Nimrot Lasbaun alias Kuda Putih alias Anak Domba (Pimpinan), Nehemia Ludji alias Nabi Yesaya, Natanel Hendrik Ngahu alias Imam Besar, Ruben Huki Hawu alias Rasul Paulus, David Agustinus alias Nabi Yeremia, Kornelis Basten Baitanu alias Panglima Rezin (Malaikat) dan Meon Nubatonis sebagai Rasul Yohanes.
(mg-7)

7 orang itu melakukan apa. btw yang digambar itu foto TS kah…hehehe? just kidding dont merinding :char11:

NABI PALSU versi siapa?