Pendekatan anti-intelektual dalam kekristenan

Mar 4:33 Dalam banyak perumpamaan yang semacam itu Ia memberitakan firman kepada mereka sesuai dengan pengertian mereka,
Mar 4:34 dan tanpa perumpamaan Ia tidak berkata-kata kepada mereka, tetapi kepada murid-murid-Nya Ia menguraikan segala sesuatu secara tersendiri.

Ada dua macam penerima firman, yaitu mereka yang diberi perumpamaan, dan mereka yang menerima sesuatu secara terpisah. Yesus memang sengaja membedakan keduanya. Ada orang yang hanya mampu menerima dan menafsir sebuah perumpamaan, dan ada yang memiliki kunci atas perumpamaan tersebut, sesuai dengan maksud Sang Pembuat Perumpamaan.

Orang yang cenderung berpikiran seperti yang disebutkan pertama, sering menganggap bahwa murid-murid Yesus memiliki kesetaraan dengan mereka, yaitu sama-sama orang tanpa pendidikan. Orang-orang semacam ini menganggap bahwa Yesus memilih orang yang berpendidikan rendah untuk mempermalukan orang-orang yang “berpendidikan tinggi”. Orang “berpendidikan” ini sering menerima label sebagai “ahli Taurat” yang munafik. Padahal diantara banyak murid Yesus, terdapat juga para ahli Taurat beneran, seperti Paulus, Nikodemus, Yusuf dari Arimathea, dll. Matius dan Yohanes sendiri, dengan tulisan-tulisan Injilnya, tentunya memiliki latar belakang yang tidak bisa diremehkan.

Pendekatan simplisistik (nelayan tak berpendidikan vs ahli Taurat) ini kerap digunakan terutama oleh mereka yang merasa sudah cukup ilmunya, dan otomatis mencoba positioning dalam dakwahnya.

Sebenarnya, apakah pendekatan semacam ini adalah suatu bentuk penyakit, ataukah gejala yang wajar dalam suatu tahap perkembangan?

Silakan urun rembug…

sekedar urun pendapat, IMO:

sebetulnya beda tidak masalah dan karena pada dasarnya memang berbeda "porsi"nya :slight_smile:

lebih cenderung karena belum punya karakter yang seperti Kristus khususnya kerendahan hati, mau menghormati&/menghargai pendapat orang lain :happy0025:

Tidak masalah jika yang porsi dikit tidak mempersalahkan yang punya porsi lebih banyak. ;D
Dalam pendekatan anti-intelektual ini kan sebaliknya yang terjadi? Yang porsi dikit, jika dikasi porsi sama yang punya porsi lebih banyak, bukannya terimakasih tapi malah mempertahankan porsinya yang sedikit itu, sembari tetap mempersalahkan yang porsinya banyak. Bukankah seperti itu?

lebih cenderung karena belum punya karakter yang seperti KRISTUS khususnya kerendahan hati, mau menghormati&/menghargai pendapat orang lain :happy0025:
Karakter KRISTUS itu yang seperti apa, orang jelas-jelas KRISTUS tidak segan menegur dengan keras para Ahli Taurat dan kaum Farisi? ;D

Bukankah dalam pendekatan anti intelektual, peristiwa tersebut merupakan angin segar?
;D

BTW, thanks sis, atas urun rembug nya…
:afro:

Menurut saya, topik ini terbit oleh karena bro. TS merasa ada pada posisi “berpendidikan tinggi”… Benarkah? :coolsmiley:

Salam,

Ya jelas saya berpendidikan tinggi, orang saya mau terima salah kalo emang salah. Dulu kan saya salah, terus saya ngaku salah. Naiklah tingkat saya…
;D

Lah… malah ad-hominem :smiley:

ad hominem yang berpendidikan…
;D