penciptaan dan sblm penciptaan ?

  1. Bagaimana bentuk bumi yg belum berbentuk ?
    kotak petat petot - peyang peyang ? :slight_smile:
    (seperti kertas yg di remes abish)

  2. Kenapa bumi disebut kosong ?
    Kan udah ada isinya - air (dan daratan yg ditutupi air tsb).

  3. “Jadilah terang”
    apakah terang saat itu menjadi satu dgn gelap ?
    (kedap kedip) - karena itu dipisahkan ?

  4. “air yang ada di bawah cakrawala itu dari air yang ada di atasnya.”
    apa maksud “air yg ada diatasnya” ?

  5. “Lalu Allah menamai cakrawala itu langit”
    apakah langit diciptakan 2 x ?

  6. Apakah umur bumi paling tua dr semua benda2 angkasa ?

mungkin ada temen Kristen yg bisa bantu ?
Maksi sebelum dan sesudahnya.

salam.

Namanya belum berbentuk ya gak bisa dideskripsikan lah bro.
kotak petat petot - peyang peyang ? :slight_smile:
(seperti kertas yg di remes abish)

Ini semua sudah termasuk bentuk :smiley:
Jadi bukan begitu bentuknya.

Sama aja kali kalau kita ngomong botol kosong padahal ada udara didalamnya

Remang2 maksudnya?
Kayaknya bukan begitu.
Gelap gulita disebabkan ketiadaan cahaya. (menurut fisika kata Einstein)

“Air yang ada diatasnya” adalah bahan dasar dari langit dan bintang2.
Mungkin karena air yang bisa jadi cair, padat dan gas :smiley:

Tidak, sama dengan bumi juga.

Kalau menurut alkitab sih begitu.
Kalau menurut sains sih gak gitu.

Masih nonton bola bro? :smiley:

@Cloud,

wadah… malem banget tuh Cloud tidurnya ? :slight_smile:
semalem lagi ga bisa tidur, iseng baca2 kejadian setengah ngantuk, iseng juga mosting di FK setengah ngantuk, ni baru bangun - baru nyadar - posting yg ngablu - asal2an dan keliatan banget iseng2… :slight_smile:

  1. terus kira2 kapan yah… bentuk bumi jadi berbentuk (bulat) ? :slight_smile:
  2. kalo udara kan gak kliatan, air kan bisa diliat
  3. maksud saya stlh “Jadilah terang” - apakah kondisi stlh terang itu jadi : terang itu menjadi satu dgn gelap) kedap kedip = terang dan gelap bergantian - karena itu Allah memisahkan terang drpd gelap.

ibarat, air yg ada dibumi menutupi seluruh daratan (menjadi satu) - Allah memisahkan air drpd daratan.

  1. yg no4 - susah ya di asumsikan… “air yg diatas cakrawala”…:slight_smile:

  2. “(1) Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi.”
    “(8) Lalu Allah menamai cakrawala itu langit.”

mungkin maksudnya di ayat 1 :
Pada mulanya Allah menciptakan luar angkasa dan bumi ? :slight_smile:

makasi Cloud atas masukannya.

salam.

Biasa bro…namanya demen bola, ya begadanglah jadinya :smiley:

Mungkin pada ayat ini bro

Kejadian 1:9 Berfirmanlah Allah: “Hendaklah segala air yang di bawah langit berkumpul pada satu tempat, sehingga kelihatan yang kering.” Dan jadilah demikian.

mungkin kita gak lihat udara, tapi mungkin ada mahluk lain yang bisa melihatnya.
Sama seperti ikan kali ya, gak nyadar kalau mereka beraktifitas di air :smiley:

Terang disini, bukan hanya berarti ada cahaya sih.
Buktinya
Kejadian 1:14 Berfirmanlah Allah: “Jadilah benda-benda penerang pada cakrawala untuk memisahkan siang dari malam. Biarlah benda-benda penerang itu menjadi tanda yang menunjukkan masa-masa yang tetap dan hari-hari dan tahun-tahun,
Kejadian 1:15 dan sebagai penerang pada cakrawala biarlah benda-benda itu menerangi bumi.” Dan jadilah demikian.

Nah benda penerang inilah yang mengeluarkan sinar seperti yang kita lihat sekarang

Iya bro, apalagi waktu penciptaan itu kita sama2 gak ada disana :smiley:

Bisa jadi bro.

Sama2 bro

GBU

emang Cloud orang sabar bar baaarrr banget… :slight_smile:

salam Cloud.

jadi bertanya2 setelah baca di sarapanpagi website :
http://www.sarapanpagi.org/bible-dan-penciptaan-bumi-sesuatu-yang-absurd-vt793.html

  1. pada mulanya susi bikin kue soes.
  2. kue soes-nya (menjadi) gosong dan kering.
  3. susi buru2 mati-in kompor
  4. angkat itu kue2 gosong
  5. lalu dibuangnya ke tong sampah

antara point 1 ke 2, ada jeda waktu yg tdk diketahui
dari point 2 ke 5, bisa diduga jeda waktunya lebih pendek

  1. In the beginning God created the heaven and the earth

BERE’S’HIT {pada mulanya} BARA’ {Dia menciptakan} 'ELOHIM {Allah} 'ET (tanda obyek langsung, tidak diterjemahkan) HASHAMAYIM {langit itu} VE’ET {dan} HA’ARETS {bumi itu}.

  1. And the earth was (had become) without form, and void; and darkness was upon the face of the deep. And the Spirit of God moved upon the face of the waters.

VEHA’ARETS {dan bumi itu} HAYETAH {ia menjadi} TOHU {tidak berbentuk} VAVOHU {dan kosong} VEKHOSHEKH {dan kegelapan} 'AL-PENEI {di atas permukaan, wajah} TEHOM {samudra} VERUAKH {dan roh} 'ELOHIM {Allah} MERAKHEFET {ia bergerak} 'AL-PENEI {di atas permukaan, wajah} HAMAYIM {air itu}.

sepertinya bisa di implementasikan antara ayat 1 ke 2 pada Kejadian dengan point 1 ke 2 pada susi bikin kue ?

sementara kata bumi pada ayat 1, sepertinya bisa di asumsikan ==> bumi beserta isi isi-nya ? Yang terlihat pada ayat 2, bhw bumi itu sdh “berisi” - a.l air dan tanah, (yg mungkin air&tanah itu adl “sisa2” dari unsur2 lain yg sblmnya adl isi bumi) ??

bagaimana menurut pendapat temen2 Kristen ?
Memungkinkan-kah bhw memang bisa ada jeda waktu yg tdk diketahui antara ayat 1 ke 2 pada kejadian ?

salam.
PS : maaf…kalo2 terlalu ber-imajinasi saya :slight_smile:

Karena dikatakan bumi belum dibentuk tentunya tidak ada bentuknya dong bro? :smiley:

Air memang sudah ada dari sononya, tapi wadah untuk mengumpulkan air itu belum ada; Oleh sebab itu ALLAH hanya menjadikan langit dan bumi sebagai wadahnya, supaya nyata bahwa air memang sudah ada dari sononya. :smiley:

Tidak mungkin terang dan gelap bersatu (itu satu kepastian); makanya dikatakan oleh Kitab Suci: “…gelap gulita menutupi samudera raya,…”

Kalaupun kemudian terang itu ada, karena ALLAH berfirman: “Jadilah terang.”

“…Ia memisahkan air yang ada di bawah cakrawala itu dari air yang ada di atasnya…”

Maksudnya, Allah mengurangi unsur air yang ada di atas cakrawala dan ditambahkan kepada unsur air yang ada dibawah cakrawala… yaitu, O2-nya.

Ayat pertama hanya prakata tentang “penciptaan”, bukan proses “penciptaan” itu sendiri.

Kemungkinan, Umur bumi lebih muda jika dibandingkan dengan planet2 luar (apalagi jika dibandingkannya dengan planet2 yang paling jauh dari bumi); Tapi sebaliknya umur bumi lebih tua jika dibandingkan dengan usia planet2 dalam… itu menurut saya seh :smiley:

Salam,

maksud saya gini… kalo “tuh mobil udah gak ada bentuknya” karena habis tabrakan hebat, tapi kan tetep eksistensinya kasat mata, yaitu dgn bentuk penyok2 dsb… :slight_smile:

Air memang sudah ada dari sononya, tapi wadah untuk mengumpulkan air itu belum ada; Oleh sebab itu ALLAH [b]hanya menjadikan langit dan bumi [u]sebagai wadahnya[/u][/b], supaya nyata bahwa air memang sudah ada dari sononya. :D
Setelah dpt "wahyu" dr baca2, akhirnya saya ngertikan kejadian 1:1 --> penciptaan bumi ya sudah termasuk semua 5 unsur elemennya : tanah air udara metal dan api (metal dan api ada diperut bumi).

sedangkan langit → ya itu dah… sudah termasuk semua jagad raya, bintang2 galaksi2 meteor2 dlsb.

Tidak mungkin terang dan gelap bersatu (itu satu kepastian); makanya dikatakan oleh Kitab Suci: [i]"...gelap gulita menutupi samudera raya,.."[/i]
unsur terang memang tidak mungkin menjadi satu dgn gelap. Namun terang dan gelap, biar bagaimanapun juga PASTI SELALU BERDAMPINGAN. (ibarat mata koin).
Kalaupun kemudian terang itu ada, karena ALLAH berfirman: [b][i]"Jadilah terang."[/i][/b]
Saat Allah menciptakan yg namanya langit --> pasti terang itu juga ikut terjadi (bukankah bintang2 mengeluarkan cahaya ?).

“Jadilah terang” dalam pengertian saya adl dlm konteks keadaan bumi yg gelap-gullita.

[i]"..Ia [u][b]memisahkan[/b][/u] air yang ada di bawah cakrawala itu dari air yang ada di atasnya.."[/i]

Maksudnya, Allah mengurangi unsur air yang ada di atas cakrawala dan ditambahkan kepada unsur air yang ada dibawah cakrawala… yaitu, O2-nya.

menurut saya ini adalah kemungkinan terjadinya penguapan. Awan yg diatas cakrawala kan asalnya dari air yg dibawah cakrawala.

sementara "“Lalu Allah menamai cakrawala itu langit” → saya belakangan baru menyadarinya, bahwa ini adalah langit literal yg didalam atmosfir bumi … ada awan2nya … :slight_smile:

Kemungkinan, Umur bumi lebih muda jika dibandingkan dengan planet2 luar (apalagi jika dibandingkannya dengan planet2 yang paling jauh dari bumi);
Nah disini yg selalu buat saya tidak pernah bisa mendapat jawaban pasti, karena kemungkinan2 berikut bisa aja terjadi :
  1. Allah menciptakan langit bumi beserta isi2nya sudah dalam keadaan tua. (Adam bukan bayi kan ?)
    Seberapa "tua"nya tdklah begitu penting… bintang2 bisa tuanya jutaan tahun yl (shg cahaya bintang bisa diliat di bumi), sementara bumi tuanya ribuan tahun yl (dlm konteks timeline manusia).

2, Proses penciptaan 6 hari bukan literal 24 jam.

  1. Ada gap waktu - antara kejadian 1:1 dgn ayat 2 nya. Jadi proses penciptaan “dekorasi” bumi yg disebut hari pertama adl dimulai pada ayat 2. Ayat 1 semacam “kata pengantar”…:slight_smile:
Tapi sebaliknya umur bumi lebih tua jika dibandingkan dengan usia planet2 dalam....
maksudnya planet2 dalam galaksi kita yah ?

makasi cvbn atas respond dan masukannya.

salam.

jika awalnya bumi awalnya itu terpecah-pecah. mirip kumpulan asteroid gitu. nah bisa kan dikatakan “tidak berbentuk”.

tapi menurut saya sih, pada awalnya bumi itu bentuknya cair. air kan juga tidak memiliki bentuk yang tetap. saat air melayang-layang tanpa wadah, air akan cenderung membentuk seperti bola.

Silahkan dicoba sendiri, lempar air ke udara maka akan membentuk bola-bola air. Contoh lain, bisa liat di pilem luar angkasa, saat mereka sudah melayang-layang, air yang melayang juga akan membentuk bola-bola.

cairan ini kemudian mengeras, membentuk bumi. (bahkan menurutku semua planet juga prosesnya sama). sayangnya bumi tidak mengeras hingga ke intinya. sehingga bagian yg masih tetap cair itu kita sebut magma/ lahar. dan kulit bumi yang mengeras di luar menjadi tidak stabil dan akhirnya retak-retak membentuk lempengan-lempengan.

hmm… jadi ingat es krim magnum ;D

kira2 begitulah menurutku :happy0025:

Hm… menarik… bikin khayalan saya melambung-lambung ajah dee… :slight_smile:

Namun stlh saya pikir… pikir… dan pikir lagi (ribet ni benak …:)), kayaknya utk sementara saya ngertikan maksud kata “belum berbentuk” disitu adalah dalam artian “belon ada apa2 - mlulu air yg terlihat” dimana bumi itu sendiri saat diciptakan memang sudah berbentuk bulat lengkap dgn 5 elemennya dari inti bumi magma panas = api, kemudian metal campur tanah, sampai seluruh permukaan bumi tertutup air dan elemen terakhir udara tempat roh Allah melayang diatas air.

Saya lagi bayangin kalo AdamHawa saat dibuang dari Eden, diusirnya pas di drh Kutub - gimana mereka idup ya ? :rolleye0014:

hmm... jadi ingat es krim magnum ;D
Tuh... pasti kedinginan mereka, gak mao lah merek makan magnum ... ;D

makasi califragi atas masukan dan respondnya.

salam.

Salam ketemu lagi buat bung Cloud dan Kahlil Gibson.

Wah,…kalau ini yang dibahas, ribet deh.

Masak sih, sains dan kitab suci nggak bisa ketemu , alias beda.

Coba disimak penerjemaha mechanical berikut :

Chapter 1

1&in the summit Elohiym fattened the sky and the land, 2&and the land had existed in confusion and was unfilled and darkness was upon the face of the deep sea and the wind of Elohiym was much fluttering upon the face of the water, 3&and Elohiym said, light exist and light existed,


http://www.mechanical-translation.org/genesis_rmt/mtg_rmt_genesis01.html
http://www.mechanical-translation.org/genesis_rmt/mtg_rmt.pdf

Kutip dari artikel dari http://www.sarapanpagi.org/6-hari-penciptaan-kejadian-1-vt399.html#p13115

c. Belum berbentuk dan kosong

Ada dua terjemahan yang mungkin bagi ketiga ayat pertama Alkitab. Yang pertama adalah sebagai berikut:

Ketika Allah menciptakan surga dan bumi - yang pada saat itu belum berbentuk dan kosong, gelap gulita menutupi samudra raya dan angin yang dahsyat bertiup di atas permukaan airnya - Allah berfirman: “Jadilah terang!”

Seperti ungkapan “Lalu jadilah terang” membahana dengan kuasa dan kemuliaan, demikian jugalah terjemahan ini menekankan kemarakan terang Allah.

Kemungkinan kedua menerjemahkan ketiga ayat itu ialah seperti yang terdapat dalam Alkitab Bahasa lndonesia (TB), yang langsung mengatakan bahwa Allah menciptakan langit dan bumi, dan disusul dengan apa yang diterjemahkan oleh Yohanes Calvin sebagai “kekosongan yang kacau balau”. Bandingkan teks terjemahan dan naskah bahasa Asli di bawah ini :

Kejadian 1:1-3
1:1 LAI Terjemahan Baru (TB), Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi.
King James Version (KJV), In the beginning God created the heaven and the earth.
Jewish Publication Society Tanakh (JPST), In the beginning God created the heaven and the earth.
Biblia Hebraic Stuttgartensia (BHS), Hebrew with vowels,
בְּרֵאשִׁית בָּרָא אֱלֹהִים אֵת הַשָּׁמַיִם וְאֵת הָאָרֶץ׃
Translit Interlinear, BERE’SYIT {pada mulanya} BARA’ {Dia menciptakan} 'ELOHIM {Allah} 'ET {tanda obyek langsung, tidak diterjemahkan} HASYAMAYIM {langit itu} VE’ET {dan} HA’ARETS {bumi itu}.

1:2 LAI TB, Bumi belum berbentuk dan kosong; gelap gulita menutupi samudera raya, dan Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air.
KJV, And the earth was without form, and void; and darkness was upon the face of the deep. And the Spirit of God moved upon the face of the waters.
JPST, Now the earth was unformed and void, and darkness was upon the face of the deep; and the spirit of God hovered over the face of the waters.
Hebrew,
וְהָאָרֶץ הָיְתָה תֹהוּ וָבֹהוּ וְחֹשֶׁךְ עַל־פְּנֵי תְהֹום וְרוּחַ אֱלֹהִים מְרַחֶפֶת עַל־פְּנֵי הַמָּיִם׃
Translit Interlinear, VEHA’ARETS {dan bumi itu} HAYETAH [ia menjadi} TOHU {tidak berbentuk} VAVOHU {dan kosong} VEKHOSYEKH {dan kegelapan} 'AL-PENEY {di atas permukaan, wajah} TEHOM {samudra} VERUAKH {dan roh} 'ELOHIM {Allah} MERAKHEFET {Ia bergerak} 'AL-PENEY {di atas permukaan, wajah} HAMAYIM {air itu}.

1:3 LAI TB, Berfirmanlah Allah: “Jadilah terang.” Lalu terang itu jadi.
KJV, And God said, Let there be light: and there was light.
JPST, And God said: ‘Let there be light.’ And there was light.
Hebrew,
וַיֹּאמֶר אֱלֹהִים יְהִי אֹור וַיְהִי־אֹור׃
Translit Interlinear, VAYO’MER {dan Dia berfirman} 'ELOHIM {Allah} YEHI {hendaklah ia menjadi/ada} 'OR {terang} VAYHI-'OR {dan ia menjadi/ada terang}.

Belum berbentuk dan kosong. Ungkapan ini menggema dalam Yeremia 4:23 dan Yesaya 34: 11 sebagai “campur baur dan kosong”. Dalam ayat-ayat itu digaris-bawahi kekosongan dan kekacauan yang dahsyat, yang berkuasa bila Firman Allah yang menertibkan tidak hadir. Tapi dalam Kitab Kejadian kata-kata itu berarti bahwa pada mulanya bumi yang diciptakan itu belum tertata dan belum berbentuk, Ini jelas kontras dengan keteraturan yang makin berkembang sepanjang sisa pasal 1 itu.

Di kota Florentia, Italia, terdapat patung penginjil Matius karya Michelangelo, pemahat yang termasyhur itu. Patung itu belum selesai. Inskripsi di atasnya menjelaskan cara pemahat akan memisahkan badan patung penginjil itu dari batu sekitarnya. Bentuk badan patung yang akan utuh dan tersendiri terpisah dari bongkah batu pualam yang dipahat itu, jelas terlihat oleh mata seni pemahat. Demikian juga halnya dengan penciptaan, yang belum berbentuk dan kosong, menunggu sentuhan kreatif Pencipta yang mengaturnya.

Kekosongan yang belum berbentuk itu juga dilukiskan sebagai gelap gulita menutupi samudra raya (Kejadian 1:2). Ada orang yang berkata bahwa dalam rangkaian kata ini terdengar gema dari cerita Babel tentang Tiamat, naga kekacauan itu, dan mungkin Juga tentang Lewiatan yang tampil dalam Mazmur 74:14 serta “kecongkakan laut” yang disebut dalam Mazmur 89:10. Sebenarnya laut dan samudra sering menunjuk kepada sesuatu yang menakutkan, kegalauan, dan teror yang nyaris merupakan kuasa yang bermusuhan dengan Allah. Ini mempertajam arti Tuhan membelah Laut Teberau, supaya umat Israel dapat menyeberanginya. Juga mempertajam arti ketika Tuhan YESUS meredakan laut dengan firman-Nya yang berkuasa, “Diam! Tenanglah!” (Markus 4:39). Namun betapa menyeramkannya pun samudra raya itu, kita tak kunjung boleh mengatakan bahwa dalam Kitab Kejadian samudra raya sebagai kuasa lain yang memaksa Allah harus bertarung (seperti di dongeng-dongeng Babel). Tidak, samudra raya itu sendiri adalah ciptaan Allah, dan bahkan samudra raya yang gelap gulita itu pun hanyalah merupakan tahapan dalarn proses menuju penyempurnaan penciptaan dunia. Walaupun bumi belum berbentuk, namun Allah sedang memberi bentuk kepadanya. Dan karena samudra masih ditutupi gelap gulita, maka Allah berfirman, “Jadilah terang” (Kejadian 1:3). Samudra yang kacau dan menakutkan itu ditertibkan. Air dipisahkan dari air sehingga garis pantai dan sungai-sungai menjadi nampak. Jalan dibuat di padang gurun, dan badai dikendalikan.

Dan ketika dalam ayat 6 Allah menjadikan cakrawala yang memisahkan air dari air, maka ketika itu juga Ia menyiapkan tempat bagi dunia yang dapat dihuni, suatu tempat bagi bumi yang terbuka bagi surga, tempat tetumbuhan dan pepohonan dapat bertumbuh, binatang dan manusia dapat hidup dan berkembang biak.

Kejadian 1:6
LAI TB, Berfirmanlah Allah: “Jadilah cakrawala di tengah segala air untuk memisahkan air dari air.”
KJV, And God said, Let there be a firmament in the midst of the waters, and let it divide the waters from the waters.
JPST, And God said: ‘Let there be a firmament in the midst of the waters, and let it divide the waters from the waters.’
Hebrew,
וַיֹּאמֶר אֱלֹהִים יְהִי רָקִיעַ בְּתֹוךְ הַמָּיִם וִיהִי מַבְדִּיל בֵּין מַיִם לָמָיִם׃
Translit Interlinear, VAYO’MER {dan Dia berfirman} ‘ELOHIM {Allah} YEHI {hendaklah ia menjadi/ ada} RAQIA’ {bentangan/ cakrawala} BETOKH {di tengah} HAMAYIM {air itu} VIHI {dan hendaklah ia menjadi/ ada} MAVDIL {menyebabkan pemisahan} BEYN {antara} MAYIM {air} LAMAYIM {kepada air}

Di sini kita perlu berhenti sebentar. Bukan saja untuk merenungkan kebebasan Allah yang tak terbatas itu, yang mutlak bebas untuk menciptakan apa saja yang dikehendaki-Nya, untuk memberikan bentuk kepada apa yang belum berbentuk, untuk menertibkan apa yang tidak tertib, untuk memberikan corak dan keindahan pada apa yang masih acak, bahkan lebih dari itu. Harus kita camkan, bahwa inilah makna “penciptaan” itu. Adalah pekerjaan Allah untuk membuat segala sesuatu teratur dan indah - demikianlah sifat Allah. Ia menjadikan apa yang sebelumnya tidak ada, Ia menghidupkan apa yang sebelumnya tidak hidup. Allah bukan anasir alamiah. Ia menciptakan alam semesta serta isinya dan senantiasa memperbarui kehidupan ciptaan itu.

Ini juga merupakan penghiburan dan harapan yang besar bagi setiap orang yang kehidupannya diwarnai oleh kekacauan, kejelekan, keacakan, “kekosongan yang kacau balau”. Allah adalah Allah yang senang mengatasi kegalauan dan membuat segala sesuatu menjadi haru. Ia melayang-layang di atas kegalauan dan kegelapan kita dan berfirman, “Jadilah terang!” Karena itu baiklah kita pasrah berharap dalam Dia.

Berkaitan dengan sajian di atas ada segi lain lagi yang patut kita indahkan. Segala sesuatu yang ada berasal dari Allah. Memang, merusak apa yang dijadikan Allah, atau mengacaukan ketertiban yang ditegakkan-Nya adalah mudah. Tapi kita harus ingat, tidak ada suatu apa pun (sekalipun sudah rusak) yang asalnya bukan dari tangan Allah. Segala yang kelihatan, segala yang kita tangani, segala makhluk yang kita jumpai, semua orang yang kita temui - segala-galanya adalah pemberian Sang Khalik untuk dijunjung tinggi, dihargai dan diperlakukan dengan hormat.

Dengan bermodalkan keyakinan kristiani di atas, barulah kita bisa memikirkan cara-cara penyelesaian masalah-masalah sosial dan lingkungan masa kini. Banyak yang telah ditulis tentang polusi, ekologi yang sudah terganggu keseimbangan nya, terorisme dan ancaman perang, tentang keindahan yang kita dambakan dan seni yang kita dukung, kecenderungan ideologi modem untuk membinasakan kepribadian manusia, keadilan ekonomi dan sosial, tentang hasrat untuk belajar cara mengasihi sesama manusia seperti semestinya. Semua keprihatinan kita seharusnya berpangkal pada pengakuan: bahwa alam semesta dan segala isinya termasuk diri kita adalah ciptaan Allah dan yang terus-menerus memperbaruinya. Keprihatinan kita yang mendalam sebagai manusia untuk memperbaiki semuanya - keprihatinan itu sendiri adalah merupakan refleksi dari sikap Allah terhadap ciptaan-Nya.

Ya, Tuhan dan Allah kami,
Engkau layak menerima puji-pujian dan hormat dan kuasa;
sebab Engkau telah menciptakan segala sesuatu;
dan karena kehendak-Mu semuanya itu ada dan diciptakan. (Wahyu 4:11)