PAUS VICAR KRISTUS BUKAN ECCLESIAM ? (EENS)

DOGMA TIDAK ADA KESELAMATAN DILUAR PAUS ROMA (EENS)

Sehubungan banyaknya penolakan dan ketidakpahaman sebagian rekan2 akan kedudukan suksesor apostolik/ pewaris Tahkta Rasul Petrus dalam Gereja Katolik Roma, maka tulisan singkat ini kiranya dapat membantu rekan-rekan sekalian dalam memahami alasan kenapa menjadi Katolik.

Lumen Gentium 8
, Dokumen Vatikan II, Konstitusi Dogmatis tentang Gereja, Itulah satu-satunya Gereja Kristus yang dalam Syahadat iman kita akui sebagai Gereja yang satu, kudus, katolik dan apostolik. Gereja itu, yang didunia ini disusun dan diatur sebagai SERIKAT, berada dalam Gereja Katolik, yang dipimpin oleh PENGGANTI Petrus & para Uskup dlm persekutuan dengannya (MAGISTERIUM)

VICAR KRISTUS & PARA USKUP DALAM PERSEKUTUAN DENGANNYA (MAGISTERIUM) inilah yang dalam Iman Katolik dikenal sebagai Gereja Katolik Roma.

Gereja yang satu, kudus, katolik dan apostolik dan dipimpin oleh Paus (LG 8) adalah definisi dari Gereja Roma Katolik, yang sekaligus juga membedakan-Nya dari Gereja lain.

KGK (Katekismus Gereja Katolik) 882: Paus, Uskup Roma dan pengganti Petrus, merupakan "ASAS DAN DASAR yang kekal dan kelihatan bagi kesatuan para Uskup maupun segenap kaum beriman.

Paus selaku pewaris/ suksesor Rasul Petrus bukan saja hanya sekedar kepala dan pemimpin Gereja, namun Paus merupakan “ASAS DAN DASAR” dari Gereja-Nya (Roma Katolik) berdasarkan keutamaan Petrus. Paus bersama-sama persekutuan para Uskup magisterium adalah Tiang Penopang dan Dasar Kebenaran bagi seluruh umat beriman.

His Holiness Supreme Pontiff of the Universal Church, Vicar of Jesus Christ BUKAN ECCLESIAM ?

Lantas apa gunanya lagi memperoleh berkat2 SAKRAMENTAL keselamatan dari Gereja-Nya yang Kudus dan Apostolik?

yang TIDAK terdapat pada Gereja lain? contohnya Sakramen Ekaristi & Pengampunan Dosa.

Jika ASAS DAN DASAR dari Gereja-Nya (Successor of the Prince of the Apostle/ Successor of Saint Peter) dikatakan BUKAN ECCLESIAM ?

LG 14 : Maka dari itu andaikata ada orang, yang benar-benar TAHU, bahwa Gereja Roma katolik (GEREJA YANG TUNDUK PADA PAUS) itu didirikan oleh Allah melalui Yesus Kristus sebagai upaya yang perlu, namun TIDAK MAU MASUK ke dalamnya atau tetap tinggal di dalamnya, ia TIDAK DAPAT diselamatkan

“Adalah SANGAT PERLU bagi semua orang untuk KESELAMATAN mereka, TUNDUK kepada kekuasaan Paus Roma.”
(Unam Sanctam)

hi hi hi…

Gereja yang ada di bumi adalah Gereja yang berziarah bukan Gereja yang Jaya di Sorga.

Semua anggotanya masih berjuang sesuai dengan tanggung jawab dan porsinya masing2 untuk mewartakan Injil dan ditetap dituntut pembenaran melalui iman dan perbuatan.

Oleh karena itu dalam Katolik tidak mempercayai …Once …Saved …Always…Saved.

Kitab suci pun ditulis oleh orang2 yang bisa salah namun dipercaya oleh kita sebagai kanon yang ajaran2nya dipercaya tidak dapat salah.

Jadi harus dipisahkan antara ajaran dan tindakan individu masing2 anggota Gereja termasuk bapa uskup atau uskup Roma sekalipun/ Paus.

Ingat SPAM, Ingat SPAM-ER…

;D ;D

Dibandingkan dengan LG-14 di atas, apakah Gereja yang berjaya di Sorga itu juga termasuk orang Kristen non-GRK?

Sementara itu, Mas pernah mengatakan, “Btw ‘katolik’ itu kata sifat, bukannya sekedar ‘nama diri’”. Nah, saya Kristen non-Katolik, dan saya meyakini saya adalah anggota Katolik dalam arti ‘kata sifat’-nya (bukan Katolik sebagai nama diri). Pertanyaan saya:

  1. Di sorga nanti yang dimaksud dengan ‘Gereja berjaya’ itu adalah yang Katoliknya ‘kata sifat’ atau yang ‘nama diri’? Ini penting bagi saya karena:

Jika yang disorga nanti adalah Katolik yang ‘kata sifat’, maka jelaslah bahwa GRK terlalu kontemporer menekankan kepada ‘nama diri’ sehingga: (a) menenggelamkan ‘kata sifat’ yang menurut saya memang ditetapkan untuk menjadi sarana ‘penyatuan’ umat-Nya; dan (b) memberikan sumbangsih dalam menimbulkan friksi dengan anggota Katolik dari ‘kata sifat’.

  1. Jika Katolik ‘kata sifat’ itu tetap dapat masuk sorga (dan/atau diselamatkan/beroleh hidup kekal) tanpa menjadi anggota Katolik ‘nama diri’, bukankah itu berarti bertentangan dengan LG-14?

===========

Yang satu ini bukan pertanyaan, tetapi pendapat saya (yang saya yakin saya tidak sendiri dalam hal ini): Dipandang dari perspektif non-GRK, secara relatif GRK lebih memberikan bobot untuk memuliakan:
a. Maria
b. Paus
c. Gereja (sebagai ‘nama diri’, bukan sebagai ‘kata sifat’)
d. Orang Kudus
e. Simbol dan ritual…

… dibandingkan dengan non-GRK. Akibatnya penekanan kepada lima aspek itu akan mengurangi pemberian bobot kepada pemuliaan Allah Tritunggal Mahakudus.

Salam damai,

katolik adalah salah satu tanda Gereja yang dibangun Tuhan disamping tanda2 lainnya…

yaitu satu, kudus, dan apostolik

Itulah Gereja menurut perspektif Gereja katolik.

Jadi eventhough anda merasa menjadi katolik apakah anda merasa satu , apakah anda merasa apostolik?

Imho orang2 yang tidak mengenal Kristus dan Gerejanya sebelum akhir hidupnya akan disatukan oleh Kristus sendiri ke dalam Gereja-Nya.

Ini ibaratnya orang budha, orang muslim yang tanpa salah tidak mengenal Yesus dan Gereja-Nya maka secara implisit, Tuhan Yesus dengan cara misteri menyatukan mereka ke dalam Gereja yang universal/ katolik tersebut.

Sebaliknya orang katolik yang berdosa berat dan tidak bertobat even dia itu seorang paus tetap tidak termasuk ke dalam Gereja yang universal/ katolik tersebut.

Tau ini yang imho adalah debatable …apakah jika tetangga saya yang muslim tau oh saya adalah katolik dan gerejanya di jalan itu bisa dianggap tau ?

Saya punya teman yang sudah berkeluarga tetapi apakah saya lebih tau dan mengenal isteri saya dibanding teman saya?

Yang satu ini bukan pertanyaan, tetapi pendapat saya (yang saya yakin saya tidak sendiri dalam hal ini): Dipandang dari perspektif non-GRK, secara relatif GRK lebih memberikan bobot untuk memuliakan: a. Maria b. Paus c. Gereja (sebagai ‘nama diri’, bukan sebagai ‘kata sifat’) d. Orang Kudus e. Simbol dan ritual…

… dibandingkan dengan non-GRK. Akibatnya penekanan kepada lima aspek itu akan mengurangi pemberian bobot kepada pemuliaan Allah Tritunggal Mahakudus.

Salam damai,


For your info justru orang2 katolik tidak pernah merubah dasar Trinitarian dan silahkan anda liat banyak orang yang mengaku2 protestan yang menjadi unitarian…

Tanya kenapa?

Mas, kalau tidak salah, saya tidak menyinggung tentang fenomena dalam non-GRK, atau Trinitas (yang tidak saya ragukan tentang jasa GRK dalam mempertahankan doktrin ini), lho…

Yang saya maksudkan adalah tentang HAKEKAT: antara kata sifat Katolik (akar kata dari Kis 9:31, bukan nama diri), dengan Katolik sebagai ‘nama diri’.

Terkadang perspektif GRK tentang Gereja sangat ambivalen. LG-14 menyatakan tentang ‘nama diri’, tetapi definisi dari persepektif Anda di atas justru ke arah ‘kata sifat’.

Selain itu, saya juga tidak menyinggung tentang orang yang belum mengenal Kristus. Saya bicara tentang saya yang telah mengenal Kristus dan melayani Dia dalam hidup saya sehari-hari, tapi tidak menjadi anggota Gereja Katolik (nama diri), namun meyakini bahwa oleh Roh Kudus saya menjadi bagian dari tubuh Kristus, dan menjadi anggota Katolik dalam ‘kata sifat’-nya.

Jadi, kalau Mas tidak keberatan, bagaimana kalau kita kembali kepada fokus di atas?

Lalu tentang pernyataan saya di atas (bukan pertanyaan):

Yang menjadi masalah adalah: karena non-GRK relatif lebih menekankan pada pemuliaan Allah Tritunggal Mahakudus, maka ia lebih berfokus kepada “Kerajaan Allah”; sedangkan GRK yang lebih memuliakan lima hal di atas, ia lebih berfokus pada “Kerajaan Gereja”.

Justru itu maksud saya Gereja memandang dirinya adalah satu, kudus, katolik dan apostolik…ke empat ini tidak bisa dipisahkan…so kata sifat dari katolik…harus berpadanan dengan ciri atau tanda yang lainnya.

kalau bagi anda bisa terpisah2 seperti itu yah silahkan saja bro tapi bukan pemahaman Gereja katolik.

Selain itu, saya juga tidak menyinggung tentang orang yang belum mengenal KRISTUS. Saya bicara tentang saya yang telah mengenal KRISTUS dan melayani Dia dalam hidup saya sehari-hari, tapi tidak menjadi anggota Gereja Katolik (nama diri), namun meyakini bahwa oleh ROH KUDUS saya menjadi bagian dari tubuh KRISTUS, dan menjadi anggota Katolik dalam 'kata sifat'-nya.
apakah orang islam tidak tau agama katolik, atau Gereja atau Yesus banyak kok yang tau tapi tau seperti apa kah mereka tersebut.

Apa mereka tau baptis itu apa, Trinitas itu seperti apa,

Begitu juga Protestan kalau anda baca di forum ini saja berapa banyak yang menyangka katolik ini agama pagan…

apakah mereka ini termasuk dalam tau dan mengenal apa itu katolik ?

Jadi, kalau Mas tidak keberatan, bagaimana kalau kita kembali kepada fokus di atas?

Lalu tentang pernyataan saya di atas (bukan pertanyaan):

Yang menjadi masalah adalah: karena non-GRK relatif lebih menekankan pada pemuliaan Allah Tritunggal Mahakudus, maka ia lebih berfokus kepada “Kerajaan Allah”; sedangkan GRK yang lebih memuliakan lima hal di atas, ia lebih berfokus pada “Kerajaan Gereja”.


hah…

makanya kamu liat2 dong di forum ini apakah ada rekan katolik yang unitarian…coba sebutkan apakah saya, apakah limited, apakah onde apakah fantioz apakah shaw ataukah nyeleneh …

mereka semua mengaku katolik, taat pada Gereja dan magisterium mengerti bahkan banyak yang berdevosi pada para kudus dan menghormati bunda Maria .

Apakah mereka tidak menyembah pada Tritunggal maha kudus…?

Sebaliknya saudara2 mu protestan apakah cutz, apakah david, ataukah zxvbn percaya pada Yesus adalah Allah…silahkan ditanya orang2 tersebut.

apakah gereja sudah tidak penting lagi untuk diikuti …tolong kutip ayat kitab sucinya…

Shallom, Mas Leonardo…

Saya bukan unitarian, saya juga penganut Trinitas… Kalau Mas tidak keberatan, bagaimana kalau kita tidak bicarakan tentang ‘mereka’, yang nama-namanya Mas sebut di atas…

Saya tidak pernah mengatakan bahwa gereja itu tidak penting. Ini bukan soal sikap saya tentang gereja. Melainkan (kembali lagi), tentang HEKEKAT Gereja.

Kalau Mas sebut Katolik sebagai ‘kata sifat’, saya pasti terhisab didalamnya (Satu, kudus, apostolik), tetapi ketika Katolik dipersepsi dan ditampilkan dalam berbagai forum sebagai ‘nama diri’ dengan orientasi kepada lima pemuliaan di atas, tentu itu menjadi ambivalen… Dan karena itu, pasti berkaitan dengan kerukunan di bumi ini dan tentang doktrin gereja…

Begitu, Mas…

Salam damai…

begini bro nuansa…sudah saya bilang katolik tidak pernah memonopoli kata katolik jadi bila lutheran , calvin dll…mempergunakan kata katolik dalam syahadat imannya dan bukan am…silahkan…

tidak ada masalah dengan kata katolik yang juga di klaim oleh protestan misalnya.

Tetapi seperti yang berulang kali kami katakan…bahwa ciri atau tanda gereja bukan hanya itu

tapi juga yang lainnya contoh nya satu…

apakah satu itu …satu dalam katolik mempunyai makna bahwa ajaran imannya satu …tidak satu TULIP, satu freewiil, satu makanan haram lainnya tidak dll…

Itu pengertian satu dalam perspektif katolik. apakah menurut anda ajaran anda satu yah terpulang pada anda.

begitu juga dengan dasar ajaran lainnya…

contoh magisterium, devosi dan lain2 yang sama sekali bagi kami tidak pernah mengurangi kadar penyembahan kami pada Tritunggal Maha Kudus…

kerukunan di bumi dibangun dengan dasar toleransi tapi bukan indiferentis menganggap semua ajaran sama benarnya.

kerukunan dibangun atas dasar saling menghargai prinsip masing2 bukan menyama2kan prinsip …

Dan as matter as fact…

Di dunia nyata karya2 katolik seperti beata Theresa dari calcuta , sekolah2 katolik, rumah sakit2 katolik tidak pernah mendapat kesulitan dalam hal toleransi dengan masyarakat sekitar.

kami juga dapat tumbuh dan berkembang dengan saudara2 protestan bahkan muslim, budha dll.

Mereka juga dapat pelayanan yang sama …kan …tetapi mengenai dasar iman yah tetap katolik.

Btw, sebenarnya yang anda harapkan dari iman Katolik itu seprti apa bro…apa anda mengharapkan untuk katolik merubah imannya…:slight_smile:

salam damai :slight_smile:

Ingat SPAM-ER ingat BANNED

@nuansa

Saya ikut nimbrung ya bro.

Kalau Mas sebut Katolik sebagai 'kata sifat', saya pasti terhisab didalamnya (Satu, kudus, apostolik), tetapi ketika Katolik dipersepsi dan ditampilkan dalam berbagai forum sebagai 'nama diri' dengan orientasi kepada lima pemuliaan di atas, tentu itu menjadi ambivalen... Dan karena itu, pasti berkaitan dengan kerukunan di bumi ini dan tentang doktrin gereja...

Boleh saya tahu, atau bisakah anda memberi penjelasan tentang pengertian satu (dari satu, kudus, apostolik) itu, bro? Bagaimana dengan apostolik, apakah anda juga menerima “Apostolik” atau rasuli berarti bahwa Gereja berasal dari para rasul dan tetap berpegang teguh pada kesaksian iman mereka itu. Kesadaran bahwa Gereja “dibangun atas dasar para rasul dan pra nabi, dengan Kristus Yesus sebagai batu penjuru”?

Apostolik sudah ada sejak zaman Gereja perdana sendiri (bdk Ef 2:20, Bdk Why 21:14), tetapi sebagai sifat khusus keapostolikan baru disebut akhir abad ke-4. Dalam perjanjian Baru kata “rasul” tidak hanya dipakai untuk keduabelas rasul yang namanya disebut dalam Injil (lih Mat 10:1-4)

Hubungan historis itu tidak boleh dilihat sebagai macam “estafet”, yang didalamnya ajaran benar bagaikan sebuah tongkat dari rasul-rasul tertentu diteruskan sampai kepada para uskup sekarang. yang disebut “Apostolik” bukanlah para uskup, melainkan Gereja. Sifat apostolik berarti bahwa Gereja sekarang mengaku diri sama dengan gereja Perdana, yakni Gereja para rasul. dimana hubungan historis ini jangan dilihat sebagai pergantian orang, melainkan sebagai kelangsungan iman dan pengakuan.

Nah, apakah bro juga bisa menerima pengertian itu?

Syalom

Shallom, Bro Bruce…
Kalau Anda bertanya tentang pendapat saya, maka inilah pendapat saya…

  1. Tentang kata ‘satu’.

Secara yuridis-formal, setiap orang percaya SUDAH terhisab sebagai anggota tubuh Kristus yang HANYA SATU itu.

Kata ‘satu’ yang hakiki pada frasa ‘tubuh Kristus’, itu harus tetap demikian, bahkan ketika kata ‘tubuh Kristus’ ditukar-tempatkan dengan kata ‘Gereja’.

Tetapi jika secara faktual-dinamis masih ada pertengkaran di antara anggota tubuh-Nya karena tinggal di gereja ‘nama diri’ yang berbeda, maka hal-hal yang bersifat ‘faktual-dnamis’ ini tidak boleh mereduksi, terlebih lagi ‘menafikan’ (sehingga menjadi seolah ‘belum bersatu’), hal-hal yang bersifat yuridis-formal tadi.

  1. Tentang kata ‘apostolik’. Sama seperti kata ‘Katolik’ yang hakikinya merupakan KATA SIFAT, demikian pula kata ‘apostolik’ harus tetap merupakan kata sifat saat ia dikaitkan dengan kontinyuitas pelayanan Gereja yang satu itu. Apostolik yang merupakan kata sifat, tidak boleh dilembagakan menjadi suatu NAMA DIRI gereja yang mengarah kepada monopoli atas keberadaan GEREJA YANG SATU (istilah Anda ‘gereja perdana’?) atau atas keberadaan anggota tubuh Kristus (“GEREJA”) yang “SATU” itu, sekalipun ia hendak dirujuk ke arah hubungan historisnya.

Perubahan hakekat dari KATA SIFAT apostoli kepada karakteristik NAMA DIRI satu gereja tertentu bisa ditengarai sebagai modus untuk ‘merasa diri paling benar’ dibandingkan gereja lain, atau setidaknya mengorbankan konsep ‘Tubuh Kristus’ dan GEREJA yang SATU itu.

  1. Tentang ‘gereja perdana’, prinsipnya tetap sama. Kata ‘perdana’ harus menyatakan kata sifat yang muaranya tidak boleh membuat adanya berbagai pemilahan dengan gereja ‘paska-perdana’. Setiap orang yang telah percaya Yesus adalah orang yang telah ditebus dengan harga yang mahal dan itu tidak dapat digantikan oleh pemahaman ‘Katolik’ sebagai ‘nama diri’, atau ‘gereja perdana’ yang bisa dibuat sebagai pemilah mana gereja kontemporer yang terhisab dalam gereja perdana dan mana yang tidak terhisab dalam gereja perdana. Setiap orang yang TELAH ditebus oleh darah Yesus adalah pribadi yang OTOMATIS secara YURIDIS-FORMAL terikat dan terhisab pada gereja perdana.

Dengan tiga alinea yang Bro tuliskan di atas, nampaknya kita memang ada kesamaan.

Syalom.

Sebentar bro, kita perlahan lahan saja bahasnya, biar ngga campur baur.

Untuk pengertian SATU, sya bisa mengerti. Ok, bisa bila menurut nda adalah seperti itu. Walau mungkin beda pendapat saya bisa menerima pengertian anda.

Kemudian pengertian APOSTOLIK, agaimana menurut anda pengertian APOSTOLIK itu, bro, dari uraian anda belum jelas tersampaikan apa yang anda maksud dengan APOSTOLIK.

Thanks atas replynya.

Syalom

Shalom, Mas Leonardo…

Anda mengatakan “… bukan hanya itu…” Kenyataannya, justru ‘penambahan’ itulah yang telah menimbulkan dua akibat besar:

  1. Menggeser secara berlebihan ‘kata sifat’ kepada ‘nama diri’, sehingga orang yang telah percaya Yesus yang secara yuridis-formal telah menjadi anggota Gereja yang Satu (Tubuh Kristus), Katolik yang merupakan ‘kata sifat’, kini menjadi ‘tidak bisa selamat’ karena tidak menjadi anggota GRK (‘nama diri’) berdasarkan LG-14 di atas. Jadi ini merupakan hubungan horiontal, sesama manusia.

  2. Tetapi juga ada hubungan vertikal: yaitu kaitannya dengan pernyataan Yesus Kristus. DIA berkata bahwa barang siapa yang percaya kepada DIA tidak akan binasa melainkan beroleh hidup yang kekal. Tetapi LG-14 menyatakan bahwa keselamatan tidak tersedia diluar Katolik.

(untuk kata “satu” yang Mas contohkan, silahkan lihat tulisan saya kepada Bro Bruce di atas).

Dengan demikian, ajaran Katolik tidak ‘satu’. Tentang ‘Katolik’, ada ambivalensi (dari ‘kata sifat’ bergeser kepada ‘nama diri’), dan dalam keselamatan ada dualisme infalibilitas: infalitibilitas dalam perkataan Yesus (Yoh 3:16, DIA sebagai sumber hidup kekal), tetapi LG-14 GRK (cq/ Paus?) menjadi penentu keselamatan.

Mas, saya menyadari sungguh-sungguh karya GRK di dunia, baik dunia politik, sosial, maupun budaya. Terdepan dibandingkan gereja/denom lainnya. Tapi bukanlah ‘perwujudan’ imannya ini yang saya pertanyakan, melainkan ‘substansi’ dari ‘iman’ itu sendiri (“Dua Bukti Subtansi Iman”), yaitu: (1) keselamatan (kaitannya dengan LG-14); dan (2) tentang HAKEKAT seorang Kristen dikaitkan dengan ‘KATOLIK’ (antara ‘kata sifat’ dan ‘nama diri’).

Tentang orientasi pemuliaan kepada lima hal di atas, telah saya katakan bahwa itu adalah tinjauan relatif dibandingkan dengan non-GRK. Jika Anda melihat maka Anda akan mendapati bahwa non-GRK, terutama GRII, Pentakosta, Karismatik, Baptis) sangat minim dalam orientasi kepada pemuliaan kelima hal di atas. Akibatnya waktu dan energi mereka dapat lebih diarahkan kepada pemuliaan secara langsung PRIBADI Allah TriTunggal Maha Kudus.

Sekali lagi, implikasi dari perbedaan orientasi pemuliaan itu adalah: non-GRK mengarah kepada "Kingdom Of God”, sedangkan GRK mengarah kepada “Kingdom of Church” (lihat “Dua Bukti Substansi Iman” di atas).

Apa yang saya inginkan? Merubah nama Katolik? Tentu saja tidak. Yang saya harapkan adalah: (1) GRK dapat memisahkan dengan tegas antara ‘kata sifat’ dengan ‘nama diri’, dan juga (2) khusus tentang keselamatan, HARUS BERPIHAK PADA PERKATAAN YESUS KRISTUS, walaupun itu berarti mereduksi atau mengabaikan LG-14.

Begitu, Mas….

Salam

SIFAT GEREJA YANG APOSTOLIK

Ketika generasi kedua Para Bapa Gereja mulai membuat keputusan teologis, apakah Allah tidak tahu bahwa nantinya itu akan berkembang sedemikian rupa hingga melahirkan banyak doktrin sampai kepada Indulgensi, kasus Marthin Luther, Protestan dan Sola Scriptura? Ya, Allah tahu semua itu. Tapi apa konsekuensi logis, moral dan teologisnya?

Saat semua itu terjadi, apakah konsep Allah tentang tubuh Kristus dan Gereja yang SATU itu berubah, sekalipun terjadi (yang sering disebut GRK) ‘perpecahan’? Tidak.

Jika memang ‘tidak’, maka pastilah kata ‘perpecahan’ adalah kata yang tidak digunakan Allah, bukan? Mengapa? Karena ternyata ‘perpecahan’ itu sama sekali tidak mengubah konsep ‘SATU’-nya Allah.

Agar tetap konsisten dengan konsep Tubuh/Gereja yang ‘SATU’, maka konsep ‘apostolik’ pun tidak boleh melanggar konsep ‘SATU’-nya Allah itu. Caranya adalah dengan merujuk pada ‘semangat’ para rasul, dan bukan pada profil pribadi dan jabatan Petrus. Mengapa? Agar ‘semangat’ ini tetap bisa diadopsi oleh setiap orang Kristen (dari gereja/denom) manapun untuk mengklaim diri mereka sbg ‘pribadi’ yang masuk dalam ‘desain’ Allah tentang GEREJA/TUBUH yang ‘SATU’ itu.

‘Semangat’ itu didapat dari kata “pergilah” (Mat 28:18-20), yaitu menjangkau ‘keluar’ suku bangsa lain (ta’ ethne) dan menjadikan mereka murid-Nya. Inilah sifat apostolik itu, yaitu pribadi/jemaat yang terlibat dalam penjangkauan secara lintas budaya. (Ini berbeda dengan paradigma “datanglah” atau “marilah”). Dengan demikian, jemaat dari gereja/denom manapun, asalkan gereja/denom itu terlibat dalam penjangkauan lintas budaya, berarti dia SUDAH bersifat apostolik, baik secara idealis, maupun faktual.

Dengan konsep ‘apostolik’ ini, maka setiap orang yang sudah ditebus darah Yesus tetap terhisab kepada TUBUH/GEREJA yang SATU, kepada ‘pengakuan iman’ yang diucapkan Petrus (Mat 16), dan kepada gereja perdana secara YURIDIS FORMAL, dan tidak dengan mudah dapat digunakan untuk menganggap orang lain sebagai “bukan bagian dari gerejaku” (misalnya GRK).

Konsep ini jelas berbeda dengan ‘apostolik’ GRK yang dilembagakan, yaitu: jika GRK berorientasi kepada pelembagaan jalur historis fisikal ke arah Petrus (dalam figur dan jabatan/otoritasnya) serta para penerus rasul (sekali lagi, secara fisik) hingga berujung pada stigma “gereja non-GRK tidak bersifat apostolik”,

maka sebaliknya,

konsep yang saya ajukan ini tetap berada pada jalur ‘spirit’ (semangat) yang mengatasi segala perbedaan dan tembok kelembagaan dan menggenapi secara FAKTUAL apa yang SUDAH terjadi secara YURIDIS-FORMAL dalam konsep “Ke-SATU-an” itu. Konsep yang berorientasi kepada ‘semangat’ ini langsung menggenapi sifat UNIVERSAL GEREJA/TUBUH Kristus yang SATU itu.

Sekali lagi,

JIKA kita tahu bahwa Allah adalah MAHATAHU dan bahwa konsep “SATU” itu tetap dapat DIA pertahankan,

apakah…

munculnya Indulgensi, Luther, dan Sola Scriptura dipandang oleh Allah sbg ‘perpecahan’…

atau…

justru meneguhkan kerinduan SANG KEPALA utk memiliki pengakuan Mutlak atas KETUHANANNYA (sbg PENGUASA TUNGGAL) yang tak terbagi-bagi (terkendala) oleh adanya keragaman FORM gereja/denom (sebagaimana konsep “banyak anggota dalam SATU TUBUH”)?

Bukankah semakin beragam anggota suatu Tubuh, tetapi tetap tunduk kepada Sang Kepala (bukan kepada Paus), semakin besar pula kemuliaan Sang Kepala?

Konsep “SATU” yang fisikal-lembagawi yang dimiliki baik oleh GRK maupun gereja ortodoks, justru memperluas kesenjangan antar anggota tubuh Kristus scr pragmatis.

Semakin kedua gereja ini menekankan “marilah kita bersatu ke dalam GRK atau Ortodoks demi kesatuan Tubuh Kristus”, justru semakin menentang konsep “SATU”-nya Allah yang universal, spiritual/rohani itu… Sementara Allah memakai ukuran rohani, manusia memakai ukuran manusiawi… dan masa’kan itu tidak mencederai anggota Tubuh Kristus… sekaligus mendukakan Sang Kepala? Koq, tega, sih…

Itulah konsekuensi logis, moral dan teologis dari Kemahatahuan Allah…

Salam,

@Nuansa

Dari penjelasan anda yang sangat baik di atas itu, bro, apa arti Apostolik itu sendiri ?

Syalom

Dan dalam kitab suci ada juga nas2 berikut :
Mat 7:21
Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga.

again yang ini
Lukas 10:16
Barangsiapa mendengarkan kamu, ia mendengarkan Aku; dan barangsiapa menolak kamu, ia menolak Aku; dan barangsiapa menolak Aku, ia menolak Dia yang mengutus Aku.

atau malah yang lebih keras seperti ini
Gal 1:8
Tetapi sekalipun kami atau seorang malaikat dari sorga yang memberitakan kepada kamu suatu injil yang berbeda dengan Injil yang telah kami beritakan kepadamu, terkutuklah dia.

Ini berlaku juga bagi orang katolik…bahkan menurut Paulus juga berlaku bagi dirinya sendiri yang adalah seorang rasul, kepala jemaat di beberapa tempat.

Jadi bro Nuansa mengikuti kehendak Tuhan ini yang mungkin kita berbeda…
bagi bro Nuansa sola scriptura ataupun sola fide bisa jadi mengikuti kehendak Tuhan
bagi katolik dan Orthodox tidak begitu.

Imho kehendak Tuhan itu tidak saling bertentangan …tidak yang satu Tulip yang satu freewill , yang satu makan makanan haram, yang lainnya tidak…yang satu Trinitarian yang lainnya tidak dsb.

Kehendak Tuhan yang satu bagi katolik adalah kehendak Tuhan yang dalam penggembalaan para gembala yang telah ditunjuk Kristus pertama kali (apostolik/ para rasul) dan berkelanjutan .

Dasar nya sudah ditunjukkan dengan beberapa ayat kitab suci diatas.

" (untuk kata “satu” yang Mas contohkan, silahkan lihat tulisan saya kepada Bro Bruce di atas).....

sama dengan penjelasan saya diatas dan ingat lagi para reformator juga setuju dengan doktrin Extra Ecclesia Nula Salus…dan tidak ada pergeseran sepanjang Gereja dipandang sebagai satu2nya tubuh mistik Kristus.

Paus/ Uskup Roma, para uskup lainnya dan segenap imam deakon dalam Gereja katolik adalah gembala yang diyakini katolik meneruskan ajaran iman yang benar berasal dari para apostel.

Jika ada Arius yang berkata Yesus itu bukan Allah …kepada siapa umat katolik berpatokan pada ajaran iman yang benar jawabannya pada magisterium Gereja yang katolik yang ikut serta pada konsili Nicea.

Jadi bukan pergeseran namun pengejawantahkan dari kehendak Kristus dan ajaran para murid Tuhan.

Ini sama kalau dipandang dalam contoh doktrin Tulip.

Bagi para calvinis mereka bukan taat pada calvinnya tetapi bagi mereka ajaran calvin mengenai Tulip adalah selaras dengan kehendak Tuhan dan firman-Nya yang tertulis dalam alkitab.

Begitu bro nuansa :slight_smile:

Taat pada Tuhan pengejawantahannya adalah taat pada Gereja-Nya yang didirikan Yesus 2000 tahun yang lalu yang telah menulis kitab suci, mengakanon kitab suci dan mengajarkan Tradisi suci dari genereasi ke generasi.

salam damai :slight_smile:

ARTI ‘APOSTOLIK’

@ Bro Bruce,

“Apostolik” artinya “bersifat kerasulan” (akhiran - ‘ik’ pada kata dasar ‘apostle’, menyatakan ‘kata sifat’, bukan ‘nama diri’ atau ‘kelembagaan’). Jadi GEREJA yang APOSTOLIK adalah gereja yang bersifat kerasulan. (Kata sifat ini tidak boleh diubah menjadi ‘nama diri’ yang digunakan dalam mengidentifikasi bahwa denom saya apostolik, dan yang tidak termasuk denom saya berarti tidak apostolik. Kata sifat tidak boleh diklaim menjadi monopoli salah satu denom, termasuk GRK, karena akan merubahnya menjadi ‘nama diri’ dan tindakan ini akan berujung pada “Kingdom Of Church”).

‘KONSEP’ tentang ‘kerasulan’ ini sudah saya jelaskan di atas, tapi saya tambah lagi agar lebih jelas.

Begini…

Yesus berkata bahwa DIA diutus hanya kepada domba-domba-Nya, yang artinya hanya kepada orang Israel. Dan berkaitan dengan tugas itu, DIA berkata, “… Sudah selesai…”

Tetapi kemudian ada tugas/AMANAT baru yang DIA mandatkan kepada para rasul-Nya (Mat 28) itu melalui PERINTAH… “PERGILAH”… Mandat ini kemudian WAJIB DITERUSKAN kepada 'SETIAP ORANG yang mereka jadikan murid’… (Sifat “universalitas” non-lembaga fisik GEREJA sudah muncul di sini)…

Ayat 20, “dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” Dengan demikian, sifat kerasulan dapat diterapkan pada aras individu, bukan hanya aras jemaat/komunitas/gereja lokal.

Inilah yang kemudian disebut ‘era kerasulan’. Sifat kerasulannya nyata dari mandat yang bersifat “PERINTAH” itu, yaitu menjangkau setiap suku bangsa dengan INJIL KERAJAAN ALAH… Ini tugas para rasul. Ini mandat kerasulan. Ini semangat kerasulan… dan inilah sifat kerasulan… yang dalam bahasa kita disebut dengan istilah ‘apoltolik’ (sifat kerasulan)… yang HARUS diteruskan kepada SETIAP MURID Kristus… Anda dan saya… dan setiap murid-murid kita…

Oleh karena jaman PL relatif Allah Bapa yang dominan beroperasi, dan jaman Injil Yesus Kristus yang lebih banyak berkarya, maka pada era kerasulan ini (zaman Perjanjian Baru - ‘New Covenant’, bukan ‘New Testament’, lihat signature saya di bawah), maka Pribadi Ketiga Allah Tritunggal-lah, yaitu Roh Kudus (Kis 1:8) yang mengemban misi memimpin individu anggota Tubuh Kristus yang apostolik itu menuntaskan Mandat Agung dalam Mat 28:18-20 itu. Hal ini jelas menyatakan orientasi pemuliaan kepada Allah Tritunggal Mahakudus yang berujung kepada “Kingdom Of God”, yang berbeda dengan konsep ‘Apostolik’-nya GRK dan Gereja Ortodoks karena teralihkan oleh nuansa (bahkan dimensi) kelembagaan dalam konsep dibalik kata ‘Apostolik’-nya.

Sekali lagi, ‘apostolik’ adalah kata sifat yang merujuk kepada gereja yang bersifat kerasulan , yang menjangkau ‘keluar’ kepada setiap suku bangsa, yang memiliki Ketundukan Tunggal kepada Yesus Kristus melalui ketaatan kepada dinamika pimpinan Roh Kudus setiap saat (yang dapat diterapkan hingga ke aras individual).

Begitu, Bro…

Salam.

ps: saya bukan anggota gereja ‘Kerasulan Baru’… :slight_smile:

Afaik, tidak ada yang memonopoli ‘Apostolik’ deh…
Apakah GK mengklaim Apostolik hanya Klaim kosong belaka…?
liat : http://id.wikipedia.org/wiki/Daftar_Paus_Gereja_Katolik_Roma

============

Gereja Katolik memandang bahwa Gereja Orthodox pun memiliki warisan Apostolik, jadi tidak ada monopoli disini…

sekarang apakah protestan mempunyai garis apostolik…?