Our ministries2

SUMMUM BONUM

Gereja, atau pelayanan yang kita lakukan nampaknya memiliki tanggung jawab sosial. Memberikan sumbangan pada mereka yang kekurangan, mengulurkan tangan pada korban bencana alam, mendidik dan menggembleng anak anak dalam kebaktian. Harus kita akui, ratusan tugas mulia ini juga dilakukan oleh lembaga lembaga sekuler, seperti sekolah, panti asuhan, institusi institusi pendidikan, Palang Merah, rumah sakit, dan lain sebagainya.
Pertanyaannya adalah: Apakah alasan atau tujuan di balik kegiatan pelayanan kita sama dengan alasan dunia atau lembaga lembaga sekuler menyelenggarakan aksinya?

Tentu saja tidak. Tujuan tertinggi pelayanan kita haruslah persis sama dengan alasan Yesus Kristus datang ke dunia ini. Gereja harus melaksanakan tugas yang didelegasikan oleh KepalaNYA. Gereja atau pelayanan yang diarahkan kepada tujuan lain merupakan suatu penyimpangan dari komando Kristus, sama seperti tubuh yang berjalan tanpa kepala. Mengalami disorientasi, lalu kemudian ___________mati.

Inilah tujuan tertinggi_summum bonum
Inilah alasan seorang pengerja membersihkan gereja setiap hari
Inilah perbedaan antara Guru Sekolah Minggu dan guru sekuler
Inilah alasan redaksi memeras otak untuk mendapatkan inspirasi
Dan menerbitkan buletin
Inilah alasan seorang WL dan timnya
berlatih mati matian pada hari Jumat
Inilah alasan tim acara berjuang mencari ide kreatif
Untuk sebuah ibadah yang istimewa
Inilah alasan seorang pendeta berdiri di depan mimbar
Inilah alasan disusunnya tugas dan jadwal parkir
Diselenggarakannya rapat evaluasi setiap bulan
Diadakannya Jam jam doa pelayan,
jadwal besuk,ibadah tengah minggu,
dipungutnya persepuluhan,
dikumpulkannya kas pemuda
keselamatan
Disinilah tergantung segalanya,
Pengharapan pelayanan kita,
Visi pelayanan kita,
Alasan pelayanan kita

Segala sesuatu dipertaruhkan disini, tidak ada hal di dunia yang lebih penting dari hal ini. Yesus datang ke dunia bukan untuk menjadi dokter, seorang filsuf, ataupun pembebas bagi bangsa Israel, Ia datang dari kehidupan paling mulia menuju kematian yang paling hina untuk keselamatan kita. Pelayanan hadir di gereja bukan untuk mengumpulkan dana dan membangun istana, membentuk suatu kepengurusan yang sangat efisien dan terorganisir, ataupun menyelenggarakan acara acara meriah yang mengagumkan, pelayanan ada untuk satu tujuan tunggal, satu hasrat paling mulia di muka bumi: mengajak manusia untuk bertobat dan diselamatkan.

Apabila anggota tubuh melaksanakan fungsi yang menyimpang dari kepalanya, maka tubuh itu seperti seekor ayam yang terpotong kepalanya. Tidak memiliki tujuan pasti dan pada akhirnya mati.

PETER KREEFT

This article also posted in my very new blog http://buletinkristen.blogspot.com

Pejabat Surga dan Pejabat Dunia

Sewaktu masih berkuliah di Bandung dulu, salah satu pemandangan yang sering menarik perhatian saya adalah ketika kota mode tersebut dilawat oleh seorang atau beberapa pejabat. Orang orang penting ini datang dengan menggunakan mobil hitam yang mewah dan mengkilap, diiringi sirine yang meraung raung di sekitarnya, menandakan keberadaan petugas keamanan yang siaga menjaga keselamatan atasan mereka ketika bahaya mengancam.
Dalam kondisi tersebut, biasanya jalan jalan utama akan di blok, dan akses pengguna jalan yang lain akan dibatasi. Tujuannya adalah agar roda empat sang pejabat dapat melaju dan membelah kota dengan nyaman, mengabaikan kemacetan yang sebenarnya merupakan bagian dari permasalahan kota ini.
Selalu, saya bertanya dalam hati setiap kali menyaksikan hal ini.
Saya tahu, beliau datang untuk mengurusi kota ini dan juga rakyatnya (saya sangat berharap asumsi saya ini benar, walaupun kadang saya meragukannya). Tapi, mengapa fasilitasnya harus sedemikian glamor? Mobil mewah, polisi polisi atletis, blokade jalan? Lagipula, bagaimana beliau dapat merasakan solideritas bagi mereka yang terperangkap macet dan terik matahari dalam sofa sedannya yang empuk dan ber AC? Bagaimana beliau dapat merasakan mereka yang menjadi korban kriminalitas, kecopetan, pelecehan, jambret, apabila segenap patroli siap menjagai keselamatannya?
Lama saya merenungkan hal ini, dan saya mendapati bahwa dalam pelayanan, saya memiliki mental yang sama dengan pejabat Negara ini.
Jika saya adalah Yesus, dengan dalih bahwa saya harus melakukan misi yang mulia, saya akan memilih fasilitas fasilitas terbaik dari surga. Saya akan memilih lahir sebagai putra Mahkota, atau putra pejabat, ketimbang anak tukang kayu. Saya akan memilih tinggal di Yerusalem, bukan kota kecil seperti Nazaret, dan kalaupun saya harus mati disalib, saya akan menegak obat bius dalam dosis yang sebanyak banyaknya hingga prosesi tersebut tidak terlalu menyakitkan.
Pada akhirnya, saya menyadari bahwa pelayanan saya sering menuntut fasilitas fasilitas yang mendukung: gembala yang peduli; teman teman yang sevisi, yang selalu bersama kita, tanpa perseteruan, tanpa pertikaian dan perselisihan; jemaat yang mudah diatur, orang tua dari murid murid sekolah Minggu yang mau diajak bekerja sama.
Saya menyadari bahwa saya sering mengeluh kepada langit ,”Kalau saya punya gaji sekian, saya akan menyantuni mereka yang kurang beruntung setiap bulannya, Kalau saya sudah memiliki rumah sendiri, saya akan mengadakan persekutuan pemuda tiap tengah minggu, apabila saya memiliki kendaraan roda empat, saya akan melibatkan diri dalam antar jemput jemaat, apabila saya memiliki printer yang bagus, saya akan berani membuat bulletin gratis yang akan saya bagikan ke persekutuan persekutuan.”
Tetapi syukur kepada Allah, Pejabat Surga telah menyadarkan saya, apapun yang terjadi, dalam kondisi bagaimanapun, MisiNYA haruslah tetap saya kerjakan di muka bumi ini, tanpa terlalu banyak menuntut.

NB: Mungkin ilustrasi di atas sedikit bergesekan dengan beberapa hal yang kita percayai, tapi mari kita kesampingkan terlebih dahulu demi kepentingan ilustratif ini. Selamat Pagi, Tuhan memberkati.
visit http://buletinkristen.blogspot.com