Ormas Keagamaan Kembali Intimidasi Sebuah Gereja di Tangerang

Intimidasi mengatasnamakan agama masih terus terjadi. Penanganan hukum yang setengah hati menjadi bukti terjadinya kembali salah satu faktor pemecah persatuan bangsa dan negara ini. Sekelompok organisasi massa (ormas) yang mengatasnamakan agama kembali melakukan intimidasi terhadap sebuah gereja di Tangerang yang sudah mengantongi izin peribadahan.

Dirilis Suara Pembaruan, Gereja Pantekosta di Indonesia (GPdI), yang berada di Perumahan Cituis Indah Blok E No 42, Desa Surya Bahari, Kecamatan Paku Haji, Tangerang Utara, diintimidasi dan diminta untuk segera menghentikan aktivitas beribadahnya oleh ormas. Akibat kejadian tersebut, kini ratusan jemaat GPdI berada dalam situasi tertekan dan meminta perlindungan kepada kepolisian setempat.

Gembala Sidang GPdI Cituis, Pendeta William Laoh, menjelaskan, pasca intimidasi pada Minggu (4/9) pagi, surat perintah penutupan dan penghentian kegiatan beribadah langsung dikirimkan pihak kecamatan kepada pengurus gereja. “Saat ini kami sudah menerima surat perintah penutupan rumah ibadah dari kecamatan setempat. Intinya, segala jenis peribadatan harus dihentikan,” kata William Laoh, Jumat (9/9).

Sebelumnya, pihak pengurus gereja telah mendapatkan informasi dari kepolisian bahwa akan ada serangan yang dilakukan sekelompok Ormas intoleran yang tidak setuju dengan kegiatan ibadah GPdI Cituis. Pasca informasi diberikan, situasi sekitar rumah ibadah menjadi tidak kondusif dan pihak gereja meminta kepada seluruh jemaat agar mempercepat pelaksanaan ibadah pada Sabtu malam.

Benar saja, pada Minggu (4/9) sekitar pukul 10.00 WIB, ratusan massa mendatangi rumah yang notabene sudah 13 tahun digunakan sebagai tempat ibadah. Massa menuntut agar kegiatan kegiatan ibadah di lokasi tersebut segera dihentikan karena dianggap tidak memiliki izin. Polisi yang sebelumnya sudah berjaga-jaga di sekitar lokasi pun segera melakukan tindakan menghalau massa.

“Kegiatan beribadah GPdI Cituis sudah terdaftar di Kementerian Agama. Kalau tidak bisa beribadah di rumah ibadah, kami mau beribadah di mana lagi karena minta izin pendirian gereja saja sulit,’ ucap William.

William berharap, pemerintah setempat bisa memberikan solusi terbaik bagi keberlangsungan ibadah jemaat. Ibadah merupakan keyakinan dan hak manusia yang hingga kini masih dilindungi oleh undang-undang. Ketidaktegasan aparat pemerintah dan hukum dalam menyelesaikan masalah ini akan berujung pada kasus yang sama.

Source : Suara Pembaruan

Semua sendi kehidupan dalam negara ini memang selalu dijalankan dengan kemunafikan…jangan kita terjebak di dalamnya…tetap teguh…

makin di hambat

makin merambat

Hal beribadah juga sebetulnya memiliki sendi-sendi aturan yang harus juga di sadari bersama, jika kita berada di bawah payung hukum yang namanya Negara.

Komunitas terkecil dalam melakukan ibadah adalah keluarga. jemattnya : ayah, ibu dan anak-anaknya …dapat dilakukan di rumah keluaraga tsb, gembalanya yng bertanggung jawab dalah Ayah. Dan ini pasti tidak akan mengundang kontroversi dan intervensi pihak luar.

Komunitas diluar keluaraga , tentu lebih besar lagi, karena berkumpul banyak keluarga sebagai jemaatnya, Gembalanya adalah seorang hamba Tuhan yang berfrofesi sbg Pendeta bukan…??? Nah disini yng perlu diprtanyakan : Apakah di si PENDETA BERTANGGUNG JAWAB terhadap jemaatnya…??? Sehingga kegiatan yang di
jalankan untuk beribadah ( secara rutin ) tsb tidak menimbulkan kotroversi dan intervensi serta intimidasi…??

Karena hukum Negara kalau secara sadar sudah kita khianati juga …apa gunanya juga kita melakukan ibadah secara bersama sama pula…bukan…??. dimana dng kita berdalih / berlindung dalam perkataan demi memuji dan Memulyakan Nama Tuhan Kita Yesus Kristus secara bersama-sama… Hal yang pijaknnya sebetulnya sudah salah
malah kita benarkan dng pembenaran kita sendiri…?? dng memakai kata Tuhan atau demi Tuhan disitu…??

Sebetulnya sebagai orang Kristen hendaknya kita juga harus menjadi cerdaslah…dalam hal seperti itu. Dan Gembalanya disitu harus dapat mengerti dan memahami peraturan Pemerintah dan Negara.
Dan Gembala sudah harus mengerti bahwa kalau sudh mempunyai komunitas maka disitu sudah pula terbangun sebuah Gereja Tuhan, dimana harus sudah dipikirkan suatu wadah ( gedung ) yang resmi yang harus dibangun sesuai perundang-undanga yang berlaku di NKRI ini… Jadi jika ada pihak yang menggagu ibadah suatu komunitas yang dilakukan disuatu rumah…?? ( bukan gedung gereja )…ya lagi lagi kita umat Kristen di beri kesadaran dari
pihak luar ( non -Kristen )…Bahwa kegiatan yang dilakukan ( dalam hal beribadah ) tsb, sebetulnya menyalahi aturan yang ada…Itu saja sebetulnya poinnya…loh…!! dan itu poin positif ( menurut saya )…Bukannya malah kita bernegatif THINGKING TERHADAP MEREKA …?? Lantas berkata bahwa mereka “anti Kristen”…?? WAHH…Bukan disitu poin yang harus kita petik dan kita ambil…!! Itu buklan Iman Kristen yang cerdas…tapi bodoh…!!
Kalau bodoh…berarti percuma DONG kita baca FIRMAN TUHAN bukan…?? Padahal hendaklah kita cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati bukan…??

Jadi mnurut saya…?? Bagi Gembala Gereja Pantekosta tsb, hendaklah Beliau mengetahui dahulu peraturan Pemerintah / Negara…Dan ikuti peraturan yang ada, karena kita masih hidup di dunia ini yang juga mempunyai ataurannya secara khusus dalam hala melakukan ibadah secara Bergereja / bersama-sama.
Jadi jangan menganggap diri benar dulu padahal sudah salah dalam berpijak…dalam konteks Penggembalaan umat yang menjadi tanggung jawabnya. Dan jangan menggunakan nama Tuhan dong …!! Kalau pijakannya pun sudah salah…!! Ini namanya secara sengaja menjerumuskan umat yang digembalai nya bukan…??

Lebih baik dan bijaksananya, untuk sementara waktu membaur saja dahulu pada Gereja-gereja yang ada didaerah sana, sebelum gereja yng resmi dibangun…dan sudah mengikuti atauran yang ada. Karena malah tidak baik kalau terus ngotot merasa benar, padahalnya salah. Walupun dikatakan sudah berlangsung lama kegiatan beribadah tsb…tapi ya kok tidak menjadi dewasa dalam hal berpikir dan ber[rilaku…?? Mungkin dapat direnungi dan dipikirkan kembali kenapa Orang menjadi tidak bisa menerima apa yang sudah dilakukan disana oleh komunitas Kristen tsb.
Sepertinya tidak ada saluran berkat yang keluar bagi komunitas disana saat mereka beribadah bersama…?? hehehheehehhe…
Misalnya kasih uang parkir kendaraan ( mobil / motot ) saja merasa berat dan mengeluh…?? bagi pihak di area situ…?? Hehehehhe…

Jadi hendaklah kita berpikir positip dalam fenomena yang diinformasikan oleh Broo@Exia…bukannya malah negatif thingking…!! Kapan dewasanya kita kalau begicuu …??? Mosok minmm cucu mulu ahh…?? wong namanya saja kita hidup di Indonesia bukan…?? Please…please…harus lebih “wisdom” lah kita…

Salam GBU

Dan kamu akan dibenci semua orang oleh karena nama-Ku;
tetapi orang yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat. (Matius 10:22)

apa yang menjadi milik negara harus dikembalikan ke negara
apa yang menjadi milik mTuhan harus dikembalikan ke Tuhan…
nah kalau keinginan negara bertentangan dengan keinginan Tuhan???
co…
di satu mesjid hanya ada beberapa jemaat…ehhh selisih tiap berapa rumah ada mesjid lagi???maksudnya???
apakah ini sesuai ketentuan negara…
ada gereja… penuh sesak… sampai kebaktian berkali2…eh… mau bangun baru untuk tempat berkumpul no way… nah lho
saya tidak mengajarkan musuhi lho bro purba …
saya mengingatkan kenyataan…
kenyataan di lingkungan sekitar kita…
toh gereja “besar” juga dianggap “salah” yang makan uang lah ini lah…
mangkannya lebih baik kecil-kecil tetapi terus berkembang ^^

Terkadang memang susah untuk memilih kalau kita diperhadapkan dengan hukum negara…bukan untuk menyepelekan hukum negara…tapi apakah hukum di negara ini sudah memberi ruang yang seimbang bagi kaum minoritas>>>>>>>>>>>???

u got the point ^^

2 Timotius 3:1	Ketahuilah bahwa pada hari-hari terakhir akan datang masa yang sukar.

Broo@cutz…

Itulah realita yang kita hadapi bukan…??
Tapi yang perlu disadari…adalah dermikianlah dunia memperlakukan kita-kita ini sebagai Pengikut Yesus Kristus…Tidak gampang dan tidak mudah dalam kita memikul salib dalam level berkominitas / berjaah / berjemaat dibandingkan jika secara sendiri-sendiri ini…tapi klau kita sadari lagi disitulah tantangan dan pergumulannya…Bukannya kita harus melihat keluar lingkungan kita yang mana pihak lain berleluasa mendirikan rumah ibadah disetiap rt / rw bahkan kelurahan dan kecamatan…?? kemudian kita merasa iri dan cemburu ?? Alasan yang kita tangkap adalah bahwa tidak ada toleransi dan sisi keadilan secara sosial dan beragama disitu…?? khususunya bagi kita yang Beriman Kriseten. Secara logika memang kita sudah kalah dalam bentuk jumlah secara kerakyatan dan kalah dalam kewenangan mengatur, karena kebanyakan stick-holder di negara kita dari tingkat desa, kecamatan s/d bupaati dan gubernur adalah bukan orang Kristen.
Makanya disini sudah menjadikan umat kristen terpojok dalam urutan kebebasan beribadah maupun mau membangun tempat ibadah. Tapi terlepas dari itu hendaklah saya bilang harus cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati. Artinya dengan kondisi situasi yang kita ketahui bersama bahwa dalam kehidupan kita bersama ini ada "resistensi " tinggi sekali dalam tumbuh kembangnya dunia keagamaan Kristen. Artinya perkembangannya selalu dihambat dng cara yang secara sengaja dilakukan oleh pihak pihak tertentu, yang mana nota bene mempunya hubungan tertentu secara moril dan non-moril dan secara kultural.
HaMbatan demikianlah yang harus kita tembus dng IMAN YANG TEGUH SBAGAI PERGUMULAN KITA BERSAMA
Dalam konteks dan koridor MEMULYAKAN NAMA TYK sesuai apa yang diajarkan dalam Alkitab, bukannya malah mengesampingkan Alkitab dan mengikuti cara dunia. Kan sulitnya menurut pikiran manusianya tah…??
Tapi mnurut pikiran Tuhan…pasti mudah. Namanya saja hidup di kalangan srigala bukan…?? walaupun sedikit domba yang hidup di lingkungan tsb…yang penting tetep menjadi garam dunia dan terang dunia yang kita radiasikan kepada lingkungan kita. Agar mereka terkontamnasi …!!

Salam GBU

Broo@Adichandra…

Heheheh …jangan lah membahasakan komunitas kita ini ( yng Kristen ) sbg kaum minoritas…karena itu lah yang membuat kita menjadi mundur sebelum bertempur…dan menjadikan suatu konotasi kaum yang lemah…!! Padahal kita ini ga perlu menuntut dan mencari pembenaran secara logika manusia untuk menyanjung status kita sendiri.
Kan kita adalah Anak-anak Allah bukan…?? kenapa kita memusingkan jenis status yang kita tancapkan sendiri kepada kita …?? Mayoitas dan minoritas itu kan ukuran standard duniawi kan broo…?? Apa urgensinya sebetulnya jika sudah sebagai warga dari kerajaan Sorga…??
Jadi yang memperlemah diri sendiri ya adalah pribadi manusianya itu sendiri…loh…!! Itulah sebetulnya perasaan yang harus kita hilangkan dalam diri pribadi masing masing bagi yang sudah menjadi pengikut Kristus Yesus.
Sehingga secara psikhologis sebagai warga Bangsa Indonesia…kita tidak menjadi minder-wardeg, walaupun secara jumalah memang kecil komunitas Kristen di Indonesia ini…Tapi secara power mamapu memancarkan Terang dunia dan Garam dunia BAGI LINGKUNGAN SEKITAR KITA SECARA KHUSUS DAN UMUM…

Salam GBU

sedang masuk dalam “baptisan api” agar gereja menuju ke kesempurnaan sesuai dengan rencana Allah saja.

bukan rencana manusia / gereja