Open Theism: Mengapa Allah yang Mahatahu meminta kita berdoa?

Saat Allah menciptakan ‘ruang’ dan ‘waktu’, maka SIFAT-SIFAT Allah yang kekal pun beroperasi di dalam ‘ruang’ dan ‘waktu’. Operasional dari tindakan Allah di dalam ‘waktu’ ini bersifat dinamis, dan ini disebut sebagai SIKAP Allah (bukan SIFAT Allah). Jadi, SIKAP Allah adalah tindakan/aktifitas Allah berkaitan dengan ‘waktu’. Sedangkan SIFAT Allah berkaitan dengan kekekalan dan ini tentu saja TIDAK BERUBAH (menurut pandangan teisme klasik?).

Open Theisme menyatakan bahwa beberapa dari SIFAT Allah berubah saat DIA memasuki dan beraktifitas di dalam ‘waktu’. Mereka umumnya menyatakan bahwa DIA membatasi Kemahatahuan-Nya saat beroperasi di dalam ‘waktu’, termasuk saat mendengarkan dan menjawab doa umat-Nya. Disitulah Allah memberikan Diri-Nya untuk ‘dibujuk’ oleh doa-doa umat-Nya.

Sementara itu, kita tahu bahwa SIFAT Allah yang Mahatahu dan kekal membuat DIA tidak berubah, bahkan oleh doa umat-Nya (teisme klasik?). Tapi mengapa Allah tetap ‘meminta’ (ini merupakan tindakan Allah di dalam ‘waktu’) umat-Nya untuk berdoa kepada-Nya? Padahal DIA (SIFAT-Nya) tidak berubah (sehingga doa umat-Nya pun tidak bisa mengubah keputusan dan rencana, maupun jalan-jalan-Nya).

PERTANYAAN:

  1. Apakah keberadaan ‘doa’ justru membuktikan bahwa Open Theisme adalah alkitabiah? Jika tidak, mengapa? Seorang Calvinis yang berdiskusi dengan seorang Open Theism mengatakan, “How can God who knows all things from all time, be affected by our prayer? I don’t know…” Nampaknya, dalam diskusi itu Calvinis ini berhasil ‘mengembalikan’ rekannya dari Open Theism. Namun, toh dia tetap mengatakan kalimat demikian, sesuatu yang saya pikir umum di kalangan Calvinis.

  2. Adakah “jalan tengah” antara Open Theisme dengan teisme klasik?

  3. Bagaimana jika ada usulan agar: SIKAP Allah ditafsirkan apa adanya, TANPA merubah SIFAT Allah yang kekal?

Catatan:

  1. Beberapa sumber tentang “Open Theisme” ada di sini:
    http://www.gktlampung.org/artikel/suatu-evaluasi-kritis-terhadap-konsep-god’s-foreknowledge-dalam-pandangan-open-theisme-daria

dan disini:
http://www.gsja.org/2010/04/23/open-theisme-teologi-masa-kini/

Juga di Wikipedia, tentu saja.

  1. Ayat-ayat yang banyak menyatakan bahwa Allah beraktifitas di dalam ‘waktu’ antara lain (tentang “Allah menyesal”): Kej. 6:6,7; Kel 13:17; Kel 32:7-14; Kel 33:4-6; Yes 5:4,7; Yes 38:1-5.

  2. Silahkan jika ingin menambahkan tentang pendirian maupun sejarah “Open Theisme”, maupun tentang “teisme klasik”, dan sebagainya…

1. Apakah keberadaan ‘doa’ justru membuktikan bahwa Open Theisme adalah alkitabiah? Jika tidak, mengapa? Seorang Calvinis yang berdiskusi dengan seorang Open Theism mengatakan, “How can God who knows all things from all time, be affected by our prayer? I don't know...” Nampaknya, dalam diskusi itu Calvinis ini berhasil ‘mengembalikan’ rekannya dari Open Theism. Namun, toh dia tetap mengatakan kalimat demikian, sesuatu yang saya pikir umum di kalangan Calvinis.
Biasanya para pemain catur sebelum mengambil langkah, dia akan memikirkan segala kemungkinan terhadap langkah2 yang akan diambilnya.

Untuk penyederhanakan bahasa, pemain catur tadi tahu smua langkah kedapan dan tahu apa yang akan terjadi atas setiap kemungkinan langkah yang ada , dan endingnya adalah : tahu hasil terbaik.

Dalam alkitab dikisahkan bahwa Allah itu menciptakan manusia-manusia, bukan menciptakan allah2 lain – bahkan dikisahkan bahwa setelah manusia jatuh dalam dosa, manusia telah menjadi sama seperti darri salah satu (Sifat) Allah yaitu : tahu, namun bukan maha tahu.

Allah dalam lingkup sempit, sama seperti pemain catur diatas, yang (maha) tahu atas segala kemungkian langkah yang ada

Sebaliknya manusia tidak (maha) tahu atas setiap langkah yang ada.

Doa, merupakan salah satu saluran komunikasi dg Allah

Sebagaimana pemain catur menghadapi lawan yang memiliki langkah2 aksi, maka doa bisa menentukan langkah apa yang harus Allah lakukan untuk hasil akhir yg terbaik.

Allah tahu atas semua hasil akhir dari semua peluang gerakan catur, dan doa kita hanyalah untuk memohonkan smua berada dalam rencana Allah, ini perlu untuk partisipasi manusia bahwa memang manusia mau masuk dalam rencana Allah, bukan Allah yang masuk dalam rencana manusia

Jadi doa itu untuk konfirmasi kesungguhan kita kalau kita memang benar2 mau turut serta dalam rencanaNYA.

Salam damai,

Saya masih kurang mengerti maksud Anda, nih…

Doa adalah tindakan manusia (warna biru), tapi doa itu menentukan apa yang HARUS Allah lakukan (merah)…

Apakah doa bisa meng-HARUS-kan Allah?

Mohon penjelasannya, ya…
Thanx…

Dengan memberikan freewill pada ciptaanNya, maka Allah memilih dgn sengaja untuk menyisakan ruang bebas bagi ciptaanNya yg secara umum Allah tdk campur tangan di dalamnya, karena di situlah letak ujian bagi manusia untuk menjadi pemenang.

GBU

[quote author=simonsez link=topic=39398.msg523253#msg523253 date=1317070289]
Dengan memberikan freewill pada ciptaanNya, maka Allah memilih dgn sengaja untuk menyisakan ruang bebas bagi ciptaanNya yg secara umum Allah tdk campur tangan di dalamnya, karena di situlah letak ujian bagi manusia untuk menjadi pemenang.

GBU
[[quote author=nuansa link=topic=39398.msg523015#msg523015 date=1317027952]
Salam damai,

Saya masih kurang mengerti maksud Anda, nih…

Doa adalah tindakan manusia (warna biru), tapi doa itu menentukan apa yang HARUS Allah lakukan (merah)…

Apakah doa bisa meng-HARUS-kan Allah?

Mohon penjelasannya, ya…
Thanx…

[Allah Yang Mahatahu tak perlu meminta kepada ciptaan-Nya. Ia cukup menyuruh. Kita disuruh berdoa, itu hak-Nya. Mengapa? Coba pikir! Andaikata saya bisa bikin robot kucing, tentu saya bikin robot kucing yang suka mengeong manja/akrab/hidmat kepada saya, mengharap kasih-sayang dan makanan. Saya lebih suka kucing yang demikian ketimbang kucing yang tak mengenal saya, atau hanya suka cakar-cakaran berebut makanan dengan sesama kucing.]

Tuhan mengubah kita melalui doa.
Memang keputusan Tuhan tidak dapat berubah, karena Dia Maha Tahu dan Maha Sempurna. Namun Tuhan menginginkan kita mengikuti jejak Abraham dan Musa, agar kita turut berpartisipasi dalam pekerjaan Tuhan, salah satunya yaitu dengan berdoa. Jadi, kita berdoa bukan untuk mengubah keputusan Tuhan – karena itu tidak mungkin – namun mempersiapkan sikap hati kita untuk menerima apa yang kita minta dalam doa atau mengubah sikap hati kita jika doa kita tidak sesuai dengan kehendak Tuhan. Di dalam kebijaksanaan dan kasihNya, Tuhan telah melihat bahwa kita akan menerima suatu jawaban doa lewat doa-doa yang kita panjatkan. Jadi di dalam kasus Abraham dan Musa, sebelum terbentuknya dunia ini, Tuhan sudah melihat bahwa Abraham dan Musa akan berpartisipasi dalam karya keselamatan bangsa Israel, dan doa mereka dikabulkan oleh-Nya lewat doa-doa mereka yang mengalir dari kasih.

Hal lain yang penting adalah, dengan bertekun dalam doa, kita tidak mengubah Tuhan, namun kita diubah oleh Tuhan. Kita melihat contoh dari Rasul Paulus, ketika dia berdoa agar Tuhan “mengambil duri di dalam dagingnya“, namun doanya tidak dijawab Tuhan menurut kehendak St. Paulus (2 Kor 12:7-10). Namun dengan kejadian ini, Rasul Paulus mendapatkan sesuatu yang lebih baik, bahwa dia menjadi rendah hati dan tidak bermegah dengan berkat-berkat yang sudah diberikan Tuhan kepadanya. Bahkan Rasul Paulus dapat menerima dengan senang dan rela menghadapi segala kesulitan, siksaan, tantangan untuk kemuliaan nama Tuhan. Dari sini, kita melihat Rasul Paulus diubah oleh Tuhan, untuk menerima kehendakNya seperti yang difirmankan-Nya,”… sebab dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna” (2 Kor 12:9).

yapppp … setelah berdoa, diharapkan yang berdoa-nya berubah… bukan tuhan nye dong !!!

:afro: Setuju!
Berdoa bukan untuk Tuhan, tetapi untuk diri kita sendiri.
Berdoa adalah pergumulan kita untuk mengerti kehendak Tuhan.
Berdoa membantu kita untuk mengingat akan banyak hal yang harus kita kerjakan untuk Tuhan,
makanya karena rajin berdoa, nenek saya sudah 96 tahun, nggak pikun-pikun! Masih sering telepon anak-cucu untuk menanyakan perkembangan kami, satu per satu… :wink:

Sungguh suatu berkat yang luar biasa bro.

http://en.wikipedia.org/wiki/Open_theism

Immutability: God cannot change in any way. This does not mean that God cannot speak in time, but as Augustine says in Confessions, that when He does so, the Word is He Himself.[5]

Impassibility: God is not the object of actions, but the subject.[6] (“Impassable” is from the Latin patior: suffer, undergo, endure.) Thus we cannot reach up to God without Him first coming down to us (cf. Romans 10:6), and any real interaction we have with God must be the result of God’s condescension to us through the Incarnation and Pentecost. Neither impassibility nor immutability should be taken to imply we cannot actually interact with God. Classical Theist Blaise Pascal even says God has established prayer “To communicate to His creatures the dignity of causality.”[7] The Definition of Chalcedon established the orthodox doctrine that Mary is the mother of God. The Passion is called the “passion” to underscore the fact that here, the impassible One suffers [Latin: passus] on the Cross. And Alexander bishop of Alexandria says of the Crucifixion “the impassable suffers and does not avenge its own injury.”[8] (in Greek, the same root is used for “suffer” and “impassible” so perhaps a more accurate (though more wordy) translation would be “the one who does not suffer suffers and does not avenge his own injury.”).

Omnipotence: God has all power, which includes complete sovereignty over all things. Thus God’s sovereign will that we be free and that our will be effective is necessarily realized; and we are free and our will is effective.

Omnipresence: God is present everywhere, or more precisely, all things find their location in God;[9] or alternatively God transcends space and time.

Omniscience: God has all knowledge, including of all past, present, and future events.

just thinking…

Sesudah manusia pertama jatuh dalam dosa, maka hubungan dengan Allah terputus.
Padahal sebelumnya, kita tahu Allah bergaul akrab dengan Adam dan Hawa.
Walaupun adalah hak Allah pula kalau Ia memutuskan untuk bergaul akrab dan bersahabat dengan Henokh.

agaknya terlalu dangkal kalau berdoa di interpretasikan hanya sebatas permintaan dan keinginan kita sebagai manusia kepada Allah.
Pemulihan hubungan Allah - manusia dengan penebusan YESUS, lebih merupakan keinginan Allah sendiri untuk menjalin hubungan dengan manusia, secara pribadi, langsung, tanpa perantara…
tidak hanya sebatas sebagai sang Pencipta, Atasan dan Bapa, tapi sebagai SAHABAT, yang dimaknai adanya sikap apresiasi dan pemberian ruang atas manusia.

Itulah Hati Bapa, yang menerima anakNya juga sebagai SahabatNya.

salam. :wink:

Oleh TS telah dinyatakan satu hipotesis bahwa SIKAP (perilaku, aktifitas, tindakan) Allah ‘didalam waktu’ sangatlah dinamis dan tidak mengubah SIFAT-SIFATNya yang kekal dan sempurna.

Dari pernyataan St. Agustinus di atas tentang Immutability ternyata saat Allah beraktifitas ‘di dalam waktu’ (dalam hal ini adalah berfirman), maka Allah sendirilah yang hadir ‘didalam waktu’. Dan tentu saja itu tidak membuat surga kosong.

Jadi muncul asumsi dasarnya:
“Allah yang kekal turun dan beraktifitas ‘didalam waktu’ (seperti penjelamaan Yesus), tidak membuat surga kosong.”

Jadi, ada dikotomi, Allah ‘diatas waktu’ (di surga) dan Allah ‘didalam waktu’ (bukan hanya 'aktifitas/tindakan, melainkan Pribadi Allah). Akibatnya muncul trikotomi:

  1. SIFAT Allah dan SIKAP (perilaku) Allah.
  2. ‘Diatas waktu’ dan ‘didalam waktu’
  3. Tindakan Allah dan Pribadi Allah.

Allah Tentu itu masih bisa didiskusikan lebih lanjut…

Selain itu hal di bawah ini pun masih bisa didiskusikan lebih jauh:

Kita tahu bahwa tidak ada satu ayat pun di dalam Alkitab yang menyatakan secara eksplisit bahwa Allah PERNAH mengerahkan SELURUH Kemahakuasaan-Nya. Bahkan saat penciptaan alam semesta hingga penghancuran iblis dan kerajaannya hingga munculnya Kerajaan Seribu Tahun dan penciptaan Langit dan Bumi Baru, sama sekali tidak disebutkan bahwa Allah menggunakan SELURUH Kemahakuasaan-Nya.

Demikian juga, kalau saat DIA beraktifitas ‘di dalam waktu’ ternyata Dia PERNAH menampilkan SELURUH Kemahakudusan-Nya, maka kemungkinan besar alam semesta yang sudah dicemari dosa ini akan luluh lantak.

Dari dua hal di atas, muncullah satu hipotesis berikut ini:

JIKA Allah membatasi Kemahakuasaan-Nya saat beraktifitas dan berinteraksi ‘di dalam waktu’

DAN JIKA Allah membatasi Kemahakudusan-Nya saat beraktifitas dan berinteraksi ‘di dalam waktu’.

MAKA Allah membatasi Kemahatahuan-Nya saat beraktifitas dan berinteraksi ‘di dalam waktu’.

Silahkan dilanjut diskusinya…

Salam damai,

Nuansa

Kita tahu bahwa tidak ada satu ayat pun di dalam Alkitab yang menyatakan secara eksplisit bahwa Allah PERNAH mengerahkan SELURUH Kemahakuasaan-Nya. Bahkan saat penciptaan alam semesta hingga penghancuran iblis dan kerajaannya hingga munculnya Kerajaan Seribu Tahun dan penciptaan Langit dan Bumi Baru, sama sekali tidak disebutkan bahwa Allah menggunakan SELURUH Kemahakuasaan-Nya.

Sebenarnya, jika kita katakan sepenuh kekuasaan atau sebagian kekuasaan, kita menganggap kekuasaan yang Maha Kuasa itu bisa terukur bro. Padahal, Maha Kuasa tentulah tidak dapat terukur, karena tidak ada batasnya bahkan pembandingnya.

Maka, asumsi anda bahwa Tuhan hanya menggunakan sebagian KemahakuasaanNya, bisa diterima dengan pertimbangan di atas (Maha Kuasa itu tidak terbatas), tetapi apakah betul hanya sebagian, maka asusmsi itu juga bisa terbantahkan karena tidak ada alat ukurnya.

Syalom

Benar bahwa Kemahakuasaan Allah tidak terbatas dan tidak ada pembandingnya. Karenanya tidak salah jika dikatakan bahwa DIA belum pernah memberlakukannya, karena tidak ada sesuatu yang dapat ‘memancing’ atau ‘mendesak’ (terlebih lagi ‘memaksa’) DIA untuk menerapkan ‘seluruh’ Kemahakuasaan-Nya.

Sedangkan, pembanding untuk ‘sebagian’ itu adalah ‘keseluruhan’ (ketidakterbatasan) Kemahakuasaan-Nya itu sendiri.

Kalau saya punya uang ‘relatif’ tidak terbatas (atau katakanlah sepuluh triliun) dan satu hari saya membelanjakan satu milliar. Maka yang menjadi alat ukur untuk menyatakan bahwa satu milliar itu hanya merupakan ‘SEBAGIAN’ dari uang saya adalah keseluruhan uang saya (yang sepuluh triliun itu).

Syallom,

Kalau saya punya uang 'relatif' tidak terbatas (atau katakanlah sepuluh triliun) dan satu hari saya membelanjakan satu milliar. Maka yang menjadi alat ukur untuk menyatakan bahwa satu milliar itu hanya merupakan 'SEBAGIAN' dari uang saya adalah keseluruhan uang saya (yang sepuluh triliun itu).

Nah, betul bro. tetapi uang seberapa besarpun jumlahnya, tetap terukur. Sementara Kemahakuasaan Tuhan, tidak terukur. Kita tidak pernah tahu, apakah saat penciptaan alam semesta ini, Tuhan menggunakan seluruh kekuasaanNya atau tidak.

Syalom

Tapi penerapan kekuasaan Tuhan ‘didalam waktu’ sangat bervariasi, bukan hanya sewaktu penciptaan, tapi juga sewaktu membuat mujizat (membelah laut, mengalahkan sejumlah besar atau sejumlah kecil tentara musuh, menghancurkan tembok, detoksifikasi sumber air, dll).

Apakah semua variasi dari tindakan Allah ‘di dalam waktu’ itu memang menggunakan SELURUH Kemahakuasaan-Nya?

Syalom,

Setelah konsultasi dgn mbah google mengenai open theism, ada beberapa komentar:

  1. Yg dipertanyakan itu doa sebagai kata kerja atau kata benda? ataukah kita membicarakan subjek yang melakukan doa?

  2. Jalan tengah selalu ada, tetapi belum tentu diterima oleh kedua belah pihak. Jalan tengah yg bagaimana yg dimaksud?

  3. Mungkin perlu diberi ilustrasi agar kata2 ini ‘ditafsirkan apa adanya’ itu bisa lebih jelas.

salam
Boden

Shalom sdr nuansa,

Jawaban berikut ini bukanlah berdasarkan label open theism maupun classical theism, karena dua istilah tersebut juga perlu dipertanyakan. Lepas dari label tersebut, pertanyaannya adalah bagaimana hubungan antara kodrat Allah yang tidak berubah (immutable) dengan terkabulnya satu doa.

Doa menjadi bagian yang terpisahkan dari kehidupan seorang Kristen. Namun ada tiga kesalahan persepsi tentang doa : Open Theism: Mengapa Allah yang Mahatahu meminta kita berdoa? - Ajaran Kristen - ForumKristen.com

  1. Tuhan tidak campur tangan
  2. Tuhan sudah menakdirkan segalanya sehingga doa tidak diperlukan
  3. Kita dapat merubah keputusan Tuhan dalam doa.

Dalam konsep doa, maka kita harus menghindari beberapa kesalahan. Deism melakukan kesalahan dengan mengatakan bahwa Tuhan tidak pernah campur tangan dan hanya berpangku tangan saja. Ada orang berfikir bahwa karena Tuhan maha tahu dan maha kekal, sehingga doa kita tidak membawa pengaruh apapun dan sebaliknya kesalahan di sisi yang lain adalah berfikir bahwa doa kita dapat mempengaruhi keputusan Tuhan.

Tentang sikap Allah dan sifat Allah. Sebenarnya, kalau kita melihat di dalam Allah tidak ada accidental maupun substance, karena Allah adalah simple. Ini berarti, kita tidak dapat mengatakan ada kebaikan dalam Allah, karena Allah adalah kebaikan itu sendiri, Allah adalah kebenaran, Allah adalah kasih, Allah adalah kebijaksanaan, dll. Dengan demikian, kalau kita membicarakan ’sifat’ maka sebenarnya kita membicarakan tentang Allah sendiri, karena sifat-sifat Allah adalah Allah sendiri. Jadi, atribut-atribut Allah adalah Allah sendiri, yang berarti tidak mungkin berubah karena Allah itu kekal. Dari kekekalan Allah ini, maka sikap atau tindakan Allah tidaklah di dalam waktu – dari sisi Allah, karena di dalam Allah tidak ada masa lalu maupun masa depan. Bagi Allah semua hal terbentang di hadapan Allah dan senantiasa saat ini. Namun, tentu saja, tindakan Allah diterima oleh manusia di dalam waktu dan tempat tertentu, karena manusia hidup di dalam waktu dan di tempat tertentu.

Tentang Allah menyesal: “maka menyesallah TUHAN, bahwa Ia telah menjadikan manusia di bumi, dan hal itu memilukan hati-Nya. Berfirmanlah TUHAN,” Aku akan menghapuskan manusia yang telah Kuciptakan itu… sebab Aku menyesal, bahwa Aku telah menjadikan mereka.” (Kej 6:6-7)

Pada perikop ini, dipergunakan gaya bahasa antropomorfis, yang artinya menggambarkan Allah dari perspektif manusia, atau menggunakan penggambaran yang umum digunakan oleh manusia. Gaya bahasa macam ini memang digunakan di dalam Alkitab, seperti yang nanti akan timbul lagi pada beberapa ayat yang anda tanyakan.

Maka jika dikatakan Allah menyesal, itu adalah untuk menggambarkan, bahwa jika manusia yang ada di posisi Allah, maka ia akan menyesal. Namun sebenarnya, Allah sendiri telah mengetahui segala sesuatu yang akan terjadi, sebab Ia adalah Maha Tahu, sehingga keputusan-Nya tidak berubah. Tentang Allah yang tidak berubah ini disebutkan dalam Bil 23:19. Jadi ungkapan “Allah menyesal” ini adalah untuk menghubungkan akan apa yang kemungkinan dirasakan oleh Allah, jika ditinjau dari sudut pandang manusia.

Semoga uraian di atas dapat membantu.

Tiga Kesalahan Persepsi Tentang Doa

Kesalahan 1: Tuhan tidak campur tangan dalam kejadian di dunia ini.

Argumen yang paling ekstrem adalah karena ketidakpercayaan akan keberadaan Tuhan. Bagi yang masih mempertanyakan keberadaan Tuhan. Karena tidak percaya kepada Tuhan atau sesuatu yang lebih besar dari keberadaan dirinya, maka orang-orang yang tidak percaya kepada Tuhan tidak merasa perlu untuk berdoa.

Selanjutnya, ada pendapat yang mengatakan bahwa memang Tuhan menciptakan segala sesuatu; namun setelah penciptaan, Tuhan tidak campur tangan lagi, dan semuanya berjalan menurut hukum alam berdasarkan sistem yang sudah ditetapkan oleh Tuhan. Pendapat ini dianut oleh aliran “deism“. Aliran ini menerima ke-Tuhanan hanya dari sisi filosofi, tanpa percaya adanya wahyu Tuhan.

Menurut pemahaman ini, Tuhan dilihat sebagai seseorang yang yang duduk di tahta suci dan melihat semua perbuatan manusia dan perjalanan sejarah, namun Dia tidak melakukan apa-apa.

Dalam kapasitas yang lebih kecil, berapa sering kita mendengar seseorang mengatakan “Ah, jangan terlalu banyak merepotkan Tuhan. Masa Tuhan mengatur urusan-urusan yang kecil?” Seolah-olah Tuhan tidak tertarik untuk membantu manusia dalam urusan-urusan yang kecil. Kadang urusan yang bagi seseorang dianggap kecil, bagi Tuhan menjadi sesuatu yang penting untuk kehidupan rohani seseorang.

Kesalahan 2: Tuhan sudah menakdirkan segalanya sehingga doa tidak diperlukan

Kesalahan kedua adalah pendapat orang yang mengatakan bahwa berdoa itu percuma, karena semua sudah ditakdirkan. Berapa banyak orang yang mengatakan, kalau semua sudah ditakdirkan, maka tidak ada gunanya lagi berdoa, karena tidak akan mengubah apapun. Sering orang mengatakan “sudah nasib saya begini, doa atau tidak doa sama saja.”

Kalau kita meneliti pernyataan-pernyataan di atas, sebetulnya ada kecenderungan untuk menyalahkan Tuhan. Apakah kita pernah berkata “Ya memang sudah nasib saya untuk menjadi kaya – atau menjadi pintar – atau saya sudah ditakdirkan untuk menjadi seorang yang baik.” Dalam hal-hal yang menurut kita positif dan bagus, kita cenderung untuk diam saja, seolah-olah memang itu sudah layak dan sepantasnya. Namun pada saat terjadi sesuatu yang kurang baik, kita cenderung untuk menyalahkan Tuhan dengan tameng “nasib atau takdir.”

Bukankah ini sama saja seorang yang ditanya “Kamu kaya, pintar, juga baik. Bagaimana kamu bisa mendapatkan semua itu?” Anak itu menjawab “Oh, saya berusaha dengan sekuat tenaga untuk bekerja, membaca buku dan juga aktif dalam kegiatan Gereja.” Kemudian ada seseorang yang ditanya “Kamu kok hidupnya menderita sekali, sekolah tidak selesai dan pekerjaan juga susah.” Dan kemudian anak ini menjawab “Oh, memang saya sudah ditakdirkan seperti ini, saya sudah usaha dan doa, namun tetap saja sial. Mungkin ini juga bawaan dari orang keluarga saya. Semua saudara-saudara saya juga mengalami nasib seperti saya.”

Kalau kita mau jujur, Tuhan sebetulnya sering menjadi kambing hitam dalam masalah-masalah yang kita hadapi. Seolah semua kejadian yang baik adalah hasil kerja dan usaha kita sendiri, sedang sesuatu yang buruk terjadi karena takdir Tuhan. Mari, sekarang kita melihat dengan lebih teliti kesalahan kedua tentang persepsi doa.


Kesalahan 3: Kita dapat merubah keputusan Tuhan dalam doa.

Dalam hidup sehari-hari, kita sering mendengar pendapat bahwa berdoa sangatlah penting, karena kita dapat memenangkan hati Tuhan dan mengubah keputusan-Nya. Kita harus berdoa dengan sungguh-sungguh, sehingga Tuhan berbelas kasih kepada kita dan kemudian mengubah keputusan-Nya sesuai dengan kemauan kita. Bahkan jika kita berdoa dalam nama YESUS, apa yang kita minta pasti akan dikabulkan.

Perjanjian Lama mencatat cerita tentang nabi Nuh, di mana Tuhan menyesal bahwa Dia telah menciptakan manusia (Gen 6:5-6). Lalu Abraham, berdoa bagi orang-orang di Sodom dan Gomorah, seolah-olah bernegosiasi dengan Tuhan (Gen 18:23-33). Musa berdoa dengan sungguh-sungguh bagi kaum Israel, sehingga kemarahan Tuhan tidak terjadi (Kel 32:7-14). Bukankah semua itu adalah tanda bahwa keputusan Tuhan dapat berubah?

Di Perjanjian Baru, YESUS sendiri mengatakan, “Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu dibukakan”(Mat 7:7-8). Kemudian, YESUS juga mengatakan bahwa apa saja yang kita minta dalam doa dengan penuh kepercayaan, maka kita akan menerimanya (lih. Mat 21:22). Dan kembali YESUS menegaskan “apa saja yang kamu minta dan doakan, percayalah bahwa kamu telah menerimanya, maka hal itu akan diberikan kepadamu” (Mar 11:24). Ayat- ayat ini sepertinya mengatakan bahwa YESUS akan mengabulkan doa kita sesuai dengan permintaan kita.

Tuhan tidak berubah

Mari kita meneliti lebih jauh tentang pendapat ini. Pertama, apakah benar bahwa kita dapat mengubah keputusan Tuhan? Kalau kita percaya bahwa Tuhan adalah Maha Tahu, Maha Sempurna, maka konsekuensi logis dari pernyataan ini adalah “Tuhan tidak mungkin berubah“. Berubah adalah suatu pernyataan yamg mempunyai implikasi perubahan dari sesuatu yang kurang baik menjadi lebih baik atau sebaliknya. Padahal di dalam Tuhan tidak ada perubahan. . Karena Tuhan Maha Tahu dan Maha Sempurna, maka sebelum dunia ini diciptakan Dia telah mengetahui secara persis apa yang terjadi, juga keinginan dan permohonan doa kita. Dan di dalam kebijaksanaan dan kasih-Nya, Dia tahu secara persis apa yang terbaik buat kita. Jadi kalau kita mengatakan Tuhan dapat berubah karena doa kita, kita sebetulnya kita membuat kontradiksi tentang hakekat Tuhan yang Maha Tahu dan Maha Sempurna, seolah-olah kita “lebih tahu” apa yang terbaik buat kita daripada Tuhan. Hal ini tentu tidak mungkin.

Pengajaran bahwa “Tuhan tidak mungkin berubah dalam hal pengabulan doa” ini termasuk sulit diterima, karena sering tanpa sengaja kita berpikir bahwa proses pengabulan doa oleh Tuhan itu adalah proses yang linier. Kita memohon tentang hal A, lalu Tuhan dapat mengabulkan atau tidak, yang baru Tuhan putuskan pada saat/ setelah kita memohon. Padahal tidaklah demikian. Tuhan sudah terlebih dahulu mengetahui segala kemungkinan yang akan terjadi,sebagai hasil dari pilihan kehendak bebas kita, pada saat awal mula dunia. Pada saat kita memohon A, Dia sudah mengetahui bahwa Ia akan menjawab dengan B, atau kalau kita memutuskan untuk tidak berdoa, dan berbuat X, Dia sudah tahu akan memberi Y. Dalam hal ini, B selalu lebih baik daripada A, dan Y adalah konsekuensi dari X. Nah, kalau kita bertanya akankah B diberikan kalau kita tidak berdoa, jawabnya adalah tidak (yang diberi adalah Y). Makanya kita perlu berdoa. Dalam hal ini Tuhan tidak berubah, karena dengan sifatNya yang Maha Tahu, Tuhan telah mengetahui segalanya.Nothing takes God by surprise.Tidak ada sesuatu hal yang mengejutkan Tuhan, sehingga Ia perlu berubah. Ia sudah mengetahui segalanya dan segala sesuatu telah direncanakan-Nya dengan sempurna.

Sekarang kita melihat contoh kejadian di Perjanjian Lama. Perkataan “Tuhan menyesal” dalam kisah nabi Nuh adalah suatu perkataan yang mencoba mengekpresikan Tuhan dari sisi manusia. Tuhan tidak berubah dan menyesal, karena Dia adalah Tuhan yang Maha Tahu dan Maha Bijaksana. Semua keputusan-Nya berdasarkan kebijaksanaan dan Kasih-Nya untuk keselamatan umat manusia.

Bagaimana dengan Abraham dan Musa yang seolah-olah bernegosiasi dengan Tuhan? Dalam hal ini, kita harus memegang teguh prinsip bahwa Tuhan tidak mungkin berubah, yang artinya tidak memungkinkan adanya negosiasi. Abraham dan Musa adalah merupakan gambaran/prefigurement dari diri YESUS. Kita juga melihat bagaimana Kitab Suci menggambarkan kedekatan mereka dengan Tuhan. Mereka tidak memikirkan kepentingan pribadi. Dalam pemikiran Abraham dan Musa, membantu manusia menuju Tanah Terjanji dan memberikan kemuliaan kepada Tuhan adalah yang paling penting dalam hidup mereka. Dan ini adalah sama dengan pemikiran Tuhan. Ini hanya mungkin dicapai pada orang-orang dengan derajat kasih yang begitu tinggi (dalam kadar “heroic love“).Jadi terkabulnya doa bukan berarti mereka dapat merubah keputusan Tuhan, namun karena 1) mereka diberi kesempatan untuk berpartisipasi dalam karya keselamatan, yang pada akhirnya dipenuhi secara sempurna dalam diri YESUS KRISTUS,2) kedekatan mereka dengan Tuhan, sehingga apa yang mereka pikirkan dan doakan adalah sesuai dengan keinginan Tuhan.

Semoga bermanfaat