NOTES.....READ HERE..GBU^^....by my friend

Aku hanyalah sebatang pensil di tangan Tuhan
Biarlah pensil ini dipakai Tuhan
Untuk menuliskan apapun yang IA kehendaki

Karna aku adalah sebatang pensil
Maka hanya kebaikan Tuhan yang akan kutuliskan
Hanya kebajikan Tuhan yang akan kugoreskan

Di tengah dunia yang penuh kejahatan
Aku akan menuliskan kasihMU Tuhan
Di tengah dunia yang begitu menakutkan
Aku akan menuliskan FirmanMU yang menguatkan

Di tengah kesedihan manusia yang berlinang air mata
Aku akan menuliskan penghiburan yang dari Firman
Di tengah kekecewaan manusia yang tanpa pengharapan
Aku akan menuliskan segala kebaikan Tuhan

Apa yang bisa dilakukan sebuah pensil ?
Hanya menulis dan menulis
Menulis dan terus menulis
Aku tidak akan berhenti menulis
Aku akan terus menulis dan menulis

Di tengah amukan deru ombak kejahatan
Aku akan menuliskan cinta dan kasih Tuhan
Di tengah badai yang bergelora
Aku akan menuliskan pertolongan Tuhan

Aku bertekad menuliskan kebaikan Tuhan untuk hati yang keras
Aku bertekad menuliskan pengharapan bagi yang putus asa
Aku bertekad menuliskan penghiburan bagi yang dalam kesedihan

Satu hal yang paling aku takutkan
Melewati sehari tanpa menuliskan kebaikan Tuhan
Satu hal yang tidak boleh kulakukan
Melupakan dan mengabaikan kebaikan Tuhan

Hidupku sudah bagaikan sebuah pensil
Pensil yang tak akan lekang dimakan waktu
Pensil yang akan terus berkarya di sepanjang masa
Tanpa mengenal lelah
Tanpa dipengaruhi waktu dan masa
Tulisanku akan tetap ada


*Kehidupan:
Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. (Yoh 3:16)

*Kesehatan:
Dia yang mengampuni segala kesalahanmu, yang menyembuhkan segala penyakitmu (Mazmur 103:3)

*Pakaian:
Jadi, jika rumput di ladang, yang hari ini ada dan besok dibuang ke dalam api demikian didandani Allah, terlebih lagi kamu, hai orang yang kurang percaya! (Luk 12:28)

*Kebutuhan Sehari-hari:
Allahku akan memenuhi segala keperluanmu menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dalam Kristus Yesus (Flp 4:19)

*Kenyamanan:
“Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku. (Yoh 14:1)

*Persahabatan:
Dan ketahuilah “Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” (Mat 28:20)

*Kedamaian:
Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu. (Yoh 14:27)

*Rumah yang abadi:
Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu (Yoh 14:2)

*Alasan-alasan untuk ikut serta dalam Jesus Life Insurance:

  1. Adalah perusahaan asuransi paling tua didunia.
  2. Satu-satunya perusahaan asuransi yang mengasuransikan berbagai kehilangan dalam api zaman akhir.
  3. Satu-satunya perusahaan asuransi yang mencakup area yang kekekalan.
  4. Kebijakannya tidak pernah berubah.
  5. Manajemennya tidak pernah berganti.
  6. Asset perusahaan terlalu banyak untuk dihitung.
  7. Satu-satunya perusahaan asuransi yang membayarkan premi anda.

*Premi:
{Roma 5:8}
Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih
berdosa.

Efesus 2:8
Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu!

*Prosedur aplikasi:
{Kis 5:8}
Bertobatlah dan hendaklah kamu masing-masing memberi dirimu dibaptis dalam nama Yesus Kristus untuk pengampunan dosamu, maka kamu akan menerima karunia Roh Kudus.

Kis 16:31
Percayalah kepada Tuhan Yesus Kristus dan engkau akan selamat,……”

Semua premi untuk aplikasi ini telah dibayar Lunas oleh Yesus!

TUHAN Jesus memberkati.


Alkisah ada sebuah legenda mengenai seorang pendeta di sebuah paroki kecil di daerah Midwestern yang sebagai seorang muda telah melakukan apa yang menurutnya adalah sebuah dosa yang amat besar. Sekalipun ia telah meminta pengampunan Tuhan, sepanjang hidupnya ia menanggung beban dari dosanya itu.

Sekalipun ia telah menjadi seorang pendeta, ia tetap tak dapat dengan tuntas meyakini bahwa Tuhan telah mengampuninya. Tetapi ia mendengar mengenai seorang wanita tua di jemaatnya yang kadangkala mendapatkan penglihatan. Di saat mendapat penglihatan tersebut, sang wanita seringkali saling berkata-kata dengan Tuhan.

Suatu hari sang pendeta berhasil mendapat cukup keberanian untuk mengunjungi wanita tersebut. Sang wanita mempersilahkannya masuk dan menyuguhkan secangkir teh. Pada akhir kunjungannya, si pendeta menaruh cangkirnya diatas meja dan memandang pada sang wanita.

“Benarkah kadang kala ibu mendapat penglihatan?” tanyanya.

“Ya”, ia menjawab.

“Apakah juga benar, bahwa saat penglihatan tersebut, ibu seringkali berkata-kata dengan Tuhan?”

“Ya”, jawabnya.

“Mmm… jika anda mendapatkan penglihatan lagi dan berkata-kata dengan Tuhan, maukah ibu tanyakan satu pertanyaan bagi saya?”.

Sang wanita memandang sedikit heran pada si pendeta. Belum pernah ia mendapat permintaan seperti itu.

“Ya, dengan senang hati,” jawabnya.

“Apa yang bapak ingin saya tanyakan?”

“Mmm…” sang pendeta memulai, “Tolong tanyakan pada Tuhan, dosa apakah yang pernah dilakukan pendetanya ini di masa mudanya.”

Sang wanita, benar-benar heran sekarang, segera saja setuju. Beberapa minggupun berlalu, dan sang pendeta sekali lagi mengunjungi wanita itu.

Setelah menikmati secangkir teh, dengan hati-hati dan malu-malu ia bertanya, “Sudahkah ibu mendapatkan penglihatan baru-baru ini?”

“Oh ya, saya mendapatkannya”, jawab sang wanita.

“Apakah anda saling berkata-kata dengan Tuhan?”

“Ya.”

“Apakah ibu bertanya kepada Tuhan dosa apakah yang pernah saya lakukan dimasa muda saya?”

“Ya,” sang wanita menjawab, “saya menanyakannya.”

Sang pendeta, gelisah dan takut, ragu-ragu sejenak dan kemudian bertanya,

“Lalu,apa yang Tuhan katakan?”

Sang wanita mengangkat wajahnya dan memandang si pendeta dan kemudian menjawab dengan lembut, “Tuhan mengatakan Ia tidak dapat lagi mengingatnya.”

Tuhan tidak hanya mengampuni dosa, Ia juga memilih untuk melupakannya. Alkitab menyatakan pada kita bahwa Ia mengambil dosa-dosa kita dan membenamkannya di bagian laut yang terdalam. Dan kemudian, sebagaimana yang pernah dikatakan oleh Corrie ten Boom, “Sesudah itu ia memasang sebuah papan bertuliskan, ‘Dilarang Memancing’.”

Jika Tuhan mengampuni kita, dapatkah kita melakukan sesuatu yang kurang dari itu?

TUHAN Jesus memberkati.


Pada suatu ketika, hiduplah seorang pedagang batu-batuan. Setiap hari dia berjalan dari kota ke kota untuk memperdagangkan barang-barangnya itu. Ketika dia sedang berjalan menuju ke suatu kota, ada suatu batu kecil di pinggir jalan yang menarik hatinya. Batu itu tidak bagus, kasar, dan tidak mungkin untuk dijual. Namun pedagang itu memungutnya dan menyimpannya dalam sebuah kantong, dan kemudian pedagang itu meneruskan perjalanannya.

Setelah lama berjalan, lelahlah pedagang itu, kemudian dia beristirahat sejenak. Selama dia beristirahat, dia membuka kembali bungkusan yang berisi batu itu. Diperhatikannya batu itu dengan seksama, kemudian batu itu digosoknya dengan hati-hati batu itu. Karena kesabaran pedagang itu, batu yang semula buruk itu, sekarang terlihat indah dan mengkilap. Puaslah hati pedagang itu, kemudian dia meneruskan perjalanannya.

Selama dia berjalan lagi, tiba-tiba dia melihat ada yang berkilau-kilauan di pinggir jalan. Setelah diperhatikan, ternyata itu adalah sebuah mutiara yang indah. Alangkah senangnya hati pedagang tersebut, mutiara itu diambil dan disimpannya tetapi dalam kantong yang berbeda dengan kantong tempat batu tadi. Kemudian dia meneruskan perjalanannya kembali.

Adapun si batu kecil itu merasa bahwa pedagang itu begitu memperhatikan dirinya, dan dia merasa begitu bahagia. Namun pada suatu saat mengeluhlah batu kecil itu kepada dirinya sendiri. “Tuan begitu baik padaku, setiap hari aku digosoknya walaupun aku ini hanya sebuah batu yang jelek, namun aku merasa kesepian. Aku tidak mempunyai teman seorangpun, seandainya saja Tuan memberikan kepadaku seorang teman”. Rupanya keluhan batu kecil yang malang ini didengar oleh pedagang itu. Dia merasa kasihan dan kemudian dia berkata kepada batu kecil itu “Wahai batu kecil, aku mendengar keluh kesahmu, baiklah aku akan memberikan kepadamu sesuai dengan yang engkau minta”. Setelah itu kemudian pedagang tersebut memindahkan mutiara indah yang ditemukannya di pinggir jalan itu ke dalam kantong tempat batu kecil itu berada.

Dapat dibayangkan betapa senangnya hati batu kecil itu mendapat teman mutiara yang indah itu. Sungguh betapa tidak disangkanya, bahwa pedagang itu akan memberikan miliknya yang terbaik kepadanya. Waktu terus berjalan dan si batu dan mutiara pun berteman dengan akrab. Setiap kali pedagang itu beristirahat, dia selalu menggosok kembali batu dan mutiara itu. Namun pada suatu ketika, setelah selesai menggosok keduanya, tiba-tiba saja pedagang itu memisahkan batu kecil dan mutiara itu. Mutiara itu ditempatkannya kembali di dalam kantongnya semula, dan batu kecil itu tetap di dalam kantongnya sendiri. Maka sedihlah hati batu kecil itu. Tiap-tiap hari dia menangis, dan memohon kepada pedagang itu agar mengembalikan mutiara itu bersama dengan dia. Namun seolah-olah pedagang itu tidak mendengarkan dia.

Maka putus asalah batu kecil itu, dan di tengah-tengah keputusasaannya itu, berteriaklah dia kepada pedagang itu “Oh tuanku, mengapa engkau berbuat demikian ? Mengapa engkau mengecewakan aku ?”

Rupanya keluh kesah ini didengar oleh pedagang batu tersebut. Kemudian dia berkata kepada batu kecil itu “Wahai batu kecil, kamu telah kupungut dari pinggir jalan. Engkau yang semula buruk kini telah menjadi indah. Mengapa engkau mengeluh ? Mengapa engkau berkeluh kesah ? Mengapa hatimu berduka saat aku mengambil mutiara itu daripadamu ? Bukankah mutiara itu miliku, dan aku bebas mengambilnya setiap saat menurut kehendakku ? Engkau telah kupungut dari jalan, engkau yang semula buruk kini telah menjadi indah. Ketahuilah bahwa bagiku, engkau sama berharganya seperti mutiara itu, engkau telah kupungut dan engkau kini telah menjadi milikku juga. Biarlah aku bebas menggunakanmu sekehendak hatiku. Aku tidak akan pernah membuangmu kembali”.

Mengertikah apakah maksud cerita di atas ? Yang dimaksud dengan batu kecil itu adalah kita-kita semua, sedangkan pedagang itu adalah Tuhan sendiri. Kita semua ini buruk dan hina di hadapanNya, namun karena kasihnya itu Dia memoles kita, sehingga kita dijadikannya indah di hadapanNya. Sedangkan yang dimaksud dengan mutiara itu adalah berkat Tuhan bagi kita semua. Siapa yang tidak senang menerima berkat ? Berkat itu dapat berupa apa saja dalam kehidupan kita sehari-hari, mungkin berupa kegembiraan, kesehatan, orangtua, saudara dan sahabat, dan banyak lagi. Apakah kita pernah bersyukur, setiap kali kita mendapat berkat itu ? Dan apakah kita tetap bersyukur, jika seandainya Tuhan mengambil semuanya itu dari kita ? Bukankah semua itu milikNya dan Ia bebas mengambilnya kembali kapanpun Ia mau ? Bersyukurlah selalu kepadaNya, karena Dia tidak akan pernah mengecewakan kita semua.

Ingatlah Yer 29:11 Bukankah Aku ini mengetahui rencana-rencanaKu kepadamu ? Yaitu rencana keselamatan dan bukannya rencana kecelakaan untuk memberikan kepadamu hari esok yang penuh harapan. dan ingatlah akan ayat 12: Maka kamu akan berseru dan datang kepadaKu untuk berdoa dan Aku akan mendengarkan kamu.

TUHAN Jesus memberkati…


Aku bermimpi suatu hari aku pergi ke surga dan seorang malaikat menemaniku dan menunjukkan keadaan di surga.

Kami berjalan memasuki suatu ruang kerja penuh dengan para malaikat.

Malaikat yang mengantarku berhenti di depan ruang kerja pertama dan berkata, ” Ini adalah Seksi Penerimaan. Disini, semua permintaan yang ditujukan pada Allah diterima”.

Aku melihat-lihat sekeliling tempat ini dan aku dapati tempat ini begitu sibuk dengan begitu banyak malaikat yang memilah-milah seluruh permohonan yang tertulis pada kertas dari manusia di seluruh dunia.

Kemudian aku dan malaikat-ku berjalan lagi melalui koridor yang panjang lalu sampailah kami pada ruang kerja kedua.

Malaikat-ku berkata, “Ini adalah Seksi Pengepakan dan Pengiriman.

Disini kemuliaan dan rahmat yang diminta manusia diproses dan dikirim ke manusia-manusia yang masih hidup yang memintanya”.

Aku perhatikan lagi betapa sibuknya ruang kerja itu. Ada banyak malaikat yang bekerja begitu keras karena ada begitu banyaknya permohonan yang dimintakan dan sedang dipaketkan untuk dikirim ke bumi.

Kami melanjutkan perjalanan lagi hingga sampai pada ujung terjauh koridor panjang tersebut dan berhenti pada sebuah pintu ruang kerja yang sangat kecil. Yang sangat mengejutkan aku, hanya ada satu malaikat yang duduk disana, hampir tidak melakukan apapun. “Ini adalah Seksi Pernyataan Terima Kasih”, kata Malaikatku pelan. Dia tampak malu.

“Bagaimana ini? Mengapa hampir tidak ada pekerjaan disini?”, tanyaku.

“Menyedihkan”, Malaikat-ku menghela napas. “Setelah manusia menerima rahmat yang mereka minta, sangat sedikit manusia yang mengirimkan pernyataan terima kasih”.

“Bagaimana manusia menyatakan terima kasih atas rahmat Tuhan?”, tanyaku.

“Sederhana sekali”, jawab Malaikat. “Cukup berkata : Terima kasih, Tuhan. Dan berbuatlah kebajikan bagi sesamamu serta jauhilah kejahatan”.

“Lalu, rahmat apa saja yang perlu kita syukuri”, tanyaku.

Malaikat-ku menjawab, “Jika engkau mempunyai makanan di lemari es, pakaian yang menutup tubuhmu, atap di atas kepalamu dan tempat untuk tidur, maka engkau lebih kaya dari 75% penduduk dunia ini.

“Jika engkau memiliki uang di bank, di dompetmu, dan uang-uang receh, maka engkau berada diantara 8% kesejahteraan dunia.

“Dan jika engkau mendapatkan pesan ini di komputer mu, engkau adalah bagian dari 1% di dunia yang memiliki kesempatan itu.

Juga…. “Jika engkau bangun pagi ini dengan lebih banyak kesehatan daripada kesakitan … engkau lebih dirahmati daripada begitu banyak orang di dunia ini yang tidak dapat bertahan hidup hingga hari ini.

“Jika engkau tidak pernah mengalami ketakutan dalam perang, kesepian dalam penjara, kesengsaraan penyiksaan, atau kelaparan yang amat sangat …. Maka engkau lebih beruntung dari 700 juta orang di dunia”.

“Jika orangtuamu masih hidup dan masih berada dalam ikatan pernikahan … maka engkau termasuk orang yang sangat jarang.

“Jika engkau dapat menegakkan kepala dan tersenyum, maka engkau bukanlah seperti orang kebanyakan, engkau unik dibandingkan semua mereka yang berada dalam keraguan dan keputusasaan.

“Jika engkau dapat membaca pesan ini, maka engkau menerima rahmat ganda, yaitu bahwa seseorang yang mengirimkan ini padamu berpikir bahwa engkau orang yang sangat istimewa baginya, dan bahwa, engkau lebih dirahmati daripada lebih dari 2 Milyar orang di dunia yang bahkan tidak dapat membaca sama sekali”.

Nikmatilah hari-harimu, hitunglah rahmat yang telah Tuhan anugerahkan kepadamu. Dan jika engkau berkenan, kirimkan pesan ini ke semua teman-teman-mu untu mengingatkan mereka betapa dirahmatinya kita semua. “Dan ingatlah tatkala Tuhanmu menyatakan bahwa, ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Aku akan menambahkan lebih banyak nikmat kepadamu’ “.

Ditujukan pada : Departemen Pernyataan Terima Kasih.
“Terima kasih, Tuhan! Terima kasih, Tuhan, atas anugerahmu berupa kemampuan untuk menerjemahkan dan membagi pesan ini dan memberikan aku begitu banyak teman-teman yang istimewa untuk saling berbagi”.

SUMBER:DARI TEMAN(ferdinand-nelwan-nothingwithoutjesus)

Sebuah kisah tentang sepasang suami-istri yg saling mencintai & hanya mempunyai seorang anak laki-laki. Mereka mencintai anaknya dengan sepenuh hati. Tetapi suatu hari anaknya harus berpisah dengan mereka karena anaknya itu masuk ke dinas ketentaraan (militer) dan dikirim ke suatu tempat untuk mengemban sebuah misi. Dia tidak pernah kembali dan diberitakan telah meninggal walaupun tubuhnya tidak pernah ditemukan. Pasangan yang sudah tua itu menolak kenyataan kalau anaknya telah meninggal. Mereka tetap berharap anaknya masih hidup.

Tahun demi tahun pun berlalu. Suatu hari, mereka menerima berita bahwa anak mereka masih hidup dan dirawat di rumah sakit. Pasangan itu sangat gembira dan meminta anaknya pulang secepat mungkin. Anaknya itu mengatakan kepada orangtuanya bahwa ketika dia berada di rumah sakit, dia bertemu seorang teman yang mampu membesarkan hati dan memberinya harapan untuk hidup. Dia ingin mengajak temannya itu bertemu dengan orangtuanya serta tinggal bersama mereka karena ia tak memiliki seorang keluarga pun di dunia ini. Awalnya orangtuanya menerima permintaannya dengan antusias. Kemudian dia mengatakan kepada mereka bahwa temannya itu tidak normal seperti yang lainnya. Kenyataannya, temannya itu cacat karena pernah menginjak ranjau di medan perang. Temannya itu kehilangan satu kaki dan satu tangan.

Setelah mendengar nasib temannya itu, orangtuanya tidak tertarik lagi pada temannya yang cacat itu dan mendesak anaknya untuk pulang sendirian. Anak itu terus memaksa agar dia diperkenankan membawa temannya, tetapi orangtuanya tetap tak menghiraukannya. Akhirnya dia tidak memenuhi permintaan orangtuanya.

Hari berganti hari. tetapi anaknya tidak kunjung pulang. Akhirnya mereka menerima berita tragis bahwa anaknya itu telah meninggal dunia karena penyakit yang dideritanya tak mampu diobati lagi. Pasangan itu pun menghadiri pemakaman anaknya yang telah diatur secara kemiliteran. Ketika mereka mendekati peti jenazah anaknya, mereka melihat tubuh anaknya berbaring di sana. Mulut mereka terkunci karena mereka menyadari bahwa anaknya itu ternyata hanya mempunyai satu tangan dan satu kaki.

Makna dari cerita di atas !

Setiap manusia itu memiliki kelemahan. Dan kita harus menerima segala kelemahan & kekurangan yang kita miliki begitu juga dengan kelemahan orang2 yang disekitar kita. Seperti keluarga, kawan2, kekasih, dsb. Dan kita juga haruslah bersyukur dengan segala apa yang kita punya, dan segala apa yang kita terima sebelum kita menyesal nantinya. Karena orang yang paling bahagia di dunia ini adalah orang yang mampu mensyukuri dan memanfaatkan apa yang ia miliki. Juga yang lebih penting, mulai sekarang bukalah hati untuk menerima segala kelemahan & kekurangan orang lain sebagaimana kita menerima kelemahan-kelemahan diri kita sendiri.

“Sebab itu terimalah satu akan yang lain, sama seperti Kristus juga telah menerima kita, untuk kemuliaan Allah.” [Roma 15 : 7]

SUMBER:Dari teman (ferdinand-nelwan-nothingwithoutjesus)

Tokoh revolusioner , DR Sun Yat Sen ketika dia mati pada tahun 1925, ditemukan surat wasiat yang ditulisnya demikian : “Saya adalah seorang Kristen, dan seumur hidup saya, telah berjuang melawan iblis ( maksudnya melawan pemerintahan monarki yang menganggap kaisar china sebagai TUHAN ) selama 40 tahun. Dan seharusnya kamu melakukan hal yang sama. Dan ketika saya mati, saya mau mati sebagai orang Kristen !”Luar biasa bukan ? sampai sekarang, namanya tetap dihormati di China, bahkan sampai seluruh dunia. Majalah TIME pernah memasukan namanya dalam daftar 100 orang yang paling berpengaruh.

“Tetapi hendaklah kamu menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja … “ Yakobus 1:22

Jangan menyepelekan kekuatan dari mendengar. Langkah pertama hidup sebagai orang percaya adalah MENDENGAR lalu langkah kedua adalah MELAKUKAN.

Keberhasilan hidup sebagai orang percaya ditentukan oleh rela atau tidaknya kita untuk belajar mendengar. Banyak orang ingin mengeluarkan luapan perasaan-nya. Mereka ingin didengar ! bukan ingin menjadi pendengar.

Yang saya maksud adalah mendengarkan Firman ! jangan sampai salah langkah. Tidak ada dalam Firman Tuhan yang mengatakan lakukan dulu baru mendengar. Wah ini berbahaya seperti Saul … Tapi mari kita rela untuk belajar mendengar.

Tetapi jawab Samuel: “Apakah TUHAN itu berkenan kepada korban bakaran dan korban sembelihan sama seperti kepada mendengarkan suara TUHAN? Sesungguhnya, mendengarkan lebih baik dari pada korban sembelihan, memperhatikan lebih baik dari pada lemak domba-domba jantan”. 1 Samuel 15:22

“Jadi, IMAN timbul dari PENDENGARAN, dan PENDENGARAN oleh firman Kristus.” Roma 10;17

Ia berkata kepada mereka: “Karena kamu kurang percaya. Sebab Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya sekiranya kamu mempunyai IMAN sebesar biji sesawi saja kamu dapat berkata kepada gunung ini: Pindah dari tempat ini ke sana , –maka gunung ini akan pindah, dan takkan ada yang mustahil bagimu.” Matius 17;20

Untuk memindahkan gunung, kita hanya perlu mempunyai IMAN sebesar biji sesawi. Cara menumbuhkan IMAN itu adalah MENDENGARKAN FIRMAN TUHAN.

Jadi ada PROSES untuk memindahkan gunung. Ada perjalanan waktu untuk menuju keberhasilan. Ada waktu yang harus ditunggu untuk membuat IMAN itu tumbuh. Intinya keberhasilan sebagai orang percaya TIDAK ADA YANG INSTAN !!! semuanya perlu PROSES dan WAKTU.

Banyak orang ingin makan buah tapi tidak mau menanam-nya. Mereka ingin HASIL bukan PROSES. Jika mental ini melekat dalam hidup kita, saya mau beritahu, hidup kita TIDAK AKAN PERNAH BERHASIL.

……Setiap pagi Ia mempertajam PENDENGARANKU untuk mendengar seperti seorang murid” Yesaya 50:4b

Saat yang terbaik untuk mendengarkan Firman Tuhan adalah disaat kita menyisakan waktu untuk bersekutu dengan Dia pada pagi hari. Cara yang paling ampuh adalah dengan MENGUCAPKAN Firman Tuhan dengan bersuara ketika kita membaca Firman. Disarankan jangan membaca dalam hati. Tapi ucapkanlah itu, minimal telinga kita mendengar.

Ibarat tanah yang selalu dipupuk dan disirami, maka tanah itu akan menumbuhkan benih yang sudah ditanam. Begitu juga IMAN. Jika setiap pagi kita rajin membaca Firman dengan bersuara, akan tiba waktunya IMAN itu tumbuh dengan sendirinya. Nah kalau IMAN itu sudah tumbuh, saatnya kita untuk MELAKUKAN FIRMAN. Dengan cara bagaimana ? dengan cara memindahkan gunung ! entah itu gunung masalahmu, gunung sakit penyakitmu, gunung persoalan pribadimu atau gunung apa saja yang menghalangi. Saya yakin, ketika gunung hidupmu sudah terangkat, maka didepanmu akan nampak jalan keberhasilan di depan matamu.

Jangan mendengarkan sesuatu yang salah. Seperti nasihat orang fasik ( mazmur 1;1 ). Orang fasik itu adalah gambaran dunia yang tidak mengenal Tuhan. Bahkan didalamnya juga termasuk orang Kristen yang tidak pernah membaca Firman Tuhan.

DR Creflo Dollar dalam kotbahnya pernah memberikan langkah-langkah yang akan ditempuh manusia jika manusia itu salah mendengar. Yaitu :

  1. SALAH MENDENGAR : ketika dia salah mendengar, maka dia akan
  2. SALAH MENGAMBIL KEPUTUSAN : ketika dia salah mengambil keputusan, maka langkah selanjutnya dia akan
  3. SALAH MELAKUKAN TINDAKAN : ketika dia sadar telah melakukan kesalahan, maka pada umumnya manusia akan
  4. MULAI MENYALAHKAN TUHAN ATAU ORANG LAIN : karena manusia akan berkata,”kenapa ENGKAU tidak memberitahukanku?” padahal kesalahan bukan pada Tuhan, melainkan manusia yang salah mendengar. Dan jika tetap seperti itu, maka
  5. KITA AKAN SULIT BERTUMBUH DAN BERKEMBANG, TERLEBIH LAGI BERHASIL.

Demikian juga DR Sun Yat Sen, seumur hidupnya dia terus berusaha mengejar keberhasilan hidupnya yaitu membawa masuk dalam kehidupan orang percaya. Mungkin bagi manusia, impian nya dikatakan kandas, tapi di dalam Tuhan, dia dipandang sebagai hamba yang berhasil karena terus MENGEJAR sekuat tenaga untuk membawa kemuliaan nama Tuhan.

Keberhasilan kita kelak, biarlah tujuan nya Cuma 1, yaitu membawa kemuliaan bagi nama Tuhan, dan bukan untuk memuaskan keinginan kita sendiri ( self oriented ).

“Atau kamu berdoa juga, tetapi kamu tidak menerima apa-apa, karena kamu salah berdoa, sebab yang kamu minta itu hendak kamu habiskan untuk memuaskan hawa nafsumu.” Yakobus 4:3

SUMBER:dari teman(ferdinand-nelwan-nothingwithoutjesus)

Ada di tanganku dua buah kotak yang telah Tuhan berikan padaku untuk dijaga.

Kata-Nya, “Masukkan semua penderitaanmu ke dalam kotak yang berwarna hitam.

Dan masukkan semua kebahagiaanmu ke dalam kotak yang berwarna emas.

” Aku melakukan apa yang Tuhan katakan.

Setiap kali mengalami kesedihan maka aku letakkan ia ke dalam kotak hitam. Sebaliknya ketika bergembira maka aku letakkan kegembiraanku dalam kotak berwarna emas.

Tapi anehnya, semakin hari kotak berwarna emas semakin bertambah berat. Sedangkan kotak berwarna hitam tetap saja ringan seperti semula.
Dengan penuh rasa penasaran, aku membuka kotak berwarna hitam.
Kini aku tahu jawabannya. Aku melihat ada lubang besar di dasar kotak berwarna hitam itu, sehingga semua penderitaan yang aku masukkan ke sana selalu jatuh keluar.

Aku tunjukkan lubang itu pada Tuhan dan bertanya,
“Kemanakah perginya semua penderitaanku?”

Tuhan tersenyum hangat padaku.
“AnakKu, semua penderitaanmu berada padaKu.”

Aku bertanya kembali,
“Tuhan, mengapa Engkau memberikan dua buah kotak, kotak emas dan kotak hitam yang berlubang?”

“AnakKu, kotak emas Kuberikan agar kau senantiasa menghitung rahmat yang Aku berikan padamu, sedangkan kotak hitam Kuberikan agar kau melupakan penderitaanmu.”

Ingat-ingatlah semua kebahagiaanmu agar kau senantiasa merasakan kebahagiaan. Campakkan penderitaanmu agar kau melupakannya.
GBU

sumber:dari teman (ferdinand-nelwan-nothingwithoutjesus)


Satu sore di sebuah mal, seorang anak berusia sekitar 8 tahun berlari kecil. Dengan baju agak ketinggalan mode, sandal jepit berlumur tanah, berbinar-binar senyumnya saat dia masuk ke sebuah counter es krim ternama.

Karena tubuhnya tidak terlalu tinggi, dia harus berjinjit di depan lemari kaca penyimpan es krim. Penampilannya yang agak lusuh jelas kontras dibanding lingkungan mal yg megah, mewah, indah dan harum.

“Mbak, Sunday cream berapa?” si bocah bertanya, sambil tetap berjinjit agar pramusaji dapat melihat sedikit kepalanya, yang rambutnya sudah lepek basah karena keringatnya berlari tadi.
“Sepuluh ribu!” yang ditanya menjawab.

Si bocah turun dari jinjitannya, lantas merogoh kantong celananya, menghitung recehan dan beberapa lembar ribuan lusuh miliknya.

Kemudian sigap cepat si bocah menjinjit lagi. “Mbak, kalo Plain cream yang itu berapa?”

Pramusaji mulai agak ketus, maklum di belakang pelanggan yang ingusan ini, masih banyak pelanggan “berduit” lain yang mengantri. “Sama aja, sepuluh ribu!” jawabnya.

Si bocah mulai menatap tangannya di atas kantong, seolah menebak berapa recehan dan ribuan yang tadi dimilikinya.
“Kalau banana split berapa, Mbak?”
“Delapan ribu!” ujar pramusaji itu sedikit menghardik tanpa senyum.

Berkembang kembali senyum si bocah, kali ini dengan binar mata bulatnya yang terlihat senang, “ya, itu aja Mbak, tolong 1 piring”. Kemudian si bocah menghitung kembali uangnya dan memberikan kepada pramusaji yang sepertinya sudah tak sabar itu.

Tidak lama kemudian sepiring banana split diberikan pada si bocah itu, dan pramusaji tidak lagi memikirkannya. Antrian pelanggan yang tampak lebih rapi dan berdandan trendi banyak sekali mengantri.

Detik berlalu menit, dan menit berlalu. Si bocah tak terlihat lagi dimejanya, Cuma bekas piringnya saja. Pramusaji tadi bergegas membersihkan sisa pelanggan lain. Termasuk piring bekas banana split bekas bocah tadi.

Bibirnya sedikit terbuka, matanya sedikit terbebalak. Ketika diangkatnya piring banana split bocah tadi, di baliknya ditemukan 2 recehan 500 rupiah dibungkus selembar seribuan.

Apakah ini?
Tips?
Terbungkus rapi sekali… rapi !

Terduduk si pramusaji tadi, di kursi bekas si bocah menghabiskan Banana splitnya. Ia tersadar, sebenarnya sang bocah tadi bisa saja Menikmati Plain Cream atau Sunday chocolate, tapi bocah itu mengorbankan keinginan pribadinya dengan maksud supaya bisa memberi tips kepada dirinya. Sisa penyesalan tersumbat di kerongkongannya. Disapu seluruh lantai dasar mall itu dengan matanya, tapi bocah itu tak tampak lagi.

Semua orang pasti tahu apa itu tips. Meskipun banyak sebetulnya artinya, bisa berarti ujung, bisa berarti kiat/nasehat/info, tapi juga bisa berarti uang persenan/uang rokok/uang jajan.

Memandang rendah orang lain berarti membuat diri sendiri rendah dihadapan TUHAN. TUHAN menciptakan setiap orang memiliki hak yang sama, kewajiban yang sama & kesempatan yang sama pula. Menghormati orang lain akan lebih baik daripada menunjukkan kesombongan & memberi penilaian buruk tentang seseorang.
Knowing from inside is better than from outside

TUHAN JESUS memberkati…

sumber:dari teman(ferdinand-nelwan-nothingwithoutjesus)

ADAKAH KITA BERSYUKUR DIHARI-HARI SULIT?

Berapa banyak dari hari-hari dalam kehidupan ini, kita dihadapkan pada persoalan-persoalan yang seolah-olah enggan untuk berlalu begitu saja.
Dan tak sedikit masalah tersebut menimbulkan masalah lainnya.
Adakah kita pernah luput dari perasaan kesal dan “pengen marah” saat-saat kita ‘kepepet’ dengan berbagai permasalahan tadi. Belum lagi saat setiap masalah yang ada bukanlah kita yang memulainya.

Sehingga adalah lumrah jika lontaran-lontaran kekesalan memenuhi pikiran, hati dan mulut. Mengeluh, ataupun memasang tampang mengeluh adalah salah satu cara untuk mengekspresikan betapa kita tidak terima terhimpit permasalahan–lagi-lagi permasalahan yang ‘dilimpahkan’ oleh orang lain. Namun pada saat seperti itu, masih ada suara yang berbisik, “Adakah kasih di hatimu? Di mana kau tinggalkan Aku?”
Tapi, sekali lagi, dengan berbagai macam alasan seperti: “Loh, itu kan bukan salahku, itu kan bukan bagianku…kenapa aku yang dipersulit.” atau, “Apa tidak ada yang bisa mengerti kalau aku juga punya masalah?” dan lain sebagainya. Bersungut-sungut pun berlanjut…
Namun suara itu masih saja setia…”Di manakah cahayaKu yang telah kuletakkan di matamu? Di mana cintaKu yang kucurahkan di hati dan mulutmu?”
Dan hati kita pun menjadi berat…berat dengan perasaan malu.
Teringat pada kata Paulus kepada umat di Filipi, “…lakukanlah segala sesuatu dengan tidak bersungut-sungut dan berbantah-bantahan, supaya kamu tiada beraib dan tiaga bernoda…” (Filipi 2:14-15a)

Mulut dan hati kita bersukacita saat menaikkan pujian, begitu pula saat pikiran melayang pada kasihNya yang ajaib tiada tara…tapi begitu mudahnya kita menodai kemuliaanNya dengan bersungut-sungut atas tanggung jawab dan permasalahan yang ada. Memang, beberapa kali, kita masih ingat bahwa kita sanggup ini, itu, jago ini, itu…dan kita lupa bahwa sebenarnya kita tidak ada apa-apanya tanpa embel-embel pendidikan, keluarga, status, kekayaan, pekerjaan. Namun, tetap saja kita masih sanggup berdiri tegak dan berkata, “Ya. saat ini saya mau coba menghadapi semuanya–jika perlu: dunia– SENDIRI!”
Dan hasilnya……?
“Dengan bertobat dan tinggal diam kamu akan diselamatkan, dalam tinggal tenang dan percaya terletak kekuatanmu” (Yesaya 30:15)
Tapi… “Tetapi kamu enggan, kamu berkata: “BUKAN, KAMI MAU NAIK KUDA DAN LARI CEPAT” maka kamu akan lari dan lenyap. Katamu pula,”KAMI MAU MENGENDARAI KUDA TANGKAS,”maka para pengejarmu akan lebih tangkas lagi. (Yesaya 30:16)

Ada banyak yang rela jatuh bangun demi menunjukkan pada dunia bahwa
“KAMI SANGGUP DENGAN KEKUATAN SAYA SENDIRI…. INILAH SAYA….(ha…ha…ha)”.
Dan saat jatuh…jatuh lebih dalam lagi.

Padahal hanya ada satu yang berani berjanji seperti ini, “Marilah kepadaKu semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu” (Matius 11:28)

Dan janji itu setia.

Saat kita mau dengan rendah hati menyerahkan segala beban kepadaNya, dan mau membiarkan hujan kasihNya membasahi dan membilas hati dan pikiran kita, maka benarlah apa yang telah dikatakanNya, “…karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. “(Matius 11:29)

Tidak perlu ngoyo…tidak perlu stress dan migrain segala. Sebab segala permasalahan menjadi hadiah yang begitu indah dariNya, saat kita merasakan betapa lemah lembut kasihNya dan betapa rendah hati diriNya…Dan yang kita rasakan hanya bahagia, haru dan sukacita… saat itu, segala permasalahan musnah…dan jalan keluar terbentang di muka sana, sebab Dia tidak pernah membiarkan semua pintu dan jendela tertutup bagi yang percaya kepadaNya.

Saat itu, adakah kita tersadar, dengan melepaskan segala kepunyaan kita, segala kedudukan dan keilmuan kita…Kita hanyalah sasaran dari curahan kasih Yesus yang paling besar, dan itu adalah hal yang akan membuat mulut,hati dan pikiran kita bersukacita saat permasalahan menghimpit…

“Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan bebanKu pun ringan”
(Matius 11:30)

TUHAN Jesus memberkati

DON’T BE SAD

Perhatikan hidup kamu. Bila kamu selalu cemas dan gelisah akan masalah kecil dan sepele, maka kamu hanya akan bisa mencapai hasil yang remeh dan sepele - itupun kalau kamu bisa mengatasi masalah tersebut. Bila tidak, tentu hasil lebih rendah yang kamu capai.

Bandingkan bila kamu menangani masalah-masalah besar. Seluruh tenaga dan pikiran akan tercurah, dan kamu tahu persis - bila kamu mampu mengatasinya maka hasil yang besar dan membanggakan yang kamu dapatkan.

Banyak orang tidak bisa maju, hanya karena mereka tidak memiliki masalah yang cukup besar untuk mendorong mereka maju. Mereka berhenti pada masalah-masalah kecil. Dan menyerah.

Bila hari ini kamu memutuskan untuk maju, beri diri kamu tantangan besar dari masalah besar. Hadapi dan taklukkan. Ucapkan selamat datang buat masalah besar dan tantangan besar. Karena itu hanya layak untuk orang besar seperti kamu.

Tetaplah bergerak maju, sekalipun lambat. Karena dalam keadaan tetap bergerak kamu menciptakan kemajuan. Adalah jauh lebih baik bergerak maju, sekalipun pelan, daripada tidak bergerak sama sekali.

Dalam hidup kita sering merasa buntu hanya karena kita ingin mengambil langkah yang terlalu besar. Langkah raksasa. Akibatnya, masalah kita jadi terlihat besar sekali, kompleks dan tak terselesaikan. Hasilnya, kamu hanya termenung dan tidak bergerak.

Sabar dan coba mundur sebentar. Perhatikan tantangan kamu. Tidakkah lebih mungkin kamu mengambil langkah-langkah pendek terus menerus - ketimbang berusaha menelan semua masalah sekaligus. Satu langkah kecil demi satu langkah kecil - asalkan kamu tidak berhenti - adalah cukup, karena kamu masih memiliki hari esok dan masih ingin bergerak maju. Dan bukan berhenti.

Bayangkan kamu berada di dasar sebuah sumur yang dalam, dan seseorang mulai menyekop tanah dan melemparkannya ke dalam sumur tempat kamu berada. Apa yang akan kamu kerjakan?

Apakah kamu akan menyerah dan berserah untuk dikubur, ataukah kamu akan naik ke setiap tanah yang dilemparkan hingga suatu nanti kamu bisa keluar dari sumur? Semua itu tergantung pada cara pandang kamu terhadap tanah yang dilemparkan. Apakah sebagai sesuatu yang akan mengubur kamu, atau sesuatu yang membantu kamu naik.

Pendek kata, ini semua adalah masalah sikap dan pola pandang. Setiap hari, masalah, rasa frustrasi, tantangan, dan ketidak pastian - dilemparkan ke arah kamu. Kamu dapat terkubur di dalamnya, bila kamu hanya berdiam diri. Atau, semua itu dapat mengangkat kamu ke tingkat yang lebih tinggi.

Apa yang kamu pilih? Apakah akan berdiam diri dan terkubur, ataukah naik dan terangkat? Tentukan pilihan kamu hari ini…!

Bersama Yesus, siapakah lawan kita… okeh !!. Ada pengharapan di dalam Yesus. Suasana kehidupanmu akan berubah setiap kali engkau memutuskan untuk menggunakan imanmu. Maju terus, temanku.
Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku, dan mengapa engkau gelisah di dalam diriku? Berharaplah kepada Allah! Sebab aku bersyukur lagi kepadaNya, penolongku dan Allahku. (Maz 42:12)

KISAH PENCURI KUE

Seorang wanita sedang menunggu di bandara suatu malam. Masih ada beberapa jam sebelum jadwal terbangnya tiba. Untuk membuang waktu, ia membeli buku dan sekantong kue di toko bandara lalu menemukan tempat untuk duduk. Sambil duduk wanita tersebut membaca buku yang baru saja dibelinya.

Dalam keasyikannya tersebut ia melihat lelaki disebelahnya dengan begitu berani mengambil satu atau dua dari kue yang berada diantara mereka. Wanita tersebut mencoba mengabaikan agar tidak terjadi keributan.

Ia membaca, mengunyah kue dan melihat jam. Sementara si Pencuri Kue yang pemberani menghabiskan persediaannya. Ia semakin kesal sementara menit-menit berlalu. Wanita itupun sempat berpikir Kalau aku bukan orang baik, sudah kutonjok dia! Setiap ia mengambil satu kue, Si lelaki juga mengambil satu. Ketika hanya satu kue tersisa, ia bertanya-tanya apa yang akan dilakukan lelaki itu. Dengan senyum tawa di wajahnya dan tawa gugup, Si lelaki mengambil kue terakhir dan membaginya dua. Si lelaki menawarkan separo miliknya, sementara ia makan yang separonya lagi. Si wanita pun merebut kue itu dan berpikir Ya ampun orang ini berani sekali, dan ia juga kasar, malah ia tidak kelihatan berterima kasih. Belum pernah rasanya ia begitu kesal.

Ia menghela napas lega saat penerbangannya diumumkan. Ia mengumpulkan barang miliknya dan menuju pintu gerbang. Menolak untuk menoleh pada si “Pencuri tak tahu terima kasih!”.

Ia naik pesawat dan duduk di kursinya, lalu mencari bukunya, yang hampir selesai dibacanya. Saat ia merogoh tasnya, ia menahan napas dengan kaget. Di situ ada kantong kuenya, di depan matanya. Koq milikku ada di sini erangnya dengan patah hati, Jadi kue tadi adalah miliknya dan ia mencoba berbagi.

Terlambat untuk minta maaf, ia tersandar sedih. Bahwa sesungguhnya dialah yang kasar, tak tahu terima kasih dan dialah pencuri kue itu.

Dalam hidup ini kisah pencuri kue seperti tadi sering terjadi. Kita sering berprasangka dan melihat orang lain dengan kacamata kita sendiri.

Serta tak jarang kita berprasangka buruk. Orang lainlah yang kasar, orang lainlah yang tak tahu diri, orang lainlah yang berdosa, orang lainlah yang salah. Padahal kita sendiri yang mencuri kue tadi, padahal kita sendiri yang tidak tahu.

Kita sering mengomentari, mencemooh pendapat atau gagasan orang lain sementara sebetulnya kita tidak tahu betul permasalahannya.

GBU

KISAH ARLOJI YANG HILANG

Ada seorang tukang kayu. Suatu saat ketika sedang bekerja, secara tak disengaja arlojinya terjatuh dan terbenam di antara tingginya tumpukan serbuk kayu. Arloji itu adalah sebuah hadiah dan telah dipakainya cukup lama. Ia amat mencintai arloji tersebut. Karenanya ia berusaha sedapat mungkin untuk menemukan kembali arlojinya. Sambil mengeluh mempersalahkan keteledoran diri sendiri si tukang kayu itu membongkar tumpukan serbuk yang tinggi itu. Teman-teman pekerja yang lain juga turut membantu mencarinya. Namun sia-sia saja. Arloji kesayangan itu tetap tak ditemukan. Tibalah saat makan siang. Para pekerja serta pemilik arloji tersebut dengan semangat yang lesu meninggalkan bengkel kayu tersebut. Saat itu seorang anak yang sejak tadi memperhatikan mereka mencari arloji itu, datang mendekati tumpukan serbuk kayu tersebut. Ia menjongkok dan mencari. Tak berapa lama berselang ia telah menemukan kembali arloji kesayangan si tukang kayu tersebut. Tentu si tukang kayu itu amat gembira. Namun ia juga heran, karena sebelumnya banyak orang telah membongkar tumpukan serbuk namun sia-sia. Tapi anak ini cuma seorang diri saja, dan berhasil menemukan arloji itu. “Bagaimana caranya engkau mencari arloji ini ?”, tanya si tukang kayu. “Saya hanya duduk secara tenang di lantai. Dalam keheningan itu saya bisa mendengar bunyi tik-tak, tik-tak. Dengan itu saya tahu di mana arloji itu berada”, jawab anak itu. Keheningan adalah pekerjaan rumah yang paling sulit diselesaikan selama hidup. Sering secara tidak sadar kita terjerumus dalam seribu satu macam ‘kesibukan dan kegaduhan’. Ada baiknya kita menenangkan diri kita terlebih dahulu sebelum mulai melangkah menghadapi setiap permasalahan. “Segenggam ketenangan lebih baik dari pada dua genggam jerih payah dan usaha menjaring angin.” (Pengkhotbah 4:6). ” TUHAN JESUS memberkati.

KETIKA MASALAH DATANG

Ketika masalah datang dan sepertinya tidak ada jalan keluar penyelesaiannya, aku datang menghadap-Nya dan duduk dibawah kaki-Nya,

Kataku, “Tuhan, mengapa Engkau mengijinkan semua ini terjadi didalam hidupku ?”

Jawab-Nya, “Apa hikmat yang kau dapat dari semua ini ?”

Jawabku, “Saya mulai rajin berdoa memohon kekuatan, membaca Sabda-Mu dan masih banyak lagi.”

Kata-Nya, “Teruskan semua itu. Janganlah kamu berhenti melakukan semua itu.”

Tanyaku lagi, “Lalu, sampai kapan semua masalah ini berakhir ?”

Jawab-Nya, “Karena rancangan-Ku bukanlah rancanganmu dan jalan-Ku bukanlah jalanmu.

Apakah engkau tidka percaya akan rancangan-Ku atas hidupmu ?”

Jawabku, “Tuhan, kuatkanlah hatiku, teguhkanlah imanku, buat aku melihat keajaiban-Mu.
Berikanlah rahmat kebijaksanaan kepadaku dan rahmat pengertian.
Isilah terus hati yang kosong dengan Cinta Kasih yang berasal dari-Mu.
Ingatkanlah terus bahwa setiap yang terjadi pasti ada hikmat yang bisa diambil dan tanamkanlah terus menerus bahwa suatu hari akan indah pada waktunya.
Bukan waktuku namun waktu-Mu.
Terjadilah padaku menurut kehendak-Mu saja, bukan kehendakku.
Terima kasih Yesus ku.”

MANAKAH YANG AKAN ANDA PILIH?

Sekelompok anak kecil sedang bermain di dekat dua jalur kereta api. Jalur yang pertama adalah jalur aktif (masih sering dilewati KA), sementara jalur kedua sudah tidak aktif. Hanya seorang anak yang bermain di jalur yang tidak aktif (tidak pernah lagi dilewati KA), sementara lainnya bermain di jalur KA yang masih aktif.

Tiba-tiba terlihat ada kereta api yang mendekat dengan kecepatan tinggi. Kebetulan Anda berada di depan panel persimpangan yang mengatur arah KA tersebut. Apakah Anda akan memindahkan arah KA tersebut ke jalur yang sudah tidak aktif dan menyelamatkan sebagian besar anak kecil yang sedang bermain??? Namun hal ini berarti Anda mengorbankan seorang anak yang sedang bermain di jalur KA yang tidak aktif. Atau Anda akan membiarkan kereta tersebut tetap berada di jalur yang seharusnya?

Mari berhenti sejenak dan berpikir keputusan apa yang sebaiknya kita ambil???
Sebagian besar orang akan memilih untuk memindahkan arah kereta dan hanya mengorbankan jiwa seorang anak. Anda mungkin memiliki pilihan yang sama.

Saya-pun mempunyai pilihan demikian karena dengan menyelamatkan sebagian besar anak dan hanya kehilangan seorang anak adalah sebuah keputusan yang rasional dan dapat disyahkan baik secara moral maupun emosional.

Namun sadarkah Anda bahwa anak yang memilih untuk bermain di jalur KA yang sudah tidak aktif, berada di pihak yang benar karena telah memilih untuk bermain di tempat yang aman? Disamping itu, dia harus dikorbankan justru karena kecerobohan teman-temannya yang bermain di tempat berbahaya.

Dilema semacam ini terjadi di sekitar kita setiap hari. Di kantor, di masyarakat, di dunia politik dan terutama dalam kehidupan demokrasi, pihak minoritas harus dikorbankan demi kepentingan mayoritas. Tidak peduli betapa bodoh dan cerobohnya pihak mayoritas tersebut.

Nyawa seorang anak yang memilih untuk tidak bermain bersama teman-temannya di jalur KA yang berbahaya telah dikesampingkan. Dan bahkan mungkin kita tidak akan menyesalkan kejadian tersebut.

Seorang teman yang men-forward cerita ini berpendapat bahwa dia tidak akan mengubah arah laju kereta karena dia percaya anak-anak yang bermain di jalur KA yang masih aktif sangat sadar bahwa jalur tersebut masih aktif. Akibatnya mereka akan segera lari ketika mendengar suara kereta mendekat.

Jika arah laju kereta diubah ke jalur yang tidak aktif maka seorang anak yang sedang bermain di jalur tersebut pasti akan tewas karena dia tidak pernah berpikir bahwa kereta akan menuju jalur tersebut.

Disamping itu, alasan sebuah jalur KA dinonaktifkan kemungkinan karena jalur tersebut sudah tidak aman. Bila arah laju kereta diubah ke jalur yang tidak aktif maka kita telah membahayakan nyawa seluruh penumpang di dalam kereta. Dan mungkin langkah yang telah ditempuh untuk menyelamatkan sekumpulan anak dengan mengorbankan seorang anak, akan mengorbankan lagi ratusan nyawa penumpang di kereta tersebut.

Kita harus sadar bahwa HIDUP penuh dengan keputusan sulit yang harus dibuat. Dan mungkin kita tidak akan menyadari bahwa sebuah keputusan yang cepat tidak selalu menjadi keputusan yang benar.

“Ingatlah bahwa sesuatu yang benar tidak selalu populer………dan sesuatu yang populer tidak selalu benar”

MENGENAL, LEBIH PENTING

Alkisah, pada suatu hari, diadakan sebuah pesta emas peringatan 50 tahun pernikahan sepasang kakek -nenek. Pesta ini pun dihadiri oleh keluarga besar kakek dan nenek tersebut beserta kerabat dekat dan kenalan.

Pasangan kakek-nenek ini dikenal sangat rukun, tidak pernah terdengar oleh siapapun bahkan pihak keluarga mengenai berita mereka perang mulut. Singkat kata, mereka telah mengarungi bahtera pernikahan yang cukup lama bagi kebanyakan orang. Mereka telah dikaruniai anak-anak yang sudah dewasa dan mandiri baik secara ekonomi maupun pribadi. Pasangan tersebut merupakan gambaran sebuah keluarga yang sangat ideal.

Di sela-sela acara makan malam yang telah tersedia, pasangan yang merayakan peringatan ulang tahun pernikahan mereka ini pun terlihat masih sangat romantis. Di meja makan, telah tersedia hidangan ikan yang sangat menggiurkan yang merupakan kegemaran pasangan tersebut.

Sang kakek pun, pertama kali melayani sang nenek dengan mengambil kepala ikan dan memberikannya kepada sang nenek, kemudian mengambil sisa ikan tersebut untuknya sendiri.

Sang nenek melihat hal ini, perasaannya terharu bercampur kecewa dan heran. Akhirnya sang nenek berkata kepada sang kakek: “Suamiku, kita telah melewati 50 tahun bahtera pernikahan kita. Ketika engkau memutuskan untuk melamarku, aku memutuskan untuk hidup bersamamu dan menerima dengan segala kekurangan yang ada untuk hidup sengsara denganmu walaupun aku tahu waktu itu kondisi keuangan engkau pas-pasan. Aku menerima hal tersebut karena aku sangat mencintaimu. Sejak awal pernikahan kita, ketika kita mendapatkan keberuntungan untuk dapat menyantap hidangan ikan, engkau selalu hanya memberiku kepala ikan yang sebetulnya sangat tidak aku suka, namun aku tetap menerimanya dengan mengabaikan ketidak sukaanku tersebut karena aku ingin membahagiakanmu. Aku tidak pernah lagi menikmati daging ikan yang sangat aku suka selama masa pernikahan kita. Sekarangpun setelah kita berkecukupan, engkau tetap memberiku hidangan kepala ikan ini. Aku sangat kecewa, suamiku. Aku tidak tahan lagi untuk mengungkapkan hal ini.”

Sang kakek pun terkejut dan bersedihlah hatinya mendengarkan penuturan Sang nenek. Akhirnya, sang kakek pun menjawab, “Istriku, ketika engkau memutuskan untuk menikah denganku, aku sangat bahagia dan aku pun bertekad untuk selalu membahagiakanmu dengan memberikan yang terbaik untukmu. Sejujurnya, hidangan kepala ikan ini adalah hidangan yang sangat aku suka. Namun, aku selalu menyisihkan hidangan kepala ikan ini untukmu, karena aku ingin memberikan yang terbaik bagimu. Semenjak menikah denganmu, tidak pernah lagi aku menikmati hidangan kepala ikan yang sangat aku suka itu. Aku hanya bisa menikmati daging ikan yang tidak aku suka karena banyak tulangnya itu. Aku minta maaf, istriku.”

Mendengar hal tersebut, sang nenek pun menangis. Merekapun akhirnya berpelukan. Percakapan pasangan ini didengar oleh sebagian undangan yang hadir sehingga akhirnya merekapun ikut terharu.

Kadang kala kita terkejut mendengar atau mengalami sendiri suatu hubungan yang sudah berjalan cukup lama dan tidak mengalami masalah yang berarti, kandas di tengah-tengah karena hal yang sepele, seperti masalah pada cerita di atas.

Kualitas suatu hubungan tidak terletak pada lamanya hubungan tersebut, melainkan terletak sejauh mana kita mengenali pasangan kita masing-masing.

TUHAN JESUS memberkati.

MUJIZAT NYANYIAN SEORANG KAKAK

Kisah nyata ini terjadi di sebuah Rumah Sakit di Tennessee , USA . Seorang ibu muda, Karen namanya sedang mengandung bayinya yang ke dua. Sebagaimana layaknya para ibu, Karen membantu Michael anaknya pertama yang baru berusia 3 tahun bagi kehadiran adik bayinya. Michael senang sekali akan punya adik. Kerap kali ia menempelkan telinganya diperut ibunya. Dan karena Michael suka bernyanyi, ia pun sering menyanyi bagi adiknya yang masih diperut ibunya itu. Nampaknya Michael amat sayang sama adiknya yang belum lahir itu. Tiba saatnya bagi Karen untuk melahirkan. Tapi sungguh diluar dugaan, terjadi komplikasi serius. Baru setelah perjuangan berjam-jam adik Michael dilahirkan. Seorang bayi putri yang cantik, sayang kondisinya begitu buruk sehingga dokter yang merawat dengan sedih berterus terang kepada Karen; bersiaplah jika sesuatu yang tidak kita inginkan terjadi. Karen dan suaminya berusaha menerima keadaan dengan sabar dan hanya bisa pasrah kepada yang Kuasa. Mereka bahkan sudah menyiapkan acara penguburan buat putrinya sewaktu-waktu dipanggil Tuhan. Lain halnya dengan kakaknya Michael, sejak adiknya dirawat di ICU ia merengek terus! Mami, … aku mau nyanyi buat adik kecil! Ibunya kurang tanggap. Mami, … aku pengen nyanyi! Karen terlalu larut dalam kesedihan dan kekuatirannya. Mami, … aku kepengen nyanyi! Ini berulang kali diminta Michael bahkan sambil meraung menangis. Karen tetap menganggap rengekan Michael rengekan anak kecil. Lagi pula ICU adalah daerah terlarang bagi anak-anak. Baru ketika harapan menipis, sang ibu mau mendengarkan Michael. Baik, setidaknya biar Michael melihat adiknya untuk yang terakhir kalinya. Mumpung adiknya masih hidup! Ia d ice gat oleh suster didepan pintu kamar ICU. Anak kecil dilarang masuk!. Karen ragu-ragu. Tapi, suster…. suster tak mau tahu; ini peraturan! Anak kecil dilarang dibawa masuk! Karen menatap tajam suster itu, lalu katanya: Suster, sebelum menyanyi buat adiknya, Michael tidak akan kubawa pergi! Mungkin ini yang terakhir kalinya bagi Michael melihat adiknya! Suster terdiam menatap Michael dan berkata, tapi tidak boleh lebih dari lima menit!. Demikianlah kemudian Michael dibungkus dengan pakaian khusus lalu dibawa masuk ke ruang ICU. Ia didekatkan pada adiknya yang sedang tergolek dalam sakratul maut. Michael menatap lekat adiknya … lalu dari mulutnya yang kecil mungil keluarlah suara nyanyian yang nyaring “… You are my sunshine, my only sunshine, you make me happy when skies are grey …” Ajaib! si Adik langsung memberi respon. Seolah ia sadar akan sapaan sayang dari kakaknya. You never know, dear, How much I love you. Please don’t take my sunshine away. Denyut nadinya menjadi lebih teratur. Karen dengan haru melihat dan menatapnya dengan tajam dan terus, … terus Michael! teruskan sayang! … bisik ibunya … The other night, dear, as I laid sleeping, I dream, I held you in my hands … dan sang adikpun meregang, seolah menghela napas panjang. Pernapasannya lalu menjadi teratur … I’ll always love you and make you happy, if you will only stay the same … Sang adik kelihatan begitu tenang … sangat tenang. Lagi sayang! bujuk ibunya sambil mencucurkan air matanya. Michael terus bernyanyi dan … adiknya kelihatan semakin tenang, relax dan damai … lalu tertidur lelap. Suster yang tadinya melarang untuk masuk, kini ikut terisak-isak menyaksikan apa yang telah terjadi atas diri adik Michael dan kejadian yang baru saja ia saksikan sendiri. Hari berikutnya, satu hari kemudian si adik bayi sudah diperbolehkan pulang. Para tenaga medis tak habis pikir atas kejadian yang menimpa pasien yang satu ini. Mereka hanya bisa menyebutnya sebagai sebuah therapy ajaib, dan Karen juga suaminya melihatnya sebagai Mujizat Kasih Ilahi yang luar biasa, sungguh amat luar biasa! tak bisa mengungkapkan dengan kata-kata. Bagi sang adik, kehadiran Michael berarti soal hidup dan mati. Benar bahwa memang Kasih Ilahi yang menolongnya. Dan ingat Kasih Ilahi pun membutuhkan mulut kecil si Michael untuk mengatakan “How much I love you”. Dan ternyata Kasih Ilahi membutuhkan pula hati polos seorang anak kecil “Michael” untuk memberi kehidupan. Itulah kehendak Tuhan, tidak ada yang mustahil bagiNYA bila IA menghendaki terjadi. Note: Kadang hal-hal yang menentukan, dalam diri orang lain … Datang dari seseorang yang kita anggap lemah … Hadir dari seseorang yang kita tidak pernah perhitungkan …

ADAKAH KITA BERSYUKUR DIHARI-HARI SULIT?

Berapa banyak dari hari-hari dalam kehidupan ini, kita dihadapkan pada persoalan-persoalan yang seolah-olah enggan untuk berlalu begitu saja.
Dan tak sedikit masalah tersebut menimbulkan masalah lainnya.
Adakah kita pernah luput dari perasaan kesal dan “pengen marah” saat-saat kita ‘kepepet’ dengan berbagai permasalahan tadi. Belum lagi saat setiap masalah yang ada bukanlah kita yang memulainya.

Sehingga adalah lumrah jika lontaran-lontaran kekesalan memenuhi pikiran, hati dan mulut. Mengeluh, ataupun memasang tampang mengeluh adalah salah satu cara untuk mengekspresikan betapa kita tidak terima terhimpit permasalahan–lagi-lagi permasalahan yang ‘dilimpahkan’ oleh orang lain. Namun pada saat seperti itu, masih ada suara yang berbisik, “Adakah kasih di hatimu? Di mana kau tinggalkan Aku?”
Tapi, sekali lagi, dengan berbagai macam alasan seperti: “Loh, itu kan bukan salahku, itu kan bukan bagianku…kenapa aku yang dipersulit.” atau, “Apa tidak ada yang bisa mengerti kalau aku juga punya masalah?” dan lain sebagainya. Bersungut-sungut pun berlanjut…
Namun suara itu masih saja setia…”Di manakah cahayaKu yang telah kuletakkan di matamu? Di mana cintaKu yang kucurahkan di hati dan mulutmu?”
Dan hati kita pun menjadi berat…berat dengan perasaan malu.
Teringat pada kata Paulus kepada umat di Filipi, “…lakukanlah segala sesuatu dengan tidak bersungut-sungut dan berbantah-bantahan, supaya kamu tiada beraib dan tiaga bernoda…” (Filipi 2:14-15a)

Mulut dan hati kita bersukacita saat menaikkan pujian, begitu pula saat pikiran melayang pada kasihNya yang ajaib tiada tara…tapi begitu mudahnya kita menodai kemuliaanNya dengan bersungut-sungut atas tanggung jawab dan permasalahan yang ada. Memang, beberapa kali, kita masih ingat bahwa kita sanggup ini, itu, jago ini, itu…dan kita lupa bahwa sebenarnya kita tidak ada apa-apanya tanpa embel-embel pendidikan, keluarga, status, kekayaan, pekerjaan. Namun, tetap saja kita masih sanggup berdiri tegak dan berkata, “Ya. saat ini saya mau coba menghadapi semuanya–jika perlu: dunia– SENDIRI!”
Dan hasilnya……?
“Dengan bertobat dan tinggal diam kamu akan diselamatkan, dalam tinggal tenang dan percaya terletak kekuatanmu” (Yesaya 30:15)
Tapi… “Tetapi kamu enggan, kamu berkata: “BUKAN, KAMI MAU NAIK KUDA DAN LARI CEPAT” maka kamu akan lari dan lenyap. Katamu pula,”KAMI MAU MENGENDARAI KUDA TANGKAS,”maka para pengejarmu akan lebih tangkas lagi. (Yesaya 30:16)

Ada banyak yang rela jatuh bangun demi menunjukkan pada dunia bahwa
“KAMI SANGGUP DENGAN KEKUATAN SAYA SENDIRI…. INILAH SAYA….(ha…ha…ha)”.
Dan saat jatuh…jatuh lebih dalam lagi.

Padahal hanya ada satu yang berani berjanji seperti ini, “Marilah kepadaKu semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu” (Matius 11:28)

Dan janji itu setia.

Saat kita mau dengan rendah hati menyerahkan segala beban kepadaNya, dan mau membiarkan hujan kasihNya membasahi dan membilas hati dan pikiran kita, maka benarlah apa yang telah dikatakanNya, “…karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. “(Matius 11:29)

Tidak perlu ngoyo…tidak perlu stress dan migrain segala. Sebab segala permasalahan menjadi hadiah yang begitu indah dariNya, saat kita merasakan betapa lemah lembut kasihNya dan betapa rendah hati diriNya…Dan yang kita rasakan hanya bahagia, haru dan sukacita… saat itu, segala permasalahan musnah…dan jalan keluar terbentang di muka sana, sebab Dia tidak pernah membiarkan semua pintu dan jendela tertutup bagi yang percaya kepadaNya.

Saat itu, adakah kita tersadar, dengan melepaskan segala kepunyaan kita, segala kedudukan dan keilmuan kita…Kita hanyalah sasaran dari curahan kasih Yesus yang paling besar, dan itu adalah hal yang akan membuat mulut,hati dan pikiran kita bersukacita saat permasalahan menghimpit…

“Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan bebanKu pun ringan”
(Matius 11:30)

TUHAN JESUS memberkati.

SESUATU TIDAK SELALU TERLIHAT SEBAGAIMANA ADANYA

Dua orang malaikat berkunjung ke rumah sebuah keluarga kaya. Keluarga itu sangat kasar dan tidak mengijinkan kedua malaikat itu bermalam di ruang tamu yang ada di rumahnya. Malaikat tersebut ditempatkan pada sebuah kamar berukuran kecil yang ada di basement.

Ketika malaikat itu hendak tidur, malaikat yang lebih tua melihat bahwa dinding basement itu retak. Kemudian malaikat itu memperbaikinya sehingga retak pada dinding basement itu lenyap.

Ketika malaikat yang lebih muda bertanya mengapa ia melakukan hal itu , malaikat yang lebih tua menjawab : “Sesuatu tidak selalu kelihatan sebagaimana adanya”.

Malam berikutnya , kedua malaikat itu beristirahat di rumah seorang petani dan istrinya yang miskin tetapi sangat ramah. Setelah membagi sedikit makanan yang ia punyai , petani itu mempersilahkan kedua malaikat untuk tidur di atas tempat tidurnya.

Ketika matahari terbit keesokan harinya , malaikat menemukan bahwa petani itu dan istrinya sedang menangis sedih karena sapi mereka yang merupakan sumber pendapatan satu-satunya bagi mereka terbaring mati.Malaikat yang lebih muda merasa geram. Ia bertanya kepada malaikat yang lebih tua. “Mengapa kau membiarkan hal ini terjadi ?Keluarga yang pertama memiliki segalanya , tapi engkau menolong menambalkan dindingnya yang retak. Keluarga ini hanya memiliki sedikit tetapi walaupun demikian mereka bersedia membaginya dengan kita. Mengapa engkau membiarkan sapinya mati ?”

Malaikat yang lebih tua menjawab : “Sesuatu tidak selalu kelihatan sebagaimana adanya”.

“Ketika kita bermalam di basement , aku melihat ada emas tersimpan di lubang dalam dinding itu. Karena pemilik rumah sangat tamak dan tidak bersedia membagi hartanya ,aku menutup dinding itu agar ia tidak menemukan emas itu.” “Tadi malam ketika kita tidur di ranjang petani ini , malaikat maut datang untuk mengambil nyawa istrinya. Aku memberikan sapinya agar malaikat maut tidak jadi mengambil istrinya. Sesuatu tidak selalu kelihatan sebagaimana adanya”

Kadang , itulah yang kita rasakan ketika kita berpikir bahwa sesuatu tidak seharusnya terjadi. Jika kita punya iman , kita hanya perlu percaya sepenuhnya bahwa semua hal yang terjadi adalah demi kebaikan kita. Kita mungkin tidak menyadari hal itu sampai saatnya tiba

GBU

Ukuran kedewasaan seseorang bisa dilihat dari bagaimana responnya ketika ditegur oleh orang lain. Hari ini gua belajar hal itu. Ditegur ketika salah dan berani mengakuinya butuh pikiran yang tenang, tidak cepat emosi, dan tidak buru-buru mengambil sikap ofensif. Gua akui, gua memang salah dan gua secara pribadi diingatkan kembali untuk menghormati orang lain apapun latar belakangnya. Ketika kita disayangi oleh orang lain, sudah sepatutnya pula kita juga tetap menghargai orang itu dan menjadi sahabat baginya.

TUHAN YESUS memberkati :afro:.