Menyebut nama Allah ?

Apakah maksud anda berhubungan dengan nama YHVH (יהוה) ?

Sebenarnya masalah seseorang atau sekelompok orang ingin mengagungkan nama2 tertentu, itu adalah hak individu, saya ambil contoh bung Boy diatas lebih suka menyebut TUHAN atau ALLAH, yaitu adalah haknya, tidak ada larangan bagi dia utk menyebutnya demikian kan ?
Lagi pula yg tidak jelas itu kan bagi anda, tapi bagi mereka hal itu jelas, sehingga mereka menggunakannya, apakah anda punya masalah dengan sikap mereka ?

Pertanyaannya apa ya ?
Kalau yg anda maksud apakah “ALLAH” adalah nama Tuhan bagi Islam, itulah adanya.
Benar ada perbedaan antara sarjana2 Islam, mengenai apakah “ALLAH” nama pribadi atau sebutan seperti halnya “GOD” atau “TUHAN”, sejauh ini “ALLAH” lah yg diyakini sebagai nama pribadi.
Nama “ALLAH” sendiri disebutkan sebanyak +/- 2700 kali dalam AQ.
Dalam tradisi Islam, ada 99 nama yg merujuk kepada “ALLAH”, silakan anda cari di google.
Itu sebabnya mengapa AQ tidak diterjemahkan kedalam bahasa lain, salah satunya adl utk menghindari salah penterjemahan, mengingat keterbatasan kosa kata dlm bahasa2 tertentu, namun mengenai pelafalannya tentu saja sesuai dengan lidah masing, ada yg menyebut ALLOH (dengan suara dalam dan penyebutan AL agak panjang) ada juga yg menyebut AULOH, jadi tergantung lidahnya.
Maaf saya tidak akan menjelaskan panjang lebar mengenai hal ini, karena ada rule yg harus dihargai.

Berbicara tentang nama, tidak terlepas dari bicara tentang bahasa.

Saat manusia memberi nama, nama itu dilafalkan dalam bahasanya. Entah itu bahasa Inggris, Rusia, China, Indonesia, Arab, Ibrani, Yunani, Latin, Prancis atau Jerman dan lain-lainnya.

Saat manusia menyebut Allah dengan sebuah nama, nama itu lahir dari budaya dan bahasa bangsanya.

YHWH atau YHVH adalah tulisan yang kita jumpai dalam teks Ibrani kitab suci orang Israel. Teks itu berkaitan dengan nama atau sebutan dari Allah yang disampaikan Musa kepada bangsa Israel. Teks itu ditulis dalam bahasa Ibrani dan dilafalkan dalam lafal Ibrani. Saat manusia menganggap nama itu adalah nama asli dari Allah pencipta langit dan bumi, yang berlogat Ibrani, bukankah kita sedang menganggap bahasa Allah adalah bahasa Ibrani?

Mengapa kita berfikir bahwa kita sanggup mengucapkan nama Allah yang sebenarnya dengan bahasa manusia? Sedangkan teks dalam bahasa Inggris sulit diucapkan seorang yang berlogat bahasa China, sebaliknya seorang yang biasa dengan bahasa Jerman akan kesulitan saat melafalkan nama dalam bahasa Korea. Keterbatasan bahasa manusia seharusnya disadari sebagai alasan mengapa Allah menyatakan diri kepada manusia dengan berbagai sebutan. Hanya menggunakan 4 huruf saja untuk mudah diingat, bahkan jika digabung dengan kalimat yang lain bentuk hurufnya pun berubah dalam bahasa Ibrani, bagaimana mungkin kita masih berfikir sanggup menyebut nama Allah dalam bahasa manusia.

1 Korintus 14:2, menceritakan tentang bahasa Roh, bahasa yang dikaruniakan oleh Roh Kudus dimana ditulis hanya Allah saja yang mengerti, manusia tidak dapat menerti tanpa karunia menterjemahkan bahasa Roh. Bukanlah bahasa Allah lebih dari bahasa Roh? Bukankah namaNya yang sebenarnya tidak mungkin kita dapat lafalkan didalam tubuh dan lidah dosa ini?

Wahyu 14:3, diceritakan tenang 144.000 orang yang di Surga bersama Kristus, mereka menyanyikan sebuah nyanyian yang tidak dapat di dipelajari oleh mahluk lainnya. Mereka adalah orang-orang yang sempurna (tanpa cacat) yang ditebus oleh Kristus sebagai buah sulung (ayat 4). Menggambarkan tentang Surga tingkat tiga, yang diceritakan Paulus dalam 2 Korintus 12:2 yang beberapa gereja, terutama yang mempelajari Tabernakel menyamakan dengan tingkatan kekudusan Kemah Suci, dan beberapa lagi menganggap seperti “puncak gunung Sion”.

Bahasa itu saja tidak dapat dipelajari oleh yang lain, apalagi nama Allah? Wahyu 14:1, mereka yang tanpa cacat cela (sempurna) akan mengenal nama tersebut, Nama Anak dan Bapa. Nama yang Maha Kudus, nama yang Maha Mulia. Memahaminya saja rasanya ingin saya berlutut.

Sekarang 4 huruf YHWH atau YHVH ataupun TUHAN ataupun GOD, bukankah semua itu adalah sebutan yang dinyatakan oleh Allah kepada manusia. Ulangan 29:29, apa yang tersembunyi adalah bagi Allah, yang dinyatakan adalah bagi manusia. Nama Allah, tidak dinyatakan kepada kita selama kita memiliki tubuh dosa ini yang berasal dari tubuh Adam yang terhukum karena dosa.

Mengapa manusia harus ribut dengan nama yang bukan nama diri yang sebenarnya dari Allah? Panggilah dia Bapa, TUHAN, Allah, Adonai, Yahweh, GOD, apapun sebutanNya yang layak, maka Allah akan tahu apakah kita menyebut namaNya atau tidak, sebab Allah melihat hati, bukan mulut kita dengan bahasa manusia yang berbeda-beda dan logat yang tidak sama.

Saya setuju pendapat bahwa Musa melarang menyebut nama Allah dengan sembarangan adalah bahwa kita harus menghormati Allah, bukan hanya dihadapan Kemah Suci saja, tetapi juga dimana saja. Jangan nama TUHAN dijadikan “murahan” sebab namaNya mewakili diriNya.

Mat 18:20 “Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam Nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka.”

Tentang nama ALLAH dalam iman Islami, saya rasa kita sebagai umat Kristiani tidak seharusnya menelaah terlalu dalam dan membandingkan dengan kata Allah dalam Alkitab.

Mereka memiliki iman sendiri dan memiliki nabi besarnya sendiri dan memiliki kitab sucinya sendiri yang semuanya berbeda walau sepintas sama.

Nama orang, nama tempat, cerita kejadian dalam Al-Quran memang secara historis berasal dari kitab-kitab Yahudi dan kitab Injil. Jadi bukan sebuah keheranan jika ada kesamaan penggunaan kata seperti kata Allah, Al-Masih ad-Dajjal, Isa, Musa, Ibrahim dan sebagainya dalam Alkitab terjemahan Arab. Sebab iman Kristiani telah sampai ke tanah Arab pada masa itu dan berada juga didalam tengah masyarakat tempat nabi besar Islam tinggal.

Selain telaah bahasa, tidak baik jika kita mencoba menselaraskan iman dengan iman islami. Jika mereka (islam) menganggap kata الله‎ (baca: Awloh) adalah nama diri (dalam teks dan lafal Arab) dari Tuhan, biarlah mereka mengimani iman mereka. Kita menggunakan kata Allah (bahasa Indonesia) sebagai sebutan untuk TUHAN. Jika akhirnya mereka juga menterjemahkan kata الله‎ (bahasa Arab) menjadi Allah (bahasa Indonesia), mengapa kita juga ambil pusing?

@ Abadonic,

[quote=" Boy"] Aslinya kan ditulis YHWH, jadi tidak mungkin terhapus. Sebaliknya lafaznya bisa terhapus tapi bukan hurufnya. Hurufnya disubtitusi dalam TUHAN terjemahan Indonsesia-Malay tapi tetap YHWH pada bahasa aslinya. [/quote] Berikut saya kutip nama Allah ” YHWH “dari bahasa Ibrani : יהוה ditranslate ke huruf latin sebagai “YHVH” atau “YHWH”, mana yg benar pakai “V” atau “W” ?

Abjad V=W dalam bahasa Ibrani, no problem.

[quote=" Boy"] Sekali lagi (huruf2 itu) tidak mungkin terhapus karena aslinya demikian. Yg terhapus ialah sebutannya saja. Karena tidak mahu disebut sebarangan, misalnya YHWH disebut YIHWIH atau jutaan sebutan, mending disubtitusikan ke kata2 lain yg lebih relevants spt TUHAN (mungkin ALLAH) tapi bukan Tuhan atau Allah. Tapi ada yg mau menyebutnya Yahweh atau Yehuwa, dua opsi yg disarankan para sarjana, ngga papa tapi jangan dipaksakan. Tapi secara pribadi, saya tidak memilih kedua2 opsi itu, saya lebih senang dgn TUHAN (atau ALLAH). Alasan saya, nter salah sebut, misalnya kalu sememangnya BD ialah BUDI, tapi disebut BODO(H), marah ngga kalu si pemilik itu ternyata BUDI? [/quote] Menurut saya jika mau konsisten dalam menyebut nama Allah יהוה (YHVH) seharusnya tidak diganti dengan yg lain seperti Adonai ataupun ELOHIM karena jelas seperti anda tulis, karena kata ELOHIM bisa juga dipakai untuk dewa2 / ilah2 lain.

Dlm bahasa asli tidak diganti, tetap ditulis YHWH tapi tidak pada terjemahan, misalnya bhs Indonesia-Malay, bukankah tujuan terjemahan supaya dimengerti? Jadi untuk apa ditulis nama YHWH tapi menyebutnya tidak bisa. Jadi itu bukan soal inconsistent apa ya…

Mengenai disubtitusi dengan nama ELOHIM, itu dlm kasus2 tertentu saja, misalnya, kalu diketemukan frase “YHWH Adunay” maka ditulis Tuhan (Adunay) ALLAH (YHWH). Kata frase spt ini tidak banyak di Al-Kitab. Lazimnya yg paling banyak muncul ialah “YHWH Elohim”, jadi ditulis "TUHAN (YHWH) Allah (Elohim).

Adapun Elohim dikatakan juga dipakai untuk ilah2 lain, itu tidak perlu dipermasalahkan karena (1) konteks dapat menjelaskan mana elohim benar, mana dewa2 (2) biasanya terjemahan menulis Allah (Huruf kapital) utk memicu kpd Elohim yg benar, allah/ilah (huruf kecil) utk dewa2.

Bagaimana seseorang yg biasa menggunakan kata “ELOHIM” dgn pengertian dewa2, akan memahami bahwa yg dimaksud adl “YHVH” ?

Sudah dijelaskan diatas.

Sama seperti kata “ALLAH”, ketika anda mengatakan kata “ALLAH” kepada orang diluar lingkungan anda, maka kata “ALLAH” itu akan memiliki pengertian lain yg bisa saja tidak sama dengan yg anda maksud. Hal seperti itu tidak akan terjadi jika anda mengatakan Allah yg bernama YESUS misalnya atau Allah yg bernama Yahweh,

Saya pikir tidak, orang Kristen di Timur Tengah, Indonesia dan Malaysia apabila menyebut Allah tidak pernah terpikir itu memicu ke nama Allahnya muslim, menyebutnya aja berbeda, Alah ketimbang Alloh oleh muslim2. Jadi jelas perbedaan. Tidak ada kekeliruan. Lagian, kata Allah sering dihubungkan dengan Bapa, satu hal yg bagi muslim sangat taboo. FYI, hal ini tidak berlaku kepada suku2 bangsa lain, misalnya Inggris karena mrk memakai istilah God padanan utk Elohim.

Karena jelas kata “ALLAH” yg anda maksud akan berbeda ketika anda berbicara dgn orang yg bukan dari lingkungan anda. Jadi menurut saya nama pribadi sangatlah penting utk mengidentifikasi siapa pribadi yg dimaksud. Tetapi terserah pada pribadi masing2 bagaimana menerapkannya, karena itu adalah urusan pribadi dgn “sesembahannya”.

Yesus dan para rasul tidak memulihkan nama pribadi Allah orang Israel. Jadi nama pribadi itu bukan hal esensial bagi orang2 percaya dari PB. Bagi Yesus, sebutan2 dlm bhs Aramiyyah spt Elah dan Ab’ lebih common untuk memicu ke Allah Israel. Bagi para rasul yg menulis dalam bhs Yunani, Pater, Theos dan KYRIOS dipake untuk memicu kepada Allah. Jadi nama YHWH tidak dipertahankan oleh Yesus dan para rasul. Mrk tidak pernah memakai nama itu. Jadi jelas, nama itu bukan fokus bagi umat PB, nama itu ada tptnya tersendiri dlm sejarah Israel tapi nama itu tidak dalam sejarah umat PB.

Menurut pemikiran saya, nama YESUS dalam bahasa aslinya atau pengucapannya pada abad I juga tidak diketahui secara pasti bagaimana pelafalannya dan apakah tepat ditranslate sebagai YESUS. YESUS sendiri adl bangsa Israel, sebagai bangsa Israel tentu namanya pun tidak memiliki konsonan (e dan u) seperti halnya “YHVH”, entah kalau nama YESUS berasal dari bahasa Yunani ? mungkin anda tahu bagaimana nama YESUS jika ditulis sesuai dengan bahasa aslinya ?

Anda salah bro, nama Yesus yg dlm bhs Indonesia-Malay ialah transliterasi dari bhs Yunani, Iesous yg juga transliterasi dari bhs Ibrani Yesyuwah dan Aramiyyah, Yeshu. Ini masalah loghat tapi nama itu tetap dpt disebut atau ditulis. Lagian nama Yesus tidak berhenti disebut (tdk spt YHWH) bahkan dimasyhurkan ke seantero dunia. jadi salah bahkan tidak ilmiah mengatakan nama Yesus tdk dpt dilafaz atau ditulis.

[quote=" Boy"] Yer 23:27 yang merancang membuat umat-Ku melupakan nama-Ku dengan mimpi-mimpinya yang mereka ceritakan seorang kepada seorang, sama seperti nenek moyang mereka melupakan nama-Ku oleh karena Baal?

Nabi Yeremia aja menyebut nama Baal!
[/quote]
Ya, tapi mungkin yg dimaksud dengan menyebut nama allah2 lain, memiliki pengertian yg lebih luas luas.
Yeremia menyebut mereka “melupakan nama-Ku”, menurut saya mungkin bukan melupakan karena tidak lagi ingat, tapi mengabaikan (sengaja tidak mau menggunakan ) nama Allah mereka lagi dan beralih kepada Baal.

Saya hanya menjawab apa yg ditanya anda, yakni apa arti ‘tidak diperbolehkan menyebut nama ilah2 lain’, jadi jelas artinya hanya dihubungkan dengan pemujaan/penyembahan. Kalu mau ngomong nama ilah lain, misalnya saya mengajarnya di kelas alkitab, itu tidak termasuk bro.

[quote=" Boy"] Ingat, Roma 10:13 mengutip dari Yoel 2:32 yg menulis "...berseru kepada YHWH...", penulis Roma mensejajarkan YHWH dengan TUHAN. Dalam konteks Roma (PB), Tuhan adalah YESUS KRISTUS. Jadi itu fokus Roma (PB), nama YESUS (Kisah 4:12) bukan nama YHWH lagi; hanya nama itu saja yg meeyelamatkan kita. [/quote] Maksud anda mensejajarkan YHWH dgn TUHAN itu, menunjukan bahwa YHWH berbeda dengna TUHAN ? tolong dijelaskan.

Khan penulis Roma (Paulus) mengutip dari LXX, disana Yoel 2:32 ditulis, KYRIOS. Jadi maksud Paulus ialah Yesus adalah KYRIOS itu, lagian jabatan Yesus yg tidak dpt dipisahkan dari diri-Nya ialah Kyrios/Tuhan, sama dengan nama YHWH yg disubtitusikan oleh para penerjemah LXX. Tidak menjadi rahasia lagi bahwa dalam Injil, Yesus sendiri mengidentifikasikan diri-Nya sebagai YHWH PL. Itu sangat jelas!

Apakah nama “YHVH” diganti menjadi “YESUS” oleh penulis Roma ?

Begitulah menurut theologia para penulis PB. Yesus adalah YHWH PL. Ayat2 dari Kitab PL yg dikutip para penulis PB disejajarkan dengan Yesus. Ini bukan rahasia lagi. Jadi kita dapat menyimpul bahwa para penulis PB menyakini Yesus sebagai YHWH, Allah org Israel. Nama YHWH bukan fokus lagi. Nama YHWH dalam PB ialah Yesus.

Salam kasih.

Tidak juga, nama yg diberikan dalam suatu suku bangsa tertentu umumnya bersifat tetap (beberapa senang utk menganti nama, dan beberapa lagi dihubungkan dgn tradisi / kepercayaan bahwa nama bisa membawa beban tertentu bagi seseorang shg harus diganti).
Ada ayat Alkitab yg berbunyi : “itulah nama-Ku turun temurun” (kata ‘turun temurun’ mungkin bermakna selamanya / kekal).
Jika saya baca / pelajari Alkitab yang diyakini oleh kaum nasrani sebagai firman Allah (kata2 Allah), maka saya menganggap bahwa mereka (nasrani) percaya bahwa setiap kata dalam buku itu adalah benar2 dari Allah, sehubungan dgn kitab Taurat dimana nama Allah dicantumkan dan dipercaya oleh bangsa Israel (umat-Nya) pastilah mereka menganggap itu sebagai nama Allah yg se-benar2-nya, tetapi hal itu belum tentu diakui oleh bangsa2 lain (yg bukan umat-Nya), jadi tidak setiap manusia menganggap nama itu adalah asli.
Nama “YHVH” tidak pernah dikenal pada agama2 lain selain kristen (inipun tidak semua) dan yahudi, terlepas dari pelafalan nama tersebut, ketika seorang beragama yahudi atau kristen menyebut kata “YHVH”, itu merujuk pada Allah Israel (diterjemahkan Yahweh dalam Alkitab Indonesia).

Saya yakin Tuhanlah yg menciptakan bahasa manusia dengan bentuk tulisan dan logat yg berbeda, Allah pasti mengerti apa yg diucapkan oleh manusia dgn beragam bahasa dan logatnya, ketika orang Inggris menyebut Jesus Christ, dan orang Indonesia menyebut Yesus kristus, apakah Allah tidak akan mengerti dan menganggapnya salah ucap ?.
Di Indonesia ada yg bernama Moses, ada juga yg bernama Musa, tetapi ketika si Musa dipanggil Moses dia pasti mengira panggilannya bukan utk dia, demikian juga sebaliknya, nah jika kaidah ini diterapkan, maka ketika anda memanggil nama Yesus, mungkin saja bukan yg dimaksud adalah orang lain, bukan Tuhan atau Anak Allah.
Jika anda menggunakan alasan / argumen anda, maka anda tidak akan pernah bisa menyebut nama Yesus (Tuhan / Anak Allah) secara benar bukan ?, karena anda tidak akan berpikir bahwa anda akan sanggup menyebut nama Yesus dalam bahasa manusia (yg namanya diberikan sesuai dgn bahasa pada zamannya).

Tidak ada manusia yg tidak berasal dari Adam dan Hawa, bahkan Yesus sendiri dilahirkan melalui Hawa yg berdosa (walaupun telah disucikan rahimnya), dengan demikian nama Allah tidak akan pernah dinyatakan pada manusia, Yesus sendiri dihitung sebagai Anak Adam (silsilah keluarga Yesus).
Dengan demikian nama “YHVH” tidak akan pernah muncul, karena tidak ada manusia yg memiliki tubuh tanpa dosa.

Jadi menurut anda siapa nama Allah yg sebenarnya, diatas anda tulis “nama Allah tidak dinyatakan pada manusia dgn tubuh yg berdosa” ?

Apa yg anda maksud dengan menjadikan nama Tuhan sebagai “murahan” ?

Setiap orang memiliki kepentingannya sendiri dalam mempelajari sesuatu, mendalami apa yg dipercayai oleh orang lain tidaklah salah, sepanjang itu dijadikan bahan informasi ataupun studi banding.
Saya mempelajari Alkitab dan doktrin2 nasrani saat ini mungkin lebih dalam dari rekan seiman saya yg lain, dgn tujuan memperoleh informasi utk melengkapi pengetahuan saya, dan menurut saya tidak mengapa.

Benar, secara historis, semua manusia berasal dari satu pasangan, jadi tidak heran jika ada tradisi atau sesuatu yg lain yg mirip atau bahkan sama secara adat istiadat, dan semua saling mempengaruhi satu dgn yg lain.

Iman Kristiani berbeda dengan Iman Islam, semua punya caranya sendiri2.
Mungkin beberapa ada yg mencoba menyatukan ajaran Islam dan Kristen (Kris-Lam) dan membentuk kepercayaan baru, itu terserah mereka.
Kata2 dalam Bahasa Indonesia banyak yg diambil dari bahasa asing, jadi kata “Allah” bukan asli Indonesia, ada yg mengataka berasal dari Arab, yg lain mengatakan dari bahasa sangsekerta, yg pasti bukan berasal dari Indonesia. Jadi memang tidak perlu ambil pusing kalau nasrani ingin menggunakan kata “Allah” ya silakan saja.

Saya belum begitu mengerti apakah huruf terjemahan “YHVH” atau “YHWH” itu sebagai huruf Ibrani ataukah huruf Latin (A,B,C dst) ?

Ya itu termasuk di lingkungan sendiri, tapai ketika anda berbicara dengan saya misalnya, mengenai kata “ALLAH” / “TUHAN” apa yg ada dibenak anda akan berbeda dgn dibenak saya, tetapi ketika anda menyebut “YHWH” maka saya tidak akan merujuk pada “ALLAH” saya, jadi ada perbedaan yg sangat jelas.

Berikut tulisan dari nama Yesus dalam bahasa Ibrani “Yeshua”(ישוע), yg diterjemahkan kedalan bhs Yunani Iesous, nama asli dalam bahasa Ibrani tanpa huruf hidup(a,e,i,o,u) merujuk pada huruf יהוה (YHVH) terdapat penyisipan huruf2 hidup pada nama Yesus, yg saya maksudkan adalah bahwa sama seperti YHVH yg tidak / susah dibaca, maka nama Yesus juga sebenarnya sama2 tidak / susah utk dibaca, tetapi jika nama tsb tidak sulit utk dibaca atau dilafalkan, maka itu seharusnya berlaku juga pada nama YHVH.
Seperti anda tulis contoh penyisipan pada יהוה (dibaca : a.do.nai jika mengikuti pembacaan nama Yosua → ye.ho. ve??.ho ?? ) diterjemahkan YHVH sebagai YIHWIH, maka יהושע (dibaca : ye.ho.shu.a) yang berarti YHVH penyelamat, yg kemudian diterjemahkan sebagai Yesus, bisa saja seharusnya menjadi Yusus, Yoses, Yeso dll. Tetapi karena nama Yesus sdh sangat umum digunakan, maka nama Yahweh atau Yehuwa (Jehova) menjadi nama yg umum disebutkan.
Menurut saya nama YHVH tidak berhenti disebut, karena telah terkandung dalam arti nama Yesus.
Itu berarti menyebut nama Yesus secara sembarangan juga seharusnya berlaku seperti pada nama YHVH, dengan demikian jika orang kristen memaksudkan Yesus seharusnya dipanggil sebagai “ELOHIM” atau “Adonai” juga.
Akankah nama Yesus tidak dicantumkan dalam terjemahan Alkitab dan digantikan dengan “ELOHIM” atau “ADONAI”
?

Jika demikian seperti tulisan saya diatas, nama YESUS yg adalah YHVH juga bersifat sakral dan seharusnya diperlakukan sama seperti nama sebelumnya yaitu “YHVH” karena memaksudkan pribadi yg sama, sehingga harus disebut dengan “ELOHIM” atau “Adonai”.
Atau apakah pergantian nama, membuat nama tersebut boleh disebutkan secara bebas ?

thank’s link nya

Saya membaca sanggahan anda pada bagian pertama dan bagian kedua terlihat kontradiksi. Anda sendiri mengatakan Jesus atau Yesus sama saja, padahal menurut anda pada bagian pertama nama itu tetap melekat sesuai bahasa yang diturunkannya.

Konsep anda sama dengan konsep berfikir agama Islam. Dimana bahasa Arab dianggap sebagai bahasa Allah dan nama Tuhan adalah seperti apa yang ditulis oleh para sahabat Muhammad yang menjadi nabinya.

Saat saya lanjutkan membaca sanggahan anda, banyak dasar Alkitab yang tidak anda gunakan dalam menyanggah. Memang kita berhak menterjemahkan Alkitab secara bebas (liberal), tetapi sebagai seorang beriman kita harus tetap meletakan dasar pengajaran kepada Injil Kristus.

Jika Yesus tidak mempermasalahkan nama YHWH atau YHVH diterjemahkan dalam berbagai bahasa, mengapa kita membuat permasalahan baru? Bukankah sudah jelas yang dikatakan Paulus dalam Ilham Roh, 2 Korintus 3:14, “Tetapi pikiran mereka telah menjadi tumpul, sebab sampai pada hari ini selubung itu masih tetap menyelubungi mereka, jika mereka membaca perjanjian lama itu tanpa disingkapkan, karena hanya Kristus saja yang dapat menyingkapkannya.”

Saat Allah mengatakan sebutannya adalah YHWH, apakah Allah hendak mengatakan siapa namaNya kepada manusia? Seperti membuka kedok sebenarnya kepada siapa atau tepatnya Allah yang mana anda berbicara?

Satu hal yang diimani oleh iman Kristiani bahwa di jagad raya ini, diseluruh yang ada dan tiada, hanya ada satu penguasa yaitu TUHAN. Tidak ada yang lain yang setanding denganNya sehingga Allah harus membuka kedok siapa namaNya agar tidak salah dengan tandinganNya.

Baal dan nama-nama lain dewa-dewa yang disebutkan didalam Alkitab, tidakkah anda baca bahwa semua itu adalah kosong? Bukan sesuatu dan bukan apa-apa. Hanya ciptaan manusia saja, tidak dapat berbicara, berjalan dan menolong. Allah menjadi cemburu saat manusia menyembah kepada kesia-siaan dan berharap kepada yang bukan Allah.

Jika demikian apakah masih perlu manusia mengenal nama Allah yang sebenarnya sehingga tidak salah dengan jenis Tuhan yang lain?

Kita masih belum pantas dan layak untuk menyebut namaNya yang sebenarnya, seperti yang telah saya postingkan. Sedangkan dengan sebutanNya saja yang telah dinyatakan kepada kita, kita masih sering mengatakannya didalam kejahatan.

Engkau memang benar, ya TUHAN, bilamana aku berbantah dengan Engkau! Tetapi aku mau berbicara dengan Engkau tentang keadilan: Mengapakah mujur hidup orang-orang fasik, sentosa semua orang yang berlaku tidak setia? Engkau membuat mereka tumbuh, dan merekapun juga berakar, mereka tumbuh subur dan menghasilkan buah juga. Memang selalu Engkau di mulut mereka, tetapi jauh dari hati mereka. (Yeremia 12:1-2)

Mereka yang menyebut-nyebut nama TUHAN dan melakukan kejahatan, bagi mereka tidak layak dan itulah mengapa dikatakan Musa jangan menyebut nama Tuhan seenaknya, menjadikan namaNya “murahan”.

Saya hanya mengharapkan anda bersikap jujur terhadap Forum ini.

tergantung seperti apa anda menafsirkannya…

kalau anda merasa saya punya masalah dengan sikap yang tak jelas anda sebutkan mereka, pretensi anda untuk mengadu domba jelas terlihat

dan jika saudara tak bisa mengerti arti dari

“bersikeras bahwa keberagaman universal bukan suatu entitas dari kebertuhanan yang maha esa…”

saya berprasangka baik saja bahwa memang anda tidak ingin mengadu domba

:slight_smile:

lalu bagaimana manusia yang sudah dilahirkan buta dan tuli?

kehilangan hak akan TUHAN-NYA kah? karena tak bisa menyebut nama TUHAN dan tak tahu ada tentang nama TUHAN?

namun mungkin orang buta dan tuli yang sejak lahir itu mungkin lebih mengenal TUHAN daripada orang2 yang merasa diri hebat karena sudah tahu tentang nama tuhan/allah/yhwh/god?

:slight_smile:

Maaf saya blm paham dengan kontradiksi yg anda maksud ?
Yang saya tanggapi adl komentar anda sehubungan dengan penyebutan nama Allah yg sulit disebutkan oleh manusia karena adanya logat yg berbeda, sehingga terkesan lebih baik tidak disebutkan saja, daripada salah ucap.
Kemudian saya berikan contoh pengucapan yg berbeda (Inggris – Indonesia) dengan asumsi merujuk pada pribadi yg sama, akan lebih terlihat bedanya jika menggunakan bahasa Jepang – Indonesia, atau Cina-Indonesia (tapi saya kurang tahu bagaimana cara mereka mengucapkan nama Yesus dalam bahasa tersebut).
Artinya kendala bahasa yg berbeda tidak menjadikan bahwa nama Tuhan tidak perlu disebut karena ketidakmampuan utk melafalkan secara benar (gramatikal).
Contoh lain, misalnya Yehoshua (יהושע) yg artinya (YHVH penyelamat) bisa diterjemahkan sebagai Yosua putra Nun pada zaman Musa atau bisa juga diterjemahkan sebagai Yesus pada zaman rasul2, tetapi Yosua tidak sama dengan Yesus, maka jika mengacu kepada bahasa asli dimana nama tersebut muncul maka Yesus seharusnya dipanggil dengan nama Yosua, apakah ada kesalahan terjemahan ?

Saya tidak tahu bagaimana pandangan anda terhadap nama YHVH yg anda katakan sebagai “sebutan”, tapi saya melihat bagi orang kristen lain atau mungkin juga rekan anda diforum ini, nama YHVH adalah nama Allah bukan “sebutan” seperti yg anda tulis.
Dari sisi iman kristiani memang benar hanya ada satu penguasa yaitu “TUHAN”, tetapi bagi non kristiani tentunya berbeda, nabi Mikha mengatakan : “biarlah semua bangsa berjalan demi nama allahnya masing2.
1 Kor 8:5 “5 Sebab sungguhpun ada apa yang disebut “allah”, baik di sorga, maupun di bumi–dan memang benar ada banyak “allah” dan banyak “tuhan” yang demikian—“
mengapa menjadi tidak perlu mengenal nama satu2nya penguasa alam semesta, sedangkan Allah bangsa Israel telah menyatakannya kepada mereka melalui nabi Musa ?
jika memang Allah tidak perlu menyatakan nama-Nya, mengapa juga para nabi memerintahkan utk memuliakan nama-Nya, demikian juga para rasul bahkan Yesus sendiri telah memuliakan nama Allah ?

Itulah sebabnya mengapa nama menjadi penting; ketika seseorang menjadikan sebutan “OMG” secara jijik, apakah mereka memaksudkan Allah yg sebenarnya ?
Pantas atau tidaknya seseorang menyebut nama Tuhan, tergantung dari hatinya, Markus 8:6 : “Jawab-Nya kepada mereka: "Benarlah nubuat Yesaya tentang kamu, hai orang-orang munafik! Sebab ada tertulis: Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku.”
Jika manusia tidak pantas utk menyebut nama Allah, apakah pantas utk memohon sesuatu kepada-Nya, atau bahkan menghampirinya sekalipun dalam bentuk doa ?
Jika kita memiliki pandangan seperti itu, sampai kapanpun manusia tidak akan pernah pantas utk mendekati Allah karena bahkan utk memuliakan-Nya dengan menyebut nama-Nya pun dianggap tidak pantas.

Maksud anda bagaimana bung Kris ?

Adalah baik utk tidak berprasangka buruk terhadap orang lain, jika itu yg diyakini.

Jika anda percaya bahwa Tuhan itu adil, tidak ada satu manusiapun yg tidak bisa mengenal-Nya, masalahnya mungkin bukan apakah seseorang memiliki keterbatasan permanen tertentu, tetapi apakah “mau” atau “tidak mau” mengenal Tuhan.
Kecuali yang buta dan tuli hatinya sekalipun memiliki fisik yg normal, bagi orang2 seperti ini mungkin tidak pernah ingin mengenal nama Allah apalagi memyembahnya.

Bung Krispus,
Bung Abadonic,
Bung Cosmic Boy,

Saya senang membaca postingan anda anda di sini.

Oke bro, thanks, mohon bisa berpartisipasi secara aktif.

Maksud saya, didalam sebuah diskusi, jika selalu menyangga semua penjelasan yang dipaparkan dan selalu dikembalikan dan diarahkan kepada konsep pemikiran pribadi sebagai solusi, adalah seperti usaha untuk mempengaruhi orang lain bukan lagi hanya sedekar bentuk debat kusir. Ketidak jujuran sikap dalam sebuah diskusi merupakan sikap yang hanya menghendaki keributan, bukan mencari sebuah pemahaman atau kesepakatan.

Saya tidak akan melanjutkan penjelasan tentang topik ini, sebab bagi saya percuma anda tidak juga akan berusaha memahami pemikiran Kristen. Anda sebagai member non Kristen boleh saja berpendapat, walau kita telah jelaskan cara menafsirkan dan memaparkan ayat tidak sesuai dengan pengajaran KRISTUS. Jika anda ingin mengenal pengajaran Kristen tidak cukup hanya dengan bantuan software kitab suci. Tetapi anda harus berusaha mengenal pribadi YESUS, maka anda akan dengan mudah memahami apa yang dikatakan “sebab hukum yang tertulis mematikan, tetapi Roh menghidupkan.”

Bro Abadonic, saya pikir statements bro krispus ada benarnya. Tugas saya juga ialah untuk menjelaskan posisi Kristen/Al-Kitab bukan membuat batasan, anda salah, saya benar dan sebaliknya. Jadi tinggal baca saja, mau percaya, puji Tuhan, tidak mau juga ngga papa…hidayat bukan datang dari otak tapi dari dalam hati. Bukan usaha saya dan anda tapi karya Roh Kudus.

Tapi buat masa itu masih pada jalur yg betul, jadi sila lanjutkan.

Salam kasih.

Wah…, saat ini waktu saya masih tersita di tiga threat lainnya.
Biar saya jadi penonton saja dulu.

Sbnrnya ada apa ya dg masalah nama ini?