Mengapa ada "kesamaan" antara TRINITASnya Kristen mainstream dengan Agama PAGAN?

Menyambung dari thread sebelah yang udah closed:

Membangkitakan rasa penasaran saya mengenai TRINITAS,

Apakah ada yang dapat memberikan penjelasannya?

Yang saya ingin tahu mengapa ada “persamaannya”, bukan dijelaskan mengenai “perbedaannya”.

GBU

pantauajadulu.com :smiley:

sudah di cari siapakah peniliti tersebut dan apa dasarnya ?

saya juga punya peneliti kalau ALIEN Itu ada di dunia… tapi ga tau siapa peneliti tsb dan apa dasarnya… lalu saya berargumen bahwa itu HOAX

Mas, kan ada linknya, kok malah nanya saya?

termasuk linknya yang topic lama tersebut, bolehkan mas? :slight_smile:

:onion-head48: :onion-head29:

tentang ini om

Di bilang om :’(

Contoh:

Agama Zoroaster:

Ahura Mazda (also known as Ohrmazd, Ahuramazda, Hormazd, and Aramazd) is the Avestan name for a divinity of the Old Iranian religion who was proclaimed the uncreated God by Zoroaster, the founder of Zoroastrianism. Ahura Mazda is described as the highest deity of worship in Zoroastrianism, along with being the first and most frequently invoked deity in the Yasna. Ahura Mazda is the creator and upholder of asha (truth). Ahura Mazda is an omniscient, but not an omnipotent God, however Ahura Mazda would eventually destroy evil. Ahura Mazda’s counterpart is Angra Mainyu, the “evil spirit” and the creator of evil who will be destroyed before frashokereti (the destruction of evil).

Sumber:

http://www.crystalinks.com/z.html

The Hindu Trinity of Brahma the creator, Vishnu the preserver and Shiva the destroyer has also been said to constitute a Tritheistic belief system. Like the Christian Trinity, these beings are understood to work ultimately in harmony with one another, but this Hindu trinity does not have doctrinal status as in trinitarian Christianity, but is posited as simply one of many ways in which the Divine order of the universe may be understood. Ultimately, however, the Universal Spirit, the Param-atman, the Brahman (not to be confused with brahmin, a social class / caste), or Bhagvan reigns supreme, as one divine entity, in Hindu theology.

Sumber:

Ada yang mau menjelaskan? :mad0261:

Mas2 yang dari kristen mohon dibantu ya :ashamed0004: kalo di katolik terkenal dengan tradisinya, apakah ada yang mau menanggapi? :happy0025:

Pembahasannya bisa baca di artikel TUDUHAN MITOLOGI TENTANG YESUS KRISTUS, di http://www.sarapanpagi.org/tanggapan-tuduhan-mitologi-tentang-YESUS-KRISTUS-vt750.html

[quote=“BP”]TANGGAPAN : TUDUHAN MITOLOGI TENTANG YESUS KRISTUS

Salah satu tuduhan yang laris manis di kalangan muslim adalah bahwa YESUS adalah tokoh mitologi yang dicotek dari kebudayaan Mesir, Yunani dan Romawi kuno. Berikut salah satu contoh tuduhan tersebut.

[i]Sebuah mitologi yang serupa dengan kehidupan YESUS (versi Kristen) berdasarkan penelitian para sejarawan sbb :

  1. Dianggap Tuhan atau Dewa
    -YESUS —> Tuhan Kristen
    -Mithra —> Dewa Persia Kuno
    -Osiris —> Dewa Mesir Kuno
    -Baachus —> Tuhan Yunani Kuno

  2. Tanggal Kelahiran
    -YESUS —> Tanggal 25 Desember
    -Mithra —> Tanggal 25 Desember
    -Osiris —> Tanggal 25 Desember
    -Baachus —> Tanggal 25 Desember

  3. Pengharapan orang
    -YESUS —> Mesias yg ditunggu
    -Mithra —> Perantara yg ditunggu
    -Osiris —> Pembebas yg ditunggu
    -Baachus —> Pembebas yg ditunggu

  4. Lahir dari Ibu Perawan
    -YESUS —> Seorang perawan Maria
    -Mithra —> Seorang perawan Aishev
    -Osiris - → Seorang perawan Naeith
    -Baachus —> Seorang perawan Demeter

  5. Kematian
    -YESUS —> Mati Disalib
    -Mithra —> Mati Dibunuh
    -Osiris —> Mati Dibunuh
    -Baachus —> Mati Dibunuh

  6. Tujuan Kematian
    -YESUS → Menebus dosa manusia
    -Mithra → Menebus dosa manusia
    -Osiris → Menebus dosa manusia
    -Baachus → Menebus dosa manusia

  7. Kebangkitan
    -YESUS → 3 hari dr penyaliban
    -Mithra → 3 hari dr pembunuhan
    -Osiris → 2 hari 3 malam dari pembunuhan
    -Baachus → 3 hari dari pembunuhan

  8. Triteisme
    -YESUS → Oknum dr Trinitas (Anak,Bapa,ROH KUDUS)
    -Mithra → Oknum dr Tridewa (Mitra,Ahirman,Ohrzmad)
    -Osiris → Oknum dr Tridewa (Osiris,Isis,Horus)
    -Baachus → Oknum dr Tridewa (Baachus,Apolos,Yupiter)

  9. Kedatangan kedua kali ke dunia
    -YESUS → Menjelang kiamat
    -Mithra → Menjelang kiamat
    -Osiris → Menjelang kiamat
    -Baachus → Menjelang kiamat[/i]


TANGGAPAN :

Apakah tuduhan itu benar. Kita akan lihat satu demi satu tentang tokoh-tokoh dewa yang disebutkan diatas.

I. MITHRA

Mithologi Mithra terutama terdapat dalam 2 kebudayaan, yaitu kebudayaan Iran dan kebudayaan Roma. Catatan sejarah yang paling lama tentang dewa yang bernama Mithra Iran adalah sekitar 1400 SM.

Sumber :
Mithraic Studies : Proceedings of the First International Congress of Mithraic Studies.
Manchester U. Press, 1975, halaman ix.

The first remaining record of a god named Mithra appears as a deity invoked in a treaty dated 1400 BC thereafter he is one of several Indo-Iranian gods, and he is known for giving orders, assembling people, and marshalling them …… As such, Mithra was the guy who went around dishing out punishment to those who broke treaties. He was the “guardian of the truth,” “most dear to men,” one “whose long arms seize the liar,” who “injures no one and is everyone’s friend,” one who was all-seeing and all-knowing – the sun was his “eye” on the world. Mithra was responsible also for bringing rain, vegetation and health

Catatan paling awal yang ada tentang dewa bernama Mithra muncul dalam sebuah perjanjian ditahun 1400 SM, dari situ dia adalah seorang dari beberapa dewa Indo Iran, dan dikenal sebagai pemberi tugas, menciptakan manusia dan menjaganya…. Karenanya Mithra adalah adalah dewa yang berkeliling untuk menghukum mereka yang tidak menepati perjanjian. Dia adalah penjaga kebenaran, yang terbaik bagi manusia, dewa yang tangannya akan menangkap pembohong, yang tidak melukai siapapun dan adalah teman siapapun, dan yang melihat segala sesuatu dan mengetahui segala sesuatu. Matahari adalah matanya terhadap dunia. Mithra bertanggungjawab juga untuk mendatangkan hujan, tumbuh-tumbuhan dan kesehatan…

Dalam banyak kesempatan, Mithra Iran dipasangkan dengan dewa Varuna yang adalah dewa yang lebih tinggi dari Mithra. Varuna sendiri adalah dewa yang berhubungan dengan pertanian, jadi keduanya menjaga manusia dalam hal pertanian.

Sifat dewa Mithra Iran digambarkan sebagai dewa yang sabar. Namun dalam perkembangan dalam kebudayaan Arya, dewa Mithra Iran menjadi semacam pahlawan peperangan.
Setelah muncul Zoroaster, Mithra Iran berubah menjadi perantara antara Ohrmazd dan Ahriman, dewa kebaikan dan dewa kejahatan dalam mitologi dualisme Zoroaster. Mithra Iran juga mengalami penurunan pangkat menjadi satu dari 7 yazatas yang melayani dewa –dewa yang lebih tinggi tingkatannya.

Sumber :
The Mysteries of Mithra.
Franz Cumont
New York : Dover, 1950, halaman 5.

A cilantro later in Aryan history, he did become more of a warrior (previously, he had left a lot of the tail-kicking duties to Varuna), but then switched back to pacifism. But then Zoroastrianism came along, and Mithra had some new things to do. He served as mediator between Ohrmazd and Ahriman, the good and bad gods of Zoroastrian dualism; but at the same time, he underwent something of a demotion as he became one of a group of seven lesser yazatas who served the upper-level deities and was assigned some special escort duties: bringing demons to hell, and bringing souls to Paradise.

Tidak lama kemudian dalam sejarah Arya, dia menjadi pahlawan peperangan, namun kemudian berbalik menjadi anti perang. Namun kemudian datanglah pengajaran Zoroaster dan Mithra memiliki tugas baru untuk dilaksanakan. Dia menjadi perantara antara Ohrmazd dan Ahriman, dewa baik dan dewa jahat dalam agama dualisme Zoroaster, dan pada waktu yang bersamaan mengalami penurunan peringkat menjadi satu dari 7 yazatas yang bertugas melayani dewa-dewa yang lebih tinggi dan bertugas sebagai pengawal, membawa iblis ke neraka dan membawa jiwa ke surga.

Ada yang berpendapat bahwa Mithra Iran dan Mithra Romawi adalah satu kelanjutan. Padahal sebetulnya tidak ada hubungan antara keduanya.
Mithra Romawi baru ada sekitar pertengahan abad pertama.

Sumber :
The Origins of the Mithraic Mysteries
David Ulansey
Oxford University Press, revised paperback, 1991

Our earliest evidence for the Mithraic mysteries places their appearance in the middle of the first century B.C.: the historian Plutarch says that in 67 B.C. a large band of pirates based in Cilicia (a province on the southeastern coast of Asia Minor) were practicing “secret rites” of Mithras. The earliest physical remains of the cult date from around the end of the first century A.D., and Mithraism reached its height of popularity in the third century.

Bukti paling awal tentang misteri Mithra menempatkan kemunculan mereka di pertengahan abad pertama, seorang ahli sejarah Plutarch mengatakan di tahun 67 M, sekelompok besar bajak laut yang berdomisili di Kilikia (provinsi di pantai tenggara Asia Kecil) melakukan ritual rahasia Mithra. Bukti-bukti fisik paling awal dari pemujaan ini berasal dari akhir abad pertama masehi, dan mencapai popularitas tertinggi di abad ketiga masehi.

Mithra Romawi dikenal karena pengorbanan banteng, yang mana kisah ini tidak dijumpai sama sekali dalam Mithra Iran. Pengurbanan banteng dilakukan dengan tujuaan dimana kematian banteng akan dapat menumbuhkan jiwa baru.

Sumber :
Ency. of Religion and Ethics
Diedit oleh J. Hastings

… from the bulls death, other life springs forth ….
Dari kematian banteng, jiwa lain muncul

Selain tidak adanya pengurbanan banteng, pemujaan Mithra Iran tidak dilakukan dalam gua seperti yang dilakukan terhadap Mithra Roma.

Sumber :
The Origins of the Mithraic Mysteries
David Ulansey
Oxford University Press, revised paperback, 1991

Most significant among these is that there is no parallel in ancient Iran to the iconography which is the primary fact of the Roman Mithraic cult. For example, …. This scene shows Mithras in the act of killing a bull, accompanied by a dog, a snake, a raven, and a scorpion; the scene is depicted as taking place inside a cave …. This icon was located in the most important place in every mithraeum, and therefore must have been an expression of the central myth of the Roman cult. ……… However, the fact is that no such Iranian myth exists: in no known Iranian text does Mithra have anything to do with killing a bull.

Yang paling signifikan adalah tidak adanya kesamaan ikonograf antara Iran kuno dengan Mithra Romawi. Sebagai contoh …… Gambar ini menunjukkan Mithra melakukan pembunuhan banteng, ditemani oleh anjing, ular, gagak dan kalajengking, kejadian ini berlangsung didalam gua … Ikon ini terdapat dalam setiap mitraeum (gua tempat pemujaan Mithra Romawi) yang pasti adalah ekspresi mitologi utama dalam pemujaan Mithra Romawi. …. Namun, kisah ini tidak ada sama sekali dalam mitologi Iran, tidak ada sama sekali text Iran kuno yang menghubungkan Mithra dengan pembunuhan banteng.

Pada saat dilakukan Kongres Internasional tentang Mithra ditahun 1975, ketiadaan bukti tentang kontunuitas antara Mithra Iran dan Mithra Romawi menyebabkan para ahli menduga bahwa Mithra Romawi adalah ciptaan baru dengan menggunakan nama lama untuk mendapatkan kesan mistrius.

Mithraic Studies : Proceedings of the First International Congress of Mithraic Studies.
Manchester U. Press, 1975, halaman xiii.

“a new creation using old Iranian names and details for an exotic coloring to give a suitably esoteric appearance to a mystery cult”

kreasi baru dengan menggunakan nama kuno Iran ………”

Mithra Romawi sendiri baru berkembang diera Kristen.
Sumber :
Encyclopaedia Britannica 2003
Topik : Mithra

… in ancient Indo-Iranian mythology, the god of light, whose cult spread from India in the east to as far west as Spain, Great Britain, and Germany. (See Mithraism.) The first written mention of the Vedic Mitra dates to 1400 BC. His worship spread to Persia and, after the defeat of the Persians by Alexander the Great, throughout the Hellenic world. In the 3rd and 4th centuries AD, the cult of Mithra, carried and supported by the soldiers of the Roman Empire, was the chief rival to the newly developing religion of Christianity. …….

… dalam mitologi kuno Indo Iranian adalah dewa cahaya, yang pemujaannya tersebar dari India di timur hingga Spanyol, Inggris dan Jerman di barat. Catatan kuno pertama tentang Mitra bertarikh 1400 SM. Pemujaan Mithra tersebar ke Persia melalui kebudayaan Helenisme setelah kekalahan Persia oleh Alexander Agung. DI ABAD KE 3 DAN 4 MASEHI, pemujaan Mithra dilakukan oleh prajurit-prajurit Romawi dan menjadi rival bagi agama Kristen yang baru tumbuh …………

Atau menurut sumber berikut :

The Mysteries of Mithra
Franz Cumont
Chicago Open Court, tahun 1903, halaman 87ff.

The flowering of Mithraism occurred after the close of the New Testament canon, much too late for it to have influenced anything that appears in the New Testament.

Puncak dari ajaran Mithra terjadi setelah diselesaikannya kanon Perjanjian Baru, sangat terlambat untuk bisa mempengaruhi apapun dalam Perjanjian Baru.

Jadi Mithra Romawi baru tumbuh dan mencapai ketenarannya paling cepat setelah tahun 200 masehi atau 200 tahun setelah YESUS. Dan ini sangat mungkin diciptakan SETELAH Kekristenan berkembang untuk melawan gerakan Kekristenan

Jadi tampaknya bukan tokoh KRISTUS yang mencontek Mithra Romawi, melainkan Mithra Romawilah yang mencontek ketokohan KRISTUS.

Beberapa sanggahan.

I.1. TANGGAL KELAHIRAN : 25 Desember

Tanggal 25 Desember sebetulnya tidak relevan karena Alkitab tidak pernah menyatakan tanggal itu sebagai tanggal kelahiran YESUS.

Sumber :
Majalah Kalvari
Edisi 11, Desember 2002, halaman 10 – 11

Istilah Christmas baru muncul pada tahun 450 M ketika paus Yulius mengeluarkan dekrit bahwa seluruh umat Kristen harus merayakan hari kelahiran mesias pada saat yang bersamaan dengan perayaan Saturnalis …… Menurut penanggalan mereka (Romawi kuno), saat terjadinya titik balik matahari di musim dingin selalu jatuh pada tanggal 25 Desember dan itulah oleh penduduk Roma dirayakan sebagai hari kemenangan tuhan yang telah terlahir kembali ke dunia …… Perkembangan selanjutnya agama Kristen dikukuhkan menjadi agama resmi Negara tahun 313 oleh Konstantin Agung yang masuk Kristen tahun 312. Perayaan natal untuk menghormati kelahiran matahari sudah begitu merakyat sulit dihapuskan sehingga tetap dilakukan tetapi dialihkan pada perayaan kelahiran YESUS KRISTUS sang matahari sejati.

I.2. PENGHARAPAN ORANG : Perantara yang ditunggu

Dalam Mithra Iran memang bertugas sebagai perantara, namun perantara antara Ohrmazd dengan Ahriman sesuai kutipan diatas :

Dia menjadi perantara antara Ohrmazd dan Ahriman, dewa baik dan dewa jahat dalam agama dualisme Zoroaster

I.3 LAHIR DARI IBU PERAWAN : Seorang perawan Aishev

Proses kalahiran Mithra Romawi dari sebuah batu.

Sumber :
Mithraic Studies: Proceedings of the First International Congress of Mithraic Studies.
Manchester U. Press, 1975, halaman 173

Mithra “wearing his Phrygian cap, issues forth from the rocky mass. As yet only his bare torso is visible. In each hand he raises aloft a lighted torch and, as an unusual detail, red flames shoot out all around him from the petra genetrix.”

Mithra menggunakan topi Phyrgiannya, keluar dari batu. Saat hanya badannya yang terlihat. Di kedua tanganya yang terangkat terdapat cahaya obor dan kejadian yang tidak biasa, cahaya merah memancar disekitarnya dari petra genetrix

Atau sumber berikut :
Encyclopaedia Britannica
Edisi 2003
Mithra

According to myth, Mithra was born, bearing a torch and armed with a knife, beside a sacred stream and under a sacred tree, a culinary of the earth itself……

Menurut mitos, Mithra dilahirkan, membawa obor dan pisau, ditepi aliran sungai dibawah pohon suci, anak dari bumi ……

Jadi tidak ada konsep perawan disini karena Mithra Romawi dilahirkan dari sebuah batu.
Sementara Mithra Iran juga tidak dilahirkan dari perawan, melainkan ada beberapa versi kelahirannya.

Sumber :
The Mysteries of Mithra.
Franz Cumont
New York: Dover, 1950, halaman 16

to an incestuous relationship between Ahura-Mazda and his mother, or to the plain doings of an ordinary mortal woman…but there is no virgin conception/birth story to speak of.
Terhadap hubungan intim dalam keluarga antara Ahura Mazda dengan ibunya, atau perbuatan seorang wanita biasa …. Namun tidak ada konsep perawan yang diceritakan.

Memang ada tulisan yang menyatakan bahwa Mithra Iran dilahirkan oleh perawan Anahita seperti yang ditulis oleh situs berikut :
http://www.vetssweatshop.net/dogma.htm

Mithraism and Christianity

Mithras was born of Anahita, an immaculate virgin mother once worshipped as a fertility goddess before the hierarchical reformation. Anahita was said to have conceived the Saviour from the seed of Zarathustra preserved in the waters of Lake Hamun in the Persian province of Sistan. Mithra’s ascension to heaven was said to have occurred in 208 B.C.E., 64 years after his birth. Parthian coins and documents bear a double date with this 64 year interval.

[i]Mithra dilahirkan oleh Anahita, ibu perawan yang sempurna yang suatu waktu dipuja sebagai dewi kesuburan …… Anahita dikatakan mengandung sang Penyelamat dari benih Zarathustra yang disimpan dalam air di danau Hamun in propinsi Sistan di Persia.

Namun cerita ini tidak disertai dengan sumber-sumber kutipannya sepotongpun. Dari penelitian beberapa ahli diperkirakan tulisan ini dibuat oleh seorang anak SMA ditahun 1993 yang bernama David Fingrut yang menuliskan klaim diatas tanpa dukungan bukti apapun.

I.4. KEMATIAN : Mati Dibunuh

Tidak ada kisah dimana Mithra mati dibunuh.

Sumber :
Image and Value in the Greco-Roman World.
Richard Gordon
Aldershot: Variorum, 1996., halaman 96

I see no references anywhere in the Mithraic studies literature to Mithra being buried, or even dying, for that matter

Saya tidak melihat adanya referensi studi dimana Mithra dikuburkan, atau mati, ….

Karena tidak ada cerita kematian, tidak ada pula cerita kebangkitannya dan kedatangannya yang kedua kalinya.

I.5. KENAIKAN KE SURGA

Situs berikut mengklaim Mithra Iran naik ke surga.
http://www.vetssweatshop.net/dogma.htm

Mithraism and Christianity

……… Mithra’s ascension to heaven was said to have occurred in 208 B.C.E., 64 years after his birth….

…… Kenaikan Mithra ke surga dikatakan terjadi di tahun 208 SM, 64 tahun setelah kelahirannya…

Lagi-lagi situs diatas mengutip dari David Fingrut dan jelas tidak benar karena menempatkan kelahiran Mithra Iran disekitar tahun 272 SM. Sementara catatan tentang Mithra sudah ada sejak sekitar tahun 1400 SM.

I.6. TRITEISME : Oknum dari Tridewa (Mitra,Ahirman,Ohrzmad)

Mithra Iran menjadi perantara antara dewa Ahriman dan Ohrzmad dalam kepercayaan MULTI DEWA.


lanjutan:

[b]II. OSIRIS[/b]

Semua sumber kutipan diambil dari (kecuali disebutkan lain) :
Encyclopaedia Britannica
Edisi 2003
Topik : Osiris

II.1. TANGGAL KELAHIRAN : 25 Desember

The origin of Osiris is obscure; he was a local god of Busiris

Asal dari Osiris tidaklah jelas, dia adalah tuhan local di Busiris.

II.2. PENGHARAPAN ORANG : Pembebas yg ditunggu

By about 2400 BC, however, Osiris clearly played a double role: he was both a god of fertility and the embodiment of the dead and resurrected king. This dual role was in turn combined with the Egyptian concept of divine kingship: the king at death became Osiris, god of the underworld and the dead king’s son, the living king, was identified with Horus, a god of the sky. Osiris and Horus were thus father and son. The goddess Isis was the mother of the king and was thus the mother of Horus and consort of Osiris.

Disekitar 2400 SM, Osiris jelas memainkan 2 peran : dia adalah dewa kesuburan dan penjelmaan dari orang-orang mati dan raja yang dibangkitkan. Dua peran ini dikombinasikan dengan konsep Mesir tentang sifat ketuhanan raja membentuk konsep : raja saat meninggal menjadi Osiris, dewa bawah tanah dan anak sang raja yang meninggal diidentifikasikan sebagai Horus, dewa langit. Jadi Osiris adalah ayah sedangkan Horus adalah anak. Istri dari Osiris dan ibu dari Horus adalah dewi Isis

II.3. LAHIR DARI IBU PERAWAN : Seorang perawan Naeith

Tidak ada informasi tentang kelahiran Osiris dari Naeith.

II.4. KEMATIAN : Mati Dibunuh

According to the form of the myth reported by the Greek author Plutarch, Osiris was slain or drowned by Seth, who tore the corpse into 14 pieces and flung them over Egypt.

Menurut laporan pengarang Yunani bernama Plutarch, Osiris dibunuh atau ditenggelamkan oleh Seth, yang memotong mayat menjadi 14 bagian dan mencampakkannya diseluruh Mesir.

Osiris memang mati dibunuh.

II.5. TUJUAN KEMATIAN : OSIRIS : Menebus dosa manusia

Osiris was not only ruler of the dead but also the power that granted all life from the underworld, from sprouting vegetation to the annual flood of the Nile River. From about 2000BC onward it was believed that every man, not just the deceased kings, became associated with Osiris at death.

Osiris bukan hanya penguasa orang-orang mati tetapi memiliki kekuatan untuk menjaga kehidupan dari bawah tanah, dari pertumbuhan tanaman hingga banjir tahunan sungai Nil. Mulai dari sekitar 2000 SM dipercaya bahwa setiap orang, bukan hanya raja saja, bersatu dengan Osiris saat kematian.

Jadi tidak ada konsep penebusan dosa, melainkan untuk menjaga kehidupan.

II.6. KEBANGKITAN : 2 hari 3 malam dari pembunuhan

Isis and her sister Nephthys found and buried all the pieces, except the phallus, thereby giving new life to Osiris, who thenceforth remained in the underworld as ruler and judge. Isis revived Osiris by magical means and conceived her son Horus by him. Horus later successfully fought against Seth and became the new king of Egypt.

Isis dan saudaranya Nephthys menemukan potongan-potongan tubuh Osiris dan menguburkannya, kecuali kelaminnya, yang kemudian memberikan kehidupan bawah tanah bagi Osiris yang menjadi penguasa dan hakim. Dewi Isis memberikan energi kepada Osiris dengan cara yang ajaib dan kemudiaan mengandung anak Osiris yang dinamakan Horus. Horus kemudian sukses mengalahkan Seth dan menjadi raja baru di Mesir.

Jadi tidak ada konsep kebangkitan disini, Osiris menjadi dewa bawah tanah.

II.7. TRITEISME : Oknum dr Tridewa (Osiris,Isis,Horus)

Isis revived Osiris by magical means and conceived her son Horus by him.

Dewi Isis memberikan energi kepada Osiris dengan cara yang ajaib dan kemudiaan mengandung anak Osiris yang dinamakan Horus.

Konsep dewa dewi ini adalah dewa ayah, dewa istri dan dewa anak yang ironisnya dipercayai oleh Muhammad SAW yang menganggap Kristen itu mempercayai Tuhan Bapa, Tuhan Ibu dan Tuhan Anak. Perbedaan mencolok yaitu YESUS adalah sang putra, sementara Osiris adalah dalam posisi sebagai ayah.

II.8. KEDATANGAN KEDUA KALI KE DUNIA : Menjelang kiamat

This identification with Osiris, however, did not imply resurrection, for even Osiris did not rise from the dead. Instead, it signified the renewal of life both in the nextworld and through one’s descendants on Earth.

Identifikasi (pengaitan orang-orang mati) dengan Osiris, bagaimanapun tidak mengimplikasikan kebangkitan, bahkan Osiris tidak bangkit dari antara orang mati. Melainkan mengindikasikan pembaruan kehidupan baik didunia kemudian dan melalui keturunan di bumi.

Tidak ada sama sekali peristiwa kebangkitan dari orang mati. Osiris setelah kematiannya menjadi dewa bawah tanah bagi orang-orang mati.


III. DIONYSUS / BAACHUS

Dionysus adalah penyebutan dalam kebudayaan Yunani, sementara penyebutan dalam kebudayaan Romawi adalah Baachus.

Semua kutipan berikut diambil dari sumber berikut (kecuali disebutkan lain) :

Sekelumit Mitologi Yunani
Dewa Dewi dan Para Pahlawan Yunani
R.S. Hardjapamengkas
Penerbit Mandar Maju, 1999, halaman 33 – 35.

III.1. TANGGAL KELAHIRAN : 25 Desember

Perayaan-perayaan sucinya bersifat aneh, di musim gugur, para wanita dan gadis, kaum Maenade, menyerbu hutan-hutan dan gunung-gunung …… sembari memanggil-manggil nama Dionysus …… Dalam bulan November dan Desember diadakan pesta tari-tarian lucu, balas pidato yang akhirnya melahirkan susastra drama Yunani, dengan demikian Dionysus menjadi dewa seni teater.

Jadi peringatan Dionysus adalah sekitar musim gugur atau antara Agustus hingga Oktober. Peringatannya sebagai dewa teater dilakukan antara bulan November / Desember. Jadi sama sekali tidak ada kisah kelahirannya tanggal 25 Desember.

III.2. PENGHARAPAN ORANG : Pembebas yg ditunggu

Ia merupakan dewa kejiwaan yang berhubungan dengan alam baka dan dengan para dewa didunia bawah tanah…… Sebagai Lyaios pembebas dari segala kesulitan manusiawi dan sebagai Soter dewa penyelamat dari penderitaan lahir dan batin

Dionysus memang muncul sebagai dewa yang menolong manusia.
Namun uniknya Dionysus juga memiliki sifat kejam yang sangat bertolak belakang dengan YESUS KRISTUS.

Para putrid raja Minyas dari Orchomenos yang tidak mau mengagungkan Dionysus dihukum berat, sang dewa membuat mereka menjadi gila sehingga merobek-robek seorang anak lelaki seolah-olah ia anak rusa…… Lykurgos, raja Thrakia … tewas dirobek-robek kuda liar yang dihasut Dionysos.

III.3. LAHIR DARI IBU PERAWAN : Seorang perawan Demeter

Dalam cerita-cerita Mysteria para penganut Orphyk ia dianggap putera dewi bawah tanah Persephone dan Zeus……
Dionysus kedua yang disebut Dionysus Thebe sesuai dengan tempat kelahirannya merupakan putera Semele …. Namun ia (Semele) terbakar … Dalam pada itu Zeus mengeluarkan hasil pembuahannya yang belum matang dari perut ibunya dan menjahitnya pada pahanya. Setelah tiba waktunya sang bayi dilahirkan

Jadi ada konsep kelahiran dari paha sang dewa Zeus.

III.4. KEMATIAN : Mati Dibunuh

Atas hasutan Hera …. para Titan memotong-motong Dionysus dan menelannya, sedangkan jantungnya dihidangkan sang dewi pencemburu itu kepada Zeus.
Menurut saga lain Hermes menyerahkannya kepada para peri di Nysa. Selenos mendidiknya dalam kesepian. Dari kesepian ini ia muncul ke alam dunia sebagai dewa yang gagah perkasa. Sebagai Lyaios pembebas dari segala kesulitan manusiawi dan sebagai Soter dewa penyelamat dari penderitaan lahir dan batin ……

Kematian Dionysus adalah karena kecemburuan dari Hera. Ada yang menyatakan Dionysus mati dibunuh, ada yang menyatakan dia tidak mati dibunuh.

III.5. TUJUAN KEMATIAN : Menebus dosa manusia

Dari abu para Titan tercipta manusia-manusia yang dalam jiwanya terkandung sebagian jiwa sang Dionysus yang ditelan para Titan, namun juga jiwa berdosa para Titan sendiri.

Kematian Dionysus adalah karena kecemburuan dari Hera. Tidak ada tujuan penebusan dosa manusia disini. Menurut mitologi, manusia dibentuk dari abu para Titan yang telah memakan Dionysus. Jadi sisi baik manusia berasal dari Dionysus, sisi buruk manusia berasal dari Titan.

III.6. KEBANGKITAN : 2 hari 3 malam dari pembunuhan

Kemudian Zeus mencipta Dionysus pengganti.

Tidak ada konsep kebangkitan, melainkan diciptakan ulang oleh Zeus. Tidak dikisahkan berapa lama Dionysus pengganti ini diciptakan setelah kematian Dionysus pertama.

III.7. TRITEISME : Oknum dr Tridewa (Baachus,Apolos,Yupiter)

Ada 2 cerita yaitu Dionysus adalah anak dari Zeus dengan Persephone dan anak Zeus dengan Semele

Konsep keluarga dewa dewi ini adalah konsep yang sudah sangat tua. Keluarga dewa ayah, dewi istri dan dewa anak yang ironisnya dipercayai oleh Muhammad SAW yang menganggap Kristen itu mempercayai Tuhan Bapa, Tuhan Ibu dan Tuhan Anak.

III.8. KEDATANGAN KEDUA KALI KE DUNIA : Menjelang kiamat

Tidak ada cerita tentang kedatangan Dionysus untuk kedua kalinya kedunia.

Perbedaan yang mencolok dengan YESUS KRISTUS adalah dimana Dionysus menikah dengan dewi Ariadne.
Sumber :
Ibid.

Istri sang dewa adalah Ariadne yang cantik. Menurut satu kisah ia telah merebutnya dengan kekerasan dari pahlawan Theseus. Namun cerita lain menuturkan bahwa sang pahlawan telah meninggalkan begitu saja gadis itu di Naxos dan saat itu Dionysus menikahi Ariadne serta membuatnya kebal mati.


IV. KESIMPULAN

Dari uraian diatas dapat disimpulkan beberapa hal :

  1. Tidak ada dewa-dewa diatas yang mati demi orang lain, mereka mati dibunuh karena persaingan antar dewa/dewi.

  2. Hanya Yesuslah yang mati demi penebusan dosa, sementara dewa-dewa lainnya mati karena karena alasan-alasan lainnya

  3. Tokoh YESUS adalah fakta sejarah yang tidak terbantahkan. Sumber-sumber sekuler Yahudi, Yunani dan Romawi mengakui hal itu. Sumber kitab-kitab apokrif mengakui hal itu. Bahasannya dapat dilihat di :

  4. Dewa-dewa yang lain semua adalah tokoh mitologi yang tidak pernah ada dalam kehidupan nyata.

Sekian

Disalin dari Tulisan VIVALDI

Thanks buat infonya, Oom Sarpag…
Sangat membantu…

case closed yak? :smiley:

Penjelasan diatas mengenai perbedaan, bukan mengapa ada persamaan

Contoh:

Pertanyaan: Mengapa orang afrika kulitnya sama hitam dengan orang aborigin?

Jawaban: Karena orang Afrika di Afrika dan orang aborigin di Australia, jadi tidak sama :mad0261:

Nyambung gak?

Kecuali:

Pertanyaan: Mengapa orang afrika kulitnya sama hitam dengan orang aborigin?

Jawaban: Karena orang aborigin di Australia adalah perpindahan orang Afrika di Afrika pada masa lampau, sehingga sebenarnya mereka menjadi sama2 hitam karena berasal dari Afrika.

Dan yang ini tidak dijelaskan ya:

Mohon mas SP dapat menjelaskannya (trimurti dkk) juga soalnya semua itu jauh sebelum jamannya konsili nicea :happy0025:

Semuanya dipersilahkan ikut menyumbang pendapat :ashamed0004:

TRINITAS MENYERAP AGAMA LAIN

Kalau sudah dijelaskan perbedaannya, tidak perlu lagi bagi kami membahas adanya “anggapan persamaannya” karena “persaman2” itu suatu anggapan yang keliru.
Tuhan kami Yesus Kristus berbeda dengan mitologi2 itu, dan itu sudah jelas beda!.

Lihat di http://www.sarapanpagi.org/ajaran-tentang-tuhan-allah-vt24.html#p61 saya kutip sebagian:

Pertama-tama di dalam Agama Hindu ada ajaran yang disebut [i]Trimurti[/i], yang di dalam agama Hindu Jawa disebut ajaran tentang [i]Tri Purusa[/i]. Ajaran ini mengajarkan ada tiga bentuk ([i]trimurti[/i]) dari zat yang mutlak (Brahman), yaitu Brahma, Wisnu, dan Siwa. Di dalam kitab Mahabharata terdapat suatu ucapan yang masyhur, yaitu bahwa Prajapati menciptakan dalam bentuk Brahma, memelihara dalam bentuk manusia (Wisnu) dan merusak dalam bentuk Rudra, yaitu Siwa yang lain (Mahabharata III, 272, 46). Senada dengan ucapan di atas itu dikatakan mengenai Brahman, yaitu bahwa Brahman memiliki tiga penjelmaan, [i]atma [/i] (jiwa perorangan), [i]prakrti[/i] (alam) dan [i]Isywara [/i] (Tuhan).

Di dalam prakteknya masing-masing mashab Hindu memiliki salah satu dewa menjadi dewanya yang tertinggi, sedang kedua dewa lainnya menjadi penjelmaannya, umpamanya mashab Siwa menganggap Siwa sebagai dewa yang tertinggi, yang identik dengan Brahman, dan yang kemudian demi kepentingan penciptaan, pemeliharaan dan pengrusakan, menjelma sebagai Brahma, Wisnu, dan Rudra.

Menurut keyakinan Hindu, dewa yang tertinggi, baik ia disebut Brahman, maupun Siwa, atau Wisnu, atau sebutan yang lain, dipandang sebagai Zat yang Mutlak, yang bebas dari segala hubungan dan sifat, yang tidak dapat ditembus oleh akal manusia. Jadi semacam tabiat ilahi dari Plato. Tokoh ini adalah zat yang transenden, yang tidak berbuat dan tidak berkehendak. Sebab seandainya zat ini berkehendak untuk berbuat, ia akan terikat kepada karma dan samsara. Oleh karena itu tokoh yang tertinggi ini memerlukan penjelmaan yang lebih kasar, yang lebih rendah untuk dapat berfungsi sebagai pencipta, pemelihara dan pelebur segala sesuatu. Itulah sebabnya ia menjelma dalam Brahma, Wisnu, dan Rudra. Ketiga penjelmaan ini dipandang sebagai bersamaan dengan perkembangan proses kosmos dengan hukumnya: lahir, berkembang, dan mati. Akan tetapi di dalam sistem yang mengerjakan, bahwa Brahman tidak terikat kepada pekerjaan, maka penjelmaan ini sebenarnya adalah khayalan belaka. Sebab dilihat dari pihak Brahman, penjelmaan ini tidak ada, penjelmaan ini hanya tampak sebagai penjelmaan jikalau dilihat dari pihak manusia.

Menurut anggapan orang India yang modern (Dr. S. Radhakrishnan), ajaran Trimurti mengajarkan tiga segi atau tiga aspek dari suatu kepribadian ilahi yang kompleks.

Jelas, bahwa pandangan agama Hindu tentang Trimurti atau Tri Purusa ini tiada sangkut-pautnya dengan pandangan Alkitab yang mengungkapkan hakekat Tuhan Allah sebagai Bapa, Anak, dan Roh Kudus. Bapa, Anak, dan Roh Kudus bukan khayalan manusia, juga bukan khayalan Allah. Ketiga penyataan Allah itu diungkapkan di dalam firman dan karya-Nya di dalam sejarah umat-Nya dan dialami oleh umat Allah sebagai kenyataan yang hidup.

Blessings,
BP

ini baru ok saudara sarapan pagi

mantab juga bro sarpag…! :slight_smile:

manusia dianugrahi akal budi, manusia mencari tau dari mana asalnya, dan kemana tujuannya, sehingga terciptalah konsep2 seperti diatas.

dalam pencarian itu ada pencarian sosok yg dipercaya sebagai penebus,Tuhan, penguasa, pencipta, dll…

taurat penbusnya adalah mesias sama dengan kristen, tapi oknum Mesiasnya yg beda. yg percaya mesiasnya adalah kristus disebut kristen. sedang yahudi masih menunggu.

that’s right, itulah manusia, Namun yg pasti semua itu bertumpu pada hal yg disebut oleh kita sebagai Tuhan. (ada yg sebut Dewa, Alam, Nature, Dzat, dll…) manusia makhluk spiritual.

Tuhan Maha besar dan tak terselami.

(kalau mampu kita selami bukan Tuhan namanya… hehehe…)

salam… :slight_smile:

Ikutan ah… :smiley:

Berdasarkan “tradisi Yahudi”:

Semua agama yang “menganut” Tritheism sebenarnya berakar dari Abraham:

Kejadian 18:1 Kemudian TUHAN menampakkan diri kepada Abraham dekat pohon tarbantin di Mamre, sedang ia duduk di pintu kemahnya waktu hari panas terik. 18:2 Ketika ia mengangkat mukanya, ia melihat tiga orang berdiri di depannya. Sesudah dilihatnya mereka, ia berlari dari pintu kemahnya menyongsong mereka, lalu sujudlah ia sampai ke tanah, 18:10 Dan firman-Nya: "Sesungguhnya Aku akan kembali tahun depan mendapatkan engkau, pada waktu itulah Sara, isterimu, akan mempunyai seorang anak laki-laki." Dan Sara mendengarkan pada pintu kemah yang di belakang-Nya. 18:33 Lalu pergilah TUHAN, setelah Ia selesai berfirman kepada Abraham; dan kembalilah Abraham ke tempat tinggalnya.

Dari sinilah asal muasal agama-agama yang menganut Tritheism :slight_smile:

[b]Abraham[/b]:

Born: 1948 Anno Mundi (early 2nd millennium BCE) Mesopotamia (Irak)

Arti nama: Bapak banyak orang/bangsa

Orang tua: Terah (ayah)

Istri: Sara, Hagar, Ketura

Anak: Ismael (dari Hagar), Ishak (dari Sara), dan Zimran, Yoksan, Medan, Median, Ishak, Syuah (dari Ketura), Lot (keponakan)

Saudara: Nahor dan Haran (laki-laki), Sara (perempuan, tiri)

Tempat lahir: Ur Kasdim

Tempat mati: Dekat Hebron di Kanaan

Umur: 175 tahun

Abraham (Hebrew: אַבְרָהָם, Modern Avraham Tiberian ʼAḇrāhām, Arabic: إبراهيم‎, Ibrāhīm, ʼAbrəham, Greek: Aβραάμ), whose birth name was Abram, is the eponymous father of the Abrahamic religions, such as Judaism, Christianity, and Islam, and of the Israelites, Ishmaelites,Edomites, and the Midianites, according to both the Hebrew Bible and the Qur’an.
It is generally recognised by scholars that there is nothing in the Genesis stories that can be related to the history of Canaan of the early 2nd millennium: none of the kings mentioned is known, Abimelech could not be a Philistine (they did not arrive till centuries later), Ur could not become known as “Ur of the Chaldeans” until the early 1st millennium, and Laban could not have been an Aramean, as the Arameans did not become an identifiable political entity until the 12th century. Joseph Blenkinsopp, Emeritus Professor of Biblical Studies at the University of Notre Dame, notes that the past four of five decades have seen a growing consensus that the Genesis narrative of Abraham originated from literary circles of the 6th and 5th centuries BCE as a mirror of the situation facing the Jewish community under the Babylonian and early Persian empires. Blenkinsopp describes two conclusions about Abraham that are widely held in biblical scholarship: the first is that, except in the triad “Abraham, Isaac and Jacob,” he is not clearly and unambiguously attested in the Bible earlier than the Babylonian exile (he does not, for example, appear in prophetic texts earlier than that time); the second is that he became, in the Persian period, a model for those who would return from Babylon to Judah. Beyond this the Abraham story (and those of Isaac and Jacob/Israel) served a theological purpose following the destruction of Jerusalem, the Temple and the Davidic kingship: despite the loss of these things, Yahweh’s dealings with the ancestors provided a historical foundation on which hope for the future could be built. There is basic agreement that his connection with Haran, Shechem and Bethel is secondary and originated when he became identified as the father of Jacob and ancestor of the northern tribes; his association with Mamre and Hebron, on the other hand (in the south, in the territory of Jerusalem and Judah), suggest that this region was the original home of his cult.

Terah
Terah or Térach (Hebrew: תֶּרַח / תָּרַח, Modern Téraḥ / Táraḥ Tiberian Téraḥ / Tāraḥ ; “Ibex, wild goat”, or “Wanderer; loiterer”). Most of what is told about Terah is recorded in Genesis 11:26-28. Terah’s father was Nahor, son of Serug, descendants of Shem. They and many of their ancestors were polytheistic. Regarding his children, Terah had three sons: Abram, Haran, and Nahor II. He also had a daughter Sarai, by another wife or perhaps concubine. The entire family, including grandchildren, lived in Ur of the Chaldees. One of his grandchildren was Lot, whose father Haran, Terah’s son, died while living in Ur.
Terah’s son, Abram, had an encounter with God who directed him to take the entire family and leave Ur to the land of Canaan. Terah coordinated the journey intending to go to this new land, however, he ended up staying in Haran (biblical place),[v.31] a city that was along the way. He died in Haran at 205 years of age.

Hagar
Hagar (Hebrew: הָגָר, Modern Hagar Tiberian Hāḡār, “Stranger"; Greek: Άγαρ Agar; Latin: Agar; Urdu: Hājra; Arabic: هاجر;‎ Hājar), according to the Abrahamic faiths, was the second wife of Abraham, (Genesis 16:3) and the mother of his first son, Ishmael, Her story is recorded in the Book of Genesis, mentioned in Hadith, and alluded to in the Qur’an. Hagar’s son, Ishmael, is the patriarch of the Ishmaelites.
Hagar was an Egyptian handmaiden of Sarai, the first wife of Abram, who served her mistress less than ten years since coming out of Egypt. Hagar was offered, by her mistress, to Abram to be as a second “wife”. Sarai presented this offering to her husband because she had been barren for so long and sought a way to fulfill God’s promise, especially since they were getting older. (Genesis 16:1-3)
When Hagar realized that she was pregnant, she began to despise her mistress. Sarai sensed her servant’s attitude which caused her to suffer greatly. Sarai then consulted her husband about the matter who gave her permission to do with Hagar as she felt was necessary. Thus Sarai did accordingly, which resulted in Hagar fleeing from Abram’s settlement. (Genesis 16:4-6)
Hagar fled into the desert on her way to Shur. En route, an angel of Yahweh appeared to Hagar at the well of a spring. He instructed her to return to Sarai her mistress, so that she may bear a child who “shall be a wild donkey of a man, his hand against everyone and everyone’s hand against him, and he shall dwell over against all his kinsmen.” Then she was told to call her son: Ishmael. Afterward, Hagar referred to God as “El-roi,” meaning that she had gone on seeing after God saw her. From that day, the well was called Beer-lahai-roi. She then did as she was instructed by returning to Abram in order to have her child. When Abram was eighty-six years of age, Hagar gave birth to his firstborn son named Ishmael.

Ismael
Ishmael (Hebrew: יִשְׁמָעֵאל, Modern Yishma’el Tiberian Yišmāʻēl Yišmaˁel; Greek: Ισμαήλ Ismaēl; Latin: Ismael; Arabic: إسماعيل‎ ʼIsmāʻīl) is a figure in the Hebrew Bible, and later referenced in the Qur’an. Jews, Christians and Muslims believe Ishmael is Abraham’s eldest son and first born. Ishmael is born of Sarah’s handmaiden Hagar (Genesis 16:3). Although born of Hagar, according to Mesopotamian law, Ishmael was credited as Sarah’s son; a legal heir through marriage. (Genesis 16:2) According to the Genesis account, he died at the age of 137 (Genesis 25:17).

Sarah
Sarah or Sara (pronounced /ˈsɛərə/; Hebrew: שָׂרָה, Modern Sara Tiberian Śārā Śarra; Latin: Sara; Arabic: سارة) was the wife of Abraham and the mother of Isaac as described in the Hebrew Bible and the Quran. Her name was originally Sarai. According to Genesis 17:15 God changed her name to Sarah as part of a covenant with Yahweh after Hagar bore Abraham his son Ishmael. The Hebrew name Sarah indicates a woman of high rank and is sometimes translated as “princess”. It also means “lady.”
Sarah was the wife of Abraham, as well as being his half-sister, the daughter of his father Terah (Genesis 20:12). The Talmud identifies Sarai with Iscah, daughter of Abraham’s deceased brother Haran (Genesis 11:29), so that Sarah turns out to be the niece of Abraham and the sister of Lot and Milcah. She was considered beautiful to the point that Abraham feared that when they were near more powerful rulers she would be taken away and given to another man. Twice he purposefully identified her as being only his sister so that he would be “treated well” for her sake. It is apparent that she remained attractive into her later years. Despite her great beauty, she was barren for an unknown reason. She was originally called “Sarai” which is translated “my princess.” Later she was called “Sarah” i.e., princess." In Biblical times, the changing of one’s name was significant and used to symbolize the binding of a covenant. In this case, God promised to put an end to her barrenness and give her a child (Isaac).

Isaac
Isaac (English pronunciation: /ˈaɪzək/; Hebrew: יִצְחָק, Modern Yitsẖak Tiberian Yiṣḥāq, Yiçḥaq, “he will laugh”; Yiddish: יצחק, Yitskhok;Ancient Greek: Ἰσαάκ, Isaak; Latin: Isaac; Arabic: إسحٰق‎ or Arabic: إسحاق‎ ʼIsḥāq) as described in the Hebrew Bible, was the only son Abraham had with his wife Sarah, and was the father of Jacob and Esau. Isaac is one of the three patriarchs of the Jewish people. According to the Book of Genesis, Abraham was 100 years old when Isaac was born, and Sarah was beyond childbearing years.
Isaac was the only Biblical patriarch whose name was not changed, and the only one who did not leave Canaan. Compared to those of Abraham and Jacob, Isaac’s story relates fewer incidents of his life. He died when he was 180 years old, making him the longest-lived patriarch.

Keturah:
Keturah or Ketura (Hebrew: קְטוּרָה, Modern Ktura Tiberian Qəṭûrā ; “Incense”). In the eighteenth century, some writers believed that Keturah was the ancestor of African peoples, thereby explaining the similarities between some African and Jewish customs. Olaudah Equiano cites John Gill’s claim to this effect in his Interesting Narrative.
Reb Yakov Leib HaKohain states (as part of Donmeh West teaching) that the children of Keturah moved Eastwards and were ancestors to the religions of Hinduism, Buddhism and Shinto, which then should be counted as Abrahamic religions.

Zimran
Zimran (Hebrew: זִמְרָן ; “vine dresser; celebrated; song;”), also known as Zambran. “Abraham contrived to settle them in colonies; and they took possession of Troglodytis and the country of Happy Arabia, as far as it reaches to the Red Sea.” Abraham, in all probability, tried to keep them apart from Isaac to avoid conflict while fulfilling God’s commission to spread out and inhabit the globe. For such reasons Zimran has also been tentatively identified by some with the Arabian town of Zabran, between Meeca and Medina.
Son: Abihen, Molich, Narim

Jokshan
Jokshan (“an offense”, “hardness”, or “a knocking”) . Jokshan became the father of Sheba and Dedan. Dedan had three sons, named Asshurim, Letushim, and Leummim. His descendants settled on the Syrian borders about the territory of Edom. They probably led a pastoral life.

Dedan, The word Dedan means “low ground”. The people are called Dedanim or Dedanites. In the latter meaning, is first mentioned in the Book of Ezekiel, (Chapters 27 and 38). Chapter 27 is a roster of the trading partners of the city of Tyre (today in modern Lebanon), where Dedan is noted as a nation or kingdom which traded in saddle blankets (Ezekiel 27:20).
The oasis kingdom is also mentioned in the prophetic vision of the war of Gog and Magog (Ezekiel 38; see also, Revelation 20:8), and appears to be a nation of significance in this end-times prophecy of Ezekiel.
In Ezekiel 38:13, Dedan is joined with Sheba, and “Tarshish and all her strong lions”, all these nations joining together to inquire of the advancing armies of Gog: “Have you come to plunder? Have you gathered your hordes to loot, to carry off silver and gold, to take away livestock and goods and to seize much plunder?”
Now known as Al Ula in northern Saudi Arabia, known to the ancient Greeks and Romans as Hijra, Hegra or Egra, the former is about the same distance, about 250 miles north fromMedina as Medina is north of Mecca. The location where the extinct tribe of Thamud used to dwell.
In the ruins of the old city there are inscriptions that indicate the Dedanites were preceded by a Minean settlement. The Mineans established a center at this desert oasis in order to protect the incense trade.

Sheba (Arabic: سبأ, Sabaʼ, Hebrew: שבא, Sh’va, Ge’ez, Amharic, Tigrinya: ሳባ, Saba) was a kingdom mentioned in the Jewish scriptures (Old Testament) and the Qur’an. The actual location of the historical kingdom is disputed, with modern evidence tending toward Yemen in southern Arabia, but other scholars argue for a location in either present-day Eritreaor Ethiopia. Since the two territories are separated by a narrow channel it is possible that at various times the kingdom included territory in both Yemen and Ethiopia, and may be equated with the Sabean kingdom.
Sheba is mentioned several times in the Bible. For instance, in the Table of Nations (Genesis 10:7), Sheba, along with Dedan, is listed as a descendant of Noah’s son Ham (as sons ofRaamah son of Cush). In Genesis 25:3, Sheba and Dedan are listed as names of sons of Jokshan, son of Abraham. Another Sheba is listed in the Table of Nations (Genesis 10:28) as a son of Joktan, another descendant of Noah’s son Shem. Yet another Sheba is mentioned in 2 Samuel 20:1-22 who rebelled against King David, was beheaded and his head thrown over the wall by the people in the city of Abel in order to save their lives. Isaiah’s prophecy, “all they from Sheba shall come: they shall bring gold and incense” (Isaiah 60:6), is understood as a prediction of the Biblical Magi bringing gifts of gold, myrrh and frankincense to the newborn JESUS.
In Ethiopian Orthodox tradition, the third of these Shebas (Joktan’s son) is considered the primary ancestor of the original Semitic component in their ethnogenesis, while Sabtah andSabtecah, sons of Cush, are considered the ancestors of the Cushitic element.
Jewish-Roman historian Josephus describes a place called Saba as a walled, royal city of Ethiopia, which Cambyses afterwards named Meroe. He says “it was both encompassed by the Nile quite round, and the other rivers, Astapus and Astaboras” offering protection from both foreign armies and river floods. According to Josephus it was the conquering of Saba that brought great fame to a young Egyptian Prince, simultaneously exposing his personal background as a slave child named Moses.
The Kitab al-Magall (“Book of the Rolls”, considered part of Clementine literature) and the Cave of Treasures mention a tradition that after being founded by the children of Saba (son of Joktan), there was a succession of sixty female rulers up until the time of Solomon. The Biblical tradition of the “Queen of Sheba” (named Makeda in Ethiopian tradition and Bilqis in Islamic tradition) makes its first appearance in world literature in 1 Kings 10, describing her as travelling to Jerusalem to behold the fame of King Solomon.
Owing to the connection with the Queen of Sheba, the location has thus become closely linked with national prestige, as various royal houses have claimed descent from the Queen of Sheba and Solomon. The most vigorous claimant has been Ethiopia and Eritrea, where Sheba was traditionally linked with the ancient Axumite Kingdom.

Madan
Medan (Hebrew: מְדָ֥ן “contention; to twist, conflict”) the Madan people of Iran and Iraq.

Midian
Midian (Hebrew: מִדְיָן‎), Madyan (Arabic: مدين‎), or Madiam (Greek: Μαδιάμ, Μαδιανίτης for a Midianite). Extended from the eastern shores of the Sinai peninsula to the deserts east of the Gulf of Aqabah, Edom and Moab. The Midianites were nomadic shepherds who traveled in small bands with their goats and sheep and camels in the dry season and moved into larger groups during the lambing or wet season. They lived in tents of goat hair and ate mostly bread, baked in hot charcoals and sand, and dairy products. Their clothing was loose and baggy, both sexes wore tunics, those of the women being thinner with slits running through the sides and a veil covered the head.

Ishbak
Ishbak (Hebrew: ish’băk; “he will leave; leaving”), also spelt Jisbak and Josabak . His descendants is the people identified in a cuneiform inscription to a people know as Jasbuqu.

Shuah
Shuah (Hebrew: שוח “ditch; swimming; humiliation”. Shuah have turned northward and travelled into northern Mesopotamia, in what is now the northern region of modern day Syria. As evidenced bycuneiform texts, the land seems to have been named after him, being known as the land of Sûchu which lies to the south of ancientHittite capital of Carchemish on the Euphrates river.
The Bible also records that the character Job had a friend who was a Shuhite.

Haran or Aran (Hebrew: הָרָן, Modern: Hārān, son of Terah, was a Semite from the line of Shem. He fathered two daughters: Milcah and Iscah, and a son: Lot, the biblical person who fled Sodom and Gomorrah. Haran also had two brothers: Nahor, who married his daughter Milcah, and another brother Abram, the patriarch Abraham. Haran and his immediate family are mentioned in the genealogical account of Terah, as recorded in Genesis 11:27-32. In this account, Haran is said to have died in the presence of his father Terah, while they were living inUr Kaśdim. After Haran’s death, at the direction of his brother Abram, their father Terah coordinated the family to embark on a journey to the land of Canaan. In route, the family settled at a site called Charan חָרָן (Heb) in the region of Paddan Aram or Aram Naharaim.

Nahor, Nachor, or Naghor (Heb. נָחֹור Naḥor) in the account of Terah’s family, mentioned in Gen.11:26-32, Nahor II is listed as the son of Terah, amongst two other brothers, Abram and Haran. His grandfather was Nahor I, son of Serug. Nahor married the daughter of his brother Haran, Milcah, his niece. They were all born and raised in the city of Ur. When Abram, had an encounter with God, this brother directed his family to leave their native land and go to the land of Canaan. Terah, their father, coordinated the gathering of his family to journey west to their destination. They followed the Euphrates River, with their herds, to the Padan-Aram region. This was about halfway along the Fertile Crescent between Mesopotamia and the Mediterranean, in what is now southeastern Turkey. In this region, Nahor and his family settled except for his brother Haran, who had died sometime ago back in Ur. The city where they settled, Haran, is the place that Nahor’s father eventually died.

Lot (Hebrew: לוֹט, Modern Lot Tiberian Lôṭ ; “veil”; “hidden, covered”) is a character from the Book of Genesis chapters 11-14 and 19, in the Hebrew Bible. Notable episodes in his life include his travels with his uncle Abram (Abraham, the Patriarch of Israel); his flight from the Kingdom of Sodom, in the course of which Lot’s wife looked back and turned into a pillar of salt; and the seduction by his daughters so that they could bear children.

Nah, istri Abraham yang bernama Keturah inilah yang menurunkan suku2 yang membawa agama-agama yang menganut Tritheism. Keturah sendiri di India dikenal dengan nama Saraswati.

Jadi, Persamaannya adalah semuanya adalah Abrahamic religions, sedang Perbedaannya adalah HANYA Kristen (Mainstream: Katolik & Protestan) yang MASIH MURNI AJARANNYA :slight_smile:

:coolsmiley:

terus terus … kira kira paham di dewa sin itu di jaman abraham atau apa y?

Semua agama dengan nuansa Tritheism berkembang setelah jamannya Abraham :slight_smile:

NB: Berdasarkan penelitan, bisa dilihat dipostingannya SP :slight_smile: