Memerangi Radikalisme Agama Dengan Kasih Yang Radikal

Pada Selasa, 4 Oktober 2011 lalu, itu adalah hari perayaan Santo Fransiskus. Dia adalah salah satu tokoh agama yang paling dihormati dalam sejarah. Kehidupan dan kesaksiannya sangat relevan dengan kehidupan masa kini sekalipun ia hidup 900 tahun lalu. Dia adalah salah satu orang pertama yang mengkritik kapitalisme, salah satu orang Kristen awal yang sangat peduli lingkungan dan salah satu pembaharu gereja yang menentang peperangan di jamannya.

Fransiskus adalah anak seorang pedagang kain yang kaya, lahir dalam sebuah komunitas dimana jarak antara orang miskin dan orang kaya sangat besar. Saat itu adalah masa kegerakan rohani, dimana Kristen dan Islam saling membunuh atas nama Tuhan. Bukankah hal ini sangat familiar di dunia kita saat ini?

Namun Fransiskus saat itu membuat langkah sederhana dalam menentang kapitalisme, perang, serta ketidak pedulian gereja terhadap alam sekitar. Dia membaca Injil dimana Yesus berkata, “juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin,” “Perhatikanlah bunga bakung dan burung pipit dan jangan kuatir tentang hari esok,” “Kasihilah musuhmu,” dan ia memutuskan untuk menjalani kehidupannya seperti yang Yesus katakan.

Fransiskus akhirnya memalingkan diri dari materialisme dan dunia militer, dan berkata “ya” pada panggilan Yesus. Salah satu quote yang dikaitkan dengan Fransiskus adalah sebuah kritikan yang menyentuh dunia kita saat ini, dia berkata: “Semakin banyak barang yang kita miliki, semakin banyak hal yang harus kita lindungi.”

Dengan kepolosannya, Fransiskus meninggalkan Asisi, kota kelahirannya dan hidup seperti bunga bakung dan burung pipit. Dia hidup dekat dengan alam, dan seperti Yesus, ia menjadi teman bagi burung dan bunga yang dia panggil sebagai saudara perempuan dan saudara laki-lakinya. Untuk itu, pada tanggal 4 lalu, banyak orang Kristen membawa hewan peliharaannya ke kebaktian untuk mengingat dirinya.

Namun sangat mudah mengubah sebuah kegerakan hanya menjadi sebuah monument peringatan. Hidupnya adalah kritikan yang kuat terhadap “roh jahat” di jamannya, yang masih menjadi “roh jahat” di jaman ini.

Di jaman radikalisme agama saat ini, Santo Fransiskus menawarkan sebuah alternative untuk kita. Kita bisa meneladani hidupnya, dan membawa sebuah kegerakan baru alih-alih hanya membuat peringatan akan hidupnya. Kita bisa membawa kepeduliannya kepada orang miskin dalam hati kita, kita bisa hidup dengan menjaga kelestarian alam seperti dirinya, dan kita bisa sama seperti dia, memerangi radikalisme yang mengatas namakan Tuhan dengan menunjukkan kasih karunia dan cinta yang ekstrim kepada mereka yang memusuhi kita. Jika jaman dulu Fransiskus terpanggil untuk “memperbaiki gereja yang rusak” dan melakukan tindakan dengan memperbaiki gedungnya secara fisik, maka kita dijaman ini kita terpanggil untuk “memperbaiki gereja yang rusak” secara mental dan keteladanan hidup. Mari kita juga panjatkan doa dari Santo Fransiskus ini:

Tuhan, jadikan aku alat pembawa damai-Mu

Dimana ada kebencian, ijinkan aku menabur kasih;

Dimana ada yang terluka, pengampunan;

Dimana ada keraguan, iman;

Dimana ada keputusasaan, pengharapan;

Dimana ada kegelapan, terang;

Dimana ada kesediahan, sukacita.

Oh, Guru Yang Agung

Anugrahkan saya untuk tidak mencari penghiburan namun memberi penghiburan

Ingin dipahami namun memahami, untuk dicintai namun mencitai.

Untuk memberikan kembali apa yang kita terima,

Dan mengampuni sebagaiman kita diampuni,

Dalam dalam keadaan sekarat kita dilahirkan kembali dalam kehidupan kekal.

Source : huffingtonpost.com/Puji Astuti