Kenali YESUS KRISTUS.

Siapa YESUS Sebenarnya?

Apakah penemuan-penemuan manuskrip kuno terbaru mengungkapkan YESUS yang berbeda. Atau…… apakah bukti-bukti itu justru mengungkapkan bahwa YESUS di dalam Perjanjian Baru adalah YESUS yang sesunguhnya.

Para Ahli Meneliti Fakta-Fakta:

Siapa — atau itukah YESUS KRISTUS? Orang Kristen memuliakan Dia sebagai Allah. Tapi Ketua Ateis Amerika, Ellen Johnson, mengklaim YESUS tidak pernah ada. Yang lain mengatakan YESUS adalah seorang penipu. Buku Kode Da Vinci menyimpulkan YESUS adalah orang besar yang ke-Tuhan-annya diciptakan oleh gereja-gereja abad ke 4.

Y-YESUS meneliti pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh kelompok-kelompok kritis dan orang percaya: Apakah bukti-bukti paling akhir meniadakan atau memperkuat gambaran YESUS yang diberikan kepada kita di dalam Perjanjian Baru? Dan apakah ada bukti-bukti atas klaim Dia bangkit dari kematian?

Baca Bukti-Buktinya :

Artikel di bawah ini dari majalah Y-YESUS.

* Apakah YESUS benar-benar ada?
* Apakah ada Konspirasi Da Vinci?
* Apakah YESUS itu Allah?
* Apakah Injil itu benar?
* Apakah YESUS itu Mesias?
* Apakah YESUS benar-benar bangkit dari kematian?
* Apakah YESUS masih relevan sekarang?

saya ambil artikel ini dari : http://y-JESUS.org/indonesian/
saya bantu menampilkannya di forum ini.

  • Apakah Yesus benar-benar ada?
    IDENTITAS KELAHIRAN:

Apakah Yesus Kristus benar-benar ada atau apakah kekristenan dibangun berdasarkan legenda saja?. Beberapa pakar mempertanyakan keberadaan Yesus, namun cukup banyak musuh kekristenan mencoba membuktikan Yesus tidak pernah ada. Dalam sebuah tuntutan hukum terhadap Vatikan, gereja dituduh menciptakan kisah keberadaan Yesus. Kasus tersebut diajukan ke pengadilan oleh Luigi Casciolli, Februari 2006, namun ditolak dan ditutup oleh pengadilan. Argumen menentang keberadaan Yesus disiarkan ke publik oleh jaringan televisi CNN, ketika Ketua Ateis Amerika Ellen Johnson menyatakan,

“Kenyataannya, tidak ada sedikitpun bukti dari sumber sekuler bahwa Yesus Kristus itu ada.” Yesus Kristus dan kekristenan adalah agama modern. Dan Yesus Kristus adalah penggabungan dari tuhan-tuhan lain: Osiris dan Mithras, yang punya kesamaan asal-usul, kesamaan kematian seperti mitos Yesus Kristus,” (ateis, Ellen Johnson).

Johnson dan panel para pemimpin religius pita-biru mendiskusikan pertanyaan “Apa yang terjadi setelah kita meninggal dunia” dalam acara televisi Larry King di CNN. King yang biasanya lancar berbicara sempat terdiam, merenung, dan kemudian mengatakan, “Jadi Anda tidak percaya keberadaan Yesus Kristus?”.Dengan nada yakin, Johnson menjawab,”Tidak pernah ada. Ini bukan apa yang saya percaya; tidak ada bukti sekuler bahwa JC, Yesus Kristus, pernah ada (hidup).” King tidak meneruskan diskusi dan langsung masuk iklan. Setelah itu, tidak ada diskusi mengenai bukti mendukung atau menentang keberadaan Yesus. Pemirsa televisi internasional itu dibiarkan terheran-heran.[1]
Lima puluh tahun lalu, dalam bukunya Kenapa Saya Bukan Orang Kristen, penganut ateis Bertrand Russell mengagetkan generasinya dengan mempertanyaan eksistensi Yesus. Dia menulis, “Dari sudut pandang sejarah cukup diragukan apakah Yesus Kristus benar-benar ada, dan jika Dia ada, kita tidak mengetahui apapun mengenaiNya. Jadi saya tidak begitu mempedulikan pertanyaan historis itu, yang sangat sukar.”[2]

Apa ada kemungkinan Yesus yang dipercaya begitu banyak orang pernah hidup, ternyata tidak pernah ada? Dalam kisah peradaban, sejarahwan sekuler Will Durant mengungkapkan pertanyaan ini,” Apa Yesus ada (pernah hidup/eksis)?.” Apakah cerita-cerita dari para pendiri kekristenan adalah produk dari kepedihan, imajinasi, dan harapan manusia — mitos yang bisa disejajarkan dengan legenda Krishna, Osiris, Attis, Adonis, Dionysus, dan Mithras?.”[3] Durant memperlihatkan bagaimana kisah kekristenan, “Dicurigai banyak kemiripan dengan legenda dewa-dewa (tuhan-tuhan pagan).”[4] Dalam artikel ini, kita akan lihat bagaimana sejarahwan besar ini menjawab pertanyaannya sendiri mengenai eksistensi Yesus. Jadi, bagaimana kita tahu dengan meyakinkan bahwa orang ini, yang dipuja orang dan dikutuki orang lain, nyata adanya?. Apakah Johnson benar, ketika dia menegaskan bahwa Yesus Kristus adalah penggabungan dari tuhan-tuhan lain?”, dan Russell benar ketika dia menyatakan keberadaan Yesus ” cukup diragukan”?
Mitos Vs Realitas

Mari kita mulai dengan pertanyaan yang lebih fundamental: apa yang membedakan mitos dengan realitas atau kenyataan?. Bagaimana caranya kita tahu, contohnya, apakah Alexander Agung benar-benar ada? Andaikata, tahun 336 SM, Alexander Agung jadi raja Makedonia pada usia 20 tahun. Seorang jenius militer, pemimpin tampan dan sombong ini melakukan pembantaian dari desa ke desa, kota ke kota, dan di seluruh kerajaan-kerajaan Yunani – Persia sehingga dia menguasai semuanya. Dalam waktu singkat, hanya delapan tahun, pasukan Alexander menempuh perjalanan penaklukan sejauh 22.000 mil.

Dikabarkan, Alexander menangis ketika tidak ada lagi wilayah yang akan ditaklukkannya (saya merasa, inilah orang yang saya tidak ingin mengajaknya main monopoli.)

Sebelum dia meninggal di usia 32, pencapaian militer Alexander dikabarkan lebih besar dari penaklukan militer siapapun sepanjang sejarah. Bukan hanya para raja yang hidup sebelumnya, tapi juga mereka yang lahir sesudahnya sepanjang sejarah kita. Tapi hari ini, selain beberapa kota yang diberi nama Alexandria, film membosankan yang dibuat Oliver Stone, dan beberapa buku, warisannya sudah lama dilupakan. Pada kenyataannya, nama Colin Farrell lebih mampu membuat film sangat laku (box office) daripada nama Alexander. Meski film itu gagal, para sejarahwan percaya Alexander ada karena tiga alasan utama:

* dokumentasi tertulis dari sejarahwan terdahulu
* dampak sejarah
* bukti-bukti sejarah lainnya dan bukti arkeologi

Dokumen Sejarah Tentang Yesus

Sejarah Alexander Agung dan penaklukan militernya diperoleh dari lima sumber kuno, yang semuanya bukan saksi mata. Kendati ditulis 400 tahun setelah Alexander, tulisan Plutarch berjudul Kehidupan Alexander merupakan catatan utama kehidupannya.

Karena Plutarch dan para penulis lain terpisah beberapa ratus tahun dari saat kehidupan Alexander, maka mereka mendasarkan informasinya dari informasi-informasi yang sudah ada sebelumnya. Dari dua puluh catatan sejarah Alexander, tidak satupun ada sampai sekarang (sudah musnah). Catatan yang lebih kemudian memang ada, tapi tiap kisah memperlihatkan “Alexander” yang berbeda, yang kebanyakan bergantung pada imajinasi kita. Namun meski dengan perbedaan waktu beberapa ratus tahun, para sejarahwan yakin bahwa Alexander merupakan manusia nyata dan detil-detil utamanya, seperti yang kita baca mengenai kehidupannya benar.

Melihat Alexander sebagai titik referensi, kita catat apa yang dikatakan sejarahwan religius dan sekuler mengenai Yesus. Tapi kita harus bertanya, apakah sejarah yang mereka tuliskan itu bisa diandalkan dan obyektif? Mari kita lihat sekilas.
Perjanjian Baru

Ke 27 buku Perjanjian Baru diklaim ditulis oleh penulis yang tahu secara langsung mengenai Yesus atau menerima informasi dari mereka yang kenal langsung. Empat Injil menceritakan kehidupan dan pengajaran Yesus dari perspektif berbeda. Tulisan-tulisan ini diteliti dengan sangat ketat oleh para ahli dari dalam dan dari luar kekristenan.

Pakar John Dominic Crossan percaya, hanya kurang dari 20 persen dari apa yang kita baca di Injil secara orisinil berasal dari perkataan Yesus. Kendati ini pandangan skeptis, tidak dipersoalkan mengenai Yesus benar-benar pernah hidup. Kendati ada pandangan Crossan dan beberapa ahli lain, konsensus sebagian besar sejarahwan adalah catatan Injil yang memberi kita gambaran jelas mengenai Yesus Kristus.

Mengenai apakah catatan Injil itu benar, ada artikel tersendiri (Lihat “Yesus.doc”), Jadi, kita akan melihat sumber-sumber non-Kristen untuk menjawab pertanyaan kita mengenai apakah Yesus ada (eksis).
Catatan Awal Non-Kristen

Jadi, sejarahwan abad pertama mana yang menulis mengenai Yesus, tapi tidak punya agenda kekristenan? Pertama-tama, mari kita lihat musuh-musuh Yesus.

Orang Yahudi yang memusuhiNya punya keuntungan terbesar dengan cara meniadakan keberadaan Yesus. Tapi bukti memperlihatkan arah sebaliknya. “Beberapa tulisan Yahudi menceritakan kehidupan nyata manusia Yesus. Dua buku Gemara dari Talmud Yahudi mencatat Yesus. Kendati hanya disinggung sedikit kalimat yang dimaksudkan untuk menentang KeTuhanan Yesus, tulisan sangat awal Yahudi ini tidak memulai argumennya dengan pernyataan bahwa Dia bukan orang yang pernah hidup (bukan tokoh sejarah)[5]

Flavius Josephus adalah sejarahwan terkemuka Yahudi yang mulai menulis pada zaman Romawi di tahun 67. Josephus, yang lahir hanya beberapa tahun setelah Yesus meninggal, tentu sangat tahu reputasi Yesus dimata orang Yahudi dan Romawi. Dalam tulisan terkenalnya, Jaman Kuno Yahudi (a.d. 93), Josephus menulis Yesus sebagai manusia nyata. ” Pada masa kehidupan Yesus, seorang yang suci, mungkin seperti itu Dia dipanggil, karena Dia melakukan hal-hal luar biasa, dan mengajar orang-orang, dan dengan gembira menerima kebenaran“. Dia dipercayai oleh banyak orang Yahudi dan Yunani. Dia adalah Mesias.”[6] Kendati ada perdebatan mengenai beberapa kata dari catatannya, terutama berkaitan dengan Yesus sebagai Mesias (para ahli yang skeptis berpikir bahwa orang Kristen menyisipkan kalimat ini), bisa dipastikan Josephus mengkonfirmasikan keberadaan (eksistensi) dari Yesus.

Bagaimana dengan sejarahwan sekuler — mereka yang hidup di zaman itu tapi tidak punya motivasi religius? Saat ini, ada konfirmasi sedikitnya 19 penulis sekuler yang mencatat Yesus sebagai manusia nyata.[7]

Salah satu sejarahwan terkemuka , Cornelius Tacitus, menegaskan bahwa Yesus telah menderita dibawah (pemerintahan Pontius) Pilatus. Tacitus lahir 25 tahun setelah Yesus wafat, dan dia melihat bagaimana penyebaran kekristenan mulai memberi dampak terhadap Roma. Sejarahwan Romawi menulis secara negatif mengenai Yesus dan orang Kristen, mengidentifikasi mereka, di tahun 115, sebagai ” ras manusia yang tidak disukai karena perilaku jahatnya, dan secara umum disebut Kristiani”. Nama itu diambil dari Kristus, yang pada pemerintahan Tiberius, menderita dibawah Pontius Pilatus, Penguasa Yudea.”[8]
Fakta-fakta mengenai Yesus dibawah ini ditulis oleh sumber-sumber non-Kristen:

* Yesus dari Nazareth.
* Yesus hidup secara bijak dan saleh/suci.
* Yesus disalibkan di Palestina dibawah pemerintahan Pontius Pilatus, pada saat Tiberius jadi kaisar ketika Paskah, dan disebut sebagai Raja Orang Yahudi.
* Yesus dipercaya oleh para muridNya telah mati dan bangkit dari kubur tiga hari kemudian.
* Para musuh Yesus mengakui Dia melakukan tindakan tidak-biasa (mukjizat) , yang mereka sebut sebagai sihir.
* Kelompok kecil murid Yesus berlipat ganda dengan cepat, meluas sampai mencapai Roma.
* Para murid Yesus menolak politeisme, hidup bermoral (suci), dan memuja Yesus sebagai ALLAH.

Ahli teologi Norman Geisler mencatat :

“ Penggambaran ini sangat cocok dengan apa yang ada di Perjanjian Baru.”[9]

Semua di atas adalah catatan independen, religius dan sekuler, membicarakan manusia nyata yang cocok dengan Yesus di Injil. Ensiklopedia Britannica mencatat sejumlah tulisan sekuler sebagai bukti yang meyakinkan bahwa Yesus itu ada (eksis). Dituliskan,

“Catatan-catatan independen ini membuktikan bahwa di zaman purba, bahkan oleh para musuh kekristenan tidak ragu akan Yesus sebagai tokoh sejarah (ada atau nyata)”.[10]

Dampak Historis

Perbedaan penting antara sebuah mitos dan manusia nyata adalah bagaimana tokoh itu memberi dampak historis. Contohnya, buku-buku telah ditulis dan film-film juga telah dibuat mengenai Raja Arthur dari Camelot dan Ksatria Meja Bundarnya. Karakter-karakter ini telah begitu melekat sehingga banyak orang percaya mereka pernah ada di zaman itu. Namun para sejarahwan, yang mencari tanda-tanda kehidupan mereka, tidak bisa menemukan dampak apapun dalam hukum, etika, atau agama. Sebuah kerajaan besar seperti Camelot tentunya akan meninggalkan jejaknya pada sejarah masa kini.

Ketidakberadaan dampak historis ini mengindikasikan Raja Arthur dan Ksatria Meja Bundar hanyalah mitos saja. Sejarahwan Thomas Carlyle mengatakan, ” Tidak ada orang besar yang hidup sia-sia. Sejarah dunia adalah biografi orang besar.”[11] Seperti dicatat Carlyle, hanya orang yang benar-benar ada atau nyata, bukan mitos, yang memberi dampak pada sejarah.

bersambung …

lanjutan…

Sebagai orang yang pernah ada atau hidup, Alexander memberi dampak sejarah oleh penaklukan militernya, mengubah negara-negara, pemerintahan, dan hukum. Tapi apa dampak Yesus Kristus terhadap dunia kita?

Pemerintahan Israel dan Romawi di abad pertama sebagian besar tidak tersentuh oleh kehidupan Yesus. Warga biasa kekaisaran Romawi tidak tahu Dia ada sampai bertahun-tahun kemudian setelah kematianNya, budaya Romawi juga sebagian besar tidak terpengaruh oleh ajarannya selama puluhan tahun, dan diperlukan beberapa ratus tahun sebelum pembunuhan orang Kristen di arena (Coliseum) jadi rekreasi nasional. Selain itu, dunia hanya tahu sedikit atau tidak sama sekali mengenai Dia. Yesus tidak pernah jadi panglima sebuah bala tentara.

Dia tidak menulis buku atau mengubah hukum apapun. Para pemimpin Yahudi berharap menghapus ingatan mengenaiNya, dan tampaknya mereka akan berhasil. Namun, sekarang, Romawi kuno tinggal reruntuhan. Pasukan Kaisar dan kekuasaan imperial Romawi sudah lenyap. Bagaimana Yesus dikenang sekarang ini? Apakah dia masih punya pengaruh?

* Lebih banyak buku ditulis mengenai Yesus dibandingkan dengan tokoh lain dalam sejarah.
* Banyak negara menggunakan kata-katanya sebagai dasar bangunan pemerintahan. Menurut Durant, “Kebesaran Kristus adalah dimulainya demokrasi.”[12]
* Khotbah di bukitnya telah membentuk paradigma baru dalam etika dan moral.
* Sekolah-sekolah, rumah sakit, dan upaya kemanusiaan lain telah dibangun berdasarkan namaNya. Universitas Harvard, Yale, Princeton, dan Oxford adalah beberapa universitas dimana orang Kristen perlu diberi ucapan terima kasih karena sudah memulainya.
* Peningkatan peran perempuan di budaya barat, akar jejaknya bisa diusut sampai kepada Yesus. (Perempuan di zaman Yesus dipandang inferior dan tidak dilihat sebagai orang sepenuhnya sampai pengajaranNya diikuti)
* Perbudakan dihapuskan di Inggris dan Amerika juga karena pengajaran Yesus bahwa hidup manusia itu berharga.
* Mereka yang pernah mengalami ketergantungan pada obat, alkohol, pelacur, dan yang lainnya mencari tujuan hidup dan mengklaim Dia sebagai penjelasan perubahan hidup mereka.
* Dua miliar manusia menyebut diri mereka Kristen. Sementara sebagian orang Kristen hanya tinggal nama saja, tapi bagi yang lain terus memberi dampak terhadap budaya kita dengan mengajarkan prinsip-prinsip Yesus bahwa hidup itu berharga dan kita harus saling mengasihi.

Yang paling menakjubkan, Yesus memberi semua dampak ini hanya dengan melakukan pelayananNya selama tiga tahun. Jika Yesus tidak ada (hidup nyata), orang akan heran bagaimana sebuah mitos mampu begitu besar mempengaruhi sejarah. Ketika sejarahwan H.G. Wells ditanya siapa yang meninggalkan warisan terbesar terhadap sejarah, dia menjawab,”Dengan tes ini, Yesus berada pada tempat pertama.”[13]

Bukti-bukti terdokumentasi dan dampak historis menegaskan pada fakta bahwa Yesus itu ada (nyata). Jika Yesus benar-benar ada, kita juga bisa mengharapkan menemukan jejak kaki secara rinci dalam sejarah. Mitos tidak meninggalkan konfirmasi detil-detil semacam itu.

Salah satu kunci bagi Durant dan para ahli lain adalah faktor waktu. Mitos dan legenda biasanya berkembang selama ratusan tahun — cerita George Washington tidak pernah bohong , sampai dua ratus tahun kemudian berubah jadi legenda. Berita mengenai kekristenan, di sisi lain, meluas terlalu cepat untuk bisa disebut sebagai mitos atau legenda. Jika Yesus tidak pernah ada (nyata), mereka yang menentang kekristenan akan langung menyebutNya sebagai mitos sejak semula. Tapi mereka tidak melakukannya.

Bukti-bukti itu, bersama dengan catatan awal dan dampak historis Yesus Kristus, meyakinkan sejarahwan skeptis bahwa pendiri kekristenan itu bukan mitos atau legenda.

Tapi ada juga pakar-pakar tentang mitos tidak yakin. Seperti Muggeridge, pakar dari Oxford, CS Lewis, sejak semula yakin Yesus tidak lebih dari sebuah mitos.

Lewis pernah menyatakan, “Semua agama, karena itu, semua mitologi …. hanyalah ciptaan manusia — Kristus sama saja dengan loki.”[14] (Loki adalah dewa kuno Norwegia. Seperti Thor, tapi tanpa rambut kepangnya.)

Sepuluh tahun setelah menyatakan Yesus sebagai mitos, Lewis menemukan rincian sejarah, termasuk dokumen-dokumen dari para saksi mata, telah membuktikan keberadaanNya.

Yesus Kristus memberi keluasan dampak sejarah seperti gempa besar. Dan gempa bumi ini telah meninggalkan jejak lebih luas daripada Grand Canyon. Jejak ini berupa bukti-bukti yang meyakinkan para ahli bahwa Yesus benar-benar ada dan benar-benar memberi dampak pada dunia kita sejak 2.000 tahun lalu.
Salah satu orang yang skeptis, yang berpendapat Yesus hanyalah mitos adalah wartawan Inggris, Malcolm Muggeridge. Namun dalam salah satu penugasannya ke Israel, Muggeridge berhadapan dengan bukti-bukti akan Yesus Kristus yang dia tidak tahu bukti itu ada. Ketika dia memeriksa tempat-tempat bersejarah — tempat kelahiran Yesus, Nazareth, tempat penyaliban, dan kubur yang kosong — perasaan keberadaan Yesus mulai muncul.

Belakangan dia menyatakan:

“Satu ketika saya ada di Tanah Suci untuk membuat tiga program televisi BBC mengenai Perjanjian Baru yang …. secara pasti menarik saya tentang kelahiran Yesus, pelayanNya, dan penyalibanNya. …saya jadi sadar bahwa pernah ada seseorang, Yesus, yang  juga ALLAH.”[15]

Beberapa pakar Jerman, yang sangat kritis, pada abad 18 dan 19 juga telah mempertanyakan eksistensi Yesus, menyebutkan bahwa tokoh kunci seperti Pontius Pilatus dan Imam Kepala Yosep Kayafas di catatan Injil tidak pernah dikonfirmasikan sebagai manusia nyata. Tidak ada jawaban sampai pertengahan abad 20.

Tahun 1962, para arkeologi mengkonfirmasikan eksistensi Pilatus ketika mereka menemukan namanya ada dalam sebuah prasasti batu yang ditemukan. Hampir sama, keberadaan Kayafas tidak pasti sampai tahun 1990, ketika sebuah kotak berisi tulang-belulang ditemukan dengan namanya ada dikotak itu. Para arkeolog juga menemukan apa yang mereka percaya sebagai rumah Simon Petrus dan gua dimana Yohanes Pembaptis membaptis.

Akhirnya, mungkin bukti sejarah paling meyakinkan akan keberadaan Yesus adalah pertumbuhan cepat kekristenan. Bagaimana hal itu bisa terjadi tanpa Kristus? Bagaimana sekelompok nelayan dan pekerja lainnya menciptakan Yesus dalam beberapa tahun saja? Durant menjawab pertanyaan awal yang berasal darinya — apakah Yesus ada? — dengan kesimpulan ini:

Beberapa orang sederhana itu jika saja mampu dalam satu generasi menciptakan satu pribadi yang sangat kuat dan menarik, mulia dalam etika, dan sangat inspiratif terhadap visi persaudaraan manusia, akan merupakan mukjizat yang jauh lebih besar dari yang tercatat di Injil. Setelah dua abad, kritikan keras akan kehidupan, karakter, dan pengajaran Kristus, tetap saja jelas dan menjadi bahan paling menarik dalam sejarah manusia barat.

Putusan Para Ahli

Clifford Herschel Moore, dosen di Universitas Harvard, mempertegas kesejarahan Yesus. “Kekristenan mengetahui Penyelamat dan Pengampun tidak seperti tuhan-tuhan lain yang sejarahnya terkontiminasi keimanan mitos. …Yesus adalah manusia historis, bukan karakter mitos. Tidak ada sedikitpun atau ada penipuan mitos yang masuk dengan sendirinya kepada orang percaya Kristen, imannya didasarkan secara positif, historis, dan fakta-fakta yang bisa diterima. ”[16]

Beberapa, jika ada, sejarahwan yang serius setuju dengan pernyataan Ellen Johnson dan Bertrand Russell bahwa Yesus tidak nyata (ada). Dokumentasi luas mengenai kehidupan Yesus yang ditulis oleh para penulis masa kini, dampak besar pada sejarah, dan konfirmasi tak terbantahkan bukti sejarah telah membuat para ahli mengakui Yesus benar-benar ada (nyata). Mampukan mitos melakukan itu semua? Semua, kecuali beberapa pakar yang amat sangat skeptis menyatakan tidak.

Dr. Michael Grant of Cambridge menulis, “Untuk menyimpulkannya, metode kritis modern telah gagal mendukung teori Yesus adalah mitos. Sudah berkali-kali dijawab kembali dan dituntaskan oleh pakar terkemuka. Dalam tahun-tahun terakhir ini tidak ada seorang ahli yang melontarkan pernyataan bahwa Yesus bukan tokoh historis (nyata).”[17]

Sejarahwan Yale, Jaroslav Pelikan, mengatakan, “Apapun yang mungkin dipikirkan seseorang atau percaya mengenai Dia, Yesus dari Nazareth telah menjadi tokoh dominan dalam sejarah budaya Barat hampir selama dua puluh abad. … mulai dari kelahirannya, dimana sebagian besar manusia menandai kalendernya, atas namaNya jutaan orang mengutuki dan jutaan lainnya berdoa.”[18]
Apakah Yesus Benar-Benar Bangkit Dari Kematian?

Pertanyaan terbesar masa kini adalah, “Siapa sebenarnya Yesus Kristus? Apakah dia hanya seorang luar biasa, atau dia ALLAH dalam daging, seperti dipercayai oleh para muridNya Paulus, Yohanes, dan yang lainnya. Para saksi mata, bagi Yesus Kristus, berbicara dan bertindak sepertinya mereka percaya Dia bangkit secara fisik dari kematian setelah penyalibannya. Jika mereka salah maka kekristenan didirikan di atas kebohongan. Tapi jika mereka benar, mukjizat seperti itu memperkuat semua yang Yesus katakan mengenai ALLAH, diriNya, dan kita. Tapi apakah kita percaya pada kebangkitan Yesus hanya dengan iman saja, tapi apakah ada bukti historis yang kuat? Beberapa ahli skeptis mulai meneliti catatan historis untuk membuktikan bahwa catatan kebangkitan itu salah. Apa yang mereka temukan?

Apakah ada Konspirasi Da Vinci?
SENYUMAN MONA LISA:

Da Vinci Code tidak bisa dikesampingkan hanya sebagai rancangan fiksi belaka. Premisnya adalah Yesus Kristus telah dibentuk (direkayasa) kembali untuk kepentingan politik, telah menyerang lansung pondasi utama KeKristenan. Pengarangnya, Dan Brown, didepan televisi nasional menyatakan kendati cerita itu fiksi, dia percaya ceritanya mengenai identitas Yesus benar. Jadi apa itu kebenaran? Mari kita lihat.

* Apa Yesus secara rahasia menikah dengan Maria Magdalena?
* Apakah ke-Tuhan-an Yesus diciptakan oleh Konstantin dan gereja?
* Apakah catatan orsinil Yesus dihancurkan?
* Apakah penemuan terbaru manuskrip menceritakan kebenaran akan Yesus?

Apakah konspirasi maha besar itu bermuara pada rekayasa kembali (penciptaan kembali) Yesus? Menurut buku itu dan filmnya, The Da Vinci Code, itulah yang terjadi. Beberapa bagian buku memperlihatkan bau konspirasi mengenai Yeus. Contohnya, buku menyebutkan,

“Tidak seorangpun menyatakan Kristus merupakan kebohongan, atau membantah Dia pernah berjalan di bumi dan menginspirasi jugaan orang untuk hidup lebih baik. Kita hanya mengatakan Konstantin memanfaatkan substansi dari pengaruh dan pentingnya Yesus itu. Dan dalam melakukannya, dia membentuk wajah KeKristenan yang kita kenal sekarang ini.”[1]

Apa mungkin pernyataan dari buku laris Dan Brown ini benar? Atau premis dibelakangnya hanyalah bahan-bahan yang bagus untuk novel konspirasi — sama dengan kepercayaan bahwa pesawat luar angkasa asing jatuh di Roswell, New Mexico, atau ada penembak kedua di lapangan rumput di Dallas ketika JFK dibunuh.

Apapun itu, cerita memang menarik. Tidak heran buku Brown telah jadi salah satu buku paling laku dalam satu dekade terakhir.
Konspirasi Yesus

The Da Vinci Code dimulai dengan pembunuhan kurtor museum Perancis bernama Jacques Sauniere. Seorang pakar dari Universitas Harvard dan perempuan cantik Perancis ahli kritologi diminta mengartikan sebuah pesan yang ditinggalkan kurator sebelum kematiannya. Pesan itu ternyata mengungkap konspirasi besar dalam sejarah manusia: sebuah penipuan pesan sebenarnya tentang Yesus Kristus oleh tangan rahasia gereja Katolik Roma disebut Opus Dei.

Sebelum kematiannya, sang kurator punya bukti yang akan menghapuskan ke-Tuhan-an Kristus. Kendati (menurut cerita di buku) gereja selama berabad-abad mencoba menghapus bukti-bukti, para pemikir dan seniman besar telah menanam petunjuk dibanyak tempat: dalam lukusan seperti Mona Lisa dan Perjamuan Malam Terakhir oleh da Vinci, dalam arsitektur katedral-katedral, bahkan dalam kartun-kartun Disney. Klaim utama buku adalah:

* Kaisar Romawi Konstantin berkonspirasi untuk men-Tuhan-kan Yesus Kristus.
* Konstantin secara pribadi memilih buku-buku di dalam Perjanjian Baru.
* Injil Gnostik dilarang oleh para laki-laki untuk menindas perempuan.
* Yesus dan Maria Magdalena secara rahasia menikah dan punya anak.
* Ada ribuan dokumen yang bertentangan dengan poin-poin kunci KeKristenan.

Brown mengungkapkan konspirasinya melalui seorang ahli, fiksi, sejarahwan bangsawan Inggris, bernama Sir Leigh Teabing. Digambarkan sebagai seorang pakar yan bijak dan tua, Teabing mengungkapkan kepada ahli kriptologi Sophie Neveu bahwa pada sidang Dewan Nicaea tahun 325 “banyak aspek dari KeKristenan diperdebatan dan diambil pemungutan suara (untuk memutuskannya),” termasuk ke-Tuhan-an Yesus.

“Sampai pada momen historis,” katanya, “Yesus dipandang oleh para pengikutnya sebagai nabi fana …. seorang besar dan berkuasa, tapi tetap seorang manusia biasa.”

“Relatif menang tipis dalam pemungutan suara,” tukas Teabing yang sangat mengejutkan ahli kriptologi itu.[2]

Neveu kaget sekali. “Bukan Putra ALLAH?” Tanyanya.

Teabing menjelaskan, ”Penetapan Yesus sebagai ‘Putra ALLAH’ secara resmi diusulkan dan dipilih oleh Dewan Nicaea.”

“Tunggu. Anda katakan Ke-Tuhan-an Yesus adalah hasil pemungutan suara.”

Jadi menurut Teabing, Yesus belum dipandang sebagai ALLAH sampai Dewan Nicaea bersidang tahun 325, ketika catatan sebenarnya tentang Yesus dikatakan dilarang dan dihancurkan. Jadi, menurut teori itu, seluruh dasar KeKristenan berdiri diatas kebohongan.

The Da Vinci Code telah menjual ceritanya denga bagus,menarik komentar dari para pembaca seperti “jika tidak benar maka tidak akan dipublikasikan!” Yang lain menulis dia “tidak akan menginjakkan kakinya di gerja lagi.” Seorang pengulas buku memujinya karena “riset sempurna (meyakinkan)[3] Cukup meyakinkan buat sebuah cerita fiksi.

Mari kita sebentar menerima pandangan Teabing yang mungkin benar. Kenapa, dalam kasus ini, Dewan Nicaea memutuskan untuk mengangkat Yesus menjadi ALLAH?

“Karena kekuasaan,” imbuh Teabing. “Kristus sebagai Mesias sangat penting supaya Gereja dan negara bisa berfungsi. Banyak ahli mengklaim gereja mula-mula secara harafiah mencuri Yesus dan para pengikut asli, membajak pesan kemanusiaannya, menutupiNya dengan jubah Ke-Tuhan-an yang tidak bisa ditembus, dan menggunakanNya untuk memperluas kekuasaan mereka sendiri.”[4]

Dalam banyak cara, The Da Vinci Code adalah konspirasi teori paling lengkap. Jika penuturan Brown benar, maka kita telah dibohongi oleh — gereja, oleh sejarah, dan oleh Kitab Suci. Mungkin bahkan oleh mereka yang paling kita percayai: orangtua kita atau guru-guru kita. Dan itu semua hanya untuk meraih kekuasaan.

Meskipun The Da Vinci Code merupakan cerita fiksi, sebagian besar premisnya diambil dari kejadian nyata (Dewan Nicaea), orang-orang nyata (Konstantin dan Arius), dan dokumen nyata (injil Gnostik). Jika kita memasuki dasar dari konspirasi, proyek kita harus meneliti tuduhan Brown dan memisahkan fakta dengan fiksi.
Konstantin Dan Kekristenan

Beberapa ratus tahun sebelum Konstantin berkuasa di Kekaisaran Romawi, orang Kristen mengalami penindasan berat. Tapi kemudian, ketika akan melancarkan perang, Konstantin dilaporkan melihat salib terang di angkasa dengan tulisan “Taklukkan dengan ini.” Dia bertempur dengan tanda salib dan mengambil alih kekuasaan kekaisaran.

Pertobatan Konstantin jadi Kristen terlihat jelas dalam sejarah gereja. Roma jadi kekaisaran Kristen. Untuk pertama kalinya, selama hampir 300 tahun, orang Kristen relatif aman dan bahkan merasa keren untuk jadi Kristen.

Orang Kristen tidak lagi ditindas karena iman mereka. Kemudian Konstantin berusaha menyatukan Kekaisaran Barat dan Timur, yang terpecah karena perbedaan keyakinan, sekte, dan golongan, sebagian besar berpusat pada isu identitas Yesus Kristus.

Ada bagian-bagian yang benar dalam The Da Vinci Code, dan bagian-bagian yang benar ini jadi prasyarat bagi sebuah kesuksesan teori konspirasi apapun. Tapi cerita dalam buku membuat Konstantin jadi tokoh konspirator. Jadi, mari dilihat pertanyaan kunci yang ditujukan kepada teori Brown: apakah Konstantin menciptakan doktrin Kristen tentang Ke-Tuhan-an Yesus?

Ke-Tuhan-An Yesus

Untuk menjawab tuduhan Brown, kita pertama-tama harus menemukan apa yang dipercaya orang Kristen secara umum sebelum Konstantin menyelenggarakan sidang Nicaea.

Orang Kristen telah memuja Yesus sebagai ALLAH sejak abad pertama. Tapi pada abad ke empat, seorang pemimpin gereja dari timur, Arius, melakukan kampanye untuk mempertahankan ke-esa-an ALLAH. Dia mengajarkan Yesus merupakan ciptaan khusus, lebih tinggi dari malaikat, tapi bukan ALLAH. Athanasius dan sebagian besar pemimpin gereja, dipihak lain, yakin bahwa Yesus adalah ALLAH dalam daging.

Konstantin ingin menyelesaikan pertikaian ini, berharap membawa damai di kekaisarannya, menyatukan timur dan barat yang terpecah. Jadi, tahun 325, dia menyelenggarakan konvensi lebih dari 300 uskup di Nicaea (sekarang bagian dari Turki) dari seluruh dunia Kristen. Pertanyaan penting adalah, apakah gereja purba berpikir Yesus adalah Pencipta atay hanyalah ciptaan — Anak ALLAH atau anak seorang tukang kayu? Jadi, apa yang ajarkan oleh para rasul tentang Yesus? Dari catatan paling awal, mereka memandang Dia sebagai ALLAH. Sekitar 30 tahun setelah kematian dan kebangkitan Yesus, Paulus menulis kepada orang Filipi bahwa Yesus adalah ALLAH dalam bentuk manusia (Filipi 2:6-7). Dan Yohanes, saksi mata yang dekat, mengkonfirmasikan Ke-Tuhan-an Yesus dengan kalimat ini:

Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan ALLAH dan Firman itu adalah Allah. Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatupun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan. Dalam Dia ada hidup dan hidup itu adalah terang manusia. Firman itu telah menjadi manusia dan diam diantara kita. (Yohanes 1: 1-4, 14).

Kalimat ini dari Johanes 1, ditemukan dalam manuskrip kuno dan sudah dihitung dengan tehnik karbon berasal dari tahun 175 – 225. Jadi Yesus dengan sangat jelas diberitakan sebagai Allah lebih dari seratus tahun sebelum Konstantin menyelenggarakan konvensi Dewan Nicaea. Sekarang kita melihat bukti forensik manuskrip bertentangan dengan klaim The Da Vinci Code, yang menyatakan ke-Tuhan-an Yesus diciptakan pada abad ke empat. Tapi apa yang dikatakan sejarah kepada kita mengenai Dewan Nicaea? Brown dalam bukunya, melalui Teabing, menyatakan mayoritas uskup di Nicaea meniadakan kepercayaan Arius bahwa Yesus adalah nabi biasa (manusia biasa) dan mengadopsi doktrin Ke-Tuhan-an Yesus dengan “hasil pemungutan suara (menang) tipis”. Benar atau salah?

Dalam kenyataan hasil pemungutan suara menang mutlak: hanya dua dari 318 uskup yang berbeda pandangan. Arius percaya bahwa hanya Bapa yang Allah, dan Yesus adalah ciptaan terutamaNya, dewan mengambil kesimpulan bahwa Yesus dan Bapa satu hekekat ke-Allah-an.

Bapa, Anak, dan Roh Kudus, berbeda, hadir bersama-sama, berpribadi, tapi tetap Allah yang Esa. Doktrin Allah yang Esa dalam tiga pribadi (Trinitas) dikenal dalam Pengakuan Iman Rasuli Nicene dan jadi pusat utama keimanan Kristen. Sekarang, apakah benar Arius itu mudah mempengaruhi orang lain dan punya pengaruh kuat. Hasil pemungutan suara, yang menang mutlak, dilakukan setelah perdebatan panjang. Tapi pada akhirnya dewan secara mayoritas besar menyatakan Arius bidah (sesat), karena pengajarannya bertentangan dengan apa yang diajarkan oleh para rasul tentang ke-Tuhan-an Yesus.

Sejarah juga mengkonfirmasi Yesus dimuka umum menerima pemujaan para muridnya. Dan, seperti kita telah lihat, Paulus dan para rasul lain dengan jelas mengajarkan Yesus adalah Allah dan pantas menerima pemujaan.

Sejak hari pertama gereja Kristen, Yesus dipandang lebih dari sekedar manusia biasa, dan kebanyakan pengikutnya memuja dia sebagai Tuhan — Pencipta alam semesta. Jadi, bagaimana Konstantin menciptakan doktrin Ke-Tuhan-an Yesus, jika gereja telah memandang Yesus sebagai Allah lebih dari 200 tahun? The Da Vinci Code tidak membahas pertanyaan ini.

Menembak Kanon

The Da Vinci Code juga menyebutkan Konstantin menghancurkan semua dokumen mengenai Yesus selain yang ditemukan pada kanon Perjanjian Baru seperti sekarang (diakui oleh gereja sebagai laporan saksi mata otentik para rasul). Ditambahkan bahwa catatan Perjanjian Baru diubah oleh Konstantin dan para uskup untuk menciptakan Yesus yang baru. Eleman kunci lain konspirasi The Da Vinci Code adalah ke empat Injil dipilih dari total “lebih dari 89 Injil”, kebanyakan dimusnahkan oleh Konstantin.[5]

Ada dua isu sentral disini, dan kita perlu membahas keduanya. Pertama adalah apakah terjadi bias atau ‘asal pilih’ Konstantin atas buku-buku di Perjanjian Baru. Kedua adalah apakah dokumen-dokumen, yang dilarangnya, seharusnya dimasukkan dalam Kitab Suci.

Mengenai isu pertama, surat-surat dan dokumen yang ditulis para pemimpin gereja abad kedua dan juga termasuk aliran (sekte-sekte) sesat mengkonfirmasikan penggunaan buku-buku Perjanjian Baru. Hampir 200 tahun sebelum Konstantin menyelenggarakan konvensi Dewan Nicaea, aliran sesat Marcion mendaftar 11 dari 27 buku Perjanjian Baru sebagai tulisan otentik para rasul.

Pada saat yang hampir bersamaan, aliran sesat lain, Valentinus, memakai secara luar tema dan banyak tulisan dari Perjanjian Baru. Diketahui, kedua aliran sesat ini adalah musuh dari kepemimpinan gereja mula-mula, dan mereka tidak menulis apa yang diinginkan oleh para uskup. Kendati begitu, sama seperti gereja mula-mula, mereka masih tetap memegang referensi yang sama dengan Perjanjian Baru dengan apa yang kita baca sekarang.

bersambung…

lanjutan…

Jadi, kalau Perjanjian Baru sudah digunakan secara luas 200 tahun sebelum Konstantin dan Dewan Nicaea, bagaimana kaisar bisa menciptakan atau mengubahnya? Pada saat gereja sudah tersebar luas dan meliputi ratusan, kalau bukan jutaan, orang percaya, dan mereka semua akrab dengan catatan Perjanjian Baru.

Dalam bukunya The Da Vinci Deception (Tipuan Da Vinci), mengenai analisa terhadap buku The Da Vinci Code, Dr. Erwin Lutzer mencatat,

“Konstantin tidak memutuskan buku-buku mana yang masuk dalam kanon; sesungguhnya topik kanon tidak muncul dalam sidang Dewan Nicaea. Pada saat gereja mula-mula membaca sebuah buku-buku kanon maka sudah diputuskan bahwa itu adalah Firman Allah dua ratus tahun sebelumnya.”[6]

Meskipun kanonisasi resmi masih membutuhkan waktu tahunan sebelum difinalisasikan, Perjanjian Baru saat ini sudah ditegaskan otentik lebih dari 200 tahun sebelum Nicaea.

Hal ini membawa kita kepada isu kedua; kenapa injil-injil Gnostik, yang misterius itu, dimusnahkan dan dikeluarkan dari Pernjanjian Baru? Dalam buku itu, Teabing meyakinkan bahwa tulisan-tulisan Gnostik dihapuskan dari 50 Kitab Suci yang ditulis oleh dewan atas perintah Konstantin. Dengan antusias dia berkata kepada Neveu:

“Karena konstantin mengangkat status Yesus empat abad sejak kematian Yesus, ada ribuan dokumen eksis yang menceritakan kehidupanNya sebagai manusia biasa. Untuk menulis ulang buku sejarah, Konstantin tahu dia membutuhkan tindakan besar dan keras. Dari sinilah momen paling penting dalam sejarah KeKristenan. … Konstantin memerintahkan dan membiayai Kitab Suci baru, yang tidak memasukkan injil-injil yang berbicara bahwa Yesus manusia biasa dan mengangkat injil-injil yang membutNya menjadi seperti Allah. Injil-injil awal dilarang, dikumpulkan, dan dibakar.”[7]

Apakah tulisan-tulisan Gnostik ini adalah sejarah Yesus Kristus yang benar? Mari kita lihat lebih dalam agar kita bisa memisahkan antara kebenaran dari fiksi.
Rahasia “Mereka Yang Tahu”

Injil Gnostik dikaitkan dengan sebuah kelompok sebagai (kejutan besar disini) Gnostik. Nama mereka diambil dari kata Yunani gnosis, berarti “pengetahuan”. Mereka adalah orang-orang yang berpikir mereka punya rahasia, pengetahuan khusus yang disembunyikan dari orang biasa.

Dari 52 tulisan, hanya ada 5 yang benar-benar pernah didaftar sebagai injil. Seperti kita lihat, apa yang disebut sebagai injil itu ditandai berbeda dari injil Perjanjian Baru, Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes.

Ketika KeKristenan meluas, Gnostik mencampur sejumlah doktrin dan elemen KeKristenan kedalam kepercayaan mereka, mengubah Gnostikisme jadi KeKristenan palsu. Mungkin mereka melakukan itu untuk menarik pengikut baru lebih banyak dan membuat Yesus sebagai tokoh dari perjuangan mereka. Kemdati begitu, bagi sistim pemikiran mereka agar masuk dalam KeKristenan, Yesus perlu diubah, ditelanjangi dari kemanusianNya dan juga ke-Allah-anNya.

Dalam The Oxford History of Christianity John McManners menulis Gnostik mencampur kepercayaan Kristen dengan mistis.

“Gnostikisme pernah (dan masih) jadi “upaya pencerahan diri” dengan banyak bumbu. Okultisme dan mistik timur bercampur dengan astrologi, sihir. … Mereka mengumpulkan perkataan Yesus dibentuk agar sesuai dengan interpretasi mereka (seperti pada Injil Thomas) dan menawarkan kepercayaan mereka sebagai alternatif atau bentuk pesaing dari KeKristenan.”[8]

Kritik Awal

Bertentangan dengan Brwn, bukanlah Konstantin yang melabelkan kepercayaan Gnostik sebagai sesat; tetapi para rasul sendiri. Aliran filsafat telah mulai tumbuh pada abad pertama, hanya beberapa puluh tahun setelah kematian Yesus. Para rasul, dalam pengajaran dan tulisan mereka, bertutur panjang lebar mengecam kepercayaan ini sebagai bertentangan dengan kebenaran Yesus, dimana mereka adalah saksi mata.

Kita cek, contohnya, apa yang ditulis rasul Yohanes pada akhir abad pertama,

“Siapa pendusta itu? Bukankah dia yang menyangkal bahwa Yesus adalah Kristus? Dia itu adalah antiKristus, yaitu dia yang menyangkal baik Bapa maupun anak.” (1 Johanes 2:22)

Mengikuti pengajaran para rasul, pemimpin gereja mula-mula secara bulat mengutuk Gnostik sebagai sekte sesat. Bapa gereja Irenaeus, menulis 140 tahun sebelum Dewan Nicaea, mengkonfirmasikan Gnostik dikutuk oleh gereja sebagai sesat. Dia juga menolak “injil” mereka. Namun, dengan referensi Injil Perjanjian Baru, dia mengatakan, “Tidak mungkin Injil lebih atau kurang jumlahnya dari yang sudah ada.”[9]

Teolog Kristen Origen menulis pada awal abad ke tiga, lebih dari seratus tahun sebelum Nicaea,

Saya tahu beberapa injil yang disebut “Injil menurut Thomas” dan “Injil menurut Matthias”, dan banyak lagi yang lain yang sudah kita baca — supaya jangan kita dianggap bodoh karena mereka yang mengkhayal mereka memiliki sejumlah pengetahuan jika mereka memperolehnya dengan itu (Injil Thomas dan Injil Matthias). Walaupun begitu, dari semua yang kita sudah setujui dari apa yang akui gereja, dimana hanya ada empat injil seharusnya diterima.[10]

Itulah kata-kata dari pemimpin terkemuka gereja mula-mula. Gnostik sudah dikenal sebagai sekte non-Kristen jauh sebelum Dewan Nicaea. Tapi masih ada lebih banyak bukti yang bisa dipertanyakan terhadap klaim-klaim The Da Vinci Code.
Siapa Yang Bias Gender?

Brown menyatakan salah satu motif Konstantin melarang tulisan Gnostik adalah keinginan untuk menindas perempuan dalam gereja. Irosnisnya, justru Injil Gnostik Thomas yang merendahkan martabat perempuan. Injil menyimpulkan (katanya mengutip Petrus) dengan pernyataan yang mengagetkan,” Biarkan Maria pergi dari kita, karena perempuan tidak pantas bagi kehidupan.” (114). Kemudian Yesus disebutkan mengatakan kepada Petrus bahwa dia akan mengubah Maria jadi laki-laki sehingga dia bisa memasuki kerajaan surga. Baca: perempuan lebih rendah. Dengan sentimen seperti itu diperlihatkan, sangat sukar untuk meyakinkan bahwa tulisan Gnostik sebagai dasar dari perjuangan pembebasan perempuan.

Dengan kontras yang jelas, Yesus di Injil (Kitab Suci) selalu memperlakukan perempuan dengan menjujung harga dirinya dan hormat. Ayat revolusioner seperti ini ditemukan dalam Perjanjian Baru dan jadi dasar dari upaya peningkatan status perempuan:

“Dalam hal ini tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba, atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus.” (Galatia 3:28).

Penulis Misterius

Ketika membahas injil Gnostik, sama seperti setiap buku yang menyandang nama karakter Perjanjian Baru, Injil Filipus, Injil Petrus, Injil Maria, Injil Yudas, dan seterusnya. (Terdengar seperti kumpulan panggilan dengan pemikiran sempit) Ini adalah kuku-buku dimana teori konspirasi seperti The Da Vinci Code mendasarkan dirinya. Tapi apakah mereka pernah menuliskan siapa penulisnya?

Injil Gnostik ditulis sekitar 110 – 300 tahun setelah Kristus, dan tidak ada ahli yang kredibel percaya ada salah satu buku yang menuliskan penulisnya. Dalam buku, yang membahas secara menyeluruh, James M. Robinson, berjudul The Nag Hammadi Library, kita pelajari injil Gnostik ditulis oleh “penulis anonim dan tidak saling berhubungan.”[12] Dr. Darrell L. Bock, pengajar studi Perjanjian Baru di Dallas Theological Seminary, menulis,

“Material, yang banyak ini, adalah generasi-generasi yang keluar dari dasar-dasar iman Kristen, ini poin vital untuk diingat ketika meneliti isinya.”[13]

Ahli Perjanjian Baru Norman Geisler berkomentar atas dua tulisan Gnostik, Injil Petrus dan Perbuatan Yohanes (Tulisan Gnostik ini tidak terkait dengan buku-buku Perjanjian Baru yang ditulis oleh Yohanes dan Petrus):

“Tulisan Gnostik tidak ditulis oleh para rasul, tapi oleh orang pada abad ke dua (dan setelahnya) seakan-akan menggunakan otoritas kerasulan untuk mengajukan pengajaran mereka sendiri. Hari ini, kita menyebutnya sebagai penipuan dan penjiplakkan.”[14]

Injil Gnostik bukanlah catatan historis kehidupan Yesus tapi sebagian besar berisi mistis, diselimuti misteri, tidak mengindahkan detil historis seperti nama-nama, tempat, dan peristiwa. Ini sangat kontras dengan Injil Perjanjian Baru, yang berisi banyak sekali fakta historis tentang kehidupan Yesus, pelayananNya, dan firmanNya.

Nyonya Yesus

Bagian paling menarik dari konspirasi Da Vinci adalah pernyataan bahwa Yesus dan Maria Magdalena diam-diam menikah dan punya anak, yang menurunkan keturunan. Karena itu, rahim Maria Magdalena, yang ada anak Yesus, digambarkan di buku sebagai ‘Holy Grail’, rahasia yang dijaga sangat ketat oleh organisasi Katolik dengan nama ‘Priory of Sion’. Sir Isaac Newton, Botticelli, Victor Hugo, dan Leonardo Da Vinci disebutkan sebagai anggotanya.

Romantika. Skandal. Intrik. Bahan sangat bagus bagi teori konspirasi. Tapi apa benar? Lihat apa yang dikatakan para pakar.

Artikel di majalah Newsweek menyimpulkan pendapat para ahli, teori Yesus dan Maria Magdalena menikah diam-diam tidak punya dasar sejarah.[15] Cerita yand disodorkan The Da Vinci Code dibangun hanya berdasarkan satu ayat di Injil Filipus yang mengindikasikan Yesus dan Maria Magdalena ‘berteman’. Dalam buku, Teabing membangun kasus dengan argumen kata ‘berteman’ (koinonos) bisa berarti ‘pasangan’. Tapi teori Teabing tidak diterima oleh para ahli.

Juga ada satu ayat di Injil Filipus yang menyatakan Yesus mencium Maria. Menyambut teman dengan ciuman sudah biasa dilakukan di abad pertama, dan tidak punya konotasi seksual. Tapi meski interpretasi The Da Vinci Code benar, tidak ada dokumen historis yang mengkonfirmasi teori itu. Juga karena Injil Filipus ditulis sekitar 150 – 220 tahun setelah Yesus oleh penulis tak diketahui, pernyataannya mengenai Yesus tidak bisa diandalkan secara historis.

Mungkin Gnostik (para penganut Gnostik) merasa Perjanjian Baru sedikit malu-malu mengungkapkan romatika dan memutuskan menambahkan bumbu itu sedikit. Apapun alasannya, ayat yang terisolasi dan tidak jelas ini, ditulis dua abad setelah Yesus dan tidak kuat untuk dijadikan dasar sebuah teori konspirasi. Menarik di baca, mungkin, tapi jelas bukan sejarah. Bagaimana tentang ‘Holy Grail dan the Priory of Sion’, tulisan fiksi Brown kembali mendistorsi sejarah. Legenda ‘Holy Grail’ diperkirakan adalah gelas Yesus pada saat makan malam terakhir (malam sebelum penyaliban) dan tidak ada kaitan apapun dengan Maria Magdalena. Dan Leonardo da Vinci tidak pernah tahu tentang ‘Priory of Sion’, karena organisasi ini belum dibentuk sampai tahun 1956, 437 tahun setelah kematiannya. Kembali, fiksi menarik, tapi kebohongan sejarah.
Dokumen Rahasia

Tapi bagaimana dengan pengungkapan Teabing bahwa ada “ribuan dokumen rahasia” yang membuktikan KeKristenan itu kebohongan. Apakah ini benar?

Jika ada dokumen-dokumen seperti itu, para ahli penentang KeKristenan akan langsung melahapnya. Tulisan-tulisan pemalsuan yang ditolak oleh gereja mula-mula karena pandangan sesatnya bukanlah rahasia, sudah dikenal selama lebih dari satu abad. Tidak ada kejutan disini. Mereka tidak pernah dipertimbangkan sebagai bagian tulisan otentik para rasul.

Dan jika Brown (Teabing) mengambil referensi catatan-catatan yang tidak jelas asalnya atau injil-injil yang belum jadi, hal ini akan membuat cerita jadi hambar. Tulisan-tulisan ini bukan rahasia, apalagi tulisan itu tidak menentang KeKristenan. Ahli Perjanjian Baru Raymond Brown mengatakan Injil Gnostik,

“Kami pelajari tidak ada fakta baru, yang bisa diverifikasi, tentang sejarah pelayanan Yesus, dan hanya ada beberapa pernyataan yang mungkin berasal dari Yesus.”[17]

Tidak seperti injil-injil Gnostik, yang penulisnya tidak dikenal dan bukan saksi mata, Perjanjian Baru, yang kita miliki sekarang, telah melewati banyak ujian ke-otentik-an. (Klik untuk membaca Jesus.doc) Kontras sangat mengejutkan bagi mereka yang mendesakkan teori-teori konspirasi. Sejarahwan Perjanjian Baru F. F. Bruce menulis :

“Tidak ada literatus kuno di dunia yang memiliki kekayaan teksual, dalam kondisi baik, seperti Perjanjian Baru.”[18]

Ahli Perjanjian Baru Bruce Metzger mengungkapkan kenapa Injil Thomas tidak diterima oleh gereja mula-mula:

“Tidak benar untuk menyatakan Injil Thomas dikeluarkan oleh sebagian dewan: hal benar untuk melihatnya, Injil Thomas itu sendiri mengeluarkan dirinya sendiri! Injil tidak mempunyai harmoni dengan testimoni lain tentang Yesus sehingga orang Kristen mula-mula menerimanya untuk bisa dipercaya.”[19]

Putusan Sejarah

Jadi, apa yang kita simpulkan berkaitan dengan berbagai teori konspirasi mengenai Yesus Kristus? Karen King, dosen sejarah di Harvard, telah menulis beberapa buku mengenai injil Gnostik, termasuk Injil Maria Magdalena dan Apa itu Gnostikisme? King, meskipun dia membela dengan keras pengajaran Gnostik, menyimpulkan, “Pernyataan-pernyataan mengenai teori konspirasi — semuanya adalah ide-ide marginal saja dan tidak punya dasar sejarah.”[20]

Meski tidak ada bukti sejarah, teori konspirasi terus menjual jutaan buku dan membuat rekor ‘box office’. Para ahli dibidang yang berkaitan, sejumlah orang Kristen dan mereka yang tidak punya keimanan, telah mempertanyakan klaim ‘The Da Vinci Code’. Namun, mereka yang mudah terombang-ambing tetap merenung, apa ada sesuatu di sana?

Wartawan televisi, yang mendapat beberapa penghargaan, Frank Sesno, bertanya kepada panel para ahli sejarah mengenai ketertarikan orang dengan teori-teori konspirasi. Professor Stanley Kutler dari University of Wisconsin menjawab, “Kita suka sekali misteri— tapi yang lebih kita sukai adalah konspirasi.”

Jadi jika anda ingin membaca teori konspirasi,yang sangat menarik, tentang Yesus, novel Dan Brown, The Da Vinci Code, mungkin akan memuaskan anda. Tapi kalau anda ingin membaca catatan yang sejati tentang Yesus Kristus, maka Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes akan membawa anda kepada apa yang dilihat, didengar, dan ditulis para saksi mata. Siapa yang anda lebih percayai ?
Apakah Yesus Benar-Benar Bangkit Dari Kematian?

Pertanyaan terbesar masa kini adalah, “Siapa sebenarnya Yesus Kristus? Apakah dia hanya seorang luar biasa, atau dia ALLAH dalam daging, seperti dipercayai oleh para muridNya Paulus, Johannes, dan yang lainnya.

Para saksi mata, bagi Yesus Kristus, berbicara dan bertindak sepertinya mereka percaya Dia bangkit secara fisik dari kematian setelah penyalibannya. Jika mereka salah maka KeKristenan didirikan diatas kebohongan. Tapi jika mereka benar, mujizat seperti itu secara memperkuat semua yang Yesus katakan mengenai ALLAH, diriNya, dan kita.

Tapi apakah kita percaya pada kebangkitan Yesus hanya dengan iman saja, tapi apakah ada bukti historis yang kuat? Beberapa ahli skeptis mulai meneliti catatan historis untuk membuktikan bahwa catatan kebangkitan itu salah. Apa yang mereka temukan?

Apakah Yesus itu Allah?
YESUS KOMPLEKS:

Pernahkanh Anda bertemu dengan seseorang yang punya magnet personal begitu besar, sehingga dia selalu jadi pusat perhatian? Mungkin karena kepribadiannya atau kepintarannya – tapi ada sesuatu dari dia yang mempesona. Itulah yang terjadi dua ribu tahun lalu terhadap Yesus Kristus.

Keagungan Yesus sangat jelas bagi mereka yang melihat dan mendengar-Nya. Tapi, ketika hampir seluruh orang besar pelan-pelan hilang dalam buku-buku sejarah, Yesus dari Nazareth tetap jadi fokus kontroversi di banyak buku dan media. Dan sebagian besar kontroversi berada disekitar klaim radikal Yesus mengenai dirinya sendiri.

Sebagai tukang kayu dari sebuah desa di Galilea di Israel, Yesus mengklaim djrinya, jika benar, memberikan implikasi besar terhadap hidup kita. Menurut Yesus, Anda dan saya istimewa, bagian dari rencana besar kosmis dan Dia adalah pusat dari semuanya. Klaim ini dan yang lain semacamnya mengagetkan mereka yang mendengarnya.

Klaim tersebit membuat banyak orang marah saat itu, Yesuslah yang menyebabkan Dia dipandang sebagai pengacau oleh penguasa Romawi dan Yahudi. Kendati Dia adalah orang luar yang tidak punya kredensial atau basis politik, dalam waktu tiga tahun, Yesus mengubah dunia selama dua puluh abad terakhir ini. Pemimpin moral dan agama lain meninggalkan dampak – tapi tidak seperti tukang kayu yang tidak dikenal dari Nazareth. Ada apa tentang Yesus Kristus yang membuatnya berbeda? Apakah dia hanya seorang besar atau sesuatu yang lebih?

Pertanyaan-pertanyaan ini masuk ke inti siapa Yesus sebenarnya. Ada yang percaya dia hanyalah guru moral yang besar, yang lain percaya dia hanyalah pemimpin dari agama terbesar dunia. Namun banyak yang percaya lebih jauh lagi. Orang Kristen percaya Allah telah melawat kita dalam bentuk manusia. Dan mereka percaya ada bukti-bukti yang mendukungnya. Jadi, siapa sebenarnya Yesus? Mari kita lihat lebih dekat.

Ketika kita melihat lebih dalam dari pribadi yang paling kontroversial di dunia, kita mulai bertanya apa mungkin Yesus hanyalah seorang guru moral yang besar?

Guru Moral Yang Besar?

Hampir semua ahli mengakui Yesus adalah guru moral yang besar. Pada kenyataannya, kedalaman-Nya dalam moralitas kemanusiaan adalah sebuah pencapaian yang juga diakui oleh agama-agama lain.[1] Dalam bukunya, Jesus of Nazareth, pakar Yahudi, Joseph Klausner menulis, “Secara universal diakui …. Kristus mengajarkan etika yang paling murni dan sempurna… yang melempar semua persepsi dan pepatah dari manusia paling bijak di zaman kuno jauh kedalam bayangan.”[2]

Khotbah Yesus diatas bukit telah disebut sebagai pengajaran etika manusia paling unggul etika manusia yang pernah diutarakan oleh seorang individu. Pada kenyataannya yang sekarang kita kenali sebagai “persamaan hak” adalah hasil dari pengajaran Yesus. Sejarahwan Will Durant menyatakan jika Yesus hidup dan memperjuangkan persamaan hak di era modern Dia akan langsung dikirim ke Siberia. “Dia yang terbesar diantara kamu, adalah dia yang melayani kami” – ini telah membalikkan semua kebijaksanaan politik yang sudah wajar.[3]

Sebagian orang mencoba memisahkan pengajaran etika Yesus dari klam-Nya tentang diri-Nya, dan percaya Dia hanyalah manusia biasa yang besar dan mengajarkan prinsip – prinsip moral luhur (mulia). Inilah pendekatan yang diambil dari salah satu bapa pendiri Amerika.

Presiden Thomas Jefferson, seorang rasionalis duduk di Gedung Putih dengan dua copy identik Perjanjian Baru, sebuah silet dan kertas. Sepanjang beberapa malam, dia menggunting dan menempelkan kitab sucinya yang tipis dan disebutnya “Filsafat Yesus dari Nazareth”. Setelah memotong semua ayat/kalimat yang menyebutkan (menyiratkan) ke-Tuhan-an Yesus, Jefferson mempunyai Yesus yang tidak lebih dan tidak kurang daripada sebuah panduan etika yang baik.[4]

Ironisnya, kata-kata Jefferson yang dikenang di Deklarasi Kemerdekaan berakar pada pengajaran Yesus bahwa setiap orang sangat berharga dan penting bagi Allah, terlepas dari jenis kelamin, ras, atau status sosial. Dokumen terkenal itu menambahkan, “Kami pegang teguh kebenaran yang telah membuktikan dirinya sendiri, bahwa semua manusia diciptakan setara, dan bahwa mereka diperlengkapi oleh Penciptanya dengan hak-hak asasi.”

Tapi Jefferson tidak pernah bertanya, bagaimana Yesus bisa jadi pemimpin moralitas besar jika Dia berbohong tentang Dia adalah Allah? Jadi mungkin Dia tidak benar-benar bermoral, tapi motifnya adalah memulai sebuah agama besar. Mari kita lihat jika itulah penjelasan tentang kebesaran Yesus.

Pemimpin Besar Agama?

Apakah Yesus pantas disebut sebagai “pemimpin besar agama”? Kejutannya, Yesus tidak pernah mengklaim diri-Nya sebagai pemimpin agama. Dia tidak pernah masuk dalam perpolitikan agama atau didorong oleh agenda ambisius dan Dia melayani (berkotbah) diluar kerangka kelembagaan agama.

Ketika membandingkan Yesus dengan pemimpin besar agama lain, perbedaan besar muncul. Ravi Zacharias yang besar dalam budaya Hindu, mempelajari agama-agama dunia dan mengamati perbedaan fundamental antara pendiri agama lain dengan Yesus Kristus.

“Apapun yang kita buat terhadap klaim mereka, satu realitas tidak akan terlewatkan. Mereka adalah guru-guru yang menunjuk pengajaran atau memperlihatkan jalan tertentu. Dari semua muncul perintah-perintah dan cara hidup. Bukanlah Zoroaster yang jadi panutan; Zoroaster yang Anda dengarkan. Bukan Buddha yang membebaskan Anda; Kebebarannya yang Agung yang memerintahkan Anda. Bukan Muhammad yang mengubah Anda; keindahan Quran yang menarik Anda. Kontrasnya, Yesus tidak hanya mengajar atau menjelaskan pesan-pesanNya. Dia identik dengan pesan-Nya.”[5]

Kebenaran Zacharias diperjelas dengan beberapa kali di Injil pesan pengajaran Yesus hanyalah. “Datang kepada-Ku” atau “Ikut Aku” atau “Patuhi Aku”. Juga, Yesus menegaskan bahwa misi utama-Nya adalah untuk mengampuni dosa, sesuatu yang hanya bisa dilakukan oleh Allah.

Tidak ada pemimpin agama besar yang pernah mengklaim berkuasa mengampuni dosa. Tapi bukan klaim itu saja yang memisahkan Yesus dari yang lain. Dalam The World’s Great Religions, Huston Smith mengamati, “Hanya dua orang yang sangat mengejutkan orang pada zamannya sehingga pertanyaan yang ditujukan kepadanya bukanlah “Siapa dia?” tapi ‘Dia itu apa’? Mereka adalah Yesus dan Buddha. Jawaban keduanya atas pertanyaan ini bertentangan. Buddha dengan tegas menyatakan dia hanyalah seorang manusia bukan Allah – seakan-akan dia bisa memperkirakan belakangan ada upaya untuk memujanya. Yesus, disisi lain, mengklaim…. Dia itu Tuhan.”[6]

Apakah Yesus Mengklaim Dirinya Adalah Allah?

Sudah jelas, sejak awal gereja, Yesus dipanggil Tuhan dan dipandang oleh orang Kristen sebagai Allah. Namun tetap saja ke-Tuhan-an Yesus terus jadi perdebatan besar. Jadi pertanyaan — dan memang pertanyaannya — adalah : Apakah Yesus mengklaim diri-Nya adalah Allah (Pencipta), atau semacam mahluk mulia yang diciptakan atau diasumsikan oleh para penulis Perjanjian Baru? (Lihat “Apa Yesus Mengklaim diri-Nya adalah Allah”)

Beberapa ahli percaya Yesus adalah guru yang sangat berkuasa dan mempunyai kepribadian yang mendorong murid-muruid-Nya berasumsi Dia adalah Allah Atau mereka hanya ingin untuk berpikir Dia adalah Allah, John Dominic Crossan dan Seminar Yesus (kelompok pakar yang skeptis, yang memiliki prasangka menolak mujizat) adalah sebagian orang yang percaya Yesus didefinisikan salah.

Kendati buku seperti “The Da Vinci Code” berpendapat ke-Tuhan-an Yesus adalah doktrin gereja saja, bukti-bukti memperlihatkan sebaliknya (Lihat “Apa ada Konspirasi Da Vinci?”). Sebagian besar orang Kristen yang menerima Injil menekankan Yesus memang mengklaim diri-Nya sebagai Tuhan (Allah). Dan kepercayaan ini bisa ditelusuri kebelakang sampai pada pengikut Yesus di awalnya.

Tapi ada juga mereka yang menerima Yesus sebagai guru agung, tapi tidak bersedia menyebut-Nya sebagai Allah. Thomas Jefferson tidak mempersoalkan untuk menerima pengajaran Yesus atas moral dan etika tapi menolak ke-Tuhan-anNya.[7] Tapi seperti kami sudah katakan, dan akan dijelaskan kemudian, jika Yesus bukanlah seperti yang diklaim-Nya, maka kita harus mencari alternatif lain, yang tidak satupun akan membuat Dia jadi guru agung moral.

Bahkan membaca sekilas Injil akan mengungkapkan bahwa Yesus mengklaim lebih dari nabi seperti Musa atau Daniel. Tapi sifat dasar klaim-klaim itu jadi perhatian kita. Dua pertanyaan perlu diperhatikan.

* Apakah Yesus mengklaim diriNya adalah Allah?
* Ketika Dia katakan “Allah”, apakah Yesus benar-benar memaksudkannya Dia   adalah Pencipta alam semesta seperti yang disebut oleh Kitab Suci Yahudi?[8]

Untuk menjawab kedua pertanyaan itu, kita perlu mempertimbangkan kata-kata Yesus di Matius 28:18, “Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi.” Apa yang dimaksudkan dengan Yesus telah “diberikan” kuasa?

Sebelum menjadi manusia, kita diberitahu bahwa Dia bersama-sama dengan Bapa, dan sebagai Allah, Dia punya semua kuasa. Namun Filipi 2:6-11 menceritakan kepada kita kendati Yesus telah ada dalam bentuk Allah, Dia “melepaskan” kekuasaan Allah untuk lahir jadi manusia. Namun bagian surat itu juga menyatakan kepada kita bahwa setelah kebangkitan, Yesus dipulihkan lagi dalam kemulian-Nya semula dan satu hari nanti “setiap lutut akan bertelut kepada-Nya dan menyebut Tuhan.” Jadi, apa yang dimaksud Yesus ketika Dia mengklaim memiliki seluruh kuasa di surga dan di bumi? Kekuasaan merupakan istilah yang dikenal baik di Israel, yang dijajah Romawi kala itu. Pada saat itu, Kaisar adalah kekuasaan tertinggi diseluruh Romawi. Keputusannya bisa langsung mengirim pasukan untuk berperang, menghukum penjahat, dan menetapkan hukum dan peraturan pemerintah.

Pada kenyataannya, kekuasaan Kaisar begitu besar sehingga dia sendiri mengklaim dirinya sama dengan Tuhan. Jadi, paling kecil kemungkinannya apabila Yesus mengklaim punya otoritas sama dengan Kaisar.

Tapi Dia tidak hanya mengatakan Dia punya kekuasaan lebih dari para pemimpin Yahudi atau penguasa Romawi; Yesus mengklaim memiliki otoritas (kuasa) tertinggi di alam semesta. Bagi mereka yang mendengar-Nya, itu berarti Dia adalah Allah. Bukan salah satu allah — tapi Allah.

Baik perkataan dan tindakan menegaskan fakta bahwa mereka benar-benar percaya Yesus adalah Allah. (Lihat “Apakah Para Rasul Percaya Yesus adalah Allah?“)

Apakah Yesus Mengklaim Sebagai Pencipta?

Tapi mungkin Yesus hanya merefleksikan otoritas Allah dan tidak menyatakan bahwa Dia adalah Pencipta. Sekilas dibaca kelihatannya tidak meyakinkan. Namun klaim Yesus memiliki seluruh kuasa akan masuk akal jika Dia adalah Pencipta alam semesta. Kata “seluruh” berarti segala sesuatu termasuk penciptaan itu sendiri. Ketika kita menggali lebih dalam kata-kata Yesus sendiri, sebuah pola mulai muncul. Yesus membuat penegasan tentang diri-Nya, tidak salah lagi merujuk pada ke-Tuhan-anNya. Inilah sebagian pernyatan yang dicatat oleh para saksi mata.

* “Akulah kebangkitan dan hidup” (Yohanes 11:25)
* “Akulah terang dunia.” (Yohanes 8:12)
* “Aku dan Bapa adalah satu.” (Yohanes 10:30)
* “Aku adalah Alfa dan Omega, Yang Pertama dan Yang Terkemudian, Yang Awal dan Yang Akhir.” (Wahyu 22:13).
* “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup.” (Yohanes 14:6)
* “Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.” (Yohanes 14:6)
* “Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa.” (Yohanes 14:9)

Sekali lagi, kita harus kembali kepada konteks. Dalam Kitab Suci Yahudi, ketika Musa bertanya kepada Allah nama-Nya di depan semak yang berapi, Allah menjawab, “AKU”. Dia mengatakan kepada Musa bahwa Dia adalah satu-satunya Pencipta, abadi dan ada disemua tempat.

Sejak zaman Musa, tidak ada satupun orang Yahudi yang berani menyebut dirinya atau orang lain dengan sebutan “AKU”. Karena itu, klaim Yesus sebagai “AKU” langsung membuat para pemimpin Yahudi sangat marah. Contohnya, beberapa pemimpin Yahudi menjelaskan kepada Yesus kenapa mereka mencoba membunuh-Nya, “karena Engkau menghujat Allah dan karena Engkau, sekalipun hanya seorang manusia saja, menyamakan diri-Mu dengan Allah.” (Yohanes 10:33).

Tapi pada intinya bukan hanya kalimat-kalimat itu yang membuat para pemimpin agama marah. Pointnya adalah mereka tahu persis apa yang Dia katakan – Dia mengklaim diri-Nya sebagai Allah, Pencipta alam semesta. Hanya dengan klaim ini membawa pada tuduhan penghujatan. Membaca teks klaim Yesus bahwa Dia adalah Allah sudah sangat jelas, bukan hanya oleh kalimat-Nya, tapi juga oleh reaksi mereka yang mendengarnya.

Allah Seperti Apa?

Ide bahwa kita semua bagian dari Allah dan didalam kita ada bibit ke-Tuhan-an, tidaklah bisa diterapkan bagi kata-kata dan tindakan Yesus. Pemikiran semacam itu berasal dari kaum revisionis, asing bagi pengajaran-Nya, asing bagi keyakinan yang dikatakanNya, dan asing bagi para murid-Nya yang mengerti pengajaran-Nya. Yesus mengajarkan Dia adalah Allah seperti yang dipahami orang Yahudi tentang Allah dan sama dengan Kitab Suci Yahudi gambarkan atas Allah, bukan seperti gerakan Abad Baru pahami mengenai Allah.

Yesus maupun para pendengarnya tidak pernah tahu tentang Star Wars, sehingga jika mereka berbicara tentang Allah, mereka tidak membicarakan kekuatan kosmis. Tapi jika Yesus bukan Allah, apakah kita bisa tetap menyebut-Nya sebagai guru agung moral? C. S. Lewis berargumen, ”Saya disini mencoba mencegah siapapun menyatakan hal bodoh yang sering dikatakan orang mengenai diri-Nya: ‘Saya siap menerima Yesus sebagai guru agung moral, tetapi saya tidak menerima klaimnya sebagai Allah.’ Hal ini tidak boleh dikatakan.”[9]

Dalam pencarian akan kebenaran, Lewis tahu bahwa dia tidak bisa mengambil dua jalan itu berkaitan dengan identitas Yesus. Benar, klaim Yesus bahwa Dia adalah Allah dalam daging atau klaim-Nya salah. Dan jika salah, Yesus bukanlah guru agung moral. Dia bisa dengan sengaja berbohong atau Dia hanyalah orang gila, yang menganggap diri-Nya Allah.

Tentusaja ada orangorang yang menerima Yesus sebagaigurubesar, namun bersedia untuk memanggil Dia Allah. Sebagai Deis kita lihat bahwa Thomas Jefferson tidak punya masalah menerima ajaran Yesus tentang moral dan etika, sementara ia menyangkal keilahian-Nya. [10]

Tapikita katakan, dan akanmengeksplorasi lebihlanjut, jika Yesus bukan siapa dia mengaku, makakita harus meneliti beberapa alternatif lain, tidak ada yangakan membuatnya seorang guru moral yangagung. Lewis, berpendapat, “Saya berusaha di sini untukmencegah orang darimengatakan halyang benarbenar bodoh bahwa orang seringberkata tentang Dia:”Saya siap menerima Yesus sebagai gurumoralyang agung, Burt saya tidak menerima klaimnya sebagaiAllah. ‘Itu adalah satu hal yang kita tidak harus mengatakan. “[11]

Apakah Yesus Pembohong?

Salah satu buku politik paling terkenal dan berpengaruh ditulis oleh Noccolo Machiavelli 1532. Dalam buku klasik, The Prince, Machiavelli menjelaskan untuk memperoleh dan mempertahankan kekuasaan, sukses, dan efesiensi adalah melampaui kesetiaan, iman, dan kejujuran. Menurut Machiavelli, berbohong itu bagus jika untuk mencapai tujuan politik.

Mungkinkah Yesus Kristus membangun seluruh pelayanan-Nya berdasarkan kebohongan untuk memperoleh kekuasaan, kemaahuran, atau keberhasilan? Faktanya, orang Yahudi, musuh Yesus, secara konstan berusaha memperlihatkan Dia sebagai pembohong dan penipu. Mereka akan menyerang Dia dengan pertanyaan-pertanyaan untuk menjebakNya dan membuat Dia berkontradiksi dengan diriNya sendiri. Namun Yesus selalu menjawab dengan konsistensi yang mengagumkan.

Pertanyaan yang harus kita hadapi adalah, apa mungkin motivasi Yesus hidup seperti hidupNya adalah kebohongan? Dia mengajar Allah menentang kebohongan dan kemunafikan, jadi Dia tidak akan melakukan itu untuk menyenangkan Bapa-Nya. Dia pasti tidak berbohong demi keuntungan para pengikut-Nya. (seluruh murid kecuali satu orang mati terbunuh jadi martir.) Akhirnya kita tinggal punya dua kemungkinan penjelasan.

Keuntungan

Banyak orang berbohong untuk memperoleh keuntungan pribadi. Faktanya, kebanyakan bohong dimotivasi oleh keuntungan pribadi. Apa yang Yesus harapkan dari berbohong atas identitasNya? Kekuasaan jadi jawaban paling mudah diperoleh. Jika rakyat percaya Dia adalah Allah, Dia bisa punya kekuasaan luar biasa besar. (Itulah sebabnya banyak pemimpin zaman dulu, seperti Kaisar, mengklaim punya asal usul ilahi.)

Jawaban atas penjelasan ini adalah Yesus menolak semua upaya untuk mendudukkan-Nya sebagai penguas la, lebih suka mengecam mereka yang menyalah-gunakan kekuasaan dan hidup untuk mengejar kekuasaan. Dia juga memilih untuk menjangkau orang yang terbuang (pelacur dan penderita lepra), mereka yang tidak punya kekuasaan, dan menciptakan jaringan dari orang-orang yang pengaruhnya kurang dari nol. Bisa digambarkan sebagai aneh, semua yang Yesus lakukan dan katakan bergerak menjauhi kekuasaan.

Kelihatannya, jika kekuasaan jadi motivasi Yesus, Dia akan menghindari salib dengan segala cara. Namun, dalam beberapa kesempatan, Dia mengatakan kepada para murid-Nya bahwa salib adalah tujuan dan misinya. Bagaimana kematian di salib Romawi bisa memberikan kekuasaan kepada orang itu?

Kematian, tentu saja, membawa segalanya memasuki fokus yang tepat. Banyak orang martir mati karena perjuangan yang mereka percayai, tapi hanya sedikit orang mau mati untuk kebohongan yang sudah diketahui. Tentunya seluruh harapan Yesus untuk memperoleh keuntungan pribadi akan lenyap di kayu salib. Tapi, sampai pada napas terakhirnya, Dia tidak pernah mencabut klaim-Nya sebagai Anak Allah. Yesus menggunakan istilah “Anak Manusia” dan “Anak Allah” untuk mengidentifikasi sifat dasar sebagai manusia dan Allah. (Lihat “Apakah Yesus Mengklaim diriNya adalah Allah?”).[12]

Warisan

Jadi jika Yesus berbohong bukan untuk keuntungan pribadi, mungkin klaim radikalnya dipalsukan untuk meninggalkan sebuah warisan. Tapi prospek dipukuli hancur-hancuran dan dipaku di salib dengan cepat akan menyurutkan siapapun yang paling antusias, untuk jadi bintang super masa depan.

Ada fakta lain yang sering timbul. Jika Yesus mencabut saja klaim sebagai Anak Allah, Dia tidak akan disalib (hukum). Karena klaim-Nya sebagai Allah dan ketidaksediaan untuk mencabutnya, yang membawanya ke salib.

Jika meneliti reputasi kredibilitas dan historis mengenai apa yang memotivasi Yesus untuk berbohong, seseorang harus menjelaskan bagaimana seorang tukang kayu dari desa miskin Yudea bisa mengantisipasi kejadian-kejadian yang akan mengangkat namanya jadi terkemuka di dunia. Bagaimana Dia tahu pesan-pesan-Nya akan bertahan (ada terus sampai sekarang)? Murid-murid Yesus sudah lari dan Petrus menyangkal Dia. Ini semua bukanlah sebuah formula untuk menanamkan warisan religius.

Apakah para sejarahwan percaya Yesus berbohong? Para ahli telah menyidik kalimat-kalimat Yesus dan kehidupanNya untuk melihat apakah ada bukti kejanggalan pada karakter moral-Nya. Pada kenyataannya, bahkan yang paling skeptispun kaget oleh kemurnian moral dan etika Yesus. Salah satu skeptis dan antagonis, John Stuart Mill (1806 – 73) menulis mengenai Yesus,

“Tentang kehidupan dan perkataan Yesus ada tanda orisinilitas personal dikombinasikan dengan kedalaman pengertian manusia jenius yang spesies kita bisa utarakan. Pada saat jenius terbesar (terhebat tak ada yang melebihi) dikombinasi dengan kualitas reformer moral terbesar dan martir untuk misi yang pernah hidup di bumi, agama tidak bisa dikatakan melakukan pilihan salah dalam memilih orang ini sebagai wakil ideal dan panduan bagi kemanusiaan.”[13]

Menurut sejarahwan Philip Schaff, tidak ada bukti dalam sejarah gereja atau sekuler, yang mencatat Yesus berbohong atas apapun. Schaff berargumen, bagaimana, atas nama logika, masuk akal, dan pengalaman, seorang penipu, egois, telah menciptakan dan secara konsisten dari awal mulai sampai akhir, dikenal sebagai karakter paling mulia dan murni dalam sejarah dengan aroma kebenaran sempurna dan realitas?[14]

Untuk tetap pada pilihan kebohongan, tampak seperti berenang melawan arus atas apa yang diajarkan dan dihidupi sampai matioleh Yesus. Bagi sebagian besar ahli, itu tidak masuk akal. Kendati begitu, untuk menolak klaim Yesus, seseorang harus mengajukan penjelasan. Dan jika klaim Yesus tidak benar dan Dia tidak berbohong, satu-satunya pilihan tersisa adalah Dia membohongi diri-Nya sendiri.

Apa Yesus Gila?

Albert Schweitzer, penerima Nobel Prize 1952 karena upaya-upaya kemanusiannya, punya pandangan sendiri tentang Yesus. Schweitzer menyimpulkan bahwa kegilaan ada dibelakang klaim Yesus bahwa Dia adalah Allah. Dalam kata lain, Yesus salah atas klaim-Nya tapi tidak secara sengaja berbohong. Menurut teori ini, Yesus disesatkan sedemikian rupa hingga Dia percaya Dialah Mesias.

C. S. Lewis mempertimbangkan pilihan ini dengan hati-hati. Lewis mendeduktif klaim Yesus – seakan-akan tidak benar. Dia mengatakan seseorang yang mengklaim sebagai Allah tidak mungkin jadi guru agung moralitas.

Bahkan mereka yang paling skeptis terhadap kekristenan sangat jarang mempertanyakan kesadaran Yesus. Reformis sosial William Channing (1780–1842), mengaku bukan orang Kristen, melakukan pengamatan terhadap Yesus,”Tuduhan secara berlebihan, secara antusias membohongi-diri adalah yang paling akhir bisa dikatakan tentang Yesus.” Dimana kita bisa temukan jejak itu dalam sejarah? Apakah kita bisa mendeteksinya dalam pemikiran-Nya? persepsi-Nya?

Meski kehidupannya dipenuhi oleh imoralitas dan skeptisme personal, filsuf terkemuka Perancis, Jean-Jacques Rousseau (1712 -78) mengakui superioritas karakter dan pemikiran Yesus. “Ketika Plato menggambarkan manusia kebenaran manussia, imajinasinya, dipenuhi oleh hukuman akan kesalahan, tetapi tetap berhak atas ganjaran keutamaan (kebijaksanaan) tertinggi. Dia dengan tepat menggambarkan karakter Kristus. … Pemikiran yang luar biasa. … Ya, jika kehidupan dan kematian Socrates adalah filsuf, kehidupan dan kematian Yesus Kristus adalah Allah.”[15]

Schaff melontarkan pertanyaan yang harus kita tanyakan kepada diri kita sendiri,

” Apa ada kepintaran pada tingkat itu — sepenuhnya sehat dan bersemangat, selalu siap dan selalu percaya diri — menyerahkan diri secara radikal dan sangat serius kepada khayalan berkaitan dengan karakter dan misinya sendiri?”[16]

Jadi, apakah Yesus seorang pembohong, gila, atau Dia adalah Anak Allah? Dapatkah Jefferson benar ketika menjuluki Yesus “hanya guru moral yang bagus” dan pada saat yang sama menolak ke-Tuhan-anNya? Menariknya, para pendengar Yesus — mereka yang percaya dan musuh-musuhNya — tidak pernah memandang Dia hanya sebagai guru moral. Yesus menghasilkan tiga dampak utama bagi orang yang bertemu denganNya: kebencian, ketakutan, atau penyembahan (pemujaan).

Dan sekarang, dua ribu tahun kemudian, Yesus masih tetap pribadi yang membelah dunia kita. Bukan moral, etika, atau warisanNya yang membakar gairah. Pesan yang dibawa Yesus kepada dunia adalah Allah menciptakan kita dengan tujuan dan tujuan itu ada pada Anak-Nya. Klaim Yesus Kristus memaksa kita untuk memilih. Seperti dikatakan Lewis, kita tidak bisa mengkategorikan Yesus hanya sebagai pemimpin besar agama atau guru moral yang baik. Mantan pengajar Oxford dan skeptis menantang kita mengambil keputusan sendiri mengenai Yesus,

“Anda harus mengambil keputusan sendiri. Apa orang ini adalah Anak Allah atau orang gila atau yang lebih buruk lagi. Anda bisa menyebut-Nya bodoh, anda meludahi-Nya dan membunuh-Nya sebagai setan atau Anda bisa jatuh didepan kaki-Nya dan memanggil-Nya Tuhan dan Allah. Tetapi kita tidak bisa menyatakan hal yang tidak masuk akal dengan menyebutnya sebagai guru yang agung dan manusia. Dia tidak menyediakan (pandangan itu) terbuka untuk kita. Dia tidak menghendakinya.”[17]

Dalam tulisan “Kekristenan Biasa”, Lewis menjelaskan kenapa dia menyimpulkan Yesus Kristus persis sama dengan klaimNya. Dia secara hati-hati meneliti kehidupan dan perkataan Yesus. Hal ini membawa penulis jenius ini membuang ateismenya dan jadi orang Kristen yang sungguh-sungguh.
Apakah Yesus Benar-Benar Bangkit Dari Kematian?

Pertanyaan terbesar masa kini adalah, “Siapa sebenarnya Yesus Kristus? Apakah dia hanya seorang luar biasa, atau dia Allah dalam daging, seperti dipercayai oleh para muridNya Paulus, Johannes, dan yang lainnya? (Lihat “Apakah Para Rasul Percaay Yesus adalah Allah?”)

Para saksi mata, bagi Yesus Kristus, berbicara dan bertindak sepertinya mereka percaya Dia bangkit secara fisik dari kematian setelah penyalibannya. Jika mereka salah maka KeKristenan didirikan diatas kebohongan. Tapi jika mereka benar, mujizat seperti itu secara memperkuat semua yang Yesus katakan mengenai Allah, diri-Nya, dan kita.

Tapi apakah kita percaya pada kebangkitan Yesus hanya dengan iman saja, tapi apakah ada bukti historis yang kuat? Beberapa ahli skeptis mulai meneliti catatan historis untuk membuktikan bahwa catatan kebangkitan itu salah. Apa yang mereka temukan?

Klik di sini untuk melihat bukti-bukti untuk klaim yang paling fantastis yang pernah dibuat — kebangkitan Yesus Kristus!

Apakah Injil itu benar?
YESUS.DOC

Apakah Injil di Perjanjian Baru adalah benar-benar sejarah saksi mata Yesus Kristus, atau mungkinkah cerita itu telah diubah-ubah dalam perjalanan waktu? Apakah kita hanya bisa menerima catatan Perjanjian Baru hanya dengan iman, atau apa ada bukti-bukti keandalannya?

Reporter televisi ABC, Peter Jennings, pernah berada di Israel dan menyiarkan acara khusus mengenai Yesus Kristus. Programnya, “Pencarian Yesus”, mengeksplorasi pertanyaan apakah Yesus di Perjanjian Baru secara historis akurat.

Jennings mengemukakan pendapat-pendapat, terhadap Injil, dari Profesor John Dominic Crossan dari DePaul, tiga rekan Crossan dari Seminar Yesus, dan dua ahli Kitab Suci lainnya. (Seminar Yesus adalah kelompok ahli yang memperdebatkan kata-kata dan tindakan Yesus yang tercatat. Dan menggunakan tinta merah, merah muda, abu-abu atau hitam untuk mengambil suara yang mengindikasikan sejauh mana kebenaran yang mereka percayai dari pernyataan di Injil.)[1]

Beberapa komentar mengagetkan. Dalam siaran televisi nasional Dr. Crossan tidak hanya meragukan lebih dari 80 persen perkataan Yesus tapi juga menolak klaim Ke-Tuhan-an Yesus, mujizatNya, dan kebangkitanNya. Dengan jelas Jennings terperangah oleh gambaran Yesus yang diperlihatkan oleh Crossan.

Mencari sejarah kebenaran Alkitab (Kitab Suci) selalu jadi berita, itulah kenapa tiap tahun majalah Time dan Newsweek mempunyai berita utama tentang pencarian Maria, Yesus, Musa, atau Abraham. Atau — siapa tahu?– mungkin tahun ini akan membahas “Bob: Kisah, yang belum terungkap, Murid ke 13 yang Hilang”.

Ini hiburan, dan juga investigasi tidak akan pernah atau menghasilkan jawaban, karena akan melenyapkan program selanjutnya di masa depan. Ditampilkan, mereka yang pandangannya secara radikal berseberangan seperti sebuah episode ‘Survivor’, dengan tanpa harapan berputar-putar pada isu dan tidak memberi kejalasan.

Tapi laporan Jennings berfokus pada isu yang perlu memperoleh pemikiran serius. Crossan menjelaskan catatan orsinil tentang Yesus disebarkan dengan tradisi oral dan belum dituliskan sampai setelah para rasul meninggal. Karena itu, mereka (catatan di Perjanjian Baru) tidak bisa diandalkan dan gagal memberi gambaran akurat Yesus yang nyata. Bagaimana kita tahu ini (penjelasan Crossan) benar?

Hilang Dalam Terjemahan?

Jadi, apa yang diperlihatkan bukti-bukti? Kita mulai dengan dua pertanyaan mudah: Kapan dokumen orsinil Perjanjian Baru ditulis? Dan siapa penulisnya?

Kedua pertanyaan ini jelas penting. Jika catatan mengenai Yesus ditulis setelah para saksi mata meninggal, tidak seorangpun yang bisa memverifikasi akurasinya. Tapi jika Perjanjian Baru ditulis ketika para rasul masih hidup, maka keontetikannya dipastikan. Petrus bisa mengatakan terjadi pemalsuan atas namanya,”Hey, saya tidak menulis itu.” Dan Matius, Markus, Lukas, atau Yohanes bisa merespon atas pertanyaan-pertanyaan atau tantangan yang ditujukan kepada pernyataan mereka tentang Yesus.

Penulis-penulis Perjanjian Baru mengklaim sumber penulisan Yesus dari saksi mata. Rasul Petrus menegaskan ini dalam salah satu suratnya,”Sebab kami tidak mengikuti dongeng-dongeng isapan jempol manusia, ketika kami memberitahukan kepadamu kuasa dan kedatangan Tuhan kita. Yesus Kristus sebagai raja, tapi kami adalah saksi mata dari kebesaranNya” (2 Petrus 1:16).

Bagian besar dari Perjanjian Baru adalah 13 surat rasul Paulus kepada gereja-gereja mula-mula dan individu-individu. Surat-surat Paulus, bertarik pertengahan tahun 40 dan pertengahan tahun 60-an (12 sampai 33 tahun setelah Kristus), merupakan catatan paling awal dari saksi mata akan pengajaran dan kehidupan Yesus. Will Durant menuliskan pentingnya secara historis surat-surat Paulus,”Bukti Kristen terhadap Kristus dimulai dengan surat-surat yang ditulis oleh Santo Paulus. … Tidak seorangpun mempertanyakan keberadaan Paulus, atau pertemuan-pertemuannya dengan Petrus, James, dan Yohanes; dan Paulus mengaku ‘iri’ orang-orang ini mengenal Kristus dari dekat (ketika masih hidup).[2]

Tapi Apa Benar?

Di banyak buku, majalah, siaran dokumenter televisi, Seminar Yesus memperkirakan Injil ditulis pada tahun 130 sampai 150 oleh penulis yang tidak dikenal. Jika tanggal (waktu penulisan) itu benar, maka akan ada jarak sekitar 100 tahun sejak Kristus meninggal (para ahli menempatkan kematian Yesus antara tahun 30 dan 33). Dan karena seluruh saksi mata sudah meninggal, Injil hanya bisa ditulis oleh penulis tak dikenal, yang berbohong.

Jadi, bukti apa yang kita miliki berkaitan dengan waktu penulisan Injil tentang Yesus benar-benar ditulis? Konsensus dari kebanyakan ahli adalah Injil ditulis oleh para rasul pada abad pertama. Mereka merujuk pada beberapa alasan, yang akan kita bahas di artikel ini. Untuk saat ini, bagaimanapun, perlu dicatat ada tiga bentuk utama pembuktian, yang mampu membangun kasus yang kuat untuk mencapai kesimpulan;

* dukumen-dokumen awal dari sekte (kepercayaan) seperti Marcion dan sekolah Valentinus mengutip buku-buku Perjanjian Baru, tema, dan kata-katanya (Lihat “Senyum Mona Lisa”)
* sejumlah penulisan sumber-sumber awal Kristen, seperti Clement dari Roma, Ignatius, dan Polycarp
* penemuan kopi-kopi bagian dari Injil, yang diuji karbon berasal dari tahun 117.[3]

Arkeolog Alkitab William Albright menyimpulkan, berdasarkan risetnya bahwa semua buku Perjanjian Baru ditulis ketika sebagian besar rasul masih hidup. Dia menulis, “Kita sudah bisa menyatakan secara empati bahwa tidak ada lagi dasar kuat untuk menyatakan penulisan dari salah satu buku setelah sekitar tahun 80, dua generasi penuh sebelum tahun 130 sampai 150, yang diberikan oleh kritik lebih radikal terhadap Perjanjian Baru.”[4] Ditempat lain, Albright menempatkan penulisan seluruh Perjanjian Baru “sangat mungkin disekitar tahun 50 sampai tahun 75.”[5]

Bahkan ahli paling skeptis John AT Robinson menempatkan penulisan Perjanjian Baru lebih awal dari para ahli yang paling konservatif. Dalam Redating the New Testament (Mentanggalkan kembali Perjanjian Baru) Robinson menegaskan sebagian besar Perjanjian Baru ditulis pada tahun 40 sampai tahun 65. Penanggalan ini berarti hanya terpaut tujuh tahun setelah kematian Yesus.[6] Jika ini benar, setiap kesalahan historis akan langsung diungkapkan oleh para saksi mata dan juga oleh musuh-musuh KeKristenan.

Mari kita lihat jejak petunjuk-petunjuk yang membawa kita dari dokumen orsinil sampai kopi Perjanjian Baru sekarang ini.

Siapa Yang Butuh Kinko?

Tulisan asli para rasul sangat dihormati. Gereja-gereja mempelajarinya, saling berbagi, dengan hati-hati memelihara dan menyimpannya seperti harta karun.

Tapi, sayangnya, penyitaan Romawi, berlalunya 200 tahun, dan hukum kedua thermodinamika mengambil korbannya. Jadi, sekarang, apa ada, yang kita punyai, tulisan orisinal itu? Tidak ada. Manuskrip asli semuanya sudah lenyap (kendati tiap minggu pelajar Alkitab, tidak dirgukan, mendengar Antiques Roadshow berharap mungkin ada yang muncul).

Kendati begitu, Perjanjian Baru tidaklah sendirian mengalami nasib ini; tidak ada dokumen kuno, dari jaman yang sama, masih eksis sekarang ini. Sejarahwan tidak kuatir oleh karena ketiadaan manuskrip asli, jika mereka punya kopi-kopi yang bisa diandalkan untuk diteliti. Tapi apa ada kopi-kopi kuno Perjanjian Baru yang tersedia, jika ya, apakah kopi itu sama dengan yang aslinya.

Ketika jumlah gereja bertambah, ratusan kopi secara hati-hati dibuat dengan pengawasan para pemimpin gereja. Setiap surat dengan hati-hati dan tepat ditulis dengan tinta diatas perkamen (dibuat dari kulit domba/sapi) atau papyrus. Dan, sekarang ini, para ahli bisa mempelajari kopi (dan kopi dari kopi, dan kopi dari kopi — anda paham), yang masih ada, untuk memutuskan keotentikan dan sampai sangat dekat dengan dokumen orisinalnya.

Para ahli yang mempelajari literatur kuno telah mengembangkan kritik tekstual untuk meneliti dokumen-dokumen seperti The Odyssey, membandingkan mereka dengan dokumen kuno lain untuk menilai akurasinya. Baru-baru ini, sejarahwan militer Charles Sanders menambahkan kritik tekstual dengan membaginya jadi tiga bagian tes yang tidak hanya melihat kemurnian kopi tapi juga kredibilitas para penulisnya. Tesnya adalah:

  1. Tes bibliografi

  2. Tes pembuktian internal

  3. Tes pembuktian eksternal.[7]

Mari kita lihat apa yang terjadi saat kita terapkan semua tes itu kepada manuskrip kuno Perjanjian Baru.
Tes Bibliografi

Tes ini membandingkan dokumen dengan sejarah lain dari periode yang sama. Tes menanyakan:

* Berapa banyak kopi dari dokumen orisinal yang masih ada?
* Berapa besar jarak waktu antara tulisan asli dengan kopi, yang paling awal?
* Seberapa baik dokumen ini dibandingkan dengan sejarah kuno lainnya?

Bayangkan jika kita hanya punya dua atau tiga kopi dari manuskrip asli Pernjanjian Baru. Sample bisa sangat kecil sehingga kita tidak bisa memverifikasi akurasinya. Disisi lain, jika kita punya ratusan atau bahkan ribuan, kita bisa dengan mudah mengesampingkan kesalahan karena dokumen-dokumen, yang ditulis ulang dengan kurang baik.

Jadi, seberapa baik Perjanjian Baru dibandingkan dengan tulisan kuno lain dipandang dari sisi jumlah kopi dan jarak waktu dari orisinalnya? Ada lebih dari 5.000 manuskrip Perjanjian Baru eksis hari ini dalam bahasa aslinya, Yunani. Jika dihitung bersama terjemahannya ke bahasa lain, jumlahnya meloncat jadi 24.000 — mulai dari abad ke 2 sampai ke 4.

Dibandingkan dengan dokumen kuno terbaik manuskrip sejarah, Illiad, yang ditulis Homer, dengan 643 kopi.[8] Dan ingat kebanyakan tulisan bersejarah kuno punya manuskrip jauh lebih sedikit (biasanya kurang dari 10). Ahli Perjanjian Baru Bruce Metzger menyatakan, “Dengan kontras angka ini (dibandingkan dengan manuskrip kuno lain), kritik tekstual Perjanjian Baru sangat kaya materialnya.”[9]

Jarak Waktu

Tidak hanya jumlah manuskrip itu penting, tapi juga jarak waktu antara ketika naskah asli ditulis dan tanggal kopinya. Sepanjang seribu tahun kopi ke kopi, tidak bisa diketahui jadi apa sebuah teks itu — tapi jika sekitar seratus tahun, ini lain ceritanya.

Kritikus Jerman, Ferdinand Christian Baur (1792 – 1860) sekali waktu pernah menyatakan Injil Yohanes belum ditulis sampai sekitar tahun 160, sehingga tidak mungkin ditulis langsung oleh Yohanes. Jika ini benar, tidak hanya mengurangi kredibilitas tulisan Yohanes tapi juga menimbulkan kecurigaan terahadap seluruh Perjanjian Baru. Tapi kemudian, ketika ada sebuah tempat penyimpanan naskah Perjanjian Baru dengan fragmen-fragmen papirus ditemukan di Mesir, diantaranya fragmen dari Injil Yohanes (berupa Yohanes 18:31-33) dikopi hanya 25 tahun setelah Yohanes menulis aslinya.

Metzger menjelaskan, “Sama seperti Robinson Crusoe, melihat hanya ada satu jejak kaki di pasir, mengambil kesimpulan hanya ada manusia lain, dengan dua kaki, ada dipulau itu bersama-sama dengan dia, jadi P52 (label fragmen itu) membuktikan keberadaan dan penggunaan empat buku Injil pada paruh pertama abad kedua di kota provinsi disepanjang sungai Nil sangat jauh dari tempat, yang secara tradisi, ditulisnya (kota Efesus di Asia Kecil).”[10] Penemuan dan penemuan lagi, arkeologi telah mengangkat sebagian besar Perjanjian Baru yang berjarak 150 tahun dari aslinya.[11]

Banyak dokumen-dokumen kuno lain punya jarak waktu antara 400 sampai 1.400 tahun. Contohnya, Poetics, yang ditulis Aristoteles tahun 343 sebelum masehi, kopi paling kunonya sudah bertarik sesudah masehi. dari 1.100 kopi, hanya ada 5 yang masih eksis. Namun tidak seorangpun mencari sejarah Plato, yang mengklaim dirinya adalah pemadam kebakaran dan bukan filsuf.

Pada kenyataannya, ada sebuah kopi seluruh Alkitab, yang hampir lengkap, disebut Codex Vaticanus, yang ditulis hanya sekitar 250 sampai 300 tahun setelah tulisan asli para rasul. Kopi Perjanjian Baru lengkap, yang paling kuno, dinamakan Codex Sinaiticus, sekarang disimpan di Museum Inggris.

Seperti Codex Vaticanus, kopi itu bertarik abad ke empat. Vaticanus dan Sinaiticus, dari awal sejarah Kristen, sama seperti manuskrip kuno Alkitab, mereka saling berbeda sedikit dan memberi kita gambaran sangat bagus mengenai apa yang seharusnya dikatakan oleh dokumen asli.

Bahkan kritikus John AT Robinson mengakui, ”Kekayaan manuskrip dan diatas semuanya sempitnya jarak waktu antara tulisan asli dengan kopi, yang banyak, membuatnya terbukti kebenarannya, yang terbaik diantara semua tulisan kuno di dunia.”[12] Professor hukum John Warwick Montgomery menyatakan, “Untuk jadi skeptis atas hasil teks buku-buku Perjanjian Baru sama artinya mempersilakan seluruh teks klasik kuno jadi tidak jelas, karena tidak ada dokumen pada jaman kuno yang bibliografinya sebaik Perjanjian Baru.”[13]

Pada pokoknya: jika catatan Perjanjian Baru dibuat dan disirkulasikan begitu dekat dengan kejadian yang sebenarnya, gambaran mereka terhadap Yesus akurat. Namun bukti eksternal bukanlah satu-satunya cara untuk menjawab pertanyaan mengenai keandalan; para ahli juga menggunakan bukti internal untuk menjawab pertanyaan ini.

Penemuan Codex Sinaiticus

Pada tahun 1844, pakar Jerman, Constantine Tischendorf, sedang mencari manuskrip Perjanjian Baru. Secara tidak sengaja, dia menemukan satu ember penuh dengan halama-halaman kuno di sebuah biara, Santo Cathrerine, di Gunung Sinai. Ilmuwan Jerman ini sangat gembira sekaligus syok. Dia belum pernah melihat manuskrip Yunani setua itu. Tischendorf bertanya kepada penjaga perpustakaan mengenai kertas itu dan sangat terkejut ketika tahu halaman-halaman itu disobek – sobek dan digunakan sebagai bahan bakar. Dua ember penuh kertas-kertas itu telah dibakar!

Antusiasme Tischendorf membuat biarawan kuatir dan mereka tidak bersedia memperlihatkan kepadanya manuskrip-manuskrip lainnya. Namun, mereka mengijinkan Tischendorf mengambil 43 halaman, yang ditemukannya.

Lima belas tahun kemudian, Tischendorf kembali ke biara Sinai, saat itu dengan banguan dari Tsar Rusia Alexander II. Ketika dia sampai di sana, seorang biarawan membawa Tischendord ke kamarnya dan menarik sebuah manuskrip, yang dibungkus kain, tersimpan di rak bersama piring dan gelas. Tischendord langsung mengenali nilainya yang tinggi, seperti sebagian manuskrip yang sudah dia lihat sebelumnya.

Biara setuju menghadiahkan manuskrip itu kepada tsar Rusia sebagai pelindung Gereja Yunani. Pada tahun 1933 Uni Soviet menjual manuskrip kepada Museum Inggris seharga £100,000.

Codex Sinaiticus adalah salah satu dari manuskrip lengkap paling kuno dari Perjanjian Baru, yang kita miliki, dan termasuk yang paling penting. Beberapa orang berspekulasi dia adalah salah satu dari 50 Alkitab, yang Kaisar Konstantin perintahkan kepada Eusebius untuk disiapkan pada awal abad ke empat. Codex Sinaiticus telah sangat membantu para ahli memverifikasi akurasi Perjanjian Baru

Tes Pembuktian Internal

Seperti seorang detektif yang baik, sejarahwan memverfikasi keandalan dengan mencari petunjuk-petunjuk internal. Petujuk semacam itu mengungkap motif-motif penulis dan kesediaan mereka untuk mengungkapkan detil-detil dan hal-hal lain yang bisa diverifikasi. Kunci petunjuk internal yang digunakan para ahli mentes keandalan adalah:

* Konsistensi laporan saksi mata.
* Detil nama, tempat, dan peristiwa
* Surat-surat kepada individu atau kelompok kecil
* hal-hal yang mempermalukan penulis
* ada material yang tidak relevan atau kontra produktif
* kekurangan material relevan[14]

Mari kita ambil contoh film Friday Night Lights. Disebutkan film berdasarkan kejadian sebenarnya, tapi seperti kebanyakan film, yang tidak ketat, mendasarkan diri pada kenyataan sebenarnya, film terus-menerus memunculkan pertanyaan, “Apa kejadiannya benar-benar seperti itu?” Jadi bagaimana anda menilai keandalan historisnya?

Satu petunjuk adalah kehadiran material tidak relevan. Katakanlah pada pertengahan film, sang pelatih, tanpa alasan yang jelas, menerima telepon mengkonfirmasikan bahwa ibunya terkena kanker otak. Kejadian itu tidak ada kaitan dengan cerita dan tidak pernah disinggung lagi. Satu-satunya penjelasan kehadiran fakta tidak relevan ini adalah hal itu benar-benar terjadi dan sutradara berkeinginan agar secara historis akurat.

Contoh lain, film yang sama. Mengikuti alur drama, kita ingin Permian Panthers memenangkan kejuaraan negara bagian. Tapi mereka kalah. Hal ini terasa kontra produktif dengan drama dan kita langsung tahu hal itu terjadi, karena dalam kehidupan nyata memang Permian kalah dalam pertandingan itu. Kehadiran material kontra produktif juga jadi petunjuk akurasi historis.

Akhirnya, pemakaian kota yang sebenarnya dan tempat-tempat yang dikenal, seperti Houston Astrodome, membawa kita pada elemen-elemen sejarah cerita itu, karena hal-hal itu mudah sekali dipalsukan atau diubah.

Hal-hal ini merupakan contoh bagaimana pembuktian internal bisa mendekatkan atau menjauhkan sebuah kesimpulan bahwa sebuah dokumen secara historis bisa diandalkan. Kita akan lihat pembuktian internal kesejarahan Perjanjian Baru.

Beberapa aspek Perjanjian Baru membantu kita menilai keandalannya berdasarkan isinya dan kualitasnya.

Konsistensi

Dokumen palsu tidak mencatat saksi mata atau tidak konsisten. Jadi mencari kontradiksi diantara Injil akan membuktikan mereka berisi kesalahan-kesalahan. Tapi pada saat yang sama, jika Injil menyatakan hal-hal yang sama, hal itu akan meningkatkan kecurigaan adanya kolusi. Itu seperti para konspirator mencoba menyepakati setiap detil rancangan mereka. Terlalu banyak konsistensi sama meragukannya dengan terlalu sedikit.

Saksi mata sebuah tindak kejahatan atau kecelakaan biasanya mengetahui kejadian pada garis besarnya, tapi melihatnya dari perspektif berbeda pada detilnya. Sama dengan itu, keempat Injil menggambarkan peristiwa kehidupan Yesus dari perspektif berbeda. Kendati begitu dari semua perspektif, para ahli Alkitab terkagum-kagum pada konsistensi catatan mereka dan gambaran jelas akan Yesus dan pengajaranNya, ketika mereka menyatukan semua laporan itu.
Detil

Sejarahwan suka sekali dengan detil-detil sebuah dokumen karena akan membuatnya mudah diverivikasi keandalannya. Surat-surat Paulus penuh dengan deti. Dan Injil banyak memuatnya. Contohnya, Injil Lukas dan buku Kisah Para Rasul ditulis untuk bangsawan bernama Teofilus , yang tidak diragukan orang terkemuka saat itu.

Jika tulisan ini hanyalah karangan dari para rasul, nama-nama palsu, tempat-tempat dan peristiwa-peristiwa akan dengan cepat diketahui oleh para musuh mereka. Hal ini akan jadi kasus ‘Watergate’ abad pertama. Tapi banyak detil Pernjanjian Baru telah terbukti benar oleh verifikasi independen. Sejarahwan klasik Colin Hemer, contohnya, “mengidentifikasi 84 fakta di 16 bab Kisah Para Rasul yang sudah dikonfirmasikan oleh riset arkeologi.”[15]

Pada abad yang lalu, para ahli Alkitab, yang skeptis, menyerang Injil Lukas, yang ditulis Lukas, dan kapan ditulisnya, dengan menyatakan kitab itu ditulis pada abad kedua oleh penulis anonim (tidak diketahui). Arkeolog Sir William Ramsey yakin mereka benar, dan dia mulai menyelidiki. Setelah riset arkeologi yang luas, dia membalikkan pendapatnya. Ramsey menyimpulkan,”Lukas adalah sejarahwan nomer satu. … Penulis ini harus ditempatkan bersama sejarahwan paling terkemuka. Tulisan sejarah Lukas luar biasa dipandang dari sisi kebenarannya (bisa dipercaya).”[16]

Kisah Para Rasul menceritakan perjalanan pelayanan Paulus, mendaftar tempat-tempat yand dikunjunginya, orang yang ditemuinya, pesan yang disampaikannya, dan hukuman yang dideritanya. Bisakah semua rincian ini dipalsukan? Sejarahwan Romawi, AN Sherwin, menulis, “Untuk Kisah Para Rasul konfirmasi historisnya melimpah. Tiap usaha untuk membantah dasar historisnya sekarang akan tampak kabur. Sejarahwan Romawi sudah terlalu lama meremehkannya.”[17]

Dari catatan Injil sampai surat-surat Paulus, para penulis Perjanjian Baru secara terbuka menggambarkan detil-detil, bahkan menyebutkan nama-nama individu yang hidup pada masa itu. Sejarahwan sedikitnya sudah memverifikasi 30 nama.[18]
Surat-Surat Untuk Kelompok Kecil

Teks,yang paling terlupakan, adalah dokumen yang ditujukan kepada khalayak umum, seperti artikel majalah ini (tidak diragukan banyak penjiplakan telah tersirkulasi di pasar gelap). Ahli sejarah Loois Gottschalk mencatat bahwa surat-surat personal dimaksudkan untuk pendengar berjumlah kecil (kelompok kecil) mempunya probilitas keandalan yang tinggi.[19] Pada kategori mana dokumen Perjanjian Baru berada?

Sebagian darinya jelas dimaksudkan untuk disebar-luaskan. Namun ada bagian besar dari Perjanjian Baru berisi surat-surat pribadi yang ditulis untuk kelompok kecil pendengar dan individu-individu. Dokumen-dokumen ini, paling tidak, tidak akan jadi kandidat utama untuk disalahkan.
Hal-Hal Memalukan

Kebanyakan penulis tidak ingin mempublikasi hal memalukan dirinya sendiri. Karena itu, sejarahwan mengamati bahwa dokumen-dokumen mengungkapkan hal-hal yang mempermalukan penulisnya biasanya bisa dipercaya. Apa yang dikatakan para penulis

Perjanjian Baru tentang diri mereka?

Mengejutkan, para penulis Perjanjian Baru memperlihatkan diri mereka sebagai terlalu tidak mengerti (bodoh), pengecut, dan tidak beriman. Contohnya, lihatlah tiga kali penyangkalan Petrus terhadap Yesus atau para murid bertengkar mengenai siapa diantara mereka yang terbesar — kedua cerita ini dicatat di Injil. Di gereja mula-mula, penghormatan terhadap para rasul sangatlah penting, karena itu memasukkan cerita seperti itu tidak masuk akal kecuali para rasul melaporkannya dengan kejujuran.[20]

Dalam buku The Story of Civilization, Will Durant menulis tentang para rasul,”Orang-orang ini bukanlah tipe yang akan dipilih untuk mengubah dunia Injil secara realistik memperlihatkan karakter mereka, dan dengan jujur mengekspose kesalahan-kesalahan mereka.”[21]
Material Kontra-Produktif Atau Tidak-Relevan.

Injil menceritakan kepada kita tentang kubur kosong Yesus ditemukan oleh perempuan, mekipun di Israel (jaman itu) kesaksian perempuan dipandang tidak bernilai atau berlaku dan tidak bisa diajukan dalam pengadilan. Ibu Yesus dan keluarganya dicatat pernah mengutarakan keyakinannya bahwa Dia (Yesus) tidak berpikir dengan benar. Sebagian kata-kata akhir Yesus di kayu salib adalah, “AllahKu, AllahKu, kenapa Engkau meninggalkanKu?” Dan daftar terus terisi oleh insiden-insiden, yang tercatat di Perjanjian Baru, sebagai kontra-produktif jika dimaksudkan oleh penulisnya sebagai upaya pewarisan akurat kehidupan dan pengajaran Yesus Kristus.
Kekurangan Material Relevan.

Ironisnya (atau mungkin logis) bahwa hanya sedikit isu penting pada gereja abad pertama –misi non-Yahudi, anugrerah spiritual, baptis, kepemimpinan — tercatat dibahas langsung oleh Yesus sendiri. Jika para pengikutnya hanya ingin mencatat material yang mendorong perptumbuhan gereja, kenapa mereka tidak “membuat” instruksi-instruksi dari Yesus mengenai isu-isu itu. Pada satu kasus, Rasul Paulus menyatakan pada pokok bahasan tertentu, “Dalam hal ini, kita tidak menerima pengajaran dari Tuhan.”

Tes Pembuktian Eksternal

Bagian ketiga dan ukuran terakhir keandalan dokumen adalah tes pembuktian eksternal, yang bertanya, “Apakah catatan sejarah diluar Perjanjian Baru mengkonfirmasikan kebenarannya?” Jadi apa kata ahli sejarah non-Kristen mengenai Yesus Kristus.

“Secara keseluruhan, sedikitnya 17 tulisan non-Kristen mencatat lebih dari 50 detil tentang kehidupan, pengajaran, kematian, dan kebangkitan Yesus, ditambah rincian tentang gereja mula-mula.[22] Ini luar biasa, mengingat ketiadaan catatan sejarah lain yang kita miliki pada periode ini. Yesus disinggung oleh lebih banyak sumber (catatan sejarah) daripada laporan penaklukan (perang) yang dilancarkan Kaisar (Romawi) pada periode yang sama. Lebih luar biasa lagi karena konfirmasi-konfirmasi detil Perjanjian Baru bertarik 20 sampai 150 tahun setelah Kristus, ”cukup cepat dengan standar histografi kuno.”[23]

Keandalan Perjanjian Baru diperkuat secara substantif oleh lebih dari 36.000 dokumen non-alkitab orang Kristen (kutipan-kutipan pernyataan para pemimpin gereja pada tiga abad pertama) bertarik, yang paling awal, hanya 10 tahun setelah penulisan buku terakhir Perjanjian Baru.[24] Jika seluruh kopi Perjanjian Baru hilang, anda bisa memproduksi seluruhnya kembali dari surat-surat dan dokumen itu, dan hanya kekurangan beberapa ayat saja.[25]

Profesor (pensiunan) Universitas Boston, Howard Clark Kee, menyimpulkan, “Hasil penelitian dari sumber-sumber diluar Perjanjian Baru yang diperoleh …bagi pengetahuan kita telah mengkonfirmasi eksistensi historis Yesus, kuasa luar biasaNya, pemujaan pengikutNya, berlanjutnya gerakan setelah Dia meninggal… dan penetrasi KeKristenan …. di Roma itu sendiri pada akhir abad pertama.”[26]

Jadi tes pembuktian eksternal dibangun dari bukti-bukti yang diberikan oleh tes-tes lainnya. Meskipun masih tetap ada yang skeptis secara radikal (yang mengambil kesimpulan dengan informasi yang tidak lengkap), Perjanjian Baru sudah memotret Yesus Kristus yang nyata dan tidak terbantahkan. Kendati ada beberapa yang tetap berbeda seperti Seminar Yesus, konsensus para ahli, apapun keyakinan religiusnya, mengkonformasikan Perjanjian Baru yang kita baca hari ini dengan tepat menggambarkan perkataan dan peristiwa kehidupan Yesus.

Clark Pinnock, profesor interpretasi di McMaster Divinity College, menyimpulkan dengan bagus ketika dia menyatakan, “Tidak ada dokumen dari dunia kuno yang dikonfirmasikan oleh begitu banyak teks dan testimoni historis. … (seorang) jujur tidak bisa mengesampingkan sumber-sumber seperti ini. Skeptisme (tidak percaya) berkaitan dengan kesejarahan KeKristenan akan berbasiskan irasionalitas.”[27]
Apakah Yesus Benar-Benar Bangkit Dari Kematian?

Pertanyaan terbesar masa kini adalah, “Siapa sebenarnya Yesus Kristus?” Apakah dia hanya seorang luar biasa, atau dia ALLAH dalam daging, seperti dipercayai oleh para muridNya Paulus, Johannes, dan yang lainnya.

Para saksi mata, bagi Yesus Kristus, berbicara dan bertindak sepertinya mereka percaya Dia bangkit secara fisik dari kematian setelah penyalibannya. Jika mereka salah maka KeKristenan didirikan diatas kebohongan. Tapi jika mereka benar, mujizat seperti itu secara memperkuat semua yang Yesus katakan mengenai ALLAH, diriNya, dan kita.

Tapi apakah kita percaya pada kebangkitan Yesus hanya dengan iman saja, tapi apakah ada bukti historis yang kuat? Beberapa ahli skeptis mulai meneliti catatan historis untuk membuktikan bahwa catatan kebangkitan itu salah. Apa yang mereka temukan?

Apakah Yesus itu Mesias?
JALAN KENABIAN:

Apa yang membuktikan bahwa Yesus benar-benar seperti yang diklaimNya? Bagaimana kita tahu Dia bukan penipu? Mari kita lihat beberapa penipu ternama dan kita lihat apakah julukan itu sesuai dengan Yesus, atau apa ada bukti-bukti yang mendukung klaimNya?

Ferdinand Waldo Demara Jr. diberi julukan penipu besar. Demara menyamar menjadi seorang psikolog, dosen, dekan, guru sekolah dan sipir penjara. Bahkan dia pernah melakukan beberapa operasi dengan berpura-pura sebagai seorang dokter.

Beberapa yang lain mengatakan Frank Abagnale adalah penipu/penyamar yang lebih hebat lagi. Pada usia 16 sampai 21 tahun Abagnale adalah penipu terbesar. Dia berhasil memperoleh $2.5 juta dengan cek palsu di 50 negara bagian Amerika dan di 26 negara lain. Dia juga berhasil menyamar sebagai pilot pesawat, pengacara, dosen dan dokter sebelum berhasil ditangkap oleh Polisi Prancis.

Jika cerita ini cukup akrab dengan Anda, mungkin karena Anda telah menonton film, yang dibuat tahun 2002, berjudul Catch Me If You Can, Abagnale diperankan oleh Leonardo DiCaprio ( yang sukses sebagai aktor film Titanic).

Bagaimana melampaui aksi Abagmale sebagai penipu paling tersohor? Yah, jika Yesus Kristus bukanlah Mesias, seperti klaimNya, maka Dia tidak punya pesaing. Kita tidak membicarakan ribuan orang yang berhasil ditipu oleh Abagnale. Jika Yesus Kristus adalah penipu, maka aksiNya telah berhasil menipu miliaran orang dan mengubah sejarah selama 2.000 tahun terakhir ini.

Jadi, apakah Yesus adalah Mesias palsu, yang berhasil menipu para ahli agama terkemuka? Apa mungkin dia dibesarkan oleh orang tuanya atau mentor – yang tidak diungkapkan -, untuk menjadi raja Israel, yang telah lama dijanjikan dan dicari?

Pada kenyataannya, jika Yesus seorang penipu, Dia bukanlah orang pertama dalam sejarah Israel yang berbohong bahwa dia adalah Mesias. Selama ratusan tahun sebelum kelahiran Kristus dan sesudahnya, banyak orang mengklaim dirinya Mesias, yang belakangan terbukti bahwa semua itu hanyalah kebohongan atau orang gila biasa.

Nubuat Yahudi kuno telah sangat jelas memprediksi pemerintahan seorang raja di masa depan, yang akan memberi kedamaian bagi Israel dan menjadi Penyelamatnya. Harapan ini menyelimuti negeri dan menumbuhkan harapan serta aspirasi orang Yahudi. Dalam suasana seperti Israel, seseorang yang kualifikasinya kurang, bisakah didorong untuk atau dicetak sesuai dengan (kriteria) Mesias? Untuk menjawab pertanyaan ini ada nubuatan-nubuatan Perjanjian Lama mengenai Mesias.

Perantara Allah

Menurut kitab-kitab suci, Allah orang Yahudi berbicara kepada umatnya melalui nabi-nabi, laki-laki dan perempuan yang mendengarkan Allah dan mungkin ya atau mungkin tidak merupakan bagian dari kalangan religius (pekerja di rumah ibadah). Pesan nabi sebagian untuk masa itu dan yang lainnya untuk masa depan. Apa pun pesannya, mereka berperan memproklamirkan pernyataan Allah kepada umatNya.

Secara umum, menjadi nabi sama dengan bekerja di bagian pengepakan daging, yang merupakan salah satu pekerjaan paling berbahaya di dunia. Bahkan jika mereka mengatakan kebenaran, nabi-nabi mungkin dibunuh atau dimasukkan ke dalam penjara oleh orang-orang yang tidak senang atas perkataan mereka. (Banyak raja membenci kabar buruk) Menurut catatan sejarah, Nabi Elisa digergaji menjadi dua.

Jadi pertimbangkan dilema seorang nabi: pasti mati jika dia terbukti salah dan kemungkinan juga mati jika dia benar. Nabi, yang sebenarnya/asli, tidak ingin menyinggung Allah, dan hanya sedikit yang ingin digergaji menjadi dua.

Jadi kebanyakan nabi menunggu sampai mereka sungguh-sungguh yakin bahwa Allah sudah berbicara atau mereka lebih suka diam. Raja-raja akan gemetar mendengar kata-kata mereka. Pesan nabi adalah benar, tidak pernah salah.

Sekarang pertanyaannya: bagaimana akurasi nabi jaman Aliktab dibandingkan dengan para normal masa kini?

Nabi Vs Paranormal?

Untuk mempertimbagkan apakah akurasi paranormal masa kini mendekati akurasi nabi-nabi Alkitab, kita bisa mengambil Jean Dixon sebagai studi kasus. Paranormal Amerika ini tampaknya punya kemampuan khusus untuk memperkirakan kejadian-kejadian masa depan. Tapi berdasarkan analisa reputasinya, tampaknya tidak bisa dijamin.

Conothnya, Dixon punya visi bahwa pada 5 Februari 1962 seorang anak lahir di Timur Tengah, yang akan mengubah dunia pada tahun 2000. Orang ini akan menciptakan satu agama dunia dan membawa perdamaian abadi. Dia melihat salib membesar diatas orang itu sampai seluruhnya meliputi bumi. Menurut Dixon, anak ini keturunan Ratu Mesir Nefertiti.[1]

Dimana orang ini? Apa anda melihatnya? Dan bagaimana dengan perdamaian abadi dunia?

Nyatanya, pencarian melelahkan prediksinya memberi dua hasil fakta yang tidak bisa diperdebatkan. Tingkat akurasinya sama dengan siapapun yang memperkirakan masa depan, dan pemenuhan ramalannya, yang paling luas dipublikasikan, adalah ramalan-ramalan yang secara sengaja dibuat kabur sehingga sejumlah kejadian bisa disebut sebagai pemenuhannya.

Bahkan ramalan-ramalan, yang paling dipublikasikan, dari Nostradamus sering salah mesipun ramalannya juga kabur, yang sebenarnya sukar dibantah.[2]

Contohnya, ini salah satu perkiraan Nostradamus:

“Ambil Dewi Bulan, untuk Harinya dan Gerakannya: seorang pengelana yang panik dan menyaksikan Hukum Para Dewa, dalam kebangkitan wilayah besar di Dunia atas kehendak Dewa (Seseorang Menghendakinya).[3]

Disebutkan ini mengenai kematian Putri Diana. (Anda mungkin berpendapat Margaret Thatcher.) Ramalan-ramalan semacam ini melihat sama seperti melihat sebuah gambaran sesuatu di awan. Tapi tetap ada yang memaksakan bahwa ini adalah bukti pemenuhan ramalan Nostradamus. Sangat diragukan, tapi sukar dibantah.

Dan itulah secara umum rekam kerja dari paranormal. Ketika “The People’s Almanac” meriset ramalan-ramalan 25 paranormal terkenal, 92 persen ramalan terbukti salah. Sisa 8 persen dipertanyakan dan bisa dijelaskan hanya karena kebetulan atau karena pengetahuan umum dari situasi.[4] Dalam percobaan dengan paranormal terkemuka dunia, tingkat akurasi mereka ada disekitar 11 persen, yang mungkin tidak begitu buruk kecuali ternyata orang biasa yang membuat perkiraan random mengenai masa depan juga punya presentase yang sama. Hal ini tidaklah berarti menolak semua perkiraan masa depan, tapi sudah pasti bisa menjelaskan kenapa paranormal tidak menang lotre.

Perbedaan antara paranormal dengan nabi tampaknya lebih karena jenisnya bukan tingkatannya. Nabi membuat deklarasi khusus mengenai kejadian di masa depan dalam hubungannya dengan pengungkapan rencana Allah dan melalukannya dengan akurasi penuh. Peramal lebih seperti pedagang, memberikan gambaran kabur masa depan kepada pasar yang membayar pelayannya. Mereka menawarkan informasi sensional, tapi dengan rekam jejak jelek.

Nubuat Religius Dalam Perspektif

Nubuatan bisa seperti mistis, metafisik, dan —tidak ada kata lebih baik— menyeramkan. Nubuat memperlihatkan gambaran mengejutkan seperti berhubungan dengan orang yang sudah mati dan dunia lain. Dalam film Star War ada ramalan tentang seseorang yang akan memabawa keseimbangan Kekuatan (Force). Film Lord of the Rings berkisah tentang tema disekitar ramalan. Tapi itu semua dunia imajinasi.

Di dunia nyata, dikatakan jika seseorang tahu satu menit saja di masa depan dia akan menguasai dunia. Pikirkan hal ini. Satu menit tahu pasti apa yang akan keluar di kasino Trump. Anda akan jadi orang terkaya di dunia dan Donald (Trump) akan jadi petugas pos.

Tapi di dunia agama, ramalan punya fungsi penting. Nubuat jadi jalan kepastian untuk mengetahui apakan seseorang datang dari Allah atau bukan, karena Allah Mahatahu pasti tahu masa depan. Pada poin ini nubuatan di Perjanjian Lama menjadi unik, karena sebagian besar buku suci dari agamam lain menghindari nubuatan prediksi masa depan. Contohnya, kitab suci Book of Mormon dan Hindu Veda mengklaim diinspirasi oleh Yang Mahakuasa, tidak ada cara untuk mengkonfirmasi klaim mereka; anda hanya dibiarkan dengan, “Ya, itu tampaknya yang mungkin dikatakan oleh Allah.”

Ahli Alkitab Wolbur Smith membandingkan nubuatan Alkitab dengan buku sejarah lain, mengatakan, “Alkitab adalah satu-satunya buku yang pernah diproduksi oleh manusia, atau kelompok manusia, dimana banyak nubuatan berkaitan dengan negara-negara individu, kepada Israel, kepada semua orang di dunia, kepada kota-kota tertentu, dan kepada seseorang yang akan datang yang akan jadi Mesias.”[5] Jadi Alkitab mendasarkan klaim-klaimnya sedemikian rupa sehingga Alkitab itu bisa diterima atau ditolak.

Jika anda memasukkan tingkat akurasi kedalam perspektif harian, anda akan melihat betapa menakjubkannya. Contohnya, akan jadi mujizat jika pada tahun 1910 anda sudah memperkirakan seseorang bernama George Bush akan memenangkan pemilihan umum tahun 2000. Tapi bayangkan anda juga mengikutkan rincian ini dalam prediksi anda:

* Kandidat yang mengumpulkan suara total terbanyak akan kalah.
* Semua jaringan televisi akan mengumumkan pemenangnya dan kemudian mereka semua menasik pernyataan itu.
* Satu negara bagian (Florida) akan menentukan hasil pemilihan
* Amerika. Makamah Agung akhirnya yang memutuskan siapa pemenangnya.

Ketika itu semua terjadi, akan ada gereja-gereja dengan nama anda dan kartun-kartun dengan wajah mirip anda. Tapi kan anda tidak melakukannya, jadi semuanya tidak ada. Betapa sukarnya (atau tidak mungkin) pada tahun 1910 untuk secara akurat memperkirakan peristiwa-peristiwa yang berurutan semacam itu, disisi lain makin sangat sulit bagi Yesus, atau siapapun, untuk memenuhi semua nubuatan Yahudi bagi Mesias. Di dalam Perjanjian Lama, ditulis ratusan tahun sebelum kelahiran Yesus, ada 61 nubuatan khusus dan hampir 300 referensi mengenai Mesias.[6]

Berdasarkan syarat Yahudi bahwa nubuatan harus 100 persen akurasinya, Mesias, yang asli, Israel harus memenuhi semuanya atau dia bukan Mesias. Jadi pertanyaannya adalah apakah Yesus terbukti atau jadi penipu terbesar dunia, dalam memenuhi semua nubuatan Perjanjian Lama.

Apa Hasilnya?

Mari kita lihat dua nubuat khusus tentang Mesias di Perjanjian Lama.

“Tetapi engkau, hai Betlehem Efrata, hai yang terkecil diantara kaum-kaum Yehuda. dari padamu akan bangkit bagiKu seorang yang akan memerintah Israel, yang permulaannya sudah sejak purbakala, sejak dahulu kala.”(Mikha 5:1)

“Sebab itu Tuhan sendirilah yang akan memberikan kepadamu suatu pertanda: Sesungguhnya, seorang perempuan muda mengandung, dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan Ia akan menamakan Dia Imanuel. (Yesaya 7:14)

Sekarang, sebelum mempertimbangkan 59 nubuatan lainnya, anda perlu berhenti dan bertanya kepada diri sendiri seberapa banyak orang yang masuk kategori ini untuk berpotensi jadi Mesias disepenjang sejarah, yang lahir dari seorang perempuan perawan di kota Bethlehem. “Baiklah, lihat, ada tetangga saya George, tapi tidak; dia lahir di Brooklyn.” Dalam kasus 61 nubuatan rinci dipenuhi oleh satu orang, kita berbiacara tentang kemungkinannya sangat mungkin tidak mungkin.

Ketika ilmuwan forensik menemukan profil DNA cocok, kemungkian salah orang adalah kurang dari satu berbanding beberapa miliar (sebenarnya hanya ingin mengingatkan saja bahwa ada kemungkinan salah betapapun kecilnya). Tampaknya kita punya kemunkinan yang sama, dan banyak angka nol, dalam menilai satu orang memenuhi semua nubuatan itu.

Profesor Peter Stoner, ahli matematika, memberi 600 muridnya soal matematika probabilitas yang akan menentukan kemungkinan satu orang memenuhi delapan nubuatan khusus. (Ini tidak sama dengan melemparkan koin delapan kali berturut-turur dan menghitung kepala yang muncul) Pertama para murid harus menghitung kemungkinan satu orang memenuhi semua kondiri satu nubuatan, seperti dikhianati teman demi 30 keping perak. Kemudian para murid memperlihatkan perkiraan terbaik mereka akan kemungkinan seseorang memenuhi delapan nubuatan secara keseluruhan.

Para murid menghitung kemungkinan satu orang memenuhi seluruh delapan nubuatan adalah satu berbanding sepuluh pangkat 21.(1021) Untuk menggambarkan angka itu, Stoner memberikan contoh, “Pertama-tama, selimuti seluruh Bumi dengan koin dolar setinggi 120 kaki. Kedua, tandai satu dari koin dolar itu dan secara random menguburnya. Ketiga, minta seseorang mengelilingi dunia untuk mencari dan menemukan koin dolar yang sudah ditandai sambil matanya ditutup.[7]

Orang bisa melakukan hal-hal menakjubkan dengan angka (terutama dengan nama keluarga dan semacamnya), jadi cukup penting dicatat bahwa upaya Stoner diteliti oleh American Scientific Association, yang menyatakan, “Analisa matematika berdasarkan prinsip probabilitas yang bisa diandalkan dan Profesor Stoner telah menerapkan prinsip-prinsip ini dengan tepat dan meyakinkan.”[8]

Dengan perkenalan itu, mari kita tambahkan enam prediksi kepada dua yang sudah dipertimbangkan sehingga total delapan seperti Profesor Stoner.
Nubuat: Mesias akan berasal dari garis keturunan Raja Daud.

Yeremia 23:5

tahun 600 SM.
Pemenuhan: “Yesus … anak Daud ….”

Lukas 3:23, 31

tahun 4 SM
Nubuat: Mesias akan dikhianati dengan bayaran 30 keping perak.

Zacharias 11:13

tahun 487 SM.
Pemenuhan: “Mereka memberi dia tiga puluh keping perak.”

Matius 26:15

tahun 30
Nubuat: Tangan dan kaki Mesias akan ditusuk.

Mazmur 22:16

tahun 1000 SM.
Pemenuhan: “Ketika mereka sampai di tempat yang bernama Tengkorak mereka menyalibkan Yesus di situ dan juga kedua orang penjahat itu, yang seorang di sebelah kananNya dan yang lain di sebelah kiriNya.”

Lukas 23:33

tahun 30
Nubuat: Orang akan mengundi untuk mendapakan jubah Mesias.

Mazmur 22:18

tahun 1000 SM.
Pemenuhan: “Prajurit-prajurit …. dan jubahNya juga mereka ambil. Jubah itu tidak berjahit, dari atas ke bawah hanya satu tenunan saja. Karena itu mereka berkata seorang kepada yang lain, “Janganlah kita membaginya menjadi beberapa potong, tetapi baiklah kita membuang undi untuk menentukan siapa yang mendapatkannya.”

Yohanes 19:23-24

tahun 30
Nubuat: Mesias akan datang menaiki keledai.

Zacharias 9:9

tahun 500 SM.
Pemenuhan: “Mereka membawa keledai betina itu bersama anaknya, lalu mengalasinya dengan pakaian mreka dan Yesuspun naik ke atasnya.”

Matius 21:7

tahun 30
Nubuat: Seorang utusan akan dikirim untuk mengumumkan kedatangan Mesias.

Maleakhi 3:1

tahun 500 SM.
Pemenuhan: Yohanes menjawab mereka, katanya,”Aku membaptis dengan air; tetapi ditengah-tengah kamu berdiri Dia yang tidak kamu kenal.”

Yohanes 1:26

Tahun 27.

Ke delapan nubuatan, yang kita teliti mengenai Mesias ditulis oleh orang-orang dengan waktu dan tempat berbeda antara 500 sampai 1.000 tahun sebelum Yesus lahir. Jadi tidak ada kesempatan untuk melakukan kolusi diantara mereka. catat juga kehususannya. Ini bukan jenis prediksi Nostradamus –”Ketika bulan berubah jadi hijau, biji lima akan jatuh dan tertutupi di pinggir jalan”

Diluar Kontrolnya

Bayangkan memenangkan lotre Powerball hanya dengan satu tiket, diantara puluhan juta tiket yang terjual. Sekarang, bayangkan berhasil memenangkan lotre seperti itu ratusan kali. Apa yang anda pikirkan? Benar, “Itu dicurangi!”

Dan selama bertahun-tahun klaim yang sama dikeluarkan oleh orang skeptis mengenai pemenuhan nubuatan Perjanjian Lama oleh Yesus. Mereka mengakui Yesus memenuhi nubuatan mesianik tapi menuduh Dia hidup dengan cara tertentu untuk dengan sengaja memenuhinya. Kelihatan seperti alasan yang cukup masuk akal, tapi bukan tanpa keraguan.

Lihat kondisi empat saja nubuatan mesias:

* Dia keturunan Daud (Yeremia 23:5).
* Dia akan lahir di Betlehem (Mikha 5:2).
* Dia akan lari (mengungsi) ke Mesir (Hosea 11:1).
* Dia akan tinggal di Nazareth (Yesaya 11:1).[9]

Sekarang, bagaimana Yesus bisa memenuhi nubuatan itu? Dia dan orang tuanya tidak punya kontrol atas nenek moyangNya. Kelahiran Yesus di Betlehem adalah dikarenakan adanya sensus yang diperintahkan oleh Kaisar Agustus. Orang tuanya pindah ke Mesir karena dipicu oleh penindasan Raja Herodes. Dan ketika Herodes mati, orang tua Yesus langsung memutuskan untuk kembali pulang ke Nazareth.

Bahkan jika pada usia muda seorang peniru Yesus membaca nubuat-nubuat yang secara tidak sengaja dipenuhi dan memutuskan untuk terus memenuhi seluruhnya (sama seperti seseorang memutuskan untuk menembak bulan dalam permainan kartu Heart), dia tidak mungkin menang. Pertimbangkan beberapa faktor dalam nubuat-nubuat yang sudah kita lihat: Mesias akan dikhianati dengan 30 keping perak; Dia akan dibunuh dengan cara disalib; dan orang akan mengundi jubahNya. Semua nubuatan ini terpenuhi oleh Yesus, lalu kontrol seperti apa yang dimiliki untuk memenuhi setiap nubuatan itu?

Para ahli Alkitab menjelaskan kepada kita sekitar 300 referensi dengan 61 nubuatan khusus Mesias dipenuhi oleh Yesus Kristus. Kemungkinan seseorang memenuhi begitu banyak nubuatan akan ada diluar semua kemungkinan matematis. Hal itu tidak akan pernah terjadi, tidak perduli berapa banyak waktu didedikasikan. Seorang matematikawan memperkirakan ketidak-mungkinan itu seperti, “satu banding satu miliar, miliar, miliar, miliar, miliar, miliar, miliar, miliar.”[10]

Bertrand Russell, ateis, ditanya, dipublikasikan majalah Look, bukti apa yang akan membuatnya percaya pada Allah. Russell menjawab,”Jika saya mendengar suara dari surga dan (suara) itu memprediksi rankaian peristiwa dan itu terjadi, maka saya pikir saya harus percaya ada semacam pribadi supernatural.”

Ahli Alkitab Norman Geisler merespon skeptisme Russell, “Saya aakn katakan, tuan Russell, sudah ada suara dari sorga; (suara) itu sudah memprediksi banyak hal; dan kita sudah melihatnya terjadi, tanpa bisa dibantah.” Geisler menyatakan secara tidak langsung bahwa pada kenyatannya hanya Pribadi transenden di luar waktu yang bisa secara akurat memperkirakan kejadian masa depan.

Bukti Di Dalam Toples

Kita melihat bukti pemenuhan nubuat mesianik Yesus dari semua arah, tapi belum yang satu ini. Bagaimana jika orang Kristen yang mnulis kopi kitab Yesaya dan buku-buku nabi lain di Perjanjian Lama mengubahnya untuk disesuaikan dengan kehidupan Yesus?

Inilah pertanyaan banyak ahli dan skeptis tanyakan. Tampaknya mungkin, kendati sekilas agak diragukan. Jawaban ini akan mencegah kita menjadikan Yesus sebagai penipu, yang kemungkinannya sangat kecil, dan hal itu akan menjelaskan akurasi menakjubkan pemenuhanNya atas nubuatan. Jadi, bagaimana kita tahu buku-buku nabi di Perjanjian Lama, seperti Yesaya, Daniel, dan Mikha, ditulis ratusan tahun sebelum Yesus lahir? Dan jika memang benar, bagaimana kita tahu orang Kristen tidak mengubah teksnya dikemudian hari?

Selama 1.900 tahun, banyak skeptis memegang teguh teori, berdasarkan ketidak-mampuan manusia memprediksi masa depan. Tapi kemudian terjadi sesuatu yang melenyapkan antusiasme terhadap konspirasi semacam itu. Sesuatu yang disebut Gulungan Laut Mati.

Setengah abad silam, penemuan Gulungan Laut Mati memberi para ahli Alkitab kopi-kopi buku-buku Perjanjian Lama yang jauh lebih tua dari yang selama ini diketahui. Tes-tes ekstensif membuktikan banyak dari kopi-kopi ini dibuat sebelum Yesus Kristus hidup. Dan mereka benar-benar identik dengan teks-teks Alkitab yang sudah kita gunakan selama ini.

Akibatnya, bahkan para ahli yang menolak Yesus sebagai Mesias menerima manuskrip-manuskrip Perjanjian Lama bertarik sebelum kelahiranNya dan karena itu bisa disimpulkan nubuat-nubuat mengenai Mesias yang ada didalamnya tidak diubah untuk disesuaikan dengan Yesus.

Jika prediksi-prediksi dipenuhi begitu akurat melalui kehidupan Yesus, tampaknya akan logis untuk merenungkan kenapa semua orang di Israel tidak bisa melihat itu. Tapi ketika salib didirikan, tidak semua orang melihatnya. Seperti dikatakan Yohanes tentang Yesus, ” Tetapi orang-orang kepunyaanNya itu tidak menerimaNya.” (Yohanes 1:11) Kenapa ?

Dengan pertimbangkan sejarah perjuangan Israel, tidak sukar untuk membaca informasi (nubuat-nubuat) Mesias sebagai pejuang kemerdekaan politik. Bisa dipahami bagaimana orang Yahudi abad pertama mungkin berpikir, bagaimana mungkin Mesias telah datang dan Israel masih tetap ditindas dibawah penjajahan Romawi?

Pada saat Yesus memenuhi nubuatan mesianik, Dia melakukannya dengan cara yang tidak diperkirakan oleh seorangpun. Dia mengobarkan revolusi moral dan spiritual, bukan politik, mencapai tujuan-tujuanNya melalui pengorbanan-diri dan melayani dengan rendah hati, menyembuhkan, dan mengajar. Sementara isu, Israel sedang menunggu Musa atau Yoshua lain, yang akan memimpin mereka untuk menaklukkan untuk memperoleh kembali kerajaan mereka, yang hilang.

Tentu saja, banyak orang Yahudi , pada masa Yesus, tidak mengakui Dia sebagai Mesias — seluruh pondasi gereja Kristen adalah orang Yahudi. Namun bukan mayoritasnya. Dan tidaklah sukar untuk mengerti kenapa.

Agar lebih baik memahami salah-paham orang Yahudi abad pertama, pertimbangkanlah nubuat yang ditulis 700 tahun sebelum Yesus lahir oleh nabi Yesaya. Apakah ini merujuk pada Yesus?

“Kita sekalian sesat seperti domba. masing-masing kita mengambil jalannya sendiri. tetapi TUHAN telah menimpakan kepadanya kejahatan kita sekalian.

“Dia dianiaya, tetapi dia membiarkan diri ditindas dan tidak membuka mulutnya. seperti anak domba yang dibawa kepembantaian; seperti induk domba yang kelu di depan orang-orang yang menggunting bulunya, ia tidak membuka mulutnya. Sesudah penahanan dan penghukuman ia terambil, dan tentang nasibnya siapakah yang memikirkannya? Sungguh, ia terputus dari negeri orang-orang hidup dan karena pemberontakan umatKu dia kena tulah. Tetapi sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggungnya, dan kesengsaraan kita yang dipikulnya, padahal kita mengira dia tulah, dipukul dan ditindas Allah. Sekalipiun ia tidak berbuat kekerasan dan tipu tidak ada dalam mulutnya Orang menempatkan kuburnya di antara orang-orang fasik”.

“Tetapi TUHAN berkehendak meremukkan dia dengan kesakitan. Apabila ia menyerahkan dirinya sebagai korban penebus salah, ia akan melihat keturunannya, umurnya akan lanjut. . . Sesudah kesusahan jiwanya ia akan melhat terang dan menjadi puas; dan hambaKu itu, sebagai orang.” (Bagian dari Yesaya 53:6-11)

Ketika Yesus tergantung di salib, sebagian orang dan bisa dipahami mungkin telah berpikir, bagaimana bisa ini Mesias? Pada saat yang sama, orang lain mungkin merenung, siapa selain Yesus yang dikatakan Yesaya?

Tidak Mungkin Penipu

Jadi, apa yang bisa kita lakukan agar Yesus memenuhi begitu banyak nubuatan yang ditulis ratusan tahun sebelum kelahirannya? Leonardo DiCaprio … Maksud saya, Frank Abagnale mungkin peniru yang bagus, tapi bahkan dia tertangkap ketika dia sudah cukup umur untuk minum bir secara legal.

Yesus tidak kelihatan lebih hebat dari Frank Abagnale. Dia ada di kategori berbeda. Tidak ada peniru yang bisa memenuhi begitu banyak nubuatan Yahudi.

Dan apa artinya? Dua kesimpulan muncul: Pertama, hanya Pribadi transenden yang mampu mengatur semua peristiwa. Dan kedua, itu membuat semua klaim Yesus kredibel dan pantas dipertimbangkan dengan serius.

Dalam Injil Yohanes, Yesus membuat klaim, “Akulah jalan, kebenaran, dan hidup” Bukti-bukti melimpah tampaknya memberi indikasi bahwa tanda tangan di cek itu bukan palsu.

Apakah Yesus benar-benar bangkit dari kematian?

Kita semua ingin tahu apa yang terjadi setelah kita mati. Ketika orang yang kita cintai meninggal, kita ingin sekali melihat mereka kembali bersama kita (setelah kita meninggal) nantinya. Apakah kita akan memiliki reuni yang menggembirakan dengan mereka yang kita cintai atau kematian adalah akhir dari seluruh kesadaran?

Yesus mengajarkan bahwa hidup tidak berakhir setelah tubuh kita mati. Dia membuat klaim yang mengejutkan “Akulah kebangkitan dan hidup. Mereka, yang percaya kepadaKu, meski pun mereka mati sama seperti semua orang, akan hidup kembali.” Menurut para saksi mata yang sangat dekat denganNya, Yesus kemudian memperlihatkan kuasa atas kematian dengan bangkit dari kematian setelah disalibkan dan dikubur selama tiga hari. Inilah kepercayaan yang memberikan harapan kepada orang Kristen selama hampir dua ribu tahun.

Namun sebagian orang tidak punya harapan setelah kematian. Filsuf ateis, Bertrand Russell menulis: “Saya percaya bahwa ketika meninggal saya akan membusuk dan kesadaran saya tidak akan bertahan.”[1] Russell jelas tidak percaya pada perkataan Yesus.

Para pengikut Yesus menulis, Dia menampakkan diri dan hidup setelah penyaliban dan penguburan-Nya. Mereka juga menjelaskan tidak hanya melihat Dia, tapi juga makan bersama-sama dengan Dia, menyentuhNya dan bersama-sama dengan Dia selama empat puluh hari.

Jadi, apakah ini hanya cerita yang bertumbuh dengan berjalannya waktu atau berdasarkan bukti yang kuat? Jawaban atas pertanyaan ini sangatlah mendasar bagi keristenan. Jika Yesus benar-benar bangkit dari kematian, hal itu akan memberi pengesahan atas segala hal yang dikatakan-Nya mengenai diri-Nya, mengenai arti kehidupan dan mengenai tujuan kita setelah kematian.

Jika Yesus benar-benar bangkit dari kematian, maka hanya Dia sendiri yang punya jawaban mengenai kehidupan dan apa yang menanti kita setelah kita meninggal. Di sisi lain, jika kebangkitan Yesus tidak benar, maka kekristenan akan didasarkan pada kebohongan. Teolog R. C. Sproul menyebutnya seperti ini,

“Klaim kebangkitan vital bagi kekristenan. Jika Kristus dibangkitkan dari kematian oleh Allah, maka Dia punya mandat dan sertifikat yang tidak dimiliki oleh pemimpin agama mana pun. Buddha meninggal. Muhammad meninggal. Musa meninggal. Konfusius meninggal. Tapi menurut …kekristenan, Kristus hidup.”[2]

Banyak para kritikus telah mencoba membantah kebangkitan Yesus. Josh McDowell adalah salah satu kritikus yang melakukan riset terhadap bukti-bukti kebangkitan lebih dari 700 jam. McDowell menyatakan mengenai pentingnya kebangkitan,

“Saya sudah mencapai kesimpulan bahwa kebangkitan Yesus Kristus adalah yang paling aneh, kejam, kebohongan yang tidak berhati nurani, yang pernah dilakukan terhadap pikiran manusia atau ini adalah fakta yang paling menakjubkan dalam sejarah.”[3]

Jadi, apakah kebangkitan Yesus adalah fakta fantastis atau mitos paling keji? Untuk mengetahuinya, kita harus melihat bukti sejarah dan mengambil kesimpulan kita sendiri. Mari kita lihat apa yang ditemukan para kritikus bagi dirinya sendiri.

Sinis dan Kritis

Tidak semua orang siap untuk meneliti bukti-bukti dengan adil dan terbuka. Bertrand Russell mengakui pandangannya terhadap Yesus “tidak berkaitan” dengan fakta sejarah.[4] Sejarahwan Joseph Campbell, tanpa menyebut adanya bukti, dengan tenang menyatakan kepada para pemirsa televisi PBS bahwa kebangkitan Yesus bukanlah kejadian nyata.[5] Para ahli lain, seperti John Dominic Crossan dari Seminar Yesus, setuju dengannya.[6] Tidak satu pun dari orang-orang yang sinis ini memberikan bukti atas pandangan mereka.

Kritis yang sebenarnya berlawanan dengan sinisme, yang justru tertarik dengan bukti-bukti. Dalam editorial majalah Skeptic berjudul “Apa itu Skeptis (Kritis)?”, sebuah defenisi diberikan.

“Skeptisme (kritis) adalah penerapan pemikiran yang masuk akal pada setiap dan semua ide – tidak ada sapi? suci yang dikecualikan. Dengan kata lain … kritis (skeptis) tidak ingin memasuki sebuah investigasi yang menutup diri dari kemungkinan fenomena itu nyata atau klaim itu mungkin benar. Ketika kita katakan kita kritis, itu diartikan bahwa kita harus melihat bukti yang meyakinkan sebelum kita percaya”[7]

Tidak seperti Russell dan Crossan, banyak kritikus yang sungguh-sungguh telah menginvestigasi bukti-bukti kebangkitan Yesus. Dalam artikel ini kita akan mendengar banyak dari mereka dan melihat bagaimana mereka menganalisa bukti yang mungkin jadi pertanyaan paling penting dalam sejarah manusia: Apakah benar Yesus bangkit dari kematian?
Bernubuat Untuk Dirinya Sendiri

Sebelum kematianNya, Yesus mengatakan kepada para murid-Nya bahwa Dia akan dikhianati, ditangkap disalib dan akan bangkit tiga hari kemudian. Sebuah rencana yang aneh! Ada apa di belakang ini? Yesus bukan penghibur yang bersedia melakukan pertunjukan atas pesanan orang lain; tetapi, Dia berjanji bahwa kematian dan kebangkitanNya akan memberi bukti kepada orang-orang (jika hati dan pikirannya terbuka) bahwa Dia adalah benar-benar Mesias.

Ahli Alkitab Wilbur Smith mencatat tentang Yesus,

“Ketika Dia mengatakan Dia akan bangkit kembali dari kematian pada hari yang ketiga setelah Dia disalibkan, Dia mengatakan sesuatu yang hanya orang bodoh berani mengatakannya, jika Dia mengharapkan pemujaan lebih lama dari para murid – kecuali Dia benar-benar yakin bahwa Dia akan bangkit. Tidak ada pendiri agama dunia mana pun yang diketahui manusia pernah berani mengatakan hal semacam itu.”[8]

Dengan kata lain, karena Yesus sudah dengan jelas mengatakan kepada para muridNya bahwa Dia akan bangkit lagi setelah kematian-Nya, maka kegagalan memenuhi janji itu akan membuat diriNya menjadi sekedar seorang penipu. Tapi analisa kita sudah terlalu jauh. Bagaimanan Yesus meninggal sebelum Dia (jika benar) bangkit kembali?

Kematian yang Mengerikan dan Kemudian. . . ?

Anda tahu apa yang terjadi pada jam-jam terakhir kehidupan Yesus di dunia, mirip dengam film yang dibuat oleh Mel Gibson (bintang Brave Heart dan jagoan jalanan) Jika Anda tidak melihat bagian dari “The Passion of The Christ” karena Anda menutup mata Anda (akan lebih mudah mensyuting film itu dengan filter merah di kamera), coba baca halaman-halaman Injil di Perjanjian Baru untuk mengetahui apa yang Anda tidak lihat itu.

Seperti yang sudah diprediksi Yesus, Dia dikhianati oleh salah satu muridnya, Yudas Iskariot, dan ditangkap. Dalam sebuah pengadilan, yang sudah diatur sebelumnya oleh Gubernur Romawi, Pontius Pilatus, Dia terbukti bersalah karena pengkhianatan dan dihukum mati disalib kayu. Sebelum dipaku di salib, Yesus secara brutal disiksa dengan cambuk Romawi, yang pada tiap cambukan maka mata cambuk akan masuk sampai ke tulang dan kait-kait besinya akan merobek daging. Dia dipukuli berkali-kali, ditendangi, dan diludahi.

Kemudian, dengan paku besar algojo Romawi memaku tangan dan kaki Yesus. Akhirnya,mereka mendirikan salib di sebuah lubang di tanah diantara dua penjahat, yang juga disalib.

Yesus tergantung disalib selama sekitar enam jam. Kemudian, pada pukul 3.00 sore –sama persis dengan pengorbanan (pemotongan) domba Paskah sebagai penebus dosa (ada sedikit simbolisme disini, bagaimana menurut Anda?) – Yesus berteriak, “Sudah selesai” (dalam bahasa Aramaic) dan mati. Tiba-tiba langit jadi gelap dan terjadi gempa bumi.[9]

Pilatus ingin memverifikasi bahwa Yesus benar-benar mati sebelum tubuhNya dikuburkan. Karena itu, seorang prajurit Romawi menusuk perut Yesus dengan tombak. Campuran darah dan air yang keluar memberi indikasi jelas bahwa Yesus sudah mati. Jenazah Yesus kemudian diturunkan dari salib dan dikuburkan di kubur Yusuf dari Arimatea. Prajurit Romawi menyegel kuburan dan menjaganya selama 24 jam.

Sementara, murid-murid Yesus syok. Dr. J. P. Moreland menjelaskan bagaimana syok dan kebingungan melanda mereka setelah kematian Yesus di kayu salib. “Mereka tidak lagi punya kepercayaan bahwa Yesus telah dikirim oleh Allah. Mereka juga telah diajarkan bahwa Allah tidak akan membiarkan Mesias-Nya mati. Jadi mereka tercerai berai. Seluruh gerakan Yesus sudah terhenti. ”[10]

Semua harapan lenyap. Roma dan pemimpin Yahudi telah menang —- atau memang tampaknya seperti itu.

Sesuatu Terjadi

Tapi itu bukan akhirnya. Gerakan Yesus tidak lenyap (kelihatannya) dan nyatanya, kekristenan ada hari ini sebagai agama terbesar dunia. Karena itu, kita harus tahu apa yang terjadi setelah jenazah Yesus diturunkan dari salib dan dibaringkan di kuburan.

Dalam artikel di harian New York Times, Peter Steinfels menuliskan peristiwa yang terjadi selama tiga hari setelah kematian Yesus,”Beberapa saat setelah Yesus dieksekusi, para pengikutNya tiba-tiba berubah dari kelompok orang yang takut dan bersembunyi menjadi pembawa pesan mengenai Yesus yang hidup dan kedatangan kerajaanNya, berkotbah dengan taruhan nyawa, dan akhirnya mengubah kekaisaran. Sesuatu terjadi. … Tapi pastinya apa?”[11] Itulah pertanyaan yang harus kita jawab melalui investigasi atas fakta-fakta.

Hanya ada lima kemungkinan penjelasan atas kemungkinan kebangkitan Yesus, seperti terlihat di Perjanjian Baru:

  1. Yesus tidak benar-benar mati di atas kayu salib.
  2. “Kebangkitan” adalah konspirasi.
  3. Para murid berhalusinasi.
  4. Catatan mengenai itu hanya legenda.
  5. Itu benar-benar terjadi.

Mari kita telaah opini-opini itu dan melihat mana yang paling cocok dengan fakta-fakta.

Apakah Yesus Mati?

“Marley benar-benar sudah mati lebih dari sebuah paku pintu, Mengenai hal itu sudah tidak diragukan lagi.” tulis Charles Dickens dalam A Christmas Carol, pengarang tidak ingin siapapun salah sangka atas karakter supranatural yang akan muncul menggantikannya. Dengan cara sama, sebelum kita mengambil peran CSI dan merangkai bukti-bukti kebangkitan, kita harus memastikan bahwa, pada kenyataannya, ada sebuah mayat. Apalagi, kadang-kadang surat kabar melaporkan ada “jenazah” di kamar mayat yang ditemukan bergetar dan akhirnya bangun lagi. Apakah hal seperti itu telah terjadi terhadap Yesus?

Beberapa telah mengira Yesus tetap hidup setelah penyaliban dan dipulihkan oleh udara dingin dan lembab di kuburan– “Wah, berapa lama saya tidak sadarkan diri?” Tapi teori ini tidak cocok dengan bukti medis. Dalam artikel di majalah Journal of the American Medical Association dijelaskan kenapa hal seperti itu disebut sebagai “teori pingsan/mati suri” tidak bisa diterima”Sudah jelas, bobot bukti historis dan medis mengindikasikan Yesus sudah mati. … Tombak, yang ditusuk diantara rusuk kananNya, kemungkinan tidak hanya merobek paru-paru kanan, tapi juga menembus membran selimut jantung dan jantung dan memastikan kematian-Nya”[12] Tapi skeptisme terhadap kesimpulan ini tetap ada apalagi kasus ini sudah dingin selama 2000 tahun. Karena itu, kita membutuhkan opini kedua.

Satu tempat untuk menemukannya adalah laporan-laporan dari sejarahwan non-Kristen, yang ada pada saat Yesus hidup. Tiga sejarahwan ini mencatat kematian Yesus.

* Lucian (120 SM – 180 sesudah masehi. menyebutkan Yesus sebagai penyaliban seorang filsuf.[13]
* Josephus (tahun 37– 100) menulis, “Pada saat itu, tampaknya Yesus seorang bijaksana, karena perbuatan luar biasa-Nya. Ketika Pilatus menghukumNya disalib, pemimpin kita menuduh Dia, mereka yang mengasihi Dia tidak berbuat apa-apa”.[14]
* Tacitus (tahun 56–120) menulis, “Kristus, namaNya dari tempatNya berasal, menderita hukuman ekstrim …. ditangan penguasa kita, Pontius Pilatus.[15]

Ini seperti masuk ke ruang arsip dan menemukan satu hari di musim panas pada abad pertama, The Jerusalem Post memuat berita halaman depan dengan cerita Yesus disalib dan mati. Bukan hasil kerja detektif yang jelek, dan cukup konklusif.

Nyatanya, tidak ada catatan sejarah dari orang Kristen, Romawi, atau Yahudi yang mempertanyakan apakah Yesus mati atau mengenai penguburannya. Bahkan Crossan, yang skeptis atas kebangkitan, sepakat bahwa Yesus benar-benar hidup dan mati. “Dia disalibkan adalah meyakinkan secara kesejarahan.[16] Dibawah cahaya bukti seperti itu, kita tampaknya punya dasar kuat untuk menyingkirkan satu dari lima opini itu. Yesus benar-benar mati, “mengenai itu tidak diragukan lagi.”

Mengenai Kubur Kosong

Tidak ada sejarahwan serius yang sungguh meragukan kematian Yesus ketika Dia diturunkan dari salib. Namun, banyak yang mempertanyakan bagaimana tubuh Yesus lenyap dari kuburan. Jurnalis Inggris, Dr. Frank Morison. sebelumnya berpikir kebangkitan itu mitos atau penipuan, dan dia mulai melakukan riset untuk menulis buku menentangnya.[17] Buku itu jadi terkenal tapi dengan alasan yang berbeda dari maksud sebelumnya, seperti yang akan kita lihat.

Morison memulainya dengan mencoba memecahkan kasus kubur yang kosong. Kubur itu milik anggota Dewan Sanhedrin, Yusuf dari Arimatea. Pada masa itu, masuk anggota dewan sama dengan bintang rock. Semua orang tahu siapa anggota dewan. Yusuf pastilah orang yang hidup dimasa itu. Kalau tidak, para pemimpin Yahudi akan mengungkap cerita itu sebagai penipuan dalam upaya mereka membantah telah terjadi kebangkitan. Juga, kubur Yusuf sudah dikenal baik lokasinya dan dengan mudah diidentifikasi, jadi setiap pemikiran bahwa Yesus “hilang di pekuburan” harus disingkirkan.

Morison heran kenapa para musuh Yesus membiarkan “mitos kubur kosong” ada jika itu tidak benar. Penemuan jenazah Yesus akan langsung membunuh seluruh rencana itu.

Dan apa yang dikenal sejarah sebagai musuh-musuh Yesus adalah mereka yang menuduh murid-murid Yesus mencuri mayatNya, sebuah tuduhan yang datang dari kepercayaan bahwa kubur itu sudah kosong.

Dr. Paul L. Maier, dosen sejarah kuno di Universitas Western Michigan, juga memberi pendapat yang sama, “Jika semua bukti diteliti dengan hati-hati dan adil, maka itu sungguh-sungguh bisa dibenarkan untuk menyimpulkan bahwa kubur dimana Yesus ditempatkan benar kosong pada pagi hari pertama Paskah. Dan tidak ada sedikitpun bukti yang ditemukan …. yang membantah pernyataan itu.”[18]

Para pemimpin Yahudi kaget, dan menuduh para murid mencuri mayat Yesus. Tapi penguasa Romawi sudah menugaskan penjagaan 24 jam di kubur dengan sebuah unit penjaga terlatih (4 – 12 prajurit). Morison bertanya,”Bagaimana profesional-profesional ini membiarkan mayat Yesus dicuri? Tidak mungkin bagi siapapun untuk menyelinap dibelakang penjaga Romawi dan menggeser batu seberat dua ton. Namun batu itu bergeser dan tubuh Yesus hilang.”

Jika tubuh Yesus ditemukan di satu tempat, para musuhnya akan langsung mengekspos kebangkitan itu sebagai penipuan. Tom Anderson, mantan ketua California Trial Lawyers Association, menyimpulkan kuatnya argumen ini,

“Kejadian itu terpublikasi dengan baik, apa anda pikir akan cukup masuk akal jika satu sejarahwan, satu saksi mata, satu penentang (Yesus) akan mencatat, untuk sepanjang masa, bahwa dia telah melihat jenazah Yesus? … Ke-diam-an sejarah begitu menuliskan, ketika mencari testimoni menentang kebangkitan.”[19]

Jadi, tanpa ada bukti jenazah, dan diketahui kubur itu benar-benar kosong, Morison menerima ada bukti kuat tubuh Yesus telah hilang dari kubur.

Perampokan Kuburan?

Morison meneruskan investigasinya. Dia mulai meneliti motif-motif para pengikut Yesus. Mungkin apa yang diperkirakan kebangkitan hanyalah pencurian mayat. Tapi jika begitu, bagaimana dengan semua laporan mengenai kehadiran Yesus yang sudah bangkit? Sejarahwan Paul Johnson, di bukunya History of the Jews, menulis, ”Apa yang penting bukanlah kondisi kematian-Nya tetapi fakta Dia telah secara luas dan dipercayai dengan kuat, oleh lingkaran orang yang meluas, telah bangkit kembali.[20]

Kubur itu benar-benar kosong. Tetapi bukan hanya ketiadaan tubuh yang menyemangati pengikut Yesus (terutama jika merekalah yang mencuri-Nya). Sesuatu yang luar biasa pastilah telah terjadi bagi para pengikut Yesus yang tidak lagi berduka, tidak lagi bersembunyi, dan mulai, dengan tanpa takut, memproklamasikan bahwa mereka telah melihat Yesus hidup.

Catatan para saksi mata melaporkan bahwa Yesus tiba-tiba muncul dihadapan para pengkikut-Nya. Pertama-tama perempuan. Morison heran kenapa para konspirator menjadikan perempuan sebagai pusat rencana mereka. Pada abad pertama, perempuan tidak punya hak apapun, milik pribadi, atau status. Jika rencana (konspirasi) itu ingin berhasil, Morison berpikir akan masuk akal jika para konspirator menggambarkan laki-laki, bukan perempuan, sebagai yang pertama melihat Yesus hidup. Namun kita dengar perempuan menyentuh Dia, berbicara dengan Dia, dan yang pertama menemukan kubur kosong.

Belakangan, menurut catatan saksi mata, semua murid melihat Yesus lebih dari 10 kali pada peristiwa berbeda. Mereka menulis Dia memperlihatkan tangan dan kakinya dan mengatakan kepada mereka bahwa mereka boleh menyentuhNya. Dan Dia dilaporkan makan bersama mereka dan kemudian muncul hidup kepada lebih dari 500 pengikut di satu peristiwa.

Ahli hukum John Warwick Montgomery menjelaskan, “Pada tahun 56 Rasul Paulus menulis lebih dari 500 orang telah melihat Yesus bangkit dan sebagian besar dari mereka masih hidup (1 Korintus 15:6). Orang Kristen mula-mula akan melewati batas kredibilitas jika merekayasa cerita seperti itu dan berkhotbah diantara mereka yang mungkin dengan mudah membantahnya dengan mempertunjukkan jenazah Yesus.”[21]

Ahli Alkitab Geisler dan Turek setuju. “Jika kebangkitan tidak terjadi, kenapa Rasul Paulus memberi begitu banyak daftar saksi mata? Dia bisa langsung kehilangan semua kredibilitasnya dihadapan pembaca Korintus dengan berbohong sedemikian terangnya.”[22]

Petrus, dihadapan kerumunan orang di Kaisarea, mengatakan kenapa dia dan para murid lain sangat yakin Yesus hidup.

“Dan kami adalah saksi dari segala sesuatu yang diperbuat-Nya di tanah Yudea maupun di Yerusalem; dan mereka telah membunuh Dia dan menggantung Dia pada kayu salib. Yesus itu telah dibangkitkan Allah pada hari yang ketiga, dan Allah berkenan, bahwa Ia menampakkan diri, bukan kepada seluruh bangsa, tetapi kepada saksi-saksi, yang sebelumnya telah ditunjuk oleh Allah, yaitu kepada kami yang telah makan dan minum bersama-sama dengan Dia, setelah Ia bangkit dari antara orang mati.” (Kisah Para Rasul 10:39-41)

Ahli Alkitab Inggris, Michael Green, mengatakan, “Penampakkan Yesus adalah otentik sama seperti yang lain di era kuno itu. … Tidak ada keraguan rasional bahwa hal-hal itu telah terjadi.”[23]

Konsisten sampai Akhir

Seakan-akan laporan saksi mata tidak cukup untuk menjawab tantangan skeptisme Morison. Dia juga kaget oleh perilaku para murid. Fakta historis telah membingungkan sejarahwan, psikolog, dan juga para kritikus bahwa ke 11 mantan pengecut itu tiba-tiba bersedia menderita dipermalukan, disiksa, dan dibunuh. Semua murid Yesus, kecuali satu, mati sebagai martir. Apakah mereka telah melakukan banyak hal hanya untuk kebohongan, mengetahui bahwa merekalah yang mengambil tubuh itu?

Para martir Islam pada 11 September telah membuktikan bahwa ada orang yang bersedia mati untuk perjuangan yang salah, yang mereka percayai. Tapi untuk bersedia mati martir demi sebuah kebohongan adalah gila. Seperti ditulis Paul Little, “Orang bersedia mati demi apa yang mereka percaya itu benar, kendati sebenarnya salah. Mereka tidak akan bersedia mati bagi apa yang mereka tahu itu kebohongan.”[24] Para murid Yesus berperilaku konsisten dengan keyakinan asli mereka bahwa pemimpin mereka hidup.

Tidak tersedia penjelasan yang cukup, untuk menjelaskan kenapa para murid bersedia mati untuk kebohongan yang diketahui. Tapi bahkan jika mereka semua berkonspirasi berbohong mengenai kebangkitan Yesus, bagaimana mereka mampu memelihara konspirasi itu selama puluhan tahun tanpa ada salah satu dari mereka menjual informasi itu, demi uang atau jabatan? Moreland menulis,”Mereka yang berbohong demi memperoleh keuntungan pribadi tidak akan kompak bersama-sama sangat lama.”[25]

Mantan “orang bertopi” dari pemerinthan (Presiden Amerika Richard Nixon dan Chuck Colson) yang terlibat dalam skandal Watergate menjelaskan, betapa sukarnya bagi beberapa orang untuk mempertahankan kebohongan dalam jangka waktu lama.

“Saya tahu kebangkitan itu fakta, dan Watergate sudah membuktikannya untuk saya. Bagaimana? Karena ada 12 orang bersaksi mereka telah melihat Yesus bangkit dari kematian, dan mereka memproklamirkan kebenaran itu selama 40 tahun, tidak sekalipun membantahnya. Setiap orang telah dipukuli, disiksa, dilempari batu dan dipenjarakan. Mereka tidak akan bertahan jika itu tidak benar. Watergate melibatkan 12 orang paling berkuasa di dunia – dan mereka tidak mampu bertahan berbohong selama tiga minggu. Anda katakan kepada saya ke 12 rasul telah berbohong selama 40 tahun? Sangat tidak mungkin.”[26]

Sesuatu terjadi sehingga mengubah segalanya bagi laki-laki dan perempuan itu. Morison mengakui, “Siapapun yang menghadapi masalah itu cepat atau lambat akan berhadapan dengan fakta yang tidak bisa dijelaskan. … Ini fakta … bahwa ada keyakinan mendalam muncul dari kelompok kecil orang – perubahan yang terikat dengan fakta bahwa Yesus telah bangkit dari kematian.”[27]

Apakah Murid-Murid Berhalusinasi?

Ada orang-orang yang masih berpikir mereka melihat Elvis, gemuk dan berambut abu-abu, mampir di Dunkin Donuts. Dan yang lain percaya, malam sebelumnya mereka bersama-sama mahluk luar angkasa di kapal induknya dan jadi bahan percobaan, yang tidak bisa diungkapkan. Kadang-kadang ada orang tertentu yang bisa “melihat” hal-hal yang ingin mereka lihat, hal-hal yang tidak benar-benar ada di sana. Dan itulah kenapa orang mengklaim murid-murid begitu tertekan karena penyaliban dan mereka sangat ingin melihat Yesus hidup telah menyebabkan halusinasi massal. Mungkinkah?

Psikolog Gary Collins, mantan ketua American Association of Christian Counselor, ditanya mengenai kemungkinan halusinasi ada dibelakang perubahan radikal perilaku para murid. Collins menjawab,”Halusinasi terjadi hanya pada individu. Oleh karena sifat alamiahnya, hanya satu orang bisa melihat sebuah halusinasi pada satu waktu. Mereka pasti bukanlah sesuatu yang bisa dilihat oleh sekelompok orang.[28]

Halusinasi bahkan bukan kemungkinan paling kecil. Menurut psikolog Thomas J. Thorburn. “Sama sekali tidak meyakinkan bahwa …… lima ratus orang, dengan kondisi pikiran baik …. mengalami semua jenis pengalaman indra — visual, pendengaran, sentuhan — dan semua …. pengalaman-pengalaman itu seluruhnya disebabkan oleh …… halusinasi”[29]

Apalagi, dalam psikologi halusinasi, seseorang perlu ada dalam kerangka berpikir dimana mereka sangat ingin melihat seseorang sehingga orang itu terbentuk dalam pikiran mereka. Dua pemimpin utama gereja mula-mula (purba), Yakobus dan Paulus, keduanya berhadapan dengan Yesus yang sudah bangkit, tanpa pernah berharap, atau mengharapkan kesenangan. Rasul Paulus, nyatanya pernah memimpin penindasan terhadap orang Kristen, dan pertobatannya masih tetap tidak terjelaskan kecuali oleh testimoninya sendiri bahwa Yesus menampakkan diri untuknya.
Dari Kebohongan Sampai Legenda

Sejumlah kritikus, yang tidak yakin, melabelkan cerita kebangkitan sebagai legenda yang dimulai oleh satu atau lebih orang berbohong atau merasa mereka melihat Yesus bangkit. Selama perjalanan waktu, legenda tumbuh dan berbunga-bunga ketika diteruskan berkeliling. Pada teori ini, kebangkitan Yesus disamakan dengan meja bundar Raja Arthur dan George Washington kecil yang tidak bisa berbohong, dan janji bahwa Jaminan Sosial akan tersedia ketika kita membutuhkannya.

Tapi ada tiga masalah besar dengan teori ini.

  1. Legenda jarang berkembang ketika masih banyak saksi mata hidup, yang bisa membantahnya. Sejarahwan Romawi dan Yunani kuno, AN Sherwin-White, berargumen bahwa berita kebangkitan tersebar telalu dini dan terlalu cepat untuk bisa disebut sebagai legenda.[30]
  2. Legenda berkembang melalui tradisi oral dan tidak melalui dokumen-dokumen bersejarah yang bisa diverifikasi. Apalagi Injil ditulis di dalam jangka waktu tiga dekade setelah kebangkitan.[31]
  3. Teori legenda tidak cukup untuk menjelaskan fakta akan adanya kubur kosong atau keyakinan historis, yang bisa diverifikasi para rasul bahwa Yesus hidup.[32]

Kenapa Kekristenan Menang

Morison kaget dengan fakta sebuah gerakan kecil, yang tidak signifikan, mampu bertahan terhadap tekanan keras penguasa Yahudi, juga oleh kekuatan besar Roma. Kenapa mereka menang menghadapi semua pihak yang menentangnya?

Dia menulis, “Dalam waktu dua puluh tahun, klaim para petani Galilea ini telah menggoyang kekuasaan Yahudi. … Dalam kurang dari lima puluh tahun, gerakan itu sudah mulai mengancam kedamaian kekaisaran Romawi. Ketika kita sudah mengatakan apa yang bisa dikatakan … kita berdiri dihadapan misteri terbesar. Kenapa mereka menang?“[33]

Berdasarkan semua pemikiran, kekristenan seharusnya mati disalib ketika para murid lari ketakutan. Tapi para rasul terus membangun gerakan kekristenan, yang terus tumbuh.

J. N. D. Anderson menulis, “Pikirkan psikologi absurditas sebuah kelompok kecil orang kalah, yang pengecut, bersembunyi di ruang atas suatu hari, dan beberapa hari kemudian berubah menjadi kelompok yang tidak ada satupun penindasan bisa membungkamnya – dan kemudian mencoba melabel perubahan dramatis ini tidak lebih meyakinkan daripada sebuah rekayasa menyedihkan. … Ini dengan jelas tidak masuk akal.”[34]

Banyak pakar percaya (dalam perkataan komentator jaman kuno) bahwa, “darah martir adalah bibit gereja”. Sejarahwan Will Durant mengamati, “Kaisar dan Kristus telah bertemu di arena dan Kristus menang.”[35]
Kesimpulan Mengejutkan

Dengan mitos, halusinasi, dan otopsi asal-asalan tersingkirkan, dengan bukti-bukti meyakinkan terhadap kubur kosong, dengan banyaknya saksi mata penampakkanNya, dan dengan transformasi (perubahan) yang tidak terjelaskan dan dampaknya terhadap dunia oleh mereka yang mengklaim telah melihatNya, Morison jadi yakin bahwa keyakinan biasnya pada kebangkitan Yesus salah. Dia mulai menulis buku yang berbeda — berjudul Who Moved the Stone? — untuk merinci kesimpulan-kesimpulan barunya. Morison hanya mengikuti jejak bukti-bukti, petunjuk demi petunjuk, sampai kebenaran kasus itu menjadi jelas baginya. Kejutannya adalah bukti-bukti itu telah membawanya menjadi percaya terhadap kebangkitan.

Di bab pertama bukunya, Buku yang Menolak untuk Ditulis, mantan kritikus (skeptis) ini menjelaskan bagaimana bukti-bukti meyakinkan Dia bahwa kebangkitan Yesus adalah kejadian nyata historis. “Itu seperti seseorang berjalan menembus hutan mengikuti jalur, yang dikenal dan sering dilewati, dan keluar dengan tiba-tiba ditempat yang dia tidak harapkan.”[36]

Morison tidak sendirian. Tak terhitung banyaknya para kritikus lain setelah meneliti bukti-bukti kebangkitan Yesus, menerimanya sebagai fakta menakjubkan dalam sejarah manusia. Namun kebangkitan Yesus Kristus mengangkat pertanyaan: Fakta bahwa Yesus mengalahkan kematian, apa hubungannya dengan kehidupan saya? Jawaban pertanyaan itu merupakan isi seluruh Perjanjian Baru kekristenan
Apa Yang Yesus Katakan Setelah Kita Mati?

Jika Yesus benar-benar bangkit dari kematian, maka Dia seharusnya tahu ada apa setelah kematian itu. Apa yang Yesus katakan mengenai arti kehidupan dan masa depan kita? Apakah ada banyak jalan kepada Allah atau klaim hanya Yesus satu-satunya jalan? Baca jawaban yang mengejutkan di “Kenapa Yesus”

Apakah Yesus masih relevan sekarang?
KENAPA YESUS ?

Banyak orang berpandangan Kristus menghendaki kita menjadi orang yang religius. Mereka berpikir Yesus datang untuk mengambil semua kesenangan hidup dan memberi kita aturan-aturan yang tidak mungkin dijalankan. Mereka bersedia menyebut Dia pemimpin besar dari masa lalu, tapi mengatakan Dia tidak relevan dengan kehidupan masa kini.

Josh McDowell adalah mahasiswa yang diajarkan bahwa Yesus cuma salah satu pemimpin religius yang menetapkan aturan hidup yang tidak mungkin dijalankan. Jadi untuk McDowell, Yesus sama sekali tidak relevan dalam hidupnya.

Kemudian sampai suatu hari, pada saat makan siang, seorang mahasiswi duduk di sebelah Mc Dowell dengan senyuman lebar. Merasa tertarik, dia bertanya kenapa mahasiswi tu begitu bahagia. Jawaban langsungnya adalah, “Yesus Kristus!”

“Yesus Kristus? “, pikir McDowell, yang berbalik mengatakan: “Oh, demi Tuhan, jangan beri saya sampah itu! Saya muak dengan agama; saya muak dengan gereja; saya muak dengan Alkitab! Jangan beri saya sampah tentang agama!”

Tapi tanpa terganggu rekan mahasiswi itu dengan tenang menjelaskan, “Tuan, saya tidak katakan agama, saya katakan Yesus Kristus.”

McDowell terkejut. Dia tidak pernah memandang Yesus lebih dari sekedar tokoh agama, dan tidak ingin menjadi bagian dari kemunafikan religius. Namun perempuan Kristen yang gembira ini berbicara tentang Yesus sebagai seseorang yang membawa arti kehidupan kepadanya.

Kristus mengklaim akan menjawab semua pertanyaan mendalam mengenai eksistensi kita. Pada satu saat, kita semua akan mempertanyakan apa arti kehidupan itu. Apakah Anda pernah melihat ke langit yang gelap gulita dan merenungkan siapa yang menaruh bintang-bintang itu di sana? Atau apakah Anda pernah melihat matahari terbenam dan berpikir tentang pertanyaan terbesar dalam hidup:

* “Siapa saya?”
* “Kenapa saya ada di sini?”
* “Kemana saya pergi setelah meninggal?”

Meski para filsuf dan pemimpin agama lain menawarkan jawaban tentang arti kehidupan, hanya Yesus Kristus yang sudah membuktikan kredensial-Nya (apa yang dikatakanNya) dengan bangkit dari kematian. Skeptis seperti McDowell, yang pada awalnya mengejek kebangkitan Yesus, telah menemukan banyak bukti yang menyatakan, bahwa hal itu benar-benar terjadi.

Yesus menawarkan hidup dalam arti yang sebenarnya. Dia mengatakan hidup lebih besar dari mengumpulkan harta, bersenang-senang, sukses dan berakhir di kuburan. Kendati begitu, masih banyak orang mencoba menemukan arti kehidupan dalam ketenaran dan kesuksesan, bahkan juga bintang-bintang terbesar…

Madonna mencoba menjawab pertanyaan, “Kenapa saya di sini?” dengan menjadi seorang penyanyi terkenal (diva). Ia mengakui, “Bertahun-tahun lalu saya pernah berpikir bahwa ketenaran, kekayaan dan penerimaan publik akan memberikan kebahagiaan. Tapi suatu hari kamu akan bangun dan menyadari bukan itu. Saya masih merasa kurang. Saya ingin tahu arti kebenaran dan kebahagiaan sejati serta bagaimana saya menemukannya.”[1]

Yang lain, Kurt Cobain sudah menyerah untuk menemukan arti kehidupan itu, Kurt Cobain seorang vokalis Nirvana, grup band grunge asal Seattle, merasa putus asa pada usia 27 tahun dan bunuh diri. Kartunis era Jazz, Ralp Barton, juga menemukan hidup tanpa arti dan meninggalkan pesan bunuh dirinya, “Saya punya beberapa kesukaran, banyak teman, sukses hebat; saya sudah berpindah dari satu istri ke istri yang lain, dari rumah ke rumah, mengunjungi negara-negara di dunia, tapi saya muak dengan upaya menemukan allah-allah untuk mengisi 24 jam sehari.”[2]

Pascal, filsuf besar Perancis percaya kekosongan hati yang kita semua alami hanya bisa diisi oleh Allah. Dia mengatakan, “Allah membentuk ruang kosong di hati setiap orang yang hanya bisa diisi oleh Yesus Kristus”[3] Jika Pascal benar, maka kita akan berharap bahwa Yesus tidak hanya menjawab pertanyaan tentang identitas kita dan arti kehidupan, tapi juga memberi kita harapan akan kehidupan setelah kematian.

Apakah ada arti kehidupan tanpa Allah? Tidak menurut ateis Bertrand Russell, yang menulis, “Sampai Anda berasumsi adanya allah, pertanyaan tujuan hidup itu tidak ada artinya.”[4] Dalam bukunya, Why I am not a Christian (Kenapa saya bukan orang Kristen), Russell membantah semua yang Yesus katakan mengenai arti kehidupan, termasuk janjiNya akan kehidupan kekal.

Tapi jika Yesus benar-benar mengalahkan kematian seperti klaim para saksi mata, (Lihat “Did Jesus Rise from the Dead?”) maka Dia sendiri yang akan memberitahu kami semua tentang hidup dan menjawab, “Kemana saya pergi?” Memahami kata-kata Yesus mengenai kehidupan dan kematian dapat membentuk identitas kita, memberi kita makna dalam hidup dan memberikan harapan untuk masa depan. Oleh karena itu kita perlu memahami apa yang dikatakan tentang Tuhan, tentang kami dan tentang diriNya sendiri.

Apa yang Yesus katakan tentang Allah?
Allah Itu Relasional

Banyak orang berpendapa,t Allah hanya sebagai sebuah kekuatan, bukan satu pribadi, yang bisa kita kenal dan bergaul denganNya. Allah yang disebutkan Yesus bukanlah kekuatan impersonal di Star Wars, yang kebaikannya bisa diukur dalam voltase. Dia juga bukan sosok besar menakutkan di angkasa, yang senang membuat hidup kita sengsara.

Sebaliknya, Allah itu relasional seperti kita, tapi lebih dalam lagi. Dia berpikir, Dia mendengar, dan Dia berkomunikasi dalam bahasa yang kita pahami. Yesus menjelaskan kepada kita dan memperlihatkan Allah itu seperti apa. Menurut Yesus, Allah tahu setiap kita dengan sangat baik dan personal, dan terus memikirkan kita.
Allah Itu Kasih

Dan Yesus mengatakan kepada kita, Allah itu kasih. Yesus mendemonstrasikan kasih Allah kemanapun Dia pergi, seperti ketika Dia menyembuhkan orang sakit, serta menolong yang disakiti dan miskin.

Kasih Allah sangat berbeda secara radikal dengan (kasih) kita, karena tidak berdasarkan ketertarikan atau penampilan. Kasih (Allah) itu secara total mengorbankan diri dan tidak mementingkan diri. Yesus membandingkan kasih Allah dengan kasih bapa/ayah yang sempurna. Ayah yang baik menghendaki yang terbaik untuk anak-anaknya, berkorban untuk mereka, dan memberikan kebutuhan mereka. Tapi untuk kepentingan terbaik mereka, dia juga mendisiplinkan mereka.

Yesus mengilustrasikan hati kasih Allah dengan cerita tentang seorang anak, yang memberontak dan menolak nasehat ayahnya mengenai yang terpenting dalam kehidupan. Kesombongan dan keinginan diri membuat, anak itu berhenti bekerja dan “hidup semaunya”. Daripada menunggu sampai ayahnya membagi warisan, dia mulai memaksa ayahnya untuk memberikan warisan itu kepadanya.

Dalam cerita Yesus, ayahnya memberi permintaan anaknya. Tapi keadaan buruk menimpa anaknya. Setelah menghabiskan uang untuk bersenang-senang, anak pemberontak itu terpaksa bekerja di peternakan babi. Ketika dia begitu lapar makanan babi pun terlihat enak (diceritakan dia memakan makanan babi). Putus asa dan tidak yakin ayahnya akan menerimanya kembali, dia membereskan tasnya dan pulang ke rumah.

Yesus menceritakaan kepada kita bukan saja sang ayah menyambutnya, tapi dia lari memeluknya. Dan kemudian secara radikal total dalam kasihnya, sang ayah menyelenggarakan pesta besar untuk merayakan kembalinya si anak.

Ini sangat menarik. Kendati ayahnya sangat mengasihi putranya, dia tidak mengejarnya. Dia membiarkan sang anak yang dikasihinya, merasakan kesakitan dan penderitaan karena konsekuensi pilihan pemberontakannya. Dengan cara yang sama, ayat-ayat Alkitab mengajarkan kasih Allah tidak pernah mengkompromikan tentang apa yang terbaik untuk kita. Kasih itu akan membiarkan kita menderita atas pilihan-pilihan salah kita.

Yesus juga mengajarkan Allah tidak akan pernah mengkompromikan karakterNya. Karakter adalah siapa kita adanya. Itu adalah esensi kita, dimana pikiran-pikiran dan tindakan kita berasal. Jadi seperti apa Allah — esensinya?
Allah Itu Suci

Disepanjang Alkitab (hampir 600 kali), Allah disebut sebagai “suci”. Suci artinya karakter Allah secara moral murni dan sempurna dalam semua jalanNya. Sempurna. Ini berarti Dia tidak pernah mempunyai pikiran tidak murni atau inkonsisten dengan kesempurnaan eksistensi moralNya.

Karena itu, kesucian Allah berarti Dia tidak bisa hadir jika ada kejahatan. Karena kejahatan bertentangan dengan keberadaan Allah, Dia membencinya. Itu seperti polusi bagiNya.

Tapi jika Allah itu Suci dan menolak kejahatan, kenapa Dia tidak membuat karakter kita seperti Dia? Kenapa ada yang melecehkan anak-anak, pembunuh, pemerkosa, dan penyesat? Dan kenapa kita terus berjuang dengan pilihan-pilihan moral kita sendiri? Hal ini membawa kita lebih lanjut pada pencarian kita akan arti (kehidupan). Apa yang Yesus katakan mengenai diri kita?

Apa yang Yesus katakan tentang Allah?
Diciptakan Untuk Berhubungan Dengan Allah

Jika Anda membaca seluruh Perjanjian Baru, Anda akan menemukan bahwa Yesus terus-menerus berbicara tentang nilai yang tinggi (berharga) diri kita bagi Allah, mengatakan kepada kita bahwa Allah menciptakan kita untuk jadi anakNya.

Bintang rock band Irlandia, U2, Bono menegaskan dalam sebuah wawancara,” Konsep mengejutkan bahwa Allah pencipta alam semesta mungkin mencari teman dan hubungan sungguh-sungguh dengan manusia….”[5] Dengan kata lain, sebelum alam semesta diciptakan, Allah berencana untuk mengadopsi kita menjadi keluargaNya. Tidak hanya itu, tapi Dia merencanakan warisan luar biasa bagi kita. Seperti ayah pada inti cerita Yesus, Allah ingin melimpahkan kita sebuah warisan berkat, yang tidak terbayangkan, dan hak istimewa. Di mata-Nya, kita spesial (khusus).
Kebebasan Memilih

Dalam sebuah film, Stepford Wives, dalam kondisi lemah dan terbaring, orang serakah dan pembunuh ini telah menciptakan robot-robot penurut dan patuh untuk menggantikan istri-istri mereka yang bebas, dan mereka nilai sebagai ancaman. Kendati laki-laki diharapkan mencintai istri-istri mereka, mereka menggantikannya dengan mainan untuk memaksakan kepatuhan.

Allah bisa membuat kita seperti itu – manusia robot (iPeople) – diprogram untuk mengasihi dan mematuhi Dia, program puji-pujian dimasukkan kepada kita seperti “screensaver”. Tapi akibatnya, kasih terpaksa itu tidak ada artinya. Allah ingin kita mengasihi Dia dengan bebas. Dalam hubungan sebenarnya, kita ingin seseorang mencintai kita apa adanya, bukan karena paksaan.

Andaikan ada seorang raja yang mencintai pelayan sederhananya. Raja itu tidak seperti raja-raja lain. Semua pejabat negara gemetar dihadapan kuasanya …… dan tetap saja raja, yang sangat kuat ini, meleleh karena cinta terhadap pelayan sederhana itu. Bagaimana dia menyatakan cintanya kepada pelayan itu? Dalam cara yang tidak biasa, dia terikat oleh “wibawa raja”. Jika dia membawanya ke istana dan memahkotai dia dengan permata … dia pasti tidak akan menolak – tidak seorangpun berani menolak dia. Tapi apakakh pelayan itu mencintainya? Tentu saja dia akan mengatakan dia mencintainya, tapi apakah sungguh-sungguh?[6]

Anda lihat masalahnya. Ini masalah yang lebih sederhana: bagaimana Anda putus dengan pacar yang sudah tahu segalanya? (“Ini tidak berhasil buat kita, tapi saya rasa kamu sudah tahu.”) Namun untuk memungkinkan saling mencintai, Allah menciptakan manusia dengan kapasitas unik: kehendak bebas.

Pemberontakan Melawan Hukum Moral Allah

C.S. Lewis menjelaskan meski kit secara internal diprogram dengan keinginan untuk mengetahui Allah, kita memberontak atas itu sejak saat kita lahir.[7] Lewis juga memulai penelitiannya dengan motifnya sendiri, dimana dia menemukan bahwa secara insting dia mengetahui mana yang benar dan mana yang salah.

Lewis heran darimana berasal perasaan salah dan benar ini. Kita semua mengalami rasa salah dan benar. Ketika kita membaca Hitler membunuh enam juta orang Yahudi, atau seorang pahlawan mengorbankan nyawanya untuk orang lain. Kita, secara insting, tahu bahwa salah untuk berbohong dan curang. Rasa pengakuan inilah, telah diprogram dalam hati kita dengan hukum moral, yang membuat seorang mantan ateis mencapai kesimpulan pasti ada “pemberi hukum” moral.

Sebenarnya, menurut Yesus dan Alkitab, Allah telah memberi kita hukum moral untuk dipatuhi… Dan bukan hanya menolak berhubungan dengan Allah, kita juga telah melanggar hukum-hukum moral yang telah ditetapkan Allah. Sebagian besar dari kita mengetahui Sepuluh Perintah Allah:

“Jangan berbohong, mencuri, membunuh, berzinah, dan seterusnya.” Yesus menyimpulkannya dengan mengatakan kita harus mengasihi Allah dengan seluruh jiwa kita dan sesama manusia seperti diri kita sendiri. Dosa, karena itu, tidak hanya melakukan kesalahan ketika kita melanggar hukum, tapi juga kegagalan kita melakukan apa yang benar.

Allah membuat alam semesta dengan hukum-hukum yang mengatur segalanya. Hukum-hukum ini tidak bisa dihindarkan dan tidak berubah. Ketika Einstein menemukan formula E=MC2. dia membuka misteri energi nuklir. Campur bahan-bahan yang tepat dengan kondisi tertentu dan tenaga sangat besar akan terlepaskan. Alkitab mengatakan kepada kita hukum moral Allah tidak berubah karena keluar dari esensi karakter-Nya.

Sejak laki-laki dan perempuan pertama, kita telah melanggar hukum-hukum Allah, kendati hukum ada demi kebaikan kita. Dan kita telah gagal melakukan apa yang benar. Kita mendapat warisan kondisi ini dari manusia pertama, Adam. Alkitab menyebut ini sebagai ketidakpatuhan, dosa, yang berarti “tidak kena sasaran”, seperti seorang pemanah yang gagal mengenai sasarannya. Jadi dosa kita telah mematahkan hubungan yang sudah dikehendaki Allah dengan kita. Memakai ilustrasi pemanah sebagai contoh, kita telah gagal mengenai sasaran yang sebenarnya merupakan tujuan penciptaan kita.

Dosa menyebabkan pemutusan semua hubungan: manusia dengan lingkungannya (keterasingan), individu-individu saling terpecah (rasa salah dan malu), masyrakat terputus hubungan dari masyarakat lain (perang, pembunuhan), dan manusia terputus dari Allah (kematian spiritual). Seperti mata rantai, sekali satu mata rantai putus antara Allah dengan manusia, seluruh hubungan jadi tidak menyambung lagi.

Dan kita sudah putus. Seperti disimpulkan Kayne West, “saya tidak berpikir bahwa saya tidak bisa melakukan apapun untuk membenarkan kesalahan saya…… saya ingin berbicara dengan Allah. Tapi saya takut karena kita sudah lama tidak saling berbicara.” Pernyataan ini diambil dari lirik lagu West yang berbicara mengenai perpisahan yang dibawa oleh dosa dalam kehidupan kita. Dan menurut Alkitab, perpisahan ini lebih dari sekedar lirik di sebuah lagi rap. Itu punya konsekuensi mematikan.
Dosa Kita Telah Memisahkan Kita Dari Kasih Allah

Pemberontakan kita (dosa) telah menciptakan tembok pemisah antara kita dengan Allah (lihat Yesaya 59:2). Dalam ayat Alkitab, “perpisahan” berarti kematian spiritual. Dan kematian spiritual berarti terpisah sepenuhnya dari cahaya dan kehidupan Allah.

“Tapi tunggu dulu,” mungkin ini yang Anda katakan. “Bukankah Allah tahu semua sebelum Dia menciptakan kita?

Kenapa Dia tidak melihat bahwa rencanaNya sudah gagal total?” Tentu saja, Allah maha tahu akan menyadari bahwa kita akan memberontak dan berdosa. Kenyatannya, kegagalan kita membuat rencanaNya jadi sangat mengejutkan. Hal ini membawa kita pada alasan Allah datang ke bumi dalam bentuk manusia. Dan bahkan lebih menakjubkan —- alasan yang harus dicatat karena kematiannya.

Apa yang Yesus katakan tentang Allah?
Solusi Sempurna Allah

Selama tiga tahun kehidupan pelayanan-Nya, Yesus mengajarkan kita bagaimana untuk hidup dan melakukan banyak mukjizat, bahkan membangkitkan orang yang sudah meninggal. Tapi Dia menyatakan misi utamanya adalah menyelamatkan kita dari dosa kita.

Yesus memproklamirkan Dia adalah Mesias yang sudah dijanjikan dan akan mengangkat beban kesalahan kita. Nabi Yesaya telah menulis mengenai Mesias 700 tahun sebelumnya dan memberi kita beberapa tanda atas identitasnya. Namun tanda yang paling sukar dipahami adalah. Mesias adalah manusia sekaligus Allah!.

” Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, …. dan namanya disebut orang: Penasehat Ajaib, Allah yang perkasa, Bapa yang kekal, Raja damai.” (Yesaya 9:5)

Penulis Ray Stedman menuliskan janji Allah atas Mesias,”Sejak permulaan Perjanjian Lama, ada pengharapan yang digambarkan seperti suara langkah kaki yang mendekat: seseorang datang!…. Harapan itu meningkat sepanjang catatan nabi ke nabi yang memproklamirkan tanda-tanda menjanjikan: ada yang datang!”[8]

Para nabi telah menyatakan Mesias akan jadi korban dosa sempurna bagi Allah, untuk memuaskan keadilan-Nya. Manusia sempurna ini akan memenuhi kualifikasi untuk mati bagi kita. (Yesaya 53:6)

Menurut para penulis Perjanjian Baru, satu-satunya alasan Yesus pantas mati untuk kita adalah karena sebagai Allah, Dia menjalani hidup sempurna secara moral dan tidak berdosa.

Sukar untuk mengerti bagaimana kematian Yesus itu menebus dosa-dosa kita. Mungkin analogi yudisial akan memperjelas bagaimana Yesus menyelesaikan dilema, Allah, yang sempurna kasih-Nya dan keadilan-Nya.

Bayangkan Anda memasuki ruang sidang, bersalah karena pembunuhan (Anda punya isu serius disini) Ketika Anda mendekati meja, Anda menyadari bahwa hakim itu ayah Anda. Karena tahu dia mengasihi Anda, Anda langsung mulai memohon,”Pak, bebaskan saya!”

Dia menjawab,”Aku mengasihimu, nak, tapi saya hakim. Saya tidak bisa membebaskanmu begitu saja.”

Akhirnya, dia mengetuk palu dan menyatakan Anda bersalah. Keadilan tidak bisa dikompromikan, paling tidak oleh seorang hakim. Tapi karena dia mengasihi Anda, dia turun dari kursi, membuka jubahnya, dan menawarkan diri untuk membayar denda untuk Anda. Pada kenyataannya, dia menggantikan Anda di kursi listrik.

Inilah gambar yang dilukis di Perjanjian Baru. Allah turun memasuki sejarah manusia, dalam bentuk manusia Yesus Kristus dan duduk di kursi listrik (baca: salib) menggantikan kita, untuk kita. Yesus bukanlah pihak ketiga kambing hitam, mengambil dosa kita, tapi Dia adalah Allah sendiri. Lebih jelas lagi, Allah punya dua pilihan: menghakimi dosa kita atau mengambil alih hukuman itu kepada diri-Nya sendiri. Dalam Kristus, Dia memilih yang terakhir.

Meski Bono U2 tidak berkehendak jadi teolog, dia secara akurat mengatakan alasan kematian Yesus,

“Maksud kematian Kristus adalah Kristus mengambil dosa-dosa dunia, sehingga apa yang kita lakukan tidak kembali lagi kepada kita, dan sifat dosa kita tidak menghasilkan kematian. Inilah alasan utamanya. Hal ini seharusnya membuat kita rendah hati. Bukan perbuatan baik yang membuat kita bisa melewati gerbang surga”[9]

Dan Yesus menegaskan hanya Dia satu-satunya, yang bisa membawa kita kepada Allah. Dikatakan, “Akulah jalan, kebenaran, dan hidup. Tidak seorangpun bisa datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.” (Yohanes14:6)

Tapi banyak yang berargumentasi klaim Yesus bahwa Dia adalah satu-satunya jalan kepada Allah itu terlalu sempit. Disebutkan ada banyak jalan menuju Allah. Mereka yang percaya bahwa semua agama sama, menolak bahwa kita punya masalah dosa. Mereka tidak menerima perkataan Yesus dengan serius. Mereka mengatakan kasih Allah akan menerima kita semua, apapun yang sudah kita buat.

Mungkin Hitler pantas diadili, menurut pandangan mereka, tapi bukan mereka atau yang lain yang “hidup layak”. Ini sama saja mengatakan Allah memberikan nilai, dan semua yang dapat D- atau lebih baik akan masuk (surga). Tapi ini menelurkan dilema.

Seperti sudah kita lihat, dosa bertentangan dengan karakter suci Allah. Jadi kita telah menghina (menyinggung) Pencipta kita, yang telah mengasihi kita sampai mengorbankan Anak-Nya bagi kita. Pemberontakan kita sama seperti meludahi muka-Nya.Kebaikan, agama, meditasi, atau karma tibak bisa membayar hutang dosa kita yang telah terjadi.

Menurut teolog R. C. Sproul, hanya Yesus sendiri satu-satunya yang mampu membayar hutang itu. Dia menulis,

“Musa jadi perantara hukum; Muhammad bisa mengangkat pedang; Buddha bisa memberikan konsultasi personal; Konfusius menawarkan kalimat-kalimat kebajikan; tapi tidak satupun orang ini punya kualifikasi untuk jadi penebus dosa dunia. Hanya Kristus satu-satunya yang pantas mendapat pujian dan pelayanan tidak terbatas.”[10]

Pemberian Yang Tidak Semestinya

Istilah Alkitab untuk menggambarkan pengampunan gratis Allah melalui pengorbanan kematian Yesus adalah anugerah. Diampuni dan menyelamatkan kita dari apa yang seharusnya kita terima, anugerah dari Allah, memberi kita apa yang seharusnya tidak pantas kita terima. Mari kita tinjau sebentar apa yang Kristus telah lakukan terhadap kita yang tidak bisa kita sendiri lakukan:

* Allah mengasihi kita dan menciptakan kita untuk berhubungan denganNya.[11]
* Kita diberi kebebasan untuk menerima atau menolak hubungan itu.[12]
* Dosa dan pemberontakan kita terhadap Allah dan hukum-Nya telah menciptakan tembok pemisah antara kita dengan Dia.[13]
* Meski kita pantas dihukum selama-lamanya, Allah telah membayar lunas hutang kita dengan kematian Yesus yang menggantikan kita. Hal ini memungkinkan kita hidup selama-lamanya bersama Dia.[14]

Bono memberi kita perspektifnya atas anugerah.

“Anugerah melampaui akal dan logika. Kasih menginterupsi, jika Anda suka istilah ini, konsekuensi tindakan Anda, Dalam kasus saya ini benar-benar berita baik, karena saya melakukan banyak hal-hal bodoh… Saya akan mendapat masalah besar jika karma pada akhirnya jadi hakim saya…. itu tidak memaafkan kesalahan-kesalahan saya, tapi saya berpegang pada anugerah. Saya memegang (janji) bahwa Yesus menanggung dosa saya di Kayu Salib, karena saya tahu siapa saya, dan saya berharap saya tidak harus bergantung pada ke-religius-an saya sendiri.”[15]

Sekarang kita punya gambaran rencana Allah selama ini. Tapi masih ada satu hal yang belum lengkap. Menurut Yesus dan para penulis Perjanjian Baru, setiap dari kita, secara individu, harus menjawab pemberian cuma-cuma yang ditawarkan Yesus kepada kita. Dia tidak akan memaksa kita menerimanya.

Anda Sendiri Memilih Akhirnya

Kita terus membuat pilihan-pilihan …… apa yang akan dipakai, apa yang akan dimakan, karir, pasangan perkawinan, dan seterusnya. Hal yang sama juga terjadi pada hubungan dengan Allah. Penulis Ravi Zacharias menulis,

“Pesan Yesus mengungkap bahwa setiap orang yang datang untuk mencari Allah bukan karena kebajikan kelahiran, tetapi oleh kesadaran pilihan untuk mempersilahkan Dia masuk dan hukum-hukum-Nya mengatur hidupnya.”[16]

Pilihan-pilihan kita sering dipengaruhi orang lain. Namun dalam beberapa hal, kita diberi nasihat yang salah. Pada 11 September 2001, enam ratus orang tak bersalah pecaya pada nasihat yang salah, dan menderita konsekuensinya. Kisah nyatanya seperti ini.

Seseorang yang sedang ada di lantai 92 tower selatan World Trade Center, baru saja mendengar sebuah jet menabrak tower utara. Kaget karena ledakan, dia menelepon polisi dan meminta instruksi apa yang harus diperbuat. “Kita perlu tahu apakah kita harus keluar dari sini, karena kita tahu ada ledakan,” tanyanya di saluran darurat.

Suara di ujung lainnya menasihati dia untuk tidak keluar gedung. “Saya akan menunggu sampai ada pemberitahuan berikutnya.”

“Baiklah, ” sang penelepon menjawab. “Jangan keluar gedung.” Kemudian dia menutup telepon itu.

Beberapa saat setelah pukul 09.00, sebuah jet lain menabrak lantai 80 di tower selatan. Hampir enam ratus orang di lantai atas tower selatan meninggal. Kegagalan evakuasi dari gedung merupakan salah satu tragedi terbesar hari itu.[17]

Ke 600 orang tewas karena mereka menggantungkan diri pada informasi yang salah, walaupun diberikan oleh orang yang mencoba menolong. Tragedi tidak akan terjadi jika ke 600 korban diberi informasi yang benar.

Kesadaran pilihan kita terhadap Yesus sangatlah jauh lebih penting daripada menghadapi korban-korban 9/11 yang salah informasi. Taruhannya keabadian. Kita bisa memilih satu dari tiga respon berbeda. Kita bisa tidak memperdulikan Dia kita bisa menolak Dia atau, kita bisa menerima Dia.

Alasan kenapa banyak orang hidup dengan tidak mempedulikan Allah adalah mereka terlalu sibuk mendesakkan agendanya sendiri. Chuck Colson seperti itu. Pada usia 39 tahun, Colson menempati kantor disebelah kantor presiden Amerika Serikat. Dia adalah “orang tangguh” Gedung Putih era Nixon, “pembunuh bayaran” yang akan mengambil keputusan-keputusan sulit. Pada tahun 1972, skandal Watergate menghancurkan reputasinya dan dunianya terpecah-belah. Setelah itu dia menulis:

“Saya hanya memikirkan diri sendiri. Saya melakukan ini dan itu, saya mencapai tujuan, saya sukses dan saya tidak memberi Allah kehormatan (atas semua keberhasilan itu), tidak pernah berterima kasih kepada-Nya atas pemberian Dia kepada saya. Saya tidak pernah berpikir ada pribadi “tak terhitung superioritasnya” dibandingkan saya, atau jika penah berpikir tentang ke-maha kuasa-an Allah, saya tidak menghubungkannya dengan kehidupan saya.”[18]

Banyak orang sama dengan Colson. Sudah terperangkap dalam kecepatan kehidupan dan hanya punya sedikit atau tidak ada waktu untuk Allah. Kendati begitu, tidak mempedulikan tawaran anugerah Allah akan pengampunan punya konsekuensi mengerikan. Hutang dosa kita tetap tidak terbayar.

Dalam kasus-kasus kriminal, hanya sedikit sekali yang memperoleh pengampunan penuh (pembebasan). George Burdick, 1915, editor kota New York Tribune, melakukan pelanggaran hukum. President Woodrow Wilson mengumumkan pengampunan penuh terhadap Burdick atas semua kesalahan “diperbuat atau mungkin diperbuatnya”. Yang membuat kasus Burdick bersejarah adalah dia menolak pengampunan itu. Keputusannya membuat kasusnya masuk ke Makamah Agung, yang akhirnya mendukung dan Burdick, menyatakan pengampunan presiden tidak bisa dipaksakan kepada siapapun.

Ketika menolak pengampunan penuh Kristus, orang-orang memberi berbagai alasan. Banyak yang mengatakan kurang bukti, Bertrand Russell dan skeptis lain tidak cukup tertarik untuk sungguh-sungguh melakukan investigasi. Yang lainnya menolak melihat lebih jauh karena beberapa orang Kristen munafik yang mereka kenal. Merekamenunjuk orang-orang tersebut menampilkan perilaku tidak berbelas kasihan. Selebihnya menyebutkan inkonsisten sebagai alasan. Dan lainnya masih tetap menolak Kristus karena mereka menyalahkan Allah atas pengalaman sedih atau tragis yang mereka derita.

Namun, Zacharias, yang berdebat dengan banyak intelektual di ratusan universitas, percaya, bahwa alasan utama kebanyakan orang menolak Allah adalah moral. Dia menulis:

“Seseorang menolak Allah bukan karena tuntutan intelektual, juga bukan karena kelangkaan bukti. Seseorang menolak Allah karena perlawanan moral menolak mengakui kebutuhannya akan Allah.[19]

Keinginan kebebasan moral telah menjauhkan C.S. Lewis dari Allah disebagian besar masa kemahasiswaannya. Setelah pencarian akan kebenaran membawanya kepada Allah, Lewis menjelaskan bagaimana menerima Kristus melibatkan lebih dari persetujuan intelektual atas fakta-fakta. Dia menulis:

“Orang yang jatuh bukanlah hanya karena mahluk tidak sempurna yang membutuhkan perbaikan: dia pemberontak yang harus menyerahkan senjatanya. Menyerahkan senjata, menyerah, mengatakan Anda minta ampun, menyadari bahwa Anda berada pada jalan yang salah dan siap memulai hidup baru lagi…. itulah yang disebut orang Kristen sebagai lahir baru.”[20]

Lahir baru adalah kata yang berarti cara berpikir yang secara dramatis berbalik arah… Itulah yang terjadi terhadap mantan “pembunuh bayaran” Nixon. Setelah Watergate terbuka, Colson mulai memikirkan tentang hidup secara berbeda. Merasa dia tidak punya tujuan (tidak tahu apa yang harus dilakukan), dia mulai membaca buku “Kekristenan Biasa” (Mere Christianity), ditulis oleh Lewis, yang diberikan seorang teman kepadanya. Dilatih sebagai pengacara, Colson mengambil buku tulis dan menuliskan semua argumen-argumen Lewis. Colson mengingat:

“Saya tahu waktunya sudah tiba bagi saya. . Apakah saya akan menerima Yesus Kristus tanpa syarat sebagai Tuhan aas hidup saya. Itu seperti sebuah gerbang untuk saya? Tidak ada jalan untuk melangkah memutarinya. Saya masuk atau saya tetap diluar. Satu ‘mungkin’ atau ‘saya butuh tambahan waktu’ sama dengan memperolok diri sendiri.”

Setelah pergulatan di dalam hati, mantan pembantu presiden Amerika Serikat ini akhirnya menyadari Yesus Kristus pantas memperoleh kesetiaan total darinya. Dia menulis:

“Kemudian, pada Jumat pagi, ketika saya duduk sendirian melihat ke laut yang saya cintai, kalimat yang saya tidak pasti bisa saya pahami atau katakan meluncur begitu saja dari bibir saya, “Tuhan Yesus, saya percaya Engkau”. Saya terima Engkau. Mohon masuklah dalam hidup saya. Saya berkomitmen kepada-Mu.”[21]

Colson menemukan bahwa pertanyaannya, “Siapa saya?” “Kenapa saya ada di sini?” dan “Kemana saya pergi?” Semua terjawab dalam hubungan personal dengan Yesus Kristus. Rasul Paulus menulis, “Aku katakan “di dalam Kristus”, karena di dalam Dialah kami mendapat bagian yang dijanjikan.” (Efesus 1:11 )

Ketika kita memasuki hubungan personal dengan Yesus Kristus, Dia mengisi kekosongan dalam hati kita, memberi kita kedamaian, dan memuaskan keinginan kita akan arti kehidupan dan harapan. Dan kita tidak lagi membutuhkan stimultan sementara untuk mengisi kita. Ketika Dia masuk kedalam kita, Dia juga memuaskan keinginan paling dalam dan kebutuhan akan kasih dan kedamaian sejati.

Dan hal paling menakjubkan adalah Allah sendiri datang sebagai manusia untuk membayar seluruh hutang kita. Karena itu, kita tidak lagi ditindas hukuman dosa. Paulus menulisnya dengan jelas kepada jemaat Roma, ketika ditulisnya,

“Juga kamu yang dahulu hidup jauh dari Allah dan yang memusuhi-Nya dalam hati dan pikiran seperti yang nyata dari perbuatanmu yang jahat, sekarang diperdamaikan-Nya, di dalam tubuh jasmani Kristus oleh kematianNya, untuk menempatkan kamu kudus dan tak bercela dan tak bercacat di hadapan-Nya.” (Kolose 1:21b-22a).

Jadi Allah melakukan apa yang tidak mampu kita lakukan sendiri. Kita dibebaskan dari dosa oleh pengorbanan Yesus sampai mati. Ini seperti pembunuh massal datang kepada hakim dan diberikan pengampunan penuh dan menyeluruh. Dia tidak pantas menerima pengampunan itu, dan juga kita. Pemberian kehidupan abadi Allah sepenuhnya gratis —- dan dibagi-bagikan (kepada siapapun yang mau). Tapi meski pengampunan ditawarkan kepada kita, tetap tergantung kepada kita untuk menerimanya (atau tidak). Pilihan ada pada Anda.

Apakah Anda ada pada titik dalam hidup dimana Anda akan menerima tawaran gratis Allah?

Mungkin seperti Madonna, Bono, Lewis, dan Colson, hidup Anda juga kosong. Tidak satupun yang telah Anda coba bisa memuaskan kekosongan (jiwa) yang Anda rasakan. Allah bisa mengisi kekosongan itu dan mengubah Anda dalam sekejab. Dia telah menciptakan Anda agar Anda mempunyai hidup yang membanjir dengan arti dan tujuan. Yesus mengatakan, “Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan.” (Yohanes 10:10b)

Atau mungkin semua berjalan baik-baik dalam hidup Anda, tetapi Anda tidak bisa istirahat dan tidak ada kedamaian. Anda menyadari Anda telah melanggar hukum-hukum Allah dan terpisah dari kasih dan pengampunan-Nya. Anda takut akan penghakiman Allah. Yesus mengatakan, “Saya pergi dengan memberi kamu berkat –kedamaian pikiran dan hati. Dan kedamaian yang saya beri tidak sama dengan yang diberikan dunia.”

Jadi kapanpun Anda lelah akan kekosongan hidup atau terusik oleh ketiadaan perdamaian dengan Pencipta Anda, jawabannya ada dalam Yesus Kristus.

Ketika Anda percaya dalam Yesus Kristus, Allah akan mengampuni semua dosa-dosa Anda – di masa lalu, sekarang, dan masa depan dan menjadikan Anda anak-anak-Nya. Dan sebagai anak yang dikasihi-Nya, Dia memberi Anda tujuan dan arti kehidupan di bumi dan menjanjikan kehidupan abadi bersama-Nya.

Firman Tuhan, “Tetapi semua orang yang menerimaNya diberiNya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam namaNya.” (Yohanes 1:12)

Pengampunan dosa, tujuan hidup, dan kehidupan abadi semuanya untuk Anda jika Anda memintanya. Anda bisa mengundang Kristus memasuki hidup Anda sekarang ini dengan iman melalui doa. Berdoa adalah berbicara dengan Allah. Allah tahu hati Anda dan tidak terlalu memperhatikan kata-kata Anda karena Dia melihat sikap hati Anda. Di bawah ini ada saran doa:

“Ya Allah, saya ingin mengenal-Mu secara pribadi dan hidup abadi bersama-Mu. Terima kasih, Tuhan Yesus, karena mati di kayu salib bagi dosa-dosa saya. Saya buka pintu kehidupan saya dan menerima Engkau sebagai Penyelamat dan Tuhan. Ambil hidup saya dan ubah saya, jadikan saya orang yang Engkau kehendaki.”

Apakah doa ini mengekspresikan keinginan hati Anda? Jika ya, berdoalah seperti saran di atas dalam bahasa Anda sendiri.

Jika Anda sudah meminta Yesus Kristus masuk dalam hidup Anda, kami mendorong Anda untuk mulai membaca Firman (Alkitab) dan bergabung dengan yang lain yang juga ingin hidup untuk Dia.

Sangat penting bagi Anda untuk belajar rahasia-rahasia kehidupan indah yang Allah rencanakan bagi Anda. Di bawah ada studi Alkitab yang akan membantu Anda menghubungkan potongan-potongan rencana indah-Nya bagi Anda dan bagi pertumbuhan iman Anda.

Mau mengenal Yesus…?? Ya bacalah Alkitab yang benar…bukan Alkitab yang lain…Atau INJIL yang lain ( Kata R.Paulus )…!! Jangan menjadi terbalik donk…!! masa untuk mengenal YESUS malah dari Luar Alkitab…??
Lain halnya kalau hanya mau sekedar menegetahui siapa itu Yesus…?? boleh lah dari omongan / cerita orang. atau atau cerita dari bibir ke bibir ( rumor ) ya… boleh.boleh aja…!!
Karena kenteks "mengenal " dan " mengetahui " itu jauh sekali perbedaan maknanya.
Yang lebih bermanfaat adalah konteks "mengenal "

@ SHIPIROZ PURBA: sudah baca secara keseluruhan belum??
yg disajikan disini ketika orng mulai meragukan Alkitab sebagai sumber sejarah yg benar.

masalahnya adalah : alkitab memang tidak pernah di klaim sebagai sumber sejarah yang benar ;D
pertanyaannya adalah : APAKAH SEJARAH ITU ! :mad0261: Alkitab MENGATASI dan DIATAS SEJARAH :slight_smile:

DAN UNTUK MEMBUKTIKAN KEBENARAN DIRINYA ALKITAB TIDAK PERLU MENJADI SUMBER SEJARAH YANG BENAR DULU !
TETAPI HIDUP YANG BENAR DAN HIDUP DALAM KEBENARAN DAN BUAH BUAH ROH DARI SETIAP SAKSI-SAKSI KRISTUS ITULAH YANG MENJADI BUKTI BAHWA ALKITAB SUNGGUH SUNGGUH FIRMAN ALLAH !

walau pun banyak penemuan penemuan arkeologis yang justru mendukung cerita alkitab :

  1. Ex kota sodom dan gomorah sedang di excavasi
  2. reruntuhan roda - roda kereta firaun di dasar laut merah
  3. reruntuhan yang diduga sebagai ex perahu nabi Nuh di gunung Ararat
    4. Kain kafan Turin ( anda harus khusus memperhatikan soal ini saking banyaknya bukti yang mendukung ke aslian nya ) walau gereja Katolik masih enggan mengakui secara resmi karena takut akan adanya kemungkinan penyembahan kepada benda benda suci
  4. Bekas lembing yang diduga pernah digunakan untuk menusuk lambung YESUS
  5. Bekas bukit golgota
  6. Kuburan sumbangan Yusuf Arimatea
  7. Banyak sumber-sumber tulisan sejarawan Romawi dan Yahudi yang mencatat kejadian penyaliban
  8. Banyak tulisan sejarah yang mencatat adanya suasana gelap gulita ( seperti gerhana matahari ) di sekitar abad ke 1 di wilayah Palesina , seperti yang dicatat injil
    :afro: :afro: :afro:

sejarah tidak pernah menjadi exact biar ada bukti-bukti atau hard evidence sekalipun , bahkan ada yang memberi definisi SEJARAH ADALAH POLITIK DI MASA LAMPAU
contoh nya :
suatu saat Bung Karno dianggap sebagai penjahat ,dan P Harto sebagai pahlawan ,
hari ini P Harto dianggap sebagai penjahat dan Bung Karno pahlawan .
bahkan TEORI EVOLUSI pun walau ada setumpuk bukti fosil-fosil purbakala MASIH DI PERDEBATKAN dan DITENTANG oleh para CREATIONIST yang juga punya bukti fosil-fosil pra sejarah ! pernah lihat fosil jejak manusia modern yang saling menumpuk dengan jejak Dinosaurus ?.
tolong anda camkan baik-baik bahwa
ALKITAB ADALAH SUMBER TERANG , PENERANG JALAN HIDUPKU

Thy word is a lamp unto my feet And a light unto my path

Sesuai judul threat : Kenali YESUS KRISTUS.

Sebagaimana dalam salah satu kalimat doa-nya YESUS kepada Tuhannya demikian :

Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal YESUS KRISTUS yang telah Engkau utus (yoh.17:3)

Menurut YESUS bahwa umatnya (mereka) telah mengenal Engkau (Tuhan Pencipta langit dan bumi) adalah satu-satunya Tuhan yang benar, selain Dia itu semua bukan tuhan yang benar alias tuhan2an. Dan umatnya (mereka) mengenal YESUS itu ‘utusan’ Tuhan pencipta langit dan bumi.

Itulah landasan pengenalan kepada YESUS yang benar itu…

Oh, Anda baru membaca itu saja. Pantas saja tidak lengkap. Silakan baca juga yang ini

Wahyu 2:8
"Dan tuliskanlah kepada malaikat jemaat di Smirna: Inilah firman dari Yang Awal dan Yang Akhir, yang telah mati dan hidup kembali:

Itu adalah kata-kata Yesus pada Yohanes. Sedangkan di Perjanjian Lama, Yesaya 44:6 menyatakan demikian: "Beginilah firman TUHAN, Raja dan Penebus Israel, TUHAN semesta alam: “Akulah yang terdahulu dan Akulah yang terkemudian; tidak ada Allah selain dari pada-Ku.”

Kalau Anda membaca Alkitab secara holistik, Anda tidak hanya akan mendapatkan pengenalan pada Yesus yang seutuhnya, tetapi juga pemahaman tentang Allah yang benar.

Salam