Kehendak Bebas dan Asal Mula Kejahatan

KEHENDAK BEBAS ASAL MULA KEJAHATAN

C.S.Lewis : “Free Will is what made evil possible. why then did God give creatures free will? Because free will, though it made evil possible, is the only thing that made possible any love or goodness or joy worth having.” (mere christianity)
Jeffrey B. Russell : “The Devil’s favorite axiom is the deterministic excuse for evil” (MEPHISTOPHELES)
Isaac Singer “we have to believe in free will. We have no choice”

Kehendak bebas dan asal mula kejahatan

Allah adalah kasih (1Yoh 4:8,16). Alkitab menunjukan kepada kita bahwa Allah menciptakan dunia ini beserta mahkluk penghuninya dengan tujuan ingin menjalin hubungan kasih. Lebih spesifik lagi tujuan Allah menciptakan dunia ini adalah ingin mempunyai gereja , pengantin, yang mau mengatakan ‘iya’ terhadap kasih-Nya, yang mau menerima secara penuh kasih-Nya.

H.D.McDonnald berkata “the world is built for God’s love. God is the Great Cosmic Lover…He is the ultimate Agape…He loves and want to be loved by us.” (The God who responds).

Jika kasih adalah tujuan dari penciptaan, apakah syaratnya? Harus seperti apakah mahkluk itu supaya mereka mampu berpartisipasi dalam kasih Allah? Jawabannya: KASIH HARUS SECARA BEBAS DIPILIH! Kasih tidak bisa dipaksa. Kasih yang dipaksa adalah suatu kontradiksi. Seorang agent harus mempunyai kapasitas dan kesempatan untuk MENOLAK kasih, pada saat yang sama dia mempunyai kapasitas dan kesempatan untuk menerima (atau menunjukan) kasih. Jadi jika Allah ingin mempunyai agent yang bisa berpastisipasi dalam kasih, agent ini harus mempunyai kapasitas dan kesempatan untuk menolak kasih tersebut (tidak mengasihi) .

Alkitab dan kemungkinan untuk berkata ‘TIDAK’.

Alkitab mengkonfirmasi hal ini, bahwa ciptaan Allah bisa berkata ‘tidak’ kepada Allah. Terlebih lagi, saya percaya bahwa Alkitab tidak menyuruh kita untuk percaya, seperti yang beberapa katakan, bahwa mereka yang menolak Allah ini sudah diatur oleh Allah untuk menolak Allah. Sebagai contoh, Alkitab mengatakan berulang² bahwa Allah tidak menginginkan seorangpun untuk binasa (1Tim 2:4 ; 4:10 ; 2Pet 3:9). Tapi Alkitab juga mengatakan bahwa pada akhirnya nanti akan ada yang binasa. Dari sini kita bisa melihat, bahwa jika Allah ingin menciptakan dunia yang dimana semua ciptaan-Nya berkata ‘YA’ kepada-Nya dan tidak ada seorangpun yang binasa, Dia akan melakukan-Nya. Fakta bahwa Allah tidak menciptakan dunia seperti itu menunjukan bahwa Allah ‘tidak bisa’ melakukan hal tersebut. Kemungkinan untuk menolak Allah harus ada (secara metafisik) bersamaan dengan kemungkinan untuk menerima Allah.

Alkitab berisi ribuan ayat-ayat. Banyak ayat Alkitab yang bisa dikutip dan diinterpretasikan untuk membantah pernyataan diatas, tapi hal tersebut justru menghilangkan motif Alkitab yang menceritakan kesedihan Allah terhadap kekerasan hati manusia. Manusia bisa dan pada faktanya banyak yang menolak Allah (Yes 63:10 ; Kis 7:51 ; Ibr 3:8, 15 ; 4:7 ; Efe 4:30).

Alkitab menceritakan dimana Tuhan bersedih hati, bahkan ‘terkejut’ melihat betapa keras kepalanya manusia yang menolak Dia (Kel 33:3, 5; 34:9; Ul 9:6, 13; 10:16; 31:27; Hos 4:16).

Hanya ada 2 pilihan untuk memandang hal ini :

  1. Kita bisa menyimpulkan bahwa Allah menciptakan dunia yang punya kapasitas untuk menolak Allah
  2. Kita bisa menyimpulkan bahwa Allah menciptakan dunia yang tidak punya kapasitas untuk berdosa dan menolak Allah.

Tapi kenyataan bahwa Allah menciptakan dunia no 1 membuktikan bahwa Allah menciptakan dunia yang punya kapasitas untuk menolak Dia karena kemungkinan untuk menolak itu tidak bisa dihilangkan , jika Allah ingin memiliki dunia yang mempunyai kapasitas untuk mengasihi.

Mungkinkah untuk memaksa seseorang untuk mengasihi? Seseorang yang berkuasa bisa memaksa seseorang untuk melakukan apa saja. Mereka juga bisa memaksa seseorang untuk berkata cinta kepada mereka. Tapi tidak ada seorangpun yang bisa memaksa orang lain untuk benar² mencintai segenap hati.

Mungkin ada yang akan berkata “Tuhan tidak perlu untuk memaksa kita untuk mencintai-Nya. Tuhan bisa saja menciptakan manusia yang pada awalnya hanya mempunyai keinginan untuk mencintai Dia.” Dalam hal ini kita mencintai Allah karena kita memang diciptakan hanya untuk mencintai Allah, tanpa mempunyai kebebasan menentang Allah.

Misalkan saya bisa menciptakan chip komputer yang bisa berinteraksi dengan otak manusia , dalam kasus ini mengontrol (deterministic). Chip komputer ini bisa mendikte tingkah laku seseorang tanpa seseorang itu menyadarinya. Lalu saya taruh chip itu diotak seorang wanita ketika dia tertidur. Besok paginya ketika dia terbangun, dia menjadi tipe wanita impian saya sesuai dengan apa yang saya bayangkan ketika saya membuat chip itu. Dia akan berpikir, berkata, dan bertingkah laku sempurna menyayangi saya. Wanita tersebut menyangka dia memang memilih untuk menyayangi saya dengan segenap hati, padahal kenyataannya dia tidak bisa melakukan hal yang sebaliknya.

Apakah dia benar² menyayangi saya? Bukti dari hal ini bahwa saya, dan semoga juga yang lain, merasakan ‘cinta’ ini bukan cinta sesungguhnya. Saya tahu bahwa wanita ini menyayangi saya bukan karena dia memang benar² menyayangi saya. Ketika saya berbicara dengannya, saya akan merasa bahwa saya sedang berbicara dengan diri saya sendiri lewat komputer chip ini. Sikap wanita ini tidak dipilih oleh dirinya sendiri, jadi dia sebenarnya tidak benar² mencintai saya. Dalam hal ini, dia hanya sekedar boneka. Jika saya mau benar² dicintai olehnya, dia harus punya kemampuan untuk tidak mencintai saya.

Jika Tuhan ingin mempunyai pengantin yang terdiri dari orang² yang benar² mencintai Dia -bukan hanya sekedar bersikap mencintai- Tuhan harus menciptakan orang² yang punya kapasitas untuk menolak Dia, yang mempunyai kemampuan untuk menentukan seseuatu untuk menentukan pilihannya sendiri (self determination). Mereka lah , bukan Tuhan, yang harus menentukan pilihannya untuk mencintai Allah dan sesama. Ini lah alasan mengapa Allah menciptakan dunia dimana kejahatan itu mungkin.

Hal ini menjelaskan kenapa Allah menciptakan dunia dimana kejahatan itu mungkin, karena jika kasih adalah tujuan dari penciptaan, dunia ini harus punya kemungkinan untuk mengasihi dan tidak mengasihi. Kemungkinan dari kejahatan ini bukanlah pilihan kedua yang Allah buat, ini sudah terimplikasi dengan sendirinya dalam satu keputusan ketika Allah menciptakan dunia dimana kasih itu mungkin.

Iman bukan pekerjaan

Beberapa teolog mengajukan keberatan, jika manusia bisa dan harus menggunakan kehendak bebasnya untuk menerima atau menolak kasih Allah, maka ini akan bertentangan dengan Alkitab yang mengatakan bahwa kita telah mati dalam dosa (Ef 2:1). Juga ini bertentangan dengan apa yang dikatakan Paulus bahwa kita diselamatkan karena kasih karunia Allah lewat iman (Ef 2:8-9). Jika kita diselamatkan karena keputusan yang kita buat sendiri untuk menerima kasih karunia Allah, maka iman menjadi pekerjaan.

Argumen macam ini biasanya dikeluarkan oleh kalangan calvinist, pada jaman sekarang contohnya R.C.Sproul yang berkata “Why say that Arminianism ‘in effect’ makes faith 'a meritorious work? Because the good response people make to the gospel besomes the ultimate determining factor in salvation” (Willing to Believe). Singkat kata, Sproul dan para calvinist lainnya berpendapat kasih karunia hanya bisa disebut kasih karunia jika Allah melahir-barukan manusia tanpa kerja sama sama sekali dari manusia tersebut.

Problem dari unconditional election (pemilihan tanpa kondisi).

Pertama, seperti yang para calvinist katakan, jika tidak ada sama sekali hal dalam manusia yang bisa menjelaskan kenapa seseorang diselamatkan, maka penjelasan sepenuhnya terletak pada Allah. Artinya, dalam diri manusia tidak ada sesuatu hal apapun yang membuat Allah memilih satu dari yang lain. Allah memilih seseorang untuk diselamatkan atau tidak, berdasarkan hanya kepada keinginan-Nya untuk menyelamatkan seseorang atau tidak.

Arminian berkeberatan terhadap pandangan ini karena Alkitab berulang² mengatakan bahwa Allah mencintai semua orang dan menginginkan agar semua orang diselamatkan. Walaupun beberapa ada yang sulit menerima hal ini, Alkitab dengan tegas bahwa kasih Allah itu universal (Kis 10:34 ; Bdk Ul 10:17-19 ; 2Taw 19:7 ; Ayub 34:19 ; Yes 55:4-5 ; Mrk 12:14 ; Yoh 3:16 ; 1Pet 1:17. Tuhan sendiri yang mengatakan bahwa Dia tidak berlaku tidak adil (Yeh 18:25). Dia sama sekali tidak senang melihat orang binasa tapi justru mengharapkan agar orang berdosa itu bertobat (Yeh18:23, 32, 33:11). Paulus mengatakan kepada kita bahwa Allah itu panjang sabar dan mengharapkan agar semua orang diselamatkan dan mengetahui kebenaran (1Tim 2:4). Dalam kata² rasul Yohanes “Dan Ia adalah pendamaian untuk segala dosa kita, dan bukan untuk dosa kita saja, tetapi juga untuk dosa seluruh dunia” (1Yoh 2:2). Oleh karena kasih Allah terhadap dunia ini maka Dia rela mengirimkan Anak-Nya yang tunggal supaya barang siapa percaya diselamatkan (Yoh 3:16)

Berbeda dengan calvinist W.E.Best yang mengatakan “God’s Love” berarti “Allah mencintai beberapa dan membenci beberapa. Allah tidak mengasihi semua orang”.

Kasih Allah terhadap dunia ini adalah motif utama Alkitab, motif yang merefleksikan karakter Allah, yang dihilangkan begitu saja dalam doktrin unconditional election. Sproul dan lainnya mengatakan bahwa kasih karunia bertentangan (incompatible) dengan memilih atau menolak Allah.

Apakah hadiah jadi bukan hadiah karena hadiah itu diterima?

Masalahnya disini terletak pada premis yang diajukan oleh Sproul dan calvinist lainnya. Kesimpulan bahwa kita tidak bisa mengatakan bahwa keselamatan datang dari Allah hanya karena kita menerima kasih karunia tersebut, sangatlah salah! Sebuah hadiah akan tetap merupakan sebuah hadiah dan tidak akan kurang dari itu hanya karena diterima. Sebagai contoh: Seorang kaya raya menyumbangkan uang sejumlah 10 milyar terhadap korban banjir. Apakah tidak absurd jika kita mengatakan bahwa sumbangan itu bukanlah lagi merupakan suatu hadiah karena para korban banjir tersebut memilih untuk menerima sumbangan itu?

Allah menawarkan keselamatan. Kasih karunia itu ditawarkan kepada semua orang (tugas kita lah memberitakan tawaran keselamatan itu!) dan kasih karunia tetaplah merupakan kasih karunia dan tidak berubah hanya karena kita harus memilih untuk menerimanya.

Alkitab mengkonfirmasi hal ini. Dalam perjanjian lama dan perjanjian baru kita akan selalu menemukan dimana Allah menawarkan keselamatan itu dan menyuruh manusia untuk membuat keputusan untuk menerima keselamatan itu.

* Ulangan 30:15-19 :
30:15 Ingatlah, aku menghadapkan kepadamu pada hari ini kehidupan dan keberuntungan, kematian dan kecelakaan,
30:16 karena pada hari ini aku memerintahkan kepadamu untuk mengasihi TUHAN, Allahmu, dengan hidup menurut jalan yang ditunjukkan-Nya dan berpegang pada perintah, ketetapan dan peraturan-Nya, supaya engkau hidup dan bertambah banyak dan diberkati oleh TUHAN, Allahmu, di negeri ke mana engkau masuk untuk mendudukinya.
30:17 Tetapi jika hatimu berpaling dan engkau tidak mau mendengar, bahkan engkau mau disesatkan untuk sujud menyembah kepada allah lain dan beribadah kepadanya,
30:18 maka aku memberitahukan kepadamu pada hari ini, bahwa pastilah kamu akan binasa; tidak akan lanjut umurmu di tanah, ke mana engkau pergi, menyeberangi sungai Yordan untuk mendudukinya.
30:19 Aku memanggil langit dan bumi menjadi saksi terhadap kamu pada hari ini: kepadamu kuperhadapkan kehidupan dan kematian, berkat dan kutuk. Pilihlah kehidupan, supaya engkau hidup, baik engkau maupun keturunanmu.

Apakah iman adalah pekerjaan?

Alkitab tidak pernah menyebutkan bahwa pilihan untuk menerima kasih karunia Allah adalah sebuah pekerjaan. Faktanya , telah dikutip diatas (Ul 30:15-19), Alkitab tidak melihat konflik yang diajukan calvinist bahwa jika kita memilih untuk menerima kasih karunia maka kasih karunia itu bukanlah kasih karunia.

Ketika para penulis perjanjian baru menekankan bahwa keselamatan tidak didapat dari pekerjaan, mereka bermaksud bahwa keselamatan tidak didapat dari kepatuhan menuruti hukum, seperti yang kebanyakan orang israel maksudkan. Kebenaran Allah tidak didapat dengan mentaati hukum taurat, tapi kebenaran Allah datang berupa kasih karunia (Rom 4:4-16). Tapi seseorang harus memilih untuk menempatkan imannya kepada kristus. Pilihan ini bukanlah penyebab dari keselamatan itu, tapi merupakan kondisi/syarat agar keselamatan itu bisa diaplikasikan dihidup mereka.

Jika orang tidak dibenarkan dihadapan Allah, Alkitab tidak mengajarkan karena mereka tidak dipilih Allah. Mereka tidak dibenarkan karena mereka menolak untuk menempatkan iman mereka kepada Kristus. Jika mereka dikeraskan melawan Allah, itu karena ketidak percayaan mereka (Rom 11:20 ; Bdk Rom 10:3 ; 11:7, 25).

[b]Apakah pekerjaan Roh kudus itu tidak bisa ditolak (irresistible)?
[/b]

Kita biasanya percaya bahwa manusia adalah budak dosa dan setan (Yoh 8:34 ; Rom 6:16). Kita tidak akan bisa memilih untuk menerima kasih karunia Allah kecuali Allah membuat kita mampu untuk menerima kasih karunia itu.

Kalangan Armenian, setuju bahwa kita bisa menempatkan iman kita kepada Kristus karena Allah telah mendorong/menarik kita datang kepada Kristus (Yoh 6:44, 65). Para non calvinist lainnya, tidak setuju bahwa dorongan Allah ini tidak bisa kita tolak. Allah dengan kasih-Nya membuat kita mampu untuk menerima keselamatan itu, tapi Allah tidak membuat kita HARUS percaya kepada-Nya.

Bandingkan kedua kalimat ini :

  1. Tanpa Roh Kudus, kita tidak bisa percaya kepada Allah.
  2. Dengan Roh Kudus, kita harus percaya kepada Allah.
    Saya percaya Alkitab mengajarkan yang no 1 dan menolak no 2.

Kalangan arminian, Alkitab menolak ide bahwa pekerjaan Roh Kudus (dalam hal ini) tidak dapat ditolak. Alasannya karena Kasih Allah universal. Dengan menempatkan tanggung jawab untuk memilih atau menolak kasih tersebut pada manusia , bukan pada Allah. Dan karena Alkitab secara explicit mengatakan bahwa kita bisa menolak Allah (Yes 63:10 ; Kis 7:51 ; Ibr 3:8, 15 ; 4:7 ; Ef 4:30). Karena itu arminian bisa dengan konsisten terhadap doktrin protestan sola gratia. Kita bisa dengan konsisten mengatakan bahwa kita diselamatkan hanya karena kasih karunia Allah; dan dilain pihak , mereka yang tidak diselamatkan hanya bisa menyalahkan diri mereka sendiri.

ASAL MULA KEJAHATAN

Jika Tuhan sepenuhnya baik, lalu mengapa ada kejahatan? Masalah kejahatan adalah masalah yang sangat penting dalam kekristenan.

Setiap agama dan kepercayaan (termasuk ateisme!) mempunyai jawabannya tersendiri terhadap masalah kejahatan. Kita ambil tiga golongan mayor, ateisme , pantheisme, dan theisme. Atheisme mengakui adanya kejahatan tapi menolak adanya Tuhan. Pantheisme mengakui adanya Tuhan tapi menolak adanya kejahatan. Sedangkan theisme mengakui keduanya, adanya Tuhan dan kejahatan. isinilah munculnya problem bagi para theists, bagaimana mungkin adanya suatu mahkluk yang sepenuhnya baik dan menciptakan segala sesuatu bisa compatible dengan kejahatan?

Dibandingkan dengan kedua pandangan lain, theisme memang berada dalam posisi yang kurang menguntungkan karena mengakui adanya Tuhan dan kejahatan. Ada yang menganut ‘finite godism’ (ketuhanan yang terbatas). Mereka percaya bahwa Tuhan ini membasmi kejahatan tapi tidak bisa karena terbatas kuasanya. Deisme bisa memisahkan Tuhan dari kejahatan dengan menekankan bahwa allah tidak immanent dengan dunia, paling tidak secara supernatural.

Masalah bagi theisme adalah mereka bukan hanya percaya kepada Allah yang maha kuasa dan bisa menghancurkan kejahatan, tapi mereka juga percaya kepada Allah yang maha pengasih yang sharusnya menghancurkan kejahatan. Lebih jauh lagi, mereka juga percaya kepada Allah yang maha tahu dan ketika menciptakan dunia sudah siap (tahu) bahwa akan ada kejahatan. Dan Allah menciptakan dunia ini tidak dibahwa tekanan apa-apa karena itu sebenarnya Allah bisa menciptakan dunia ini berbeda dari yang sekarang ini.

Asal Mula Kejahatan

Darimanakah datangnya kejahatan? Makhluk yang sepenuhnya baik tidak mungkin menciptakan kejahatan (dosa). Problem kejahatan bisa diringkas sebagai berikut:

  1. Tuhan itu sepenuhnya sempurna.

  2. Tuhan tidak bisa menciptakan sesuatu yang tidak baik.

  3. Tapi makhluk yang baik tidak bisa berbuat kejahatan.

  4. Karena itu, baik Allah maupun ciptaan-Nya tidak mungkin berbuat kejahatan.

Elemen dasar dari respon yang diberikan oleh para theist (kristen) dapat ditemukan dalam tulisan Thomas Aquinas dan Augustinus. Keduanya setuju dengan point sebagai berikut:

  1. Allah sepenuhnya sempurna.

  2. Allah hanya menciptakan makhluk yang baik.

  3. Salah satu kebaikan yang Allah ciptakan itu adalah kuasa untuk mmilih.

  4. Beberapa dari makhluk ciptaan memilih kejahatan.

  5. Karena itu, makhluk baik pun bisa melakukan kejahatan.

Allah itu baik dan Dia menciptakan mahkluk dengan kuasa yang disebut ‘free will’ (kehendak bebas). Sayangnya, mereka menggunakan kuasa yang baik ini untuk kejahatan dengan memberontak terhadap pencipta mereka. Jadi kejahatan sebenarnya muncul dari kebaikan, tapi secara tidak langsung dengan menyalah gunakan kuasa yang baik yang disebut kebebasan. Kebebasan itu sendiri bukanlah kejahatan. Adalah baik untuk menjadi bebas. Tapi dengan adanya kebebasan itu memungkinkan juga adanya kejahatan. Jadi Allah memang bertanggung jawab karena memberikan kebebasan kepada ciptaan-Nya tapi ciptaan-Nya lah yang bertanggung jawab karena menyalah gunakan kebebasan itu. Allah bertanggung jawab karena membuat kejahatan itu menjadi mungkin, tapi ciptaan lahyang bertanggung jawab karena menjadikannya itu aktual. Pemerintah bukanlah yang menciptakan kecelakaan karena pemerintah membuat SIM.

Theist membedakan antara penyebab primer (Allah) dan penyebab sekunder (manusia). Allah memberikan kuasa untuk memilih. Tapi bagaimana pun juga Allah tidak bertanggung jawab dengan adanya penyalah gunaan kebebasan untuk memilih tersebut. Ketika Pemerintah mengeluarkan SIM, pemerintah sudah memberi tahu sebelumnya bagaimana cara menyetir yang baik. Begitupun Allah, Allah sudah memberi tahu sebelumnya bagaimana cara menggunakan kehendak bebas itu dengan baik.

Allah tidak melakukan kejahatan tersebut dalam diri manusia. Kebebasan manusia bukanlah sekedar alat instrumental yang melaluinya Allah bekerja. Tapi jika bukan Allah yang menciptakan kejahatan tersebut, lalu apakah penyebab kejahatan itu? Tidak ada sesuatu yang tidak disebabkan karena ini menyingkirkan prinsip bahwa segala sesuatu punya penyebab. Untuk merespon terhadap pertanyaan ini kita harus membongkar natur dari kehendak bebas. Ada tiga pandangan dasar:

  1. Determinisme. tindakan kita sudah ditentukan (disebabkan) oleh Tuhan (bisa juga orang lain yang pasti bukan oleh diri kita).

  2. Indeterminisme. Tidak disebabkan sama sekali, terjadi begitu saja.

  3. Self deteminisme. disebabkan oleh diri kita sendiri.

Determinisme akan menyingkirkan tanggung jawab manusia tersebut. Sedangkan indeterminisme irrasional karena aturan fundamental dari logika adalah segala tindakan punya penyebab. Yang tinggal adalah setiap tindakan bebas disebabkan oleh diri kita sendiri.

Natur dari Kejahatan.

Ada masalah lain yang muncul. apakah natur dari kejahatan tersebut? maksudnya, apakah esensi atau identitas dari kejahatan tersebut? ini juga masalah bagi para theist. Yang pasti theist menolak pandangan dualisme yang mengatakan bahwa ada 2 yang kekal yaitu baik dan buruk. Ketika dualisme ditolak seseorang akan mengalami kesulitan ketika disuruh untuk menjelaskan realitas kejahatan. Problem tersebut bisa diringkas sebagai berikut:

  1. Allah pencipta segala sesuatu.

  2. Kejahatan merupakan sesuatu.

  3. Karena itu, Allah pencipta kejahatan.

Menolak premis pertama akan membawa kita kepada dualisme. Menolak premis kedua akan membawa kita kepada ilusionisme yang menolak realitas kejahatan. lalu apakah solusinya? Untuk menolak bahwa Allah menciptakan segala sesuatu berarti mengatakan bahwa Allah bukanlah satu-satu nya pencipta. Menolak adanya kejahatan berarti menolak realita. Tapi menolak premis ketiga bahwa Allah lah yang menciptakan kejahatan adalah premis yang ditolak oleh Alkitab bahwa Allah hanya menciptakan yang baik. Kecuali seseorang menolak salah satu premis tersebut, seseorang harus menerima kebenaran dari kesimpulan tersebut.

Para theist merespon bahwa kejahatan bukanlah merupakan sesuatu atau substansi. Melainkan merupakan korupsi dari hal yang baik yang Allah buat.

  1. Allah menciptakan segala sesuatu/substansi.

  2. Kejahatan bukan lah merupakan substansi (melainkan privasi dalam sebuah substansi).

  3. Karena itu, Allah tidak menciptakan kejahatan.

Mengatakan bahwa kejahatan itu bukanlah sesuatu, melainkan suatu ketidak adaan dalam sesuatu, bukannya mau mengatakan bahwa kejahatan bukanlah hal yang nyata. Kejahatan bukanlah substansi melainkan ketidak adaan (lack) dari substansi baik yang Allah sudah buat. Kejahatan itu layaknya sebuah karat pada metal. Karat adalah korupsi dari metal yang baik tapi karat bukanlah metal itu sendiri.

Dari sudut inilah makanya tidak ada yang namanya sesuatu yang total jahat. Karena sesuatu yang total jahat (evil) adalah ‘nothing’. Mobil yang total berkarat bukanlah sebuah mobil. Kejahatan itu layaknya luka, hanya bisa exist pada sesuatu yang lain. Makhluk yang total korupt adalah makhluk yang tidak ada.

Sebuah makhluk bisa menjadi total bejat dalam arti kejahatan sudah merasuki semua aspek kehidupannya tapi tidak menghancurkan pribadi tersebut. Jahat total dalam arti bahwa pribadi tersebut sudah mati secara moral maka justru menghancurkan kemampuan orang tersebut untuk melakukan kejahatan. Dalam arti kata orang yang melakukan kejahatan tersebut sebenarnya tidak ada.

Lalu mengapa Allah mengijinkan adanya kejahatan. Walaupun Allah tidak menciptakan kejahatan, Allah mengijinkan hal itu terjadi. Dan Allah maha kuasa dan bisa menghancurkan kejahatan. lalu mengapa Allah tidak melakukannya?

  1. Jika Allah maha baik, Dia akan menghancurkan kejahatan.

  2. Jika Allah maha kuasa, Dia bisa menghancurkan kejahatan.

  3. Tapi kejahatan tidak hancur.

  4. Maka Allah itu tidak ada (atau paling tidak tidak maha baik dan maha kuasa).

Respon dari theist adalah sebagai berikut:

  1. Allah tidak mungkin melakukan sesuatu yang tidak mungkin.

  2. Tidak mungkin melenyapkan kejahatan tanpa melenyapkan kehendak bebas.

  3. Tapi kehendak bebas mutlak jika Allah menginginkan adanya kasih.

  4. Karena itu, Allah tidak bisa menghancurkan kejahatan tanpa melenyapkan kasih.

Tidak mungkin bagi Allah untuk melakukan sesuatu yang absurd atau bertentangan. Allah tidak bisa mengatakan sesuatu itu benar dan pada saat yang sama mengatakan itu salah. Allah tidak bisa membuat sebuah kotak yang bundar karena ini melanggar hukum non kontradiksi. Allah tidak bisa menciptakan segi empat yang mempunyai sisi tiga. Sama hal nya tidak mungkin memaksa seseorang untuk melakukan hal secara suka rela. Kebebasan yang dipaksa adalah suatu kontradiksi. Allah tidak bisa menghancurkan kejahatan tanpa menghancurkan kehendak bebas dan berarti melenyapkan kasih. Tanpa adanya kehendak bebas maka tidak mungkin ada yang namanya kasih atau kebaikan.

Tapi tentunya Allah walaupun belum melenyapkan kejahatan sekarang ini, Dia akan melakukannya suatu hari tanpa harus menghancurkan kehendak bebas.

  1. Allah itu baik dan ingin menghancurkan kejahatan.

  2. Allah maha kuasa dan mampu menghancurkan kejahatan.

  3. Kejahatan belum dihancurkan.

  4. Karena itu, suatu saat akan dihancurkan.

Fakta bahwa kejahatan belum dilenyapkan bukan berarti bahwa kejahatan tidak akan dikalahkan. Allah yang mahakuasa bisa memisahkan orang baik dari orang jahat tergantung dari yang mereka lakukan. Mereka yang mengasihi Allah akan dipisahkan dari yang tidak.

Disalin dari : Milis Biblika

Sumber :

http://www.sarapanpagi.org/kehendak-bebas-asal-mula-kejahatan-vt291.html

Mantap bro :slight_smile:

teruskan postnya saudara repento