Katolik dan Tradisi Suci

1 Kor 11:2 : Aku harus memuji kamu, sebab dalam segala sesuatu kamu tetap mengingat akan aku dan teguh berpegang pada ajaran yang kuteruskan kepadamu.

I commend you because you remember me in everything and maintain the traditions even as I have delivered them to you.

Kis 20:35 : Dalam segala sesuatu telah kuberikan contoh kepada kamu, bahwa dengan bekerja demikian kita harus membantu orang-orang yang lemah dan harus mengingat perkataan Tuhan Yesus, sebab Ia sendiri telah mengatakan: Adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima."

Ini adalah salah satu contoh tentang adanya tradisi lisan di Kitab Perjanjian Baru. Tidak ada dimanapun juga kata-kata Yesus ini : Adalah lebih berbahagia memberi daripada menerima. Satu-satunya cara penulis kitab Kisah Para Rasul, yaitu St. Lukas, bisa mengetahuinya adalah melalui tradisi oral, karena ia tidak termasuk di dalam 12 rasul pertama. Ia menulis perkataan Yesus ini di dalam Alkitab secara tidak mungkin salah dengan dituntun oleh Roh Kudus.

bro bruce

yg dimaksud tradisi lisan di atas itu sebelum atau sesudah Alkitab dikanonkan ?
tradisi lisan, magister dan lumen. ini berdiri sendiri2 ataukah yg dimaksud tradisi lisan adl magister, lumen atau apa ya ?

jika alkitab sudah dikanonkan, maka masih adakah tradisi lisan ?

Masih bro, anda tentu tidak menganggap bahwa semua ucapan Jesus sudah pasti tertulis di Alkitab.

1 Cor 11:2 Now I praise you, brethren, that ye remember me in all things, and keep the ordinances, as I delivered them to you. (KJV)

The ordinances belum tentu sama dengan Traditions (tradisi).
LAI menggunakan istilah “ajaran” untuk ordinances.

Tentang Ucapan Tuhan Yesus.

Yohanes 14:26 tetapi Penghibur, yaitu Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu.

Itu sebabnya Paulus sekalipun tidak bersama Yesus dalam perjamuan Kudus, namun lihat apa yang ditulis Paulus.
1Korintus 11:23. Sebab apa yang telah kuteruskan kepadamu, telah aku terima dari Tuhan, yaitu bahwa Tuhan Yesus, pada malam waktu Ia diserahkan, mengambil roti 11:24 dan sesudah itu Ia mengucap syukur atasnya; Ia memecah-mecahkannya dan berkata: “Inilah tubuh-Ku, yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku!” 11:25 Demikian juga Ia mengambil cawan, sesudah makan, lalu berkata: “Cawan ini adalah perjanjian baru yang dimeteraikan oleh darah-Ku; perbuatlah ini, setiap kali kamu meminumnya, menjadi peringatan akan Aku!” 11:26 Sebab setiap kali kamu makan roti ini dan minum cawan ini, kamu memberitakan kematian Tuhan sampai Ia datang.

Injil ini diperolehnya melalui Roh Kudus, bukan dari Tradisi.

Jika anda mau menerjemahkan ordinaces menjadi ‘ajaran’ masih boleh. Cuma tentu anda bisa menjelaskan bagaimana ajaran diberikan pada jaman Rasul Paulus bro? Anda pasti ingat Surat Paulus, surat surat itu memang berupa pengajaran, tetapi lengkapkah itu atau belum lengkap? Maka dimana ajaran Paulus yang lain itu?

Injil ini diperolehnya melalui ROH KUDUS, bukan dari Tradisi.

Betul, dan tidak ada yang menyangkalnya. Tetapi bagaimana Injil itu sampai kepada kita (manusia)? Apakah turun dari langit dalam bentuk buku?

Syalom

ya. maksud saya :
tradisi lisan = ajaran (magisterium) kah ?
ataukah sebenarnya yg dimaksud tradisi lisan itu (oleh bro.bruce) adl (selain alkitab termasuk juga) semua ajaran yg disampaikan para rasul + penerusnya (para paus) ?

Berikut ini definisi dan penjelasan tentang Magisterium, yang terjemahan bebasnya adalah “Wewenang mengajar”, yang diambil dari Katekismus Gereja Katolik (KGK):

KGK 85 “Adapun tugas menafsirkan secara otentik Sabda Allah yang tertulis atau diturunkan itu, dipercayakan hanya kepada Wewenang Mengajar Gereja yang hidup, yang kewibawaannya dilaksanakan atas nama Yesus Kristus” (DV 10).

KGK 86 “Wewenang Mengajar itu tidak berada di atas Sabda Allah, melainkan melayaninya, yakni dengan,hanya mengajarkan apa yang diturunkan saja, sejauh Sabda itu, karena perintah ilahi dan dengan bantuan Roh Kudus, didengarkannya dengan khidmat, dipelihara dengan suci, dan diterangkannya dengan-setia; dan itu semua diambilnya dari satu perbendaharaan iman itu, yang diajukannya untuk diimani sebagai hal-hal yang diwahyukan oleh Allah” (DV 10).

KGK 87 Kaum beriman mengenangkan perkataan Kristus kepada para Rasul: “Barang siapa mendengarkan kamu, ia mendengarkan Aku” (Luk 10:16) Bdk. LG 20. dan menerima dengan rela ajaran dan petunjuk yang diberikan para gembala kepada mereka dalam berbagai macam bentuk.

KGK 888 Bersama para imam, rekan sekerjanya, para Uskup mempunyai “tugas utama… mewartakan Injil Allah kepada semua orang” (PO 4), seperti yang diperintahkan Tuhan Bdk. Mrk 16:15… Mereka adalah “pewarta iman, yang mengantarkan murid-murid baru kepada Kristus dan mereka pengajar yang otentik atau mengemban kewibawaan Kristus” (LG 25).

KGK 889 Untuk memelihara Gereja dalam kemurnian iman yang diwariskan oleh para Rasul, maka Kristus yang adalah kebenaran itu sendiri, menghendaki agar Gereja-Nya mengambil bagian dalam sifat-Nya sendiri yang tidak dapat keliru. Dengan “cita rasa iman yang adikodrati”, Umat Allah memegang teguh iman dan tidak menghilangkannya di bawah bimbingan Wewenang Mengajar Gereja yang hidup Bdk. LG12;DV 10.

KGK 890 Perutusan Wewenang Mengajar berkaitan dengan sifat definitif perjanjian, yang Allah adakan di dalam Kristus dengan Umat-Nya. Wewenang Mengajar itu harus melindungi umat terhadap kekeliruan dan kelemahan iman dan menjamin baginya kemungkinan obyektif, untuk mengakui iman asli, bebas dari kekeliruan. Tugas pastoral Wewenang Mengajar ialah menjaga agar Umat Allah tetap bertahan dalam kebenaran yang membebaskan. Untuk memenuhi pelayanan ini Kristus telah menganugerahkan kepada para gembala karisma “tidak dapat sesat” [infallibilitas] dalam masalah-masalah iman dan susila. Karisma ini dapat dilaksanakan dengan berbagai macam cara:

KGK 891 “Ciri tidak dapat sesat itu ada pada Imam Agung di Roma, kepala dewan para Uskup, berdasarkan tugas beliau, bila selaku gembala dan guru tertinggi segenap umat beriman, yang meneguhkan saudara-saudara beliau dalam iman, menetapkan ajaran tentang iman atau kesusilaan dengan tindakan definitif… Sifat tidak dapat sesat, yang dijanjikan kepada Gereja, ada pula pada Badan para Uskup, bila melaksanakan wewenang tertinggi untuk mengajar bersama dengan pengganti Petrus” (LG 25) terutama dalam konsili ekumenis Bdk. Konsili Vatikan 1: DS 3074… Apabila Gereja melalui Wewenang Mengajar tertingginya “menyampaikan sesuatu untuk diimani sebagai diwahyukan oleh Allah” (DV 10) dan sebagai ajaran Kristus, maka umat beriman harus “menerima ketetapan-ketetapan itu dengan ketaatan iman” (LG 25). Infallibilitas ini sama luasnya seperti warisan wahyu ilahi Bdk. LG 25.

KGK 892 Bantuan ilahi juga dianugerahkan kepada pengganti-pengganti para Rasul, yang mengajarkan dalam persekutuan dengan pengganti Petrus, dan terutama kepada Uskup Roma, gembala seluruh Gereja, apabila mereka, walaupun tidak memberikan ketetapan-ketetapan kebal salah dan tidak menyatakannya secara definitif, tetapi dalam pelaksanaan Wewenang Mengajarnya yang biasa mengemukakan satu ajaran, yang dapat memberi pengertian yang lebih baik mengenai wahyu dalam masalah-masalah iman dan susila. Umat beriman harus mematuhi ajaran-ajaran otentik ini dengan: “kepatuhan kehendak dan akal budi yang suci” (LG 25), yang walaupun berbeda dengan persetujuan iman, namun mendukungnya.

Katekismus Gereja Katolik (dalam bahasa Inggris: Catechism of the Catholic Church) adalah buku penjelasan atau instruksi resmi mengenai iman dan ajaran Gereja Katolik Roma, pertama diadakan pada abad ke II

sejak abad ke-2…!

@ bro limit n bruce

nah KGK itukah yg dimaksud dg tradisi lisan. (selain tradisi lisan yg disampikan para rasul).
jadi pemikirannya :
para rasul mengajar (lisan dan kemudian ada yg ditulis)
para rasul diteruskan oleh generasi berikutnya (paus). dan karenanya Paus dapat juga memberikan pengajaran yg memiliki bobot yg sama dg para rasul. maka dapat dipahami juga sebagai tradisi lisan. pengajaran Paus inilah yg kemudian dibukukan menjadi KGK.
jika salah tolong koreksi aja.

Katekismus Gereja Katolik adalah rumusan hukum gereja bro

Katekismus
Katekismus Gereja Katolik mulai disusun tahun 1986, dan selesai tahun 1992 bertepatan dengan tahun ke- 30 penyelenggaraan Konsili Vatikan II. Katekismus Gereja Katolik adalah dokumen Gereja yang memuat sistematika pengajaran dari Kitab Suci, Tradisi Gereja yang hidup, dan Magisterium yang otentik, dan juga peninggalan harta rohani dari para Bapa Gereja, Doktor/ Pujangga Gereja dan para Orang Kudus, untuk memberikan pengetahuan yang lebih baik tentang misteri Kristiani dan penghidupan kembali iman Gereja. Katekismus ini dimaksudkan untuk menyajikan pengajaran Gereja Katolik secara penuh dan lengkap, sehingga melaluinya orang dapat mengetahui apa yang menjadi kepercayaan, perayaan, kehidupan dan doa Gereja. Juga, katekismus yang bersifat pastoral ini dimaksudkan agar dapat disajikan secara lebih sesuai kepada orang-orang jaman sekarang.

Katekismus Gereja Katolik terdiri dari empat bagian besar: Bagian Credo (Aku Percaya), Liturgi Suci dengan menampilkan pengajaran tentang sakramen- sakramen, Kehidupan Kristiani, yang dijelaskan dengan kesepuluh Perintah Allah dan yang terakhir, Doa Kristiani. (Sebagai catatan: ke-empat bagian ini juga terdapat di dalam Katekismus Roma/Roman Catechism- yang disusun setelah Konsili Trente pada tahun 1566).

Bro Bruce, ada kemungkinan bertambah atau direvisi tidak di masa yang akan datang.

Karena KGK adalah hukum gereja dan bukan doktrin, sepertinya bisa berubah atau revisi, untuk lebih tepatnya mungkin yang lebih menguasai soal ini mungkin bisa menambahkan.

Syalom

Dengan keputusan Paus tentunya… betul?

Magisterium, tidak bisa hanya Paus.

@ bro bruce

sebelum dilanjutkan, saya masih ada mata rantai yg ilang nich :
pertama bro menjelaskan:

Ini adalah salah satu [b]contoh tentang adanya tradisi lisan di Kitab Perjanjian Baru.[/b] Tidak ada dimanapun juga kata-kata YESUS ini : Adalah lebih berbahagia memberi daripada menerima. [b]Satu-satunya cara penulis kitab Kisah Para Rasul, yaitu St. Lukas, bisa mengetahuinya adalah melalui tradisi oral[/b], karena ia tidak termasuk di dalam 12 rasul pertama. Ia menulis perkataan YESUS ini di dalam Alkitab secara tidak mungkin salah dengan dituntun oleh ROH KUDUS.

apakah tradisi disitu maksudnya adl semua ucapan Yesus, betul kan. (sampai disini mungkin akan sama dg katakanlah protestan).
terus saya nanya apakah tradisi lisan termasuk dlm magister,lumen
terus bro lanjutkan:

Berikut ini definisi dan penjelasan tentang Magisterium, yang terjemahan bebasnya adalah “Wewenang mengajar”, yang diambil dari Katekismus Gereja Katolik (KGK):
lalu yg ada dlm pikiran saya maka yg disebut tradisi lisan adl tradisi lisan jaman rasul dan juga KGK.

kemudian bro menjelaskan

Katekismus Gereja Katolik adalah rumusan hukum gereja bro
apakah ini berarti rumusan hukum gereja yg dibuat th 1986 - 1992 juga adl tradisi lisan?

pertanyaan saya berikutnya adl
bagi katolik yg dimaksud tradisi lisan, apakah juga KGK atau apa?
atau apakah hanya sebatas pada tulisan para rasul saja ? (batasannya apa)
kapan tradisi lisan itu dianggap sudah berhenti.

Tradisi Suci

(KGK 75-83)
Tradisi Suci adalah Tradisi yang berasal dari para rasul yang meneruskan apa yang mereka terima dari ajaran dan contoh Yesus dan bimbingan dari Roh Kudus. Oleh Tradisi, Sabda Allah yang dipercayakan Yesus kepada para rasul, disalurkan seutuhnya kepada para pengganti mereka, supaya dalam pewartaannya, mereka memelihara, menjelaskan dan menyebarkannya dengan setia. Maka Tradisi Suci ini bukan tradisi manusia yang hanya merupakan ‘adat kebiasaan’. Dalam hal ini, perlu kita ketahui bahwa Yesus tidak pernah mengecam seluruh adat kebiasaan manusia, Ia hanya mengecam adat kebiasaan yang bertentangan dengan perintah Tuhan (Mrk 7:8).

Juga perlu kita ketahui bahwa Tradisi Suci bukanlah kebiasaan-kebiasaan seperti doa rosario, berpuasa setiap hari Jumat, ataupun selibat para imam. Walaupun semua kebiasaan tersebut baik, namun hal-hal tersebut bukanlah doktrin. Tradisi Suci meneruskan doktrin yang diajarkan oleh Yesus kepada para rasulNya yang kemudian diteruskan kepada Gereja di bawah kepemimpinan penerus para rasul, yaitu para Paus dan uskup.

Kitab Suci

(KGK 101-141)
Allah memberi inspirasi kepada manusia yaitu para penulis suci yang dipilih Allah untuk menuliskan kebenaran. Allah melalui Roh KudusNya berkarya dalam dan melalui para penulis suci tersebut, dengan menggunakan kemampuan dan kecakapan mereka. “Oleh sebab itu, segala sesuatu yang dinyatakan oleh para pengarang yang diilhami tersebut, harus dipandang sebagai pernyataan Roh Kudus.” Jadi jelaslah bahwa Kitab Suci yang mencakup Perjanjian Lama dan Baru adalah tulisan yang diilhami oleh Allah sendiri (2Tim 3:16). Kitab-kitab tersebut mengajarkan kebenaran dengan teguh dan setia, dan tidak mungkin keliru. Karena itu, Allah menghendaki agar kitab-kitab tersebut dicantumkan dalam Kitab Suci demi keselamatan kita.

Magisterium (Wewenang mengajar) Gereja

(KGK 85-87, 888-892)
Dari uraian di atas, kita mengetahui pentingnya peran Magisterium yang “bertugas untuk menafsirkan secara otentik Sabda Allah yang tertulis atau diturunkan itu yang kewibawaannya dilaksanakan dalam nama Yesus Kristus.” Magisterium ini tidak berada di atas Sabda Allah, melainkan melayaninya, supaya dapat diturunkan sesuai dengan yang seharusnya. Dengan demikian, oleh kuasa Roh Kudus, Magisterium yang terdiri dari Bapa Paus dan para uskup pembantunya [yang dalam kesatuan dengan Bapa Paus] menjaga dan melindungi Sabda Allah itu dari interpretasi yang salah.

Kita perlu mengingat bahwa Gereja sudah ada terlebih dahulu sebelum keberadaan kitab-kitab Perjanjian Baru. Para pengarang/ penulis suci dari kitab-kitab tersebut adalah para anggota Gereja yang diilhami oleh Tuhan, sama seperti para penulis suci yang menuliskan kitab-kitab Perjanjian Lama. Magisterium dibimbing oleh Roh Kudus diberi kuasa untuk meng-interpretasikan kedua Kitab Perjanjian tersebut.

Jelaslah bahwa Magisterium sangat diperlukan untuk memahami seluruh isi Kitab Suci. Karunia mengajar yang ‘infallible‘ (tidak mungkin sesat) itu diberikan kepada Magisterium pada saat mereka mengajarkan secara resmi doktrin-doktrin Gereja. Karunia ini adalah pemenuhan janji Kritus untuk mengirimkan Roh KudusNya untuk memimpin para rasul dan para penerus mereka kepada seluruh kebenaran (Yoh 16:12-13).

ada,

katekismus bersifat pastoral, berisi penjabaran ttg dogma2 gereja, juga doktrin2 gereja.

Semua dogma adalah termasuk dalam doktrin, namun tidak semua doktrin termasuk dalam dogma.

Dalam Katekismus Gereja Katolik 88-89 didefinisikan tentang dogma:
Wewenang Mengajar Gereja menggunakan secara penuh otoritas yang diterimanya dari KRISTUS, apabila ia mendefinisikan dogma-dogma, artinya apabila dalam satu bentuk yang mewajibkan umat Kristen dalam iman dan yang tidak dapat ditarik kembali, ia mengajukan kebenaran-kebenaran yang tercantum di dalam wahyu ilahi atau secara mutlak berhubungan dengan kebenaran-kebenaran demikian. (KGK, 88)

@ bro bruce

thx utk infonya. dengan demikian makin jelas ttg kedudukan, posisi dari kitab suci, tradisi lisan dan magisterium.
jadi kl diruntutkan kira2 akan seperti ini ya:

tradisi lisan - alkitab - magisterium.
tradisi lisan adl bahan utk alkitab dan kemudian magisterium adl untuk menjelaskan alkitab.
kl ini udah clear (kl ada yg salah silakan di koreksi)…
apakah masih dalam bahasan jika saya bertanya ttg magisterium. melanjutkan pertanyaan bro.hans

Dengan catatan, bahwa urutan yang anda sebutkan itu bukan berdsarkan peringkat ya bro. Karena kalau peringkat Tradisi lisan, Tradisi Tertulis (Alkitab) dan Magisterium berada pada peringkat yang sama.