Jawa Barat Tertinggi Dalam Pelanggaran Agama

Reformata.com - SEPERTI tahun sebelumnya, Proponsi Jawa Barat lagi-lagi menduduki peringkat ter-tinggi dalam pelanggaran terhadap kebebasan beragama. Demikian hasil penelitian yang dilakukan oleh Setara Institute atas kondisi kebebasan beragama/berke-yakinan di Indonesia selama tiga tahun terakhir, dengan konsentrasi utama pada tahun 2009 yang lalu. Dari 12 wilayah yang diteliti – Sumatera Utara, Sumatera Barat, Jakarta, Jawa Barat, Banten, Bali, NTT, NTB, Kalimantan Tengah, Gorontalo, Sulawesi Utara dan Maluku, Jawa Baratlah yang men-duduki perintkat tertinggi, men-capai 57 kasus. Menyusul Jakarta (38 kasus), Jawa Timur (23 Peristiwa), Banten (10 peristiwa), NTB (9 peristiwa), Sumatera Selatan, Jawa Tengah dan Bali (masing-masing 8 peristiwa) serta Sulawesi Selatan dan NTT (masing-masing 7 peristiwa).

Penemuan lain yang didapat Setara, dari 291 tindakan pelang-garan kebebasan beragama/berkeyakinan, terdapat 139 pelanggaran yang melibatkan Ne-gara sebagai aktornya, baik melalui 101 tindakan aktif Negara (by commission) maupun 38 tindakan pembiaran yang dilakukan oleh Negara (by omission). Ditemukan pula, institusi Negara yang paling banyak melakukan pelanggaran adalah kepolisian (48 tindakan), Departemen Agama (14 tinda-kan), Walikota (8 tindakan), Bupati (6 tindakan), dan pengadilan (6 tindakan). Selebihnya adalah institusi lainnya dengan jumlah di bawah 6 tindakan.

Tindakan warga
Dari 291 tindakan pelanggaran, sejumlah 152 merupakan tindakan yang dilakukan warga Negara dalam bentuk 86 tindakan criminal atau perbuatan melawan hukum, dan 66 berupa intoleransi yang dilakukan individu atau anggota masyarakat. Pelaku tindakan pelanggaran terbanyak adalah masyarakat (46 tindakan), MUI (29 tindakan), individu tokoh agama (10 tindakan), Front Pembela Islam (9 tindakan) dan Forum Umat Islam (6 tindakan).
Dalam presentasi lapo-ran yang disampaikan oleh Bonar Togor Naipospos, Wakil Ketua Setara Institute, disebutkan pula bahwa korban paling banyak dari tindakan anti kebebasan beragama di tahun 2009 adalah Je-maah Ahmadyah (33 tindakan pelanggaran), individu (16 tindakan), dan jemaat gereja (12 tindakan). Jemaat gereja mengalami pelanggaran dalam bentuk pelarangan pendirian rumah ibadah, pembubaran ibadah dan aktivitas keagamaan serta intoleransi.

Tak berbalas
Masih menurut Setara, peme-rintah dan institusi Negara sama sekali tidak melakukan langkah progresif apapun dan tidak meme-nuhi tuntutan apapun dari berbagai pihak, dan tidak memenuhi tun-tutan apapun dari berbagai pihak terkait kehidupan beragama/berkeyakinan. “Desakan organisasi masyarakat sipil yang mempromo-sikan jaminan kebebasan beragama/berkeyakinan tidak terbalas de-ngan kebijakan yang kondusif bagi pemajuan pluralisme di Indonesia. Tidak ada legislasi di tingkat nasional yang konstruktif bagi penguatan jaminan kebebasan beragama/berkeyakinan,” tulis mereka dalam ringkasan eksekutif hasil penelitian lembaga yang dipimpin pejuang HAM Hendardi SH ini.

Kegagalan pemerintah
Msih menurut Setara, peristiwa pelanggaran yang HAM yang masih terus berlanjut ini terjadi karena kegagalan pemerintah mengedar-kan rasa aman bagi warga bagi warga negara untuk menikmati kebebasannya dalam beragama, atau bahkan untuk berbeda sekali-pun. “Kepeimpinan nasional hingga kini te3tap menggantung dan menunggangi isu kebebasan bera-gama dan kondisi rentan masyarakat untuk memelihara konstituen dari berbagai lapis, meski mengorbankan hak kelompok minoritas dan marjinal,” tulis mereka.
Ditemukan pula bahwa seluruh pelanggaran kebebasan beragama tidak memperoleh penyelesaian hukum. “Negara tidak pernah ber-tanggung jawab untuk melakukan policy reform sebagai bentuk pertanggunajawaban pemenuhan HAM; Aparat hukum juga pelit dan tidak mampu menjangkau pelaku tindak kriminal dan perbuatan mela-wan hukum lainnya yang dilakukan warga negara; demikian pula hukum nasional Indonesia yang tak mampu menagih pertanggung-jawaban seseorang yang melakukan tindakan intoleransi.

Harus bersikap
Dihadapkan pada realitas legal diskriminatif dan impunitas praktek persekusi masyarakat atas kebeba-san beragama, Setara meminta negara untuk bersikap melalui tindakan politik.
Tindakan yang harus dilakukan, antara lain pencabutan seluruh pera-turan perundangan yang diskrimi-natif, baik di tingkat nasional maupun daerah, penyusunan RUU Anti Intoleransi, atau sejenisnya, bukan RUU Kerukunan Umat Beragama. Juga perlu melakukan penyusunan mekanisme pemulihan komunitas yang menjadi korban pelanggaran kebebasan beragama.
Juga perlu dilakukan penginte-grasian kurikulum toleransi dan pluralisme dalam Sistem Pendidikan Nasional diikuti dengan penyediaan SDM yang memadai.

SUMBER: http://www.reformata.com/03680-jawa-barat-tertinggi-dalam-pelanggaran-agama.html

karena extrimis terbesar memang di sana

Tunggu saja, bila waktunya tiba YHWH akan mengadakan pembalasan. Kan di Jawa Barat belum terjadi gempa dan tsunami yang dahsyat ataupun bumi bergerak dengan dahsyatnya.

:smiley: klo saya ga berani mengutuki seperti itu… :angel:

Mat. 5:43 Kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu.
Mat. 5:44 Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.

Yud 1:9 Tetapi penghulu malaikat, Mikhael, ketika dalam suatu perselisihan bertengkar dengan Iblis mengenai mayat Musa, tidak berani menghakimi Iblis itu dengan kata-kata hujatan, tetapi berkata: “Kiranya Tuhan menghardik engkau!”

:afro:

Eh ini bukan kutukan, tetapi pemberitahuan bahwa pembalasan adalah hak YHWH.

Lagian siapakah saya ? Yang hidupnya bagaikan uap sebentar saja lenyap.

Jadilah KehendakMu Bapa diatas bumi seperti didalam Sorga.

:afro:

Rm 12:19 Saudara-saudaraku yang kekasih, janganlah kamu sendiri menuntut pembalasan, tetapi berilah tempat kepada murka Allah, sebab ada tertulis: Pembalasan itu adalah hak-Ku. Akulah yang akan menuntut pembalasan, firman Tuhan.

:wink:

Markus 13 : 9 : Tetapi kamu ini, hati-hatilah ! Kamu akan diserahkan kepada majelis agama dan kamu akan dipukul di rumah ibadat dan kamu akan dihadapkan ke muka penguasa-penguasa dan raja-raja karena Aku, sebagai kesaksian bagi mereka.

Tuhan tidak tertidur