[i][b]Apakah Isi Alkitab Saling Bertentangan?[/b][/i]

Dear All,

Apakah Isi Alkitab Saling Bertentangan?

Tuduhan yang kerap dilontarkan terhadap Alkitab adalah bahwa isinya saling bertentangan. Biasanya, orang yang melontarkan tuduhan ini belum pernah membaca sendiri Alkitab; mereka hanya mengulangi apa yang telah mereka dengar. Namun, ada yang telah menemukan ayat-ayat yang kelihatannya benar-benar merupakan kontradiksi dan merasa bingung olehnya.

JIKA Alkitab benar-benar Firman Allah, isinya harus serasi, tidak saling bertentangan. Maka, mengapa ada beberapa bagian yang kelihatannya bertentangan dengan bagian lain? Untuk menjawab ini, perlu kita ingat bahwa, walaupun Alkitab adalah Firman dari Allah, kitab itu ditulis oleh sejumlah orang selama jangka waktu beberapa abad. Penulis-penulis ini mempunyai latar belakang, gaya menulis, dan bakat yang berbeda-beda, dan semua perbedaan ini kelihatan dalam tulisan mereka.

2 Lagi pula, jika dua penulis atau lebih menelaah kejadian yang sama, salah seorang mungkin memasukkan rincian yang tidak dimasukkan oleh penulis yang lain. Tambahan pula, masing-masing penulis akan menampilkan pokok persoalannya menurut cara yang berlainan. Yang satu mungkin menulis secara kronologis, sedangkan yang lain mungkin mengikuti cara yang berbeda. Dalam pasal ini, kita akan mengetengahkan beberapa tuduhan kontradiksi dalam Alkitab dan membahas bagaimana hal itu dapat dirujukkan, dengan mengingat pertimbangan yang disebutkan tadi.

Saksi-Saksi yang Independen
3 Beberapa ”kontradiksi” timbul apabila ada dua kisah atau lebih mengenai kejadian yang sama. Misalnya, di Matius 8:5 kita membaca bahwa ketika Yesus tiba di Kapernaum, ”seorang perwira mendapatkan Dia dan memohon kepadaNya” untuk menyembuhkan hambanya. Tetapi di Lukas 7:3 kita membaca bahwa perwira itu ”menyuruh beberapa orang tua-tua Yahudi kepada [Yesus] untuk meminta, supaya Ia datang dan menyembuhkan hambanya”. Apakah perwira tersebut yang berbicara kepada Yesus, atau apakah ia menyuruh orang tua-tua itu?

4 Jelas, jawabannya adalah bahwa perwira itu mengirim orang tua-tua Yahudi. Maka, mengapa Matius berkata bahwa dia sendiri yang meminta kepada Yesus? Karena, pada hakekatnya, dialah yang meminta kepada Yesus melalui orang tua-tua Yahudi. Orang tua-tua itu bertindak sebagai juru bicaranya.

5 Untuk menjelaskan ini, di 2 Tawarikh 3:1 kita membaca, ”Salomo mulai mendirikan rumah [Yehuwa] di Yerusalem.” Kemudian kita membaca, ”Demikianlah Salomo menyelesaikan rumah [Yehuwa].” (2 Tawarikh 7:11) Apakah Salomo sendiri yang membangun bait dari permulaan sampai selesai? Tentu tidak. Pekerjaan pembangunan yang sesungguhnya dilakukan oleh banyak tukang dan pekerja. Tetapi Salomo adalah organisator pembangunan itu, dialah yang bertanggung jawab. Maka Alkitab berkata bahwa ia membangun rumah itu. Demikian juga, Injil Matius berkata bahwa perwira itulah yang mendekati Yesus. Tetapi Lukas memberikan rincian tambahan bahwa ia mendekati Yesus melalui orang tua-tua Yahudi.

6 Berikut ini sebuah contoh serupa. Di Matius 20:20, 21, kita membaca, ”Maka datanglah ibu anak-anak Zebedeus serta anak-anaknya itu kepada Yesus, lalu sujud di hadapanNya untuk meminta sesuatu kepadaNya.” Ia meminta agar kedua putranya diberi kedudukan terbaik pada waktu Yesus datang dalam Kerajaannya. Dalam kisah Markus mengenai kejadian yang sama, kita membaca, ”Yakobus dan Yohanes, anak-anak Zebedeus, mendekati Yesus dan berkata kepadaNya, ’Guru, kami harap supaya Engkau kiranya mengabulkan suatu permintaan kami!’” (Markus 10:35-37) Apakah kedua putra Zebedeus atau ibu mereka yang mengajukan permintaan itu kepada Yesus?

7 Jelas, kedua putra Zebedeus itulah yang mengajukan permintaan tersebut, seperti dikatakan oleh Markus. Tetapi mereka melakukannya melalui ibu mereka. Ibu mereka menjadi juru bicara mereka. Keterangan ini didukung oleh laporan Matius bahwa ketika rasul-rasul yang lain mendengar apa yang dikatakan oleh ibu kedua putra Zebedeus, mereka menjadi marah, bukan kepada sang ibu, tetapi kepada ”kedua saudara itu”.—Matius 20:24.

8 Pernahkah saudara mendengar dua orang melukiskan suatu kejadian yang mereka saksikan? Jika demikian, apakah saudara perhatikan bahwa masing-masing menandaskan bagian-bagian yang berkesan baginya? Yang satu mungkin tidak memasukkan bagian-bagian yang justru disebutkan oleh yang lain. Tetapi keduanya mengatakan yang benar. Demikian juga dengan keempat Injil mengenai pelayanan Yesus, maupun kejadian bersejarah lain yang dilaporkan oleh lebih dari satu penulis Alkitab. Setiap penulis memberikan keterangan yang saksama sekalipun yang seorang mencatat bagian-bagian yang tidak dimasukkan oleh penulis yang lain. Dengan mempertimbangkan semuanya, kita dapat memperoleh pengertian yang lebih baik mengenai apa telah terjadi. Variasi demikian membuktikan bahwa kisah-kisah Alkitab itu independen. Dan keserasiannya yang amat penting membuktikan bahwa catatan itu benar.

Baca Ikatan Kalimatnya
9 Sering kali apa yang nyata kelihatan tidak konsisten dapat dipecahkan jika kita melihat konteks atau ikatan kalimatnya. Pertimbangkan, misalnya, persoalan yang sering dikemukakan mengenai istri Kain. Di Kejadian 4:1, 2 kita membaca, ”Lalu [Hawa] melahirkan Kain; maka kata perempuan itu, ’Aku telah mendapat seorang anak laki-laki dengan pertolongan [Yehuwa].’ Selanjutnya dilahirkannyalah Habel, adik Kain.” Seperti kita ketahui, Kain membunuh Habel; tetapi sesudah itu kita membaca bahwa Kain mempunyai seorang istri dan anak-anak. (Kejadian 4:17) Jika Adam dan Hawa mempunyai dua orang putra saja, dari mana Kain mendapat seorang istri?

10 Jawabannya terdapat dalam fakta bahwa Adam dan Hawa mempunyai lebih dari dua anak. Menurut konteksnya, mereka mempunyai keluarga besar. Di Kejadian 5:3 kita membaca bahwa Adam menjadi ayah dari seorang putra lain yang bernama Set, kemudian, dalam ayat berikutnya, kita membaca, ”[Adam] memperanakkan anak-anak lelaki dan perempuan.” (Kejadian 5:4) Jadi Kain bisa jadi mengawini salah seorang adik perempuan atau bahkan keponakannya. Pada tahap awal sejarah umat manusia, ketika manusia masih begitu dekat dengan kesempurnaan, perkawinan demikian jelas tidak menimbulkan risiko bagi anak-anak yang lahir dari pernikahan tersebut, tidak seperti keadaan sekarang.

11 Dengan mempertimbangkan konteksnya kita juga dibantu untuk memahami apa yang dikatakan orang sebagai ketidakcocokan antara rasul Paulus dan Yakobus. Di Efesus 2:8, 9, Paulus berkata bahwa umat Kristiani diselamatkan oleh iman, bukan oleh perbuatan. Ia berkata, ”Kamu diselamatkan oleh iman . . . bukan hasil pekerjaanmu.” Akan tetapi, Yakobus menandaskan pentingnya perbuatan. Ia menulis, ”Seperti tubuh tanpa roh adalah mati, demikian jugalah iman tanpa perbuatan-perbuatan adalah mati.” (Yakobus 2:26) Bagaimana kedua keterangan ini dapat dirujukkan?

12 Dengan mempertimbangkan konteks dari kata-kata Paulus, kita mendapati bahwa keterangan yang satu melengkapi keterangan yang lain. Rasul Paulus mengacu kepada usaha orang Yahudi untuk memelihara Taurat Musa. Mereka percaya bahwa jika mereka memelihara Taurat sampai ke rinciannya, mereka akan dinyatakan benar. Paulus menunjukkan bahwa hal itu mustahil. Kita tidak bisa menjadi benar—dan dengan demikian memperoleh keselamatan—dengan usaha kita sendiri, karena kita mewarisi keadaan berdosa. Kita hanya dapat diselamatkan oleh iman kepada korban tebusan Yesus.—Roma 5:18.

13 Akan tetapi Yakobus menambahkan satu pokok penting, bahwa iman itu sendiri tidak ada gunanya jika tidak didukung oleh perbuatan. Seorang yang mengaku beriman kepada Yesus harus membuktikan itu dengan perbuatannya. Iman yang tidak aktif adalah iman yang mati dan tidak dapat menghasilkan keselamatan.

14 Rasul Paulus setuju sepenuhnya dengan keterangan ini, dan ia kerap menyebutkan jenis pekerjaan yang harus dilakukan umat Kristiani untuk membuktikan iman mereka. Misalnya, kepada orang Roma ia berkata, ”Dengan hati orang percaya dan dibenarkan, dan dengan mulut orang mengaku [di depan umum, ”NW”] dan diselamatkan.” ”Mengaku di depan umum”—membagikan iman kita kepada orang lain—penting sekali bagi keselamatan. (Roma 10:10; lihat juga 1 Korintus 15:58; Efesus 5:15, 21-33; 6:15; 1 Timotius 4:16; 2 Timotius 4:5; Ibrani 10:23-25.) Namun tidak ada pekerjaan yang dapat dilakukan umat Kristiani, dan tentu saja tiada upaya untuk menggenapi Taurat Musa, yang akan membuat dia berhak untuk hidup kekal. Ini adalah ”karunia Allah” bagi mereka yang mengamalkan imannya.—Roma 6:23; Yohanes 3:16.
Sudut Pandangan yang Berbeda

15 Adakalanya para penulis Alkitab menulis tentang kejadian yang sama dari sudut pandangan yang berbeda, atau mereka menyajikan kisah mereka dengan cara yang berlainan. Apabila perbedaan ini dipertimbangkan, apa yang kelihatannya sebagai kontradiksi dengan mudah dapat dipecahkan. Sebuah contoh dari hal ini terdapat dalam Bilangan 35:14, ketika Musa berbicara tentang wilayah di sebelah timur Yordan sebagai ”di seberang sungai Yordan sini”. Akan tetapi Yosua berbicara tentang tanah di sebelah timur Yordan dan menyebutnya ”di seberang [sana] Yordan”. (Yosua 22:4) Yang mana yang benar?

16 Sebetulnya, keduanya benar. Menurut kisah di kitab Bilangan, orang Israel belum menyeberangi Sungai Yordan untuk memasuki Tanah Perjanjian, maka bagi mereka sebelah timur Yordan adalah ’seberang sini’. Tetapi Yosua telah menyeberangi Yordan. Maka secara fisik ia ada di sebelah barat sungai, di tanah Kanaan. Maka sebelah timur Yordan baginya ada ’di seberang [sana]’.

17 Tambahan pula, caranya suatu kisah disusun dapat menimbulkan apa yang tampaknya bertentangan. Di Kejadian 1:24-26, Alkitab menunjukkan bahwa binatang diciptakan sebelum manusia. Tetapi di Kejadian 2:7, 19, 20, kelihatannya manusia diciptakan sebelum binatang. Mengapa ada ketidakcocokan demikian? Karena kedua kisah mengenai penciptaan itu membahasnya dari dua sudut pandangan yang berbeda. Yang pertama melukiskan penciptaan langit dan bumi dan segala yang ada di dalamnya. (Kejadian 1:1–2:4) Yang kedua memusatkan kisahnya pada penciptaan manusia dan kejatuhannya ke dalam dosa.—Kejadian 2:5–4:26.

18 Kisah yang pertama disusun secara kronologis, dibagi menjadi enam ”hari” berturut-turut. Yang kedua ditulis menurut urutan pentingnya topik-topik. Setelah kata pengantar singkat, sewajarnya kisah itu langsung mulai dengan penciptaan Adam, mengingat bahwa ia dan keluarganya adalah subyek dari kisah selanjutnya. (Kejadian 2:7) Keterangan lain dimasukkan seperlunya. Kita diberi tahu bahwa sesudah Adam diciptakan, ia diberi tempat tinggal di taman Eden. Maka penanaman tumbuh-tumbuhan di taman Eden disebutkan. (Kejadian 2:8, 9, 15) Yehuwa memerintahkan Adam untuk memberi nama ”segala binatang hutan dan segala burung di udara”. Maka sekaranglah waktunya untuk menyebutkan bahwa ”[Yehuwa] membentuk dari tanah” segala binatang ini, walaupun penciptaannya sudah mulai lama sebelum Adam muncul di bumi.—Kejadian 2:19; 1:20, 24, 26.

Bacalah Catatan Itu dengan Cermat
19 Kadang-kadang, apa yang diperlukan untuk memecahkan sesuatu yang kelihatannya bertentangan hanyalah membaca kisah itu dengan cermat dan berpikir berdasarkan keterangan yang tersedia. Demikianlah halnya bila kita pertimbangkan penaklukan Yerusalem oleh orang Israel. Yerusalem dicantumkan sebagai bagian dari warisan Benyamin, tetapi kita membaca bahwa suku Benyamin tidak dapat menaklukkannya. (Yosua 18:28; Hakim 1:21) Kita baca juga bahwa Yehuda tidak dapat menaklukkan Yerusalem—seolah-olah itu sebagian dari warisan suku tersebut. Akhirnya, Yehuda mengalahkan Yerusalem dan membakarnya dengan api. (Yosua 15:63; Hakim 1:8) Tetapi ratusan tahun kemudian Daud dicatat menaklukkan Yerusalem.—2 Samuel 5:5-9.

20 Sepintas lalu semua ini tampaknya membingungkan, tetapi sesungguhnya tidak ada kontradiksi. Sebenarnya, tapal batas antara warisan Benyamin dan warisan Yehuda adalah sepanjang Lembah Hinom, terus sampai ke kota tua Yerusalem. Apa yang belakangan disebut Kota Daud sebenarnya terletak di wilayah Benyamin, tepat seperti yang dikatakan Yosua 18:28. Tetapi sangat mungkin bahwa ketika diduduki orang Yebusi daerah kota Yerusalem meliputi Lembah Hinom yang juga wilayah Yehuda, sehingga Yehuda pun harus berperang melawan penduduk Kanaan.

21 Benyamin tidak sanggup menaklukkan kota itu. Pada suatu peristiwa, Yehuda berhasil menaklukkan Yerusalem dan membakarnya. (Hakim 1:8, 9) Tetapi pasukan Yehuda rupanya terus bergerak maju, dan sejumlah penduduk asli menguasai kembali kota itu. Belakangan mereka membentuk pertahanan yang tidak dapat disingkirkan oleh Yehuda maupun Benyamin. Maka orang Yebusi terus tinggal di Yerusalem sampai Daud menaklukkan kota tersebut ratusan tahun kemudian.

22 Kita mendapati contoh kedua di dalam Injil. Mengenai perjalanan Yesus menuju kematiannya, kita membaca di Injil Yohanes, ”Sambil memikul salibNya [”tiang siksaannya”, NW] Ia pergi ke luar.” (Yohanes 19:17) Akan tetapi dalam Injil Lukas kita membaca, ”Ketika mereka membawa Yesus, mereka menahan seorang yang bernama Simon dari Kirene, yang baru datang dari luar kota, lalu diletakkan salib itu di atas bahunya, supaya dipikulnya sambil mengikuti Yesus.” (Lukas 23:26) Apakah Yesus yang memikul alat hukuman matinya, atau apakah Simon yang memikulnya untuk dia?

23 Pertama, Yesus jelas memikul tiang siksaannya sendiri, seperti dituturkan oleh Yohanes. Tetapi belakangan, seperti dituturkan oleh Matius, Markus, dan Lukas, Simon dari Kirene disuruh memikul tiang siksaan itu selama sisa perjalanan sampai di tempat penghukuman.
Bukti Kesaksian yang Independen

24 Memang, ada beberapa keterangan di dalam Alkitab yang kelihatannya tidak konsisten dan sukar dirujukkan. Tetapi kita hendaknya tidak beranggapan bahwa itu pasti kontradiksi. Sering kali itu hanya disebabkan oleh kurang lengkapnya keterangan. Alkitab menyediakan cukup pengetahuan untuk memenuhi kebutuhan rohani kita. Tetapi jika Alkitab harus memberikan semua rincian dari setiap kejadian yang disebutkannya, kitab itu akan menjadi sebuah perpustakaan raksasa yang berat, sebaliknya daripada sebuah buku yang mudah dipegang, mudah dibawa seperti yang kita miliki sekarang.

25 Berbicara tentang pelayanan Yesus, rasul Yohanes menulis dengan agak dibesar-besarkan namun pantas, ”Masih banyak hal-hal lain yang diperbuat oleh Yesus, tetapi jikalau semuanya itu harus dituliskan satu per satu, maka agaknya dunia ini tidak dapat memuat semua kitab yang harus ditulis itu.” (Yohanes 21:25) Jadi akan lebih mustahil lagi untuk mencatat semua yang terjadi dalam sejarah yang panjang dari umat Allah mulai dari para datuk sampai kepada sidang Kristen abad pertama!

26 Sebenarnya, Alkitab adalah sebuah buku ringkasan yang menakjubkan. Kitab ini memuat cukup keterangan yang memungkinkan kita untuk mengakuinya sebagai lebih dari sekedar sebuah karya manusia. Segala variasi yang dimuatnya membuktikan bahwa penulis-penulisnya adalah saksi-saksi yang benar-benar independen. Sebaliknya, kesatuan yang luar biasa dari Alkitab—yang akan kita bahas dengan lebih terinci dalam sebuah pasal nanti—membuktikan tanpa keraguan lagi bahwa ia mempunyai sumber ilahi. Alkitab adalah firman dari Allah, bukan dari manusia.

Sumber Diambil Dari Buku :
Firman Allah; Halaman 87 - 97; Penerbit Perkumpulan Siswa-Siwa Alkitab; Cetakan 2008.

salam,
Budi halasan - Petojo

Alkitab tidak mungkin bertentangan karena di ilhami oleh Roh Kudus yang satu.
Kalo bertentangan dan menimbulkan multitafsir berarti orang tersebut mendasarkan pengertiannya sendiri.

Syalom