Hidup dalam Kepercayaan

II Korintus 4:13-18

Tentunya saudara-saudara mengerti betul salah satu sifat manusia yang satu ini. Suka mencari alasan. Isaac Newton, fisikawan asal Inggris itu juga suka mencari alasan. Apa alasan yang menyebabkan sebuah apel jatuh dari rantingnya? Alasan yang ditemukan paling hanya sedikit. Namun, yang paling sering. Kalau sedang tidak mood atau tidak ingin melakukan sesuatu, manusia akan mencari alasan. Ia akan mencari seribu satu macam alasan, hanya agar maksudnya dapat berjalan mulus.

Untuk hal terakhir yang saya sebutkan tadi, saya kira itu merupakan bagian dari mekanisme pertahanan diri seperti yang digambarkan Sigmund Freud. Ini merupakan proses yang tidak disadari untuk melindungi, agar (misalnya) tidak disuruh ke suatu tempat. Ini kelihatan seperti Yunus, yang mencari alasan agar ia tidak harus pergi ke Niniwe. Ia melarikan diri ke Tarsus, tempat asal Paulus, mengingkari kenyataan bahwa orang-orang Niniwe mungkin akan bertobat jika ia pergi ke sana. Ia tidak ingin anugerah Tuhan dilimpahkan selain kepada bangsa Israel.

Namun, Allah mempunyai trik tersendiri untuk membentuk Yunus dalam masa ‘petualangannya’. Banyak kemalangan yang harus dihadapi Yunus dalam pelariannya. Dicampakkan ke tengah lautan, di telan ikan hidup-hidup dan dimuntahkan kembali. Betapa menjijikkan. Memang, ia bertobat dan akhirnya pergi memberitakan pesan Allah kepada orang Niniwe. Namun, kekecewaan datang kepadanya. Ia kecewa karena pertobatan orang-orang Niniwe. Ia mengeluh sepanjang hari. Menipu dirinya sendiri.

Bukankah hidup kita sering demikian? Menipu diri sendiri dan mencari alasan. Merasionalisasi segala tindakan meskipun hal itu tidak benar.

Gereja dan orang-orang Kristenpun kadang terjebak dalam masalah yang sama. Ia terjebak dalam pelayanan dalam gereja. Lupa atas orang-orang yang hadir di luar tembok gereja. Khotbah-khotbah terjebak di dalam retorika. Berkata-kata tapi tidak berbuat. Nyanyian-nyanyian rohani terjebak dalam kekosongan makna, yang penting hanya nada dan irama. Gereja yang begini lupa tujuannya. Akan selalu memberontak dan menjadi gereja yang bebal.

Paulus adalah profil orang yang hidup dalam penuh kepercayaan. Di dalam kepercayaannya ia tidak melupakan siapa dirinya. Menerima pelayanan yang ditugaskan kepadanya dengan mantap. Tidak setengah-setengah, tidak merasa kecut, tidak tawar hati.

Paulus juga merupakan profil orang yang tidak melupakan tujuannya. Ia tahu bahwa tujuannya bukan untuk membeku di tengah-tengah orang yang sudah percaya. Akan tetapi mencair, menjadi seperti air. Ia akan mengalir mencari tempat yang dapat dijangkaunya. Ia juga akan memberikan tetesannya kepada orang yang haus.

Memang, bukan berarti perjalannya akan mulus. Ia tetap memiliki hambatan. Orang-orang percaya masih ada yang meragukan kerasulannya. Orang-orang yang belum percaya pun sering menyiksanya. Dan benar, menjadi diri sendiri yang sebenarnya serta berjalan di dalam tujuan sebenarnya bukan berarti semua akan lancar. Akan tetapi, Paulus di dalam kepercayaannya yakin benar, bahwa segala penderitaan yang harus dihadapinya, dihadapinya bersama-sama dengan Kristus. Kesusahan, atau yang dalam istilahnya sendiri: penderitaan ringan, membuatnya menjadi semakin terlatih dan menjadi baru setiap hari.

Mungkin saudara pernah membaca komik yang ditulis Akira Toriyama yang berjudul Dragon Ball. Komik ini menceritakan kisah Son Go Ku, seorang bocah Saiya yang kekuatannya akan bertambah jika ia semakin sering bertarung. Semakin ia sering hampir mati, bahkan kekuatannya akan semakin berlipat ganda. Go ku tahu benar kelebihannya (baca: hakikat) ini, sehingga ia selalu bertarung dengan penuh keyakinan (baca: percaya). Saya kira, menjadi Kristen pun harus demikian. Kita harus mengetahui hakikat dan tujuan hidup kita masing-masing dan hidup di dalamnya dengan penuh kepercayaannya. Pergumulan dan tantangan yang kita hadapi, seperti kata Paulus, akan membaharui batin kita setiap hari. Kita tidak tawar hati oleh karena masalah yang di depan kita. Tetapi penuh iman dan percaya oleh karena Kristus yang tidak kelihatan itu.

source: http://pargodungan.org/hidup-dalam-kepercayaan/