[ Hamba - 1 ] Franky Sihombing : Dari Musik Turun Ke Jalan

Berikut adalah secuplik kesaksian hidup Franky Sihombing :

Gue memulai pelayanan lewat sebuah perjumpaan yang sangat berkesan dengan Tuhan YESUS pada bulan Agustus 1989. Waktu itu gue masih duduk di bangku SMA.

Musik dan nyanyi adalah talenta dominan yang Tuhan kasih ke gue. Bermula dari band sekuler di masa SMA, kemudian bersama-sama dengan teman-teman dari sebuah persekutuan doa terus berlanjut sampai terbentuknya band EZRA. Group inilah yang menjadi cikal bakal VOG. EZRA sendiri sempat menghasilkan 3 buah album yaitu KRAJAANMU DATANGLAH, HADIRMU dan EZRA PRAISE. Sedangkan VOG sempat mengeluarkan 2 buah album, yaitu KUSADARI dan VOICE OF GENERATION.

Cita-cita awal gue sebenernya menjadi seorang musisi. Tapi pertemuanku dengan YESUS membuat gue berbalik haluan dan akhirnya memilih untuk mulai eksis di musik rohani. Dulu gue ga pernah berpikir tentang karir gue nantinya gimana, tapi satu kerinduan gue, bagaimana gue bisa memberitakan YESUS yang telah merubah hidup gue kepada generasi muda dengan cara yang lebih nyantai, dengan bungkus yang lebih kreatif dan gue lihat lewat musik hal itu bisa terealisasi. Lewat musik, orang bisa menerima pesan yang ingin gue sampaikan dengan lebih gampang.

Dalam penciptaan lagu-lagu gue, tidak ada moment atau situasi khusus yang bisa memancing gue untuk berkarya. Karena yang namanya ide itu datangnya sangat tiba-tiba, ga ngeliat tempat, suasana hati atau apapun juga. Jadi bisa dalam situasi apa aja. Lagi mandi, di pesawat, kereta tiba-tiba ide dasar itu muncul. Biar ga lupa, saat itu juga langsung gue rekam di HP. Setelah itu gue meluangkan waktu untuk membuat lagu itu menjadi lagu yang lengkap. So, you can see semua musik yang mengalir lewat gue semata-mata anugerah dan kasih karunia YESUS semata. Gue sadar banget akan keberadaan gue sebagai saluran dan alat yang mengalirkan pesan-pesan Tuhan bagi generasi muda.

Selain menekuni jalur musik rohani, gue juga mendapat ‘beban’ dari Si Sumber Inspirasi dan Hidup itu (YESUS -red). Gue mulai membentuk komunitas yang bernama ‘Generasi Tanpa Tembok’ (GTT). Pelayanan ini dimulai sekitar tahun ’97-‘98an. Saat itu gue dan tim memfokuskan untuk melayani *anak-anak jalanan, preman, pelacur, punkers dan sebagainya. Masih teringat gimana kita turun ke jalan-jalan di daerah Blok M, Mahakam dan beberapa tempat lainnya di Jakarta. Di sana kita mulai berkenalan dengan yang namanya ‘orang-orang terhilang’ (yang ada tanda *).

Waktu itu gue cuman berpikir untuk melayani orang-orang yang tidak terperhatikan dalam gereja. Biasanya kalau kita bicara tentang penuaian jiwa-jiwa, kebanyakan fokusnya itu bukan untuk orang-orang yang terbuang dari masyarakat tapi untuk orang-orang yang kondisinya lebih baik dari mereka. Seperti misalnya pengusaha yang belum bertobat, mahasiswa dan lain-lain. Tidak ada yang berpikir soal menjangkau anak-anak punkers, anak-anak jalanan, banci dan lain-lain. Sedangkan gue pengen ada orang-orang yang justru memperhatikan orang-orang yang tidak terperhatikan dalam gereja pada umumnya. Tuhan yang kasih beban itu ke gue karena gue pikir kalau bukan Tuhan yang kasih, siapa yang mau? Kan lebih enak melayani di gereja-gereja yang mapan daripada pelayanan yang gue pilih. Tapi itulah beban yang Tuhan kasih and gue cuman melaksanakan apa yang Tuhan taruh di dalam hati gue.

Semua ini terlaksana karena gue punya tim. Gue merasa lebih maksimal bekerja dengan adanya orang lain yang sepakat. Jadi waktu pertama kali memulai pelayanan ini benar-benar bareng-bareng dengan tim. Orang-orang yang kita layani, follow up-nya pun betul-betul real sampai kami tampung di rumah, kemudian kami juga mengontrak satu buah rumah lagi untuk bisa menampung mereka sampai kami lihat perubahan dalam hidup mereka. Sampai saat ini gue lihat Tuhan terus bawa kami untuk ga terus terpaku di visi itu. Jadi pelayanan ini sudah semakin berkembang dan sekarang lebih ke anak-anak yang tidak bersekolah dan kami menyemangati supaya mereka bisa sekolah dan biayanya di cover.

Pelayanan kami saat ini lebih berbentuk kepada gereja rumah dengan kejemaatan hanya sekitar 25 orang. Tapi gue rindu banget supaya kehidupan kerohanian mereka betul-betul terjaga. Dari 25 orang ini, mereka punya pelayanannya masing-masing. Mereka bikin gereja-gereja rumah sendiri-sendiri. Ada yang buka sekolah gratis di kolong jembatan di daerah Jakarta Barat, ada yang ngumpulnya sama pendaki gunung-pendaki gunung, anak-anak band, orang-orang yang modelnya seperti itu tapi beda-beda warna. Jadi mereka ini bisa dikatakan menjadi pemimpin untuk melayani orang-orang yang tadinya tidak terperhatikan oleh gereja.

Dulu orang menganggap untuk bergaul dengan mereka, hidup dengan mereka adalah sesuatu yang menyeramkan. Tapi yang gue lihat dan alami ternyata ga seperti itu. Yang gue alami bersama keluarga itu ‘fun’ banget. ‘Fun’dalam pengertian ternyata mereka tidak seberangasan seperti yang kita pikirkan. Mungkin di jalanan mereka seperti kelihatan keras, tapi pada dasarnya dalam hubungan sehari-hari, mereka sangat manusiawi banget. Bisa nangis bareng, bisa ketawa bareng, dan gue sadar kalau ternyata setiap orang itu punya dasar hidup yang baik dan benar. Hanya saja mereka tumbuh dalam lingkungan keluarga yang salah, lingkungan yang keras dan kondisi lainnya yang akhirnya membuat mereka menjadi seperti itu.

Bicara tentang penampilan gue yang seperti ini (Bang Franky Sihombing ini bertato loh…-red), sebenarnya 100% tujuannya bukan untuk pelayanan tapi lebih karena memang gue suka. Ini alasan pertama. Gue suka tampil apa adanya, ekspresif dan bisa mencerminkan siapa gue sebenarnya. Tapi memang gue juga ga bisa memungkiri kalau penampilan ini punya andil untuk membuat pelayanan gue bisa lebih diterima dan lebih enak untuk bisa bersama-sama dengan komunitas pelayanan gue. Dengan penampilan gue yang apa adanya, mereka bisa lebih ‘fun’ ke gue dibanding gue yang formal… lebih besar kemungkinan untuk mereka menjauh.

Tidak selamanya di dalam pelayanan gue selalu merasa OK. Ada kalanya stagnasi pada suatu titik dan perasaan pengen berhenti itu ada. Biasanya yang menjadi ‘trigger’-nya adalah kejadian-kejadian. Ada banyak kejadian misalnya kalo gue melihat ada satu orang kok ga berubah-berubah, atau gue merasa gagal untuk beberapa orang yang gue layani. Gue sempat berpikir, ‘Apakah memang ini benar? Apakah yang gue lakukan sekarang itu sudah seharusnya?’ Kadang kalau melihat pelayanan orang lain pun bisa membuat gue berpikir. Kenapa gue ada di sini? Kenapa gue ga milih pelayanan seperti yang dia pilih? Tapi gue lihat penghiburan dari Tuhan itu ga pernah berhenti. Tuhan hibur gue dengan melihat segelintir orang yang bisa diubahkan dan dipimpin yang akhirnya mereka pun bisa memimpin dan menginspirasi orang lain.

Kunci yang terpenting untuk dapat bertahan dan menghadapi saat-saat sulit dalam pelayanan adalah komunitas. Gue bersyukur banget untuk komunitas yang gue miliki sekarang. Gue ada di komunitas yang saling mengingatkan dan saling menguatkan. Dukungan dari keluarga juga benar-benar gue rasakan dalam menjalankan pelayanan ini, terutama dari istri gue. Dia termasuk orang yang selalu mendorong gue untuk terus maju dan menjalani pelayanan yang sudah Tuhan kasih untuk gue jalanin. Yang pasti, bantuan dari orang-orang terdekat itu berarti banget buat gue. Untuk saat ini gue sedang mengerjakan album HEALING WORSHIP 2 yang akan keluar akhir tahun ini. Album gue yang terbaru adalah SAAT MENYEMBAH 5 (let’s check it out haha…). Buat gue, Tuhan itu luar biasa and gue tahu DIA belum selesai berkarya dalam hidup gue.

15 August 2007

Sumber : http://www.jawaban.com/index.php/mobile/spiritual/detail/cat/56/id/070815170558/page/170/comment/5

gw pernah ke GETT tempatnya bang Frangky melayani. :slight_smile: gw melihat ke HUmble an beliau

beda banget dengan artist2 rohani yang klo di undang harus ini itu ini itu bikin ribet dah kaya artis dunia saja… bahkan lebih parah pasang tarif MAHAL… klo ga sesuai dia ga mau melayani… astagafilulah

klo bang frangky hanya dengan gitar kopong pun bisa melayani di gereja2 kecil, tanpa mandang dari mana denominasi itu berasal

Franky Sihombing bisa menjadi contoh bagi kita semua bagaimana cara yang benar untuk membalas kasih Tuhan pada kita: Dengan mengasihi sesama kita YANG TERABAIKAN OLEH GEREJA.
Bro Repento benar, menerapkan Kasih itu bukan dengan cara KKR yang “sepertinya” mengasihi jiwa2 yg terhilang, tapi sesungguhnya cuma cari tambahan buat menuhin dompet pendetanya. Apa yang dilakukan Pdt. Franky Sihombing merupakan contoh yang benar bagaimana menerapkan “Kasih” dalam seluruh ajaran Alkitab. Semoga Franky bisa menjadi teladan bagi kita semua orang Kristen.