Gerakan Ekumenis Gereja Orthodox dan Gereja Katolik Roma: Kredo "et Filioque"

Persetujuan Bersama Katholik Roma dan Orthodox dalam diskusi Theologi bersama di St. Paul College, Washington DC, Oktober 2003.

http://sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc4/hs1220.snc4/155272_463363150562_138370690562_6256265_2436997_n.jpg

Kami menyadari bahwa masalah teologi dari Filioque, dan penggunaannya dalam kredo, bukan hanya masalah antara Katolik Roma dan persatuannya dengan Ortodox. terlebih juga menyangkut masalah untuk mayoritas Gereja Protestan, yang menggambar pada warisan teologis Barat Abad Pertengahan, menambahkan istilah untuk mewakili suatu bagian integral dari pengakuan Kristen Orthodox. Meskipun dialog antara sejumlah Gereja-Gereja dan persekutuan Orthodox telah menyentuh isu tersebut, Penyelesaiannya di masa depan terhadap perselisihan antara Timur dan Barat pada asal Roh harus melibatkan semua Gereja yang mengaku Kredo dari tahun 381 sebagai standar iman. Menyadari keterbatasannya, kita tetap membuat Konsultasi teologis dan praktis berikut rekomendasi-rekomendasi kepada para anggota dan para uskup dari Gereja :

  • bahwa kedua Gereja berkomitmen untuk sungguh-sungguh berdialog dan mengungkapkan pribadi sebenarnya dari ROH KUDUS sesuai dengan gambaran pada Kitab Suci dan pada kekayaan penuh dari tradisi teologis dari kedua Gereja, dan untuk mencari cara-cara yang konstruktif mengungkapkan apa yang adalah pusat iman kita pada masalah yang sulit ini

  • Bahwasanya semua pihak yang terlibat dalam dialog tersebut serta-merta mengakui keterbatasan-keterbatasan kemampuan kami untuk membuat asersi-asersi definitif mengenai hidup pribadi Allah.

  • Bahwasanya, di kemudian hari, dengan adanya kemajuan dalam saling memahami yang telah timbul dalam dasawarsa-dasawarsa terakhir, umat Orthodox dan Katolik berhenti memberi label bidaah pada tradisi-tradisi dari pihak lain dalam hal prosesi ROH KUDUS.

  • Bahwasanya para teolog Orthodox dan Katolik makin jelas membedakan antara identitas ilahiah dan hipostatis dari ROH KUDUS (yang merupakan suatu dogma yang diterima oleh Gereja-Gereja kami) dan cara ROH KUDUS berasal-usul, yang masih menunggu resolusi ekumenis yang sepenuhnya dan bersifat final.

  • Bahwasanya pihak-pihak yang terlibat dalam dialog mengenai isu tersebut membedakan, sedapat mungkin, isu-isu teologis mengenai asal-usul ROH KUDUS dari isu-isu eklesiologis mengenai primasi dan otoritas doktrinal dalam Gereja, bahkan di saat kami membahas kedua permasalah tersebut dengan serius, secara bersama-sama.

  • Bahwasanya dialog teologis antara Gereja-Gereja kami juga secara hati-hati membicarakan status dari konsili-konsili mutakhir yang diadakan dalam kedua Gereja kami setelah ketujuh konsili yang secara umum diterima sebagai konsili ekumenis.

  • Bahwasanya Gereja Katolik, sebagai konsekuensi dari nilai dogmatis yang normatif dan yang tak terbatalkan dari Kredo tahun 381, hanya menggunakan naskah Yunani asli dalam membuat terjemahan-terjemahan Kredo tersebut bagi keperluan katekese dan liturgi.

  • Bahwasanya Gereja Katolik, mengikuti konsensus teologis yang makin berkembang, khususnya pernyataan-pernyataan yang dikeluarkan oleh Paus Paulus VI, menyatakan bahwa pengutukan yang dilakukan dalam Konsili Lyons II (1274) atas orang-orang “yang berani menyangkal bahwa ROH KUDUS keluar secara kekal dari Sang Bapa dan Sang Putera” tidak berlaku lagi.

http://photos-c.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash2/hs569.ash2/149140_170584519632054_170524886304684_489827_3870814_a.jpg

Dokumen Gereja Katolik Roma Yang Bersangkutan

  1. It is clear, therefore, that one and the same faith is to be confessed and lived out in all the local Churches, the same unique Eucharist is to be celebrated everywhere, and one and the same apostolic ministry is to be at work in all the communities. A local Church cannot modify the Creed, formulated by the ecumenical Councils, although the Church ought always “to give suitable answers to new problems, answers based on the Scriptures and in accord and essential continuity with the previous expressions of dogmas” (Bari Document, n.29). Equally, a local Church cannot change a fundamental point regarding the form of ministry by a unilateral decision, and no local Church can celebrate the Eucharist in wilful separation from other local Churches without seriously affecting ecclesial communion. In all of these things one touches on the bond of communion itself – thus, on the very being of the Church.

Source: http://www.vatican.va/roman_curia/pontifical_councils/chrstuni/ch_orthodox_docs/rc_pc_chrstuni_doc_20071013_documento-ravenna_en.html

Gereja Lokal tidak diperkenankan untuk mengubah Kredo hasil Konsili.

Best Regard,
Daniel FS

UT OMNES UNUM SINT