dibenarkan oleh darah dan dibenarkan oleh kebangkitan

Apa artinya dibenarkan oleh darah (Rm.5:9, apa pula artinya di¬benarkan oleh kebangkitan. (Rm.4:25) ?

Rm.5:9 mengatakan, “…karena kita sekarang telah dibenarkan o¬leh darahNya…”. 4:25-“Yesus…dibangkitkan karena pembenaran kita.” Bagaimana kedua ayat ini bisa digandengkan? Perlu kita selidiki: apakah artinya dibenarkan oleh darah, apa pula artinya dibenarkan oleh kebangkitan? Berapakah besarnya ruang lingkup dibenarkan oleh darah dan berapakah besarnya ruang lingkup dibenarkan oleh kebangkitan.

Dalam Alkitab pembenaran mengandung dua makna: pertama berarti Anda tidak ada dosa; kedua berarti Allah menganggap Anda benar dan sempurna. Adam dan Hawa sebelum mereka berbuat dosa tidak beroleh membenaran Allah. Sedangkan Kristus di hadapan Allah adalah benar dan sangat sempurna. Setiap orang Kristen pada saat datang ke depan Allah, Allah tidak saja berkata kepada Anda bahwa Anda adalah orang berdosa yang beroleh pengampunan, Allah pun berkata bahwa Anda benar. Anda datang ke depan Allah tidak saja tanpa noda dosa, bahkan mengenakan jubah kebenaran. Setiap orang yang datang ke depan Allah di dalam Kristus, Allah menerima dia seperti halnya menerima Kristus.

Apa perbedaan antara dibenarkan oleh darah dan dibenarkan oleh kebangkitan? Dibereskannya masalah dosa kita itu adalah oleh darah Tuhan Yesus. Dengan mengalirkan darah Dia telah meniadakan berkas dosa. Dan diterimanya kita ketika kita datang kehadapan Allah itu ada¬lah oleh kebangkitan Tuhan Yesus. Kebanyakan orang Kristus mempunyai satu kesalahan besar, yakni menganggap pengampunan dosa mencakup se¬mua masalah. Memang pengampunan dosa boleh membuat kita gembira, tapi karunia yang Allah berikan kepada di dalam Kristus tidak cuma pengampunan saja. Ketahuilah bahwa pengampunan bukan totalitas karunia keselamatan. Ada yang mengatakan asalkan bisa masuk ke sorga itu sudah cukup, bahkan ada yang menyatakan asalkan bisa berdiri di depan gerbang surga pun sudah cukup. Bila kita berpikir demikian itu berarti kita masih belum tahu apa itu kasih karunia Allah. Alkitab mewahyukan kepada kita bahwa kasih karunia Allah tidak cuma pengampunan dosa belaka melainkan masih ada kebenaran yang teramat mulia, yaitu tatkala kita datang ke hadirat Allah di sorga, dalam pandanganNya kita adalah o¬rang-orang yang diperkenan. Penyamun yang beroleh selamat menjelang mati itu, adalah sama beroleh perkenan Allah dengan rasul Yohanes, Petrus dan Paulus. Dalam pandangan Allah, seorang yang di dalam Kristus tidak saja tanpa cacat cela, bahkan tanpa noda. Apakah noda itu? Misalkan tangan saya terkerat oleh pisau, walau kemudian sudah sembuh, tetapi meninggalkan sebuah bekas luka. Walau hari ini sudah tidak berbahaya lagi namun bekas luka ini tetapi membuktikan bahwa saya dahulu pasti pernah mengalami suatu peritiwa. Alkitab menunjukkan kepada kita bahwa Allah bisa menyelamatkan kita hingga tanpa bekas. Allah dapat menyelamatkan Anda sedemikian rupa sehingga Anda tidak lagi mengenang diri Anda sendiri bagaimana dulu sebagai orang dosa dan merasa tidak enak. Perbuatan Allah selalu sempurna.Dia tidak saja mengampuni dosa-dosa kita, tetapi Dia juga menyelamatkan kita hingga kita menjadi seorang yang benar.

Darah pada aspek obyektif menebus dosa kita di hadapan Allah. Darahpun menyucikan hati nurani manusia (Ibr.9:14). Ketika Allah tiap kali mengingat dosa Anda, seraya teringat pula betapa darah telah membasuh dosa-dosa Anda, dan hati nurani Anda segera merasa damai. Itulah khasiat darah pada aspek subyektifnya. Tuhan Yesus mengalirkan darahNya, mene¬bus dosa kita di hadapan Allah demi membereskan masalah dosa kita, bersamaan dengan itu, darah Tuhan Yesus pun telah menyucikan hati nurani kita.Apakah hati nurani? Itulah suara atau bisikan yang sering mendengung mencela dosa Anda di batin Anda pada saat Anda berbuat dosa. Darah Tuhan dapat menyucikan hati nurani Anda, supaya Anda memiliki hati nurani yang tidak merasakan dosa lagi. Jika ada seorang Kristen selalu tertuduh oleh hati nuraninya, itu bukanlah berarti ia rendah hati, melainkan tidak beriman terhadap sabda Allah, dan mere¬mehkan pekerjaan Kristus. Hati nurani setiap kita hendaknya tidak lagi membiarkan dosa-dosa yang lampau menuduh kita, tetapi haruslah per¬caya bahwa darah telah menyucikan segala dosa kita.

Dahulu ada seorang perempuan, ia berusia lebih dari 50 tahun. 20 tahun yang lampau ia pernah melakukan suatu dosa yang sangat mencemarkan nama baiknya selama beberapa bulan. Walaupun kemudian ia berto¬bat, namun selalu ada suatu suara tuduhan yang mengatakan bahwa dosanya tidak mungkin diampuni. Karenanya ia selalu tidak damai. Pada suatu kali ia berjumpa dengan seorang penginjil, dan ia mengisahkan sejarahnya kepadanya serta mengatakan betapa ia selalu duka karena dosa tersebut, dan tidak ada kedamaian. Sang penginjil itu bertanya kepadanya apakah ia pernah membaca I Yohanes 1:7. Jawabnya pernah. "Mari kita baca kalimat terakhir dari ayat itu" kata penginjil itu, "...dan darah Yesus, AnakNya itu, menyucikan kita dari pada segala dosa." "Apakah selain dosa itu Anda masih melakukan dosa lainnya?" –“Ya, saya pun pernah melakukan dosa lain, tetapi dosa lain telah disucikan oleh darah, namun hanya dosa yang satu ini belum disucikan.” Penginjil itu berkata kepadanya, “Alkitab saya mengatakan darah-Nya menyucikan kita dari pada segala dosa, tidak mengatakan menyucikan kita dari pada dosa lain.” Kemudian dia membaca bersama ayat 9: “Jika kita mengaku dosa Kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan." Selesai membaca penginjil itu bertanya kepadanya, "Bagai¬manakah Allah yang setia dan adil itu mengampuni dan menyucikan Anda dari segala dosa Anda?" "Saya harus mengaku dosa saya," jawabnya. "Kalau begitu sudahkan Anda mengaku dosa Anda?" - "Saya sudah mengaku dosa saya puluhan bahkan ratusan kali."- "Baiklah kalau demikian sabda Allah: bila Anda mengaku dosa Anda, Ia akan mengampuni Anda dan menyucikan Anda."	"Tapi saya tidak merasakan hal itu." - "Jika Allah yang di sorga sudah mengampuni Anda dan menyucikan Anda, itu sudah cukup, tidak perlu Anda merasakannya atau tidak." - " ya,sudahlah, tidak mengapa." Lalu mereka berdoa bersama. Penginjil itu berkata kepadanya, "Bila Anda percaya kepada sabda Alkitab, doa Anda baru¬lah berguna, jika tidak percaya, berdoa pun tidak ada gunanya. "Dengan kata-kata sederhana penginjil itu menyerahkannya kepada Allah, mohon Al¬lah membuat ia percaya bahwa dosanya sudah beroleh pengampunan dan penyucian. Perempuan itu kemudian berdoa: "Ya Allah, penyakitku dulu ialah tidak percaya pada karya Kristus. Sekarang aku percaya pada karya Kristus, percaya pada sabdaMu, karenanya dosaku sudah Kau ampuni dan sudah Kausucikan." Kemudian ada seorang berjumpa dengan sau¬dari tua itu dan bertanya kepadanya bagaimana keadaannya. Ia menjawab, "Saya sekarang sangat gembira!" Kebanyakan orang tidak nampak dengan jelas akan hal ini. Karena itu mereka setiap hari selalu memandang pada dosa, tanpa memandang pada Juruselamat, kasih karunia Allah dan karya Kristus. Tetapi orang yang semakin memikirkan dosanya sendiri, ia adalah orang yang semakin bisa berbuat dosa. Jika Anda memandang pada Tuhan Yesus, percaya pada pekerjaanNya, Anda akan melupakan dosa Anda itu. Kita beroleh selamat tergantung pada memandang pada Tuhan, bukan tergantung pada memikirkan diri sendiri. Jika Anda memperhatikan dosa itu, maka dosa itu akan semakin sulit ditiadakan; tapi jika Anda memandang pada Tuhan, Anda akan kian dimuliakan, sehingga beru¬bah menjadi rupa Tuhan.

Dibenarkan oleh kebangkitan adalah aspek positifnya. Ketika Tuhan bangkit dari kematian, dibagikanNyalah hayat baru kepada kita. Hayat baru ini benar adanya, sebenar Tuhan itu sendiri. Hayat ini ti¬dak bisa berbuat dosa. Bila Allah melihat hayat ini pada kita, maka Ia akan membenarkan kita. Kebangkitan Kristus tidak hanya mem-bagikan hayat baru kepada kita, bahkan hayat kita tersembunyi bersama dengan Kristus di dalam Allah (Kol.3:3). Pada aspek subyektif, Kristus adalah hayat kita di batin kita, itulah yang kita peroleh ketika kita dilahirkan ulang; dan hayat ini ialah hayat kebangkitan. Sedangkan pada aspek obyektif, di dalam Kristus kita dinyatakan di hadapan Allah, kita memiliki satu posisi baru yang membuat Allah memandang kita seperti Kristus - Bagaimana Ia memandang Kristus, demikian pula Ia memandang kita. Karena itu kita tidak gentar ketika kita datang ke hadapan Allah. Kita dapat berkata: haleluya! Kita dapat datang ke hadirat Allah dengan hati yang tabah dan iman yang penuh. Kita dapat berkata kepada Allah, Kau adalah Bapa-Ku, aku adalah anak-Mu. Allah telah membenarkan kita, siapakah yang dapat menghukum dosa kita! Di dalam Kristus kita dinyatakan di hadapan Allab, indahnya ti¬dak ada bandingannya. Ada sebuah syair mengatakan: "Demikian amat de¬katnya aku dengan Allah, tak bisa lebih dekat lagi; oleh AnakNya aku kini dapat semesra dengam—AnakNya. Demikian sangat kasihNya padaku, tak dapat lebih mengasihi lagi; bagaimana Ia mengasihi AnakNya, demikian pula kasihNya padaku." Hayat dalam batin kita adalah pemberi¬an Kristus; kedudukan kita di hadapan Allah juga pemberian Kristus. Kebanyakan orang Kristen tidak bisa maju justru karena hati nurani mereka tertuduh sehingga tidak bebas di hadapan Allah. Bila hati nurani berlubang, iman pun bocorlah. Bila hati nurani kita tertuduh ke¬tika kita berdoa, niscayalah iman kita menjadi lemah.

Dengan darah kita dibenarkan, maka bereslah masalah dosa kita, dan dalam pandangan Allah kita tidak berdosa. Sedangkan dengan ke¬bangkitan kita dibenarkan, maka Kristus menjadi hayat di batin kita, dan kita telah memiliki satu kedudukan baru di hadapan Allah, sama seperti Kristus di hadapan Allah.

Itulah iman yang benar…kita bukan lagi orang berdosa ttp orang kudus,kita bukan lagi orang yang salah ttp orang benar ,kita bukan lagi anak hantu ttp anak Tuhan …

Setuju ^^