di Katolik ketika homili, pembacaan Kitab selain Injil hanyalah hiasan saja.

Guys, sadar atau tidak bahwa di dalam liturgi ekaristi ada beberapa pembacaan.

contoh.
Bacaan I : Keluaran
Bacaan II : Surat Paulus
Bacaan III : Injil

namun pada saat homili sang Pastor hanya membahas/menguraikan tentang Injil.
padahal bacaan I, II, dan III saling berkaitan.

namun Pastor tidak pernah/tidak sedikitpun membahas atau menyinggung ayat-ayat pada bacaan I dan II.

lalu untuk apa bacaan I dan II dimasukkan dalam liturgi ??

(berdasarkan pengalaman setelah mencoba mengikuti ibadah di gereja Katolik selama 3 bulan/12 kali berturut-turut)

Guys, sadar atau tidak bahwa di dalam liturgi ekaristi ada beberapa pembacaan.

contoh.
Bacaan I : Keluaran
Bacaan II : Surat Paulus
Bacaan III : Injil

namun pada saat homili sang Pastor hanya membahas/menguraikan tentang Injil.
padahal bacaan I, II, dan III saling berkaitan.

namun Pastor tidak pernah/tidak sedikitpun membahas atau menyinggung ayat-ayat pada bacaan I dan II.

lalu untuk apa bacaan I dan II dimasukkan dalam liturgi ??

(berdasarkan pengalaman setelah mencoba mengikuti ibadah di gereja Katolik selama 3 bulan/12 kali berturut-turut)

Tergantung Pastornya itu, ada yang Homilinya panjang ada yang pendek, ada pula yang mengkaitkan bacaan, ada pula yang cuma mengambil 1 sub bacaan.

Kalaupun pembacaan tidak dibahas tetap tidak apa-apa, karena iman timbul dari “pendengaran” akan Firman.

Rm 10:17
17. Jadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus.

Konsepnya sama seperti di Protestan, kalau ada yang tanya: “Apa perlu saya baca Alkitab rutin? Tapi saya tidak mengerti lho artinya?”, dulu biasanya saya jawab: “Tidak apa-apa, baca saja rutin, nanti secara pelan-pelan pasti mengerti juga seiring dengan berjalannya waktu”.

Best Regard,
Daniel FS

masalahnya setiap minggu kan pastornya gonta-ganti dan semua pastor tersebut juga hanya membahas injil baik itu saat homilinya pendek atau panjang.

saya tidak akan membahas hal ini kalau saya tidak mengalaminya.
bayangkan bro selama 3 bulan berturut-turut.

Jadi menurut saya bacaan lain tidak perlu dimasukkan pada saat liturgi.

salam

Bukannya di katolik memang Injil dianggap lebih spesial?
Soalnya saya lihat dari gaya membacanya, Injil terlihat lebih dihormati dari kitab2 lainnya…
CMIIW

injil adalah semua kata - kata yang keluar dari mulut YESUS Anak Manusia waktu di bumi.

Ya kalau pengalaman saya pas mencoba memahami Katolik dan beribadah di Gereja Katolik dulu, bermacam-macam koq Homilinya, ada yang bahas Kitab Keluaran juga disamping Injil, bacaan lain tetap perlu dibacakan karena sesuai dengan Rm 10:17 dan Tradisi Rasuli menetapkan pola yang demikian.

Jadi memang bukan masalah “menurut saya (pribadi)” namun menurut Alkitab dan ajaran para rasul.

Atau mungkin soalnya bro datang yang Misa Pagi, kalau Misa Pagi kan memang singkat 30 menit, mungkin bisa dicoba yang Minggu, dan bisa dicoba datang ke Gereja Katolik yang lain.

Best Regard,
Daniel FS

Sumber: http://www.salibsucipwk.com/visi_dan_misi/index_files/Liturgi.htm
Pada umumnya liturgi sabda terdiri dari:

  1. Bacaan I

      Diambil dari Perjanjian Lama. Setiap pembacaan Kitab Suci harus selalu diakhiri dengan kata-kata “Demikianlah Sabda Tuhan”. Kata-kata ini merupakan pernyataan resmi bahwa yang dibacakan tadi adalah sabda Allah sendiri sebab Allah hadir ketika Kitab Suci dibacakan. Dan umat menjawab “Syukur kepada Allah”.
    
  2. Mazmur Tanggapan

            Merupakan jawaban umat terhadap sabda Allah yang baru saja diwartakan dan didengarkan. Mazmur tanggapan termasuk unsur pokok dalam liturgi sabda. Ada petugas yang mendaraskan Mazmur dan umat berpartisipasi dengan mengucapkan refrain.
    
  3. Bacaan II

      Diambil dari Perjanjian Baru. Biasanya diambil dari surat sehingga bacaan II sering disebut epistola (=surat).
    
  4. Bait Pengantar Injil (Alleluia)

    Merupakan seruan kepada Kristus, maka umat berdiri. Alleluia dinyanyikan sepanjang tahun kecuali dalam masa Prapaskah.

  5. Injil

            Bacaan Injil merupakan puncak seluruh liturgi sabda. Pembuatan tanda salib pada dahi, mulut dan dada merupakan kebiasaan kuno yang sudah dikenal Gereja selama lebih dari 1000 tahun. John Beleth, teolog abad XII melihat tanda salib sebelum Injil ini sebagai nasihat dan kesiapsediaan untuk bersaksi tentang sabda Allah dengan gagah berani, tanpa menyembunyikan wajah kita, untuk mengakui Injil dengan mulut dan memeliharanya dengan setia di dalam hati kita. Orang juga biasa menafsirkan pembuatan tanda salib pada ketiga tempat ini sebagai: “Sabda-Mu ya Tuhan, kami pikirkan dan renungkan, kami wartakan dan kami resapkan di dalam hati kami”. Pembuatan tanda salib oleh pembaca Kitab mengungkapkan bahwa dalam Injil ini Salib Kristus diwartakan.
    
  6. dst

Sumber: Ambil Bagian dalam Misa

BAGIAN KEDUA : LITURGI SABDA

Jika kita berkumpul bersama di rumah seorang teman untuk suatu perjamuan, kita selalu memulainya dengan percakapan. Dalam Misa setelah upacara pembukaan, kita duduk dan mendengarkan Sabda Tuhan. Pada hari Minggu ada tiga bacaan dari Kitab Suci.

Bacaan Pertama
Bacaan Pertama diambil dari Kitab Suci Perjanjian Lama. Kita diajak untuk mengingat kembali sejarah perjanjian kita. Bacaan pertama ada hubungannya dengan Injil hari itu; tujuannya memberi latar belakang sehingga menambah pengertian/pemahaman kita akan apa yang akan dilakukan Yesus dalam Injil.

Mazmur Tanggapan
Kemudian umat akan menanggapi Sabda Tuhan dengan menyanyikan atau mendaraskan sebuah mazmur - nyanyian yang diilhami oleh Allah sendiri karena diambil dari Kitab Mazmur.

Bacaan Kedua
Bacaan Kedua biasanya diambil dari salah satu surat Rasul Paulus atau tulisan-tulisan apostolik lainnya.

Alleluya / Bait Pengantar Injil
ALLELUYA. Semua umat berdiri sebagai ungkapan hormat pada Sabda Allah.

Injil
Bacaan Ketiga diambil dari salah satu dari keempat Injil. Kita, umat Katolik, biasanya tidak dikenal sebagai umat yang gemar membaca Kitab Suci, namun demikian pada dasarnya keseluruhan Misa diambil dari Kitab Suci. Bahkan orang Katolik sendiri pun akan terkejut mendapati betapa banyaknya bagian Misa yang diambil dari Kitab Suci: bukan hanya ketiga bacaan dan mazmur, bukan hanya doa-doa yang secara nyata dikutip dari Kitab Suci seperti Kudus, Kudus, Kuduslah Tuhan dan doa Bapa Kami, tetapi hampir semua kata dan kalimat doa dalam Misa diambil dari Kitab Suci.

Karena kehadiran Kristus yang unik pada waktu Injil dibacakan, maka sejak lama telah menjadi kebiasaan umat berdiri dengan sikap penuh perhatian untuk mendengarkan Sabda Allah. Kita percaya bahwa Kristus “hadir dalam sabda-Nya, karena Ia sendirilah yang berbicara ketika Kitab Suci dibacakan di gereja” (Konstitusi tentang Liturgi Kudus #7). Imam akan sekali lagi menyapa kita dengan “Tuhan sertamu.” Kemudian Imam memberi pengantar pada bacaan Injil dengan berkata, “Inilah Injil Yesus Kristus menurut ….” sambil membuat tanda salib kecil di kening, bibir dan hati dengan ibu jarinya dan berdoa dalam hati supaya Tuhan membersihkan pikirannya dan juga hatinya dan agar supaya bibirnya layak mewartakan Injil. Gerakan ritual imam ini juga diikuti oleh seluruh umat. Kemudian kita duduk untuk mendengarkan bacaan Injil.

Aklamasi Sesudah Injil
Imam mengakhiri bacaan Injil dengan, “Demikianlah Injil Tuhan,” dan kita menjawab, “Terpujilah Kristus.” Sekali lagi kita menyatakan iman di hadapan Kristus yang hadir dalam sabda-Nya. Sesudah itu umat duduk untuk mendengarkan homili.

Nah, Pastor prnh blg sm saya kalau bacaan I itu bs sbgai pmbanding dg bacaan II.

Sebab bacaan I itu diambil dr PL. (masih berlaku hukum taurat)
Bacaan II diambil dr PB. (di mana mgikuti ajaran Yesus)

Yg paling utama adalah bacaan Injil sbgai liturgi sabda.

injil adalah kabar baik, kabar suka cita.

ada 4 injil yaitu Matius, Markus, Lukas dan Yohanes menceritrakan kisah hidup Yesus juga ucapan Yesus ketika masih berada di dunia.

pantesan kurang… tambahin 3 bulan lagi … kalo masih kurang juga…

tandanya kamu ngga sabaran mau ngejelasin bacaan injil ya bro., bawaannye pengen maju kedepan altar !!! :slight_smile: .

btw, ada nggak yang homilinya menuhankan bunda Maria…

jawab yang jujur ya victor…hehe…

iya ya…aku baru sadar…klo setiap homili tidak pernah tuh aku dengar klo Pastor menuhankan Bunda Maria.

loh maksudku itu…klo tidak dijelaskan justru membuang-buang waktu saja.

hi bro,
baru muncul, tuh banyak topik laen yg masih seru !!! :slight_smile:

Wah, berarti menurut bro victor90 membaca Kitab Suci adalah buang-buang waktu saja?
Lalu bagaimana nasib pembantu rumah tangga saya yang sekalipun membaca Kitab Suci namun tidak mengerti? Haruskah ia tidak membaca Kitab Suci karena hal itu sia-sia saja…

Hal ini bertentangan dengan Rm 10:17, iman itu timbul dari pendengaran akan Firman Kristus (bukan timbul dari kajian mengenai Firman Kristus), inilah iman bagi mereka yang awam maupun yang suka Theologi.

Best Regard,
Daniel FS

karena itu pembantu itu harus ada pembimbing rohani.
klo pembantu itu hanya baca apalagi tidak berdoa dahulu.
wah bisa2 Iblis memutarbalikan makna dari ayat2 yang dibaca.

oh ya bro iman timbul dari pendengaran berarti harus ada orang yang menjelaskan kabar baik itu kan??

karena telinga digunakan untuk mendengar suara atau bunyi-bunyian, berarti harus ada orang yang bersuara menjelaskan (yaitu orang yang memberikan khotbah)
berarti pendeta/pastor harus bisa menjelaskan bagaimana mengaplikasikan perintah Tuhan dalam kehidupan sehari-hari.

Setelah anda makan “siang” anda kenyang tentunya “tenaga anda” pulih kembali.

apakah anda tahu, apa saja yang memberikan kepada anda “tenaga baru setelah anda makan??”
apakah anda melihat - kabohidrat, protein, zat zat yang lain dalam hidangan anda??

artinya perlu ada yang menafsirkan alkitab kan !!!

bener banget bro, harus ada yang menafsirkan untuk bisa diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.
Yesus aja ketika mengajar DIA seringkali memberikan perumpamaan terlebih dahulu.

Namun perlu diingat juga, hati-hati pada pengajar palsu.