BEJANA TANAH LIAT

Pembacaan Alkitab: 2 Kor. 4:7-8

Dua Korintus 4:7 dibuka dengan kata-kata, “Tetapi harta ini kami miliki dalam bejana tanah liat.” Kata “tetapi” menunjukkan satu perbandingan dengan apa yang telah terjadi sebelumnya. Dalam ayat 6 Paulus berkata, “Sebab Allah yang telah berfirman, ‘Dari dalam gelap akan terbit terang!’, Ia juga yang membuat terang-Nya bercahaya di dalam hati kita, supaya kita beroleh terang dari pengetahuan tentang kemuliaan Allah yang tampak pada wajah Kristus.” Frase “harta ini” mengacu kepada ayat 6. Karena pencahayaan Allah di dalam hati kita, maka kita memiliki harta ini, harta yang ajaib, berharga, dan menakjubkan. Namun, kita memiliki harta ini di dalam bejana tanah liat, di dalam sesuatu yang sama sekali tidak berharga. Harta ini ada di dalam bejana tanah liat, karena itu Paulus membuka ayat 7 ini dengan “tetapi”.

Fakta bahwa kita adalah bejana tanah liat membuktikan bahwa kekuatan yang unggul atau melimpah-limpah ini berasal dari Allah, bukan dari diri kita. Maksud Paulus di sini ialah, “Aku hanyalah bejana tanah liat, yang hina dan tidak bernilai. Dalam diriku, aku penuh dosa, jatuh, dan hina. Bagaimanakah orang yang demikian dapat menyatakan kebenaran dan memancarkan kemuliaan Injil? Aku tidak memiliki kekuatan untuk melakukan hal ini. Kekuatan yang unggul ini bukan berasal dari diriku, melainkan berasal dari Allah. Meskipun aku adalah satu bejana tanah liat yang tidak bernilai, tetapi Allah telah memancarkan harta yang mustika ini ke dalamku. Sekarang harta ini menjadi sumber kekuatan yang menguatkan aku dan membuatku dapat memancarkan kemuliaan Allah dan menyatakan kebenaran.”

Mulai 2 Korintus 4:8 kita akan melihat bahwa para rasul ini tidak menempuh satu kehidupan yang mulia, melainkan satu kehidupan yang tersalib. Menempuh kehidupan yang tersalib adalah menempuh kehidupan di bawah penggilingan. Ini seperti gandum yang berada di bawah batu gilingan. Ketika Tuhan Yesus hidup di bumi, Dia menempuh satu kehidupan di bawah penggilingan. Ibu-Nya, saudara-saudara-Nya, semua murid-Nya, juga penentang-penentang dan penganiaya-penganiaya-Nya berfungsi sebagai batu-batu gilingan. Setiap hari Tuhan Yesus berada di bawah pengilingan.

Jika Anda membaca kembali keempat kitab Injil, Anda akan melihat bahwa yang membuat Tuhan Yesus mengalami penggilingan adalah orang-orang yang dekat dengan Dia. Ketika Tuhan Yesus dianiaya, Dia tetap bersukacita. Tetapi pada suatu hari, sewaktu Dia memberitakan Injil kepada orang banyak, sahabat-sahabat-Nya berpikir bahwa Dia tidak waras lagi (Mrk. 3:21). Pada satu pihak Tuhan Yesus bahkan bertanya, “Siapakah ibu-Ku, dan siapakah saudara-saudara-Ku?” (Mat. 12:48). Kemudian Dia berkata, “Sebab siapa saja yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di surga, dialah saudara-Ku laki-laki, saudara-Ku perempuan, dan ibu-Ku?” (Mat. 12:50).

Hari ini kita juga mengalami penggilingan dari orang-orang yang dekat dengan kita, orang-orang yang mengasihi kita dan memperhatikan kita secara alamiah.