BEBERAPA CARA MEMPRAKTEKKAN KERENDAHAN HATI

BEBERAPA CARA MEMPRAKTEKKAN KERENDAHAN HATI
oleh Bunda Teresa dari Calcutta

Mengurus urusan sendiri.
Tidak ingin mencampuri urusan orang lain.
Menghindari rasa ingin tahu.
Menerima pertentangan dan kritik dengan senang hati.
Tidak mengingat-ingat kesalahan orang lain.
Menerima apabila dihina dan disakiti.
Menerima apabila diabaikan, dilupakan dan dibenci.
Tidak berusaha agar dikasihi dan dikagumi secara istimewa.
Lemah lembut dan ramah bahkan andai orang memancing amarah kita.
Tidak pernah menuntut agar dihargai.
Mengalah dalam perdebatan bahkan andai kita benar.
Selalu memilih yang tersulit.

17 BUKTI AKAN KURANGNYA KERENDAHAN HATI

oleh St. Josemaria Escriva

1.Berpikir bahwa apa yang dikatakan atau dilakukan lebih baik dari apa yang dikatakan atau dilakukan orang lain.

2.Selalu ingin menuruti kemauan sendiri.

3.Berdebat dengan keras kepala dan dengan sikap yang kurang baik tanpa peduli benar atau salah.

4.Menyatakan pendapat ketika tidak diminta.

5.Memandang rendah pendapat orang lain.

6.Tidak menganggap bakat-bakat serta kemampuan diri sebagai pinjaman dari Tuhan.

7.Tidak menyadari bahwa diri sendiri tidak layak atas segala penghargaan dan pujian, bahkan tidak atas bumi tempatnya berpijak dan atas barang-barang yang dimiliki.

8.Membicarakan diri sendiri sebagai contoh dalam percakapan-percakapan.

9.Berbicara buruk tentang diri sendiri sehingga orang lain kagum atau menyanggah dengan pujian.

10.Membela diri apabila ditegur.

11.Menyembunyikan kesalahan-kesalahan yang memalukan dari pembimbing rohani, sehingga kesan baiknya terhadapmu tidak berkurang.

12.Senang menerima pujian dan penghargaan.

13.Sedih karena orang lain lebih dihargai.

14.Menolak melakukan pekerjaan-pekerjaan remeh.

15.Berusaha menonjolkan diri.

16.Mempercakapkan kejujuran, kecerdasan, kecakapan atau gengsi jabatan diri sendiri.

17.Merasa malu atas kekurangan diri sendiri.

Tingkatan kerendahan hati

[b]Menurut St. Benediktus /b
Nilai-nilai yang termasuk kerendahan hati adalah ketaatan, kesabaran dan kesederhanaan. Ketaatan dan kesabaran berkaitan dengan kerendahan hati yang berhubungan dengan sikap hati, sedangkan kesederhanaan berhubungan dengan sikap yang dapat terlihat dari luar. St. Benediktus membagi kerendahan hati menjadi 12 hal: tujuh di antaranya berhubungan dengan sikap hati, dan lima di antaranya berhubungan dengan sikap yang terlihat dari luar.

Ketujuh sikap hati yang berdasarkan atas ketaatan dan kesabaran tersebut adalah: takut akan Tuhan, ketaatan kepada Tuhan, ketaatan kepada pembimbing spiritual, sabar dalam menanggung keadaan yang sukar, mau mengakui kesalahan kita (terutama kepada pembimbing spiritual), bersedia untuk menerima hal-hal yang tidak nyaman, dan melihat diri sendiri sebagai yang tidak utama. Sedangkan kelima sikap tubuh yang berhubungan dengan kesederhanaan adalah: menghindari pemegahan diri sendiri, hening, tertawa tidak berlebihan, tidak banyak bicara, dan kesederhanaan dalam bersikap. Meskipun pengajaran ini pertama-tama ditujukan untuk para religius, namun toh dengan tingkatan yang wajar dapat diterapkan kepada kita kaum awam. Apalagi jika kita mau bertumbuh dalam hal rohani, kita-pun perlu mempunyai pembimbing rohani, yaitu umumnya bapa Pengakuan (pastor pembimbing).

[b]
Menurut St. Ignatius /b.

Terdapat tiga tingkatan kerendahan hati,
(1) ‘necessary humility‘: penyerahan diri kepada hukum Tuhan untuk menghindari dosa berat,

(2) ‘perfect humility’: ketidak-terikatan pada kekayaan ataupun kemiskinan, kesehatan ataupun sakit… yang terpenting adalah menghindari dosa dan kecenderungan berbuat dosa

(3)‘most perfect humility’‘: sikap meniru KRISTUS, termasuk menerima dengan rela penderitaan (salib) dan penghinaan, dalam persatuan dengan KRISTUS, demi kasih kita kepada-Nya.

Kerendahan hati berlawanan dengan kesombongan yang berhubungan dengan kelimpahan materi, dan anggapan bahwa diri sendiri adalah yang paling berkehendak baik, paling pandai, dan paling maju dalam hal spiritual (’spiritual pride’)Kesombongan dalam hal materi berhubungan dengan hal yang kelihatan seperti kecantikan, kekayaan, nama baik, pangkat dan kehormatan. Kesombongan materi adalah jenis kesombongan yang paling rendah, dan paling mudah diatasi untuk mencapai kerendahan hati.

Kesombongan dalam hal berkehendak baik adalah yang menyusul setelah ini, yaitu seperti keinginan untuk tidak tunduk di bawah siapapun, memiliki kuasa untuk memerintah, yang menghasilkan ambisi untuk menguasai, menolak untuk melayani atau tunduk pada otoritas, bahkan menolak untuk tunduk kepada Tuhan. Bersamaan dengan ini adalah kesombongan akan kepandaian, yang berhubungan dengan kebiasaan untuk menghakimi segala sesuatu berdasarkan pendapat sendiri, dan enggan untuk menerima pernyataan sederhana dari pihak yang punya otoritas. Sedangkan orang yang rendah hati adalah dia yang sadar akan dosa dan kelemahannya, yang tahu bahwa ia-pun dapat menjadi ‘terhukum’, jika hanya keadilan Tuhan yang berlaku di dunia ini. Belas kasihan yang ia terima dari Tuhan harus menjadikannya berbelas kasih pada orang lain.

Tingkatan kesombongan yang paling akhir adalah ’spiritual pride’. Karena spiritualitas adalah karunia, maka kesombongan akan hal ini menjadi sangat ‘berbahaya’. Karunia-karunia spiritual dapat menjadi ladang bagi kesombongan, sebab jiwa yang sombong dapat menggunakan karunia-karunia tersebut untuk meninggikan diri, menarik perhatian, mencari dominasi/ kekuasaan, atau untuk memenangkan ide sendiri. Injil menampilkan jenis kesombongan ini dalam perumpamaan orang Farisi dan pemungut cukai (Luk 18:9-14). YESUS menolak kesombongan ini, sebab hal itu membuat orang hidup dalam ‘kebohongan’: dari luar terlihat suci, tetapi sebenarnya jahat. Hal ini bertentangan dengan kerendahan hati yang berlandaskan kebenaran.

Menurut St. Ignatius, mengikuti teladan YESUS dan cara hidupNya adalah bentuk kerendahan hati yang paling sempurna; yaitu jika seseorang dengan kehendak bebasnya memilih untuk hidup miskin seperti KRISTUS, menderita bersama-Nya daripada menjadi kaya dan dihormati dan dianggap bijak oleh dunia.Sikap ini didasari oleh kesadaran bahwa Allah mengasihi kita lebih daripada kita mengasihi diri sendiri, sehingga Ia telah menyerahkan DiriNya untuk membawa kita kepada kebahagiaan sejati. Kebahagiaan sejati ini tidak dapat dibandingkan dengan segala pemahaman kita akan kebahagiaan menurut ukuran dunia. Ketetapan hati meninggalkan kebahagiaan duniawi untuk mendapatkan kebahagiaan surgawi adalah sikap kerendahan hati yang paling sempurna.

Waspadalah terhadap kerendahan hati yang ‘palsu’ (‘false humility’)

St. Franciskus mengingatkan kita, agar jangan mempunyai sikap kerendahan hati yang ‘palsu’ Misalnya, dengan mengatakan bahwa kita lemah dan tidak bisa apa-apa, tetapi begitu orang lain memperlakukan kita sesuai dengan apa yang kita katakan itu, lalu kita menjadi kecewa. Atau, kita merendah supaya kemudian dipuji orang. Ini adalah kerendahan hati yang palsu. Kerendahan hati yang sesungguhnya tidak mengatakan tentang diri sendiri bahwa ’saya ini rendah hati’ (yang berhak mengatakan demikian hanya Tuhan). Kerendahan hati yang sesungguhnya berkaitan dengan menyembunyikan diri dalam artian tidak menonjolkan diri untuk dipuji, dan menyatakan kebajikan hanya untuk maksud mengasihi.

St. Franciskus juga mengingatkan agar kita tidak menggunakan alasan ‘tidak layak’ atau ‘aku masih berdosa’, sehingga kita tidak mau berdoa, atau tidak mau membagikan talenta untuk melayani Gereja, atau tidak mau melayani sesama. Menurutnya, ini tindakan tidak baik (‘evil‘) karena menyembunyikan cinta diri di balik kedok kerendahan hati.

YESUS teladan kerendahan hati yang sempurna

Tuhan telah memberikan pada kita contoh yang sempurna dalam hal kerendahan hati, yaitu YESUS KRISTUS, PuteraNya. Kerendahan hatiNya tercermin dalam dua hal utama: Pertama, untuk menyelamatkan kita, YESUS yang adalah Tuhan mau menjelma menjadi manusia, tergantung sepenuhnya kepada Allah Bapa. Alkitab mengatakan bahwa YESUS, “walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah sebagai sesuatu yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia… Dan Ia merendahkan diriNya dan taat sampai mati di kayu salib”(Fil 2:5-8).

Kedua, YESUS merendahkan diri dengan ketaatan-Nya untuk melaksanakan tugas misi yang diterima-Nya dari Allah Bapa, yaitu untuk menyelamatkan kita, para pendosa (Rom 5:8), termasuk dengan segala keadaan yang berkaitan dengan tugas penyelamatan itu. Seluruh hidup-Nya adalah cerminan kerendahan hati yang sempurna: lahir di kandang hewan, hidup miskin sepanjang hidupNya di dunia (2 Kor 8:9), memar dipukuli, dihina, dilucuti pakaian-Nya, dan wafat di Salib.

Teladan Bunda Maria

Selain KRISTUS, Bunda Maria adalah contoh yang sempurna tentang kerendahan hati dan kesempurnaan kasih. Kerendahan hati Maria-lah yang mendorong Allah untuk memilihnya sebagai ibu Putera-Nya YESUS. Bunda Maria menyadari bahwa ia dikaruniai oleh rahmat yang istimewa dengan menjadi Bunda Allah yang MahaTinggi, namun ia tetap rendah hati, dengan menganggap dirinya sebagai hamba di hadapan Allah. Ia hanya mencari kehendak Tuhan, dengan berkata, “Jadilah padaku menurut perkataanmu (Luk 1:38).” Melalui kidung Magnificat, kita mengetahui bahwa Maria menganggap segala yang baik pada dirinya sebagai karunia belas kasih Tuhan.Dengan rahmat Tuhan, Bunda Maria hidup dengan rendah hati, menyerahkan diri secara total kepada Tuhan dan sesama, dan bekerja sama dengan misi Keselamatan KRISTUS.

Salam

LITANI KERENDAHAN HATI

O Yesus! Yang lemah lembut dan rendah hati, dengarkanlah seruanku.

Dari hasrat untuk dihargai, bebaskanlah aku ya Yesus.
Dari hasrat untuk dikasihi, bebaskanlah aku ya Yesus.
Dari hasrat untuk dikagumi, bebaskanlah aku ya Yesus.
Dari hasrat untuk dihormati, bebaskanlah aku ya Yesus.
Dari hasrat untuk dipuji, bebaskanlah aku ya Yesus.
Dari hasrat untuk diistimewakan, bebaskanlah aku ya Yesus.
Dari hasrat untuk didengar, bebaskanlah aku ya Yesus.
Dari hasrat untuk diakui, bebaskanlah aku ya Yesus.
Dari rasa takut akan dihina, bebaskanlah aku ya Yesus.
Dari rasa takut akan direndahkan, bebaskanlah aku ya Yesus.
Dari rasa takut akan dicela, bebaskanlah aku ya Yesus.
Dari rasa takut akan difitnah, bebaskanlah aku ya Yesus.
Dari rasa takut akan diabaikan, bebaskanlah aku ya Yesus.
Dari rasa takut akan dilecehkan, bebaskanlah aku ya Yesus.
Dari rasa takut akan diperlakukan tidak adil, bebaskanlah aku ya Yesus.
Dari rasa takut akan dicurigai, bebaskanlah aku ya Yesus.

[i]Semoga orang lain lebih dikasihi daripada aku, Yesus, berilah aku rahmat untuk menginginkannya.

Semoga orang lain lebih dihargai daripada aku, Yesus, berilah aku rahmat untuk menginginkannya.

Semoga dalam pandangan dunia, orang lain semakin tinggi dan aku semakin rendah, Yesus, berilah aku rahmat untuk menginginkannya.
[/i]
[i]Semoga orang lain dipilih dan aku ditolak, Yesus, berilah aku rahmat untuk menginginkannya.

Semoga orang lain dipuji dan aku diacuhkan, Yesus, berilah aku rahmat untuk menginginkannya.

Semoga orang lain lebih diutamakan daripada aku dalam segala hal, Yesus, berilah aku rahmat untuk menginginkannya.

Semoga orang lain menjadi lebih kudus daripada aku, sementara aku berusaha menjadi kudus seperti yang seharusnya, Yesus, berilah aku rahmat untuk menginginkannya.
[/i]

Terima kasih, sudah mengingatkan saia untuk selalu belajar rendah hati … :happy0062:

Amsal 22:4 - Ganjaran kerendahan hati dan takut akan TUHAN adalah kekayaan, kehormatan dan kehidupan.

Matius 11:29 - Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan.

Filipi 2:3 - dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri;

Kolose 3:12 - Karena itu, sebagai orang-orang pilihan Allah yang dikuduskan dan dikasihi-Nya, kenakanlah belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran.

Yakobus 4:6 - Tetapi kasih karunia, yang dianugerahkan-Nya kepada kita, lebih besar dari pada itu. Karena itu Ia katakan: “Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati.”

1 Petrus 5:5 - Demikian jugalah kamu, hai orang-orang muda, tunduklah kepada orang-orang yang tua. Dan kamu semua, rendahkanlah dirimu seorang terhadap yang lain, sebab: “Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati.”

Tuhan memberkati! :slight_smile:
Salam
Pieq

[b]Waspadalah terhadap kerendahan hati yang ‘palsu’ (‘false humility’)[/b]

St. Franciskus mengingatkan kita, agar jangan mempunyai sikap kerendahan hati yang ‘palsu’ Misalnya, dengan mengatakan bahwa kita lemah dan tidak bisa apa-apa, tetapi begitu orang lain memperlakukan kita sesuai dengan apa yang kita katakan itu, lalu kita menjadi kecewa. Atau, kita merendah supaya kemudian dipuji orang. Ini adalah kerendahan hati yang palsu. Kerendahan hati yang sesungguhnya tidak mengatakan tentang diri sendiri bahwa ’saya ini rendah hati’ (yang berhak mengatakan demikian hanya Tuhan). Kerendahan hati yang sesungguhnya berkaitan dengan menyembunyikan diri dalam artian tidak menonjolkan diri untuk dipuji, dan menyatakan kebajikan hanya untuk maksud mengasihi.

St. Franciskus juga mengingatkan agar kita tidak menggunakan alasan ‘tidak layak’ atau ‘aku masih berdosa’, sehingga kita tidak mau berdoa, atau tidak mau membagikan talenta untuk melayani Gereja, atau tidak mau melayani sesama. Menurutnya, ini tindakan tidak baik (‘evil‘) karena menyembunyikan cinta diri di balik kedok kerendahan hati.

Kurasa yang ini yang benar-benar harus diperhatikan.
Adakah kita benar-benar telah menjadi orang yang rendah hati di hadapan Tuhan.?
Renungannya bagus sekali.

Kerendahan hati karena usaha kita sendiri akan tidak bertahan lama karena sifat asli kita masih ada…bahkan rendah hati yang munafik
Kerendahan hati karena Tuhan yang merubah sifat tabiat kita… maka tanpa kita sadari… kita akan rendah hati… kenapa… karena semakin kita meningkat dalam pengenalan Allah semakin kita tahu kita tidak ada apa2nya dihadapan Tuhan, kita tidak ada secuilpun dibandingkan Tuhan… trus apa yang mau dibanggakan. tidak ada…kita bisa diselamatkan hanya karena karunia… sikap kita otomatis akan low profile…

Allah dikenal dalam diri orang2 lain juga. Dalam diri orang2 miskin dan tertindas kita melihat ada gambaran Allah dalam diri mereka. Karena itu sebelum kita sampai pada pengenalan Allah, kenali terlebih dahulu saudara-saudara kita. Belajar dari hal-hal kecil sebelum sampai pada hal-hal besar, cintailah saudaramu lebih dahulu sebelum engkau membuktikan cintamu kepada TUHAN. Jika Kita sudah membenci saudara kita dan mengatakan Ia penyembah Berhala maka sebenarnya kita membenci saudara kita dan bukti bahwa kita tidak mencintai TUHAN. Sebab seperti ada tertulis:

Jikalau seorang berkata: “Aku mengasihi Allah,” dan ia membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta, karena barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah, yang tidak dilihatnya.1 Yohanes 4:20

Jadi belajarlah dari Hal-hal kecil terlebih dahulu sebelum kita sampai kepada TUHAN dan demi menunjukkan cinta kita kepada TUHAN. SEEBAB POHON YANG BESAR BERASAL DARI BIJI YANG KECIL. Banyak orang mengabaikan ini dan kemudian menjadi Sombong. Aku tidak butuh pengajar2 lain, aku sudah kenal YESUS, aku bisa belajar dari Dia langsung!!

Pernyataan yang nampaknya agung bahwa TUHAN dijadikan PUSAT hidupnya, tetapi satu hal, dia lupa dibalik itu semua tersembunyi kesombongan ROHANI. Merasa diri lebih dari para pengajar.

Salam

Kerendahan hati tidak ada hubungannya dengan penyembahan berhala…

Ada hubungannya dengan orang2 yang suka menghakimi orang lain dan MENUDUH ( sesuatu yg tidak sesuai dengan kenyataan) saudara2 seiman sebagai penyembah berhala! Penuduh, pengejek atau pemfitnah bukanlah sifat orang yang rendah hati!

Salam

apa saya pernah menuduh? mari mempraktekan saling merendahkan diri antara sesama…dengan selalu berpikiran positif terhadap setiap pendapat

Belajarlah pada Yesus… Dia akan memberi soal soalnya :afro:

Mt 11:29 Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan.

Saya tidak mengatakan anda menuduh? Dimana saya mengatakan bahwa anda telah menuduh? Baca baik2 penjelasan saya diatas.

Baca yang saya Bold diatas: Jika Kita sudah membenci saudara kita
Saya menuliskan kita (termasuk saya). Saya tidak mengatakan anda! Jika orang dipijet dia tidak sakit, kenapa dia berteriak?

Untuk yang terakhir Saya sepakat, mari kita praktekan kerendahan hati karena itu saya membuat threat ini supaya kita semua bisa belajar.

Salam

salah satu cara mempraktekkan kerendahan hati:

mau ditegur/dikritik orang lain :slight_smile:

sebenarnya dengan mengikuti hati nurani sudah membuahkan kerendahan hati, karena pada dasarnya setiap manusia punya hati nurani yang memberi pertimbangan dari dalam ketika akan melakukan suatu tindakan. yang perlu dilakukan adalah menggali kembali kedalam hati nurani yang sering ditimbun ego.

point-point dari Ibu Teresa diatas penting dalam mengingatkan kembali perihal menjalankan kerendahan hati, namun pada poin perdebatan menurut saya tetap harus melihat konteksnya dulu, selama masih dalam jalur logika yang benar dan menjaga etika, sepertinya tidak ada kesan meninggikan diri, karena memang debat bagaikan ajang pertandingan logika, orang yang mengalah dalam pertandingan walaupun dia benar tetap saja dianggap kalah, tetapi ketika kita dengan santun menerima argumen lawan debat kita yang terbukti benar kita sudah mempraktekkan kerendahan hati. :slight_smile:

-salam-

Terutama kalau yg menegur dan mengkritik adalah moderator hehehe… :slight_smile: