(ASK) Pengampunan = Perdamaian ?????

Syaloom,

Melanjuti thread saya sebelumnya Saya Gay, Sakit Hati, Butuh Pertolongan - Sharing & Kesaksian - ForumKristen.com

Kondisinya adalah dulunya saya gay (romantism oriented, not sexual oriented), lalu dengan hati yang hancur yg hampir membuat saya mengakhiri hidup saya sendiri, namun ternyata Tuhan YESUS bermurah hati untuk menolong saya dan memberikan harapan baru kepada saya supaya saya tetap dapat hidup dengan berpengharapan pada iman akan rancangan damai sejahteraNya.

Sejalan dengan keinginan saya untuk berjalan dalam hajaran dan kasihNya Allah, saya belum bisa memaksakan diri saya untuk mencintai perempuan, namun sayapun telah berkomitmen (setidaknya sampai detik ini) untuk tidak mencari nilai-nilai romansa dengan manusia --baik laki-laki ataupun perempuan–. Kerinduan saya ialah Tuhan Yesuslah yg menjadi kekasih saya dan menjadi yang terutama dalam hidup saya, yg mengisi setiap sel2 darah saya, tulang dan sendi2 saya dan memenuhi setiap relung hati saya yang kosong dengan cintaNya, perhatian dan kepedulianNya. Terimakasih pada Tuhan YESUS atas anugerahMu dan keselamatanMu.

Namun sepertinya ada satu hal yg “agak” menghambat pertumbuhan rohani saya, bahwa saya belum merasakan kalau saya ini sudah berbuah dan menjadi berkat bagi orang lain. Saya mendapati ada akar pahit yang seakan-akan mendakwa saya setiap saat, yaitu mengenai persoalan saya dengan mantan saya. Saudara-saudara dapat menelitinya pada tulisan saya di thread yg telah saya sebutkan sebelumnya.

Saya mendoakan supaya Tuhan menyertai langkahnya dan membuat hidupnya berhasil, bahkan kalau Tuhan berkenan untuk memilih dia menjadi anakNya pula (dia muslim). Saya selalu berusaha untuk tidak lagi mengingat-ingat dia bahkan menyebut namanyapun pantang untuk saya lakukan (kecuali di dalam doa). Tapi saya menyadari bahwa sebenarnya saya belum sepenuhnya mengampuni dia, entahlah saya juga bingung meskipun saya selalu yakinkan dalam hati bahwa saya sudah mengampuninya. Yang menjadi bukti adalah, sesekali (sangat jarang) kami bertemu muka (FYI, mantan tsb tetangga saya), walaupun tanpa ada kata, hati saya menjadi tidak tentram, muka saya menjadi muram dan saya sangat gelisah, seolah saya merasa sangat bodoh kenapa harus mengampuni dia, kenapa tidak saya tuntut kembali supaya dia membayar hutangnya, kenapa tidak saya balaskan saja rasa sakit hati saya, apakah Iblis mengacaukan pikiran saya? Hal ini bisa terjadi beberapa hari baru ada damai sejahtera lagi dalam diri saya.

Sikap yang saya ambil saat ini adalah saya hanya berdiam diri, tidak melakukan apa-apa selain berdoa dan melepaskan pengampunan, Lalu saya juga berpikir untuk tidak berdamai (sama sekali tidak berhubungan dengan dia), sebab yg saya dapati adalah “amarah” walau hanya melihat mukanya. Namun, dengan sikap yg saya ambil saat ini, ada dua hal yg saya rasakan menjadi kontradiksi. Pertama, saya harus melakukan perintah Tuhan untuk hidup berdamai dengan siapapun dan mengasihi sesama manusia seperti mengasihi diri sendiri. Kedua, saya tahu kelemahan saya (sepertinya saya masih mencintainya, tapi saya tak akan berbalik) sehingga saya harus menghindar dari dia (apakah ini berlawanan dengan arti perdamaian itu sendiri???), sebab antara benci dan cinta itu tipis toh? Saya tidak akan mencobai diri saya sendiri, saya takut berhasrat untuk menjalin romansa lagi dengannya.

Inilah yg membuat saya menjadi bingung. Ketika saya mengampuninya apakah saya harus berdamai dengannya? Cukupkah pengampunan hanya dengan doa? Sementara saya berdoa, saya didakwa bahwa doa saya akan percuma dan saya harus meninggalkan ibadah saya kalau saya belum berdamai dengan dia. Saya tidak ingin mempersempit tindakan nyata dari pengampunan dan perdamaian tsb hanya dengan mengacu pada kasus ini, namun kalau saya boleh bertanya, perdamaian seperti apa yg sebaiknya terjadi?

Mungkin saya kurang sabar, tapi mengingat hal ini sudah berbulan-bulan terjadi, sementara saya memiliki kerinduan untuk bertumbuh dan berbuah, saya malah merasa stagnan dengan dakwaan2 tsb bahwa doa dan ibadah saya tidak akan berguna.

Dapatkah saudara-saudara membantu saya?

PS untuk momod :
Sepertinya tulisan saya ini lebih cocok untuk ditaruh di ruang konsultasi, btw berhubung saya ingin tahu penjelasan dari ajaran Kristen mengenai pengampunan dan perdamaian, makanya saya posting di board ini. Kalau salah kamar, I don’t mind if you wanna move this thread.

Tuhan tidak akan memandang latar belakang anda bro.
yang Ia cari, Hati seorang hamba yang haus Firman-Nya :afro:

Regards, Rain
JBU

1. Mengenai pengampunan

Hukumnya adalah : kalau kamu tidak mau mengampuni, maka Bapa mu yg disorga juga tdk akan mengampuni!

So buat apa pengampunan itu?

Tidak lain tujuan utama adalah untuk membuat hatimu tulus seperti merpati

Baca tulisan ini : Cerdik seperti ular, tulus seperti merpati - Pendalaman Alkitab - ForumKristen.com

Setiap orang yang pulang kerumah Bapa, harus tdk boleh ada kepahitan, sakit hati, dendam, dll – ini racun empedu yg memenuhi hati

Bila empedu pecah, maka pahitlah seluruh tubuh – hanya akan menjadi sampah dan dibuang.

Pastikan kmu bebas empedu : ini tujuan pengampunan

Seandainya pun kita tidak mengampuni orang lain, apakah orang lain tadi tidak bisa masuk sorga? Apakah kita menempatkan diri kita lebih tinggi dan lebih berkuasa drpd Bapa yg empunya sorga?

Pengampunan itu 70 x7 kali sehari untuk satu orang untuk satu kesalahan

Silakan itung tiap brp menit anda harus mengampuni untuk satu kesalahan per orang per hari.

Dalam satu hari ada 24 jam, sialakan anda itung smua dlm 24 jam, ini berarti anda tdk boleh tidur , makan dan minum, bekerja dll.

Itung pula bila ybs bersalah lebih dari 1 kali

Itung pula bila ada orang lain juga yg bersalah…

Pertanyaannya : dapatkah kita hidup dg cara demikian?

Tidak

Tujuan dari 70 x 7 kali tidak lain adalah : jangan pernah sakit hati, sebab kita akan kekurangan waktu hanya untuk mengampuni saja.

Kita tidak bisa mencegah orang lain diluar sana untuk tdk menyakiti kita, tetapi kita bisa mencegah diri kita untuk tdk sakit hati (pahit, sakit)

Sebagaimana pria tidak punya potensi untuk hamil dg sel indung telur yg dibuahi sperma, demikian pula, merpati tidak punya potensi untuk sakit hati.

2. Perdamaian

Anda disakiti?

Mungkin perlu dipikir sebaliknya, dia sakit hati juga atau tdk?

Terlepas sakit hati atau tidak, kmu perlu minta ampun atas sgl tindakan mu yg menyakiti dia entah sengaja atau tidak.

Untuk apa?

Untuk memerdekakan kmu agar kamu tdk terintimidasi.

Kalo ditolak?

Jng pikirkan, tugasmu hanyalah minta ampun.

Setelah berdamai, haruskah berkumpul lagi?

NO! Tidak

Ada Firman Tuhan : Keluarlah dari kumpulan orang fasik

(oop sory, kalo aku salah bicara, klo tdk salah baca, ini perkara mantan ‘gay’ ya?)

Salam

Saya pun begitu bro, tapi hal ini seperti sandungan bagi saya. Masalah waktu saja mungkin ya bro.

Thanks ya mod, saya jadi semakin mengerti konsep Kristen tentang pengampunan.
Apa artinya saya jangan lagi memikirkan hal ini?

Sepertinya memang kami saling menyakiti, saya juga sadar pernah “tergelincir” setelah dia menyakiti saya, sayapun sekali membalaskannya dan itu yg buat dia terluka juga.
Saya juga sudah pernah mengirimkan pesan singkat (sms) tentang penyesalan saya dan meminta maaf, sebab dia tak pernah mau berbicara dengan saya lagi.
Nah, inilah yg saya tidak tahu apa dia juga sudah mengampuni saya, sehingga perdamaian yg ingin saya capai belum terpenuhi

Kalau anda bertanya demikian, sayapun tidak akan berkumpul lagi dengan dia, alasannya seperti yg saya tulis sebelumnya, saya tak akan mencobai diri saya sendiri dan saya tidak akan berbalik lagi dengan kegelapan saya.
Saya hanya ingin tahu apakah dia juga sudah memaafkan saya, inilah arti perdamaian yg saya maksudkan (apa ada pengertian lainnya???), berhubung kondisinya tidak lagi ada komunikasi antara kami (sehingga saya tidak akan pernah tahu apa dia sudah memaafkan saya) makanya saya bertanya cukupkah pengampunan yg saya lakukan hanya dengan doa? Perlukah saya meminta maaf lagi secara langsung (face by face), sedangkan melihat dia saja hati saya sudah panas apalagi kalau harus bicara.

Iya bro, saya tidak lagi bergumul untuk keluar dari jeratan gay, tapi pergumulan saya sekarang mengenai dakwaan tentang ketidaklayakan saya bergaul dengan Tuhan selama saya belum berdamai dengan mantan. Saya bingung, apa saya yg bodoh, yg tidak berhikmat, atau apa Iblis mencari cara lain untuk mengembalikan saya ke kegelapan lagi. Benar seperti yg anda katakan saya merasa terintimidasi dengan suara-suara di kepala dan batin saya yg mengatakan tidak ada gunanya saya berdoa kalau saya belum berdamai dengan mantan, tapi saya tetap berdoa.

Saya ingin maju di dalam Kristus, sedangkan masalah ini tetap membuat saya kerdil.
Apa seharusnya saya masa bodoh saja?