1 Korintus 9:12-18 : Kesalehan Professional dan Kesalehan "Amateur"

Kesalehan Professional dan Kesalehan “Amateur”

Apa pandangan kita terhadap kata Amateur? Mungkin Anda dengan cepat menjawab : seorang Amateur adalah orang yang tidak cukup skill terhadap keahlian tertentu, atau orang yang kemampuannya terbatas, seorang pemula, kurang pengalaman, awam. Dan kata Professional dewasa ini dikenal sebagai antonym dari kata Amateur, padahal sesungguhnya kata Amateur bermakna sangat indah, yaitu sebuah kata yang berasal dari kata latin “amātor” yang bermakna “lover, devoted friend, devotee, enthusiastic pursuer of an objective”. Kata Amateur sungguh teramat jauh bergeser dari makna aslinya.

Robert Tyre Jones Jr. (1902 –1971), lebih dikenal dengan nama “Bobby Jones”, ia adalah salah satu ‘legenda’ dalam olah-raga golf. Meski ia mempunyai bakat alam yang luar biasa, tetapi Bobby Jones tidak pernah bersedia untuk menjadi pegolf professional, ia hanya bersedia bertanding pada pertandingan-pertandingan amateur. Di lain pihak ia juga dikenal sebagai seorang insinyur, sastrawan dan pengacara. Ketika ditanya mengapa ia selalu menolak untuk menjadi seorang pegolf proffesional? Ia menjawab dengan tenang dan tersenyum bahwa ia mencintai golf dengan sungguh-sungguh, sebagaimana kata amateur itu akar-katanya ialah amore yang berarti ‘cinta’. Dengan kata lain ia menyatakan tidak tergiur oleh kekayaan dari bertanding golf karena ia seorang yang cinta (“amateur”) pada olah-raga golf. Kisahnya ini diangkat dalam sebuah Film dengan judul “Bobby Jones Stroke of Genius” yang dibintangi Jim Caviezel (pemeran JC dalam film The Passion of the Christ).

Seperti Bobby Jones, kita bisa melihat pada Alkitab, bahwa disana ada seorang tokoh yang dapat kita rujuk sebagai seorang penginjil “amateur”, meski ia seorang ahli Kitab Suci, filsuf, dan penginjil yang hebat tak kenal lelah, ia pun memilih sebagai seorang “amateur” daripada menjadi seorang professional karena kecintaan yang sungguh-sungguh kepada Kristus. Ia adalah Rasul Paulus. Dalam 1 Korintus 9:12-18 ia menulis sikap pribadinya dan tujuan pribadinya dalam melayani Yesus Kristus yang ia cintai:

  • 1 Korintus 9:12-18
    9:12 Kalau orang lain mempunyai hak untuk mengharapkan hal itu dari pada kamu, bukankah kami mempunyai hak yang lebih besar? Tetapi kami tidak mempergunakan hak itu. Sebaliknya, kami menanggung segala sesuatu, supaya jangan kami mengadakan rintangan bagi pemberitaan Injil Kristus.
    9:13 Tidak tahukah kamu, bahwa mereka yang melayani dalam tempat kudus mendapat penghidupannya dari tempat kudus itu dan bahwa mereka yang melayani mezbah, mendapat bahagian mereka dari mezbah itu?
    9:14 Demikian pula Tuhan telah menetapkan, bahwa mereka yang memberitakan Injil, harus hidup dari pemberitaan Injil itu.
    9:15 Tetapi aku tidak pernah mempergunakan satu pun dari hak-hak itu. Aku tidak menulis semuanya ini, supaya aku pun diperlakukan juga demikian. Sebab aku lebih suka mati dari pada …! Sungguh, kemegahanku tidak dapat ditiadakan siapa pun juga!
    9:16 Karena jika aku memberitakan Injil, aku tidak mempunyai alasan untuk memegahkan diri. Sebab itu adalah keharusan bagiku. Celakalah aku, jika aku tidak memberitakan Injil.
    9:17 Kalau andaikata aku melakukannya menurut kehendakku sendiri, memang aku berhak menerima upah. Tetapi karena aku melakukannya bukan menurut kehendakku sendiri, pemberitaan itu adalah tugas penyelenggaraan yang ditanggungkan kepadaku.
    9:18 Kalau demikian apakah upahku? Upahku ialah ini: bahwa aku boleh memberitakan Injil tanpa upah, dan bahwa aku tidak mempergunakan hakku sebagai pemberita Injil.

Paulus melepaskan hak-haknya untuk menerima pemberian-pemberian dari jemaat-jemaatnya (ayat 15, 18), dan ia lebih suka menanggung segala sesuatu (ayat 12 bandingkan 1 Korintus 13:7), bahkan berjuang untuk menopang dirinya sendiri, ia tetap menjadi seorang pembuat kemah (Kisah 18:3), supaya ia jangan menjadi rintangan bagi pemberitaan Injil Kristus (1 Korintus 4:11-13, Kisah 20:34-35). Dengan demikian ia menggunakan kebebasannya sebagai pengikut Kristus, bahwa tak satupun boleh menghalang-halangi (ayat 23), bahwa Injil Kristus harus ditawarkan dengan cuma-cuma (ayat 18 bandingkan 2 Korintus 11:7,9) sehingga tak seorangpun dapat menuduh bahwa Paulus mengajar untuk mendapatkan keuntungan pribadi (2 Korintus 6:3).

Dalam ayat 15, Paulus menekankan bahwa ia tidak pernah mempergunakan satupun dari hak-hak seorang rasul/ pekabar Injil yang lazimnya menerima sesuatu dari jemaat untuk menyokong kehidupannya (1 Korintus 9:13), ia bahkan tidak menuntut upah atau dukungan materi dalam bentuk apapun (ayat 12). Paulus lebih memilih kemerdekaannya sehingga ia tidak pernah menjadi beban finansial bagi jemaatnya yang manapun (lihat 2 Korintus 11:7-11; 12:13; 1 Tesalonika 2:9, 2 Tesalonika 3:8).

Memberitakan Injil tanpa upah adalah pilihan Paulus untuk menjaga diri agar ia tetap murni dalam pelayanan yang mencintai (“amateur”), bukan karena profesi. Hal ini tentu saja bukan merupakan prinsip yang harus dikenakan kepada semua orang yang memberitakan Injil. Karena tindakan Paulus ini lebih merupakan sikap sukarela dari orang yang sekalipun berhak memperoleh sokongan, namun ia lebih memilih melayani Allahnya dengan cuma-cuma tidak menerima upah :

“Upahku ialah ini: bahwa aku boleh memberitakan Injil tanpa upah, dan bahwa aku tidak mempergunakan hakku sebagai pemberita Injil” (1 Korintus 9:18)

Penolakan kepada “upah” adalah kegirangan bagi Paulus dalam mengabarkan Injil Kristus. Tuhan Yesus pernah mengatakan kepada murid-murid-Nya yang sedang bersiap-siap keluar melaksanakan misi mereka “…Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah pula dengan cuma-cuma” (Matius 10:8). Maka dalam hal ini sikap pribadi Rasul Paulus adalah sebagai cerminan bahwa ia menolak mengkompromikan Injil Kasih Karunia yang cuma-cuma itu dengan kegiatan pengabaran Injil yang menerima “upah”. Sikap ini juga merupakan suatu penolakan/ ketidak-sukaannya terhadap suatu anggapan bahwa kesalehannya hanyalah kesalehan professional dimana seseorang menggantungkan nafkahnya dari situ. Maka ia melepaskan hak-haknya, dan ia memilih untuk menjadi seorang “amateur” dalam pekabaran Injil. Hal itu akan membuatnya lebih baik di mata banyak orang, dibandingkan para pengajar di zamannya, yaitu para filsuf moral yang mengajar dengan mendapat upah.

Idealisme yang dimiliki Rasul Paulus, meski keras, dan tidak bisa diterapkan kepada semua pelayan Tuhan, namun sikapnya ini bisa kita lihat sebagai suatu teladan yang baik. Barangkali kita sering kagum terhadap artis-artis rohani yang pandai menyanyi, bermusik, menciptakan lagu, menjual CD mereka, giat berkeliling dari satu gereja ke gereja lain, dari satu KKR ke KKR lain, dan kita memandang mereka “saleh”, namun apakah kesalehan itu pasti besifat “amateur” (mencintai Tuhan) atau sekedar tuntutan “dapur” (professional), demikian juga para pengkhotbah masa kini, yang menuntut ini itu jika diundang datang berkhotbah, ticket pesawat first/ business class, akomodasi yang lux, penentuan honor minimum, apakah mereka saleh secara “amateur” atau hanya “saleh” dalam ranah profesi? Ini sulit ditentukan, karena orang yang bersangkutan sendirilah yang bisa menilai.

Sebagaimana Paulus yang juga memandang bahwa seorang penginjil mempunyai hak mendapat sesuatu untuk menopang kehidupannya (1 Korintus 9:13), maka seandainya ada diantara kita seorang penginjil yang secara profesi bergantung nafkah dari situ, ia harus menjadi seorang yang “professional amateur”, yaitu seorang yang professional yang tetap mencintai pelayanannya kepada pekerjaan-pekerjaan Tuhan, sebagai hamba-hamba yang setia melayani “Tuan” kita di Surga.

Namun, pekerjaan-pekerjaan “gerejawi” itu seringkali hanya merupakan urusan duniawi, yang digunakan sebagai cara untuk mendapatkan kedudukan, tujuan, ambisi kekuasaan, ambisi untuk tampil/ popularitas dan nafkah pribadi seseorang. Dalam keadaan kemikian mereka mengikat-diri pada pelayanan secara professional saja tanpa cinta. Jikalau demikian apakah itu boleh disebut sebagai suatu pelayanan yang meng-hamba?. Dari kegiatan Paulus dalam penginjilannya “yang menolak upah”, maka Paulus dengan sangat merdeka tanpa beban, sehingga ia dapat mengajarkan suatu kebenaran untuk menyampaikan otokritik terhadap pelayan-pelayan Tuhan dimasanya yang disamping melayani Tuhan tetapi juga berambisi terhadap mamon, ia menegor orang-orang yang “menjajakan” Firman Allah (2 Koritus 2:17). Kesalehan mereka bukan “amateur” (yang mencintai), tapi sekedar kesalehan professional!

Allah berkenan kepada seorang yang “amateur” yang sungguh mencintai-Nya dalam segala keadaan. Seperti pelayanan Paulus sebagai dampak suatu pertobatan yang total, setia dan menjadi “amateur” sampai mati (2 Timotius 4:7).

Amin.

Blessings in Christ,
Bagus Pramono
October 26, 2007

Sumber Wacana

http://portal.sarapanpagi.org/renungan/kesalehan-professional-dan-kesalehan-qamateurq.html

Di rumah Tuhan ada ‘pelayan’ dan juga ada ‘hamba’.
Tuhan mengasihi kedua-duanya dan mberkati kedua-duanya.

Golongan ‘pelayan’ adalah orang yg bekerja dengan tujuan upah, dimana (sadar tak sadar) upaya yang ia keluarkan akan sbanding dg upah yg ia trima.
Kita mgkn mremehkan golongan ini sbg kurang tulus motifnya, tp tanpa golongan ‘pelayan’ ini, gereja akan keteteran dan tidak bkembang.
Itulah mngapa Tuhan mpkejakan orang upahan, mngasihi dan mmlihara mreka.

Di sisi lain, terdapat golongan ‘hamba’.
Golongan ini bekerja karena loyalitas. Seringkali mreka memulai dari jalur ‘pelayan’ namun stelah skian lama bgaul dg Tuannya, maka ia jadi setia, mhambakan diri dan tidak mperhitungkan upah.
Golongan ‘hamba’ ini siap mbrikan lebih dari apa yg mreka dapat. Mreka tidak tlalu peduli dg imbalan. Tp sayang di Gereja (saat ini) mgkn jumlahnya kecil, tidak mnonjol dan tidak dhargai (krn mreka telah mlepaskan harga dirinya).

Golongan terakhir adalah golongan ‘sahabat’.
Mreka ini golongan hamba juga, tp Sang Tuan telah mpercayakan rahasiaNya kpd mreka shg mreka dapat mmahami apa yg Tuannya inginkan.
Golongan ini bekerja karena kasih pd Sang Tuan dan kasih pd apa yg Tuannya kasihi.


Mnrt saya, tidak ada salahnya mlayani dg mata tertuju pd berkat.
Mngapa?
Krn Tuhan tidak mnuntut ksempurnaan motivasi sblm sso mlayani.
Yang salah adalah jika telah skian lama ia melayani, namun matanya tetap tertuju pd berkat.

Mnrt saya, adalah pantas jika seseorang menerima berkat seberapapun yg dbrikan kepadanya jika ia berhak menerimanya.

Namun,
Hanya mreka yg mengenal, akrab dan mmahami Tuannyalah yg akan menolak berkat yg mjd haknya karena ia sadar bhw hal tsb memang diinginkan oleh Tuannya.

Tindakan utk mnolak apa yg mjd hak kita adl tindakan gegabah.
Tindakan utk mnolak berkat Tuhan adl tindakan yg salah.
Tindakan yg tidak gegabah dan tidak salah adalah jika seseorang menolak apa yg mjd haknya karena memahami keinginan Tuannya.

Apakah Paulus lebih baik daripada rasul lain karena Paulus menolak mnerima upah apapun dari pemberitaan Injil (mlainkan tetap bekerja di dunia sekuler)?

Tidak.
Karena semua pekerja berhak mendapat upah.
Jika sso mnerima upah krn pmberitaan Injil, itu memang sudah spantasnya asalkan orang itu tidak hitung-hitungan dg upah tsb.

Di dalam Rumah Tuhan, smua pekerja saling mbutuhkan.

Paulus melepaskan hak-haknya untuk menerima pemberian-pemberian dari jemaat-jemaatnya (ayat 15, 18),
ia lebih suka menanggung segala sesuatu (ayat 12 bandingkan 1 Korintus 13:7), bahkan berjuang untuk menopang dirinya sendiri, ia tetap menjadi seorang pembuat kemah (Kisah 18:3),
Dengan demikian ia menggunakan kebebasannya sebagai pengikut KRISTUS, bahwa tak satupun boleh menghalang-halangi (ayat 23), bahwa Injil KRISTUS harus ditawarkan dengan cuma-cuma
sehingga tak seorangpun dapat menuduh bahwa Paulus mengajar untuk mendapatkan keuntungan pribadi (2 Korintus 6:3).
Dalam ayat 15, Paulus menekankan bahwa ia tidak pernah mempergunakan satupun dari hak-hak seorang rasul/ pekabar Injil yang lazimnya menerima sesuatu dari jemaat untuk menyokong kehidupannya (1 Korintus 9:13),
ia bahkan tidak menuntut upah atau dukungan materi dalam bentuk apapun (ayat 12). Paulus lebih memilih kemerdekaannya sehingga ia tidak pernah menjadi beban finansial bagi jemaatnya yang manapun (lihat 2 Korintus 11:7-11; 12:13; 1 Tesalonika 2:9, 2 Tesalonika 3:8).
Memberitakan Injil tanpa upah adalah pilihan Paulus untuk menjaga diri agar ia tetap murni dalam pelayanan yang mencintai ("amateur"), bukan karena profesi.
tindakan Paulus ini lebih merupakan sikap sukarela dari orang yang sekalipun berhak memperoleh sokongan, namun ia lebih memilih melayani Allahnya dengan cuma-cuma [u]tidak[/u] menerima upah :


“Upahku ialah ini: bahwa aku boleh memberitakan Injil tanpa upah, dan bahwa aku tidak mempergunakan hakku sebagai pemberita Injil” (1 Korintus 9:18)

Penolakan kepada "upah" adalah kegirangan bagi Paulus dalam mengabarkan Injil KRISTUS.
Tuhan YESUS pernah mengatakan kepada murid-murid-Nya yang sedang bersiap-siap keluar melaksanakan misi mereka "...Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah pula dengan cuma-cuma" (Matius 10:8).

Maka dalam hal ini sikap pribadi Rasul Paulus adalah sebagai cerminan bahwa ia menolak mengkompromikan Injil Kasih Karunia yang cuma-cuma itu dengan kegiatan pengabaran Injil yang menerima “upah”.

Sikap ini juga merupakan suatu penolakan/ ketidak-sukaannya terhadap suatu anggapan bahwa kesalehannya hanyalah kesalehan professional dimana seseorang menggantungkan nafkahnya dari situ. Maka [b]ia melepaskan hak-haknya[/b], dan ia memilih untuk menjadi seorang "amateur" dalam pekabaran Injil.

LUAR BIASA !!!

Truly, Paulus is the TRUE Man of God

ps : Man of God = orang yg dipakai Tuhan

membaca tulisan dari Sarapan Pagi ini
mengingatkan saya pada 1 hamba Tuhan di Indonesia bernama Daniel Alexander

di bukunya Ev Daniel Alexander yg berjudul “Kerajaan-Mu bukan kerajaan-ku”
disebutkan 96% dana pelayanannya di Papua berasal dari kantong sendiri

Daniel Alexander dipanggil Tuhan utk melayani di Papua dan tinggal di Papua mulai 1994-sekarang

mendirikan sekolah dari TK hingga Universitas utk orang papua dengan biaya Gratis !

kenapa seorang Daniel Alexander mau pelayanan tanpa upah ?
(bahkan mendanai pelayanannya sendiri di papua tanpa minta2 duit ke jemaat)

kenapa seorang Paulus mau pelayanan tanpa upah ?
(bahkan mendanai pelayanannya sendiri tanpa minta2 duit ke jemaat)

Apa sih yg bisa membuat mereka nekat melakukan sejauh itu ?

apa yg dimaksud bro Sip dengan “pelayan” adalah “pelayan Full Timer yg digaji bulanan”

Saya ngga bicara soal ‘jabatan’ pelayanan Bro, tp mentalitas sso dlm mlayani.

dipahami bro :slight_smile:

menurut bro Siip
apa yg membuat Paulus mau melakukan penginjilan tanpa menerima hak-nya (upah) ?

Saya ngga tau apa alasan utama Paulus.
Tp mnrt saya jikapun sso ingin menolak upah yg mjd haknya, lakukanlah krn Tuhan mhendaki utk dia tidak menerimanya.


Bro Repento,
Salah satu jebakan agamawi adalah mengukur sso bdsk apa yg ia lakukan.

Yg harusnya jadi pngukuran kita adalah :
Apa yg Tuhan mau ia lakukan.

Tidak semua ketulusan dan kebaikan hati kita adl apa yg Tuhan ingin kita lakukan.


Ketika kita bicara soal kasus Paulus, maka scr tidak sadar kita mgkn akan masuk dlm tahap mbanding-bandingkan.

Paulus memilih utk tidak mau mnerima upah dari pkabaran Injil.

Bisa saja (tanpa sadar) kita mulai mbadingkan :
Kalo gitu brarti Paulus lebih tulus daripada siapapun yg tetap mmutuskan menerima upah dari pkabaran Injil.

Ketika pmikiran ini scr tak sadar masuk benak kita, maka scr tak sadar pun kita akan mnggunakan ukuran yg sama dalam mnilai orang lain.

Kita mungkin saja tanpa sadar mjadikan indikator ‘upah’ utk mngukur ktulusan.

Hal ini sangat berbahaya dan mrupakan jebakan halus dari ‘spirit agamawi/relijiusitas semu’.

Saya brikan sampel ayat :

Why 2:2-5
Aku tahu segala pekerjaanmu: baik jerih payahmu maupun ketekunanmu. Aku tahu, bahwa engkau tidak dapat sabar terhadap orang-orang jahat, bahwa engkau telah mencobai mereka yang menyebut dirinya rasul, tetapi yang sebenarnya tidak demikian, bahwa engkau telah mendapati mereka pendusta.
Dan engkau tetap sabar dan menderita oleh karena nama-Ku; dan engkau tidak mengenal lelah.
Namun demikian Aku mencela engkau, karena engkau telah meninggalkan kasihmu yang semula.
Sebab itu ingatlah betapa dalamnya engkau telah jatuh! Bertobatlah dan lakukanlah lagi apa yang semula engkau lakukan. Jika tidak demikian, Aku akan datang kepadamu dan Aku akan mengambil kaki dianmu dari tempatnya, jikalau engkau tidak bertobat.

Disini kita bhadapan dg jemaat Efesus.

Karakteristik jemaat Efesus adl :

  1. Tekun dan berjerih lelah dalam pekerjaan pelayanan
  2. Teliti utk mengenali pelayan/pengajaran palsu dan tegas bsikap thd mreka
  3. Sabar mderita demi nama Tuhan
  4. Pantang menyerah dan tidak kenal lelah dalam pekerjaan Tuhan

Apa yg tjadi jika kita bjumpa dg Gereja macam itu di masa kini?

Tp Tuhan mngajar kita mlalui kasus jemaat Efesus utk tidak mnilai bdsk aktivitas yg kita lihat.

Tuhan mencela Gereja Efesus dan berkata :

Sebab itu ingatlah betapa dalamnya engkau telah jatuh!


Marilah saya ajak Bro Repento mlihat nas ini :

Kis 16:6-7
Mereka melintasi tanah Frigia dan tanah Galatia, karena Roh Kudus mencegah mereka untuk memberitakan Injil di Asia.
Dan setibanya di Misia mereka mencoba masuk ke daerah Bitinia, tetapi Roh Yesus tidak mengizinkan mereka.

Coba Bro bayangkan.
Roh Kudus mencegah dan tidak mngijinkan para rasul utk mbritakan Injil di daerah tertentu!

Apa salahnya mbritakan Injil? Bukankah kita wajib mbritakan Injil? Bukankah Roh Kudus diutus agar kita dpt mjadi saksi bagi Injil?

Apa jadinya jika para rasul memaksakan diri dg kmauan yang kuat dan hati yg tulus utk tetap masuk ke Asia serta Bitinia pd saat itu?

Tapi ya itu dia Bro :
Apa yg mnrt kita baik belum tentu baik di mata Tuhan.
Krn itu ukuran terbaik utk mngukur adl dg ukuran Tuhan, yaitu apa khendak Tuhan.


Mngenai kasus Daniel Alexander, saya sangat salut pd ktulusan hatinya.
Tp jika Bro tanya sama saya :

Mana lebih baik :
Daniel Alexander yg mngeluarkan 96% uangnya demi pnginjilan di Papua atau hamba Tuhan lain yg mnggunakan 100% uang jemaat demi penginjilan di Papua?

Saya akan jawab :
Tidak ada satupun yg lebih baik daripada yg lain.
Semuanya adalah hamba.

Luk 17:10
Demikian jugalah kamu. Apabila kamu telah melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu, hendaklah kamu berkata: Kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang kami harus lakukan."

Setiap hamba punya porsi masing-masing yg Tuhan pcayakan dan Tuhan tuntut daripadanya, ada yg dbri lebih dan dtuntut lebih, ada yg dbri kurang dan dtuntut kurang.

ngomong2, paulus mau menrima upah kog

upahnya adalah mengabarkan injil tanpa upah

ada pelayan

ada hamba

ada budak

:slight_smile:

salam

Bedanya hamba sama budak apa Bro?
Rasanya Tuhan tidak punya budak deh.
Mgkn yg ada, orang yg membudaki dirinya sndr dg caranya sendiri.

Soal Paulus,
Dia trima upah juga, tp dg cara kerja sekuler.

Jd kl kita padankan ke jaman skrg,
Paulus ini gambaran hamba Tuhan yg tidak mau mnerima psembahan kasih dari jemaat, namun penghidupannya diperoleh dari kerja profesional di bidang sekuler.

Kl jaman skrg kan tendensi kita mnilai hamba Tuhan fulltime-lah yg lebih gimana gituh, pokoke lebih dbanding mreka yg hamba Tuhan partime.
Paulus ini spt golongan partime yg konsisten utk tdk mnerima psembahan kasih.

rasanya PB menggunakan banyak term untuk istilah2 dg maksud yg berbeda

salam

Jd inget postingan yang pernah muat di jawaban.com

Yang gue tau aja :
  1. Anak
    Mereka yang lahir dari Allah. Punya hak istimewa.

  2. Hamba
    Mereka yang telah melepaskan kehendak bebasnya, tapi mengabdi dengan pengorbanan dan kesetiaan. Rela memberikan lebih tanpa menuntut balas dari Tuhan. Kepada golongan ini, Allah memberikan perintah, tapi seringkali tidak memberitahukan alasannya.

  3. Sahabat
    Tingkat yang lebih tinggi dari hamba. Kepada mereka, Allah memberitahukan rahasiaNya dan terkadang meminta pendapat mereka (biasanya agar si sahabat bersyafaat).

  4. Pelayan
    Ini adalah orang upahan. Ikut karena merasa akan mendapatkan sesuatu dan itu adalah motif utamanya. Kurang ada rasa senasib sepenanggungan. Mau kerja keras tapi tergantung hasil.

  5. Pewaris
    Inilah orang-orang yang kepadanya Bapa memberikan otoritas Kerajaan. Orang-orang ini sudah terbukti setia dan dalam hidupnya akan mengalir dengan kasih kuasa Roh Kudus.

  6. Bapa
    Ini golongan pewaris yang dipercaya untuk membentuk pewaris-pewaris lainnya. Mereka adalah perwakilan Allah di bumi. Kehadiran mereka seolah kehadiran Bapa sendiri. Hanya sedikit yang bisa mencapai tingkat ini.

  7. Murid
    Menurut gue, ini adalah proses dari anak ke bapa. Mereka yang mulai dilatih untuk mendapat kepercayaan memegang kuasa dan otoritas lebih tinggi. Banyak diajar, banyak digali kesalahannya, banyak ditegor.


Sebenarnya, kalo dari yang gue tau (dengan pengetahuan yang terbatas), maka dalam budaya Yahudi, ada proses seperti ini :

  1. Anak kelahiran (bhs Yunani = teknon).
    Ini dimaksudkan sebagai anak yang lahir secara biologis.

Yoh 1:12
Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak (teknon) Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya;

  1. Hamba
    Ketika si anak mencapai usia akil balik, ia akan disuruh bekerja di ladang sama sebagaimana hamba upahan dari ayahnya. Di sini si anak diwakilkan kepada si hamba dan si anak harus membuktikan kerja keras serta kemampuannya.

  2. Anak pewaris (biasanya ‘anak’ dalam bhs Yunani = huios)
    Ketika si anak udah terbukti setia, kerja keras dan bisa dipercaya sebagai hamba, maka ia akan diangkat sebagai pewaris yang sah dan mengepalai para hamba. Ia juga akan diberikan kekuasaan atas milik Bapanya.

Rm 8 : 14
Semua orang, yang dipimpin Roh Allah, adalah anak (huios) Allah.

Bukankah siklus ini yang dialami oleh Yesus Kristus?
Ia adalah teknon (lahir oleh Roh Kudus), lalu menjadi Hamba yang harus ‘melaksanakan semua perintah Bapa’, untuk kemudian setelah terbukti setia, Ia diangkat sebagai pewaris yang berhak menerima segala kuasa di bumi di surga dan menerima Roh Kudus yang dijanjikan Allah.

Jadi, kalo kita bicara soal anak Tuhan, maka harus dibedakan antara teknon dan huios. Allah akan memberikan tingkat otoritas yang berbeda antara teknon dan huios. Demikian juga Allah akan menuntut berbeda antara teknon dan huios.

Intinya, anak yang sudah huios akan memiliki kedekatan dan kemiripan sifat dengan Bapanya. Yang teknon cuma sekadar udah lahir baru aja. Tentu yang huios akan diberikan kuasa yang lebih besar karena udah punya hati dan karakter yang bisa lebih dipercaya untuk menjalankannya.

Hope I can bless you…

Luk 17:7-10 "Siapa di antara kamu yang mempunyai seorang hamba yang membajak atau menggembalakan ternak baginya, akan berkata kepada hamba itu, setelah ia pulang dari ladang: Mari segera makan! Bukankah sebaliknya ia akan berkata kepada hamba itu: Sediakanlah makananku. Ikatlah pinggangmu dan layanilah aku sampai selesai aku makan dan minum. Dan sesudah itu engkau boleh makan dan minum. Adakah ia berterima kasih kepada hamba itu, karena hamba itu telah melakukan apa yang ditugaskan kepadanya? Demikian jugalah kamu. Apabila kamu telah melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu, hendaklah kamu berkata: Kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang kami harus lakukan."

Ada berapa ya ‘hamba Tuhan’ yang punya sikap hati ini?

Yoh 15:14-15
Kamu adalah sahabat-Ku, jikalau kamu berbuat apa yang Kuperintahkan kepadamu.
Aku tidak menyebut kamu lagi hamba (bhs Yunani = doulos), sebab hamba tidak tahu, apa yang diperbuat oleh tuannya, tetapi Aku menyebut kamu sahabat, karena Aku telah memberitahukan kepada kamu segala sesuatu yang telah Kudengar dari Bapa-Ku.

Mrk 9 : 35
Lalu Yesus duduk dan memanggil kedua belas murid itu. Kata-Nya kepada mereka: “Jika seseorang ingin menjadi yang terdahulu, hendaklah ia menjadi yang terakhir dari semuanya dan pelayan (bhs Yunani = diakonos) dari semuanya.”

Kis 26 : 16
Tetapi sekarang, bangunlah dan berdirilah. Aku menampakkan diri kepadamu untuk menetapkan engkau menjadi pelayan (bhs Yunani = huperetes) dan saksi tentang segala sesuatu yang telah kaulihat dari pada-Ku dan tentang apa yang akan Kuperlihatkan kepadamu nanti.

Marilah kita menengok sebentar definisinyong :

Doulos :
servant, bond, bondman
a slave, bondman, man of servile condition
one who gives himself up to another’s will
devoted to another to the disregard of one’s own interests

Diakonos :
minister, servant, deacon
one who executes the commands of another / of a master,
the servant of a king
one who, by virtue of the office assigned to him
a waiter, one who serves food and drink

Huperetes :
officer, minister, servant
an underrower, subordinate rower
any one who serves with hands
of the officers and attendants of
magistrates as – of the officer who executes penalties
of the attendants of a king, servants, retinue,
the soldiers of a king, of the attendant of a synagogue
of any one ministering or rendering service
any one who aids another in any work

Dari yang saya liat,
Beda antara Doulos (hamba), Diakonos (pelayan) dan Huperetes (pelayan) adalah bahwa Doulos lebih sebagai budak yang terikat ketimbang Diakonos & Huperetes.

Disinilah saya membuat asumsi bahwa hamba telah melepaskan haknya dan merendahkan diri sedemikian rupa bagi tuannya sedangkan golongan pelayan masih mengacu pada upah dalam melakukan pekerjaan.
Sepanjang masih merasa dibayar, dia akan bekerja. Tapi hamba, udah jelas dikatakan akan martir, tapi dia tetap akan ikut Tuhan.

Paulus ditetapkan sebagai pelayan pada awal pertobatannya.

Tapi di Kis 21 : 10-14:
Setelah beberapa hari kami tinggal di situ, datanglah dari Yudea seorang nabi bernama Agabus.
Ia datang pada kami, lalu mengambil ikat pinggang Paulus. Sambil mengikat kaki dan tangannya sendiri ia berkata: “Demikianlah kata Roh Kudus: Beginilah orang yang empunya ikat pinggang ini akan diikat oleh orang-orang Yahudi di Yerusalem dan diserahkan ke dalam tangan bangsa-bangsa lain.”
Mendengar itu kami bersama-sama dengan murid-murid di tempat itu meminta, supaya Paulus jangan pergi ke Yerusalem.
Tetapi Paulus menjawab: “Mengapa kamu menangis dan dengan jalan demikian mau menghancurkan hatiku? Sebab aku ini rela bukan saja untuk diikat, tetapi juga untuk mati di Yerusalem oleh karena nama Tuhan Yesus.”
Karena ia tidak mau menerima nasihat kami, kami menyerah dan berkata: “Jadilah kehendak Tuhan!”

Itulah sikap seorang doulos.

Kis 20 : 22
Tetapi sekarang sebagai tawanan (deo - seorang yang terikat) Roh aku pergi ke Yerusalem dan aku tidak tahu apa yang akan terjadi atas diriku di situ.

Paulus telah mengikatkan dirinya sedemikian rupa pada keinginan Roh sehingga ia membandingkan dirinya sebagai seorang yang tertawan terhadap tujuan Allah.
Begitu indah Allah baginya sehingga ia rela ditawan Allah pada tujuan-tujuanNya.

Makanya saya letakkan hamba lebih tinggi daripada pelayan (based on motivasi).

Lalu, Yesus tidak lagi menyebut hamba, namun sahabat karena Ia memberitahukan apa yang diterimanya dari Bapa.
Ini membuat saya meletakkan sahabat di atas hamba.

Inilah penjelasan saya…
Mohon ditambahkan…

jawaban apakah tetap masih menjadi sebuah jawaban? :smiley:

Ro 6:18 - [In Context|Read Chapter|Original Greek]
Being then made free from sin, ye became the servants of righteousness.

eleuqerwqentev (5685) de apo thv amartiav edoulwqhte (5681) th| dikaiosunh|;

δουλόω

to make a slave of, reduce to bondage
metaph. give myself wholly to one’s needs and service, make myself a bondman to him

Marilah kita tmukan ‘jawaban’-nya di Forum Kristen :ashamed0004: :ashamed0004: :ashamed0004:

Anda benar.

Hamba Tuhan tidak diharuskan dapat penghasilan dari kerja sendiri seperti Paulus,
Hamba Tuhan mendapat penghasilan dari uang persembahan juga bisa

namun juga

Hamba Tuhan tidak diharuskan mendapat penghasilan dari uang persembahan jemaat,
Hamba Tuhan tidak menerima uang jemaat (sperti Paulus) juga bisa

Thx atas koreksinya :slight_smile:

Anda benar. hal diatas memang unik

ada pendapat yg mengatakan

orang Eropa lebih ‘expansionis’ dibanding Asia
sehingga jika menginjili orang Eropa dulu
maka Injil lebih cepat tersebar luas di seluruh dunia

Anda benar.

karena bisa juga

Sesuatu yg menghalangi kita mengenali jalan Tuhan adalah
sesuatu yg baik (seperti agama-sesuatu yg baik)

kalau “Saudara-TUHAN yg paling hina” masuk apa ndak ya ?

Matius 25:40
Dan Raja itu akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.

hmm… krn Tuhan mhendaki… baiklah.

apakah ada yg punya pendapat lain ?

apa sih yg membuat Paulus sampai2nya
mau melakukan penginjilan tanpa menerima uang persembahan jemaat ?

Mgkn akan mbantu jika kita btanya juga :
Mengapa Paulus tau bhw kelak akan muncul rasul palsu di Korintus yg mengeksploitasi jemaat dan mjelekkan Paulus shg sedari awal Paulus mmutuskan utk tidak mngambil psembahan jemaat agar ketika para rasul palsu ini muncul, maka Paulus dapat membela dirinya?